Nightmare [Part XII] #Depent

EXO’s Sehun & OC’s Mikyung

Angs | Sad | Life | Mature | Psychology (little) | Romance | Married Life

[Rated Can Change Anytime!]

Disclaimer! The original results my imagination. NOT FOR PLAGIARISM OR COPY PASTE!!!

  Mungkin, tanpa disadari oleh siapapun jika kini mereka saling bergantungan dan membutuhkan satu sama lain. Bagaikan sebuah terikatan suci yang berjanji atas nama Tuhan.

©2016.billhun94


Satu bulan berlalu, tidak banyak perubahan yang terjadi; semuanya masih sama dengan keadaan yang kekal. Tak terkecuali perasaan yang kadang kala Sehun rasakan. Seperti halnya dalam drama romansa picisan yang tersaji di drama maupun film, Sehun pikir itu adalah sebagai umpamaan. Memikirkannya membuat satu tarikan di sudut bibir Sehun. Untuk sekali lagi, pria itu meneguk koktailnya dalam sekali tenggak. Berharap tetesan terakhir datang, namun tidak kunjung datang juga.

Dude!”

Seruan seorang pria menyadarkan Sehun dari lamunannya. Ia menoleh kearah pria berambut merah itu, lalu memilih mengabaikannya.

Wajah tenang Chanyeol menyapa Sehun. Ia berkata dengan penekanan, “Aku sudah mendengarnya dari Soojung. Se-mu-a-nya.”

Sehun menyeringai, mulut Jung Soojung memang tidak bisa dipercaya. “Lalu?”

Chanyeol terlihat geram dengan tingkah sang sahabat, “Dan kau masih tidak ingin melakukannya?! Dasar idiot!” Sungutnya kesal.

“Kau sama saja dengan Soojung,” timpal Sehun kelewat santai.

Chanyeol memalingkan wajah, ia sedang berusaha untuk tidak mendaratkan kepalan tangannya di wajah Sehun. “Benar apa yang dikatakan Soojung. Kau sudah berubah, Sehun-ah.” Setelah itu ia melenggang pergi meninggalkan kelab yang Sehun datangi.

Sedangkan yang menjadi pemeran utama hanya menatap kosong gelas koktail yang berada dalam genggamannya. Ia meremas gelas tersebut, lalu menggeram frustasi. Kenapa jalan hidupnya harus seperti ini? Apa ini memang menjadi takdir abadinya? Ia ingin merasa bahagia sebentar saja. Apa itu sangat sulit?

“Butuh hiburan?”

Seseorang bertanya pada Sehun, entah siapa itu. Sehun terlalu malas untuk memastikan.

“Tidak perlu. Aku punya yang lebih menarik di rumah.”

-oOo-

Mikyung sedang menonton televisi ketika pukul menunjukkan jam setengah satu dini hari. Acara lawakan, namun sama sekali tidak membuatnya tertawa. Terlalu klise, pikirnya.

Di ruang tamu yang sangat luas ini, Mikyung berdiam diri dengan duduk di sofa dan melipat kakinya lalu bersender pada kepala sofa. Posisi seperti itu dulu sering ia terapkan ketika masih di Australia. Ngomong-ngomong tentang negara tersebut, Mikyung jadi merindukan kedua orangtuanya yang menetap di sana. Ingin rasanya ia mengajak mereka kemari. Apa Sehun akan mengizinkannya?

BRAK

Suara pintu yang dibuka secara paksa mengalihkan perhatian Mikyung. Derap langkah semakin mendekati rungunya, dan sosok Sehun muncul dari dalam cahaya remang yang tercipta. Mikyung sontak mengernyit, dan bau alkohol datang dari tubuh Sehun.

“Sehun-ssi?” Panggil Mikyung.

Sehun samar-samar dapat mendengar suara Mikyung karena kesadarannya belum sepenuhnya hilang. Ia sudah terbiasa dengan alkohol dan itu tidak membuatnya kepayang serta lemah terhadap minuman beralkohol dengan kadar yang tinggi.

“Kau sangat cantik malam ini, sayang.” Rancau Sehun, lalu mendudukan diri di samping Mikyung yang beringsut menjauh.

“Kau pasti habis minum,” tebak Mikyung. Tidak tahu alasannya, Sehun akhir-akhir ini sering sekali pulang ke rumah dengan keadaan mabuk.

“Hm, kau benar, sayang.”

Bisakah Sehun menghentikan panggilan ‘sayang’ untuk Mikyung? Karena, sungguh. Mikyung sekarang bisa merasakan jika pipinya kini sudah memanas.

“Bersihkan dirimu dan istirahatlah,” perintah Mikyung acuh dan kembali pada acara televisi yang sedang ditontonnya.

Sehun tampak enggan menyahuti perintah Mikyung. Tanpa sebab, ia menarik Mikyung kedalam pelukannya dan menyisakan keterkejutan bagi wanita itu. Dengan rakus, Sehun menghirup feronom yang menyeruak dari sela-sela helaian rambut Mikyung yang terasa sangat lembut.

“Biarkan seperti ini, sebentar saja.” Kata Sehun tenang sembari menutup matanya.

Mikyung sendiri hanya mampu membatu di tempatnya, ini terlalu mengejutkan dan membuat degupan jantungnya tidak terkendali (lagi). Untuk sebulan berlalu cepat, Mikyung sudah mendapatkan ingatannya sebagian—terutama untuk Sehun—walaupun belum sepenuhnya tapi mampu membuat ia senang. Dan hubungan yang terjalin diantaranya dengan Sehun juga sudah terjalin layaknya pasangan suami istri pada umumnya. Bahkan untuk berhubungan intim, Sehun dan Mikyung sudah pernah melakukannya beberapa kali.

Mikyung membalas pelukan Sehun dengan penuh perhitungan. Memang masih kaku, namun Mikyung mampu untuk mengimbanginya. Ia menaruh kepalanya di bahu Sehun, menghirup pinus yang menyeruak keluar. Menenangkan.

“Sebenarnya ada apa?” Tanya Mikyung yang penasaran.

Sehun tidak menjawab, ia pun melepas pelukannya dan menatap Mikyung dalam. Sebelum berakhir sapuan lembut di bibir wanita itu. Tanpa bosan, Sehun terus melumat material lembut itu dengan penuh kasih sayang yang muncul ketika ia bersama Mikyung.

Jika melakukan hal yang intim seperti sekarang, Sehun jadi ingat ketika ia pertama kalinya memberikan hal lebih dari ketimbang ciuman saja. Dan kalian tahu hasilnya seperti apa? Sehun tergeletak mengenaskan di lantai dengan tubuhnya yang kesakitan karena tindakan refleks Mikyung yang membanting dan menjatuhkan tubuhnya dari atas ranjang. Seharusnya Sehun ingat kala itu jika Mikyung pemegang sabung hitam Taekwondo.

Entah bagaimana bisa terjadi begitu cepat, Sehun sudah membawa tubuh Mikyung ke kamarnya dan menjatuhkan wanita itu di atas ranjangnya tanpa melepas ciuman mereka.

Suara decapan yang tercipta semakin membuat panas suasana. Sehun sudah berada di atas tubuh Mikyung dengan setengah telanjang, lalu menanggalkan pakaian Mikyung sampai menyisakan pakaian dalam saja.

Desahan pertama keluar dari mulut Mikyung kala Sehun bermain di leher putih nan jenjangnya; membuat tanda kepemilikan pria itu. Tubuh Mikyung juga ikut memberikan reaksi dengan melengkuk keatas saat Sehun bermain di area sensitifnya dengan tangan nakalnya.

Sehun selalu bisa membuat Mikyung ketagihan dengan setiap sentuhan pria itu di tubuhnya. Dalam sekejap, Mikyung bahkan sudah mencapai puncak kenikmatannya.

Saling mengagumi tubuh masing-masing, Mikyung tidak bisa mengelak kalau tubuh Sehun kelewat seksi dengan kulit putih pucatnya serta tubuh kekarnya membuat Mikyung ingin selalu menjadi milik pria itu. Begitupun sebaliknya, Sehun seakan menemukan kenikmatan lebih daripada wanita yang selama ini ia tiduri dengan Mikyung. Dan itu tidak bisa menghentikan Sehun untuk terus menikmatinya.

Mungkin tanpa disadari oleh siapapun jika kini mereka saling bergantungan dan membutuhkan satu sama lain. Bagaikan sebuah terikatan suci yang berjanji atas nama Tuhan.

-oOo-

Di sebuah cafè yang letaknya tidak jauh dari kawasan komplek perumahan Sehun, Soojung membuat janji dengan Mikyung siangnya. Wanita itu tampak gusar memandangi bahu jalan dan berharap Mikyung segera datang.

Bunyi yang tercipta dari pintu cafè membuat Soojung menoleh, mendapati Mikyung kini sedang berjalan kearahnya ditemani seorang bodyguard yang ia rasa disewa oleh Sehun untuk melindungi wanita itu.

Mikyung duduk di hadapan Soojung, menelisik kearah wanita itu sebelum akhirnya menatap netra cokelat sang lawan. “Apa yang ingin kau bicarakan?” Tanyanya to the point.

Soojung memasang senyum tipis, “Tidak ingin memesan minuman terlebih dulu?” Ia bertanya seperti itu hanya untuk sekadar basa-basi.

Dengan wajah datarnya, Mikyung menggeleng lalu melanjutkan, “Sehun tidak mengizinkanku untuk berlama-lama di luar.”

Soojung yang mendengar penuturan Mikyung hanya mampu menyeringai. Bukankah disini Mikyung jelas telah menyudutkannya? Wanita ini berbahaya di satu sisi, ia yakin jika Sehun menyadarinya.

“Apa kau memiliki tujuan tertentu?” Tanya Soojung, kali ini serius.

Mikyung yang menyadari keberadaan bodyguard yang mengikutinya tadi langsung memberi isyarat agar dia sedikit menjauh dari tempatnya dengan menggunakan isyarat mata. Lalu, Mikyung beralih kembali pada Soojung yang menatapnya menggunakan sorot merendahkan.

“Aku tidak tahu maksudmu, tapi aku bisa menangkap sesuatu di sini. Apa kau sedang berusaha untuk menjauhkanku dari Sehun?”

Mikyung ingat betul bagaimana pertemuan pertama kalinya ia dengan Soojung ketika berada di kantor Sehun. Wanita itu menyudutkannya, bahkan untuk pertemuan pertama mereka. Dan, Soojung seakan menutupi sesuatu yang melarangnya untuk mengetahui yang sebenarnya.

“Kau salah, aku tidak sejahat itu, Mikyung-ssi.” Ralat Soojung, intonasi suaranya masih tenang. “Well, sejujurnya aku menginginkan itu terjadi. Tapi, kau tahu bukan jika kini Sehun telah jatuh sepenuhnya padamu? Aku tidak bisa berbuat apa-apa sekarang,” sambung Soojung dengan mengedikkan bahunya.

Mikyung menarik ujung bibirnya, “Kalau kutebak, kau masih menyukainya, bukan?”

Soojung tertawa ringan, “Benar. Aku tidak menyangka kau pintar dalam hal menebak omong kosong seperti ini.”

“Intinya?”

Soojung menegakkan badan, Mikyung adalah tipe orang yang sulit untuk diajak berbasa-basi; setidaknya itu adalah yang ia ketahui sejak pertemuan pertama mereka. “Aku ingin meminta tolong padamu,” ujarnya.

“Tolong?” Tanya Mikyung yang heran.

“Aku tahu ini terdengar konyol; atau mungkin tidak? Tapi yang jelas kau harus mau… Jika kau tidak ingin kehilangan Sehun.”

-oOo-

“Kemana Mikyung?”

Pertanyaan Sehun sontak membuat beberapa pelayan menatap pria itu dengan takut. Namun, Jieun memberanikan diri untuk menjawab, “Nona Mikyung sedang pergi keluar, Presdir.”

Sehun terlihat terkejut. Oh tentu saja, ketika ia terbangun dari tidurnya, ia tidak menemukan Mikyung di manapun. Berpikir jika wanita itu sedang membersihkan diri, tapi tidak ketika menemukan fakta kalau Mikyung pergi… tanpa seizinnya.

“Siapa yang mengizinkannya?” Tanya Sehun, tajam.

Jieun menunduk, “Nona Mikyung bilang jika Anda sudah mengizinkannya untuk pergi,” jawabnya.

Sehun menghela napasnya kasar, kemudian kembali ke dalam kamar. Di kamar, pria Oh itu membersihkan tubuhnya. Ini akhir pekan, jadi ia bisa menikmati sedikit waktu untuk berlama-lama berendam di bath up. Fakta bahwa Mikyung pergi bersama salah satu bawahannya sedikit menenangkan hatinya. Setidaknya Sehun tidak harus takut untuk kehilangan wanita itu untuk kedua kali.

Setelah selesai membersihkan diri, Sehun sudah rapi dengan style casual-nya yang berpaduan sweater rajut berwarna biru dan celana bahan putih melekat di tubuh atletisnya. Mau pakaian apapun yang dikenakan Sehun, pria itu tetap terlihat tampan.

Sehun sedikit terkejut ketika mendapati Kim Jongin sedang duduk di ruang tamunya. Sehun lantas menghampiri saudara tirinya itu. Hubungan di antara mereka berdua kurang baik mengingat bagaimana Sehun sangat membenci ibu Jongin yang berstatus sebagai ibu tirinya.

Suara dehaman Sehun berhasil membuyarkan lamunan Jongin. Jongin tersentak mendapati Sehun sudah duduk di sofa yang berada di hadapannya.

“Mau apa kau ke sini?” Sehun bertanya dingin. Ia rasa hari minggunya rusak sudah. Jujur, melihat tampak Jongin membuatnya ingat dengan istri muda almarhum sang ayah.

Jongin sedikit melirik Sehun sekilas, “Rumahmu bagus juga,” komentarnya dan tidak menjawab pertanyaan Sehun.

“Apa itu penting? Jangan berbicara omong kosong, Kim Jongin. Cepat katakan apa masalahmu sampai repot-repot datang ke sini?”

Jongin sedikit menarik ujung bibirnya, seharusnya ia tahu kalau Sehun bukan orang yang suka diajak untuk sekadar berbasa-basi. Lantas, ia membuka suara dan menyuarakan keinginannya. “Sederhana. Cabut laporanmu.”

Laporan yang dimaksud oleh Jongin adalah laporan tentang adiknya; Kim Taehyun, yang saat ini sedang mendekam di penjara. Dan, yang membuat laporan itu adalah Sehun. Isinya sama seperti apa yang terjadi beberapa waktu lalu; tentang sebuah ‘penyerangan’ yang terjadi lusa di kelab langganan Sehun.

Dalam kalangan aparat kepolisian, Sehun adalah orang yang bisa dianggap penting karena Tuan Oh memiliki koneksi lebar di dalam sektor kepolisian Seoul. Ditambah lagi, Sehun adalah anak kandung dan Kim Taeyong maupun Kim Jongin bukanlah anak kandung dari Tuan Oh. Itu membuat mereka tidak bisa berkutik apapun ketika hukum mencatat nama mereka.

“Kenapa aku harus melakukannya?” Tanya Sehun dengan nada menantang.

Jongin mendengus, “Ibuku sedang sakit karena Taeyong yang terus membuat masalah,” jawabnya.

Sehun tertawa, “Itu bukan urusanku,” balasnya.

“Aku… mohon, tolong kami satu kali ini saja,” pinta Jongin. Ia rela harus merendahkan harga dirinya di depan Sehun demi kesembuhan ibunya yang sedang sakit karena terus memikirkan Taeyong.

“Aku sudah muak dengan kalian. Silakan pergi dari sini,” ujar Sehun, lalu beranjak dari duduknya.

“Oh Sehun….”

Sehun menghentikan langkah ketika Jongin memanggil namanya.

“Aku akan melakukan apapun yang kau mau jika kau mencabut laporanmu.”

-oOo-

Mikyung menghentikan langkah saat melihat mobil yang tampak asing terparkir di halaman. Ia pikir itu adalah tamu Sehun. Namun, ternyata seseorang yang ia kenal. Tanpa sadar, Mikyung tersenyum tertahan dan melangkah masuk ke dalam rumah dengan riang. Rasa kalut yang menyambanginya tadi kini hilang sejenak.

“Aku akan melakukan apapun yang kau mau jika kau mencabut tuntutanmu.”

Mikyung reflek menghentikan ayunan kakinya. Dan, tampaknya Sehun menyadari kehadirannya karena pria itu membalikkan badan.

“Kita bisa membicarakan ini lain waktu,” ucap Sehun akhirnya. Jongin terlihat kecewa.

“Baiklah,” balas Jongin lesu. Pria itu hendak melangkah keluar rumah mewah Sehun. Langkahnya sontak berhenti saat melihat sosok wanita di hadapannya kini.

Mikyung mengernyit, pertanyaan tentang hubungan Sehun dan Jongin mengisi pikirannya.

“Psikiater Kim?” Panggil Mikyung, setelah itu ia membungkuk memberi salam. “Lama tidak bertemu,” lanjutnya.

“Shin Mikyung?” Jongin tampak tidak percaya dengan apa yang ia lihat saat ini. Sosok wanita cantik yang pernah menarik perhatiannya dan juga sosok wanita yang menjadi mantan pasiennya. Renggang waktu yang lama membuat Jongin sedikit lupa siapa sosok wanita itu. “Iya, sudah lama tidak bertemu. Bagaimana kabarmu?”

“Baik,” jawab Mikyung sambil tersenyum.

Jongin ingat, Sehun menikahi Mikyung hanya untuk mengincar warisan dari keluarganya. Dan, Mikyung juga sempat dikabarkan menghilang sehingga Sehun harus rela menunda memiliki hak penuh atas warisan tersebut. Itu sudah 3 tahun yang lalu, Jongin agaknya lupa.

“Aku berniat untuk pulang. Mungkin lain kali kita bisa berbincang-bincang,” seloroh Jongin. Lantas berlalu meninggalkan ruang tamu.

Setelah peninggalan Jongin, Sehun yang masih setia di tepatnya membuka suara. “Kalian tampak dekat,” komentarnya.

“Tentu saja. Aku sudah mengenalnya selama dua tahun. Dia orang yang baik,” Mikyung memberikan pujian di jawabannya dan Sehun terlihat tidak suka.

“Terserah kau saja,” timpal Sehun sebelum berlalu ke meja makan.

-oOo-

Setelah sarapan, Sehun memilih untuk ke perpustakaan yang berada di lantai dua dan Mikyung memilih untuk termenung di taman belakang.

Ini sangat sulit untuk menerima kenyataan yang terjadi, tapi inilah kenyataanya. Sehun begitu berharga dalam hidupnya, Mikyung bahkan baru menyadari itu beberapa jam yang lalu.

Rumah yang kini menjadi naungan Mikyung terlihat sangat sepi. Selalu seperti itu hampir setiap hari walaupun diisi oleh para pelayan dan bawahan Sehun yang lain. Bagaimana jika rumah ini hanya ditinggali oleh Mikyung seorang? Membayangkannya saja sudah membuatnya segan.

“Nona, Presdir memanggil Anda.”

Mikyung menoleh dan menemukan salah satu pelayan wanita yang sedang tersenyum ke arahnya. “Di mana?”

“Di perpustakaan, Nona.”

Mikyung lantas menuruti apa yang pelayan tadi katakan. Rumah ini terlalu luas hanya untuk diisi oleh Sehun seorang. Biasanya pria karir seperti Sehun lebih memilih untuk tinggal di apartemen daripada menghabiskan uang untuk membangun rumah. Sehun jenis pria yang unik, setidaknya itu menurut Mikyung.

Deretan buku-buku menyambut iris Mikyung sewaktu masuk ke dalam perpustakaan pribadi milik Sehun ini. Setahunya, dulu ia dilarang untuk masuk ke sini. Mungkin salah satu area pribadi pria itu.

Seorang pria sedang duduk di kursi dekat jendela dengan kacamata bacanya, yang tidak lain pria itu adalah Sehun. Lagi. Perkataan Soojung datang. Tapi, sepertinya ini bukan waktu yang cocok untuk membahasnya.

“Ada apa kau memanggilku?” Tanya Mikyung.

Sehun sedikit tersentak sewaktu mendapati Mikyung sudah berdiri di hadapannya. Ia melepas kacamata baca yang bertengger manis di hidungnya.

“Aku punya hadiah untukmu,” ujar Sehun. Lalu mengeluarkan dua kertas berbentuk persegi panjang dari laci meja dan memberikannya pada Mikyung.

Eh, tunggu! Satu lagi, mikyung sudah pernah bilang seberapa autentiknya seorang Oh Sehun, belum? Beribu-ribu kata sepertinya tidak akan pernah cocok untuk mendeskripsikan sosok Sehun yang bagai dewa Andoni dari mitologi Yunani yang terkenal karena ketampanannya. Sering kali Mikyung yang dulunya acuh tak acuh pada pria menjadi tergila-gila karena sosok Sehun.

Mikyung membaca dengan cermat kertas yang ternyata sebuah tiket pesawat itu, “Spanyol? Kita akan ke Spanyol?”

-oOo-

To Be Continue

TINGGALKAN JEJAK SETELAH MEMBACA!!!

#Thanks

Iklan

26 thoughts on “Nightmare [Part XII] #Depent

  1. Suka pas sehun cemburu sama jong in, cuma gara2 keliatan deket sma mikyung, berasa ga pengen kehilangan mikyung banget

  2. Oh, Jongin tuh sodara tiri Sehun. Jadi itu hubungan mereka..
    Yang diomongin ama Soojung ke Mikyung memang apa? Penyakit Sehun? Atau apa?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s