Nightmare [Part XIII] #Love

Poster by : Alkindi (https://dirtykindi.wordpress.com/)

EXO’s Sehun & OC’s Mikyung

Angs | Sad | Life | Mature | Psychology (little) | Romance | Married Life

[Rated Can Change Anytime!]

Disclaimer! The original results my imagination. NOT FOR PLAGIARISM OR COPY PASTE!!!

  “Walaupun aku berusaha untuk tidak mencintai, tapi aku tidak bisa menahan rasa cinta itu. Seberapa besar rasa kecewaku nanti, aku tidak bisa berhenti untuk mencintai. Bagiku, cinta mengatasi segala sesuatu yang orang lain tidak tahu.” 

©2016.billhun94


Mikyung tak tahu kapan terakhir kalinya ia merasa sebahagia ini. Senyum lebar itu bahkan selalu terpasang di bibirnya. Langkahnya juga menderap ceria. Apalagi ketika Sehun tidak mau melepaskan genggaman tangan mereka sejak penerbangan dimulai. Lengkap sudah kebahagiaannya.

Hanya ada satu pemandangan menarik bagi Mikyung saat ini. Yaitu wajah terlelap Sehun yang terus menarik perhatian Mikyung. Sambil sesekali memainkan anak rambut Sehun, Mikyung terkikik geli sewaktu wajah pria itu merengut; merasa terganggu.

Kali ini adalah hidung mancung Sehun yang menjadi sasarannya. Baru saja Mikyung akan menarik batang hidup Sehun, tangan pria itu keburu menahannya. Sehun juga membuka mata dan membuat Mikyung terkejut.

“Kau ini usil sekali,” gerutu Sehun sembari melepaskan tangan Mikyung.

Mikyung mengerucutkan bibirnya, “Aku bosan.”

Tanpa disangka-sangka, Sehun mengecup singkat permukaan bibir Mikyung dan meninggalkan rasa terkejut pada si wanita.

“Tidurlah. Perjalanan kita masih panjang,” ujar Sehun seraya menutup kedua matanya kembali.

Mikyung memberengut mendapati reaksi Sehun. Ia kira pria itu akan menemaninya dan tidak membiarkannya kebosanan seperti ini.

“Menyebalkan!”

-oOo-

Negara dengan ibukota Madrid itu menjadi salah satu negara yang paling banyak menyita perhatian para turis dari sekian negara Eropa yang lain. Negara dengan perekonomian kapitalis yang menempati urutan ke-14 di dunia tersebut menyimpan banyak sekali sejarah di dalamnya. Dan itulah yang menjadi daya tarik turis.

Bandar Udara Internasional Barajas Madrid adalah bandara yang paling penting di Spanyol. Pintu bandara ini tersedia bagi para turis domestik maupun international.

Sehun dan Mikyung beserta sekertaris dan bawahan Sehun lainnya baru saja menginjakkan kaki di bandara yang bertempat di Madrid itu. Udara dinginnya malam menyambut mereka.

Seorang pria berjas hitam menghampiri Sehun dan membungkuk. Lalu memperkenalkan dirinya sebagai jemputan Sehun yang telah diperintahkan oleh atasannya.

“Kau percaya padanya?” Tanya Mikyung ketika ia dan Sehun sudah berada di dalam mobil. Hanya ada mereka berdua dan seorang supir.

Sehun melirik Mikyung, “Aku mengenal mereka,” jawabnya.

“Tapi, bagaimana kalau ternyata mereka ingin menculik kita?” Mikyung mengerjap lucu saat Sehun menatapnya dengan tatapan seakan tidak percaya.

“Berhenti menonton drama-drama bodoh itu,” saran Sehun.

Mikyung mengerucutkan bibirnya, “Aku ‘kan hanya menduga-duga,” elaknya.

Sehun mengendus. Ia rasa sifat asli seorang Shin Mikyung telah kembali. Ya, ia rasa.

-oOo-

Rumah yang tampak dibangun pada tahun 80-an itu berhasil membuat Mikyung terpana, bahkan si wanita tak berhenti berdecak kagum. Rumah itu memiliki arsitektur yang luar biasa mengagumkan dan sangat detail pada setiap sudutnya. Perjalanan yang panjang dari Madrid kini terbayar sudah. Mikyung tidak menyesal membiarkan bokongnya panas karena terlalu lama duduk di kursi mobil.

Sehun yang melihat kelakuan sang istri hanya bisa menggelengkan kepala. Lantas ia bergegas memasuki rumah milik keluarganya itu. Keluarga Oh sudah mematenkan rumah ini sejak puluhan tahun lalu. Dan Sehun rasa rumah ini sudah sangat jarang sekali dikunjungi sanak saudaranya.

“Selamat malam, Tuan muda.” Sapa kepala pelayan pada Sehun sopan dan Sehun membalasnya dengan anggukan.

Merasa ada yang kurang, Sehun menghentikan langkahnya lalu berbalik badan. Benar. Ia melupakan Mikyung yang masih setia berdiri di depan rumah sambil terus berdecak kagum. Wanita ini benar-benar.

“Apa kau tidak ingin masuk?” Sehun bertanya dengan suara beratnya.

Mikyung tersadar, “Ya? Oh, tentu saja!” Timpalnya seraya berjalan kearah Sehun.

Interior khas eropa kuno menyambut Mikyung dan ia lagi-lagi tidak bisa menutupi rasa kagumnya. Rumah ini seperti sebuah kerajaan. Apalagi tempatnya yang terpencil dan memiliki banyak taman dengan hamparan bunga serta rumput hijau. Ah ya, jangan lupakan air mancur di dekat pintu masuk.

“Memangnya rumah ini punya siapa?” Tanya Mikyung, mengikuti jejak Sehun menuju ke kamar utama di lantai dua.

Sehun merebahkan tubuhnya di ranjang sembari menutup kedua mata. Tubuhnya butuh istirahat.

“Rumah keluargaku,” jawab Sehun tanpa memperdulikan Mikyung.

Wanita Shin itu sedang sibuk menelaah kamar utama, sampai tidak menyadari jika kini Sehun sudah terlelap. Mikyung tersenyum mendapati wajah polos Sehun. Sebelum ia berniat mengambil barang-barang milik mereka yang berada di lantai satu, Mikyung mengecup kening Sehun sekilas sebelum berlari terbirit-birit ke arah pintu, karena takut jika Sehun akan terbangun.

-oOo-

“Hari ini kita akan kemana? Aku dengar di Spanyol banyak tempat-tempat bagus,” Mikyung menghampiri Sehun yang sedang berada di ruang baca.

“Tetap di sini,” balas Sehun dengan sikap tidak pedulinya.

Mikyung murung, padahal ia sudah menyiapkan serangkaian acara kalau-kalau Sehun mengajaknya untuk berjalan-jalan di Negara ini.

“Bukankah kita ke sini untuk liburan?” Seloroh Mikyung yang kesal.

Sehun tetap tidak mengalihkan perhatiannya dari buku yang ia baca. “Aku tidak berkata demikian.”

“Oh Sehun!” Bentak Mikyung. Pria itu tidak ada berubahnya sama sekali.

Hembusan napas Sehun terdengar, ia mendengus kecil lalu menghadap Mikyung yang sedang memberengut ke arahnya. Wanita ini sedang marah rupanya.

“Kenapa kau meninggikan suaramu seperti itu?” Tanya Sehun datar dengan tatapan mengintimidasi.

Mikyung kalab, “A-aku tidak meninggikan suaraku,” elaknya. Kenapa jadi ia yang merasa takut di sini?

Sehun beranjak, ia meninggalkan Mikyung sendirian di ruang baca.

Mikyung menatap punggung Sehun dengan pandangan seakan tak percaya dengan apa yang dilihatnya.

-oOo-

Selalu sendirian. Percuma di sini ia bersama Sehun jika pada akhirnya hanya tak diindahkan. Tidak ada acara membujuk seperti yang Mikyung harapkan sebelumnya dari Sehun.

Lihatlah sikap tak acuh pria itu! Mikyung ingin sekali menimpukinya dengan betonan batu sungai sekarang juga.

Gara-gara aksi merajuk Mikyung ini, ia sampai melewatkan jam makan siangnya karena ketiduran. Mikyung menguap lebar dan mendapati matahari sudah tenggelam setengah. Ia terlonjak, tidak disangka jika dirinya akan tidur sampai senja datang.

Pintu kamar terbuka dan mendapati Sehun sedang berjalan ke arah lemari pakaian. Pergerakan Sehun tidak luput sedikitpun dari Mikyung.

Pria Oh itu hanya ingin mengambil pakaian. Mikyung tegaskan, ‘PAKAIAN’ dan setelahnya seperti menganggapnya tidak ada.

Mikyung mendengus kesal. Ia benci ketika Sehun mengabaikannya. Ia juga benci ketika Sehun terus mendiaminya seperti ini.

-oOo-

“Presdir, Nona Mikyung belum makan apapun sejak tadi siang.” Sekertaris Sehun memberitahu.

Sehun merapihkan dasi yang bertengger manis di lehernya sebelum menjawab, “Biarkan saja. Dia tidak akan mati hanya karena tidak makan siang.”

Jawaban Sehun sontak membuat sang sekertaris terkejut. Sehun setega itukah?

“Toh, dia habis ini akan makan malam, bukan?” Sehun melarat keterkejutan sekretarisnya.

“Ah, iya.”

Tangan Sehun meraih sebuah bingkisan yang berada tidak jauh darinya lalu membiarkannya pada sang sekertaris, “Tolong berikan ini padanya, dan bilang aku akan menunggu di mobil pukul 7.”

-oOo-

Mikyung sangat lapar saat ini. Jadi, ia memutuskan untuk turun dari lantai dua menuju dapur. Ia tidak bisa berbahasa Spanyol, sedikit sulit untuk berkomunikasi dengan para pelayan rumah.

Yang Mikyung tangkap adalah, ‘Tuan tidak memerintahkan kami untuk membuat makan malam’. Mikyung butuh kesadaran beberapa detik sebelum berdecak tak percaya.

Jadi, Sehun akan membiarkannya mati kelaparan?

Pria itu menyebalkan sekali. Mikyung kesal setengah mati. Ia kira ini adalah liburan yang menyenangkan, tapi nyatanya semua itu hanya ekspresinya saja.

Dari kejauhan, Mikyung dapat melihat sekertaris Sehun yang mendekat kearahnya.

“Di mana Sehun?” Cecar Mikyung ketika sekertaris Sehun sudah sampai di hadapannya.

“Presdir menyuruh saya untuk memberikan ini pada Anda. Dan, Anda diperintahkan untuk menunggu Presdir di mobil yang ada di pelataran jam 7 nanti. Saya permisi dulu.”

Belum sempat Mikyung menanyakan maksud dari bingkisan yang diberikan oleh sekertaris Sehun tadi, pria berumur setengah abad itu sudah melenggang pergi. Menyisakan tanda tanya di benak Mikyung.

-oOo-

Sebuah gaun indah berwarna putih dengan aksen renda yang menambah kesan mewah pada gaun berpotongan selutut itu melekat di tubuh Mikyung. Mikyung menatap kagum pada gaun tersebut. Begitu pas di tubuh mungilnya. Dah, jangan lupakan high heels berwarna putih tulang yang dibungkus bersamaan dengan gaunnya.

“Aku baru menyadari kalau ternyata aku cantik juga,” Mikyung terkikik geli sendiri sembari menatap dirinya di pantulan kaca besar.

Riasan tipis menempel di wajah cantik Mikyung, dan semakin menambahkan kecantikan alami wanita itu.

Mikyung bersiap turun ke bawah untuk menemui Sehun setelah membalut tubuhnya dengan mantel tebal berwarna hitam.

Sehun menyuruh Mikyung untuk menemuinya di pelataran rumah, dan pria itu sudah bersiap diri dengan mobil sport mewahnya. Lagi-lagi, Mikyung dibuat terkagum, sampai lupa bagaimana caranya menutup mulut.

Oh Sehun memang selalu penuh dengan kejutan.

Mikyung tahu jika Sehun memiliki sederet mobil mewah seperti ini di garasinya. Tapi mungkin lebih tepat hanya untuk hiasan saja, karena Mikyung jarang melihat Sehun mengendarainya.

Seorang pelayan menuntut Mikyung untuk memasuki mobil yang telah diisi oleh Sehun yang terduduk manis di kursi kemudi. Setelah memasuki mobil, Mikyung memicingkan matanya kearah Sehun yang sedang bermain dengan ponselnya.

“Jelaskan padaku semua ini,” tuntut Mikyung. Namun, Sehun tidak mengindahkannya.

Mikyung memutar bola matanya, ia pun merampas ponsel Sehun karena kesal. Pria itu sudah cukup membuatnya menahan amarah hari ini.

“Aku sedang bicara denganmu,” tegas Mikyung.

Sehun mengendus, lalu menatap sang istri. Tidakkah Mikyung tahu sudah hampir satu jam ia menunggunya untuk bedandan dan hal-hal yang biasanya wanita lakukan lainnya. Mereka memiliki janji jam 7 malam, namun kini jam sudah tidak menunjukkan jam 7 lagi.

Tanpa membalas perkataan Mikyung, Sehun menyalakan mesin mobilnya sebelum melaju dalam kecepatan ekstra.

Mikyung memberengut, ia lagi-lagi diabaikan. Sebenarnya ada apa dengan pria yang satu ini. Mikyung tidak habis pikir.

“Kau ingin membawaku kemana?” Tanya Mikyung ketus.

Sehun tidak menjawab. Menurutnya sekarang itu sudah tidak penting.

“Aku sedang bicara denganmu. Apa susahnya sih tinggal menjawab saja?!” Mikyung meninggikan nada suaranya karena sudah tak tahan lagi dengan sikap Sehun. Memangnya pria itu patung berjalan?!

Secara mendadak, Sehun mengeremkan mobilnya. Ia memposisikan tubuhnya kearah Mikyung dan sangat terkejut ketika mendapati wanita di sampingnya itu sedang terisak.

“Kau jahat! Kau terus mengabaikanku! Kau tidak tahu ‘kan bagaimana rasanya diabaikan. Aku kira ini akan menjadi liburan yang mengasyikan, tapi itu hanya ekspektasiku. Aku mau pulang saja ke Korea kalau seperti ini terus,” cerocos Mikyung sambil sesekali menarik ingusnya yang ingin keluar. Menjijikan sekali.

Sehun justru merasa gemas dengan wanita itu. Ia mengambil tisu yang berada di dalam dasboard mobil, lalu memberikannya pada Mikyung.

“Kenapa kau malah tersenyum?” Mikyung bertanya ketus saat melihat Sehun justru tersenyum kearahnya.

“Tidak apa-apa,” jawab Sehun. Secepat kilat kembali pada raut datarnya yang tidak manusiawi itu.

Mikyung membersihkan air matanya kasar. Ia sudah tidak peduli lagi dengan riasannya.

Hening sesaat. Sehun sedang menunggu agar Mikyung dapat mengendalikan dirinya lebih dulu sebelum bersuara kembali.

“Maaf karena sudah mendiamimu seharian ini,” ujar Sehun sambil fokus pada kemudinya.

“Kau memang pantas mengucapkan itu,” cibir Mikyung seraya memainkan ponsel Sehun.

“Aku punya kejutan untukmu,” ungkap Sehun akhirnya.

Perkataan Sehun lantas membuat Mikyung berpaling dari ponsel pria itu, “Kau sedang tidak bercanda, kan?”

Sehun menggeleng sebagai jawaban. Mikyung tersenyum mengembang. Lalu beringsut kearah Sehun dan tanpa perintah mengecup pipi Sehun secara kilat. Menyisakan keterkejutan bagi si pria.

“Aku lapar, aku harap kejutan itu adalah sebuah makan malam yang romantis. Oh ya, seperti di drama-drama ada kembang apinya. Hm, apalagi ya? Ah, musik klasik! Pasti itu sempurna sekali.”

Seperti halnya apa yang diinginkan Mikyung tadi, Sehun dapat mengabulkannya hanya dalam semalam.

-oOo-

Mikyung tadinya hanya menuturkan perkataannya secara asal dan tidak berharap semua itu menjadi kenyataan. Namun, apa yang dilihatnya kali ini benar-benar nyata. Makan malam romantis yang ia idamkan.

Sehun menuntun Mikyung yang masih terpukau dengan kejutan yang dirinya berikan untuk duduk di kursi yang sudah disediakan.

Secara mendadak Sehun atas nama perusahaan Ayahnya yang kini digenggam sang paman, menyewa alun-alun kota Madrid, yaitu Plaza Mayor.

Plaza Mayor adalah alun-alun berbentuk persegi panjang yang terletak di pusat kota Madrid, Spanyol. Alun-alun ini merupakan salah satu alun-alun paling terkenal di Madrid dan sangat populer di kalangan wisatawan serta warga lokal.

Walaupun Sehun harus mengeluarkan kocek yang tak sedikit, melihat Mikyung dapat tersenyum senang seperti sudah cukup untuk membayar semuanya.

Permainan sekelompok orkestra yang memainkan lagu-lagu romantis membuat Mikyung terbawa untuk kembali terpukau. Setelah cukup lama menikmati musik sampai tidak menyadari jika hidangan makan malam sudah datang, Mikyung beralih pada Sehun.

“Terima kasih. Padahal aku sama sekali tidak berharap kalau semua yang kuinginkan tadi menjadi kenyataan,” ungkap Mikyung riang.

“Sebelum kau mengatakannya aku sudah menyiapkan semua ini lebih dulu,” balas Sehun sembari menikmati makanannya.

Mikyung tidak menghapus senyum di wajahnya, “Intinya ‘terima kasih’,” tekannya pada Sehun.

Makan malam dengan hidangan steak daging sapi Spanyol yang terkenal dengan kelembutannya sudah selesai. Mikyung merasa sangat puas dengan hidangannya sampai-sampai ingin menambah porsinya, tapi Sehun menghentikan.

“Eh, tapi di sini tidak ada pengunjung lain. Jangan bilang kau menyewa Plaza Mayor hanya untuk makan malam kita?” Mikyung yang baru menyadari keadaan meminta penjelasan dari Sehun.

Sehun memutar bola matanya, jadi wanita ini sedari tadi baru menyadarinya. “Aku memang menyewanya,” tutur Sehun.

“Luar biasa!” Puji Mikyung, “Selain ini apa yang bisa kau lakukan? Oh, bisakah kau menyewa White House untukku. Aku sangat ingin masuk ke dalam sana sejak dulu karena begitu penasaran.” Cecar wanita itu tanpa jeda, membuat Sehun pusing sendiri mendengarnya.

Yang benar saja? White House? Apa wanita itu sudah tidak waras?

White House adalah tempat penting yang dimiliki oleh pemerintahan negara. Jika Sehun menyewanya hanya untuk Mikyung, mau dikata apa ia oleh dunia? Dan tentu saja tidak ada sejarah di Amerika yang menyewa White House hanya untuk keperluan pribadi.

“Jangan konyol, Shin Mikyung,” Sehun putus asa.

Terkadang lebih baik Mikyung kembali menjadi Mikyung ‘si wanita amnesia’ daripada menjadi Mikyung yang dikenal dulu. Sehun menjadi tidak mampu mengendalikan wanita itu.

-oOo-

“Rapatkan mantelmu, di sini sangat dingin,” perintah Sehun ketika Mikyung terus berjalan riang di depannya.

Mikyung tampak tak mengindahkan Sehun sedikitpun karena ia terlalu bersemangat. Dekat Plaza Mayor, ada sebuah parade untuk menyambut musim dingin serta natal, dan Mikyung membujuk Sehun untuk ikut dalam parade yang sangat ramai tersebut.

Sehun hanya dapat mengendus melihat tingkah Mikyung. Wanita itu bahkan terus menerus berbincang dengan anak-anak kecil yang ikut dalam parade. Mereka tertawa bersama, sesekali Mikyung mencubit gemas pipi gembul anak-anak itu.

“Sehun-ah! Cepat kesini!” Seru Mikyung dari tempatnya, Sehun mau tak mau menghampiri wanita itu.

“Ada apa?”

“Lihatlah! Anak kecil ini bilang kau sangat tampan, dan aku sangat cantik. Kita seperti pangeran dan putri dari negeri dongeng,” Mikyung mengakhiri perkataannya dengan tertawa ringan.

Sehun menjungkitkan bibirnya, ia tersenyum manis pada anak kecil yang juga sedang tersenyum padanya. Mereka sangat menggemaskan ketika sedang tersenyum.

Bye, bye~” seru Mikyung pada anak-anak kecil tadi, ia seperti tidak rela meninggalkan mereka. Oleh karena itu, ia bertanya pada Sehun yang berjalan di sampingnya. “Bolehkah aku bersama mereka sebentar lagi. Tidak lama kok,” pintanya.

“Malam semakin larut, kita harus pulang,” balas Sehun cuek. Mikyung pun memberengut.

Memang benar, walau festival belum berakhir dan semakin bertambahnya para pengunjung seiring dengan lautnya malam; udara Madrid sedang tidak bersahabat.

Angin musim dingin berhasil menerbangkan beberapa anak rambut Mikyung, ia merasakan dingin mulai menusuk tulangnya. “Dingin,” gumamnya, Sehun mendengar.

Pria Oh itu menghentikan langkah, ia pun berbalik kearah Mikyung. Tanpa aba-aba menarik tangan wanita itu untuk masuk ke dalam sebuah toko pakaian khusus musim dingin.

Mikyung jelas terkejut, ia menyerngit kearah Sehun. “Kenapa kau membawaku ke sini?”

Sehun tidak menjawab, ia sedang sibuk mencari sesuatu yang tidak Mikyung ketahui apa itu. Dan, Mikyung juga baru tahu kalau Sehun sangat fasih berbahasa Spanyol ketika pria itu berbincang dengan pelayan toko. Mikyung yang tidak mengerti hanya dapat melongo.

Selang 5 menit kemudian, pelayan toko memberikan sepasang sarung tangan dan syal berwarna cokelat pada Mikyung. Sehun menyuruhnya untuk memakai itu, “Pakailah,” perintahnya.

Mikyung menurut, ia memang merasa kedinginan dan menyesal kenapa melupakan syal serta sarung tangannya di rumah kala mengingat jika musim dingin sudah datang.

“Merasa lebih baik?” Tanya Sehun.

“Terima kasih,” balas Mikyung seraya tersenyum manis pada Sehun.

Sehun mengangguk, lalu berjalan ke arah kasir untuk membayar syal dan sarung tangan yang ia berikan pada Mikyung tadi. Sedangkan wanita itu mengekor di belakang.

-oOo-

Pada akhirnya, Sehun memutuskan untuk tidak pulang karena Mikyung terus merengek agar mereka lebih lama di festival. Sehun yang tidak punya pilihan lain karena Mikyung terus mengancam dengan tidak mau ‘tidur’ dengannya jika ia tidak menuruti kemauan wanita itu. Dasar. Jelas, Sehun menurut begitu saja. Berjauhan dengan Mikyung sama saja menyiksa dirinya.

“Aku lelah,” keluh Mikyung sebab sepanjang parade atraksi, ia dan Sehun terus berjalan kaki.

“Siapa suruh tidak mau pulang,” ketus Sehun. Tidak Mikyung saja yang lelah, tapi ia juga lelah.

“Hei! Kau marah ya?” Goda Mikyung begitu melihat wajah masam Sehun.

“Tidak,” elak Sehun.

Mikyung beringsut ke arah Sehun. Ia menyenggol lengan Sehun, pria itu tidak merespon dan tetap pada posisinya. Kalau boleh jujur, Sehun walaupun ketika marah kadang menyeramkan, di sisi lain si pria dapat juga menggemaskan di mata Mikyung.

“Oh ayolah! Kapan lagi kita bisa berlibur berdua seperti ini? Kau selalu sibuk dengan pekerjaanmu, aku bosan berada di rumah terus.”

Sehun tetap diam, tidak melirik sedikit pun pada Mikyung yang sedang mengoceh tentang betapa bosannya berada di rumah. Di lubuk hati, Sehun menjadi merasa bersalah padanya.

“Kita nikmati selagi bisa, oke?” Mikyung mengedap-ngedipkan matanya tepat di depan wajah Sehun.

Sehun yang melihat tingkah imut Mikyung menjadi tidak tahan untuk tersenyum, walaupun sebentar. Ia menjauhkan wajah Mikyung dari wajahnya.

“Kita istirahat sebentar di bangku itu,” ujar Sehun sembari menarik tangan Mikyung untuk duduk di bangku taman yang letaknya tidak jauh dari mereka.

“Sehun?” Panggil Mikyung, Sehun menoleh.

Tidak bermaksud untuk apapun, Mikyung beringsut ke arah Sehun lalu memeluk lengan pria itu.

“Ada apa? Kau kedinginan?” Tanya Sehun.

Mikyung menggeleng, “Apa kau pernah merasakan cinta pertama?” Tanyanya.

Sehun tak langsung menjawab, melainkan berpikir sejenak. Dalam hidupnya, cinta tidak terlalu penting. Selama menginjakkan kaki di sekolah menengah atas, Sehun tidak begitu tertarik dengan yang namanya cinta ketika anak-anak seusianya sibuk mencari kekasih.

“Tidak,” jawab Sehun.

“Kenapa?” Tanya Mikyung.

“Karena aku tidak tertarik.”

Mikyung mengangguk, tipe pria seperti Sehun bukan tipe yang akan mudah untuk jatuh cinta.

“Dulu aku pernah punya cinta pertama. Dan dia juga merebut ciuman pertamaku,” ujar Mikyung. Berhasil menarik perhatian Sehun. “Tapi, setelah 1 tahun sebagai sepasang kekasih, kami putus,” sambungnya.

“Ciuman pertamamu?” Tanya Sehun, sedikit jijik.

“Memangnya kenapa? Lagipula aku tidak menyesal memberikan ciuman pertamaku padanya. Dia lelaki baik dan tampan,” jawab Mikyung.

“Cih, murahan sekali. Apa semudah itu kau jatuh cinta?” Olok Sehun.

Mikyung melirik Sehun tajam, “Kau menghinaku, ya?” Tuduhnya.

Sehun tampak tak acuh, ia menyenderkan tubuhnya di kepala kursi sembari melipatkan kedua tangannya di dada, lalu berkata. “Hal yang paling mudah di dunia ini adalah dikecewakan orang lain. Bahkan setelah menyukai seseorang dari penampilan luarnya, pasti ada saja yang membuat kita kecewa. Begitulah manusia.”

Mikyung mencibir, “Seakan-akan kau sudah sangat sering dikecewakan.”

“Aku memang sering dikewacakan orang lain. Well, tidak ada orang yang bisa mengatasi rasa kecewa. Karena itu, mencintai seseorang dengan tulus adalah hal tersulit.” Terang Sehun.

Semua orang pasti pernah merasa kecewa. Bagaimanapun bentuk dari kecewa itu sendiri.

Mikyung yang dari awal tidak sepemikiran dengan Sehun mengelak, “Menurutku memcintai seseorang itu mudah,” ujarnya. Menarik perhatian Sehun.

“Walaupun aku berusaha untuk tidak mencintai, tapi aku tidak bisa menahan rasa cinta itu. Seberapa besar rasa kecewaku nanti, aku tidak bisa berhenti untuk mencintai. Bagiku, cinta mengatasi segala sesuatu yang orang lain tidak tahu.” Lanjut Mikyung.

Sadarkah Mikyung ketika dirinya mengatakan perkataannya tadi, ia mengisyaratkan sesuatu dari pancaran iris teduhnya pada Sehun yang menatap.

Dada Mikyung berdegup kencang. Ia sama sekali tidak tahu apa yang terjadi saat ini. Namun, ia rasa ia seperti baru saja mengungkapkan perasaan cintanya pada seseorang.

Sehun tidak melepaskan tatapannya dari Mikyung, “Apa kau mungkin sedang mencintai seseorang saat ini?”

-oOo-

To Be Continue

TINGGALKAN JEJAK SETELAH MEMBACA!!!

#Thanks

Terima kasih banyak buat readers yg udah setia nungguin ff ini:)

Iklan

37 thoughts on “Nightmare [Part XIII] #Love

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s