Day After

1460031962562

Day After

Casts of  Chanyeol, Jongdae (EXO Chen), Na Nhee (OC)

Presented by deera

Friendzone. Romance. Light-sad.

Setelah kau pergi….

Setelah kau pergi, sudah pasti banyak yang berubah. Sesuatu yang baru terjadi saat kau tak lagi di sini. Hal yang juga pasti adalah aku kehilanganmu. Tubuhmu menggerak menjauh, meninggalkan hampir semua orang yang kau kenali di sini untuk melanjutkan hidup dengan petualangan yang baru. Sudah sepantasnya aku maklum.

Tapi yang menjauh, bukan hanya tubuhmu. Ingatanmu—kenangan, keping demi keping itu kamu simpan rapat-rapat, seperti tak akan pernah kau sentuh lagi. Singkat cerita, kau tak akan ada untukku lagi. Sebagai teman kita takkan lagi sama. Sebagai lebih dari teman…, sudah barang tentu takkan ada kesempatan lagi. Bagi kita, cinta tak pernah satu, melainkan hanya separuh.

Sulit untukku mengucapkan selamat tinggal pada kenangan-kenangan itu. Ribuan hari harus terhapus seperti debu. Sebetulnya bukan kau yang pergi. Benar, kau hanya bergerak maju, mengikuti gerus arus dari waktu ke waktu. Ialah aku, yang semula mengambil langkah untuk tetap tinggal—di sana saja bersama kenangan-kenangan itu—dan akhirnya memutuskan untuk…, ikut maju bersama waktu. Mereka bilang, waktu akan menyembuhkan segala rasa sakit.

Tapi waktu tak bisa membuatku tidak jatuh cinta saat kembali menatapmu.

Seperti malam ini.

Di tengah-tengah kita, sebilah cangkir dengan uap panas dari cokelatmu, dan gelas dengan cuping dan sedotan hitam berisi ice latte milikku. Darimu, cerita-cerita itu mengalir dengan lancar: kalimat yang akan kuingat dalam waktu lama—mungkin selamanya.

“Na Nhee-ya.” Suaramu lugas dalam tunduk dan seulas senyum. Kau merogoh sesuatu dari pangkuan, meletakkan sepucuk amplop putih di atas meja, lalu menggesernya pelan ke arahku.

Kau mengangkat kepala, menatapku. Baru kusadari, setelah sekian lama setelah aku memutuskan untuk mengembalikan semua perasaanku kepadamu, dan kitapun telah kembali menjadi dua orang teman lama yang tetap akrab, kau baru melihat mataku lagi. Ya, selama ini hanya aku yang memperhatikanmu. Hanya aku yang berusaha mencari tatapmu. Aku…, yang ternyata masih berharap akan kembali dijemput dengan pernyataan maaf dan perasaan bersalahmu.

Kau tersenyum. “Na Nhee-ya, aku akan menikah,” kau menarik napas, memberi jeda, “bulan depan. Kau harus datang. Tidak, kalau kau sibuk juga tidak apa-apa. Tidak, tidak. Kau harus datang, Na Nhee-ya. Kita harus bertemu nanti.”

Seperti sedikit dugaanku, pada akhirna kau tak pernah berkata maaf. Kau memang tidak salah, tapi aku ingin dengar itu. Maaf karena telah menyakitiku, maaf karena telah meninggalkanku, maaf untuk perasaanku yang tak bisa kau balas.

Aku meraih amplop putih berisi undangan pernikahanmu. Permukaannya hangat, mungkin kau terus menggenggamnya sambil mencari celah untuk mengatakan perihal sebenarnya mengapa kau menginginkan kita bertemu malam ini.

“Selamat, Jongdae-ya. Aku ikut senang. Hm…, kau benar, aku harus datang.” Kukatakan itu dengan sepenuh hati, benar-benar lapang dengan berita gembira itu, yang sebetulnya sudah kutahu sejak lama. Hanya saja, kau tak pernah berani mengatakannya langsung kepadaku. Sama, seperti saat kau ingin pergi tapi tak mengatakan apapun.

“Eoh, kau sudah berjanji, Na Nhee-ya.”

Setelah kau pergi, banyak hal lalu-lalang di dalam kepalaku. Apa aku bisa memaafkanmu, atau apa aku bisa kembali menemuimu dengan perasaan lega? Atau mungkin…, apa aku bisa jatuh cinta lagi? Semua itu lantas menjelma menjadi dinding kasat mata yang melingkupiku. Hanya aku dan diriku.

Dan setelah kau benar-benar pergi, setelah malam ini, dinding itu harus runtuh dengan utuh. Tanpa bersisa. Terkadang, untuk beberapa orang, seseorang yang benar-benar dicintai pada akhirnya bukanlah seseorang yang menghabiskan waktu bersama hingga tua.

Itu benar. Itu…, aku.

Tuk!

“Kau baru pulang?” Desis dan cecapan beradu jadi satu dari sosok yang muncul di balik tikungan.

Antara kaget dan malas, tapi lantas kujawab juga, “Memang kenapa? Kau mencariku? Kau merindukanku? Tidak kan? Kau tidak perlu berlagak peduli begitu, Park Chanyeol-ssi.”

“Eoh eoh.” Ia mengeluarkan es krim stick dari dalam mulutnya, mengacungkannya padaku sambil terus melangkah mendekat. Setelah beberapa langkah di depanku, ia kembali memakan es krimnya sambil bergumam tidak jelas, “Kau benar. Untuk apa aku mencarimu? Aku sedang tidak membutuhkanmu.”

Benar kan…, dia tidak waras.

“Omong-omong, tadi itu siapa? Pacarmu?” tanyanya.

“Siapa yang kau maksud?”

“Laki-laki yang tadi mengantarmu pulang. Kau pikir yang mana lagi? Ah, sudahlah tak perlu kau jawab! Aku tidak ingin tahu.” Chanyeol membalikkan badan dan berjalan ke arah rumah sewa di sebelah milikku.

“Kau tahu dia,” jawabku pada punggungnya yang belum jauh. Chanyeol kembali menghadapku dengan wajah bingung. Aku pun mengangkat bahu. “Sepertinya aku pernah menceritakannya padamu.”

Chanyeol mendengus. “Shin Na Nhee-ssi, kau ingat berapa lama kita saling mengenal? Kalau kau lupa, biar kuberitahu: enam bulan. Mungkin setahun lebih, tapi kita baru benar-benar bicara sejak acara kantor dan kau mabuk, dan teman-teman kantor bilang kalau kita tinggal berdekatan. Dan ternyata, aku menyewa rumah tepat di sebelahmu.”

“Kau lupa, setelah itu kau sering meneleponku di malam hari, membicarakan banyak hal yang tidak jelas. Di kantor juga, kau jadi tiba-tiba sering bicara denganku. Kau bahkan mengajakku makan siang.”

“Tapi kau tak pernah membicarakan laki-laki, Na Nhee-ssi.”

“Coba kau ingat lagi. Kau pernah melihat foto di dompetku. Itu aku dan temanku…, yang kusukai sejak dulu. Ah, kau benar-benar menyebalkan Park Chanyeol! Aku sedang tidak ingin mengingat bagian kalau aku menyukainya!”

“Ah!” Kalau ini cerita kartun, sudah ada lampu besar di atas kepala si Tetangga Park itu. “Itu dia? Kau jalan dengannya? Jadi…, kau sudah…, tidak sebelah tangan lagi?” Chanyeol menepukan kedua tangannya, membuat plastik belanja di pergelangan tangannya bergoyang. “Sekarang dua tangan?”

“Dia akan menikah.”

“Ah~ Jadi dia akan…,” raut wajahnya berubah perlahan, “apa? Menikah?”

Kutatap aspal di bawah kakiku dengan senyum miring. “Dia menghubungiku, mengatakan ingin menemuiku malam ini, untuk memberikan undangan pernikahannya.” Aku mengangakat wajahku, mendapati rona kasihan di wajah Chanyeol, “Tanggal sebelas bulan depan. Kalau kau tidak ada acara, kau bisa menemaniku. Lumayan, makan gratis.”

Kulemparkan seringaian tipis yang tak dibalas olehnya, yang kembali berubah menjadi ekspresi miris. “Ah, dia benar-benar menyukai angka sebelas. Kau tahu, wanita yang dinikahinya adalah wanita yang itu, yang didekatinya saat masih bersamaku.”

“Hohoi! Kalian tidak pernah benar-benar bersama.”

“Kau benar.”

Mendadak aku ingin menatap langit. Kenyataan itu membuat dadaku sesak beberapa saat, dan rasanya mataku memanas.

Him-nae,” ucap Chanyeol dengan suara rendah.

Aku tersenyum singkat.

“Seperti katamu, hidup tidak menunggumu. Ia berjalan terus, tinggal kau yang memilih: mau bertahan di sana atau melangkah maju. Lihatlah dirimu, kau ada di sini, kau sudah berjalan jauh. Jangan sampai kau berhenti lagi, bahkan kembali ke masa lalu. Kau seharusnya senang bisa bertemu denganku di sini,” katanya.

“Kau benar.” Aku menarik napas dalam dan menghembuskannya perlahan. “Terima kasih untukmu.”

“Apa? Untuk apa?”

“Karena kau, aku tahu.” Bisa kulihat kerut di dahi Chanyeol timbul semakin dalam. “Aku yakin bahwa setelah Jongdae pergi, aku bisa jatuh cinta lagi.”

Mata kami beradu di bawah sinar bulan penuh malam itu. Kulambaikan sebelah tanganku. “Good night.

– Kkeut! –

deera says: loooooong time no see haha brb nyapu debu wkwk gimana kabar kalian? sehat? 😀 oia, udah pada kirim cerita kalian buat XOXO Part 2017 beloom? Ayok deh, bentar lagi mau batas akhir loh. Hadiahnya bagus-bagus lagi. Masih buntu ide? Coba jalan-jalan dulu, jangan stalking oppa mulu :p

Anneyeongg!!!

Iklan

14 thoughts on “Day After

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s