Nightmare [Part XV] #Happiness

Poster by : Alkindi (https://dirtykindi.wordpress.com/)

EXO’s Sehun & OC’s Mikyung

Angs | Sad | Life | Mature | Psychology (little) | Romance | Married Life

[Rated Can Change Anytime!]

Disclaimer! The original results my imagination. NOT FOR PLAGIARISM OR COPY PASTE!!!

  “Dongeng anak-anak memang yang terbaik. Andaikan hidupku seperti dongeng-dongeng ini, berakhir dengan happy ending pasti bukan sesuatu yang lumrah. Hm, menjadi Cinderella tidaklah buruk?”
 

©2016.billhun94


‘ Kebohongan adalah sesuatu yang wajar di muka bumi ini dan paling sering dilakukan oleh manusia. Pada dasarnya, manusia memiliki banyak sekali kebohongan di dalam diri mereka. Mereka hanya berpura-pura tidak mengetahui apapun, namun mencoba untuk menutupi kebohongan tersebut.’

Jongin menutup buku yang ia baca, lalu melepas kacamata bacanya. Kini, objek di depannya sebagai arahan. Seorang wanita yang masih terbenam di dalam lubuk hatinya dengan kata ‘cinta’ sebagai benang yang menyangkut dan masih tersambung. Mencoba untuk memutuskan ‘benang’ itu, nihilnya Jongin selalu gagal.

Wanita cantik bernama Jung Soojung itu menatap datar Jongin.  Soojung mengutuk masa lalunya yang terlahir sebagai mantan kekasih pria itu. Dengan kata lain ia menyesal telah berhubungan bersama Jongin begitu mengetahui fakta yang sesungguhnya.

“Ada perlu apa sampai kau bersedia datang ke tempat kerjaku?” Tanya Jongin.

“Menghapus masa lalu, mungkin.” Jawab Soojung sambil mengedikkan bahunya.

Jongin tertawa ringan, menyambut perkataan Soojung dengan sinis. Ia tahu bukan itu tujuan sebenarnya Soojung menempuh jarak berkilo-kilo meter hanya untuk menemuinya.

“Aku tidak punya waktu, cepat katakan apa yang kau inginkan?”

Walaupun benang berupa cinta itu masing belum terputus, Jongin seakan-akan mengisyaratkan jika ia membenci Soojung. Ah, bukan membenci, mungkin terlihat seakan ia menghindari wanita itu. Spesifikasinya tidak begitu menghindari.

Well, Kim Jongin, kau memang selalu terburu-buru dalam segala hal,” ujar Soojung. Irisnya masih menatap datar sang lawan bicara, “Tidak banyak yang aku inginkan. Memberikan informasi kesehatan pribadi Shin Mikyung bukan hal sulit bagimu, ‘bukan?” Lanjutnya.

Jongin menggelengkan kepala, “Semua data Shin Mikyung sudah diberi password. Jadi, aku tidak memiliki hak untuk membantumu,” terangnya.

Jongin bangkit dari duduknya, mengambil snelli yang tergantung di kepala kursi sebelum melangkah pergi meninggalkan ruangannya serta Soojung. Ia masih sempat untuk berbalik dan mengatakan sesuatu pada si wanita, “Aku free malam ini, bagaimana kalau kita minum bersama?”

-oOo-

“… akhirnya sang putri dan pangeran pun hidup bahagia bersama selamanya.”

Sehun melirik Mikyung yang sudah selesai membaca buku dongeng di tempatnya. Wanita itu membaca dengan suara yang sangat lantang, membuat Sehun tidak bisa mengerjakan pekerjaannya dengan tenang.

“Dongeng anak-anak memang yang terbaik. Andaikan hidupku seperti dongeng-dongeng ini, berakhir dengan happy ending pasti bukan sesuatu yang lumrah. Hm, menjadi Cinderella tidaklah buruk?” Oceh wanita itu, berjalan ke ranjang dan duduk di sebelah Sehun yang sedang sibuk dengan laptopnya. Mengerjakan sesuatu, mungkin.

Natal berlalu tanpa terasa, udara dingin berlalu sangat lambat. Mikyung enggan beranjak dari ranjang karena itu. Ia lebih memilih untuk tidur dengan selimut tebalnya. Sehun? Jangan tanyakan tentang dia. Tentu saja pria itu bekerja dan terus bekerja, bahkan di hari libur sekalipun.

“Kau tidak lelah?” Tanya Mikyung melirik Sehun.

“Tidak,” jawab Sehun yang masih terfokus pada pekerjaannya.

“Kapan kita akan kembali ke Korea?” Tanya Mikyung, lagi.

Sehun mengela napasnya berat, “Besok. Bisakah kau tidak mengangguku bekerja, Shin Mikyung?”

Mikyung mengerjap, ia sadar akan perkataan Sehun. “Jadi, aku menganggumu, begitu?! Ya sudah kalau begitu aku tidur di kamar tamu saja!” Selorohnya yang tidak terima.

Mikyung beringsut meninggalkan kamar, Sehun juga masih terkejut dengan sikap temperamen wanita itu. Sehun seperti merasa jika akhir-akhir ini Mikyung sedikit sensitif.

Pukul sudah menunjukkan jam setengah dua belas malam ketika Sehun baru saja menyelesaikan pekerjaannya. Ia menaruh laptopnya di nakas, setelah itu berjalan ke luar kamar guna menenangkan Mikyung yang sedang merajuk.

Keadaan kamar lampu tidak begitu terang, Sehun dengan hati-hati membuka pintu kamar agar tidak menganggu Mikyung. Kamar tamu yang berada di lantai satu itu memang sering digunakan selain kamar utama, jadi keadaannya sedikit lebih terawat jika dibandingkan kamar tamu yang lainnya yang sedikit berdebu dan usang.

“Mikyung-ah?” Panggil Sehun, duduk di sisi ranjang.

Mikyung sebenarnya tidak benar-benar menutup mata, ia tahu ketika Sehun datang dan mengelus pipinya lembut sebelum akhirnya mengecup keningnya penuh perhitungan. Diam-diam Mikyung tersenyum kecil sewaktu Sehun menggendongnya ala bridal stlye menuju kamar utama.

Dengan sangat hati-hati, Sehun membaringkan tubuh Mikyung di sisi ranjang dan menaikkan selimut sampai batas pinggang. Ia sedikit membenarkan anak rambut yang menghalangi wajah cantik sang istri.

“Selamat malam,” gumam Sehun, lalu beranjak ke sisi sebelah Mikyung.

Setelah Sehun mematikan lampu kamar, barulah Mikyung membuka matanya kembali. Ia mengubah posisinya ke samping, berbarengan pula dengan Sehun, dan akhirnya mereka malah saling berhadapan.

“Kau belum tidur?” Tanya Sehun, mengernyit heran.

Mikyung ketahuan, “Be-belum. Mengapa memangnya?” Tanyanya sewot.

Sehun tidak melanjutkan percakapannya dengan Mikyung yang lebih mirip beradu argumen itu. Ia menarik pinggang Mikyung agar lebih mendekat padanya, lalu memeluk wanita itu posesif.

Mikyung yang mendapat perlakuan seperti itu awalnya senang, tapi ia baru ingat jika ia sedang merajuk pada Sehun. Jadi, ia melepaskannya kembali.

Tanpa aba-aba, Sehun kembali menarik pinggang Mikyung. “Jangan mencoba untuk menjauh, aku tahu kau hanya berpura-pura marah,” bisik Sehun di telinga Mikyung.

Mikyung dengan cepat memukul lengan Sehun keras, “Sok tahu sekali,” cibirnya.

“Tidurlah, sudah malam,” lagi-lagi Sehun tidak menanggapi. Ia memejamkan matanya sambil meraih telapak tangan Mikyung lalu menggenggamnya erat.

Untuk kesekian kalinya, jantung Mikyung meletup-letup. Pipinya juga memanas atas semua perlakuan manis Sehun padanya. Ia tidak mampu menahan perasaan ini lebih jauh lagi.

-oOo-

Oh Jinyoung menatap layar datar di hadapannya dengan ekspresi yang sulit untuk di baca. Sebuah berita mengabarkan jika Oh Sehun—yang notabene adalah keponakannya—ingin mengambil seluruh kekuasaan adiknya yang merupakan ayah Sehun.

Pria setengah baya itu tersenyum miring, lalu mengambil ponsel yang tergeletak di meja. Dengan cekatan, ia mengetik nomor seseorang yang akan dibuhunginya.

Panggilan tersambung, Jinyoung membuka suaranya. “Kita lanjutkan rencanamu, kali ini aku mau melihat Oh Sehun dan istrinya benar-benar hancur.”

-oOo-

Langkah Mikyung yang menderap dengan ceria mewarnai siang yang lumayan cerah hari itu. Di taman belakang, tepatnya di rumah kaca; Mikyung memaksa Sehun untuk menemaninya. Sifat wanita itu yang keras kepala mau tidak mau Sehun menurutinya begitu saja.

Secangkir teh hangat tersaji di meja yang berhadapan dengan Sehun, sedang matanya mengikuti pergerakan Mikyung yang terlihat sangat bahagia. Senyum kecil terukir di bibirnya ketika Mikyung memetik bunga tulip dan membawanya pada Sehun. Namun, yang lucu serta membuat Sehun ingin tertawa keras adalah ketika Mikyung hampir terpeleset hanya karena daun yang terjatuh dari pohonnya.

“Kenapa kau malah tertawa?!” Bentak Mikyung begitu sudah berada di hadapan Sehun sambil sesekali membersihkan dressnya yang kotor terkena tanah.

“Bisakah kau mengulangi yang tadi?” Canda Sehun.

Mikyung menatap Sehun tajam, “Kau mau mati?!” Timpalnya kesal.

Sehun melanjutkan tawanya sampai ia lelah. Bermenit-menit berlalu, Mikyung memperhatikan bunga yang tadi dipetiknya, lalu beralih pada Sehun yang sedang menyesap tehnya penuh dengan perhitungan. Seperti ibu-ibu sosialita yang selalu memamerkan hartanya sana-sini. Kira-kira 11-12 persamaannya.

“Kau pasti sangat dididik untuk menjaga sopan santunmu, ya? Lihatlah! Caramu minum teh saja sampai seperti itu,” komentar Mikyung yang lebih mirip sebagai sindiran.

Sehun melirik wanita yang duduk di sampingnya itu sekilas, “Kenapa? Aku sangat berbanding denganmu, ya?”

Mikyung menatap Sehun, “Woah, kau memang pintar Oh Sehun!” Kagumnya hanya karena Sehun dapat membaca apa yang ia pikirkan. Berlebihan sekali.

“Orang awam saja mungkin tahu,” balas Sehun cuek.

Mikyung cemberut, tapi ia langsung mengubah topik begitu saja. “Kau sangat memperhatikan sopan santun. Tapi, aku tidak terlalu begitu. Orang tuaku yang berada di Australia tidak terlalu memperhatikan bagaimana sopan santun di prioritaskan. Mungkin terbawa budaya barat,” selorohnya.

“Kau dulu tidak ada bedanya denganku,” timpal Sehun, menatap Mikyung balik.

“Benarkah? Tapi, kau merasa ada yang berbeda denganku tidak sejak kita pertama bertemu sewaktu aku berada di Australia?” Tanya Mikyung yang penasaran.

“Banyak.”

“Coba sebutkan!”

Sehun memperhatikan Mikyung dengan seksama, mencoba memberi penilaian. “Kau sedikit lebih ceria dari sebelumnya,” ucapnya.

“Aku juga merasa begitu,” balas Mikyung dengan senyum manis yang terukir di bibir manisnya.

“Apa ada lagi?”

“Aku tidak tahu.”

Mikyung menganggukan kepalanya, “Semenjak ingatanku kembali, aku merasa jika aku memang mulai berubah secara perlahan.” Terangnya, masih memuji bunga tulip di tangannya. “Sifat manusia bisa berubah dalam sekejab. Hebat, bukan?” Sambungnya.

Sehun tidak merespon, ia mencoba untuk memproses setiap perkataan Mikyung dengan baik di otaknya. Bila sifat manusia bisa berubah begitu cepat, lalu bagaimana dengan sifat orang-orang di sekitarnya? Tidakkah mereka juga bisa berubah.

“Sehun-ah, wajahmu mau aku gambar, tidak?” Tanya Mikyung, membuyarkan lamunan singkat Sehun.

Sehun tidak lupa jika kemampuan menggambar Mikyung patut di apresiasikan. Saat pertemuan pertama mereka ketika Sehun benar-benar baru pertama kali melihat Mikyung, ia sangat tertarik dengan gambar-gambar yang berada di buku sketsa wanita itu.

Entah darimana Mikyung mendapatkan kertas dan pensil itu, Sehun dengan tampang datarnya menelisik setiap gerakan Mikyung. Ketika si wanita membuat pola di kertas, sampai kebagian-bagian yang menjadi komponen utama. Sangat telaten dan hati-hati.

Memperhatikan Mikyung dalam diam seperti ini membuat Sehun merasakan perasaan aneh yang menyelubung di lubuk hatinya. Mirip sebuah getaran, namun menghasilkan efek yang ia tidak bisa kendalikan. Tanpa sadar, Sehun menyentuh dada kirinya, merasakan jantungnya yang terus berdegup tanpa kendali.

“Selesai!” Seru Mikyung. Ia berhasil menyelesaikan pekerjaannya dalam waktu kurang dari 30 menit.

“Harus aku akui, kau memang tampan Oh Sehun.” Terang Mikyung, membuat Sehun tertarik untuk melihat maha karya sang istri.

Senyum tipis menjungkit di bibirnya, hasil gambar Mikyung lumayan juga.

“Lumayan,” puji Sehun.

“Aku belajar melukis dan menggambar sejak aku kecil. Daripada ikut les piano, aku lebih memilih untuk ikut les menggambar,” jelas Mikyung sambil tersenyum senang.

“Kau punya masa kecil yang menyenangkan. Aku iri padamu.”

Well, masa kecil Sehun tidaklah semenyenangkan dan sebahagia seperti Shin Mikyung. Mereka punya kisah hidup yang berbanding terbalik di masa lampau.

“Bagaimana kalau kita mengunjungi makam ibumu saat kita tiba di Korea nanti?”

-oOo-

Dengan ramah Jongin menyapa balik beberapa perawat yang menyapa dan menyebarkan senyum padanya. Jongin yang dikenal ramah pun selalu disegani oleh para psikiater dan perawat.

Jongin memasuki ruangannya, ia mulai bersiap untuk bekerja hari ini. Setelah mengambil data pasiennya, Jongin berniat melenggang dari ruangan kerjanya. Namun, seorang wanita menghentikan niatnya. Wanita itu, Jung Soojung.

“Kemari lagi? Pasti kau sangat merindukanku,” ucap Jongin asal.

Raut wajah Soojung yang datar dengan gerak bola mata yang sulit untuk dibaca menyulitkan Jongin mengetahui maksud wanita itu. Ia seorang psikiater yang mengetahui keadaan pasien hanya dengan melihat gerak-geriknya saja. Kasus Soojung lebih sulit.

“Aku rasa aku sudah gila,” balas Soojung, melangkah untuk duduk di sofa yang berada di ruangan Jongin.

Tawa menyambut perkataan Soojung yang berasal dari Jongin. Soojung merupakan tipikal wanita yang mudah stres, wajar saja jika wanita itu berkata demikian.

“Kenapa kau malah tertawa. Aku serius,” kesal Soojung.

Jongin yang masih di tempatnya, berjalan menghampiri Soojung dan duduk di sofa yang berhadapan dengan wanita itu. “Dari sekian banyak psikiater, kenapa kau malah datang padaku?”

Soojung tampak berpikir, ia sendiri juga bingung kenapa harus memilih Jongin dari sekian banyaknya psikiater di Korea. “Mungkin… kau yang paling aku percaya,” balasnya.

-oOo-

Secara mendadak, Sehun membatalkan penerbangan sore ini yang akan membawanya dan Mikyung meninggalkan Spanyol dengan alasan jika Mikyung sangat ingin merayakan malam pergantian tahun baru di negara tersebut. Sehun yang tidak punya pilihan lain menuruti begitu saja.

Sekarang, wanita bermaga Shin itu sedang memainkan ponsel Sehun. Ia baru ingat jika Mikyung tidak memiliki ponsel, oleh karena itu ia berniat untuk membelikannya ponsel. Tapi nanti setelah mereka pulang ke Korea.

Mikyung menghampiri Sehun di ranjang, lalu ikut merebahkan tubuhnya di samping pria itu dengan lengan Sehun yang menjadi bantalan. Bermanja-manja dengan Sehun adalah sesuatu yang tidak ada duanya. Tubuh tegap dan besar Sehun selalu mampu membuat Mikyung hangat. Genggaman tangan dan bisikannya juga. Gara-gara itu semua Mikyung betah berlama-lama di dekat Sehun.

“Isi ponselmu tidak ada yang menarik,” gerutu Mikyung sembari memberikan ponsel tersebut kepada empunya.

Sehun mengambil ponselnya dari tangan Mikyung, “Kalau tidak ada yang menarik, kenapa kau dari tadi terus memainkannya?”

“Karena aku bosan.”

Mikyung melingkarkan tangannya di pinggang Sehun, dan menaikkan kakinya ke tubuh pria itu; seperti sedang memeluk guling. Sehun yang mendapat perlakuan tersebut menjadi risih karena tidak nyaman.

“Apa yang kau lakukan?”

“Memelukmu.”

Sehun tertawa pelan. Istrinya ini memang benar-benar. Entah apa yang terjadi pada Mikyung sampai membuat wanita itu seperti terus menempel padanya. “Aku tidak bisa bernapas,” keluhnya sembari menggoyang-goyangkan tubuhnya ke samping.

“Butuh napas buatan?”

Sehun refleks menatap Mikyung, “Darimana kau belajar kata-kata seperti itu?” Ini bukan perasaannya saja ‘kan, jika kini Mikyung telah berubah menjadi agak sedikit mesum. Oh ya Tuhan!

“Darimu,” jawab Mikyung tanpa dosa.

Sehun memutar bola matanya, ia tidak habis fikir apa yang terjadi dengan Mikyung saat ini. Dengan gerakan cepat Sehun melepas kungkungan Mikyung. Ia segera memeluk Mikyung sebelum wanita itu marah. Tangannya yang bebas menepuk punggung Mikyung pelan.

Wangi harum bunga mawar menyeruak memasuki indera penciuman Sehun. Ia menghirupnya sebanyak mungkin, seakan-akan tidak ada hari lagi untuk menghirupnya.

Bagaikan oksigen, Sehun tidak mampu hidup tanpa Mikyung. Awalnya memang ia tidak mengerti tentang setiap keajaiban yang ia terima ketika melihat senyum Mikyung, berada di dekat wanita itu, mendengar tawa bahagia, dan hal lainnya. Namun, lama kelamaan ia mengerti.

Untuk kesekian kalinya, Sehun memejamkan mata agar rasa sakit di kepalanya mereda. Ia tidak ingin Mikyung khawatir dengan penyakit yang ia derita saat ini.

“Malam tahun baru kita akan kemana?” Tanya Mikyung sambil membalas pelukan Sehun.

“Suatu tempat,” jawab Sehun.

Secara sepihak, Mikyung melepaskan pelukan Sehun. Ia menatap pria itu sebal, “Kenapa kau selalu sok misterius sekali, sih?”

Sehun tersenyum, membuat Mikyung heran sekaligus merasakan jantungnya berdebar karena melihat Sehun tersenyum dari jarak sedekat ini.

Tanpa aba-aba, Sehun menarik tengkuk Mikyung lalu menempelkan bibirnya di permukaan bibir wanita itu. Mikyung menegang, untung saja ciuman itu tidak berlangsung lama.

“Nanti kau juga akan tahu.”

-oOo-

Para wisatawan maupun penduduk lokal berbondong-bondong memenuhi Plaza de Cibeles untuk menunggu pertujukan kembang api dalam rangka menyambut tahun baru. Plaza de Cibeles merupakan bundaran persimpangan 3 jalan di Madrid, yaitu Calle de Alcalá (timur-barat), Paseo de Recoletos (utara), dan Paseo del Prado (selatan). Dan untuk sementara, jalan dialihkan kearah lain demi malam pergantian tahun.

Sehun dengan erat menggenggam tangan Mikyung agar wanita itu tidak keluyuran sesuka hatinya. Kejadia di Plaza Mayor sudah membuat Sehun kapok.

Mikyung tidak dapat menyembunyikan kebahagiaannya. Ia terus saja menebar senyum sambil berceloteh riang, ya walaupun Sehun terus mengabaikan celotehannya.

“Hati-hati nanti kau bisa tersandung,” ini sudah kesekian kali peringatan dari Sehun untuk Mikyung. Wanita itu terus berjalan tanpa memperhatikan sekitar.

Mikyung mencebikkan bibirnya, “Iya, iya, aku tahu.”

Sambil menunggu jam 12 malam tiba, Mikyung menyeret Sehun untuk membeli camilan dengan jumlah yang tak tanggung-tanggung. Sembari itu juga mereka mencari tempat yang bagus untuk melihat kembang api. Taman yang menjadi pilihan Mikyung, banyak juga orang-orang di sini. Mungkin karena tempatnya yang strategis.

“Sekarang jam berapa?” Tanya Mikyung sambil mengunyah humberger yang dibelinya tadi bersama Sehun.

“Jam 11,” jawab Sehun.

Mikyung menyodorkan humbergernya tadi pada Sehun, “Kau mau?” Yang mana langsung direspon gelengan oleh Sehun. Pria itu lebih memilih untuk menikmati kopi panas yang ia beli.

“Sehun-ah, aku haus,” ujar Mikyung, lebih tepatnya merengek karena lupa membeli minum.

Sehun menggelengkan kepalanya sembari berdecak, ia beranjak dari duduknya. Lantas berlalu meninggalkan Mikyung untuk membeli minum.

“Aku tadi hanya bilang haus. Dia bisa saja memberikan kopinya untukku, tapi malah pergi membeli minum. Kami ‘kan sudah sering bersentuhan. Sehun memang pria dengan kesensitifan yang tinggi,” gumam Mikyung lebar seorang diri.

Selang beberapa menit kemudian, Sehun datang dengan sebotol air mineral di tangannya dan memberikannya pada Mikyung. Yang mana langsung disambut gembira oleh wanita itu.

“Udara di sini tidak terlalu dingin,” celoteh Mikyung sembari memakan cemilan jagung.

“Hm.”

“Tapi, lebih baik kedinginan. Dengan itu aku jadi punya alasan untuk memelukmu,” ujar Mikyung.

“Kau bisa memelukku kapan saja jika kau mau,” balas Sehun.

Mikyung menelengkan kepalanya kearah Sehun dengan senyum jahil. Sudah ia katakan, menggoda Sehun adalah hobinya sekarang.

“Benarkah? Kalau lebih dari berpelukan bagaimana?” Tanya Mikyung, usil.

Sehun melirik Mikyung dengan tampang datarnya, “Yang itu juga boleh,” jawabnya.

Tawa Mikyung yang selanjutnya terdengar, namun ia sudahi setelahnya. Mikyung beringsut lebih dekat pada Sehun, sampai bahu mereka bersentuhan. Lalu, dengan cepat mendaratkan kecupan singkat di bibir Sehun.

Berniat untuk menyelesaikan aksinya, Mikyung malah ditahan oleh Sehun agar ciuman mereka tidak terlepas. Sehun pun memperdalam ciumannya, melumat kecil bibir bawah sang istri.

Kehabisan napas, Mikyung mengerang meminta untuk dilepaskan. Tidak ada wajah penyesalan atau malu, Mikyung malah tertawa. Sehun mau tidak mau ikut tertawa. Entah apa penyebabnya, tapi mereka sama-sama merasa bahagia.

“Virus gilamu itu sudah menular padaku,” ucap Sehun setelah menghentikan tawanya.

“Aku rasa juga begitu,” timpal Mikyung yang masih tertawa.

Tidak terasa waktu berlalu begitu cepat sebab Mikyung terus saja menggoda Sehun dengan hal-hal aneh, sampai tinggal 5 menit lagi waktunya pergantian tahun. Mikyung dengan semangat berdiri dari duduknya, diikuti pula dengan Sehun.

Mikyung yang sudah bersiap ingat akan hal yang harus ia beritahu pada sang suami, ia pun mendekat kearah pria itu.

“Ada apa?” Tanya Sehun yang mendapati Mikyung menatapnya.

Mikyung tidak menjawab, ia memilin ujung bajunya. Darahnya mengalir lebih cepat dari biasanya dan juga keringat dingin membanjiri keningnya.

“Sehun-ah….” panggil Mikyung, menggantung kalimat selanjutnya.

“… aku….” lanjut wanita itu.

Dengan sabar Sehun menunggu kata-kata apa yang akan Mikyung ucapkan. Wanita itu berjinjit agar dapat menggapai tubuh Sehun. Ia menggapai bahu Sehun agar kepalanya lebih dekat dengan telinga pria itu.

Bertepatan dengan itu juga, orang-orang disekitar Sehun dan Mikyung menghitung mundur waktu dari hitungan ke-5. Dan, Sehun masih menanti dengan sabar apa yang sebenarnya Mikyung ingin katakan.

“5.”

“4.”

“3.”

“2.”

“1.”

“Aku hamil.”

-oOo-

To Be Continue

TINGGALKAN JEJAK SETELAH MEMBACA!!!

#Thanks

Terima kasih banyak buat readers yg udah setia nungguin ff ini:)

Iklan

27 thoughts on “Nightmare [Part XV] #Happiness

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s