[Author Tetap] Unexpected Love – Part 2

1483173119189

Unexpected Love

Story by: blank.

Park Chanyeol, Oh Sehun, OC, and others | chaptered | romance, school life | general

*anggap aja cewek yang ada di posternya itu Chae Yoon.

_

Chae Yoon mengernyit. Merasa jika dirinya sedang dipermainkan oleh dua orang di depannya. Apa katanya tadi? Jodoh?

Tolong katakan jika ini hanya lelucon di siang bolong. Tolong katakan.

“Apa?”

Ibu tersenyum, mengusap telapak tangan Chae Yoon. “Kau tak salah dengar, Sayang.”

Chae Yoon menggeleng. Ini gila! Mana ada gadis cantik dengan prestasi tinggi dan masa depan cerah sepertinya harus menyetujui rencana gila seperti ini? Lagi pula, ini tak ada hubungannya sama sekali dengan persahabatan ayahnya, kan? Kenapa Chae Yoon—yang notabenenya tak bersangkut paut—Ikut terlibat? Dan semua kerugian berpihak padanya?

Chae Yoon melirik ayahnya, berharap ada penjelasan di sana. Tapi nihil, bahkan ayahnya sudah menatapnya serius.

“Ini serius, Song Chae Yoon. Ayah harap kamu bisa menerimanya,” lalu ia tersenyum. “Dan dia tampan.”

Chae Yoon memutar bola matanya jengah. Persetan dengan itu.

Chae Yoon menaruh sumpitnya di atas meja, berdiri, lantas berlalu pergi dengan sebaris kalimat penuh penekanan.

“Aku ingin bertemu dengannya besok jam 3 sore di taman dekat kampus. Jika ia bahkan telat semenit, aku tak akan menerimanya.”

_

Dering ketiga dan suara berat seorang pria terdengar di ponsel Chae Yoon.

“Ada apa?” Suara di ujung sana terkekeh.

Chae Yoon tersenyum. “Aku kangen.”

“Aku tahu maksudmu yang sebenarnya. Jadi ayo cepat katakan, sebentar lagi waktu istirahatku selesai.”

Chae Yoon menghela napas. Baiklah, ia akan mengatakannya. “Aku dijodohkan dengan ayah.”

Hening. Hening yang sangat lama.

Pria di ujung sana berdehem. “Dan kamu menerimanya?”

Chae Yoon menghembuskan napas—entah untuk yang keberapa kalinya. “Aku minta bertemu dengannya besok sore.”

“Terima saja. Ayahmu pasti mencari yang terbaik untuk anaknya.”

“Aku bukan anaknya.” Chae Yoon menghela napas. Ia benci mengatakan ini, tapi satu-satunya yang terlintas di pikirannya hanya itu.

Chae Yoon diadopsi oleh keluarga Song saat umurnya 10. Keluarga kecil nan bahagia itu tidak bisa mempunyai anak perempuan, sekeras apapun mereka mencoba setelah 6 tahun menikah. Jadi saat tak sengaja mengunjungi panti asuhan milik temannya, ia melihat Song Chae Yoon. Gadis itu cantik, senyumnya manis, dan matanya indah. Nyonya Song langsung bilang ingin mengadopsinya, apalagi dengan marga mereka yang sama. Jadi sebagai suami yang juga menginginkan anak perempuan, Tuan Song akhirnya mengurus surat-surat pemindahan hak asuh untuk Song Chae Yoon. Dan sejak saat itu, Chae Yoon resmi menjadi anak mereka.

“Jangan bicara seperti itu.”

Chae Yoon menunduk, memperhatikan tangannya sendiri. “Maaf.”

Di ujung sana, Sehun menghembuskan napas. “Istirahatku sudah selesai. Aku harus kembali bekerja.”

“Oke. Hati-hati.” Chae Yoon menutup telponnya. Mendongak menatap langit gelap di atas kepalanya.

Apa yang harus ia lakukan? Menerimanya dengan setengah hati atau melihat orang tuanya sedih?

“Hah, lebih baik aku pergi tidur.”

_

Hari ini kita tidak usah bertemu. Maaf ya, jam kuliahku siang, jadi aku ingin tidur pagi ini.

Chae Yoon menghembuskan napas kecewa. Hari ini akan susah bertemu dengan Sehun kalau pria itu saja baru selesai kuliah pada sore hari. Lalu pasti ia akan langsung pergi ke kafe dan bekerja hingga larut. Ah, menyebalkan. Jadi buat apa aku bangun sepagi ini?  Chae Yoon memajukan bibirnya kesal, mengacak pelan rambutnya. Lebih baik tidur lagi 10 sampai 15 menit. Jadi ia rebahkan tubuhnya ke kasur, bersiap memejamkan matanya, sampai dering nyaring menghancurkan pagi indahnya. Chae Yoon menggerutu, mengambil ponselnya di atas nakas, lalu membaca siapa nama mahkluk kurang ajar yang memotong waktu hidupnya yang berharga.

“Kuhajar kau kalau ini bukan masalah penting.”

Suara di ujung sana terkekeh. Sekejap, Chae Yoon bisamenebak jika orang itu sedang nyengir—memperlihatkan giginya yang berjejer rapi. “Maaf. Tapi ini, sih, benar-benar penting.”

Chae Yoon memutar bola matanya malas. “Apa?”

“Kegiatan musik diadakan sekarang.”

Umpatan kotor yang dihasilkan otak Chae Yoon dengan kecepatan cahaya sudah sampai di ujung lidahnya. Tapi Chae Yoon tak ingin mood-nya di pagi hari makin memburuk. Jadi ia tarik napasnya pelan, dan menghembuskannya seraya berkata. “Ini masih pagi, Choi Yonggi.”

“Ini mendadak. Karena pensi-nya juga dimajukan.”

“Aku tidak mau ikut. Lagi pula aku bukan anggota klub itu.”

“Oh ayolah,” Yonggi memohon dari ujungsana. “Kau hanya akan mendata semua anak. Dan melihat mereka berlatih.”

Chae Yoon diam saja, tak berniat menjawab.

“Kutambah es krim. Dan ramen. Kamu mau cola? Atau bir? Soju, mungkin?”

“Aku mau kau berhenti menggangguku dan biarkan aku bersiap berangkat ke kampus.”

_

Chae Yoon berjalan pelan seraya merapatkan syal abu yang melilit hangat di lehernya. Sesekali tersenyum dan sedikit membungkuk saat melihat teman-temannya yang mengikuti klub musik menyapanya. Sampai netranya menangkap sosok Choi Yonggi yang sedang berlari kearahnya. Gadis itu melambai, membuat mantelnya bergoyang pelan. Chae Yoon balas mengangguk sekenanya. Terlalu malas menghabiskan energi di musim dingin.

“Apa?”

Yonggi menggeleng. Tersenyum, menggandeng lengan Chae Yoon. “Aku hanya senang kamu datang.”

Chae Yoon memutar bola matanya malas. Lebih baik cepat selesaikan ini dan pulang ke rumah.

_

“Sudah.” Chae Yoon meregangkan ototnya saat nama terakhir berhasil ia tulis di selembar kertas dengan rapi. Ia mendongak, memperhatikan sekitar. Ada yang sibuk berlatih gitar, menyanyi, menari, bermain drama. Chae Yoon tersenyum kecil. Terus memperhatikan anggota klub music yang sedang sibuk dengan latihannya masing-masing.

Sampai netranya menangkap sosok Chanyeol.Pria itu sedang serius dengan gitarnya, dan beberapa kali membenarkan gerakan tangan seorang gadis di hadapannya. Mungkin mereka sedang berlatih bersama. Atau mungkin Chanyeol sedang mengajarkan caranya bermain gitar pada gadis itu.

Entah Chae Yoon yang terlalu intens memperhatikan Chanyeol, atau memang pria berkuping caplang itu mempunyai tingkat kepekaan diatas rata-rata, Chanyeol balas menatap Chae Yoon yang sedang sibuk gelagapan. Buru-buru melihat papan berisi daftar anggota klub music. Chanyeol terkekeh, untuk sejenak memperhatikan Chae Yoon yang sibuk memperbaiki ikatan rambutnya sambil memalingkan wajah—malu menatap wajah Chanyeol.

Sekarang waktunya istirahat, jam dua siang. Chae Yoon sedang berkutat dengan roti lapis yang ia bawa dari rumah, berisi selai coklat kesukaannya. Sampai ia hampir tersedak saat coklat panas mengenai pipinya.

Chanyeol terkekeh, langsung duduk di samping Chae Yoon tanpa permisi. Chae Yoon jadi gelagapan sendiri. Sial, rutuknya dalam hati. Mau apa dia disini? Menertawakanku? Chanyeol langsung terkekeh, tak tahu untuk yang keberapa kali. Melihat wajah Chae Yoon yang memerah menahan malu membuatnya gemas.

“Aku tidak bermaksud menertawakanmu.”

Chae Yoon menoleh, wajahnya makin memerah. Buru-buru ia tutupi wajahnya dengan syal abu yang melilit lehernya. Lalu ia mengangguk sekilas, memikirkan cara terbaik meninggalkan Chanyeol secepatnya.

Chanyeol terkekeh, sampai bahunya bergoyang sedikit. “Kenapa memperhatikanku? Aku terlihat tampan, ya?”

“Ih, jangan sok pede.” Lalu sedetik setelahnya, ia buru-buru menambahkan. Bahkan tangannya sampai melambai, mencegah Chanyeol untuk berprasangka aneh-aneh. “B—bukan itu maksudku! Maaf, pokoknya maksudku bukan itu!”

Untuk kali ini, tawa Chanyeol benar-benar meledak. Kenapa ia tertawa? Chae Yoon mengernyitkan dahinya. Memperhatikan wajah Chanyeol yang memerah. “Kamu kenapa?”

Disela-sela tawanya yang makin mereda, Chanyeol menatap mata hitam Chae Yoon. “lucu.”

Chae Yoon jadi gelagapan sendiri, merasa bodoh di hadapan Chanyeol. “Lupakan.”

Chanyeol mengangguk, masih tersengal. “maaf.”

Dan mereka saling diam, sibuk menghabiskan bekal makan siang masing-masing. Sampai sebuah dering yang Chae Yoon yakin milik Chanyeol berbunyi. Membuat pria itu mendengus setelah membaca sekilas siapa yang berani menelponnya.

“Apa?—ya, mungkin bisa—,” sedetik kemudian, dahi Chanyeol terlipat. “—kenapa?—tidak, tidak akan—,” dan ia mendengus kesal. Chae Yoon mulai bergidik ngeri. “—terserah.” Lalu dengan sepihak Chanyeol memutus sambungan, mendengus, mengacak rambut.

Chae Yoon menelan suapan terakhirnya susah payah. Tanya saja atau berlagak acuh?

“Ada apa?” sialan, mulutnya sendiri malah berkhianat.

Chanyeol menoleh, menatap Chae Yoon yang takut-takut balas menatapnya. Lalu pria itu terkekeh—lagi. “Ada yang memintaku ke taman dekat sini jam 3 sore.” Dan mengangkat bahunya acuh.

“Ha?” Chae Yoon menahan napas. Pikiran aneh yang tak berlogika dalam sedetik sudah menyumbat otaknya yang sempit. Oh, apa iya? “Siapa?”

Chanyeol menggeleng, tersenyum culas. “Orangyang tak ingin kamu tahu.”

“Maksudnya, kamu harus menemui seseorang oleh dia?” Chae Yoon makin tak mengerti. Bagaimana kalau—.

“Dia ayahku. Dan kamu benar.” Chanyeol hanya tersenyum, menenggak habis coklat panasnya. Dan tepat waktu, istirahat selesai.

_

Bosan, Chae Yoon menunggu setengah jam dengan berkeliling gedung tempat klub itu berlatih. Ia melihat ruang kostum, yang didalamnya banyak sekali terdapat baju, wig rambut, alat makeup, kain, apa saja untuk keperluan pentas. Sudah banyak ruangan yang ia kunjungi, tapi hanya di tempat ini ia bisa menatapnya lama.

Ruang music. Dan netranya tak pernah lepas dari piano hitam Yamaha yang sedang menganggur. Ragu-ragu—setelah tadinya berhitung, memilih untuk melakukannya atau tidak—Chae Yoon memutar kenop pintu. Ruangan itu besar, dengan alat music beragam dan satu set karaoke yang ia tahu harganya tidak akan murah. Hati-hati sekali, ia duduk di bangku, berhadapan dengan piano hitam itu. Chae Yoon menatapnya sebentar, pelan-pelan mengarahkan jari-jarinya menyentuh tuts piano. Dingin. Ia menghembuskan napas, memejamkan mata, jadi teringat saat ia memainkannya bersama Sehun di rumahnya yang dulu. Dilihat oleh teman-teman satu panti asuhan, ibu, dan ayahnya. Ia tersenyum, bersiap memencet tuts piano itu sambil melantunkan sebuah lagu.

Mianhae mianhae hajima

Naega chorahaejijanha

Ppalgan yeppeun ipsullo

Eoseo nareul jugigo ga

Naneun gwaenchanha

Majimageuro nareul barabwajwo

Amureochi anheun deut useojwo

Nega bogo sipeul ttae

Gieokhal su itge

Naui meorissoge ne eolgul geuril su itge

Neol bonael su eomneun naui yoksimi

Jipchagi doeeo neol gadwotgo

Hoksi ireon na ttaeme himdeureonni

Amu daedap eomneun neo

Babocheoreom wae

Neoreul jiuji motae

Neon tteonabeoryeonneunde

Neoui nun ko ip

Nal manjideon ne songil

Jageun sontopkkaji da

Yeojeonhi neol neukkil su itjiman

Kkeojin bulkkoccheoreom

Tadeureogabeorin

Uri sarang modu da

Neomu apeujiman ijen neol chueogira bureulge

(Taeyang –Eyes, Nose, Lips)

Suara tepukan tangan itu menggema di seluruh ruangan sesaat setelah Chae Yoon mengentikan kegiatannya. Ia menoleh dengan mata membesar, melihat Yonggi yang sekarang sedang tertawa. Dan sialnya, di sebelah gadis itu, ada Pak Kim—yang Chae Yoon tahu, ia pelatih sekaligus P
embina klub music.

“Apa kubilang, ia jago, bukan?” Yonggi terkekeh, membuat Chae Yoon berprasangka yang tidak-tidak.

Pak Kim tersenyum, menghampiri Chae Yoon. “Ini sudah jelas bukan? Kamu resmi ikut pensi. Menggantikan Sara yang sedang sakit.” Lalu menepuk bahu Chae Yoon yang masih sibuk ber-telepati dengan Yonggi.

Chae Yoon berdiri, ingin menghentikan semuanya, secepat yang ia bisa. “Maafkan aku, Pak. Tapi music hanya sebatas hobi. Dan aku tak tertarik mengikuti klub bimbinganmu.” Sedertik setelahnya, Yonggi sibuk melotot. Dasar bodoh! Kau menyakiti hatinya, Song Chae Yoon! Kira-kira seperti itu maksud tatapannya.

Diluar dugaan, Pak Kim justru tersenyum. “Saya mengerti jika kamu berpikiran seperti itu. Tapi bersediakah kamu mencobanya selama 3 hari? Jika kamu masih merasa tidak nyaman, tidak apa.”

Chae Yoon menghela napas pelan, ini sih sama saja. Tak ada yang berubah. Tapi demi membayar omongannya yang kelewat dari kata sopan, ia mengangguk, tersenyum paling tulus abad ini. “Baiklah. Akan saya coba, Pak.”

Pak Kim tersenyum, lagi-lagi menepuk bahu Chae yoon. “bagus. Nah, sekarang silakan pulang. Waktu latihan sudah selesai.”

Chae Yoon jadi ingat dengan kegiatannya pada jam 3 sore. Jadi ia buru-buru pamit, berjalan tergesa menuju taman kampus. Hatinya berdetak tak karuan, bagaimna jika benar dia? Benar Chanyeol? Apalagi sejauh ia berjalan dari gedung latihan menuju taman, batang hidung lelaki jangkung itu tidak kelihatan. Apa ia sudah di taman? Menunggu wanita yang akan ia temui?

“Ah, masa bodo. Dia atau orang lain ak—,” kalimatnya terhenti. Demi melihat punggungnya yang lebar, tubuhnya yang tinggi jangkung, dan tatapannya yang sangat tidak ingin ia lihat, Chae Yoon buru-buru melotot, melafalkan nama pria itu hati-hati.

“Aku sudah menunggumu sepuluh menit, Chae Yoon.” Pria itu mendengus, melihat jam tangannya dengan tatapan datar.

“Kim Jongin. Apa yang kamu lakukan?”

Jongin mengangkat bahunya acuh. “katanya kita dijodohkan?” lalu menatap Chae Yoon dengan pandangan yang sumpah, ingin sekali gadis itu tampar. “Permainan yang seru, bukan?”

TBC

Maafkan kalau kalian masih bingung ya, aku juga pas baca part kemaren juga rada bingung sih/? Tapi yaudahlah.

Hehehe, Chae yoon nggak dijodohin sama Chanyeol kok, tenang aja. Tapi yang dijodohin sama Chae Yoon ganteng, kan? Jadi gak papa lah ya/?

Btw, filmnya D.O bikin dakuh nangis tengah malem ih :*

Terimakasih untuk vote dan comment-nya! Terimakasih juga yang udah nunggu part ini!

 

 

Peluk cium,

Blank.

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s