(don’t) Call Me Daddy ! [part-1]

dont-call-me-daddy

Title     : (don’t) Call Me Daddy !

Main Cast: Lu Han, Ariel Lau (OC)

Other Cast : Find by yourself

Rating : PG

Length : Multi chapter

Auhtor : Nidhyun (@nidariahs)

Disclaimer : the story is pure mine. Also published

xiaohyun.wordpress.com

Cover by : Lee Shin Hyo @Cafe Poster Art

(don’t) Call Me Daddy ! [TEASER] | Xiao Hyun's Pen World

 

 

***

Siang itu, di Hari Minggu pada pertengaha musim panas yang amat tidak menyenangkan, Luhan terpaksa harus mendatangi kelas mata kuliah Ekonomi Makro yang dipindah di hari libur ini pada jam dua siang. Yeah, Luhan kurang menyenangi mata kuliah dengan dosen yang tidak menyenangkan ini –dan lebih tidak menyenangkan lagi ia harus datang di hari libur dimana seharusnya Luhan bisa berkencan sepuasnya dengan sang kekasih, atau bermalas-malasan di rumah sewaannya bersama para roommate-nya.

“Yang lain datang kemari untuk mengisi club, dan kita harus datang untuk mengisi daftar absensi kuliah,” celetuk Sehun sembari menguap lebar. Sehun bahkan sempat tertidur dulu seelum datang ke kampus.

“Harusnya aku mengambil kelas Prof.Joo, jika aku tidak menyukai mata kuliahnya, setidaknya dia bisa menjadi pemandangan yang indah untuk kelas tak menyenangkan itu, kan?” Luhan menjawab dengan tatapan kosong –membayangkan professor muda nan cantik yang kelasnya selalu dipenuhi oleh para mahasiswa-mahasiswa ‘nakal’. Dan Luhan tidak seberuntung para mahasiswa itu –mahasiswa yang bisa mencuci mata sembari belajar. Ugh, pasti menyenangkan.

“Bahkan koridor ini nampak kosong…” Sehun menunjuk koridor yang mereka lalui dengan tangan kanannya.

Luhan hanya tersenyum sumbang dan menatap dinding kaca di samping kanannya –memerhatikan terik matahari yang sepertinya akan menghanguskan kulit penduduk Seoul siang itu. Well –Luhan adalah orang Beijing yang tersesat ke Yonsei University di Seoul, Korea. Dan Luhan sangat tahu betapa parahnya Beijing dengan karbon dioksida dan terik matahari yang berpadu secara bersamaan : panas yang gila. Tapi ternyata, musim panas di Seoul sama saja –sama-sama akan membuatnya mengeluh meskipun Seoul tidak sepanas Beijing.

Dan, sebelum memasuki kelasnya yang baru terisi belasan mahasiswa dari total tiga puluh mahasiswa, Luhan mengecek ponselnya yang sejak tadi terus bergetar. Luhan pikir itu dari kekasihnya –karena sejak tadi Luhan hanya sibuk bermain game dan langsung lari terpontang-panting ke kampusnya karena ingat ia punya mata kuliah tanpa sempat membalas pesan dari sang pacar. Tapi ternyata, justru nama lain yang terpampang di layar ponselnya.

[from : Aiden Lee
Hallo my little bro…how are u?]

[Emm…oke, langsung saja. Kau ada di Seoul kan saat ini? Hari ini aku akan berkunjung bersama dengan istriku. Ada seseorang yang harus kau temui.]

[Ini masalah yang cukup serius, jadi kuharap kau datang ke Kona Beans jam empat sore. Ingat. Aku memperingatkanmu untuk datang karena ini cukup serius.]

Luhan kembali membaca pesan itu –dan lagi hingga tiga kali banyaknya. Luhan tidak terlalu dekat dengan sepupunya yang satu ini, anak dari kakak sang ibu yang kebetulan menikah dengan orang Korea namun menetap di Amerika. Dan membaca pesannya yang sedikit misterius ini, Luhan justru menjadi bingung dan…tegang? Ayolah –dari warna kalimatnya, seharusnya telah terjadi sesuatu yang serius. Tapi Luhan tidak merasa ia pernah memiliki kasus serius dengan kakak sepupunya yang satu ini.

“Han? Kenapa diam saja?”

Luhan mendongak dan menatap Sehun yang tengah memerhatikannya dengan malas. Luhan hanya tersenyum dan menggeleng –kemudian membalas cepat pesan dari Aiden.

[Ya. Aku akan datang. Maaf jika aku akan sedikit terlambat karena aku ada mata kuliah hari ini.]

 

***

 

Luhan sudah mengira hal ini : keterlambatannya yang amat sangat untuk memenuhi janjinya bersama Aiden di Kona Beans. Ia baru keluar dari kelas pukul setengah empat, kemudian dipanggil oleh salah satu seniornya untuk membahas mengenai paper yang pernah dibuatnya, untuk tambahan materi skripsi katanya. Jika seniornya bukan senior tercantik di jurusannya, mungkin Luhan sudah berkilah ini itu dan melarikan diri. Tapi akhirnya Luhan menghabiskan waktu selama setengah jam untuk berdiskusi, sepuluh menit untuk berjalan ke parkiran, dan empat puluh lima menit untuk sampai di Kona Beans. Dan tepat pukul lima sore lah Luhan baru benar-benar menginjakkan kakinya di Kona Beans.

Luhan hampir menelepon nomor Aiden ketika ia sampai di depan pintu kafe tersebut –namun matanya terlanjur menemukan siluet punggung Aiden yang tidak berubah seperti dalam ingatannya. Luhan pun melangkahkan kakinya cepat ke arah meja tersebut dan hampir menyapa Aiden dengan semangat. Yeah…hampir, tangannya yang sudah mengangkat ke udara untuk menyapa Aiden terpaksa merosot ke bawah ketika ia mendapati sesosok gadis yang tak asing.

Gadis itu…gadis yang tiga tahun lalu ia temui ada di sini. Di hadapannya, tepat di depan matanya, dan gadis itu membalas tatapan mata Luhan dengan…datar.

Ariel Lau.

Luhan merasa ada sebuah suara yang meneriaki kepalanya dan membuat sekujur tubuhnya mendingin. Yeah…ini terlalu mendadak untuk menemui gadis itu lagi. Gadis yang…mengalami ‘kecelakaan’ dengannya tiga tahun lalu ketika Luhan berlibur ke New York.

“Kau sudah sampai?” suara Aiden berhasil meleburkan lamunan Luhan yang sudah merangkak kesana kemari. Ia masih memikirkan sapaan apa yang pantas ia berikan pada Ariel? Ia bertemu dan berpisah secara baik-baik sih dengan gadis ini…tapi tetap saja….

“Kenapa lama sekali? Beginikah sikapmu tiap kali akan menghadapi masalah?” marah Jill Choi –wanita yang dinikahi Aiden tiga tahun lalu.

Luhan menggaruk kepalanya yang sama sekali tidak terasa gatal. Ia tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi disini. Dimulai dari Ariel yang tiba-tiba berada di Seoul dan datang bersama…Aiden? Dan sikap Jill membuat Luhan semakin merasa terpojok tanpa alasan yang jelas.

“Tenanglah…” Aiden mencoba menenangkan Jill yang masih melotot ke arah Luhan. Mereka menggunakan bahasa Korea –dan beruntunglah Luhan juga berkuliah di Korea sehingga ketika wanita ini berteriak padanya ia masih memahami apa yang dibicarakannya.

Tapi…Ariel….

“Duduklah! Kita bicara…” Aiden pun menunjuk kursi kosong yang berhadapan langsung dengan Ariel.

“Ini…sebenarnya ada apa? Kenapa…”

“Jawab dengan jujur setiap pertanyaanku,” Aiden menyela dan menghembuskan napasnya dengan berat. Mata pria itu juga secara bergantian pada Luhan dan juga Ariel, “Kau mengenal Ariel Lau?” Aiden menatap Luhan dengan serius. Nada suaranya benar-benar tegas dan membuat Luhan merasa ia baru saja melakukan kesalahan yang amat besar.

Luhan pun mengalihkan pandangannya lama ke arah Ariel, mencari jawaban dari bola mata yang menatapnya dengan datar sejak tadi –tapi nihil. Tak satupun jawaban muncul di kepalanya, kecuali…kecelakaan mereka tiga tahun lalu. Percayalah! Luhan sangat yakin tidak ada masalah setelah mereka melewati malam panas pertama mereka dan…harusnya Ariel tidak ‘menggugatnya’ sekarang, kan?

“Jawab Luhan! Kenapa kau diam saja?!” dan Jill terus marah terhadapnya –hingga telinga Luhan terasa mendengung keras  ketika Jill menyebut kalimat ‘tanggung jawab’.

Luhan menatap lama Jill dengan bingung. Apanya yang harus dipertanggung jawabkan?

“Tenanglah, biar aku saja…” kali ini Ariel yang bersuara. Luhan hampir melupakan suara gadis itu, dan ia merasa terlempar pada kenangannya tiga tahun lalu ketika mereka bertemu pertama kali hingga malam itu terjadi…. Dan yang membuat Luhan bingung, gadis ini menggunakan bahasa korea dengan teramat lancar. Padahal, seingatnya dia benar-benar gadis Kanada yang memiliki darah cina dan tak ada hubungannya dengan Korea sedikitpun.

“Kau masih mengingatku?” tanyanya dengan nada setenang mungkin. Luhan seperti ditarik paksa dari segala macam pikiran aneh di kepalanya. Sekali lagi ia menyelami mata Ariel dengan tidak tenang. Kali ini ia menggunakan bahasa cina.

“Ini sudah tiga tahun…” Luhan menelan ludahnya pahit, “Kau mengenal sepupuku? Dan…kenapa kau…”

“Aku tahu pasti amat sangat canggung bertemu denganmu lagi setelah kejadian itu,” sela Ariel cepat. Ia pun berdehem pelan dan mengangkat bahunya dengan gerakan lambat, “Aku juga tidak bermaksud untuk menemuimu lagi, tapi…”

Luhan menaikkan sebelah alisnya, tidak sabar menunggu kelanjutan kalimat Ariel berikutnya.

“Aku…memiliki anak setelah kejadian itu…”

Dan, Luhan merasakan ada banyak petir yang menyambar dirinya dan membuat tubuhnya mati rasa dan lemas seketika. Apa-apaan ini? Bagaimana bisa Ariel memiliki anak? Darinya? Heol…ini sudah  lewat tiga tahun!

“Kau bercanda? Bagaimana mungkin? Maksudmu kau hamil…” Luhan lansgung menutup mulutnya ketika Jill memukul keras kepalanya dan membuat Luhan balik menyerang Jill, “Kenapa memukulku?! Itu sudah lewat tiga tahun! Bagaimana mungkin dia hamil bahkan ketika kami…”

“Mereka berusia dua tahun…” potong Ariel yang kembali menarik perhatian Luhan. Gadis itu menatap datar cangkir kopi yang suhunya telah kembali ke titik normal, “Kevin dan Aleyna…. Mereka kembar. Dan…yeah, percaya atau tidak mereka juga adalah darah dagingmu,” Ariel pun menghapus air matanya dengan kasar. Entah mengapa ia merasakan dentuman nyeri di dalam dadanya, “Jika kau tidak mengakui mereka pun tidak masalah. Aku hanya ingin kau tahu, kau telah menyalurkan gen mu pada dua mahluk mungil itu…” Ariel pun memutar kepalanya ke arah lain –tepat ke arah dua balita yang tengah berlarian menuju meja mereka.

Luhan hampir terjungkal ketika mendapati anak lelaki dengan mata yang sangat mirip dengannya. Dan satu anak perempuan yang memiliki wajah persis dengan Ariel…. Luhan hanya bisa tertawa sumbang dan kembali menatap Ariel. Ia hampir marah kembali pada gadis itu –namun semua kalimatnya tertahan karena ia tersentuh ketika Ariel memeluk dua balita yang dikejar oleh seorang wanita –entah siapa—dan menggendong mereka berdua, tersenyum cerah dan…entahlah. Ada perasaan aneh yang menyeruak dalam dadanya.

“Kurasa aku tidak perlu melakukan tes DNA untuk kalian, kan? Matanya saja sudah mirip denganmu,” ujar Aiden santai sembari menyesap kopinya, “Dia tidak tahu harus mencarimu kemana setelah dia tahu dia mengandung anakmu. Terlebih…yeah, kau tahu, reaksimu yang seperti ini akan menyakitinya saat itu,” Aiden pun menepuk pundak Luhan, “Terimalah kenyataan ini. Kau pernah bercinta dengannya, maka kau harus menerima buah cinta kalian yang…kau tidak melakukannya sekali, kan? Mereka kembar fraternal.”

Luhan kehilangan seluruh kata-katanya. Ia masih tertegun dengan setiap adegan Ariel dan dua bayi itu. Bagaimana bisa ia memiliki anak bahkan sebelum ia menikah? Bagaimana ia menjelaskan ini pada orang tuanya nanti? Apa yang harus ia lakukan setelah ini? Ia bahkan masih merengek pada orang tuanya dan merecoki teman-temannya untuk tetap hidup di Korea, dan ia tidak bisa membayangkan dirinya harus menjadi ayah ketika ia bahkan belum tentu bisa menjamin dirinya bisa makan tiga kali sehari. Bahkan uang kontrakan untuk tempat tinggalnay saat ini kadang ia masih menunggaknya dan menghamburkan sisa uangnya untuk bersenang-senang.

“Ah…sedikit informasi. Ariel adalah teman dari istriku. Aku kebetulan menemukan fotomu dan…yeah, dunia sangat sempit, kan? Karena ternyata Ariel yang selama ini bisa dikatakan…cukup kesulitan dengan kedua anaknya…ah, maksudku anak kalian, telah hamil karenamu, sepupuku.” Jelas Aiden lagi yang membuat Luhan rasanya ingin ditelan bumi.

“Kau harus bertanggung jawab! Pria macam apa yang lepas tanggung jawab terhadap anak-anaknya?!” Jill kembali menyerangnya dengan penuh emosi.

“Kenapa baru sekarang?” Luhan kembali bersuara dengan tatapan kosong, “Kenapa kau membuatku terlihat konyol dan mendatangiku sekarang? A-aku…”

“Maaf…” ucap Ariel pelan. Warna suaranya terlampau tenang dan membuat Luhan merasa marah tanpa sebab.

“Maaf?! Kenapa kau harus minta maaf?! Mereka anak Luhan!”

“Jill tenanglah…” Aiden mengerutkan dahinya ketika Jill terus saja menyerang Luhan dengan kata-katanya, “Ariel bukan memintamu untuk menikahinya, Ariel hanya ingin kau merawat kedua anak kalian. Dia tengah mengikuti audisi teater yang diadakan di Jeju. Hanya 3 bulan. Tidak lama, bukan? Ariel akan pulang seminggu dua kali ke Seoul,” Aiden memberi pengertian. Ia mengerti ini pasti terlalu mendadak dan membuat Luhan shock.

“Jika kau tidak mau, aku akan melaporkanmu pada orang tuamu dan memaksa mereka agar kau mau menikahi Ariel!” Jill kembali bersuara, seolah ia tak ingin ketinggalan untuk membuat Luhan semakin merasa bersalah, “Kau membuat hidupnya rusak! Kau merusak masa depannya! Dan sekarang kau mau lepas tanggung jawab dari anak kalian?!”

“Aku tidak akan memaksamu jika kau tidak mau,” Ariel pun kembali menengahi, “Aku juga punya kenalan di Korea, atau mereka bisa pulang ke New York. Aku hanya memberikanmu kesempatan untuk mengenal kedua anakmu lebih dekat. Karena aku tidak yakin, aoakah aku akan memberikan kesempatan seperti ini lagi atau tidak…”

Dan Luhan merasakan matanya memanas ketika kedua anak itu menatap mata Luhan secara bersamaan –perasaan hangat dan sakit itu menyeruak bersamaan. Kalimat Ariel juga membuat Luhan semakin terenyuh –ini…seperti mimpi buruk.

 

***

 

“Hei…kau baik-baik saja? Kau sudah berada di kamar sejak pulang tadi sore, kau sudah makan?” tanya Kyungsoo yang menyeruak masuk ke kamarnya setelah belasan kali ia mengetuk pintu tanpa balasan dari Luhan.

Luhan tidak masih tidak menyahutinya dan semakin meringkuk di balik selimut tebalnya. Tatapan matanya kosong terarah ke arah jendela yang menampakkan gelapnya malam Seoul –anak-anak itu adalah anaknya. Luhan menertawakan dirinya sendiri. Ia merasa ia akan gila dalam waktu dekat.

“Hei…kau sehat-sehat saja, kan?” Kyungsoo pun mendekat dan menyentuh kening Luhan, khawatir jika Luhan mungkin saja sakit.

“Kyung…”

“Ya? Ada yang kau butuhkan?”

Apa yang akan kau lakukan jika kau tahu ternyata kau telah memiliki anak? Luhan menelan kalimatnya dan mengejek dirinya yang sangat tolol. Ia merasa bodoh, tidak beruntung, dan…entahlah. Ariel memang gadis pertama yang pernah bercinta dengannya –dan teman-temannya yang lain juga memiliki kisah first sex mereka –dan tak satupun dari mereka yang akhirnya memiliki anak seperti yang dialami Luhan. Luhan juga beberapa kali melakukannya dengan kekasihnya, bahkan tanpa pengaman sekalipun, tapi gadis itu tak pernah mengatakan bahwa dirinya hamil….

“Luhan? Kau harus makan…”

“Aku akan makan nanti, keluarlah…” bagaimana aku bisa makan sedangkan aku mulai terbebani dengan berbagai pikiran bahwa aku harus menghidupi dua batita tadi? Luhan mengerang dalam hati.

“Han…”

“Kumohon Kyung….” Kyungsoo pun mendesah panjang dan akhirnya memutuskan keluar dari kamar Luhan sebelum kembali mengingatkan bahwa Luhan harus makan.

Luhan sebenarnya ingin memilih tidak percaya –tapi mata anak lelaki tadi terlalu mirip dengannya untuk menguatkan mental Luhan bahwa ia tak pernah memiliki anak dari Ariel. Yeah…dulu, ketika Luhan bertemu dengan Ariel pertama kali, ia memang memiliki ketertarikan khusus padanya. Tapi ini sudah lewat bertahun-tahun, dan rasanya tak lagi sama….

Apa yang harus ia lakukan?

Luhan pun memejamkan matanya, berusaha meredam segala ketakutan yang menjamah dadanya. Tapi kemudian, Luhan pun akhirnya mengambil ponselnya, membaca nomor Ariel yang didapatnya tadi sore secara berulang kali….

[Ayo bertemu besok di jam yang sama di tempat yang sama. Dan…bawa mereka.]

Luhan masih enggan mengakui anak-anak itu adalah anaknya. Ia bahkan masih merasa bahwa ia adalah anak-anak, ia masih terlalu muda untuk menjadi ayah –dan ia sudah memiliki dua anak? Lucu sekali….

 

***

 

Tanpa Luhan sadari, ia terus menggerakkan jari telunjuknya dengan tidak tenang ke atas permukaan meja di depannya. Ini sudah menit ke lima belas dari jam yang ia janjikan dengan Ariel semalam. Meskipun hanya membalas ‘baiklah’, tapi Luhan terus merasakan dadanya yang berdesur hebat. Ia tiba-tiba saya merasa tidak tenang saat mengingat tatapan mata kedua anak itu terhadapnya.

Luhan kembali melongokkan kepalanya ke arah pintu masuk, takut-takut jika Ariel telah datang namun tidak melihat keberadaannya –heol…ia jadi seperti terlihat menginginkan keberadaan Ariel. Lucu sekali, padahal kemarin sore rasanya ia ingin melabrak gadis itu. Tapi setelah memikirkannya semalaman…yeah, harusnya ia sadar, cinta satu malam jenis apapun sebenarnya bukan hal yang baik untuk dilakukan. Jadilah ia memutuskan untuk mencoba mengenal siapa dua manusia yang telah menerima gen-nya.

“Kau menunggu lama?”

Luhan langsung berdiri sakingterkejutnya dengan kemunculan Ariel yang tiba-tiba –juga satu anak lelaki di gendongan Ariel dan satu anak perempuan yang memegang erat dress yang dikenakan oleh Ariel.

“Ti-tidak, aku juga baru sampai,” Luhan menggaruk tengkuknya salah tingkah, “Du-duduklah…” Luhan menggaruk kepalanya bingung ketika melihat anak perempuan dnegan rambut sepunggung yang mengekor pada Ariel merengek karena mejanya terlalu tinggi, “Pe-pelayan!” Luhan merutuki lidahnya yang bekerja di luar kendalinya. Tapi pelayan yang dipanggilnya terlanjut mendekat, “Bi-bisakah kau ambilkan dua kursi untuk mereka…”

Ariel menautkan alisnya bingung –tapi kemudian ia tersenyum kecil, cukup tertegun dengan perlakuan Luhan yang tidak ia duga. Aleyna –putrinya yang menjadi kakak dari anak kembarnya—memang agak sedikit cerewet dan banyak permintaan, ia sangat sering merengek terhadap sesuatu yang tidak ia sukai, berkebalikan dengan Kevin yang cukup pendiam.

Setelah pelayan itu sampai dengan dua kursi yang Luhan minta, dengan sigap Luhan menggendong Aleyna untuk naik ke atas kursi. Kemudian Luhan mengulurkan tangannya pada Kevin yang masih meringkuk di gendongan Ariel –tapi Kevin justru menyembunyikan wajahnya dan menatap Luhan takut. Ariel cukup tersentuh dengan perlakuan kecil Luhan –atau mungkin ayah dari anak-anaknya. Selama ini Ariel pikir anak-anaknya tidak akan pernah menerima perhatian dari seorang ayah….

Luhan menggigit bibir bawahnya ketika mendapati Kevin yang terkesan menolaknya. Padahal anak lelaki itu jelas memiliki mata yang mirip dengannya, tapi Luhan merasakan kecewa menggigiti perasaannya hanya karena penolakan anak kecil….

“Kevin, don’t you wanna sit here?” kali ini Ariel mencoba membujuk Kevin –tapi anak itu justru semakin memeluknya, “Kevin memang agak pemalu pada orang yang baru ditemuinya. Biar saja dia duduk di pangkuanku,” Ariel pun mencoba memberi pengertian. Ia tidak enak hai melihat raut wajah Luhan langsung berubah karena penolakan kecil dari Kevin.

“A-ah…dia…pemalu,” Luhan pun mengangguk dengan gerakan kikuk, “Kevin…” gumamnya pelan –yang tanpa disadarinya masih bisa didengar oleh Ariel—ia bahkan tak ingat nama dari anak-anak ini.

“Mom…I’m hungry…” dengan bahasa inggris yang amat tidak jelas, Luhan dapat mendengar anak perempuan yang berhasil ia bujuk tadi menggumamkan sesuatu…. Err, ia sekarang justru merasa sedih karena ia tak memahami kalimat yang dilontarkan oleh gadis kecil itu terhadap Ariel.

“Aleyna is hungry?” Ariel pun tersenyum tulus pada gadis kecil itu, kemudian ia beralih bertanya pada Kevin di pangkuannya, “And Kevin, are you hungry too?” tanyanya dengan nada keibuan.

Anak perempuan itu –ah, Aleyna…dia lapar. Luhan baru memahami apa yang dikatakannya karena Ariel mengulang kalimatnya. Apakah mereka selalu menggunakan bahasa inggris seperti ini? Luhan sekarang merasa kesal karena ia mendapat C untuk mata kuliah bahasa inggris yang sempat ia ambil.

“Apa kau ingin memesan sesuatu untuk mereka? Biar aku pesankan…”

“Tidak perlu, biar aku…”

“Biar aku saja,” sela Luhan cepat, kemudian ia beralih menatap Aleyna dan hendak membuka mulutnya –namun mendadak ia blank. Ia ingin menanyakan apa yang ingin dimakan Aleyna, tapi Luhan tidak tahu cara untuk merangkai kalimat bahasa inggrisnya….

“Mereka mengerti bahasa Korea,” kata Ariel tiba-tiba, “Kami tinggal di rumah Aiden dan…”

“Jadi kau bisa bahasa korea? Mereka juga?” Luhan mendengus kesal –pantas saja kemarin Ariel terlihat tenang sekali bahkan ketika Jill memukul dan meneriakinya, ternyata gadis ini memahami apa yang Jill katakan. Dan anak-anak ini….

“Burger…” Aleyna menunjuk papan menu, “Aleyna want burger…”

“Kevin too!”

Luhan terkejut ketika Kevin berteriak dan membulatkan matanya ke arah Aleyna, seperti menantang saudara kembarnya yang…entahlah, Luhan tak yakin. Tapi Kevin begitu berapi-api ketika menatap Aleyna.

“Ok…” Luhan mendengus pelan ketika mendapati mulutnya mencoba bahasa yang tak begitu ia sukai itu, “So…I will order the burger for Aleyna and Kevin…” Luhan mendelik tajam ketika Ariel terkikik pelan. Tapi belum sempat mengatakan apapun, akhirnya Ariel menutup mulutnya dan meredakan tawanya.

Heol…mulai saat ini Luhan akan belajar bahasa inggris dari Kris.

 

***

 

Dua puluh menit berlalu, meja yang ditempati Luhan benar-benar bising akan suara Aleyna dan Kevin yang sangat ribut ketika memakan makanan mereka. Sedangkan Ariel justru sibuk membersihkan wajah kedua anak-anak itu yang amat sangat belepotan.

“Mereka bisa makan sendiri?” Luhan tidak bermaksud menyuarakan kekagumannya ketika melihat bagaimana kedua anak itu –Aleyna dan Kevin—menggerakkan tangan mereka dengan lancar untuk memasukkan makanan yangada di hadapan mereka ke dalam mulut. Tapi Ariel terlanjur mendengarnya.

“Mereka memang sudah harus dilatih untuk makan sendiri…” sahut Ariel tanpa menatap Luhan.

Luhan pun mengangguk pelan. Ia pun menyesap ice Americano-nya tanpa mengalihkan perhatiannya dari kedua anak itu. Yeah…sampai sekarang ia belum berani menyebut mereka dengan sebutan ‘anakku’ apalagi ‘anak kami’ untuk menunjukkan bahwa…Ariel dan Luhan lah orang tua mereka.

“Gege…you are handsome…” kata Aleyna dengan senyumnya yang paling lebar ke arah Luhan. Dan detik berikutnya Luhan merasa terenyuh…. Ia ayah kandung mereka, kan? Dan putri kandungnya memanggilnya dengan sebutan…gege?

Ariel yang mendengar itu langsung tertawa. Luhan tidak merasa Ariel menertawakan kelucuan Aleyna, ia justru mendengar tawa penuh luka –terutama ketika tanpa sengaja Luhan mendapati air mata Ariel menetes dari salah satu kelopak matanya.

“Kau tahu…aku bahkan tak pernah membayangkan putriku akan memanggil ayahnya sendiri…meskipun dengan panggilan…gege?” Ariel kembali tertawa hambar dan mengusap kepala Aleyna, “Aiden memaksa Aleyna dan Kevin untuk memanggilnya gege karena Kevin akan mengikuti Aleyna memanggilnya Oppa jika menggunakan bahasa korea, jadilah Aiden memintaku untuk mengajari mereka memanggilnya Gege.”

Luhan ingin mengatakan sesuatu –entah apa. Ia ingin memberikan tanggapan karena…yeah, putrinya memang baru saja memanggilnya. Ia memang sempat menolak dan sangat merasa sangat keberatan untuk menerima fakta bahwa ia adalah seorang ayah. Tapi mendengar anaknya sendiri memanggilnya ‘gege’, justru malah membuat perasaannya terluka.

“And you are so…beautiful?” dengan ragu Luhan menyentuh kepala Aleyna dan mengusapnya pelan. Dan Luhan merasakan bunga bermekaran dalam dadanya ketika Aleyna membalasnya dengan sebuah senyuman yang amat lebar.

“Gege, touch my head too!” pekik Kevin sambil menarik tangan Luhan dari kepala Aleyna. Luhan tersenyum geli melihat tingkah Kevin, kemudian ia pun mengusap kepala Kevin. Dan ia bisa merasakan sebuah kehangatan menjalar di dadanya ketika menyentuh kedua anak itu.

“Aku akan menjaga mereka selama kau berada di Korea,”

Ariel mengangkat kepalanya dan menatap Luhan terkejut, “Y-ya?”

Luhan pun menarik sudut bibirnya, “Yeah…aku masih terkejut dengan keadaan ini. Tiba-tiba saja kau datang dan berkata bahwa mereka adalah anakku…aku bahkan tak bisa berhenti memikirkannya sejak kemarin,” ia pun memberanikan diri untuk menatap mata Ariel, “Aku…ingin mengenal kedua anak ini…” Luhan menarik napas panjang sebelum menghembuskannya dengan keras, “Anak-anak…ku.”

“Terima kasih telah menerima mereka…”

Dan terimakasih karena telah menjaga mereka dengan baik –Luhan menelan ucapannya dan hanya menatap Aleyna dan Kevin bergantian.

 

=t o – b e – c on t i n u e d=

20170111 PM 1029

Iklan

9 thoughts on “(don’t) Call Me Daddy ! [part-1]

  1. Heoll..Daebak authornim👍,, pasti luhan appa gyowo bgt ngurusin si kembar ughhh dah g sabar part 2 nya.. hwaiting thor aku bakal nunggu part 2 nya..
    Pasti luhan kerepotan ngurusin mereka 😂 sumpah ceritanya unyu …
    Pengen jadi Ariel *ibu anak 2 luhan* luhan appa semangat..
    #luhan jadi hot Dady
    #papa muda
    🙌👍👏

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s