[Author Tetap] Fantasy (one shoot)

Cast: Kim Kai, Han Joona (OC)

Genre: Fantasy, Romance

Rate: PG-14

Disc: Ini ff milik saya. No copas dan plagiat. Jangan jadi silent readers yaa, like dan comment :))

.

.

.

Joona pov*

Aku sudah mengenal Kai sejak lama. Kami saling mengenal satu sama lain dengan baik sejak kecil. Jika kalian sering membaca drama dan cerita seperti teman masa kecil yang saling menyukai saat telah dewasa maka itulah kisahku saat ini.

Aku adalah Han Joona dan aku sangat menyukai bahkan mencintai Kai lebih dari apapun. Sekarang aku akan menyatakan cintaku padanya. Aku akan memberitau perasaanku padanya..

“Kai!” Teriakku lalu tersenyum dan menghampiri Kai sambil memberikan sebuket bunga.

“A-aku.. sebenarnya.. aku menyukaimu.. ba-bagaimana? Apa kau menyukaiku?” Ujarku menahan malu dan rasa takut bahwa ia menolakku.

Kai tersenyum lalu mengelus puncak kepalaku dan mencium keningku. Sejak saat itu aku dan dirinya menjadi pasangan..

***

#date

Hari itu cuaca sangat cerah, aku memutuskan untuk pergi berkencan bersama Kai. Kami akan pergi ke taman untuk membaca buku di bawah pohon. Aku dan Kai sangat suka membaca buku komik, kami selalu membaca bersama dibawah pohon rindang.

“Apa kau sudah membawa bukunya?” Tanyaku seraya melihat ke sekeliling dan tidak menemukan apapun.

“Dimana komiknya?”

Kai tak kunjung menjawab sehingga membuatku sedih dan berfikir ia tidak membawanya. Wajahku mulai cemberut seraya menunduk. Kai tersenyum lalu mengeluarkan sebuah buku dari belakangnya.

“Ini, sudah jangan cemberut!” Aku memukul Kai kecil lalu tersenyum mengambil buku tersebut.

Kami menggelar tempat piknik kami dibawah pohon lalu tidur seraya memakan buah yang telah kusiapkan. Kai tidur disebelahku lalu sesekali kami tertawa membaca buku komik yang lucu itu.

Mataku melihat orang-orang berlalu lalang dengan tatapan takut dan sesekali menatap bersimpati. Aku tidak tau kenapa mereka memberi tatapan itu namun aku tak perduli. Aku senang bersama Kai..

Kami menghabiskan buku komik tersebut lalu merenggangkan badan. Kai menatap sepeda yang di sewakan.

“Ayo kita naik sepeda itu!” Ajak Kai yang kuangguki dengan senyuman.

“Aku ingin menyewa sepeda couple ini!” Aku menunjuk sebuah sepeda dengan 2 kursi dan kayuhan. (Seperti sepeda double) gatau namanya* wkwkw

Mata paman yang menyewakan sepeda itu sama seperti tatapan orang-orang yang berlalu lalang tadi.

“Apa kau benar-benar ingin menyewa sepeda ini?” Tanya paman itu dengan hati-hati. Aku mengangguk dan tersenyum lalu membayar uang sewa tersebut.

“Ayo Kai.” Aku tersenyum lalu mengayuh sepeda itu dengan cepat. Angin menerpa wajahku dan Kai. Kami tersenyum dengan hangat dan sorot mata kami memberika sebuah kasih sayang satu sama lain.

Waktu semakin larut. Pukul 6 sore dan aku memutuskan untuk makan malam bersama Kai di sebuah restoran terkenal dekat rumahku.

Kami berjalan dari taman ke sana karena jarak yang dekat. Sesekali kami berbincang dan tertawa. Aku bahkan menggandeng tangannya sepanjang jalan. Jika saja aku tau ini akan terjadi, kuharap ini semua berlangsung dari dulu.

Tak butuh waktu lama bagi kami untuk sampai di restoran tersebut. Aku membeli Jajjangmyeon dan Kai membeli Naengmyeon. Pelayan itu menatapku lalu memberi tatapan tak yakin tapi tetap mencatat pesanan itu.

“Aku sangat senang untuk hari ini!” Kai tersenyum lalu membalas, “Aku juga.”

Kai berdiri sejenak membuatku bingung. “Aku mau ke kamar mandi.” Aku mengerti lalu tersenyum.

Pesanan telah datang tapi Kai tak kunjung kembali. Hingga aku menghabiskan makananku, Kai masih belum kembali. 1 setengah jam aku menunggu dan akhirnya Kai datang. Ia menarikku ke kasir dan membayar pesanan itu. Kai menarikku keluar lalu meminta maaf.

“Maaf, aku sedang tidak enak badan. Ayo kita pulang, aku akan mengantarmu.” Aku menghela nafas lalu mengangguk pasrah dan kamipun berjalan pulang.

***

#date2

Hari ini aku akan pergi bersama Kai ke pameran terbuka untuk lukisan pemandangan. Aku sangat menyukai lukisan seperti itu dan Kai sangat tau bahwa ini adalah yang kubutuhkan sekarang.

“Eomma, Appa! Aku mau pergi ke pameran dengan Kai!” Teriakku seraya memakai sepatu ketsku.

“Apa? Dengan Kai?” Tanya Eomma lalu menghampiriku.

“Apa kau tidak apa-apa?” Tanyanya khawatir yang kugeleng lalu kubalas senyuman.

“Aku baik-baik saja. Aku harus pergi, Kai menungguku.” Ujarku lalu berlari keluar rumah dengan senang. Kai berdiri di depan pintu lalu tersenyum padaku.

“Kau cantik hari ini. Ayo.”

“Tunggu!” Aku menengok ke belakang menatap ibuku yang berlari dan menyuruh supir untuk mengantarku. “Tuan Jung akan mengantarmu. Berhati-hatilah.” Aku yang baru akan protes menjadi tidak tega saat melihat wajah khawatir ibuku.

“Eoh, aku akan berhati-hati.” Aku tersenyum lalu masuk ke dalam mobil dan pergi menuju pameran.

Kai menatapku lalu mengelus manja puncak kepalaku. Kami bercanda ria dan tertawa kecil hingga sampai di pameran. Aku sangat menyukai sebuah lukisan abstrak dan membeli sebuah lukisan abstrak yang indah.

Tak terasa waktu berjalan cepat selama berada di pameran. Kami terlalu sibuk bercanda dan mengomentari 1 lukisan dan lukisan lainnya. Kami sangat menikmati waktu bersama ini hingga jam menunjukan pukul 5 sore.

“Aku akan makan malam di rumah hari ini.” Ujarku seraya memperlihatkan pesan dari eomma yang menyuruhku pulang.

“Baiklah. Ayo kita pulang.” Aku tersenyum dan mengangguk.

Hari ini sangat melelahkan hingga aku tertidur di mobil dan bangun saat Tuan Jung membangunkanku.

“Nona, kita sudah sampai.” Bisikan itu membangunkanku dan menatap ke sekeliling. “Dimana Kai?” Tanyaku mencari keberadaan Kai yang hilang.

Tuan Jung seakan ragu tak menjawab, “Nyonya Han menunggumu di dalam.” Tuan Jung mengabaikan pertanyaanku namun aku hanya tersenyum lalu keluar dari mobil dan berjalan menemui ibuku.

“Sayang! Kau sudah pulang? Bagaimana, apa kau baik-baik saja?” Tanya ibuku membuatku heran. Aku mengangguk dan tersenyum kepadanya. “Ada apa?”

“Aku ingin kau menceritakan segala hal yang terjadi kepada Miu.” Aku tidak mengerti, maksudku, kenapa?

“Memangnya kenapa?”

“Tidak apa, kau akan tau setelah sadar.” Jawab ibuku lalu pergi tanpa mendengar penolakan.

Setelah hari itu, eomma dan appa melarangku pergi keluar. Mungkin sesekali aku pergi tapi itu sangat jarang. aku juga selalu menceritakan kisahku pada Miu. Miu pendengar yang baik walaupun dia memberiku obat untuk kuminum secara teratur. Aku tidak tau mengapa tapi sejak aku meminum obat itu, kepalaku terasa sakit sesekali.

Sudah 1 bulan aku berhubungan dengan Kai dan akhir-akhir ini dirinya berubah. Aku dan dia lebih jarang bertemu. Kami sering menelpon dan chat namun itu seakan Kai semakin lama semakin menjauh.

“Sayang, apa kau sudah minum obatnya?” Ibuku masuk dan memberikan Jus Jambu kepadaku. Aku tersenyum lalu mengangguk.

“Eomma, sebenarnya itu obat apa? Kepalaku sakit karena obat itu.” Ibuku hanya tersenyum kecil dan mengelus rambutku. “Ini demi kesehatanmu, sayang.” Aku mendengus mendengarnya.

“Kau mengatakan itu terus! Aku sehat eomma, aku sehat!” Aku merebakan tubuhku lalu menutup wajahku dengan selimut.

“Istirahatlah.” Pintu kamarku tertutup menandakan ibuku telah pergi. Aku mengambil ponselku lalu menelpon Kai.

“Halo”

“Kai!”

“Ah, Joona ah. Ada apa?”

“Ayo kita bertemu, aku ingin mrlihatmu.” Kai tidak menjawab namun helaan nafas terdengar dari ujung sana.

“Kau tau kita tidak bisa bertemu. Aku akan kembali 3 bulan lagi setelah semuanya beres.” Entahlah, setiap aku menelpon untuk mengajak bertemu, ia selalu seperti orang yang sedang pergi jauh. Apa Kai sudah tidak menyukaiku?

“Aku harus pergi sekarang.” Kai menutup teleponnya sepihak.

Hubungan kami semakin lama semakin merenggang. Aku menceritakan smuanya kepada Miu dan Miu hanya tersenyum kecil dan berkata “Kau akan sembuh, sebentar lagi kau tidak perlu minum obat itu terus. Berjuanglah!”

***

Aku sama sekali tidak mengerti saat itu. Aku tidak mengerti kenapa Kai tidak pernah menghubungiku dan selalu menghindariku. Aku tidak tau penyakitku dan aku tidak tau kenapa aku harus menceritakan segalanya pada Miu. Tapi sekarang aku tau..

***

Author pov*

*hari kepergian*

“Joona-ah!, dimana kau? Aku akan segera berangkat.”

“Baiklah! Aku sudah sampai, aku bisa melihatmu.” Joona mematikan ponselnya.

“Disini!” Kai tersenyum melihat Joona.

Kai akan pergi ke luar negri selama beberapa bulan dan Joona sangat sedih karena hal ini. Sebenarnya, Joona akan menyatakan perasaannya hari ini tapi tadi pagi adalah pagi yang menghebohkan. Kai menelponnya dan mengatakan bahwa ia akan pergi keluar negri. Sungguh, Joona menyiapkan mental untuk hari ini namun segalanya hancur..

Joona benar-benar terpukul. Bagaimana bisa Kai mengatakan bahwa ia akan pergi tepat di hari keberangkatannya? Kapan Kai akan kembali? Bagaimana jika Kai tidak menerimanya nanti? Bagaimana jika Kai pulang dengan perempuan cantik dari sana? Banyak hal buruk terbentang di kepala Joona.

“Hei, kau tidak mau mengatakan apapun?” Tanya Kai membuat Joona tersadar lalu memaksakan senyum.

“Aku.. aku..” ada jeda sedikit sebelum Joona menghela nafas panjang lalu menatap Kai.

“Selamat tinggal.. kau harus pulang dengan cepat!” Joona tersenyum lalu menunduk menahan air mata.

Kai mengangguk dan tersenyum lalu mencium keningnya.
***

#date

Cuaca cerah membuat Joona memutuskan untuk pergi ke taman dimana ia sering bersama Kai. Ia sangat merindukan Kai.. ia ingin melihat Kai. Lalu tiba-tiba saja dalam bayangannya ia melihat Kai.

Joona merasa ia menghabiskan waktu bersama Kai walaupun ia seorang diri. Beberapa orang menatapnya takut dan sedih bahkan bersimpati dan mengira dirinya gila. Joona terlihat sangat menyedihkan..

Bahkan saat di tempat sewa sepeda, Joona mengendarai sepeda sendirian, tertawa dan berbicara sendiri layaknya orang gila.

“Aku ingin menyewa sepeda couple ini!” Joona menatap kesamping lalu tersenyum seakan ia tersenyum kepada seseorang.

“Kau yakin ingin menyewa sepeda ini?” Tanya paman pemilik sepeda merasa takut dan bingung namun Joona hanya mengangguk dan tersenyum, memberikannya uang lalu menaiki sepeda.

“Ayo Kai.”

Paman itu menggaruk tenggukuknya dan menatap kepergian Joona dengan bingung dan sedih. Seakan ia mengasihani Joona yang seakan gila.

Bahkan Saat di restoranpun ia berbicara sendiri hingga pelayan kebingungan. Makanan yang ia pesan untuk Kai tidak termakan dan ia yang membayar itu semua sendiri. Kai tidak pernah makan bersamanya ataupun pergi ke toilet. Itu hanya halusinasi yang ia ciptakan. Hanya sebuah delusi.

***

#date2

Hari itupun Joona berencana pergi ke sebuah pameran. Hari itu juga, orang tuanya tau bahwa Joona mengalami Delusion, keadaan dimana seseorang berhalusinasi atas sesuatu. Jika saja mereka terlambat mengetahui keadaan Joona, mungkin Joona akan semakin masuk kedalam delusi yang ia buat.

“Hallo.”

Annyeonghaseo nyonya Han.” Sapa Miu di telepon.

“Ehmm, Miu-ah, bisakah kau membantuku?”

“Ada apa?”

“Ini tentang Joona. Kurasa dia sakit.. dia bilang akan pergi dengan Kai..”

“Bukankah Kai sedang diluar negri?”

“Itu benar..” Miu merasa cemas lalu memastikan jadwalnya.

“Aku akan kesana besok.” Nyonya Han tersenyum dan berterimakasih lalu menutup teleponnya.

Keesokan harinya nyonya Han memlerlihatkan keadaan Joona yang seakan berbicara sendiri dengan menyebut nama Kai. Joona juga mulai bercerita tentang Kai kemarin dan apa yang akan ia lakukan besok-besok dan keesokan harinya bersama Kai. Dari situ Miu memberikan kesimpulan tentang Delusi Joona.

Maka dari itu mereka menghalangi semua aktifitas antara Joona dan ‘Kai’ khayalannya. Mereka juga membiarkan Miu memberinya obat. Miu adalah psikiater dan salah satu teman Joona. Keadaan Joonapun membaik seiring ceritanya akan Kai berkurang dan menjadi hubungan buruk. Itu berarti Joona akan sembuh.

“Kau akan sembuh, sebentar lagi kau tidak perlu minum obat itu terus. Berjuanglah!”

***

“Aku sudah beberapa hari ini tidak bertemu Kai, apa dia tidak menyukaiku lagi? Aku ingin menemuinya.” Miu menatap miris temannya itu lalu mencoba tersenyum.

“Bagaimana jika kau menelponnya?” Miu memberikan ponsel Joona yang tersambung kepada Kai. Mungkin jika Joona berbicara dengan Kai, ia akan semakin membaik. Fikir Miu.

Joona berbicara dengan Kai dan wajahnya berubah. Joona menatap Miu dengan wajah panik dan kaget. Kenangan yang ia lewati dengan ‘Kai’ khayalannya muncul di fikirannya dengan sudut pandang berbeda. Semua berputar di kepalanya lalu semua gelap bagi Joona.

***

Pagi itu Joona terbangun dengan wajah masih terlihat pucat. Joona merasa ia mengerti dengan kegilaannya namun dirinya tak bisa menerima semuanya dengan mudah. Ia masih butuh waktu untuk menenangkan diri.

Hari demi hari Joona lewati tanpa ‘Kai’ khayalannya. Semakin lama ia bisa menerima kenyataan dan ia sadar akan segala halusinasi yang ia buat. Ia merasa bodoh dan gila. Ia sangat ingin bertemu Kai dan itu tidak berubah bahkan setelah ia mulai sembuh. Sesekali ia merasa Kai berada di sisinya dan itu membuatnya merasa dirinya masih sakit. Memang penyakit seperti itu butuh waktu dalam penyembuhan dan dalam penerimaan keadaan secara mental.

3 tahun kemudian.

joona duduk dibawah pohon tempat ia menghabiskan waktu bersama Kai. Kali ini dirinya ditemani oleh Miu. Miu takut halusinasi Joona terpancing di tempat ini, maka dari itu ia memutuskan untuk ikut bersama Joona.

Langkah demi langkah mulai mendekati mereka ber2. Miu yang melihat sebuah kejutan membuat senyum manis di wajahnya. Kai mengambil sebuah bunga rumput lalu mengitari sisi punggung Joona agar dapat bersembunyi di balik pohon.

Miu yang melihatnya hanya menahan tawa dan berusaha agar Joona tidak melihat Kai.

“Hei.”

Joona menatap kosong Kai yang berdiri dengan sebuah bunga di tangannya. Kai menatapnya dengan berharap Joona akan mengatakan sesuatu tapi Joona hanya terdiam dan menatap kosong dirinya.

“Apa yang kau lakukan? Tidakkah kau merindukanku? Padahal beberapa waktu lalu kau menelponku dan memintaku segera pulang.” Joona masih diam tak bergeming.

“Miu ah, sepertinya aku benar-benar gila. Aku berhalusinasi lagi..”

Tawa Miu meledak saat mendengar perkataan polos Joona. Miu menyuruh Kai duduk lalu mencubit pipi Kai hingga Kai meringis.

“Aishh! Apa yang kau lakukan?!” Tanya Kai seraya mengelus pipinya.

Joona masih terdiam namun tak lama kemudian sebuah air mata lolos membasahi pipinya. Joona menatap Kai tak percaya lalu memeluk Kai erat.

“Kenapa kau harus pergi pada hari itu?!” Teriak Joona lalu memukul dada Kai.

“Kau sangat jahat!” Joona menangis dalam pelukan Kai. Ia mengingat semua yang ia jalani setelah Kai meninggalkannya.

“Jangan pernah meninggalkanku seperti itu… jangan..”

Kai yang kebingungan hanya melihat Miu yang memberi kode untuk membiarkan Joona yang menangis.

Hari itu Joona dan Kai menghabiskan waktu bersama. Miu juga sudah menjelaskan keadaan Joona hingga Kai merasa bersalah sekaligus sedih.

Maka itu ia putuskan.

Few days later

“Joona ah, aku tau kau menyukaiku. Sekarang aku tak butuh jawabmu. Aku tau kau menyukaiku tapi kau tidak tau perasaanku padamu. Aku mencintaimu Joona ah.. sekarang bukan khayalan. Aku disini, bersamamu dan mencintaimu.”

Joona tersenyum seraya bibir mereka bersatu.

“Aku rela gila untukmu. Kim Kai..”

.

.

.

End~

Maaf ya ini absurd bangett wkwk. Aku tau ini absurd tapi like dan comment ya! 🙂

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s