Nigthmare [Part XVI] #Hurt

Poster by : Alkindi (https://dirtykindi.wordpress.com/)

EXO’s Sehun & OC’s Mikyung

Angs | Sad | Life | Mature | Psychology (little) | Romance | Married Life

[Rated Can Change Anytime!]

Disclaimer! The original results my imagination. NOT FOR PLAGIARISM OR COPY PASTE!!!

  “Jelas kau kesakitan Oh Sehun. Apa kau sama sekali tidak mau menjalani operasi? Ini semua demi Shin Mikyung. Jangan egois disaat-saat seperti ini. Mikyung juga butuh dirimu, Sehun-ah. Itupun jika kau selamat dari penyakitmu.”
 

©2016.billhun94


Sehun menatap nanar gundukan tanah di hadapannya, sementara kedua tangannya saling bertaut memanjatkan do’a yang terbaik untuk sang ibu.

Kehidupan manusia tidaklah abadi. Semua umat manusia pasti akan kembali pada sang pencipta. Manusia sering lupa pada ajal yang akan menjemput mereka yang bisa datang setiap saat karena terlalu menikmati kejamnya dunia. Ketamakan manusia adalah alasannya.

Sehun menjungkitkan bibirnya, ia meletakkan sebuket bunga lily kesukaan ibunya di atas gundukan tanah tadi. Memori tentang sang ibu tidak akan pernah hilang walau sekejab saja dari hidupnya. Jika diberi kesempatan satu kali lagi, Sehun ingin sekali mengucapkan kata “Aku mencintaimu” pada ibunya. Namun, semuanya sudah terlambat. Kenyataan pahit yang harus diterima Oh Sehun.

Bertempat di Incheon, tubuh Jun Jihyo dimakamkan. Setelah melakukan perjalan panjang menuju Korea, Sehun dan Mikyung memutuskan untuk mengunjungi makam Jihyo.

Mikyung hanya dapat memperhatikan Sehun yang sedang menguak kenangan bersama ibunya. Ia tidak beranjak sedikitpun dari tempat karena takut menganggu Sehun. Kakinya mulai pegal sebab terlalu lama menunggu, tapi ia akan tetap menunggu sampai Sehun selesai.

“Maaf membuatmu menunggu,” ujar Sehun begitu ia menyadari Mikyung, karena terlalu larut dengan kesedihannya.

Mikyung tersenyum, “Tidak masalah,” lalu ia maju satu langkah mendekati makam sang mertua.

Bungkukkan badan Mikyung berikan sebagai rasa hormat, setelahnya ia memberi salam. Tidak banyak kata yang dapat Mikyung berikan, ia hanya mengungkapkan apa yang ia ingin ungkapkan. Dan juga membagi kisah hidupnya saat bersama Sehun.

“Sehun sangat baik padaku, dia juga telah menjagaku. Dia tampan, banyak wanita yang menyukainya. Aku sering kesal karena itu. Namun kini aku jadi tahu kenapa Sehun bisa sangat setampan sekarang. Pasti itu karena Eommonie yang cantik,” seloroh Mikyung bersemangat.

Sehun yang mendengar perkataan Mikyung hanya dapat mendengus geli.

“Aku janji, aku akan menjaga putra Anda dengan baik. Aku tidak akan pernah membiarkannya kesakitan sedikitpun.”

-oOo-

Keadaannya sungguh sangat diluar kendali saat ini. Suasana ramai juga tidak bisa lagi dienyahkan. Para wartawan memenuhi area sekeliling rumah besar itu sambil menunggu sang empunya tiba.

Sebuah mobil sedan berwarna hitam berhenti tepat di pintu masuk, menunggu gerbang besar itu terbuka. Dan saat itulah, para wartawan menyerbu mobil sedan tersebut tanpa bisa dikendalikan lagi. Sayangnya, sebelum para wartawan menerima apa yang mereka inginkan, sekumpulan pria berjas hitam menghadang cepat.

Penghuni mobil sedan tadi keluar dengan banyak sekali pertanyaan di benaknya. Oh Sehun—dengan cepat menghubungi sang sekertaris untuk mengetahui apa yang sebenarnya terjadi sembari masuk ke dalam rumah.

Mikyung yang juga berada dalam mobil yang sama dengan Sehun mengikuti pria itu masuk ke dalam rumah. Tidak jauh berbeda, ia juga bingung dengan apa yang sebenarnya terjadi.

DAMN!!!

Teriakan dari dalam ruang tengah menarik perhatian Mikyung. Ia menemukan Sehun sedang memijat pelipisnya seraya memejamkan matanya. Mikyung tahu bila Sehun sedang dalam keadaan yang tidak baik, oleh karena itu ia menghampiri Sehun.

Tanpa suara, Mikyung menyentuh lengan kekar Sehun. Namun, Sehun langsung mencekal tangan wanita itu. Membuat Mikyung terkejut sambil menatap Sehun heran.

“Apa kau baik-baik saja?” Tanya Mikyung khawatir.

Sehun dengan kasar menarik tangan Mikyung menuju lantai dua, emosi kini menyergap dirinya.

“Lepaskan tanganku! Ini sakit Oh Sehun!”

BRAK

Suara pintu kamar terdengar nyaring begitu Sehun menutupnya kasar. Ia juga melepas genggaman tangannya pada Mikyung dengan kasar sampai membuat wanita itu terlempar ke ranjang.

Mikyung mengaduh kesakitan sembari mengelus pergelangan tangannya yang memerah. Kepalanya terus menunduk karena tidak sanggup meladeni tatapan tajam dari Sehun.

Sehun berkacak pinggang di hadapan Mikyung yang kini sedang terduduk di sisi ranjang. Dengusan kasar terdengar, dan helaan napas berat ia keluarkan. Sehun sedang berada di puncak emosinya sekarang, dan ia mencoba untuk mengendalikannya. Ia juga tidak ingin menyakiti Mikyung sedikitpun.

“Jelaskan padaku sekarang!” Tuntut Sehun geram.

Mikyung memberanikan diri untuk menatap Sehun yang seakan-akan dengan tatapan pria itu saja sudah mampu membunuhnya. Awalnya, Mikyung memang tidak menyadari apa yang sebenarnya menjadi masalah sampai Sehun berbuat kasar seperti ini padanya, namun kini ia sudah tahu.

“Maaf….” kata Mikyung lirih.

Sehun membuang muka, “Kenapa kau melakukannya?! Kau tahu ‘kan jika Lee Seunghyun sangat licik?!” Ia butuh penjelasan, bukan permintaan maaf.

“Aku hanya berusaha untuk melindungimu dari dia. Dan aku tidak menyang—”

Perkataan Mikyung terpotong oleh Sehun.

“Sekarang kau sudah tahu seberapa busuknya mereka, bukan? Kau sangat bodoh Shin Mikyung!”

Dengan langkah lebar, Sehun keluar dari kamar dan menutup pintu dengan cara dibanting.

Mikyung tidak bisa menutupi kesedihannya, ia belum pernah melihat Sehun semarah ini sebelumnya dan ditambah lagi kini ia dilanda rasa panik. Sehun memang benar, ia bodoh. Melakukan tindakan besar seenak dengkulnya saja tanpa tahu sebab yang akan terjadi kemudian.

Air mata Mikyung mengalir di kedua pipinya, ia terisak menyesali semua perbuatan gegabahnya.

Bila Mikyung meminta izin lebih dulu pada Sehun untuk menyerahkan seluruh aset tetap milik ayahnya kepada Lee Seunghyun, pasti semua ini tidak akan terjadi. Dan, seharusnya ia tahu jika pria tua bangka itu sangat licik.

Sekarang, Mikyung harus terlibat dalam permainannya lagi. Seunghyun membuat sebuah tuduhan atas penggelapan dana pajak pada Mikyung yang sejatinya tidak tahu apa-apa tentang hal tersebut.

Semua aset tetap berupa rumah sakit, bangunan di beberapa kota besar, dan tanah; Mikyung tidak mengetahui apapun mengenainya karena ia tidak pernah terlibat secara langsung. Masalah pajak, ia tidak memikirkan hal itu sebelumnya. Dan, setahu Mikyung pajak dari semua aset tetap tersebut sudah dibayarkan oleh bawahan ayahnya yang masih setiap mengabdi walaupun beliau sudah tiada.

Mikyung sama sekali tidak menyangka ini semua terjadi padanya dan juga kemarahan Sehun.

-oOo-

“Dia sudah mengakuinya?”

Sehun tidak menjawab pertanyaan dari seorang pria di sampingnya, ia sedang sibuk dengan vodka yang berada di genggaman tangannya.

“Jika sudah, bukankah kau harus mencari tahu kebenaran dari semuanya, dan mendengar penjelasan lebih rinci dari Mikyung?”

Lagi-lagi Sehun mengabaikan perkataan sang sahabat—Park Chanyeol. Ia tidak bisa berpikir terlalu banyak ketika sedang emosi. Bayang-bayang apa yang akan terjadi dengan Mikyung saja sudah membuatnya ketakutan.

“Sehun-ah, kau tidak bisa membiarkan ini semua terjadi,” lanjut Chanyeol frustasi.

“Aku tahu,” Sehun akhirnya membuka suara. “Bisakah kau membantuku kali ini?” Pintanya.

Chanyeol terperangah, ia tidak menyangka jika Sehun akan meminta bantuannya kali ini. Bahkan ini bisa dibilang jika Sehun pertama kalinya meminta bantuan padanya setelah mereka telah lama saling mengenal.

“Apa aku tidak salah dengar?” Chanyeol mencoba memastikan.

“Kalau kau tidak mau juga tidak apa-apa,” ujar Sehun.

Chanyeol menggeleng cepat, “Tentu saja aku mau. Kau tahu siapa aku ‘kan? Jaksa paling tampan di negara ini,” cengiran khasnya ia berikan di akhir kalimat.

Sehun memutar bola matanya, jengah. Chanyeol memang memiliki tingkat kenarsisan yang sangat tinggi.

“Tolong selidiki data-data pribadi dan koneksi Lee Seunghyun serta bawahannya secepat yang kau bisa, sebelum kepolisian bertindak.”

-oOo-

Sampai malam datang, Mikyung tetap mengutuk kebodohannya. Hukum sudah menanti di depan mata. Ketika itulah ia tidak bisa berkutik.

Di dalam keadaan kamar yang gelap, Mikyung meringkuk di pinggir kasur dengan lututnya yang ia tekuk. Walaupun dingin tanpa penghangat ruangan, Mikyung tidak merasakan dingin itu mengalir memenuhi suhu tubuhnya. Karena apa? Ia lebih merasa hatinya yang dingin saat ini.

Mungkin Sehun tidak pernah curiga kenapa ia selalu meminjam ponsel pria itu guna mengirim sertifikat seluruh aset tetap pemberian ayahnya melalui e-mail kepada sahabat lama sang ayah, yang sayangnya terlalu keji. Ada satu syarat yang Mikyung berikan pada Lee Seunghyun, yaitu ‘jangan menggangu Sehun lagi’. Ya, hanya demi pria itu Mikyung rela melepaskan semuanya.

Tangisan wanita Shin itu tidak berhenti sampai disitu saja. Mikyung terus menangis sampai air matanya habis ketika pukul menunjukkan jam 9 malam. Ketukan pintu dari para pelayan, Mikyung abaikan dari tadi sore. Ia terlalu sibuk menyesali perbuatannya.

Pintu kamar terbuka, lampu juga menyala. Namun, Mikyung tetap tidak terganggu. Ia setia pada posisinya.

Suara derap langkah terdengar mendekat. Samar-samar Mikyung dapat mendengar suara decakan dan bau alkohol yang begitu menyengat.

Tangan kekar itu mengangkat dagu Mikyung untuk menatap sang empunya.

Oh Sehun—memperhatikan setiap jengkal wajah sang istri dengan seksama. Terdapat raut lelah dan putus asa. Matanya yang lembab karena menangis, bibirnya yang bergetar, pipi yang basah akibat air mata, dan hidung yang yang memerah. Itu semua membuat Sehun perih melihatnya.

“Bodoh,” gumam Sehun pelan, lalu melepas tangannya dari dagu Mikyung.

Dengan gerakan lembut, Sehun menarik tangan Mikyung untuk berdiri. Mikyung tidak menolak, ia menuruti kemauan Sehun. Pria itu membawanya ke dapur, lalu mendudukkannya di salah satu kursi meja makan.

Sehun meninggalkan Mikyung untuk berkutat dengan dapur. Ia mengeluarkan bahan-bahan dari lemari penyimpanan, yaitu : pasta, krim, tomat, daun presley, serta bumbu dapur lainnya.

Mikyung hanya dapat memperhatikan Sehun dari tempatnya sembari membenarkan rambut dan air mata yang membasahi kedua pipinya. Ia juga merapihkan pakaiannya yang sedikit berantakan.

Selang 15 menit kemudian, Sehun membawakan sepiring pasta ke hadapan Mikyung.

“Makanlah,” perintah Sehun datar.

Mikyung butuh beberapa detik untuk menyadari keadaan. Ia baru tahu jika Sehun bisa memasak, walaupun hanya sekadar pasta saja.

Menggunakan garpu, perlahan ia menghabiskan pasta yang Sehun buatkan untuknya. Rasanya tidak terlalu buruk. Mikyung tidak bisa menampik jika ia sangat kelaparan karena belum makan malam hari ini.

Baru 3 suapan pasta itu masuk ke dalam mulut, namun Mikyung merasakan sesuatu seperti mengguncangkan perutnya. Dengan berlari kecil, ia menuju wastafel dapur dan memuntahkan semua isi perutnya.

Sehun yang melihat Mikyung langsung menghampiri wanita itu dengan raut khawatir. Sehun membantu Mikyung dengan memijat tengkuk belakang wanita itu pelan. Apa rasa makanan yang ia buat sangat seburuk?

“Kau tidak apa-apa?” Tanya Sehun khawatir.

Mikyung menyudahi, ia membasuh mulutnya menggunakan air keran. Lalu menatap Sehun dan menganggukan kepalanya.

“Tunggu sebentar.”

Sehun berjalan menuju kulkas, mengambil sekotak susu lalu mengantarkannya dan menaruhnya di gelas. Setelahnya ia memberikan susu itu kepada Mikyung.

“Kita tidak punya persediaan susu ibu hamil di sini. Tapi, aku harap ini dapat membantumu,” ujar Sehun.

Mikyung tak menghiraukan perkataan Sehun, ia malah memeluk pria itu erat dengan kedua tangan yang melingkar di lehernya. Entah mengapa, ia merasa sangat bersalah karena sudah sering sekali merepotkan Sehun. Membuat pria itu terus menerus merasa kesusahan karena dirinya. Mikyung berpikir jika ia sama sekali tidak berarti di hidup Sehun. Dalam hati, Mikyung membenarkan perkataan Soojung yang menyebutnya sebagai ‘benalu’ di hidup Sehun.

“Maafkan aku,” gumam Mikyung sembari membenamkan wajahnya di ceruk leher Sehun.

Yang dimaksud tidak membalas pelukan Mikyung, ia justru melepaskan pelukan itu dan menatap sang istri dengan tatapan teduhnya. Sehun membenarkan anak rambut yang menutupi wajah cantik Mikyung. Tangannya yang satu lagi mengelus perut Mikyung lembut. Ia memberika satu kecupan di kening wanita itu.

“Aku benci mendengarmu terus meminta maaf.”

Mikyung mendongak menatap balik Sehun. Perasaan hangat menyelubung masuk ke dalam hati dan tubuhnya. Tangan hangat Sehun yang berada di perutnya mampu membuat ia tidak bisa berkata-kata.

“Aku kira kau masih marah padaku,” ujar Mikyung, kembali menundukkan kepalanya.

“Siapa bilang? Aku masih marah padamu,” ralat Sehun, tatapannya semakin mengintimidasi Mikyung.

“Ma—”

Mikyung tidak melanjutkan kalimatnya karena Sehun yang memotong dengan memagut bibir mereka berdua. Lumatan kasar Sehun berikan, mendominasi emosi yang pria itu rasakan. Mikyung kehabisan oksigen, ia mendorong dada Sehun kuat-kuat, dan ciuman mereka terlepas.

“Sudahku bilang kalau aku benci mendengarmu meminta maaf,” tungkas Sehun.

Tanpa aba-aba, Sehun mendorong Mikyung untuk duduk di meja pantri dapur. Ia menarik pinggang wanita itu, lalu memeluknya.

Mikyung yang mendapat perlakuan seperti itu dari Sehun hanya dapat merasakan detak jantungnya yang berdentum sangat keras. Ia pun membalas pelukan Sehun, dan membenamkan kepala Sehun di ceruk lehernya. Serta membiarkan pria itu bermain di sela lehernya.

Rasanya sangat nyaman, Mikyung dapat merasakan napas Sehun, maupun sebaliknya. Mereka sama-sama mabuk dalam dunia yang sama pula. Mamadu kasih dalam satu pusaran yang keduanya tidak bisa hindari.

Sehun menatap Mikyung, lalu berkata, “Aku butuh penjelasanmu besok.”

-oOo-

Kedatangan Chanyeol bersama salah satu rekannya yang merupakan pengacara kepercayaan Sehun yang bernama Kim Jongdae itu membuat suasana rumah menjadi sedikit tegang.

Jongdae menanyai beberapa hal pada Mikyung yang masih tak berkutik di tempatnya. Kelihatan sekali jika wanita itu sedang gugup.

“Aku hanya ingin mendengar penjelasanmu. Apa kita harus berbicara empat mata, hm?” Tanya Jongdae tenang, namun kentara tegas.

“Ti-tidak. Aku akan menjelaskannya sekarang,” jawab Mikyung.

Kedua mata wanita Shin itu melirik Sehun yang sedang menatapnya, bersamaan dengan Chanyeol. Ia mengambil napas, lalu mengeluarkannya kembali.

“Lee Ahjussi menemuiku sewaktu Sehun tidak ada, dia berkata jika aku harus memberikan semua aset peninggalan ayahku padanya dan melepaskan pembalasan dendamku jika aku ingin Sehun aman. Aku takut kalau-kalau dia menyakiti Sehun, sama seperti saat dia menyakitiku juga,” diam-diam Mikyung melirik Sehun yang sedang mengela napasnya kasar.

“Aku berpikir lebih dulu, namun Lee Ahjussi memberikanku alamat e-mailnya, dan mengatakan jika aku setuju, aku harus mengirimkan data serta sertifikas aset itu padanya melalui e-mail.” Lanjut Mikyung.

“Itu alasan mengapa kau akhir-akhir ini sering sekali meminjam ponselku?” Simpul Sehun.

Mikyung mengangguk, ia lalu menundukkan kepalanya; tidak berani menatap Sehun.

“Sekarang aku menyesali semuanya. Aku tidak tahu kenapa sekarang jadi seperti ini. Aku memang bodoh,” ujar Mikyung sambil terisak.

Sehun yang melihat Mikyung menangis langsung menghampiri wanita itu, lalu memeluknya. Melihat bagaimana Mikyung menangis membuatnya sedih. Apalagi sekarang Mikyung sedang mengandung anak mereka yang baru berumur kurang dari dua minggu.

“Bisakah kalian hentikan romansanya? Aku jadi iri, tahu!” Seloroh Chanyeol, kesal.

Sehun memberikan tatapan membunuh pada pria jangkung itu, lalu melemparinya dengan sandal rumah yang ia pakai. Tepat sasaran, sandal itu mengenai kepala Chanyeol yang kini mengaduh kesakitan.

Walaupun sejujurnya Sehun masih marah dengan tindakan seenaknya Mikyung, ia tetap tidak bisa membiarkan wanita itu merasa tersakiti begitu saja. Ia bertekad untuk membalas dendam pada Lee Seunghyun yang sudah merencanakan rencana licik ini.

“Sekarang kita perlu beberapa bukti tambahan. Sehun-ah, waktu itu kau pernah bilang jika kau punya bukti bahwa Lee Seunghyun serta pamanmu yang merekayasa kecelakaan nyonya dan tuan Shin, bukan?”

Perkataan Jongdae membuat Mikyung terperangah, ia melepas pelukan Sehun dan menatap Jongdae penuh tanda tanya. Apa ia tidak salah dengar?

“Apa katamu tadi?”

“Apa?”

“Mikyung belum tahu tentang ini, Hyung.” Terang Sehun, memperjelas keadaan.

Jongdae menganggukan kepala, “Kecelakan 6 tahun adalah perbuatan Lee Seunghyun dan pamannya Sehun.” Ujarnya.

Mikyung terkejut luar biasa. Jadi, semua hal-hal jahat yang selama ini menimpanya adalah perbuatan Lee Seunghyun. Terkutuk pria tua bangka itu! Dia pantas mati, bukan? Akan ia pastikan pria itu mati di tangannya.

“Kita harus menangkapnya kali ini, jangan sampai biarkan dia lolos. Segala kejahatan yang Lee Seunghyun lakukan pantas mendapat ganjarannya.”

Semua mengangguk mengiyakan perkataan Sehun.

“Kau benar, walaupun ini bukan kasus besar, namun dengan cara ini Lee Seunghyun bisa memperdaya kita.” Tambah Chanyeol.

Tepat setelah Chanyeol mengakhiri perkataannya, seorang pelayan rumah menginterupsi.

“Maaf jika saya menggangu kalian semua. Ada pihak dari kepolisian yang ingin bertemu dengan Nona Mikyung.”

-oOo-

Para wartawan yang haus akan berita terus menerus menyerbu Sehun dengan berbagai macam pertanyaan. Oh, jelas! Orangtua Sehun dan Mikyung sama-sama berpengaruh pada politik maupun negara mereka. Wajar jika kehidupan pribadi Sehun dan Mikyung selalu luput dengan awak media.

Sehun mengabaikan segala pertanyaan yang tertuju padanya. Ia memilih tak acuh, lalu memasuki rumahnya kembali. Diikuti bersama Chanyeol dan Jongdae.

Mikyung kini telah dibawa oleh pihak kepolisian setelah surat penangkapan wanita itu telah keluar. Sehun sangat frustasi. Bagaimana tidak, kini ialah yang bertanggung jawab penuh atas Mikyung. Bukan hanya statusnya yang sebagai seorang suami, namun wali tunggal dari Mikyung. Apalagi sekarang wanita itu sedang mengandung darah dagingnya sendiri. Sehun benar-benar terpuruk.

Pintu rumah Sehun terbuka, menampilkan Soojung yang berjalan tergesa-gesa ke arah ruang tengah.

“Jelaskan padaku apa yang sebenarnya terjadi!”

Chanyeol menoleh pada Soojung, “Aku yakin kau sudah tahu semuanya, Jung Soojung.” Balasnya.

Soojung tidak begitu peduli dengan perkataan Chanyeol, ia beralih pada Sehun yang sedang memegangi kepalanya. Tampak kesakitan, namun pria itu tahan sebisanya.

“Sehun-ah, kau baik-baik saja?” Tanya Soojung panik.

“Aku baik-baik saja, tidak perlu khawatir.” Jawab Sehun.

Jongdae mencebikkan bibirnya, “Jelas kau kesakitan Oh Sehun. Apa kau sama sekali tidak mau menjalani operasi? Ini semua demi Shin Mikyung. Jangan egois disaat-saat seperti ini. Mikyung juga butuh dirimu, Sehun-ah. Itupun jika kau selamat dari penyakitmu.” Tegasnya, sedikit mencemooh sikap Sehun yang seakan kuat menahan semuanya sendiri serta keegoisan pria itu.

“Benar apa yang dikatakan Jongdae Oppa. Kau harus segera operasi secepatnya. Bagaimana kau bisa melawan mereka jika kau sakit seperti ini,” sambung Soojung dengan sedikit emosi.

Sehun menghembuskan napasnya kasar. Kini, parasnya sudah semakin pucat. Bayang-bayang kecelakan 6 tahun lalu yang pernah ia alami kembali datang. Dan saat itulah, penglihatannya menjadi buram serta gelap.

-oOo-

To Be Continue

TINGGALKAN JEJAK SETELAH MEMBACA!!!

#Thanks

Percaya guys, dari segala kesengsaraan ini pasti berujung keindahan:)


Jangan lupa vommentnya ya. See you next part~

Iklan

29 thoughts on “Nigthmare [Part XVI] #Hurt

  1. ya ampun jadi banyak rintangan sama cobaannya, keren ceritanya bikin membucah suasana hati 😢😢
    semoga happy ending cerita akhirnya

  2. Dari beberapa chapter sebelumnya udah penasaran sama penyakit Sehun. Tapi sampai sekarang belum dikasih tau penyakit Sehun. Sehun sebenernya sakit apaan?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s