Nightmare [Part XVII] #It’s Ending?

Poster by : Alkindi (https://dirtykindi.wordpress.com/)

EXO’s Sehun & OC’s Mikyung

Angs | Sad | Life | Mature | Psychology (little) | Romance | Married Life

[Rated Can Change Anytime!]

Disclaimer! The original results my imagination. NOT FOR PLAGIARISM OR COPY PASTE!!!

  Tidak ada kejahatan yang sempurna. Berkilah diawal percuma saja jika pada akhirnya terbongkar juga.  

©2016.billhun94


-oOo-

“Bagaimana kabar Sehun?”

Chanyeol masih tak bergeming, mulutnya juga masih bungkam, dan tangannya menggumpal kuat di sisi tubuhnya. Ia tidak bisa begitu saja menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi pada Sehun; tidak jika ia ingin merusak mental Mikyung yang rentan.

“Dia baik-baik daja,” dusta Chanyeol. Kepalanya menunduk, menatap lantai marmer, lalu ia melanjutkan kalimatnya, “Dokter keluarga Oh sudah mengunjungimu, ‘kan? Aku harap kau dan kandunganmu baik-baik saja.”

Mikyung tersenyum kecil, “Tentu saja. Kami ini kuat, jadi jangan pernah remehkan kami,” ujarnya sembari terkekeh pelan.

Detik itu, Chanyeol merasa sangat bersalah karena sudah membuat kebohongan pada Mikyung. Wanita itu begitu kuat dan tabah dalam masalah semacam ini. Jika itu dirinya, ia rasa ia sudah tidak kuat menghadapi tekanan dari pihak-pihak yang menginginkan Mikyung hancur secara perlahan.

“Tapi, Dokter bilang jika keadaanmu tidak baik-baik saja.”

Air wajah Mikyung berubah sendu. Bohong jika ia tidak pernah merasa tertekan dengan semua yang ia alami sekarang. Hukum memang kejam. Namun, Lee Seunghyun lebih kejam– tentu saja. “Kau benar, aku tidak baik-baik saja,” untuk menutupi rasa sakitnya, Mikyung tersenyum sekali lagi.

“Apa Sehun masih sibuk? Kenapa dia tidak pernah menemuiku lagi?” Mikyung bertanya penasaran. Sudah genap sebulan pria itu tidak mengunjunginya. Wanti-wanti jika Sehun mencari wanita lain membuat ia merasa tertekan.

Chanyeol menegakkan badannya, menyiapkan kebohongan lagi untuk wanita yang berhadapan dengannya itu, jangan lupakan kaca besar transparan yang membatasi mereka. “Iya, dia masih sibuk. Perusahaan yang dikelola pamannya selama ini mengalami kerugian besar. Jadi Sehun harus menyelamatkan perusahaan itu.” Semua yang dikatakannya adalah kebohongan. Perusahaan tersebut baik-baik saja. Chanyeol pun melanjutkan, “Tenang saja, dia aman. Dia juga menitip salam untukmu.” Nah, yang ini juga kebohongan. Mana mungkin orang yang sedang koma bisa berbicara, apalagi menitip salam.

“Syukurlah,” ujar Mikyung dengan senyum mengembang. Setidaknya ia tahu, jika Sehun aman dan masih memikirkan dirinya.

Lalu, di mana Sehun saat ini?

-oOo-

Kim Yooin menatap putra tirinya dengan sendu. Tangannya terulur merapihkan anak rambut yang menutupi dahi Sehun, sedang tangan yang satunya lagi menggenggam tangan dingin pria itu yang terselip jarum infus. Ia tahu bahwa selama ini ia kurang memperhatikan Sehun, sebab ia terlalu sibuk mengurusi dirinya sendiri. Rasa bersalah perlahan menyelubung masuk ke dalam relung hatinya. Rasa bersalah terhadap Sehun begitu besar, sampai Yooin tidak sanggup untuk menahannya lagi.

“Maafkan aku, Sehun-ah,” bisik Yooin di telinga Sehun yang sedang tidak sadarkan diri.

Air mata mulai membasahi pipi wanita setengah baya itu. Walaupun Sehun bukan anak kandungnya, tetap saja rasa kasih sayangnya pada Sehun tidaklah beda dengan rasa kasih sayang seorang ibu seperti yang selama ini ia berikan pada Jongin dan Taeyong.

“Aku sudah berbuat jahat padamu selama ini. Aku memang pantas mendapatkan hukuman. Maaf… Sehun-ah,” isak tangis Yooin tidak tertahan lagi.

Berpikir bahwa Kim Yooin wanita paling jahat di dunia ini karena sudah merebut suami orang itu memang benar adanya. Sebab itu juga, Sehun membenci Yooin. Namun, Yooin berpendapat jika ia bisa mendekati Sehun perlahan dengan caranya. Dan hasilnya gagal, malah ia menyakiti Sehun.

Isak tangis Yooin terus berlanjut, sampai pintu kamar VVIP itu terbuka dan menampakkan seorang wanita muda dengan keranjang buah di tangannya. Yooin mengenal wanita itu.

“Jung Soojung?”

Yang dipanggil menyahut, namun tetap bergeming dengan pikiran-pikiran di kepalanya.

“Ah, Ahjumma. Annyeong hasaeyo,” Soojung memberi salam.

Yooin membersihkan air matanya, lalu membalas salam Soojung serta mempersilahkan wanita itu untuk masuk.

“Kau pasti sudah sering menjenguk Sehun. Tapi, bagiku ini yang pertama,” seloroh Yooin saat dirinya dan Soojung sudah berada di lorong rumah sakit. Terduduk di bangku tunggu dengan segelas kopi hangat instan yang dibeli oleh Soojung.

“Iya, aku memang sering menemani Sehun. Jongin juga,” balas Soojung sembari terkekeh pelan.

Yooin tersenyum lembut pada Soojung. Wanita itu gadis yang baik, sayang sekali kalau Jongin harus membiarkan Soojung pergi dari kehidupannya. “Soojung-ah, bagaimana jika kau memilih kembali pada anakku?”

-oOo-

Mikyung pernah sekali bermimpi untuk balas dendam. Ia ingin membunuh semua orang yang mengambil orang-orang terkasih dalam hidupnya. Shin Mikyung tetaplah Shin Mikyung. Wanita yang selalu memakai ego ketika menghadapi suatu masalah dalam hidup; walaupun waktu sudah merubahnya.

Apa jadinya bila seseorang menyakitimu dan kau berniat untuk melakukan hal yang sama terhadapnya?

Jawabannya adalah percuma. Mengapa? Jika dendam dibalas dendam, itu semua akan sia-sia. Kau tidak ada bedanya dengan orang yang menyakitimu. Biarlah orang itu mendapat balasannya sendiri, bukan darimu. Dengan begitu, dunia akan terasa lebih tentram. Tidak ada balas dendam yang justru malah memperburuk keadaan.

Ya, itulah pemikiran Mikyung.

Mikyung hanya memikirkan bagaimana ia harus menyingkirkan rasa takut yang terus menghantuinya setiap saat. Rasa takut sejatinya hidup disetiap hati manusia. Melarikan diri setiap merasa takut tidak akan menyelesaikan masalah. Mikyung hanya perlu berani dan menghadapinya.

Tanpa sadar, Mikyung mengelus perutnya yang masih rata. Dokter yang dikirim oleh Sehun selalu memeriksanya ke penjara 1 minggu 2 kali. Usia kandungan Mikyung kini sudah menginjak dua bulan. Dan, keadaannya juga baik-baik saja. Semua itu karena Mikyung yang memilih untuk tidak terlalu memikirkan masalah yang saat ini menimpanya—yang mungkin juga akan berdampak buruk pada kandungannya.

“Pasti kau merindukan Appa-mu, ya?”

Satu-satunya cara menghibur diri di dalam ruangan itu adalah mengajak bicara si janin. Walaupun tidak mendapat balasan, Mikyung merasa lebih baik.

“Appa pasti akan datang… kau harus bersabar,” Mikyung tersenyum diakhir kalimat.

Nyatanya, perasaan ganjal terus berusaha menyingkirkan alibi Mikyung. Alibi tentang, ‘Sehun baik-baik saja’.

-oOo-

“Keadaannya semakin membaik. Tuan Oh mungkin akan sadar dalam beberapa hari lagi.”

Kalimat itu membuat Chanyeol tersenyum lebar. Ia membungkuk sebanyak yang ia mampu pada dokter yang menangani Sehun sejak operasi sampai saat ini, ia juga mengucapkan ‘terima kasih’. Dokter itupun meninggalkan rawat inap Sehun.

Pembengkakan pada otak Sehun sudah diatasi berkat operasi besar yang memakan waktu berjam-jam lamanya. Kecelakaan 6 tahun adalah penyebabnya. Kala itu, Sehun tengah mabuk dan mengendarai mobilnya seorang diri. Bertempat di Incheon, setelah pria itu mengunjungi makam ibunya, Sehun mengalami kecelakaan. Kecelakaan itu menyebabkan dua orang hilang karena terbawa hanyut sungai, dan dua orang—yang salah satunya Sehun—berhasil selamat. Memang luka Sehun saat itu tidak begitu besar, namun lama kelamaan berdampak berkepanjangan.

Chanyeol mungkin akan menutup rahasia ini seumur hidupnya. Bahwa orang yang selamat bersama Sehun saat kecelakan itu adalah Shin Mikyung.

Kenapa Chanyeol merahasiakannya?

Sebab dari keterangan kepolisian yang menangani kecelakaan itu membeberkan fakta jika ayah Mikyung yang sudah menyelamatkan nyawa Sehun yang sedang berada diambang kematian, dan berakibat nyama ayah Mikyung sebagai gantinya. Chanyeol tahu, Sehun akan sangat bersalah pada wanita yang dicintainya tersebut. Ia juga tahu bahwa yang dilakukannya saat ini adalah sebuah kesalahan.

Suara pintu yang terbuka membuyarkan lamunan Chanyeol. Sosok wanita setengah baya yang Chanyeol ketahui sebagai ibu tiri Sehun muncul dari balik pintu sembari tersenyum hangat padanya, ia pun membalas dengan sapaan.

“Bagaimana keadaan Sehun?” Tanya Yooin setelah menaruh sebuket bunga di nakas.

“Yang pasti sudah lebih baik,” jawab Chanyeol ceria.

Yooin mengulum senyum, “Aku harap dia segera siuman dan membaik” ujarnya.

Chanyeol ikut tersenyum, lebih dari sebulan ia mengenal sosok Yooin, dan wanita itu tidak seperti apa yang ia pikirkan selama ini. Well, Sehun selalu menceritakan betapa buruknya Kim Yooin. Namun, itu semua berubah ketika ia mengenal Yooin. Agaknya pepatah ‘tak kenal maka tak sayang’ itu benar adanya.

“Aku juga berharap begitu.”

-oOo-

Waktu yang diberikan untuk menjenguk tahanan hanya sekitar 15 menit saja. Ini sudah hampir 5 menit, dan tuan Park masih belum juga membuka mulutnya. Irisnya sedaritadi terus terpaku pada Mikyung.

Putri angkatnya itu sudah banyak menderita di negerinya sendiri. Ini bukan pertemuan pertama mereka sejak Mikyung harus ditahan. Tetap saja, rasa sakit dan iba melihat Mikyung berada di tempat yang tidak seharusnya dia tempati membuat perasaan tuan Park terluka. Ia sangat mencintai Mikyung seperti putri kandungnya sendiri.

“Dad?” Akhirnya Mikyung membuka suara, sedikit parau karena menahan tangis.

Tuan Park tersenyum, mencoba menegarkan dirinya. Ia menatap Mikyung dalam dengan teduh. “Apa kau masih bisa menahan semua ini sebentar lagi?” Tanyanya.

Sontak saja itu membuat Mikyung tak berkutik. Pertanyaan tuan Park sangat berlawanan dengan arah pandang dirinya. Sejujurnya ia mencoba kuat, kadang kala juga ia terguncang.

“Hukum memang lemah terhadap yang benar, dan kuat terhadap yang salah. Namun, akhirnya yang benarlah yang berhak untuk menang.” Tuan Park semakin melebarkan senyumnya, sebelum melanjutkan perkataannya. “Tahan semua ini, sebentar lagi. Kau pasti bisa melewatinya.”

Setidaknya Mikyung bersyukur karena masih memiliki orang-orang yang setia untuk mendukungnya.

-oOo-

Kamar VVIP nomor 12 dibuat gempar ketika pasien yang menempati ruangan rawat inap itu telah sadar dari koma panjangnya. Dokter dan para perawat berlarian untuk mengejar waktu. Sedangkan seorang pria kini sedang memanjatkan do’a kepada Tuhan, berterima kasih karena do’anya selama ini sudah dijabah.

Berlangsung sekitar setengah jam, dokter yang menangani pasien bernama Oh Sehun tersebut kini telah keluar dari kamar VVIP nomor 12 dengan senyum sumringah. Chanyeol yang setia menunggu lantas bangkit dari duduknya, lalu menghampiri si dokter.

“Tuan Oh sudah sadar sepenuhnya. Saraf otak serta tubuhnya mulai bekerja normal.”

Bagi Chanyeol, Sehun adalah satu-satunya keluarga yang ia miliki. Besar di panti asuhan, diadopsi seorang gangster, dan dibuang begitu saja membuat ia terpuruk dalam waktu yang lama. Kehadiran sosok Sehun yang mau menjadi temannya adalah sebuah sinar terang yang menjadikan ia bangkit perlahan dari rasa terpuruk itu.

Perlahan Chanyeol membuka pintu kamar rawat inap Sehun. Tepat di ranjang rumah sakit, terbaring lemah seorang pria yang tidak lain adalah Sehun. Chanyeol tidak tahu kapan terakhir kali ia merasa sebahagia ini.

Sehun yang belum sepenuhnya pulih masih harus memerlukan bantuan alat napas. Ia juga belum boleh terlalu banyak bergerak karena saraf tubuhnya yang mati selama beberapa bulan ini. Terlalu berbahaya jika digerakkan, sarafnya akan tegang dan berakibat fatal nantinya.

Chanyeol berjalan mendekat kearah Sehun yang terlelap. Tidak terasa, satu tetes air mata jatuh dari pelupuk matanya. Bukan tangis sedih, melainkan tangis bahagia.

-oOo-

Sidang yang berlangsung di pengadilan Seoul itu berjalan dengan sangat mencekam. Pasalnya, sidang tersebut adalah sidang terakhir yang Hakim putuskan.

Sebagai seorang pengacara yang begitu disegani, Jongdae mengajukan banding, pihaknya juga sudah membeberkan bukti-bukti atas tuduhan yang ditujukan pada kliennya ke kejaksaan. Dan dalam sidang, bukti itu diperlihatkan.

Deretan angka memenuhi layar proyektor, para wartawan yang hadir tidak lupa untuk segera memotretnya. Deretan angka itu merupakan dana gelap. Slide berganti, kali ini menampilkan mobil yang sudah penyok akibat sebuah kecelakan. Kemudian salah satu rekan Jongdae menjelaskan untuk menepis rasa penasaran orang-orang yang melihatnya.

“Tuan dan Nyonya Shin mengalami kecelakaan mobil sebelum nyawa mereka hilang 6 tahun silam. Tidak begitu banyak bukti yang kuat untuk berasumsi bahwa kecelakaan itu telah disengaja. Pada akhirnya, kepolisian memutuskan bahwa kecelakaan itu murni karena kelalaian pengemudi.”

Jongdae mengambil alih.

“Namun, pada nyatanya, kecelakaan itu memang disengaja sepenuhnya. Black box mobil sempat hilang, tapi ditemukan beberapa jam kemudian setelah kecelakaan. Bukti-bukti yang seharusnya terdapat di black box itu hilang, seperti dihapus oleh seseorang.”

Jongdae menarik napas sebelum melanjutkan.

“Setelah 6 tahun berlalu, kami akhirnya menemukan si pelaku.”

Slide berganti lagi, kini menampilkan foto pria berumur awal 30-an yang memakai topi dan masker. Foto itu tampak diambil tanpa sepengatuan sasaran saat malam hari, tepatnya disebuah jalan raya besar.

“Chae Minhyuk, tangan kiri Lee Seunghyun.”

Sontak saja pernyataan tersebut membuat yang lain terkejut. Tuan Shin adalah sahabat Lee Seunghyun sejak kuliah dulu. Mereka sangat dekat layaknya saudara. Namun apa kenyataan yang harus diterima?

Pengkhianat memang tidak pernah jauh dari sekitar kita. Bahkan dengan orang yang sangat kita percayai.

Kuasa hukum penggugat merasa tidak terima, dan siap untuk mengajukan banding. Namun hakim memutuskan untuk menolaknya. Dengan bukti yang sangat jelas, orang awam pun pasti tahu siapa yang bersalah dan tidak. Dan tuduhan yang ditunjukan untuk Mikyung tidak benar adanya.

Kasus tuduhan penggelapan dana pajak malah berakhir pada kenyataan lama yang terbongkar. Kau salah memilih jalan, Lee Seunghyun.

Sampai palu hakim berbunyi dan membacakan vonis, Jongdae tidak berhenti tersenyum. Kerja kerasnya dua bulan ini tidak berakhir sia-sia.

Andaikan saja Mikyung bisa hadir, dan melihat raut wajah panik dari pihak lawan mereka, Jongdae rasa itu akan membuatnya tertawa. Sayang, Mikyung harus mendapatkan perawatan intensif karena kondisinya yang tiba-tiba drop.

-oOo-

Kabar siumannya Sehun sudah sampai ke telinga kerabat terdekat. Yooin, Jongin, dan Soojung memasuki bersama ruang rawat inap Sehun. Mereka menemukan pria itu sedang terlelap di ranjang, dengan Chanyeol di sampingnya.

“Bagaimana keadaannya, Chanyeol-ssi?” Yooin yang tidak sabar langsung mencerca satu pertanyaan.

Chanyeol tersenyum sebelum membalas, “Ahjumma tenang saja, keadaan Sehun sudah membaik.”

Hal itu membuat Yooin bernapas lega.

“Sidangnya berjalan lancar. Dan kita berhasil memenangkannya.” Ucap Soojung.

Chanyeol yang baru mengetahuinya lantas membulatkan kedua matanya, seakan ia baru saja mendapatkan jackpout.

“Kau sedang tidak bercanda ‘kan, Jung Soojung?”

Soojung memutar bola matanya, “Untuk apa aku berbohong?”

“JADI INI SUNGGUHAN?!” Jerit Chanyeol layaknya seorang gadis.

“Apanya yang sungguhan?”

Mereka yang mendengar suara lain menoleh ke sumber. Dan alangkah terkejutnya mereka ketika menyadari bahwa itu adalah….

“SEHUN!”

-oOo-

Butuh waktu 3 hari untuk menyiapkan berkas pembebasan Mikyung. Keadaan wanita itu semakin membaik setelah mendengar kabar tentang pembebasan dirinya. Ia sudah tidak sabar untuk menghirup udara segar lagi.

Kabar berita tentang Lee Seunghyun yang memanipulasi kecelakaan tuan dan nyonya Shin menjadi hot news dimana-mana. Perlahan, satu persatu kejahatan yang pria itu lakukan terbongkar ke publik. Terutama apa yang sudah Seunghyun lakukan pada Mikyung 3 tahun lalu.

Mikyung menonton televisi yang menampilkan penangkapan Seunghyun beberapa hari lalu. Pria itu sempat mengatakan kepada awak media, mengapa dirinya tidak membunuh Mikyung saja dulu. Mikyung yang mendengar hal tersebut tentu saja ketakutan. Namun, tuan dan nyonya Park yang masih berada di Korea, mencoba untuk menenangkannya.

Tidak ada kejahatan yang sempurna. Berkilah diawal percuma saja jika pada akhirnya terbongkar juga.

Lee Seunghyun pantas mendapatkan hukuman setimpal atas apa yang sudah diperbuatnya.

Hari ini tepat sekali pembebasan Mikyung, tuan dan nyonya Park sudah menunggu putrinya itu di pintu keluar. Begitu melihat sosok Mikyung, mereka tidak lupa menyambutnya dengan hangat dan pelukan rindu.

Wartawan yang berkumpul di luar gedung hanya dapat memotret seadanya karena keamanan yang begitu ketat. Tidak ada konferensi pers seperti apa yang mereka inginkan, karena keadaan Mikyung yang belum sepenuhnya pulih.

“Aku sangat merindukan kalian,” ujar Mikyung begitu mereka sudah berada di dalam mobil.

“Kami juga merindukanmu, honey.” Balas nyonya Park lembut seraya membelai pipi putrinya itu.

Kehangatan keluarga tersebut berlanjut begitu saja. Mereka menghapus rindu yang memuncak dengan bercengkrama satu sama lain.

Sampai akhirnya Mikyung sadar apa yang kini dipijaknya. Ia melirik sekitar, banyak orang yang berlalu lalang. Masih mencari sesuatu sebelum ia menemukan….

Rumah sakit?

Memangnya siapa yang sakit?

Bukankah seharusnya ia ke rumah Sehun? Disanalah ia tinggal. Disanalah rumahnya sekarang.

“Dad, mom, kenapa kalian membawaku ke sini?”

-oOo-

To Be Continue

TINGGALKAN JEJAK SETELAH MEMBACA!!!

#Thanks

P.s :

FYI, Ff ini mencapai ending satu part lg. Dan part tersebut akan aku protect. Untuk info lebih lanjutnya akan aku informasikan lagi nanti:)

Iklan

36 thoughts on “Nightmare [Part XVII] #It’s Ending?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s