[Author Tetap] Finally, I Got You (2)

yjui

ByunPelvis

Main Cast : Byun Baekhyun,Park Hyejin (OC/You)

Other Cast : Oh Sehun,Park Chanyeol,Kim Chanri (Oc),Kim Jong In and other.

Genre : Sad,Romance,Angst,Friendship.

Leght : Chapter

Rating :General

Disclaimer : This story is mine. No Copy no paste. Sorry for typo.

*

*

 

“Memang sulit membuang sebuah perasaan yang sudah terlanjur mengakar di hati. Sekeras apapun dia menyuruhmu enyah, kau malah semakin ingin tinggal. Jangan katakan perasaan ini sebuah obsesi.!”

Chapter 1

Chapter 2

1 tahun yang lalu

Pagi ini aku terbangun lebih pagi dari biasanya. Sungguh menjengkelkan karena hari ini organisasi universitas harus membimbing mahasiswa baru. Ya , aku adalah seorang senior yang akan mengurus OSPEK. Sebenarnya aku bukanlah tipe pria yang rajin. Jika bukan karena Park Chanyeol yang terus menggedor kamarku aku pasti masih bergelut dalam mimpi manis.

“Baekhyun-ah. cepatlah!… aigo kau sangat lelet.”

Dengan gerakan kasar Chanyeol menyeretku turun dari ranjang. Aku masih membuka setengah mata, melihat pria tinggi di hadapanku sudah rapi dengan almamater.

“arraseo. Yeol, kau mau memandikanku? Aku sangat malas.” Pintaku. Kulihat ekspresi Chanyeol seperti ngeri.

“yak! Dasar gila. Cepat sana!”

Aku tertawa karena berhasil membuat Chanyeol kesal pagi ini. oh baiklah, aku harus terlihat tampan. Akan banyak mahasiswi baru yang pastinya cantik.

.

.

.

Kami sampai di universitas sekitar pukul 06.30 , padahal OSPEK akan dimulai pukul delapan. Park Chanyeol memang kelewat rajin. Aku memujinya kali ini, karena sebenarnya kedisplinannya itu berbanding balik dengan kepribadiannya. Park Chanyeol, sebenarnya ia orang yang tidak modal. Makan,pergi,dan tidur saja ia selalu tergantung padaku. Untung saja dia kuanggap sebagai saudara.

“Baek. apa aku sudah bercerita padamu?”

“tentang apa?”

Cahnyeol terlihat serius. Aku menunggunya bicara selama fokus pada jalan.

“sepupuku memilih universitas kita. “

“lalu?” tanyaku penasaran. Tak biasanya Chanyeol berceita tentang saudaranya.

“aku senang saja. Gadis itu sangat ingin melanjutkan pendidikan di universitas kita. Dan akhirnya dia diterima.”

“Yeol-ah! apa sepupumu itu cantik?”

“eum sangat. Dia populer saat SHS”

Aku mengangguk mengerti, tentang sepupu Chanyeol jujur aku baru dengar. Kami sangat dekat, namun jika tentang keluarga kurang saling terbuka.

.

.

Aku terpaksa membunyikan peluit saat melihat mahasiswa baru duduk santai di bangku taman. Sudah hampir setengah hari OSPEK berjalan dan sekarang sedang puncaknya acara. Sungguh menjengkelkan melihat peserta malas-malasan.

Suaraku bahkan sudah habis karena terus berteriak. Aku mengibaskan tangan karena kepanasan, mataku menangkap chanyeol yang sedang bicara dengan seorang wanita. Oh yaampun, bahkan Chanyeol memeluknya.

“pria itu. dasar genit.”

Aku berjalan menghampirinya.

“ketahuan kau Park Chanyeol. Kau menggoda mahasiswa baru heum?” tegurku membuatnya melepas pelukan. Chanyeol langsung memukul kepalaku, rasanya sangat sakit.

“yak! Sakit! Dasar  bodoh!”

“kau yang bodoh. Siapa juga yang sedang menggoda?”

Aku hendak menyemprotnya dengan perkataanku, namun sesuatu menghentikanku. Pandangan mataku  tertuju pada gadis yang berdiri di hadapan Chanyeol.

Gadis itu berpakaian rapi dan berambut sebahu. Ada plang nama yang tergantung di lehernya, juga topi yang  terpasang dikepalanya. Sepertinya itu topi Chanyeol. ya aku yakin.

“anyeonghaseo, jeoneun Park Hyejin imnida.”

Suara lembut yang keluar dari bibirnya seolah merasuki ragaku. Senyum tipisnya seperti listrik yang menyengat seluruh tubuhku. Aku berdehem, berusaha mengontrol diri. Sial, sebenarnya ada apa denganku?

“mengapa kau disini. Cepat sana baris!” perintahku dengan nada tegas. Ekspresi wajahnya tiba-tiba berubah murung.

“Baek, aku membiarkannya istirahat. Dia tak bisa kelelahan. Dia barusaja sembuh dari demam.” Ujar Chanyeol terdengar seperti memohon. Aku menunjukan wajah galak.

“semua peserta kelelahan Yeol. Jangan terlalu baik pada-“

“dia sepupuku pabbo-ya! aku tak bisa membiarkannya pingsan.”

Aku diam tanpa sadar. Tatapan mataku berubah melembut. Aku merasa salah tingkah.

“a-ah benarkah? Jadi dia yang kau ceritakan?”

Chanyeol mengangguk. Aku kembali menatap gadis bernama Park Hyejin itu. Wajahnya memang sedikit mirip Chanyeol. Aku baru sadar dan dia sangat…. cantik.

“aku mohon biarkan dia istirahat di UKS. Jangan laporkan ini pada ketua.”. pinta Chanyeol padaku.

“ya. Park Chanyeol! itu tak adil.”

Chanyeol terus memohon padaku.Aku bersikeras menolak keinginannya itu.

“Chan Oppa, tak apa. Aku akan ikut OSPEK sampai selesai.”

“tapi immo memintaku menjagamu. Kau tidak boleh kelelahan atau typusmu kambuh lagi.”

Ku perhatikan dua saudara itu. Dan sepertinya gadis ini benar-benar dalam kondisi kurang fit. Keduanya terus adu argumen, aku membiarkannya selama satu menit. Hingga tatapan mata gadis itu tertuju padaku, sungguh terlihat sayu.Oh, wajahnya juga pucat. Inilah kelemahanku, aku paling benci melihat orang sakit.

 “Yeol, sepertinya tak apa. kau antar saja dia ke ruang kesehatan.”

“benarkah? Aigo baek. gomawo. Ah tapi, masih ada satu hal yang harus kuurus. Maukah kau mengantar Hyejin ke UKS?” permintaan Chanyeol membuatku mengerjapkan mata.

“n-nde? mengapa aku?”

“eum. Aku harus ke lapangan. Baek, titip Hyejin ya!”

“Ya! Park Chanyeol!”

Chanyeol berlari pergi, meninggalkanku dan juga gadis bernama Park Hyejin ini. Suasana berubah canggung seketika, mendadak aku kehilangan kata-kata. Hei ,sungguh ini bukan diriku. Tak pernah aku merasa akward karena wanita.

“sunbae-nim, kau cukup menunjukanku arah ruang kesehatan. Aku akan kesana sendiri.”

“tidak. Chanyeol memintaku untuk menemanimu. Ayo!”

Tanpa sadar kutarik lenganya. Dan dia langsung menatapku dengan detailnya.Aku sempat ingin melepasnya, tapi kelembutan tangan ini membuatku urun . Dalam diam aku tersenyum. Ini aneh, benar-benar aneh karena rasanya seperti aku pernah bertemu dan mengenal Park Hyejin.

Tiba-tiba kurasakan Hyejin menarik tangannya.

“eum. Apa ruang kesehatannya jauh?”

“tidak juga. Ayo!”

“eum”

.

.

.

Kami sampai di ruang kesehatan. Aku menyuruhnya berbaring namun tiba-tiba saja ia berbalik dan

Dugg…

Keningku menyatu dengan keningnya. Dalam artian, kening kami saling membentur. Dia terlihat kesakitan, membuatku sedikit cemas.

“kau baik-baik saja?”

Aku berusaha menyentuh keningnya namun tanganku ditepis olehnya. Hyejin mundur hingga terduduk di ranjang.

“aku baik-baik saja. Sunbae bisa meninggalkanku.” ujarnya dengan nada super datar.

“hei aku seniormu. Aku yang akan tanggung jawab menjagamu. Lagipula Chanyeol memintaku untuk menemanimu. Bukankah kau mendengarkannya sendiri?”

“iya, tapi-“

“istirahatlah!” dengan nada selembut mungkin kusuruh ia untuk berbaring. Dan aku sedikit mendorong bahunya.

Hei ada apa dengan tatapannya? Sepertinya tatapan itu mengartikan ketidak nyamanan. Eum  mungkin hanya perasaanku saja.

.

.

.

OSPEK sudah berakhir, dan ini sudah 2 minggu mahasiswa baru menduduki kurrsinya. Dan sudah 2 minggu pula aku selalu memperhatikan apapun yang Park Hyejin lakukan. Entahlah, aku merasa terus ingin melihatnya sejak hari pertama bertemu. Untungnya Chanyeol selalu menghampiri Hyejin dan itulah kesempatan yang kugunakan untuk mendekatinya.

Gadis itu ternyata sangat ceria dan mudah bergaul. Aku sangat hobi bercanda, dan kadang dia akan tertawa mendengar leluconku. Aku semakin merasa dekat dengannya walau kadang kala dia mengabaikan perhatianku.

Sampai hari ini, tepat saat valentine aku membawanya ke suatu tempat. Awalnya dia menolak dengan berbagai alasan. Setelah aku memohonatau lebih tepatnya memaksanya, pada akhirnya dia menurut.

Kami berada di caffe khusus pasangan. Tempat ini sangat sepi dan letak setiap kursi sangat jauh. Aku sedikit leluasa untuk mengungkapkan apa yang  sangat ingin kukatakan.

Hyejin hanya fokus pada ponsel dan minumannya, seolah dia hanya sendiri. Dan itu membuatku sedikit geram.Aku terbatuk agar perhatiannya teralih. Dan benar saja kini ia menatapku.

“ekmm… aku akan mengatakannya sekarang.” Ucapku. Hyejin terlihat bosan, aku bisa menyimpulkannya.

“Sunbae-nim. Cepat katakan apa maumu. Aku harus menemui kekasihku satu jam lagi.”

Perkataan Hyejin membuat jantungku seperti tertusuk pedang goblin. Rasanya jantungku ingin mencuat keluar. Apa yang diucapkan oleh Hyejin barusan terdengar seperti kutukan.

“k-kekasih?”

Hyejin mengangguk mantap. Ia terlihat melirik jam tangan dipergelangan dan  setelah itu membulatkan mata.

“hah… 15 menit lagi aku harus menemui kekasihku. Cepat sunbae apa yang ingin kau katakan?”

Aku diam, bibirku mendadak kelu. Memalukan, mengapa aku merasa ingin menangis sekarang? Walau hatiku luar biasa sesak tapi kucoba untuk tetap biasa saja.

“sepertinya harapanku pupus.” Ucapku. Bukan, bukan ini yang seharusnya ku katakan. Harusnya aku mengucapkan ‘Hyejin-ah, aku menyukaimu’.

“ne? apa maksudmu?” tanyanya. Aku tersenyum miris dan berdiri. Kuulurkan tangan kananku padanya.

“mau kuantar?”

Kudapati Hyejin hanya diam dan menatapku dengan pandangan dingin. Sampai uluran tanganku di abaikannya.

“jadi ini yang kau bilang hal penting? Kau hanya mengatakan itu tadi? astaga.”

“bagaimana jika aku menyatakan cinta padamu? Apa terdengar menarik?” tanyaku.

“kau bercanda? Ya ampun. Maaf Sunbae-nim, sebaiknya jangan mengatakan hal yang sia-sia.”

“aku sedang tidak bercanda. Menurutmu bagaimana jika aku menyukaimu.”

“kita baru kenal. Itu tidak mungkin terjadi.”

“mengapa tidak?” tanyaku padanya. Hyejin menghela nafas dan mengalihkan wajahnya.

“sudahlah. kurasa pembicaraan ini tidaklah penting”

Hyejin berdiri dan berjalan cepat keluar dari caffe. Aku memandang tanganku yang masih saja terulur.

“kau fikir statusmu yang sudah memiliki kekasih akan membuatku menyerah?”

.

.

.

Hari terus berganti, begitupun juga ceritaku. Tentang Hyejin, dia seperti menghindariku. Setiap kali ku dekati ia selalu menjauh.Seringkali kudapati ia menatapku dengan tatapan dinginnya.

“namanya Oh Sehun. Mereka sudah pacaran sejak SHS.”

Chanyeol sedang bercerita tentang kekasih Hyejin. Aku yang tadi memaksanya karena aku sangat penasaran dengan pria yang sudah menempati hati Hyejin. Entah mengapa aku seperti ingin menyingkirkannya. Terdengar kejam memang. Tapi cinta penuh pengorbanan.

“Baek, kau menyukai Hyejin? Benar kan?” tanya Chanyeol penuh selidik.

“bagaimana kau bisa tahu , Yeol?”

“terlihat jelas. Dan juga Hyejin bercerita padaku jika kau mengajaknya ke sebuah caffe romance. Kau tahu kan caffe itu khusus untuk pasangan? Hyejin bilang kau berbicara aneh.”

Ah jadi karena itu. Aku mengiyakan pertanyaan Chanyeol.

“ya! kalian belum lama kenal. Bagaimana bisa kau menyukainya secepat itu. Dan sepertinya juga kalian jarang interaksi.”

“Yeol, kau pernah mendengar first sight? Aku mengalaminya, cinta pada pandangan pertama.” Tanyaku dan Chanyeol langsung mengangguk mengerti.

“daebak. Ku sarankan untuk kau menghentikan perasaanmu itu. Hyejin tak akan-“

“aku akan berusaha. Bagaimanapun itu aku akan membuatnya jadi milikku. Walau harus menyingkirkan kekasihnya sekalipun.”

Flashback end

“Ya!”

Aku tersadar dari lamunan. Seketika ku lirik Chanyeol dengan tatapan galak karena  membuatku kaget.

“MWO?” tanyaku sekeras mungkin.

“trafic’nya sudah berubah menjadi hijau pabbo-ya!” ujar Chanyeol tak kalah keras. Aku melihat lampu rambu dan memang benar. Suara klakson mobil di belakang juga saling beradu karena mobilku masih berhenti. Dengan segera ku jalankan mobilku.

“a-ah .”.

“sebenarnya apa yang sedang kau fikirkan baek? serius sekali.”tanyanya sembari mengunyah snack.

“hanya memikirkan kejadian satu tahun yang lalu. jika saja aku tak mengatakan satu hal pada Hyejin, mungkin dia tak seperti sekarang.”

Chanyeol menepuk pundakku.

“hei, dimana Baekhyun yang terobsesi untuk mendekati Park Hyejin eoh? Ya! lagipula kau terus mengganggunya selama ini. Bagaimana dia tidak membencimu eoh? ”

“Yeol, jangan mengatakan perasaanku pada Hyejin sebuah obsesi. Aku mencintainya, tanpa syarat apapun. Aku memang terlihat seperti pycopat karena terus mengganggunya. Tapi sungguh , aku menyayanginya. Sangat. Aku hanya ingin memastikannya baik-baik saja.” ujarku.  Chanyeol lagi-lagi menepuk bahuku.

“ya. Aku tahu. Baek, hati kecilku menginginkan kau menjaga Hyejin. Namun….”

Aku menatap Chanyeol yang kini menggantungkan perkataannya.

“apa?”

“ah sudahlah. Kita lihat saja apa yang terjadi nanti. Aku mendukungmu , tenang saja”

“Ya! Park Chanyeol apa maksud kata-katamu itu?”

Chanyeol mengendikan bahu, membuatku penasaran aja. Chanyeol membingungkan, dia bilang Hyejin sangat cocok dengan Oh Sehun , tapi dia bilang juga akan mendukungku untuk mendekati Hyejin.

Sebenarnya Chanyeol memihak aku atau Oh Sehun itu?

Aku menilik jam arloji yang melingkar di lengan kiriku. Syukurlah ini masih cukup pagi. Kutepikan mobil dan berhenti setelahnya.

“Yeol, turunlah!” perintahku.

“Kau bercanda? Kampus masih sangat jauh Byun Baekhyun.”

“aku tau. Tapi sana turnlah. Kau naik taxi saja eoh!”

“daebak, apa kau marah karena perkataanku tadi? dasar sensi.”

Aku menggeleng, dengan cepat kubuka seat belt yang melingkar di tubuh Chanyeol.

“ada sesuatu yang harus kulakukan. Setelah pulang nanti aku akan mentraktirmu. Setuju?”

Chanyeol terlihat mempertimbangkan. Aku tau pada akhirnya ia akan menurutiku.

“Baiklah, aku setuju. Heiii ,sepertinya aku tau kau mau melakukan apa. Ya! jangan membuat Hyejin kesal!”

Aku mengendikan bahu dan mendorong keluar tubuhnya. Chanyeol protes namun aku langsung menutup pintu mobil. Kuinjak gas sedalam mungkin, jangan sampai aku telat.

AUTHOR POV

Hyejin baru saja selesai mengemasi buku yang harus dibawanya hari ini. Sembari memakai  sepatunya, ia melahap sendwict yang tadi sempat dibuat. Kotak susu yang ada ditangan kirinya hanya tinggal setengah karena ia meminumnya sangat cepat. Hyejin harus bergegas karena Jong In sudah menunggu di lobi sejak setengah jam yang lalu.

Pintu apartement ditutupnya dengan terburu-buru. Gadis itu berjalan kilat hingga sampai di lobi. Dari jauh pun ia bisa melihat sosok sahabatnya.

“Jong, mianhae. Aku bangun kesiangan lagi.”

“ckk kau ini. ayo berangkat! Atau kita akan ketinggalan bus.”

“eh? Bukannya kau kemari dengan motormu?”

“itu masalahnya. Motorku di pakai Hyung hari ini. Terpaksa kita harus naik bus.”

Hyejin melongo, fikirnya hari ini ia akan menumpangi motor Jong In dan menikmati angin pagi yang sejuk. Tapi kenyataannya sekarang ia harus naik bus karena Jong In tak membawa benda roda dua itu.

“aishh baiklah. Ya Tuhan, pasti kita akan desak-desakan.” Keluh Hyejin, Jong In juga terlihat lesu. Tak mau membuang waktu keduanya berjalan keluar lobi apartement. Jalan menuju halte cukup dekat sehingga mereka tak akan kelelahan.

‘tiiiin’

“ommo”

Jong In maupun Hyejin terjengkit kaget saat suara klakson berbunyi keras. Mesin mobil di belakang tubuh keduanya mati, dan seseorang kini keluar dari sana.

Baru  saja Hyejin hendak mengoceh tapi saat melihat si pemilik mobil mulutnya otomatis terkatup. Seketika hatinya berubah jengkel. Pagi-pagi seperti ini perutnya sudah mual karena melihat Byun Baekhyun.

“Selamat pagi, Hyejin-ah. ahh Kim-Jong  In-ssi?”

“ah ya. Selamat pagi sunbae-nim.” Balas Jong In terdengar datar.

“Jong, cepatlah atau kita ketinggalan bus.” Hyejin menarik tas Jong In. Belum sempat berjalan tapi Baekhyun sudah menghadang jalan dua orang itu.

“ah sepertinya kalian butuh tumpangan?”

“tidak. Terimakasih!.Jong. Cepatlah!”

“eh? Emm aku-“

“Kau harus berangkat bersamaku Hyejin-ah. kalau tidak, kau tak bisa masuk perpustakaan kesayanganmu itu hari ini.” Ujar Baekhyun dengan smirk yang malah terlihat manis. Hyejin menatap curiga.

“apa maksudmu.?”

Baekhyun terlihat merogoh sesuatu dalam saku celananya. Setelah memperlihatkan apa yang ada di tangannya Hyejin langsung melotot. Gadis itu mengecek isi tasnya, dan ternyata satu barangnya ada yang hilang.

“Ya! bagaimana bisa Id Card’ku ada padamu? Cepat kembalikan!”.

Hyejin berusaha mengambil id card perpustakaan namun Baekhyun menjauhkannya.

“akan ku kembalikan jika kau mau berangkat bersamaku”

“Jong tolong aku!” pinta Hyejin pada sahabatnya, namun pemuda berkulit tan itu malah terlihat bingung.

“ ayolah. Hanya pagi ini saja. aku sangat merindukanmu.” Ucap Baekhyun. Hyejin mengepalkan tangannya, pertanda ia sangat marah saat ini. Ia bertanya-tanya bagaimana bisa kartu member perpustakaannya ada pada Baekhyun. Ah iya, Hyejin baru ingat. Beberapa hari yang lalu Baekhyun mengganggunya saat di perpustakaan. Pasti pria itu pasti mengambilnya saat ia lengah.

“dasar pencuri. Kau sengaja mengambilnya kan?.”

“ya. Aku memang mencurinya.” Jawab Baekhyun yang tak merasa bersalah sama sekali.

Jong In mengusap wajahnya, bingung dengan keadaan saat ini. Sungguh ia menjadi penakut seperti itu di hadapan Baekhyun. Pernah sekali ia mengancam Baekhyun dan ujung-ujungnya ia mendapat skors dari dosennya.  Pemuda yang menggilai sahabatnya itu memang berkuasa.

“sial”

Hyejin mengacak rambutnya yang sudah rapi. Beberapa detik ia berfikir, dengan galaknya ia menatap Baekhyun. Hari ini sangat penting, jika ia tak ke perpustakaan maka tugasnya akan tertunda.

“baiklah. Dengan sangat terpaksa aku akan menurutimu. Tapi aku ingin Jong In tetap ikut.”

“Yakk!” protes Jong In. Dengan takut-takut pemuda itu menatap Baekhyun.

Baekhyun menimbang, dan setelahnya mengangguk setuju. Tangannya langsung menarik Hyejin menuju mobilnya.

“lepas. Atau aku akan meneriakimu penculik.”

“auhh menakutkan. Aku hanya takut kau akan kabur.”

“cihh”

.

.

.

Baekhyun mendesah, matanya melirik Hyejin yang sedang memainkan ponsel di bangku belakang. Sedangkan di sampingnya ada Kim Jong In. Tadi Hyejin bersikukuh untuk duduk di belakang, jika tidak gadis itu mengancam akan pulang dan membolos kuliah. Dengan berat hati Baekhyun menuruti, daripada rencananya berangkat bersama Hyejin gagal. Dan bodohnya ia langsung memberikan id card Hyejin setelah di dalam mobil.

“Ya! jam berapa kalian selesai?” tanya Baekhyun pada Jong In.

“eum sekitar pukul 10.00 sunbae-nim.”

Baekhyun hanya ber ‘o’ ria. Matanya kembali melirik sipion, dan sekarang barulah Hyejin menatapnya.

“berhenti menatapku seperti itu. Kau sengaja menakutiku heum?” tanya Baekhyun. Hyejin memutar malas kedua bola matanya.

“hah.. sudahlah fokus menyetir saja. Aku tidak mau kecelakaan.”

“aku tak akan membiarkan gadis yang kusayangi terluka.”

“dasar gila!. Sudah kukatakan aku ini milik orang lain.”

Keduanya membuat suasana dalam mobil menjadi berisik. Jong In memakai earphone ke telinganya. Jika bukan karena Hyejin,ia sudah turun dan naik bus. Ia akan membiarkan dua manusia itu adu mulut.

.

.

.

Mobil terparkir rapi. Belum sempat baekhyun membuka mulutnya kini Hyejin sudah keluar dari mobilnya dan berlari. Jong In juga hendak keluar tapi tangan baekhyun menghalanginya.

“w-waeyo, sunbae-nim?”

“kau sangat dekat dengan Hyejin bukan?”

“ya.!”

“Oh Sehun, kau pasti juga mengenal pria itu? yang katanya kekasih Hyejin?”

Jong In mengerjap. Firasatnya buruk, oh sungguh mengapa kakinya menjadi lemas? Untuk menepis tangan baekhyun saja rasanya berat.

“eum, aku mengenalnya.”

“beri tahu aku semua tentang pria itu. Ceritakan semuanya!”

.

.

.

TBC

 

yeyy chapter 2 post nih. semoga gak aneh ya ^^. Maaf bgt kalo banyak typo nama dan kata. ni ngetiknya pas mata udah setengah melek ^^

cara penyampaian bahasa juga kurang baik.

emoga kedepannya lebih baik lagi.

terimakasih bagi reader yang telah membaca mampir komentar.

Iklan

24 thoughts on “[Author Tetap] Finally, I Got You (2)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s