[Author Tetap] Thank You, I’m Sorry, I love You (TSILY) – Oneshoot

Cast: Park Chanyeol, Go Yana (OC)

Genre: Romance, Sad

Rate: PG-15

Disc: Ini ff ASLI DARI OTAK SAYA. No copas dan plagiat! Like dan comment ya 🙂

.

.

Aku tidak tau bahwa kehilangan akan sesakit ini. Jika saja aku meninggalkan segalanya, aku akan meninggalkan semua itu. ~Unknown

.

.

Yana, gadis itu menatap sekeliling dengan kebingungan mencari seseorang. Matanya melihat orang-orang yang berlalu lalang dengan kesibukan masing-masing. Sesaat ia ingin pergi dari sana namun dirinya muncul.

Mereka saling menatap lalu tersenyum dan itu membuat Yana tersipu. Orang itu adalah Park Chanyeol, laki-laki yang sangat Yana cintai.

“Aku menunggumu sedari tadi!” Chanyeol tersenyum dan mengusap puncak kepala Yana lalu mengelus pipinya dengan lembut seraya berkata, “Maaf, tadi ada masalah sebentar saat latihan.”

Ya, Chanyeol adalah salah satu trainee yang seharusnya dilarang memiliki pacar. Mereka melakukannya diam-diam walaupun mungkin beberapa orang mengetahui rahasia ini.

“Ayo kita pergi.” Chanyeol menggandeng tangan Yana lalu pergi menyusuri jalan hingga tiba di suatu tempat makan.

Mereka memutuskan untuk makan Jajjamyeon. 

“Oppa, bagaimana jika kau terkena masalah atas hubungan kita?” Tanya Yana yang merasa khawatir beberapa hari ini. Walaupun itu sudah 2 bulan lebih sejak mereka berkencan.

“Tidak apa-apa. Lagipula aku juga butuh dirimu. Aku lelah berlatih dan kau adalah vitamin bagiku.”

Yana tersenyum walaupun dalam hatinya ia masih merasa khawatir akan hubungan mereka.

Makanan tiba dan mereka memakannya dengan lahap. Chanyeol bahkan sedikit tertawa saat melihat wajah Yana yang terkena bumbu Jajjamyeon.

“Aishh, kau seperti anak kecil.” Chanyeol tertawa lalu menghapus bumbu itu dari wajah Yana. Yana hanya diam tersipu dengan perlakuan manis Chanyeol.

“Hei, aku ingin menonton film ***.” Ujar Chanyeol mengusulkan.

“Baiklah.”

Mereka menghabiskan makanan lalu bangkit dan pergi menuju bioskop terdekat dengan mobil Chanyeol.

“Oppa, setelah ini aku akan mengatakan sesuatu.” Chanyeol mengangguk dan tetap menyetir dengan aman.

“Apa yang akan kau lakukan jika aku pergi untuk waktu yang lama?” Sontak pertanyaan itu membuat Chanyeol menoleh sejenak.

“Yah, aku hanya berandai-andai.” Yana menatap jendela tidak memandang Chanyeol.

“Aku tidak suka kau berandai seperti itu. Jangan pernah melakukannya.” Yana tersenyum dan mengelus tangan Chanyeol tanpa membalas perkataan itu.

Butuh beberapa waktu untuk sampai di mall terdekat. Mereka turun dan pergi memasuki bioskop. Chanyeol membeli tiket dan Yana membeli popcorn serta cola.

“Aku suka bioskop ini. Disini tidak terlalu ramai.”

“Tentu saja Oppa, ini hari biasa. Semua orang sibuk bekerja dan sekolah.”
“Bukan itu.” Yana menatap Chanyeol dengan bingung. Chanyeol menatapnya dan tersenyum lalu berkata, “itu karena kau berada di sampingku dan mataku hanya akan tertuju padamu. Tidak ada orang lain di duniaku saat aku bersamamu.” Yana memukul pelan lengan Chanyeol lalu berjalan mendahului Chanyeol yang hanya tersenyum.

Film terasa hanya sebentar bagi Yana. Chanyeol tertawa dan kegirangan selama film diputar. Yana senang bahwa Chanyeol senang karena itu, mungkin akan menjadi yang terakhir bagi Yana untuk melihat Chanyeol tersenyum puas sedekat ini.

“Aku sangat mencintaimu.. Park Chanyeol.” Bisik Yana yang tidak terdengar oleh Chanyeol yang asik berkomentar tentang film dihadapan mereka.

Film telah selesai di putar. Chanyeol dan Yana berbincang tentang film yang baru mereka tonton hingga mereka keluar dari bioskop.

“Oppa, apa yang ingin kau lakukan?” Tanya Yana seraya sendu Chanyeol yang terlihat berfikir. “Ayo kita lakukan apapun yang kau inginkan hari ini.” Tambah Yana seraya tersenyum dan menggandeng lengan Chanyeol.

“Ayo kita lihat topi!” Mereka berjalan menuju salah satu toko yang menjual topi di mall itu. Chanyeol menatap topi-topi itu dengan mata berbinar.

Chanyeol menatap topi 1 dengan topi lainnya lalu memperlihatkannya kepada Yana.

“Yana-ah.” Panggil Chanyeol. Yana yang sedang melihat sekeliling langsung mendekati Chanyeol dan tersenyum.

“Yang mana?” Yana langsung menunjuk topi di tangan kiri Chanyeol. Topi snapback hitam dengan tulisan C keren berwarna putih.

Chanyeol memakainya lalu memberikan topi berwarna putih dengan simbol Y berwarna hitam kepada Yana.

“Aku Chanyeol dan kau Yana. Kau milikku.” Bisik Chanyeol di telinga Yana, membuat Yana geli dan tertawa.

“Aku sangat mencintaimu. Terimakasih..”

Mereka membayar topi itu lalu keluar dari mall dan pergi ke toko gitar. Yana menatap sebuah gitar berwarna merah, coklat bercampur putih. Gitar itu terlihat indah dan mengesankan.

“Bagus kan?” Yana mengangguk lalu menyentuh itu dengan pelan.

“Aku juga menyukainya.” Pandangan Yana beralih ke Chanyeol. Chanyeol menggeleng, “itu terlalu mahal. Mungkin suatu saat nanti saat aku sudah debut.” Yana tersenyum dan mengelus pipi Chanyeol. “Aku akan menunggu dirimu memainkannya.” Ujar Yana membuat Chanyeol tersenyum.

Mereka memandang gitar sekali lagi sebelum keluar dari toko itu dan pergi ke festival malam.

Chanyeol memainkan beberapa game tembak-tembakan dan mendapatkan sebuah kegagalan. Yana tertawa melihat wajah Chanyeol yang kesal.

“Oppa, biarkan aku mencoba!” Chanyeol terlihat terkejut namun membiarkan Yana melakukannya dengan senang.

Yana mulai menembak dan gagal pada kesempatan pertama dan kedua namun ia berhasil memenangkan sebuah kamera kecil. Chanyeol terlihat malu namun ia turut senang atas keberhasilan Yana.

Mereka berfoto di tempat itu sebagai kenang-kenangan. Chanyeol merangkul Yana dan tersenyum dalam foto itu. Mereka terlihat sangat amat bahagia hingga terlihat seperti mimpi.

Chanyeol mengecup pipi Yana di foto ke dua. Yana terkejut namun tersenyum dan mencium bibir Chanyeol walaupun malu-malu.

Mereka memakan jajanan pinggiran seperti Fish cake, Hotteok, gulali dan berbagai macam jajanan kecil lainnya sebelum menikmati kembang api yang terlihat indah malam itu.

Yana mengabadikan kembang api itu dalam kameranya. Wajah Chanyeol yang tersenyum dan melihat ke arahnya membuat Yana puas. Mereka menikmati festival itu.

Chanyeol mengantar Yana pulang setelah itu. Yana mempersilahkan Chanyeol mampir sebentar bertemu orang tua Yana yang sedang berkumpul di ruang tamu menikmati acara tv.

“Malam Tuan dan Nyonya Go.” Sapa Chanyeol saat memasuki rumah Yana.

“Eomma, Appa aku mau bersama Chanyeol sebentar lagi.” Tatapan Yana terlihat sendu membuat tuan dan nyonya Go merasa bersalah dan mengangguk. Chanyeol tidak menyadarinya dan tersenyum.

“Ayo Oppa!”

Mereka menaiki lantai 2 dan masuk ke dalam kamar Yana. Chanyeol sering masuk ke kamar Yana, mereka sudah terbiasa sehingga keadaan tidak canggung.

“Aku sangatttttt ingin bersamamu hari ini.” Chanyeol tersenyum saat Yana memeluknya. Ia membalas pelukan erat Yana lalu mereka melepaskan pelukannya.

Chanyeol dan Yana duduk dan mulai menikmati masa romantis mereka. Yana bersandar di bahu Chanyeol.

“Oppa” panggil Yana yang dibalas gumaman.

“Aku sangat senang hari ini.”

“Aku bahkan lebih senang darimu. Kita melakukan hal yang kuinginkan hari ini. Semua itu telebih karena kau selalu di sisiku.” Yana tersenyum lalu memeluk Chanyeol hingga mereka saling berhadapan.

“Aku sangat senang kau di sisiku..” suara Yana terdengar berat.

“Aku sangat mencintaimu.” Suaranya semakin berat dan serak.

“Aku sangat amat mencintaimu.” Pelukkan Yana sangat erat seakan tidak akan melepaskannya namun kata-kata yang ia ucapkan berbeda.

“Tapi aku harus melepaskanmu..” suara Yana sangat kecil seakan berbisik namun juga sangat menyakitkan. Chanyeol cukup mendengarnya dan terkejut.

Tetesan air mata terus menetes di baju Chanyeol namun Chanyeol tidak bergeming. Wajahnya terlihat pucat dan masih kaget. Yana melepaskan pelukannya dan mencoba menatap wajah Chanyeol namun Chanyeol kembali memeluknya dengan erat.

“Jangan pernah mengucapkan hal itu.” Ujar Chanyeol dingin membuat Yana semakin meneteskan air matanya.

“Aku tidak ingin.. tapi aku harus oppa..”

Yana melepaskan pelukan mereka dan menatap Chanyeol dengan mata basah.

“Aku minta maaf..” Chanyeol masih tidak bergeming. Ia hanya menatap Yana seakan ini semua hanya lelucon Yana namun nyatanya tidak. Gadis itu menangis di hadapannya. Ia mengatakan hal yang gila namun nyata.

“Aku dan keluargaku akan pindah. Kami akan pindah ke AS. Appa mendapat pekerjaan di sana. Kami mungkin akan menetap di sana. Aku akan berkuliah di sana.” Yana mengatakannya dengan mata menatap lantai. Ia menghapus air matanya dan menatap Chanyeol.

“Ini sudah berakhir..” lirih Yana membuat Chanyeol menatap Yana dengan marah.

“APA YANG BERAKHIR?!” Teriak Chanyeol dengan mata merah antara marah dan sedih.

“Aku mencintaimu Yana-ah, kita bisa melakukan hubungan jarak jauh. Aku akan menelponmu setiap hari tapi tolong… jangan mengatakan hal itu..” Yana menahan tangisnya dengan susah payah. Wajahnya memerah dan matanya berair namun ia berusaha tidak menangis. Chanyeol memegang bahu Yana dan menatap Yana dengan sendu.

“Tolong jangan lakukan ini..” lirih Chanyeol yang tidak diberikan balasan oleh Yana. Yana hanya terdiam menatap Chanyeol.

“Terimakasih.. untuk hari ini, kemarin, setiap hari yang kita lewati bersama. Maafkan aku.” Chanyeol melepaskan tangannya dari bahu Yana.

“Pulanglah, kau pasti lelah.” Chanyeol tidak habis fikir. Chanyeol menatap Yana lama sebelum benar-benar melangkah pergi dari balik pintu.

Lalu pintu terbuka dan menampakan Chanyeol yang kembali.

“Kau bilang kita akan melakukan apa yang kuinginkan bukan?” Chanyeol melangkah mendekati Yana yang sudah berdiri.

“Maafkan aku..” lirih Chanyeol sebelum menempelkan bibirnya di bibir Yana dan melumat bibir itu. Air mata Yana mengalir membuat ciuman itu terasa asin. Ia membalas ciuman itu. Ciuman terakhir dan ciuman perpisahan mereka.

Chanyeol menatap Yana yang berlinang lalu memeluk Yana. Dekapan hangat untuk terakhir kali itu membuat air nata Yana berjatuhan namun Yana menghapusnya dengan cepat.

“Maafkan aku membuat perpisahan ini terasa lebih menyakitkan..” Chanyeol pergi setelah mengucapkan hal itu. Pintu tertutup dan sepersekian detik berlalu namun tidak ada yang membuka pintu itu. Saat itu juga Yana menangis tersedu-sedu.

Ia menangis dan berteriak. Memanggil nama Chanyeol dan meminta maaf berkali-kali namun tidak ada yang berubah. Mereka pada akhirnya tetap berpisah..

Chanyeol turun dan berpamit dengan cepat kepada tuan dan nyonya Go yang terlihat sedih melihat kepergian Chanyeol. Mereka bisa melihat raut sedih dan kecewa Chanyeol namun itu semua sudah diputuskan. Tidak ada yang bisa mereka perbuat..

Setelah Chanyeol keluar, suara teriakan Yana terdengar histeris. Yana menangis dengan sangat kencang hingga tuan dan nyonya Go berusaha menenangkan dirinya.

Chanyeol memasuki mobil dan melesat begitu saja namun berhenti di tengah jalan dan mengeluarkan segalanya. Ia menangis dan memukul setir mobil dengan kencang hingga membuat suara klakson terdengar. Saat itu dirinya menangis sendirian di dalam mobil.

Mungkin memang ini akhirnya..

Hari yang indah itu berubah menjadi hari perpisahan mereka.

keesokan harinya.

“Yeol!” Dengan lesu dan mata yang masih terlihat sembab Chanyeol membalas panggilan itu dengan gumaman.

“Ada paket untukmu.” Chanyeol berdiri dan berjalan mendekati paket yang cukup besar. Beberapa teman Chanyeol seperti Baekhyun, Chen, Kai dan Sehun datang dan melihat paket tersebut.

Baekhyun mengambil kertas yang tergantung di ujung kado tersebut lalu ia tau dari siapa kado itu dan pergi meninggalkan Chanyeol sendirian dengan surat dan kado itu.

Dear Chanyeol.

Terimakasih atas segalanya. Beberapa bulan ini hidupku sangat berwarna. Terimakasih untuk berada di sisiku. Kau harus terus berlatih dengan giat, itu satu-satunya caraa agar aku bisa melihatmu kembali. Jadilah seorang bintang besar, buatlah konser suatu saat nanti di AS, saat itulah kau harus mengingatku.  Aku akan ada di salah satu bangku, memegang light stick yang bersinar terang seperti salah satu bintang dalam kegelapan ruangan konser..

Maafkan aku.. aku memberikan hadiah ini untuk terakhir kalinya.

Maafkan diriku yang egois karena masih mencintaimu saat aku benar-benar menyakitimu..

Aku mencintaimu, Park Chanyeol.

Chanyeol menjatuhkan dirinya dan menatap kado itu. Perlahan ia membuka kotak besar itu hingga menyisahkan sebuah gitar yang ia kenal. Gitar yang sama saat mereka saling menatap di mall. Gitar yang mereka ber2 sukai..

.

.

TBC/END? like dan comment ya!

Iklan

15 thoughts on “[Author Tetap] Thank You, I’m Sorry, I love You (TSILY) – Oneshoot

  1. Aku komen disini deh skrg. Aku jg suka ff author. Bikin penasaran. Ini chaptered kan? Aku tunggu lanjutannya. Semangat.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s