Dirty Breath [Chapter 4]

dirty-breath

DIRTY BREATH

a story by Alkindi, staring by Oh Sehun & Khanza Kim, AU Drama, Romance, Sad, Crime, Marriage life and PG-17 rated.

Previous : INTRO | CHAPTER 1 | CHAPTER 2 | CHAPTER 3

Recomended Songs : Kehlani – Gangsta ; Zayn – I don’t Wanna Live forever

Budayakan baca Author Notes !

Hidupmu, nafasmu, kotor. Kau hidup dan bernafas dengan kotor. Kau makan minum dan membeli semua yang kau inginkan dengan uang yang seharusnya bukan milikmu. Maka dari itu hingga sekarang kau hidup dengan nafas yang kotor.

Kau Seung Wook.

Kau yang dimaksud. Hidup yang selama ini kau jalani bukan untuk mencari kebahagiaan, tapi untuk mencari pundi-pundi uang. Lantas mau apa lagi, memang itulah tujuan hidup yang Seung Wook lakukan. Apapun caranya akan Seung Wook lakukan untuk mendapatkanya, dan apapun juga yang menghalangi Seung Wook akan ia musnahkan. Apapun itu termasuk keluarganya.

Masih ingat Gymnaste Olympic ? Project terbesar di daerah gangnam yang akan di bangun berpuluh-puluh tahun yang lalu ? Tapi gagal. Kalian tahu dalang dibalik semua itu ? Bahkan tak ada yang mengetahuinya sampai sekarang. Polisi sempat megincar Seung Wook sebagai pelaku utama, tapi mereka tak memiliki bukti yang akurat untuk menguatkan tuduhan mereka. Maka hingga saat ini kasus Gymnaste Olympic dihentikan.

Hingga saat ini ada satu orang yang mengetahui perihal hal itu, Khanza. Putri Seung Wook sendiri. Gadis itu tau betul kejadian korupsi yang dilakukan ayahnya itu. Dengan dana trilunan yang di simpan di banker bawah tanah, rekaman pembicaraan Seung Wook, kasus pembunuhan ibunya, semuanya diketahui pasti oleh Khanza. Maka hal itu yang membuat Seung Wook mengincar Khanza hingga sekarang. Gadis itu sangat berbahaya, ia bisa mengatakan perihal tentang Seung Wook sewaktu-waktu pada siapapun. Maka dari itu Seung Wook memerintahkan para pria suruhanya untuk membawa Khanza, hidup atau mati.

Karena ikatan darah, tidaklah berarti lagi bagi Kim Seung Wook.

“Tuan, kami menemukan putrimu !”

Ucap seorang pria yang baru saja masuk ke dalam ruangan Seung Wook dengan nafas tersengal-sengal. Seung Wook mengangkat satu alisnya setelah itu, dan bibirnya membentuk senyuman, lebih terlihat seperti smirk licik bagi siapapun yang melihatnya. Sedetik kemudian pria itu bangkit dari duduknya dan berjalan menghampiri pria suruhanya.

“Bagus,” ucap Seung Wook sambil mengelus bahu pengawalnya, tapi pengawalnya malah terlihat takut dan khawatir.

“Lalu kenapa kau masih di sini !” Lanjut Seung Wook berteriak tepat di depan wajah pria itu, bibir pria itu sedikit membuka, hendak mengatakan sesuatu tapi nyalinya tertahan untuk melakukanya.

“Itu, Khanza bersama dengan putra Presiden Da Young.” Ucap pria itu menunduk, tak berani menatap Seung Wook yang terlihat sangat shock dengan kalimat yang baru saja ia ucapkan.

“Kenapa bisa ?” Tanya Seung Wook naik pitam.

“Aku tidak tahu, yang jelas mereka terlihat sangat dekat. Mungkin pria itu yang menyelamatkan Khanza, tuan.”

Setelah mendengar perkatan pria suruhanya tadi, Seung Wook terlihat berfikir keras. Putra presiden ? Bukankah artinya dia akan berurusan dengan putra presiden jika ia mengambil Khanza dari tangan Sehun. Lagipula untuk apa Sehun menyelamatkan Khanza, bahkan mereka tak saling mengenal sebelumnya.

Dan ini sangat bahaya dan perlu di waspadai, Khanza bisa mengatakan apapun tentang Seung Wook pada Sehun, dan Sehun bisa saja mengatakanya pada ayahnya, Dae Young. Setelah itu Seung Wook tak punya harapan lagi untuk menghirup udaranya yang memang sudah kotor—dan akan menjadi lebih kotor dari sebelumnya. Salah satu tanganya tergerak untuk memukul tembok di depanya.

Damn, kenapa dunia sempit sekali.” Ucap Seung Wook mendesah sambil mengacak rambutnya dengan tangan yang berlumuran darah.

Untitled-1

Sudah 30 menit perjalanan Sehun kembali ke Mansionya. Dengan Khanza yang masih terduduk di jok belakang motornya. Gadis itu terlihat lelah tapi masih bisa-bisanya menelentangan kedua tanganya dan membuka mulutnya untuk menghirup udara yang memang sangat segar itu.

tree-lined-street

Mereka kembali ke Mansion tanpa di temani oleh pengawal Sehun, itu karena masalah privasi yang terus di jaga oleh pria itu. Ia tak mau jika nanti pengawal itu tahu, mereka akan menjemput Sehun pulang saat ayahnya ingin bertemu atau sekedar berbicara dengannya. Sebenarnya beberapa dari mereka ada yang mengetahui letak Mansion Sehun, tapi bukan Sehun namanya jika tak bisa membuat mereka tutup mulut dan tidak mengatakan apapun.

Memang jalanan terlihat sangat sepi, tidak ada suara lain kecuali suara mesim motor Sehun yang memang sedang melaju dengan kecepatan yang cukup tinggi. Sehun menatap Khanza dari spionnya, gadis itu terlihat mulai lelah, dan detik berikutnya kepala gadis itu sudah tersender di punggung Sehun. Bagaimana bisa dengan keadaan seperti ini seseorang bisa tertidur ? Bukan Khanza namanya kalau tak bisa melakukanya.

Sehun menarik dan menggenggam salah satu tangan Khanza di pinggangnya, bukan untuk apa-apa, hanya untuk memyelamatkan gadis itu agar tidak mati lebih cepat. Toh jika gadis itu mati, Sehun juga yang direpotkan. Sehun tidak munafik, lagipula untuk apa ia tetap mempertahankan gadis yang identitas dan asalnya tidak jelas seperti Khanza. Tapi kadang ekspetasi tidak sesuai kenyataan, mungkin Sehun akan menunggu apa yang akan terjadi jika ia tetap mempertahankan Khanza.

Di tengah-tengah perjalan, Sehun mengerem motornya mendadak. Membuat gadis yang terlelap di balik punggungya ikut terbangun dan langsung membelalakan mata begitu mengetahui siapa seseorang yang menghalangi jalan mereka. Sehun sama sekali tak menunjukkan rasa takutnya, pria itu cenderung lebih penasaran. Sehun pun langsung turun dari motornya di ikuti dengan Khanza di belakangnya.

Pria tadi mendekat ke arah Sehun.

Bukan. Lebih tepatnya mendekat ke arah Khanza, sementara Khanza terus nersembunyi di belakang punggung Sehun. Sehun tak tahu apa yang terjadi di antara mereka, sampai akhirnya pria itu mengeluarkan suara.

“Siapa kau ?”

Pria itu tak langsung menjawab, ia masih menatapi Khanza dengan tatapan licik. Khanza semakin kaku dan memegang erat pinggang Sehun.

“Kami tak punya urusan denganmu. Kami hanya ingin membawa gadis itu pergi.” Ungkap salah satu di antara mereka. Sehun mengeryitkan dahi dan mengangkat alisnya, setelah itu berbalik menatap Khanza yang mencekram bajunya kuat-kuat.

Mata gadis itu terlihat berkaca, dan wajahnya menjadi pucat pasih, setelah itu Khanza menatap Sehun dengan tatapan memohon sambil menggelengkan kepalanya, seakan ingin mengatakan “Jangan percaya pada mereka.”

Pria itu semakin mendekat ke arah Khanza, tak perduli dengan Sehun yang sedang menutupinya.

“Biarkan kami mengambil gadis itu, setelah itu kami tak akan punya urusan denganmu.” Ungkap salah satu diantara mereka yang melihat Sehun yang berusaha untuk terus menutupi Khanza.

“Kenapa aku harus ?” Balas Sehun santai

Setelah itu salah satu pria di antara mereka mencoba untuk memukul Sehun, tapi pria itu menghindari dan menendang keras pria tadi sampai terpental. Dua pria di belakangnya maju hendak membalas, Sehun dengan senang hati meladeni mereka, dibuktikan Sehun dengan melipat setengah lengan kemejanya untuk mengawali pergulatan .

 Untitled-1

Setelah lama berdiam diri selama 15 menit, akhirnya Khanza memberanikan diri mengambil air, lap, alkohol dan plester untuk mengobati wajah Sehum yang memar memar itu. Sebenarnya Khanza tak berniat melakukan semua ini, nyalinya terlalu ciut hanya untuk bertatapan, apalagi sampai menyentuh.

Sementara Sehun sendiri sedang terduduk di sofa, menyenderkan kepalanya di kepala sofa, melipat kedua tanganya dan memejamkan mata. Mungkin sedang berusaha menahan sakit karena lebam di sekujur wajahnya. Tapi Khanza cukup tertegun, pasalnya pria itu berhasil menghabisi tiga orang dengan tangan kosong. Ini berarti ekspetasi Khanza salah, gadis itu berfikir kalau Sehun hanya pria manja yang memanfaatkan pengawal-pengawal dari ayahnya. Ternyata tidak, Khanza menarik kata-kata itu sekarang.

Gadis itu mulai mencelupkan kain lap ke dalam alkohol, hendak menutulkannya pada luka lebam di wajah Sehun. Tapi yang membuat Khanza terbelalak, Sehun membuka matanya dan menahan tangan Khanza. Pria itu menatap Khanza dingin, sebelum mengucapkan sepatah kalimat

“Pelan-pelan” ucapnya

Lantas kembali menutup matanya. Membiarkan Khanza menutuli luka-luka di wajahnya. Gadis itu dengan pelannya menutuli wajah tegas Sehun. Dengan jarak seintim ini, siapa yang tidak gugup. Apalagi kalau dengan Sehun, pria tampan bak malaikat itu berhasil membuat darahnya berhenti memgalir. Bahkan dengan wajah yang lebam-lebam seperti ini Sehun masih kelihatan tampan.

Astaga Khanza.

Focus.

Gadis itu tak sengaja menutul dengan keras wajah Sehun, membuat pria di depanya memekik kesakitan dan mendorong tubuh Khanza ke samping sofa. Hell, apa yang dilakukan pria itu. Sehun menindih tubuh Khanza di atas sofa, pria itu menatap Khamza dengan tatapan itu lagi, tatapan mengintimidasi.

“Siapa pria tadi ?” Tanya Sehun, menyinggung tentang pria yang mereka temui tadi. Pria berbaju hitam yang bergulat dengan Sehun.

Khanza bungkam, tak berani menjawab. Gadis itu terlihat bergetar hebat. Sehun tahu itu, dan pria itu tak mau menyia-nyiakan keaempatan ini.

“Tak mau jawab ? Ku habisi kau sekarang.” Ancam Sehun, Khanza tidak sebodoh itu untuk tidak mengetahui makna kata ‘menghabisi’ yang dilontarkan Sehun. Tapi gadis itu malah terlihat tenang saja.

“Silahkan. Tubuhku, milikmu.” Ungkap gadis itu tanpa ekspresi. Sehun justru sangat tersentak, gadis itu sangat aneh.

“Apa ?”

“Ya, kau ingat perkataanku saat kau mau menolongku ? Aku akan melakukan dan memberikan apapun padamu—”

“—termasuk jiwa dan ragaku” Lanjut Khanza menantang.

Shit, Sehun hampir menghabisi gadis itu kalau saja handphone di sakunya tidak berdiring. Pria itu menatap Khanza di bawahnya sejenak. Setelah itu beralih dari atas tubuh gadis itu. Khanza sangat lega, gadis itu hanya berpura-pura berani di depan Sehun, padahal sebenarnya gadis itu sangat anti terhadap pria, apalagi sampai bersentuhan. Tapi ini adalah triknya untuk menghindari pria itu.

“Makan malam ?” Ungkap Sehun pada seseorang di seberang telefon, beberapa detik kemudian pria itu mengambil jasnya yang tertanggal dan pergi meninggalkan Khanza di Mansion tanpa mengucapkan sepatah kata pada Khanza yang hingga saat ini masih terduduk di kursi.

 Untitled-1

“Aku sudah dengar dari Suzy” Ungkap pria usia 50-an pada Baekhyun yang baru saja terduduk di kursi ruang keluarga. Semua anggota keluarganya dan para kerabatnya yang duduk berjejer menatap Baekhyun tajam. Sebenarnya ini adalah acara makan malam keluarga besar Byun, tapi semua menjadi menegangkan saat Byun Baekjoon—ayah Baekhyun, menyinggung tentang rencana Suzy dan Baekhyun yang akan bercerai.

Baekhyun terdiam.

Pria itu sama sekali tak menggubris apapun yang dikatakan oleh ayahnya, pria itu memainkan garpu dengan tanganya, dan menatap garpu itu dengan tatapan kosong tak bermakna. Baekhyun larut memikirkan Khanza yang sekarang entah pergi kemana. Dan apakah gadis itu sudah tertangkap oleh pria suruhan Seung Wook. Berhari-hari ini Baekhyun terlihat sangat berantakan.

“Hey punk—“

“Aku mencintai Khanza.” Baekhyun menutup mulutnya rapat setelah tak sengaja salah mengucapkan nama Suzy dengan Khanza. Sontak semua yang ada di meja makan itu menatap Baekhyun tajam, tak terkecuali tyan Byun yang sudah memerah wajahnya.

“Maksudku, aku mencintai Suzy. Dan kami akan berusaha untuk tidak bercerai.” Baekhyun dengan cepat meralat kata-katanya. Dan menggaruk punggung lehernya yang sama sekali tak gatal.

“Khanza ?” Tuan Byun menatap Baekhyun tajam seakan meminta penjelasan tentang siapa Khanza yang dengan tak sengaja disebutkan Baekhyun tadi. Tangan tuan Byun mengepal.

“Jadi karena gadis lain ? Khanza ?” Tegas Tuan Byun penuh penekanan.

“Bukan, aku bisa jelaskan” Baekhyun mulai berdiri dari kursinya.

“Tidak ada yang perlu kau jelaskan. Aku bisa saja membunuh gadis yang bernama Khanza itu jika kau terus mencarinya. Apa yang salah denganmu ? Kau pria bodoh yang meninggalkan semua yang kau miliki hanya untuk gadis yang tak jelas asal usulnya. Kau punya perusahaan, kenapa kau harus ketja di rumah sakit gila itu, dan kau punya Suzy, apa yang kurang dari gadis itu ? Dia cantik dan sangat menyukaimu—”

“— Sadarlah bodoh !” Lanjut tuan Byun.

Baekhyun mulai membuka mulutnya, menanggapi semua perkataan tuan Byun dengan balasan singkat, namun menyesakkan.

“Tapi untuk apa semua itu jika hatiku masih memilih gadis itu, aku mencintai Khanza, bukanya Suzy atau perusahaan.” Ucap Baekhyun menekankan, tuan Byun lantas melayangkan satu pukulan di wajah pria itu.

Rasa sakit akibat memar di wajah Baekhyun tak sebanding dengan rasa sakit hati seseorang yang telah berdiri di balik dinding sedari tadi, seseorang yang mendengar dengan jelas pembicaraan mereka dari awal hingga akhir. Seseorang yang sangat mencintai Baekhyun, dan seseorang yang merupakan sahabat dari wanita yang dicintai Baekhyun.

Suzy.

 Untitled-1

Sehun bergedik ngeri, pasalnya gadis innocent seperti Khanza berubah menjadi liar gara-gara kata yang baru saja ia ucapkan tadi. Kata-katanya sungguh di luar dugaan. Mungkin itu adalah sifat asli Khanza yang baru saja ia ketahui, atau trik lain miliknya yang tak Sehun ketahui.

Pria itu baru saja keluar dari mobilnya dan menuju skybar tempat keluarga Oh melakukan makan malam yang telah di siapkan. Pria itu sedikit melipat kemejanya di lengan. Lantas berlalu memasuki Skybar diikuti olah para pria berbaju hitam di belakangnya. Sementara mobilnya yang awalnya terpakir di depan pintu masuk sudah dipindahkan oleh pengawalnya.

Pria itu tahu apa yang akan terjadi selanjutnya setelah ayah dan ibunya melihat wajahnya yang dipenuhi oleh lebam. Oleh karenanya Sehun sudah berjaga-jaga bila ia mendapatkan serangan omelan dari keduanya. Tapi diluar dugaan, mereka malah menatap Sehun dengan senyuman terpaut di bibirnya. Sehun mengeryitkan dahinya, lantas menarik satu kursi dan duduk di sana.

“Ada apa ?” Tanyanya mantap.

Tuan Oh hendak membalas, tapi terlampaui di sahut oleh Nyonya Oh. “Kenapa kau tak pernah menceritakanya pada kami, Sehun ?” Ungkapnya lembut. Dahi Sehun mengeryit tentunya. Pria itu sama sekali tak mengerti maksud dari kata kata ibunya itu. Dan adiknya, Hayoung, mengeluarkan beberapa lembar foto di sana. Semua orang menatap pada foto itu, terdapat gadis tinggi, rambut curly panjang dan kulit putih terpampang di sana.

rr

Itu Khanza.

Sehun mematung tak bergeming, seakan tahu hal yang akan terjadi selanjutnya.

“Siapa dia ?” Tuan Oh memulai interogasinya, Sehun mulai mencari-cari alasan untuk menjawab pertanyaan ayahnya itu. Kalau Sehun menjawab kalau Khanza itu salah satu dari jalang yang sering ia temui, ini sangat tidak menguntungkan. Karena sampai saat ini Sehun sendiri belum mengerti jati diri Seorang Khanza Kim yang baru-baru ini masuk ke dalam hidupnya. Maka ini satu-satunya yang bisa Sehun lakukan.

“Kekasih—”

“Benar kan !” Nyonya Oh memotong. Sehun mengeryitkan dahinya.

“Kenapa kau tak bawa gadis itu pada kami ? Kami tak akan melukainya, jika memang dia kekasihmu, kenapa kau tak menikahinya saja ?” Lanjut Nyonya Oh.

“Benar, kau sudah cukup matang untuk berkeluaarga sekarang. Ayah sangat mendukungmu jika kau benar-benar mengambil keputusan ini. Keluarga Oh sangat butuh penerus. Dan kau Sehun, siapa lagi kalau bukan kau ? ”

Sehun mematung di tempatnya, ia sedang kehabisan kata kata untuk menimpali perkataan keluarganya itu. Pria itu sedang bergelut dengan pikiran yang membanjiri otaknya.

Untitled-1

Hari ini sepertinya Sehun tidak mampir ke Mansionnya. Hal itu karena sekarang sudah melebihi jam kerjanya. Biasanya Sehun akan langsung pulang ke Mansion nya saat jam 10 malam. Tapi siapa yang peduli ? Ada dan tiadanya Sehun sangat tidak berpengaruh untuk Khanza.

Gadis itu pun segera membuka pintu kamarnya dan berjaan-jalan mengetahui Sehun yang tak kunjung datang. Biasanya kalau ada Sehun ia tidak akan bisa seleluasa ini. Dan ini adalah kesempatan bagi Khanza untuk melihat-lihat Mansion Sehun yang amat besar ini. Sungguh mengesankan. Besarnya menyerupai Sekolah Khanza saat masih kecil dulu.

Gadis itu memberanikan diri mengambil langkah ke arah lukisan kuno yang sangat besar di sisi dinding Mansion itu. Khanza bahkan baru sadar kalau Sehun menyukai style klasik seperti ini. Kesukaanya sangat bertolak belakang dengan sifat dan penampilanya. Ternyata pria seperti Sehun menyukai hal-hal seperti ini.

Khanza berhenti tepat di lukisan klasik yang di sampingnya terdapat vas klasik juga di sisi kiri dan kanan. Tangan gadis itu tiba-tiba saja tertarik menyentuh lukisan klasik itu, sedetik kemudian, tubuhnya terasa berputar, dan benar saja Khanza sudah berpindah tempat sekarang. Tembok itu berputar saat Khanza menyentuhnya.

Luar biasa.

Itulah yang gadis itu rasakan ketika tubuhnya tak lagi berada di tempat sebelumnya, melainkan di tempat lain yang sepertinya bukan merupakan bagian dari Mansion. Matanya tak berkedip melihat bunga-bunga dan tanaman yang ada disana. Di tengahnya, aspek utama ruangan itu terdapat kolam renang yang amat besar. Bagaimana mungkin terdapat taman sekaligus kolam renang sebesar ini di dalam Mansion. Belum lagi akses menuju tempat itu, sangat luar biasa.

Amazing-indoor-swimming-pool-design-idea

Tapi gadis itu tertegun ketika menyadari tanaman-tanaman milik Sehun. Bukankah itu Phillodendrum Marbel Varigatha ? Salah satu jenis tanaman termahal di dunia. Tanya gadis itu dalam hati. Satu tanganya hendak menyetuh daun itu, tapi suara putaran pintu menghentikannya. Dan seorang pria telah bediri di sana.

Itu Sehun.

Dengan tatapan mengintimidasi darinya pria itu berjalan perlahan menghampiri Khanza yang tampak sangat ketakutan dan bergetar hebat. Khanza juga semakin memundurkan tubuhnya ketika Sehun mendekatinya. Gadis itu sangat ketakutan sekarang, pasalnya ia telah memasuki ruangan yang tak seharusnya ia masuki. Gadis itu terus berjalan mundur sampai,

Byur…

Tubuhnya tak sengaja jatuh ke dalam kolam itu. Khanza tidak bisa melihat apa apa di dasar kolam renang yang cukup dalam itu. Gadis itu hanya melambai lambaikan tanganya berharap ada seseorang yang akan membantunya. Tapi siapa lagi yang akan membantunya kecuali si pria yang dengan tenangnya masih berdiri di sana.

Dengan samar-samar Khanza dapat melihat Sehun yang berdiri di sana sambil menatap kearahnya dengan datar. Tak berniat untuk menolong, bahkan Khanza dapat melihat pria itu mulai melangkah meninggalkan tempat itu.

“T-tolong !” Teriaknya, tapi tetap tak menghentikan langkah kaki Sehun.

“Kumohon tolong aku !” Teriaknya sambil terbatuk-batuk.

Gadis itu mulai kehabisan napas hingga tubuhnya kembali tenggelam. Tak apa mungkin ini memang sudah saatnya ia untuk mati, pikir gadis itu putus asa. Matanya mulai tertutup, namun kembali terbuka ketika merasakan sebuah tangan yang menarik pinggangnya dan menangkup tubuhnya. Sehun

Khanza dapat merasakan tubuh Sehun yang hangat di dinginya air kolam renang. Pria itu menarik tubuh Khanza untuk menepi. Dan meninggalkan Khanza setelah ia berhasil naik ke permukaan. Gadis itu menggigil kedinginan, bagaimana tidak ini jam 11 malam dan ia malah berendam di kolam, bibir-bibirnya membiru akibatnya.

Gadis itu tak tahu harus berbuat apa, ia membuat seorang Oh Sehun terjun ke kolam renang larut seperti ini. Khanza pun dengan langkah tergoyong mencoba keluar dari tempat itu. Betapa terkejutnya gadis itu melihat Sehun yang tersungkur di lantai depan pintu masuk tempat tadi. Pria itu sama seperti Khanza, atau mungkin lebih parah.

Wajah Sehun yang sudah pucat semakin menjadi pucat, ditambah lagi dengan bibirnya yang benar-benar berwarna biru itu. Gadis itu pun langsung berlari menghampiri Sehun dan menyentuh dahi pria itu.

“Demamnya sangat tinggi” Gumam gadis itu.

Ia sama sekali tak tahu harus berbuat apa, bagaimana kalau Sehun mati gara-gara dia. Astaga, tangan gadis itu bahkan bergetar karena memikirkan hal itu. Dan mau tak mau ia harus memopang tubuh Sehun ke kamarnya.

Khanza membaringkan Sehun di ranjangnya, dan gadis itu mengompres dahi Sehun untuk menurunkan panasnya. Pastinya sangat gugup sekali melihat wajah rupawan itu dari dekat, apa lagi sampai menyentuhnya. Dan dengan terpaksa, Khanza melepas kemeja basah yang digunakkan Sehun lalu menyelimuti tubuhnya. Ia menetap iba Sehun dan menyalahkan semua kejadian ini karena ulahnya.

Gadis itu mulai beranjak pergi , tapi niatnya tak sampai karena Sehun baru saja menarik tanganya dan langsung menarik tubuh Khanza ke tempat tidur sampingnya. Hal itu membuat kerja jantung Khanza berdetak dengan tidak normal. Ia merasakan rasa malu, gugup, dan takut dalam waktu yang bersamaan. Tapi Sehun debgan tenangnya hanya memeluknya sambil terus memejamkan mata.

Pria itu sama sekali tidak ingin melepaskan Khanza dari dalam dekapanya. Khanza mulai memberikan pergerakan resah dan berusaha untuk melepaskan tubuhnya dari dekapan Sehun yang sangat kuat itu, but still can’t. Khanza sungguh meronta ingin dilepaskan, hungga menicu reaksi Sehun.

“Tetap seperti ini, sebentar saja.” Ucapnya sangat lirih walau masih bisa didengar Khanza.

Khanza lantas menghentikkan pergerakanya, mendengar suara lemas pria itu. Khanza semakin iba melihatnya. Gadis itu masih terus memandangi Sehun yang hampir lelap, hingga saat ini suhu tubuhnya belum juga menurun. Tanganya sangat bergetar, Khanza bisa merasakanya. Gadis itu memberanikan diri untuk menggenggam erat tangan pria itu.

Sungguh ini berbeda seperti Sehun biasanya, salah satu tangan Khanza menggenggam tangan Sehun. Dan salah satunya lagi mengelap keringat didahinya. Khanza tahu Sehun sudah terlelap sekarang.

“Sesakit itukah ?” Ucap Khanza walau Sehun tak mendengarnya.

“Maafkan aku” lanjutnya.

Tangan gadis itu beralih mengelus kepala Sehun, atau lebih tepatnya menenangkan pria itu. Saat setelah Sehun siuman, Khanza ingin bertanya tentang tanaman yang dipelihara Sehun itu. Gadis itu berfikir kalau Sehun memiliki candu terhadap obat-obatan terlarang. Sebenarnya ini sama sekali tak ada hubunganya dengan Khanza, tapi entah mengapa Khanza meenginginkan pria itu untuk berhenti melakukanya.

Gadis itu mengalihkan pandanganya pada Sehun, dan tanpa ia sadari Sehun sudah membuka kedua matanya, menatap lekat Khanza yang berada tepat di depanya. Jantungnya berdetak melebihi batas normal, Sehun dengan mata sayunya mulai membuka mulutnya, hendak mengucapkan sesuatu

“Marry me.”

Sesuatu yang singkat, namun mampu membuat Khanza terbelalak bukan main.

To be continued

a/n:

Halo halo ini Al, very long time no see ya ? Masih ingat gw kan ? Ada yang kangen sama Sehun dan Khanza ? Anyway maaf banget aku telat muncul karena sibuk banget sama real life. Awalnya aku mau discontinued FF ini karena jujur saja gak ada waktu buat menulis. Dan ini aku buatnya diwaktu yang lumayan sibuk juga, tapi aku tetep sempatin lanjut FFnya.Setelah lihat apresiasi reader Dirty Breath, aku jadi kepengen lanjut nulis. Makasih ya komentarnya, maaf gak bisa balas satu satu. Lain kali bakal aku balas satu saty kok.

Oh iya kalo ada waktu follow juga akun wattpadku : @alkindii atau click aja disini. Dirty Breath juga ku publish disana buat yang lebih suka baca di Wattpad.

Jangan pernah jadi siders, karena kamu bakal menyesal karena sudah men-siders i orang macam saya XD masa yang baca 1000 yang komen 100, yang 900 Siders dong ? Masya Allah. Tobatlah wahai Siders yang terkutuk !

Ppai

tumblr_inline_nxk3y2Hbxw1rcn02m_540
Khanza Kim
Iklan

87 thoughts on “Dirty Breath [Chapter 4]

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s