[Author Tetap]-Finally,I Got You (9)

Untitled

ByunPelvis

Main Cast : Byun Baekhyun,Park Hyejin (OC/You)

Other Cast : Oh Sehun,Park Chanyeol,Kim Chanri (Oc),Kim Jong In and Seulgi(Cameo).

Genre : Romance,Angst,Friendship.

Leght : Chapter

Rating :General

Disclaimer : This story is mine. No Copy no paste. Sory for typo.

And Don’t be a silent readers. ^^

Orang yang ku percaya akan cintanya,

Memang telah meninggalkanku.

Jujur Tuhan, aku benar-benar tak tahu bahwa dia akan meninggalkanku.

Sungguh, aku tak tahu.

-I really didn’t know-(Baekhyun ft Chen)


Sebelumnya…….

Chapter 9

Hyejin memasukan beberapa baju ke adalam tas miliknya. Jong In yang juga ada di sana ikut membantu mengemasi keperluan yang akan dibawa oleh gadis itu.

Sahabatnya itu baru saja membelikan Hyejin tiket penerbangan menuju China. Hyejin memesan pemberangkatan tercepat dan itu adalah malam ini. Gadis itu hanya memiliki dua jam untuk bersiap .

“Hyejin-ah. Kau yakin akan ke China sendirian?” cemas Jong In. Pria itu sebenarnya tak tega membiarkan sahabatnya bepergian sejauh itu seorang diri.

“aku akan baik-baik saja selama ada Sehun di sana. Dan aku juga sudah minta ijin pada kedua orang tuaku. ”

Jong In menghela nafasnya. Sebenarnya perasaannya sedikit tidak enak.

“Hyejin-ah. Kau tidak memberi tahu Sehun terlebih dahulu?”

“tentu saja tidak. Bukan kejutan namanya jika aku memberitahu dia.”

Hyejin memakai jaketnya dan keluar dari kamarnya. Ia memeriksa ruangan yang sudah sangat rapi, ia lega. Urusan apartement sudah selesai dan ia jadi tenang untuk meninggalkannya.

“Jong, aku naik taxi saja.”

“tidak. Aku akan mengantarmu.” Tegas Jong In.

“Baiklah.”

.

.

.

Panggilan persiapan pemberangkatan pesawat Seoul-China sudah di umumkan. Hyejin tersenyum senang dan beranjak dari bangku tunggu.

“Jong, kau bisa pulang sekarang. Terimakasih ya sudah mengantar.”

“eum. Kabari aku jika sudah sampai. Ahhh jika saja Soojung-“

“sudahlah. saat ini kekasihmu lebih penting.” Hyejin menepuk bahu Jong in dan berjalan pergi sembari melambaikan tangannya. Jong In mengamatinya hingga gadis itu lenyap di antara banyak orang.

Jong In meraba sakunya, seketika ia terlihat kebingungan. Tak lama kemudian ia menepuk keras dahinya.

“ponselku? Aku meletakannya di sofa Hyejin. Bodohnya kau Kim Jong In.”

.

.

.

Chanyeol mengayunkan kaki panjangnya di lobi apartement  Hyejin. Pemuda itu sedang butuh sepupunya untuk curhat. Baru saja ia bertemu dengan Chanri, namun kekasihnya menyuruhnya pulang seolah tidak mau bertemu dengannya.

Hati Chanyeol sedang gundah. Tak pernah Chanri sekesal itu padanya.

“Chanyeol Hyung?”

“Eoh? Kim Jong In?

Jong In baru saja keluar dari apartement Hyejin, pria itu baru saja mengambil ponselnya. Beruntunglah ia karena Hyejin memberitahu pasrword apartement padanya. Sehingga ia bisa mengambil barangnya sendiri.

Jong In membungkuk pada sunbanya itu dan menyapa cukup akrab, begitupun sebaliknya.

“Hyung , kau mau masuk?”

“ya. Aku mau menemui Hyejin.!”

“ehh? Hyejin sudah berangkat.”

“berangkat kemana?”

“China.”

“APA??”kaget Chanyeol hingga meninggikan volume suaranya.

Jong In kaget mendengar Chanyeol berteriak seperti itu. Reaksi Chanyeol terlalu berlebihan menurutnya.

“kenapa kau terkejut Hyung?”

“Ya! kau bercanda? Untuk apa Hyejin ke China? dia saja baru bersamaku tiga jam yang lalu.” terang Chanyeol.

“Apa Hyejin tidak memberi tahumu? Dia mau menemui Oh Sehun.”

Chanyeol bagai tersambar petir sekarang ,Ia berteriak kesal dan tanpa sadar tangannya menarik kerah Jong In.

“Ya! kenapa kau membiarkannya?”

“H-hyung ada apa denganmu?” tanya Jong In dengan nada takut. Chanyeol menyeramkan sekarang karena melotot padanya.

“kau! Aishhh” Chanyeol melepas cengkraman tangannya pada kerah jong In. Ia menjambak rambutnya frustasi dan berniat menghubungi Baekhyun.Hanya pria itu yang mungkin bisa membantunya.

“aku baru saja mengantarnya ke airport. Dia-“

“seharusnya kau menghentikannya. Ini sangat fatal.”

Jong In semakin bingung. Kenapa Chanyeol terlihat marah dan menyalahkannya? Kenapa memang  jika Hyejin ke China? Jong In sungguh tak mengerti.

Chanyeol berlalu dari hadapan Jong In setelah Baekhyun mengangkat panggilannya.

“wuaahh sebenarnya ada apa?.”

Jong In masih bingung menatap kepergian sepupu Hyejin itu.

.

.

.

Baekhyun semakin cepat mengendarai mobilnya setelah masuk khawasan Icheon. Dan tujuannya kali ini adalah airport.

Tak lama bagi pria itu untuk sampai, ia langsung masuk tanpa memikirkan mobilnya yang terparkir tidak rapi. Airport begitu ramai, membuatnya kesulitan mencari seseorang.Untuk lebih jelas, pria itu  langsung menuju tempat chek in.

“Permisi, apa penerbangan menuju China sudah lepas landas?” tanya Baekhyun pada salah satu petugas loket. Nadanya terdengar buru-buru.

“anda ingin memesan-”

“YA! jawab saja pertanyaanku! Apa penerbangan menuju China malam ini sudah lepas landas?”

Petugas airport itu kaget karena Baekhyun bicara setengah membentak. Ia memandang Baekhyun dengan tatapan tidak suka.

“n-nde, penerbangan menuju China sudah lepas landas dua puluh menit yang lalu.”

“andwe.”

Ucapan petugas loket itu membuat kaki Baekhyun lemas.

Perlahan ia mundur, berbalik dan berjalan lunglai menuju kursi yang tersedia di tempat itu. Baekhyun duduk sembari membenamkan wajah di kedua telapak tangannya.

Ia telat, sangat telat untuk mengentikan Hyejin.

.

.

Baekhyun memasuki apartemetnya dengan wajah berantakan. Chanyeol yang sudah menunggu sedari tadi langsung menghampiri pria itu. Yang didapatinya adalah wajah kacau Baekhyun.

“Ya! kau darimana saja? aku bingung sendiri memikirkan Hyejin.”

“airport.”

“apa? apa yang kau lakukan? Mencegah Hyejin?”

“eum. Tapi dia sudah pergi.”

Chanyeol memejamkan matanya. Tangannya terangkat untuk memijit kedua pelipisnya.Kepalanya bertambah pusing sekarang.

“Baek, sepertinya aku harus mengambil penarbangan China besok pagi. Aku khawatir dengan gadis itu.” ujar Chanyeol. Ia sudah memikirkannya, Hyejin lebih penting sekarang.

“aku juga.”

“tidak. kau tetaplah di sini.”

Baekhyun bertanya-tanya mengapa dirinya tak boleh ikut terbang ke China. Ia menghela nafas pasrah. Ya , mungkin Chanyeol benar jika ia harus tetap di Seoul. Lagipula Hyejin pasti tidak suka jika dirinya ikut campur dengan urusan gadis itu. Baik, Baekhyun akan menunggu saja sampai Chanyeol kembali membawa Hyejin.

“Yeol, menurutmu apa yang akan terjadi pada Hyejin?”

“huhh… perasaannya pasti sangat terpukul.”

Baekhyun takut membayangkannya. Ia tak pernah bisa melihat gadis yang disayanginya terpuruk. Mendapati Hyejin menangis saja sudah membuat dadanya sangat sesak.

.

.

Hyejin melangkahkan kakinya keluar dari  Shanghai Airport. Gadis itu tersenyum lega karena perjalanannya malam ini lancar. Jam sudah menunjukan pukul 1 pagi. Dan menurutnya terlalu tidak sopan untuk berkunjung ke tempat tinggal Sehun. Gadis itu berencana untuk chek in hotel terlebih dahulu sembari menunggu waktu yang pas.

Kaki mungilnya berlari kecil setelah melihat Taxi dari arah kanan, tangannya terulur untuk menghentikan mobil itu.

“Sir, take me to the nearest hotel, please!”

Setelah masuk ke dalam taxi Hyejin langsung bicara pada driver. Ia meminta pada pengemudi untuk mengantarnya ke Hotel terdekat dari aiport. Hyejin tidak menguasai bahasa China, jadi setiap pergi ke luar negri dia mengandalkan kepandaian bahasa inggrisnya.

“sure.”

Taxi itu mulai melaju membelah jalan. Hyejin duduk manis sembari mengamati indahnya malam di kota Sanghai. Netranya kemudian beralih pada sepotong kertas yang selalu di genggamnya. Note itu berisi catatan alamat Sehun yang Jong In berikan padanya.

Sebelum keberangkatannya, sahabatnya itu mencari keseluruhan profil Sehun. Dan karena kepandaiannya meng’hacker internet, Jong In  langsung mendapatkan alamat sehun yang ada di Shanghai.

Hyejin kembali menunjukan senyumnya,sungguh terlihat sangat bahagia. Gadis itu sangat tidak sabar untuk menemui kekasihnya. Rasa rindu yang sudah menumpuk selama dua tahun ini seolah akan meledak. Hyejin tak bisa menunggu lebih lama lagi. Gadis itu mengorbankan segalanya untuk bertemu Sehun. Bahkan ini pertamakalinya ia berani mengambil cuti kuliah hanya untuk menemui seseorang. Ia berharap waktu cepat berlalu, agar Hyejin cepat bertemu pria tercintanya.

.

.

Matahari terlalu rajin menujukan wujudnya,padahal jam masih menunjukan pukul 06.00. Pagi hari di kota Sanghai sudah di padati oleh masyarakat negara tirai bambu itu. Tidak hanya para pelajar, orang kantoran maupun karyawan terlihat terburu-buru untuk memulai hari mereka.

Waktu terlalu cepat, jarum jam terus berputar hingga kini menunjukan angka 9. Suara knalpot kendaraan semakin bising bahkan sampai terdengar hingga lantai dua disebuah hotel.

Hyejin yang tadinya tertidur pulas jujur saja merasa terganggu. Perlahan kelopak matanya terbuka dan ia melenguh kecil.

Matanya baru setengah terbuka saat ia melihat jam di layar ponselnya. Tepat saat itu juga matanya terbuka sempurna.

“ya ampun. Park Hyejin kau terlalu asik dengan mimpimu” Ocehnya setelah merubah posisi tidurnya menjadi duduk. Gadis itu menurunkan kaki ke lantai dingin, berjalan menuju tirai dan membukanya.

Sinar mentari langsung menyengat indra penglihatannya. Dari lantai dua pun pemandangan kota di bawah sana sudah membuatnya bungkam. Tidak berbeda dengan Seoul, pikirnya. Namun negara yang di pijakinya saat ini lebih besar dari Korea.

“Sehun-ah. Rumahmu yang mana?”  celotetnya sembari mengamati satu persatu bangunan di sana. Detik selanjutnya ia tersenyum senang membayangkan satu hal.

“aku tidak percaya kita berada satu negara lagi Sehun-ah. Aku akan menghampirimu.” Girangnya. Tangannya terulur untuk merasakan angin yang sesegar perasaannya saat ini.

Sedangkan pagi hari di kota Seoul, seorang pria terlihat malas menyeret kakinya.Hari ini Baekhyun berangkat sendiri untuk menghadiri jam kuliah. Wajah dan ekspresinya terlihat buruk. Jika biasanya ia tersenyum pada setiap mahasisiwa yang menyapanya, kini pria itu hanya mengabaikannya seolah hanya angin yang lewat.

Chanyeol sudah terbang ke China tadi pagi. Dan sekarang hatinya gundah tak karuan. Mati-matian Baekhyun menahan keinginannya untuk ikut pergi. Bahkan tadi malam ia tidak bisa memejamkan matanya hanya karena memikirkan satu hal. Lingkaran hitam di sekitar matanya terlihat sangat jelas.Park Hyejin benar-benar membuatnya overdosis.

Mata Baekhyun kini terkunci pada satu orang yang sedang berdiri dua meter di hadapannya. Ia melangkahkan cepat untuk mendekat.

“Kim Jong In-ssi. Bisakah kita bicara?.”

Jong In yang tadinya sedang bercanda dengan Soo Jung kini mengalihkan pandangan.

“aku?” tanya Jong In menunjuk dirinya  sendiri.

“eum.”

“maaf sunbae-nim, tapi aku sedang-“

“ini menyangkut Hyejin maupun Oh Sehun.” Potong Baekhyun sebelum Jong  In menyelesaikan ucapannya. Pria berkulit tan itu memandang kekasihnya dengan bimbang. Soo Jung menyuruhnya untuk menuruti Baekhyun.

Akhirnya Jong In menurut. Ia juga penasaran dengan apa yang akan sunbae-nya  tanyakan.

Keduanya berjalan entah kemana, hingga sekarang berhenti di sebuah ujung koridor yang cukup sepi. Baekhyun tak punya banyak waktu untuk bicara di tempat nyaman seperti rooftop.

“ada apa? apa yang ingin kau tanyakan?”

Jong In memulai untuk berbicara karena Baekhyun tak unjung membuka suara.

“kenapa kau membiarkan Hyejin pergi?”

Jong In berdecak dan melipat tangan di depan dada. Ternyata Sunbaenya itu mulai bertingkah seprti detektif.

“Sunbae-nim, aku tidak tahu mengapa kau maupun Chanyeol Hyung heboh dengan kepergian Hyemi. Sunbae, gadis itu sangat merindukan kekasihnya. Oh sehun ulang tahun dan Hyejin berniat memberi kejutan dengan mengunjunginya. Apa itu sebuah kesalahan?” tanya Jong In dengan nada herannya. Sekarang ia tahu mengapa Hyejin sangat sebal dengan pria di hadapannya itu. Ternyata Byun Baekhyun orang yang ingin tahu sekali urusan orang.

“itu sangat salah. Bukankah kau itu sahabatnya?”

“apa? ya, justru aku akan sangat keterlaluan jika mencegahnya bertemu dengan kekasihnya.” Elak Jong In. Ia tak terima di salahkan oelh Baekhyun.

“Kim Jong In-ssi, apa kau belum tahu apa yang terjadi dengan Oh Sehun?”

Jong In menautkan alisnya, ia tidak mengerti dengan apa yang Baekhyun ucapkan.

“apa? memang apa yang terjadi?” tanyanya. Ia sebenarnya mulai malas meladeni orang itu.

Baekhyun tidak bisa menyembunyikan kebenaran tentang Oh Sehun kali ini. Ia akan menceritakannya pada Jong In. Biarlah, toh mungkin hari ini Hyejin akan tahu kenyataan yang itu.

“Oh Sehun, sebenarnya dia..”

.

.

.

Hyejin baru saja chek Out dari Hotel. Setelah bersiap dan mengisi perutnya ia langsung pergi untuk tujuan utamanya, yaitu menemui kekasihnya. Hyejin berjalan menelusuri pinggir kota Sanghai. Begitu menyenangkannya berada di sana. Ia membayangkannya saat nanti kencan di tempat itu bersama Sehun. Pasti sangat asik.

Hyejin menghentikan taxi, gadis itu langsung menunjukan alamat pada driver.

Kemungkinan besar Sehun sedang kuliah, tapi tak apa karena katanya yang tinggal bersama Sehun saat ini adalah Oh Hayoung. Gadis bernama Oh Hayoung adalah kakak kandung Sehun. Dan Hyejin lumayan dekat dengannya karena dulu saat di Daegu mereka pernah bertetangga.Ya , dulu keluarga  Sehun adalah tetangga Hyejin.

“Miss, here it is?.”

Selama perjalanan Hyejin memikirkan semua tentang Sehun, sampai tidak sabar saat pengemudi taxi itu berbicara padanya.

“Owhh, Thank You sir.”

Hyejin membayar sesuai nominal yang tertulis di dasboard taxi. Ia keluar dan membawa tasnya. Di sesuaikannya alamat yang tercatat di note dengan tulisan yang ada di dinding gerbang.

“benar. Ini tempatnya.”

Kini jantungnya berdebar tak karuan. Tangannya menekan tombol merah yang bertuliskan ‘bell’. Beberapa kali ia membunyikannya sampai suara dari dalam terdebgar. Hyejin berteriak senang dalam hatinya. Senyumnya semakin terpatri sempurna di wajah cerianya.

Gerbang hitam itu mulai terbuka. Menampilkan sosok cantik yang sangat di kenali oleh Hyejin.

“eonni!” pekik Hyejin. Wanita itu-Oh Hayoung- langsung melebarkan matanya saat melihat seorang gadis di hadapannya. Tentu saja Hayoung kaget dengan kedatangan Hyejin yang sangat tiba-tiba.

“P-Park Hyejin? Kau-“

“eonni. Aku sangat merindukanmu.”

Hyejin maju untuk memeluk Hayoung. Karena masih terkejut, Hayoung hanya diam sembari mengumpulkan kesadarannya.

“kau? Mengapa kau ada di sini Hyejin-ah?”

Hyejin langsung melepas pelukannya. Ia sedikit tersinggung dengan pertanyaan kakak Sehun itu. Dirinya berada di sana seperti mengejutkan sekali.

“tentu saja untuk menemuimu dan juga Sehun. Kalian tidak pernah pulang ke Korea jadi aku kemari. Eonni apa kau sangat terkejut aku berkunjung? He he maaf tidak memberitahu. Aku mau membuat kejutan.”

“ah ya begitu?. aku hanya… hanya tidak percaya saja kau sampai di sini.”

“ini perjalanan pertamaku. Aku tak pernah pergi sendiri sebelumnya. Karena sangat merindukan Sehun, aku nekat melakukannya he he.”

Ekspresi Hayoung langsung berubah. Ia merasa kasihan pada gadis di hadapannya itu. Ternyata Hyejin jauh-jauh datang ke China untuk bertemu adiknya.Namun apa yang terjadi?

Jika ia memberitahu Hyejin sekarang, pasti gadis itu akan sangat terkejut. Mungkin nanti, Hayoung akan mengungkapkan apa yang sebenarnya terjadi.

“Hyejin-ah, ayo masuk!.”

Hayoung langsung mempersilahkan Hyejin duduk, sementara ia menuju dapur untuk mengambil jus serta beberapa cemilan. Tapi niatnya tertunda karena ia malah menelfon seseorang sekarang.

“Yeobo, aku harus bagaimana? Kau tau kekasih Sehun? Park Hyejin berada di rumah sekarang. Apa yang harus ku katakan?”

Ujarnya setelah panggilan di sebrang sana tersambung. Hayoung langsung menelfon suaminya. Ia sedang sangat bingung.

Wanita yang berstatus kakak kandung Sehun itu menghela nafasnya setelah suaminya menyarankan satu hal.

“baiklah. Aku akan menunjukan padanya. Kau langsung pulang ya setelah selesai kerja!”

Hayoung memutuskan panggilan. suaminya mungkin benar, ia harus mengantar Hyejin ke tempat Sehun. Lebih cepat, lebih baik. Hayoung tidak mau berbohong.

‘Sehun-ah. Lihatlah!. Dia tidak melupakanmu. Bagaimana ini?’

.

.

Jong In tidak memperhatikan apa yang dijelaskan oleh dosennya. Pria itu sedang memikirkan kata-kata Baekhyun mengenai Oh Sehun. Ia tidak menyangka jika kekasih Hyejin itu tidak berada di dunia ini. Jong In masih tidak percaya Oh Sehun telah meninggal dunia.Kabar itu lawas namun terdengar baru baginya. Mengapa hal sepenting itu ia tidak mengetahuinya? Padahal Jong In berteman cukup baik dengan Oh Sehun. Setahu Jong In, Sehun sehat-sehat saja. Pria itu pamit ke China pun untuk menyambung pendidikan. Jadi Jong In tak menaruh kecurigaan sebelumnya.

Ia menyesal sempat kesal dengan Sehun. dikiranya Sehun jarang menghubungi Hyejin karena mulai melupakan Hyejin tapi ternyata? Oh, ia tak bisa membayangkan apa yang di rasakan Hyejin nanti.

Sedaritadi jong In berusaha menghubungi Hyejin namun tak di tanggapi sama sekali. Jong In malah ikut frustasi.Dan sekarang ia merasa sangat bersalah membiarkan Hyejin ke China.

Sedangkan Baekhyun, pria itu terus berusaha menghubungi Chanyeol. Ini sudah lebih dari sepuluh kali ia menelfon namun tak di angkat sama sekali. Ia meninggalkan kelas kuliah begitu saja. Moodnya tidak baik dan Baekhyun tak mau orang-orang di sekitarnya menjadi korban emosinya.

Dan pada akhirnya, Baekhyun meminta Seulgi menemaninya untuk menenangkan fikiran. Kedua saudara sepupu itu sedang makan bersama di restauran Italia. Namun lihatlah, Baekhyun bahkan belum menyentuh spageti pesanannya sama sekali. Seulgi menatap sepupunya dengan alis terangkat. Baekhyun terlihat berbeda sejak kemarin.

“Oppa, sebenarnya kau itu kenapa? Mengapa pergi begitu saja saat makan malam? Kau tau? Immo menghawatirkanmu.Bahkan kau membolos kuliah.”

“maaf. Ada sesuatu yang lebih penting saat itu. Dan sekarang aku sedang badmood”

“apa itu tentang gadis yang kau sukai? eoh seolma! Apa jangan-jangan gadis yang bersamamu saat di Namsan itu…. ?”

“ne. dia Park Hyejin. Gadis yang sudah lama membuatku gila.”

Baekhyun menjawab sebelum ucapan Seulgi selesai. Sedangkan reaksi Seulgi saat ini lumayan terkejut. Ternyata ia sudah benar-benar bertemu dengan gadis pujaan Byun Baekhyun.

“oppa, apa kau kesulitan mendapatkannya?”

“eum. Dia seperti langit yang sulit untuk ku capai.”

Kali ini Baekhyun menunjukan kemalangannya. Seulgi mengulurkan tangannya untuk menggenggam jemari Baekhyun.

“jangan menyerah. Aku yakin, gadis itu akan berakhir denganmu, Oppa. Kau hanya perlu berusaha sedikit lagi. Fighting. Baekhyun Oppa yang ku kenal tak mudah putus asa.”

Baekhyun sekarang tersenyum, sepupunya memang jago membuat hatinya tenang. Ia membalas genggaman Seulgi dan merubah ekspresinya menjadi semakin murung.

“apa kau harus kembali ke Kanada?” tanya Baekhyun. Ia bertambah sedih karena orang-orang yang di sayanginya pergi jauh darinya.

“eum tentu saja. Jatah liburanku tinggal 2 hari di sini.”

“sayang sekali. Padahal aku ingin mengenalkanmu pada Hyejin. Siapa tau kau bisa membantuku.”

“yakk Oppa aku bukan cupid.” Elak Seulgi. Ia merasa di manfaatkan oleh sepupunya itu.

Baekhyun terkekeh melihat Seulgi kesal. Ia masih beruntung karena memiliki penghibur hati saat ini. Ia berharap Chanyeol dan Hyejin cepat pulang agar rasa cemasnya berkurang.

.

.

Setelah mengobrol dan makan siang bersama kakak Sehun, Hyejin meminta ijin untuk memasuki kamar Sehun.Ia menjelajahi isi kamar kekasihnya.

Dekorasi kamar Sehun di Seoul maupun di China sama saja, sampai ia hafal betul. Dinding abu-abu berpadu putih tulang, dua warna kesukaan prianya. Plafon hitam dengan assesoris bintang yang akan menyala jika gelap. Sungguh tak berbeda sama sekali.

Tapi menurutnya kamar itu terlalu rapi, seperti tidak di gunakan. Kakak Sehun juga menyuruhnya untuk tidur di kamar Sehun malam ini dan ia menurut. Hyejin tak tahu mengapa Sehun tidak ada di rumah. Saat ia bertanya, Hayoung hanya menyuruhnya untuk menunggu.

“Sehun-ah. Saengil Chukaeyo. Kau ingat 2 tahun yang lalu? kita masih merayakan bersama.” Ujarnya sembari menatap foto Sehun yang ada di nakas dekat tempat tidur.

Cklekk..

Suara pintu terbuka mengalihkan fokusnya. Hyejin menoleh dan menemukan Hayoung masuk.

“eonni?”

“Hyejin-ah. Aku akan mengantarmu ke tempat Sehun.”

“benarkah?”

“eum.Aah iya, beriaslah. Dia pasti sangat merindukanmu.Sehun akan senang melihat kekasihnya tampil cantik” . Ucapan Hayoung membuat Hyejin tersipu. Ia jadi ingat, dulu Sehun sangat gemar memujinya.

Hayoung menepuk bahu Hyejin sebelum berbalik untuk keluar. Setelah melewati pintu ia bersandar di tembok. Pipinya bersemu merah menahan tangis.

.

.

.

Hayoung maupun Hyejin banyak mengobrol selama perjalanan.Mesin mobil dimatikan setelah Hayoung memakirkan kendaraannya di sebuah halam luas. Hyejin mengikuti turun dari kendaraan itu dan sedikit bingung dengan tempatnya berada saat ini. Ia cukup terkejut juga.Tempat yang di lihatnya adalah Songheyuan . Tempat itu diketahuinya sebagai pemakaman dalam pelajaran sejarah China yang pernah dibacanya.

“eonni, kenapa kita kemari?” bingung Hyejin, ia sungguh tidak mengerti mengapa Hayoung membawanya ke tempat pemakaman umum.

Hayoung tak langsung menjawab dan malah menarik tangannya untuk semakin memasuki tempat itu. Hyejin semakin di buat bingung karena Hayoung juga membawa buket bunga.

“eonni, sebenarnya kita ingin menemui siapa? Mengapa-“

“aku sudah memutuskan ini. Kau harus tau yang sebenarnya.” Serobot Hyejin. Keduanya sudah di dalam khawasan pemakaman. Hyejin hanya pasrah mengikuti wanita itu, menunggu apa yang dimaksudkan oleh Hayoung. Kadua kaki itu berhenti di depan sebuah nisan mewah yang membuat Hyejin semakin tidak mengerti.

Hayoung meletakan satu buket bunga yang dibawanya. Ia mengelap kepala nisan yang berdebu. langsung memunculkan sebuah nama.

“Park Hyejin, bukankah kau sangat ingin bertemu Sehun?”

“eum. Dimana Sehun?”

Hayoung berdiri tepat di hadapan Hyejin dan langsung memeluknya. Hyejin tak membalas pelukan itu, pandangannya masih tertuju pada nama seseorang di nisan hitam itu.

“kau sudah berada di hadapannya. Kau sudah menemui Sehun.” Tutur Hayoung dengan nada lirihnya. Hyejin semakin tidak mengerti, ia melepas paksa pelukan Hayoung.

“eonni, aku tidak melihat Sehun dan mengapa nama itu-“

Hyejin meneguk ludahnya susah payah.Hatinya tiba-tiba saja menjadi gundah.

“mengapa nama Sehun tertulis di nisan itu?” sambungnya setelah mengambil sedikit jeda.

Hayoung mulai terisak dan menggenggam tangannya. Hyejin menunggu penjelasan wanita di hadapannya.

“eonni, kenapa kau menangis? Jelaskan padaku! Mengapa kita berada di tempat ini? eonni!”

Hyejin mengguncang bahu Hayoung yang kini semakin terisak. Hyejin menggeleng tidak mengerti, ia merogoh ponselnya dan hendak menelfon Sehun.

Sebelum menempelken ponsel ke daun telinganya, Hayoung menghalanginya.

“hentikan.”

“….”

“makam yang ada di hadapanmu saat ini, adalah rumah terakhir  Sehun.”

“a-apa?”

“maafkan kami Hyejin-ah. Maaf karena tak memberitahu lebih awal. Sehun, dia sudah pergi untuk selamanya. Sesungguhnya-“

“aku tidak mengerti. Apa yang sebenarnya terjadi? Aku mohon, jangan bercanda seperti ini. Ini tidak lucu.” Tegasnya.Hyejin berbalik namun Hayoung menahannya. Ia tau, Hyejin pasti tidak percaya.

“apa aku terlihat sedang melucu, Hyejin-ah? Dengar! Sehun sudah meninggal dua tahun yang lalu, kau sedang berada di depan makamnya. Kau sudah menemui Sehun saat ini!”

Bingkisan yang sejak tadi dibawa oleh Hyejin jatuh menghantam tanah. Ia mengerjap tidak percaya dengan apa yang dikatakan Hayoung. Ia tertawa hambar dan menggeleng keras.

“Eonni! Kenapa kau bicara seperti itu? Sehun sudah mati? Ya! Bahkan kami masih bertukar pesan kemarin.” Jelas Hyejin dengan nada bergetarnya. Ia tak ingin percaya namun satu bukti sudah ada di depan matanya. Hayoung memeluknya lagi, bahunya semakin bergetar hebat.

“aku juga masih tidak percaya Hyejin-ah. Sehun kami meninggal secepat itu. Dia- hikss… dia menderita selama ini.”

“tidak. ini tidak mungkin. Andwe!” lirih Hyejin. Ia mulai percaya, ukiran nama aksara China itu benar-benar  bertuliskan ‘Oh Sehun’, nama kekasih yang selama ini sangat dirindukannya.  Hayoung membawanya untuk mendekati nisan itu, untuk berdiri tepat di sampingnya.

“dua tahun lalu, Sehun sekarat. Dia tidak bisa bertahan dan pegi. Bahkan hingga saat ini, kami masih merasakan kesedihan itu. Aku tahu, sangat tahu perasaanmu selama ini. Kau pasti menunggunya kembali kan? Kau pasti sangat merindukannya. Maafkan kami karena tidak mengabarimu. Bukan maksud kami untuk menyembunyikan tentang kematian Sehun. Adikku, dia yang meminta untuk tidak memberitahumu. Maaf, aku benar-benar minta maaf Hyejin-ah.” jelas Hayoung di sela isakannya, sedangkan yang mendengarkan merasa seperti tertusuk ribuan belati. Sangat sakit dan menyesakkan.

Lutut Hyejin lemas. Kakinya tak bisa lagi menompang tubuh mungilnya. Gadis itu terduduk, berpegangan pada sisi nisan.

Hyejin menggeleng lagi, masih tidak percaya dengan apa yang di lihatnya saat ini. Sekarang semakin jelas, ia melihat foto Sehun yang menyatu dengan nisan itu. Tenggorokannya mulai tercekat, air mulai mengendap di kelopak matanya. Hyejin menutup mulutnya guna menahan isakan yang mungkin akan terdengar menyedihkan.

Perlahan air mata itu turun, pandangannya semakin buram. Hyejin menangis pilu dan pada akhirnya isakannya tak bisa ditahan. Hayoung yang berada di  belakangnya semakin sedih mendengar tangisan Hyejin.

“tidak! Sehun-ah, kau tidak mungkin pegi seperti ini. Kau janji tidak akan meninggalkanku. Ya! kita sudah berjanji untuk mati bersama.”

“Hyejin-ah”

“aku datang Sehun-ah! Aku datang untuk bertemu denganmu. Aku sangat merindukanmu. Kenapa malah seperti ini? Se-sehun-ah! OH SEHUN!”

“Hyejin, jangan berteriak seperti itu! hei?”

Hayoung merangkul bahunya, berusaha menenangkan Hyejin. Rasa tidak percaya masih menyelimutinya, Hyejin masih menganggap semua itu hanya lelucon semata. Hayoung menjelaskannya, mengapa Sehun pergi dan alasan mengapa tak ada yang memberitahu kematian Sehun padanya.

Hyejin benar-benar terpukul, ia meraung di atas nisan itu.Ia bahkan sampai memukulnya berkali-kali. Tak ada yang di lakukannya selain menangis dan meneriaki Sehun.

Hingga setelah lebih dari satu jam, Hyejin merasa tubuhnya lemas. Ia tak memiliki tenanga untuk bicara. Pandangannya tiba-tiba mengabur dan ia merasa tubuhnya terhuyung.

“Hyejin-ah”

Panggilan itu pun terdengar semakin lirih. Hyejin terkapar, gadis itu tak sadarkan diri.

.

.

.

Park Chanyeol, pemuda itu juga sudah berada di Sanghai. Bahkan ia sudah sampai di kediaman keluarga Oh. Selama ini Chanyeol cukup sering berkomunikasi dengan Hayoung, sehingga mudah sekali untuk menemukan tempat di mana Hyejin berada.

“Maafkan kami Chanyeol-ah.” lirih Hayoung. Sekarang tiga orang sedang duduk di ruang tengah. Chanyeol tak bisa berkata lagi, ia sedang merasakan kesedihan Hyejin saat ini.

Sedangkan Hayong sedang menangis di pelukan Xi Luhan-suaminya.Hayoung masih merasa bersalah. Bagaimanapun ia juga seorang wanita yang lemah hatinya. Selain mengingat Sehun ia juga menyesal karena membuat Hyejin terpuruk. Mungkin jika dulu ia memberitahu tentang kematian Sehun lebih awal, semua takkan seperti sekarang. Pasti Hyejin akan sangat kesal padanya.

Setelah Hyejin pingsan di pemakaman, Hayoung langsung meminta suaminya untuk menjemput. Sampai sekarang, Hyejin belum sadarkan diri. Ia sedang terbaring di kamar Sehun.

“Chanyeol-ssi. Maafkan istriku.” sesal Luhan.

“eum. Tidak apa-apa Hyung-nim. Aku akan menenangkan Hyejin nanti. Aku yakin, perlahan  Hyejin pasti akan mengerti.” Ujar Chanyeol. Ia tersenyum untuk menunjukan semuanya akan baik-baik saja.

“Chanyeol-ah. Hyejin sempat bilang jika ia masih bertukar pesan dengan Sehun.”

“eum tentang itu aku yang melakukannya. Sehun dulu pernah memintaku untuk berpura-pura menjadi dirinya. Dia tidak mau Hyejin kesepian menunggunya. “  terangnya. Hayong dan Luhan mengangguk mengerti.

“seharusnya kau tak melakukannya. Pasti Hyejin merasa di tipu.” Kini Luhan yang bicara.

Chanyeol menghela nafasnya.

“aku tahu. Tapi ini demi senyumnya. Aku juga tidak tahan melihatnya terus-terusan merengek ingin Sehun. Beberapa kali ia ingin menyusul kemari dan aku mencegahnya. Hanya kali ini, aku kelepasan. Seharunya aku mendampinginya.” Sesal Chanyeol, pemuda itu berada di puncak penyesalan. Habis sudah, sekarang Hyejin tahu semuanya.

Chanyeol masuk kamar Sehun secara perlahan dan menemukan Hyejin sedang duduk di pinggir ranjang. Oh, ternyata gadis itu sudah sadar.

Pria itu mendekat dan dududk di samping sepupunya. Hyejin fokus menatap jendela besar di hadapannya. Air kesedihan itu juga masih menganak di pelupuk matanya. Chanyeol menjatuhkan kepala Hyejin ke bahunya. Kadua tangannya memeluk tubuh Hyejin.

“Oppa di sin Hyejin-ah.”

Hyejin tersentak setelah mendengar suara itu. aia terlalu larut dalam lamunan sampai mengira orang yang duduk di sampingnya adalah Sehun.

“Oppa?” lirihnya. Tangisan itu pecah, ia memeluk Chanyeol. Tangannya mencengkram erat baju Chanyeol. Ia tak mau tahu bagaimana bisa Chenyeol juga berada di Sanghai. Yang terpenting saat ini, ia punya sandaran .

“jangan menangis terus. Kau tidak lelah heum?”

Chanyeol berusaha untuk tidak ikut larut dalam kesedihan. Tangannya mengelus rambut Hyejin untuk menenangkan.

“ini mimpi kan? Sehun tidak pegi kan?”

Chanyeol tak menjawabnya. Entah apa lagi yang harus di jelaskannya. Chanyeol lebih baik diam daripada membuat Hyejin semakin terpuruk.

Chanyeol melepaskan pelukannya dan menatap wajah Hyejin. Mata itu terlihat sembab dan bengkak.  Chanyeol mengusapnya dan memberi senyum untuk menguatkan hati sepupu kesayangannya.

“jika ini mimpi, aku akan berusaha untuk membangunkanmu. Sayang, kau harus belajar menerima kenyataan. Ada Oppa di sampingmu. Jangan khawatir.”

Hyejin terlalu sakit untuk menerima kenyataan. Ia merasa bodoh menjadi kekasih Sehun. Bahkan saat terakhir Sehun menghirup nafas, ia tak berada di sampingnya. Itulah penyesalan terdalamnya.

“Hyejin-ah. Aku mau jujur.”

Chanyeol memberanikan dirinya untuk berkata sesuatu. Ia tak tahu seberapa marahnya nanti jika Hyejin tahu. Yang jelas sepupunya itu pasti juga kecewa padanya.

“sebenarnya pesan dari Sehun aku yang mengirimnya. Aku pura-pura menjadi sehun karena-“

“jadi kau, Oppa?” nada bicara Hyejin mulai terdengar dingin. Ia menepis tangan Chanyeol dan berdiri.

“Hyejin-ah Oppa-“

“kau sudah tahu tapi menyembunyikannya dariku? WAE?”

Lagi-lagi Hyejin memotong perkataan Chanyeol. Nafasnya naik turun karena sangat marah.

Chanyeol hanya diam saat Hyejin berteriak dan memukuli bahunya. Benar kan? Hyejin jadi sangat marah padanya.

“KENAPA KAU MELAKUKANNYA? KAU JAHAT OPPA! AKU MEMBENCIMU!” bentaknya. Hyejin jatuh terduduk dan menangis lagi. Chanyeol berniat membangunkan namun Hyejin mendorongnya.

Hyejin memeluk kakinya dan menangis. Dalam hitungan detik saja ia menjadi sangat marah pada sepupunya. Hyejin kecewa dan merasa di bohongi.

“kau keterlaluan Oppa! aku bahkan tak pernah bohong padamu hikss..”

“maaf, Hyejin-ah!”

“tinggalkan aku sendiri!”

“tapi_”

“PERGI! Aku ingin sendiri,Oppa.”

Chayeol tersentak karena lagi-lagi Hyejin berteriak padanya. Chanyeol menurut, ia bagun dan berjalan keluar dari kamar Sehun. Mungkin memang lebih baik untuk membiarkan gadis itu sendirian.

Hyejin masih menangis sesegukan. Dadanya bahkan dipukul nerkali-kali untuk menghilangkan sesak.

‘kenapa semua orang jahat padaku?. Sehun-ah, bisakah kau kembali? atau aku yang harus menyusulmu? Aku hanya bisa menangis seperti ini. Menggenggam hatiku yang sedih.’

TBC

.

.

anyeonggg readers ^^

kelamaan ya post ceritanya??? maaf, sibuk mikir ujian dulu kemarin he he.

alhamdullilah, author baru selesai  UNBK . ^^

chapter ini kepanjangan… iya kan? mikirnya pasti bikin bosen. tapi kalau di bagi 2 chapter jadi gak bagus.

setengah melek ini ngetiknya.. so maaf ya kalo banyak banget typo betebaran.

maaf karena membuat uri Sehun death….

author tadinya mau bikin cerita selain itu tapi nanti takut konfliknya gak selesai. he he so Hyejin buat Baek aja lah.

ok reders,, terimakasih yang mampir komentar.

semoga cerita author ini gak buruk bagi kalian yang membaca. (masih belajar)

see you next chapter ya…

byee…

Iklan

32 thoughts on “[Author Tetap]-Finally,I Got You (9)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s