Finally,I Got You #Special Sehun (10 A)

cover sehun

ByunPelvis

Main Cast : Byun Baekhyun,Park Hyejin (OC/You)

Other Cast : Oh Sehun,Park Chanyeol,Kim Chanri (Oc),Kim Jong In and Seulgi(Cameo).

Genre : Romance,Angst,Friendship.

Leght : Chapter

Rating :General

Disclaimer : This story is mine. No Copy no paste. Sory for typo.

And Don’t be a silent readers. ^^

Orang yang ku percaya akan cintanya,

Memang telah meninggalkanku.

Jujur Tuhan, aku benar-benar tak tahu bahwa dia akan meninggalkanku.

Sungguh, aku tak tahu.

-I really didn’t know-(Baekhyun ft Chen)

hallo all. akhirnya pada hari ini sempet post juga. Maaf yeth lama hibernasinya ^^.khusus untuk 2 author bikin spesial flashback Sehun.  maafkeun ya. gak bisa cakap-cakap banyak. so, happy reading !!! hope you like it.


Chapter 10

Flashback {spesial Sehun’s side}

Di siang hari yang sangat panas dan melelahkan itu, pria tampan sedang duduk sendiri di sebuah caffe. Bibir tipisnyanya terus mengumpat sesekali menyeruput buble tea kesukaannya. Arloji  yang melingkar di pergelangan terus di lihatnya.

Kegiatan utamanya saat ini adalah menunggu. Kesabaran di dalam hatinya terus di perpanjang sejak satu jam yang lalu. Sungguh, jika bukan orang spesial yang di tunggunya, seorang Oh Sehun tidak akan pernah mau duduk sendiri seperti orang idiot di tempat itu.

Seperti seorang Idol saja, ia mendadak jadi target pandang gadis-gadis yang juga sedang mengunjungi caffe itu.

Sedang bermain dengan smart phone mahalnya’nya tiba-tiba ada seseorang yang menutup kedua matanya. Sehun tak perlu kaget dengan siapa si pelaku. Kelembutan tangan itu sudah membuatnya tahu.

“Chagi-ya. Geumanhae (hentikan)!”

Park Hyejin, gadis tercinta Sehun pura-pura kesal karena aksi jailnya di hentikan. Ia duduk di hadapan Sehun dan seenaknya merebut buble tea yang hendak di seruput kekasihnya.

“kau telat lebih dari 20 menit nona Park.”

“kekasihmu ini sibuk Tuan.Oh. Aku baru saja mengembalikan buku di perpustakaan kota.” Ujar Hyejin beralasan.  Bibir mungilnya masih menyatu dengan sedotan. Sehun berdecak dan menyentil dahi kekasih tercintanya.

“jangan bohong. Kau kira aku tidak tahu? Kau habis menemani Kim Jong In latihan dance kan?”

“itu sebelum aku mengembalikan buku. Sehunie aku tidak berbohong.”

Sehun menatap tidak yakin sedangkan Hyejin memohon agar Sehun mempercayainya. Menggelikan, yang di lakukan Hyejin sekarang malah melakukan aegyo dengan menunjukan v sign sebagai sumpah. Jika seperti itu mana bisa seorang Oh Sehun marah.

Pada akhirnya pria itu tersenyum karena gemas.

“baiklah, uri Hyejin mana mungkin membohongi Sehunie.” Ujar Sehun Sembari mencubit lembut pipi kekasihnya. Jika saja keberadaannya bukan di tempat umum, Sehun pasti sudah meraup bibir plum milik kekasihnya itu.

“Sehun-ah, mengapa tiba-tiba kau ingin kencan? Tidak biasanya.” Tanya Hyejin karena Sehun tak kunjung bicara tujuan sebenarnya minta bertemu.  Sehun membenarkan posisi duduknya bersandar pada punggung kursi dan menghela nafas panjang.

“entahlah, pokoknya kita akan bersenang-senang seharian. Jangan menolak atau bibirmu akan bengkak.”

“Apa? yakk memangnya bibirku akan kau apakan huh?”

Sehun tersenyum nakal dan mengedipkan sebelah matanya. Heol, Hyejin maksud kali ini.

“dasar mesum.”

.

.

.

Sehun maupun Hyejin bersenang-senang hari ini. Mereka rela  menempuh perjalanan dari Daegu ke Seoul. Keduanya mengunjungi Namsan dan juga Hongdae . Pokoknya hari minggu ini mereka harus memiliki moment spesial sebelum pusing memikirkan tes masuk universitas.

Walau pada awalnya Hyejin tak begitu mood, namun melihat wajah senang Sehun hari ini membuatnya jadi bersemangat. Tapi ada sesuatu yang sedang di tahan oleh Hyejin sejak tadi. Cacing di dalam perutnya sudah meronta minta asupan.

“oppa, aku ingin makan makchang. Ayolah..”rengek Hyejin karena dari tadi Sehun menolak keinginannya untuk makan ini-itu.

“tidak. Kau bisa sakit perut nanti.” mendengar jawaban Sehun lagi-lagi membuat Hyejin menggeram kesal.

Begitu pengertian dan tahu tentang segalanya, itulah kekasihnya. Hyejin semakin jengkel  karena Sehun tak menuruti permintaan kecilnya.

Walau begitu Hyejin akan menurut. Pada akhirnya, keduanya memutuskan untuk  membeli sendwich dan milkshake. Sehun dan Hyejin mengakhiri acara kencannya dengan bernyanyi di pinggir jalan bersama band jalanan. Bahkan mereka juga menari dengan di kelilingi banyak orang. Sungguh menyenangkan,Hyejin sampai tak memikirkan gengsinya.

Setelah merasa larut semakin memakan waktu, keduanya memutuskan untuk pulang. Kencan mereka cukup sederhana namun menyanangkan. Hyejin tak butuh apapun kecuali Sehun di sampingnya.

“Kau lelah?”

Setelah masuk dan duduk di kereta, Sehun memperhatikan Hyejin yang sedarii tadi bersandar di bahunya.

“eum. Kakiku pegal.” Keluhnya manja. Sehun mengusap surai hitam kekasihnya dan tersenyum.

“jangan khawatir. Aku akan menggendongmu nanti.”

“benarkah?”

“eum. Sekarng tidurlah, akan ku bangunkan jika sampai.”

Hyejin mengangguk, ia menuruti ucapan sehun dan memejamkan matanya. Bahu Sehun terlalu nyaman sehingga ia cepat mengantuk. Suara ramai di dalam kereta itu mulai terdengar lirih dan Hyejin mulai mendengkur kecil.

Sedangkan Sehun, pemuda itu merasakan perut kiri bagian atas tiba-tiba sangat sakit. Tanpa di sadari oleh Hyejin, wajah Sehun berubah pucat sejak tadi. Ulu hatinya berdenyut hebat dan Sehun terbatuk pelan. Diam-diam pemuda itu merogoh botol kecil berisikan obat dalam saku celananya. Ia mengambil dua butir dan menelannya. Keringat dingin bahkan mulai membasahi kedua pelipisnya. Sehun masih mencengkram kausnya hingga rasa sakit itu perlahan mereda.

Semakin di genggam erat tangan Hyejin. Sehun tak pernah mau kekasihnya melihatnya tersiksa karena menahan perih.

.

.

.

Hyejin bercanda sementara Sehun membawa tubuhnya. Ya , pemuda itu menggendong sang kekasih tercinta di punggunggnya. Mereka pulang hampir tengah malam, dan sudah pasti orang rumah akan mengomeli keduanya.

“Sehun-ah. Aku mampir rumahmu ya?”

“untuk apa? pulang saja, nanti eommoni marah.” Tolak Sehun, mendengar itu Hyejin berdecak.

“aku sedang marah dengan eomma.”

“wae?”

“eomma menyuruhku untuk tidak bertemu denganmu dan berfokus pada ujian masuk universitas. Kami adu mulut tadi pagi. Menyebalkan bukan?”

Sehun tertawa kecil. Gadisnya itu memang kekanakan, Hyejin tak tahu mana yang baik dan tidak baik. Sebenarnya ibu Hyejin benar, seharusnya mereka tak saling bertemu untuk fokus pada Ujian terlebih dahulu. Namun, Sehun tak bisa melakukannya. Karena saat ini, waktu bersama Hyejin adalah yang paling berharga. Sehun merasa kesempatan untuk bersama gadis tercintanya semakin menipis.

Tak sadar mengobrol, keduanya sudah berada di halaman rumah Sehun. Hyejin turun setelah di depan gerbang. Ia langsung menyelonong masuk seolah itu rumahnya sendiri.

“Hayoung Eonni!!!” teriaknya setelah berada di dalam rumah.

“eohh Park Hyejin? Kau di sisni?” sahut wanita yang berumur dua tahun lebih tua darinya itu. Dia adalah satu-satunya keluarga yang di miliki Sehun saat ini, Oh Hayoung.

Hyejin menemukan kakak Sehun itu sedang memasak di dapur. Ia menghampiri dan tanpa sungkan membantu. Sehun menatapnya senang, sangat bahagia memiliki gadis kelewat ceria seperti kekasihnya.

Namun lagi-lagi kenyataan tentang dirinya membuatnya sedih. Mungkin, beberapa bulan lagi, matanya itu tak bisa melihat tingkah imut Hyejin. Telinganya tidak bisa mendengar tawa dan rengekan manja kekasihnya. Sehun tak mau merenungkannya lagi, bisa-bisa ia bertambah resah.

Pemuda itu berjalan cepat menuju kamarnya. Tidak ingin air matanya pecah di hadapan dua wanita kesayangannya.

Sehun sudah berusaha tegar pada penderitaan yang dialaminya selama ini. Jika mengingat mendiang kedua orang tuanya, barulah ia bisa menangis. Kadang Sehun berfikir, mungkin ia akan menyusul ibu dan ayahnya tak lama lagi. Tapi jika Tuhan mengijinkan, Sehun ingin hidup lebih lama agar bisa membahagiakan gadisnya.

.

.

.

“eonni. Kami tadi sudah makan, tapi aku lapar lagi he he.” Modus Hyejin. Melihat menu makan malam yang di buat oleh kakak Sehun membuat perutnya lapr lagi.

“dasar kau ini!. Kebanyakan wanita seumuranmu itu melakukan program diet. Tapi kau? Aigooo” ujar Hayoung sembari menata makanan di meja. Hyejin membantu menempatkan nasi ke mangkuk kecil.

“aku tidak suka berdiet. Lagipula Sehun tak akan mengijinkanku.”

“apa Sehun itu ibumu? Mengapa menurut sekali?”. Heran Hayoung. Memang benar, menurutnya Hyejin sangat menuruti apa yang dikatan oleh adiknya.

“aku suka dia mengaturku ini-itu. Bukankah Sehun lebih cerewet dari eomma-ku?”

Hayoung tertawa dan setuju dengan ucapan Hyejin. Setelah beres urusan meja makan Hyejin menuju kamar Sehun untuk mengajak prianya itu makan bersama, mengingat mereka belum mengisi perut dengan sebutir nasi hari ini.

“Sehun-ah?” teriaknya dari luar kamar.

Merasa tak ada sahutan setelah lebih dari tiga kali memanggil Sehun, kini Hyejin tanpa ijin masuk kamar kekasihnya. Semerbak bau mint langsung menusuk indra penciumannya.

“Sehun-ah?”

Hyejin  tak menemukan sosok Sehun, tapi suara gemercik air menggema di telinganya. Ah pasti kekasihnya itu sedang mandi. Seketika darahnya berdesir.

Hyejin meneguk ludah, pikiran nakal melintas bebas di otaknya. Lancang sekali karena ia memikirkan bentuk tubuh Sehun saat ini.

“Park Hyejin kau gila.” Bisiknya. Ia mengalihkan pandangannya dari pintu kamar mandi. Sekarang matanya menyorot pada tumpukan buku di meja belajar Sehun.

“eoh? Di belum mengembalikan buku?”

Hyejin mengambil  salah satu buku di tumpukan teratas dan sesuatu langsung jatuh menimpa kakinya.

“eh?”

Diambilnya kertas yang ada di lantai itu. Seketika matanya membulat. Sesuatu yang sedang di pegangnya saat ini adalah tiket pesawat penerbangan menuju China. Di sana tertulis tanggal 06 mei, dan itu sekitar dua minggu lagi.

‘untuk apa Sehun ke China?’. Batinnya. Hyejin meneliti nama di tiket itu. Memang tak salah, yang tercantum di sana benar-benar nama kekasihnya.

“hei siapa yang mengijinkanmu menyentuh barangku?”

Hyejin terkejut saat Sehun sudah berada di sampingnya. Pemuda itu langsung merebut tiket yang ada di tangan Hyejin.

Sedangkan sekarang, Hyejin sedang mengerjap. Sehun berdiri di hadapannya hanya memakai celana boxer. Dengan artian, sekarang Sehun sedang topless. Tubuh atletis prianya sungguh membuatnya mati kutu.

“Y-ya ! pakai dulu bajumu.” Perintahnya sembari mengalihkan pandangan.

Sehun memutar bola matanya dan berjalan menuju lemarinya. Ia mengambil asal kaus dan memakainya. Barulah Sehun kembali ke hadapan Hyejin dengan tatapan penuh selidik.

“k-kau… mau ke China? untuk apa?” tanya Hyejin setelah selesai mengatur detak jantungnya.Sehun hanya diam, ditatapnya iris pekat Hyejin yang penuh tanya itu. Pria itu juga sedang membodohi dirinya sendiri karena lalai meletakan tiket. Padahal rencananya, Sehun akan pergi tanpa memberitahu Hyejin.

“Sehun-ah! kau mau meninggalkanku?”

Tak kunjung di jawab, barulah Hyejin bertanya curiga. Sehun diam seperti tidak bisa bicara saja. Dan sepertinya yang ditemukannya itu bukanlah tiket liburan. Setahunya Sehun tak pernah memiliki rencana berlibur sejauh itu.

Melihat tatapan nanar kekasihnya membuat Sehun menghela nafas.

“aku ingin mengambil universitas di China.” lirihnya hampir terdengar seperti bisikan. Sangat terpakasa Sehun harus berbohong.

Tentu saja sekarang Hyejin sedang terkejut.Sehun seperti melemparinya sebuah bom saat ini.

“Apa? Sehun-ah kau- ….. bercanda kan?”

Sehun menggeleng keras sebagai jawaban. Hyejin tidak percaya kekasihnya berencana pergi meninggalkannya.

“Sehun-ah, kau sudah berjanji akan terus bersamaku. Kita akan masuk Seoul Universitas bersama kan? kenapa kau mengingkarinya ?”

Entah apa yang harus Sehun gunakan lagi sebagai alasan. Haruskah ia membuat kebohongan untuk menutupi kebohongan lainnya? Tapi di fikir lagi, itu lebih penting sekarang.

“maafkan aku, Noona  juga akan pindah. Kami-”

“lalu bagaimana denganku?” sengaja gadis itu menubruk perkataan Sehun, hatinya sangat kesal sekarang. Nada bergetar itu mulai terdengar, Hyejin bahkan sudah mengumpulkan air di pelupuk matanya. Gadis manis itu sedang berusaha menemukan kebohongan dari sorot mata Sehun namun tak di temukannya.

“Hyejin-ah.Maaf.”

Tak ada lagi alasan yang bisa Sehun lontarkan. Ia hanya bisa berbohong sampai di situ. Tidak mungkin ia berkata ‘aku pergi untuk berobat’ . Bisa-bisa rahasia yang sudah hampir dua tahun di jaganya berbuah kesedihan untuk Hyejin.

“ini bukan berarti aku meninggalkanmu. Aku hanya ingin memperbaiki sesuatu. Jika aku terus di sini, hal buruk mungkin bisa terjadi padaku. Kau mungkin akan terluka.” Tutur Sehun.

Hyejin tidak mengeti sama sekali apa maksud kata-kata kekasihnya, pria itu telihat ragu untuk mengucapkan sesuatu.Hyejin tau, pasti ada alasan lain.

“memang kenapa? Apa yang akan terjadi jika kau di sini?”

Kedua tangan Sehun terangkat untuk mengusap pipi Hyejin. Wajah murung itu membuat dadanya sesak.

“maaf, aku belum bisa mengatakannya.”

Hyejin menepis kedua tangan Sehun, sekarang sorot matanya sangat tajam menghunus netra Sehun.

“Kau mulai tidak jujur padaku. Kau mulai bermain rahasia?” vokalnya semakin bergetar. Hyejin meloloskan air matanya, ia pergi dari hadapan Sehun dan berjalan menuju pintu. Sehun bodohnya hanya diam, ia mengusap wajahnya karena frustasi.

Baru saja mereka bersenang-senang. Sekarang dalam sekejap, kebahagiaan keduanya berubah menjadi kekesalan. Sehun yakin Hyejin sangat marah padanya.

Hyejin menyerobot tas miliknya dengan kasar. Ia berjalan cepat untuk pergi dari rumah Sehun. Melihat sikap Hyejin seperti itu, Hayoung langsung mengejarnya.

“Hyejin-ah!”

Panggilannya tidak di hiraukan oleh si pemilik nama. Hyejin terus saja berjalan dan membuka pintu keluar tanpa pamit. Sungguh tidak biasa.

“Park Hyejin!” teriakan Hayoung hanya sia-sia. Hyejin berlari pergi menjauhi halaman. Hayoung mengernyit heran.

“sebenarnya dia kenapa?”

Daripada pusing memikirkannya, wanita itu masuk untuk menanyakannya pada Sehun.

Belum sempat ke kamar, Hayoung sudah melihat adiknya itu sedang meneguk segelas air.

“Sehun-ah. Hyejin kenapa?”

“dia marah.” Jawab Sehun sekenanya. Ia duduk dan mulai menyantap makanan yang sudah tersaji di meja.

“apa? ya, apa kau membuatnya kesal?”

Sehun berhenti mengunyah bulbogi yang baru masuk ke dalam mulutnya. Ia menghela nafas dan menunduk. Bahunya tiba-tiba bergetar. Hayoung duduk di samping Sehun dan mengamati adiknya mulai terisak sekarang.

“Noona, aku tidak bisa mengatakannya. Aku berbohong padanya.”

“Sehun-ah?”

“aku tidak bisa jujur tentang penyakitku. Aku tidak ingin dia sedih dan tidak fokus , aku takut Hyejin  gagal masuk perguruan tinggi impiannya karenaku. Maafkan aku noona.”  Ujar sehun di sela isakannya. Hayoung memeluk Sehun, sekarang hatinya menjadi ikut sedih.

Wanita itu sangat mengerti bagaimana menderitanya sang adik. Sudah 2 tahun ini ia melihat adiknya tersiksa karena penyakit mematikan yang dengan lancangnya menggerogoti hati  Sehun. Ingin rasanya Hayoung menggantikan posisi  adiknya. Yang bisa dilakukannya hanya memberi semangat dan dorongan agar Sehun optimis untuk bertahan.

“apa aku yang harus memberitahu Hyejin jika kau sakit-“

“tidak.Jangan pernah memberitahu Hyejin. Cukup aku saja yang menderita, aku tidak ingin dia sedih karena tahu kekasihnya ternyata  penyakitan. Noona, aku mohon.” Pinta Sehun. Netra bergenang airmata itu menatap kakaknya penuh harap.

Hayoung mengusap rambut Sehun dan mengangguk.

“baiklah, jika itu maumu.”

Sehun lega, kakaknya memang sangat mengerti dirinya.

.

.

.

Musim semi hampir berakhir. Banyak orang menghabiskan waktu untuk bersantai maupun jalan-jalan. Begitu juga Hyejin, gadis itu sedang jalan berdua dengan seseorang.

Bukan dengan kekasihnya, melainkan dengan Kim Jong In-sahabatnya.

“jadi karena Sehun ingkar janji?” tanya Jong In setelah Hyejin selesai bercerita. Pemuda itu baru tahu masalah yang sedang terjadi pada Hyejin dan juga Sehun. Ia menambah dua kali laju kakinya lalu berdiri menghadap Hyejin. Otomatis saja gadis bermarga Park itu menghentikan langkahnya.

“hei, seharusnya kau tidak boleh marah seperti itu pada Sehun.” ujar Jong In.

“tentu aku marah. Kami sudah berjanji untuk terus bersama. Tapi seenaknya saja  dia mengingkarinya dan memilih untuk meninggalkanku.”elak Hyejin tak mau disalahkan. Jong In berdecak kesal.

“bukankah kau bilang Sehun itu ke China untuk kuliah? Hyejin-ah, seharusnya kau mendukungnya, bukan malah marah dan kecewa padanya.”

“tapi dia sudah berjanji untuk masuk Seoul Universitas bersama kita.” Lagi-lagi Hyejin mengelak. Jong In merasa sedang ada di meja perdebatan sekarang. Sahabatnya memang susah untuk di buat mengerti.

“semua orang punya masalah masing-masing. Pasti ada alasan mengapa Sehun mengambil universitas di China.”

“jika punya masalah mengapa tak cerita padaku? Atau dia mau lari dariku?” masih saja Hyejin nyolot.

“kau itu egois.” Tandas Jong In membuat Hyejin mendelik. Ia memukul bahu Jong In cukup keras.

“YA! Kim Jong In.”

“wae? kau kekasih yang payah karena tidak mendukung prianya sukses. Sehun itu menyambung pendidikan di sana, bukan meninggalkanmu untuk senang-senang. Kenapa kau tak mendukungnya saja eoh?. Dia ingin sukses pasti karena dirimu.”  Ujar Jong In panjang lebar sembari mengelus bahunya yang dirasanya seperti memar. Hyejin terdiam, ia menemukan hal lain di hatinya.

Menyesal? Sepertinya iya.

Sudah satu minggu ini ia tak menemui Sehun, ia menyibukan diri untuk persiapan masuk kuliah. Hyejin menghindari Sehun dan lebih memilih menghabiskan harinya bersama Jong In.

“Jong, apa sikapku salah? Aku hanya tak mau jauh darinya.”

“pikirkan saja sendiri. Aku yakin apa yang Sehun lakukan untuk kebaikannya maupun dirimu. Aku sangat mengenal Sehun. Dia sangat mencintaimu.”balas Jong In yang bermaksud memberi nasihat singkat.

Sekarang baru dirasakan olehnya, Hyejin sangat merindukan Sehun. Ia berhenti jalan dan jongkok. Kedua telapak tangannya menutupi wajah, dan Hyejin terisak.

Sontak saja Jong In bingung, ia menarik-narik tangan Hyejin agar gadis itu berdiri.

“ya! jangan menangis di disini bodoh! Banyak yang memperhatikan kita, aisshh.” Bisik Jong In yang masih berusaha menarik Hyejin.

“bagaimana ini? aku sangat jahat kan Jong?” tanya Hyejin masih tersedu-sedu. Gadis itu sedang menyesal karena mendiami Sehun selama satu inggu ini.

“iya kau sangat jahat karena membuatku terlihat seperti pria brengsek. Ya! Orang-orang itu pasti mengira aku yang membuatmu menangis. Sttt diamlah!” ujar Jong In sembari tersenyum pada orang yang melintas di hadapannya. Sungguh, pria itu sangat malu saat ini.

.

.

.

Pemuda berwajah pucat baru saja keluar dari ruang pemeriksaan, dan ia langsung menuju ruang dokter. Wajahnya terlihat sangat gusar sembari menatapi selembar kertas bertuliskan rentetan kalimat keramat.

Di waktu yang sama, park Chanyeol yang statusnya sepupu Hyejin juga baru keluar dari sebuah kamar rawat. Matanya langsung menangkap seseorang yang tidak asing baginya.

“bukankah itu Oh Sehun? benarkan?”  tanya pemuda itu pada diri sendiri. Chanyeol berjalan mendekati Sehun, namun sayang kesempatan itu gagal karena Sehun sudah lebih dulu masuk ke sebuah ruangan.

Chanyeol membaca tulisan di atas pintu. Dan ternyata ruangan itu milik dokter spesialis penyakit dalam. Chanyeol mengernyit, ada urusan apa Sehun di sana? .Kali ini tidak biasanya, entah mengapa ia menjadi ingin tahu sekali. Rasa penasaran menguasainya, dan sangat kebetulan pintu berbahan kaca ruangan itu tak tertutup rapat. Chanyeol perlahan menggesernya hingga seperempat terbuka. Dua orang yang sedang berbicara di dalam sana cukup keras.

Selama menangkap pembicaraan itu Chanyeol hanya bisa mematung dan menutup mulut dengan telapak tangannya.

Dua menit ia menangkap obrolan Sehun dengan seorang dokter, dan Chanyeol sedang di buat syok saat ini. Pemuda tinggi itu masih menguping sampai tak sadar pintu sudah terbuka sepenuhnya.

Sehun yang membuka pintu itu sangat terkejut melihat Chanyeol berdiri di hadapannya.

“H-hyung?”

.

.

.

“K-kanker hati? sejak kapan kau menderita penyakit ganas itu?” Chanyeol membuka obrolan lagi setelah keduanya terdiam. Kini Sehun dan Chanyeol sedang berada di taman rumah sakit.

Sehun tersenyum kecut, wajah pucatnya berbicara betapa menderitanya ia saat ini.

“sangat lama.”

“Hyejin tahu akan hal ini?” tanya Chanyeol lagi. Kali ini Sehun duduk tegak dan menatap Chanyeol. maniknya berubah lebih serius.

“tidak. Hyejin tak mengetahui apa yang terjadi padaku. Aku sengaja menyembunyikannya.”

Chanyeol mengangkat sebelah alisnya. Pemuda itu sudah mengenal Sehun sejak pertamakali jadian dengan sepupunya. Chanyeol tahu betul Sehun adalah pria yang tidak bisa merahasiakan hal sekecil apapun pada Hyejin.

“mengapa hal sepenting itu malah kau sembunyikan?” nada bicara Chanyeol terdengar mulai kecewa.

“aku hanya tak mau Hyejin menjauhiku. Aku penyakitan. Jika Hyejin tahu mungkin ia akan memutuskanku.”

“YA! Hyejin bukan gadis seperti itu. Dia tulus mencintaimu,pabbo-ya!” lantang Chanyeol. ia sungguh tak mengerti dengan pemikiran Sehun.

“aku tahu Hyung. Aku hanya mengira saja. Atau mungkin Hyejin akan sangat sedih nantinya jika aku mati.”

“Oh Sehun kenapa kau terus bicara hal buruk?” Chanyeol sudah tidak tahan. Ia langsung berdiri dan berniat pergi namun Sehun menahan bahunya.

“Hyung, aku sudah memutuskannya.”

“apa?”

“tapi sebelumnya. Maukah kau membantuku?”

.

.

.

Ting tong

Hyejin saat ini sedang berada di depan rumah Sehun. Setelah mendapat nasihat dari Jong In, ia memilih untuk minta maaf pada kekasihnya.Jong In benar, seharusnya ia tak mendiami  Sehun.

Hyejin sadar telah egois, ia marah karena tak rela Sehun pergi meninggalkannya. Seharusnya ia bisa berfikir positif.

“bagaimana ini?” lirihnya. Hyejin takut Sehun balik marah padanya. Pasalnya, sudah seminggu ini Sehun tak berusaha menjelaskan apapun padanya.

Sedangkan di belakang tubuh Hyejin ada Sehun yang sedang berdiri tegak. Pemuda itu barusaja pulang setelah mengobrol panjang dengan Chanyeol.

Sehun awalnya terkejut dengan kedatangan Hyejin, namun sekarang ia merubah ekspresi seperti tak ada masalah sama sekali.

“Hyejin-ah? kau datang?”

Hyejin berbalik karena suara Sehun terdengar di belakangnya. Yang di tanya diam , membuat Sehun mengernyitkan dahi. Tanpa aba-aba gadis itu memeluk prianya. Sehun merasakan kausnya basah dalam lima detik. Ia tau, pasti Hyejin sedang menangis.

“maafkan aku , Sehun-ah. Aku menyesalkarena marah padamu.”

Sehun bernafas lega, tadinya ia mengira Hyejin menangis karena ada masalah lain. Tapi ternyata kekasihnya sedang menyesal karena marah padanya. Sehun melepas pelukan dan menatap wajah  Hyejin.

“tak apa. Aku tau kau kecewa padaku.”

“eum awalnya aku kecewa. Tapi pasti kau yang lebih kecewa padaku, aku bukan gadis yang mengerti kekasihnya. Iya kan?” tanya gadis itu dengan nada sedih.

Sehun terkekeh dan mengacak rambut kekasihnya. Ia menangkup pipi Hyejin dan mengecup bibirnya. Hanya kecupan saja, dan Sehun sudah menjauhkan wajahnya lagi.

Satu minggu Sehun tak merasakan lembutnya bibir itu. Ia sangat rindu. Wajah pucatnya terhiasi senyuman bahagia.

“Aku tak pernah kecewa padamu, Hyejin-ah.” Ujar prianya-mungkin kau yang akan kecewa padaku nantinya

Hyejin semakin merasa bersalah. Ia benar-benar jahat karena menjauhi sehun satu minggu ini. lihatlah! Kekasihnya bahkan terlihat kurang Sehat.

Diamatinya wajah Sehun yang terlihat sangat pucat. Tangan gadis itu terulur untuk menyentuh kening kekasihnya. Namun, telapak tangannya tak merasakan panas. Suhu tubuh Sehun normal-normal saja.

“Sehun-ah, kau sangat pucat. Apa kau sakit?”

Sehun tersentak, dengan sangat cepat ia menggeleng.

“Aku tidak sakit.”

“tapi kau-“

“ah ini pasti karena kurang tidur. Sudahlah, ayo masuk.” Sehun sengaja menarik Hyejin masuk ke dalam agar gadis itu tak terus bicara.

.

.

.

Sehun maupun Hyejin sama-sama menikmati angin sore di balkon.

Keduanya sudah saling bercanda lagi, Sehun mengarang cerita tentang rencananya kuliah di China. sedangkan Hyejin mendengarkannya dengan sangat serius.

Hyejin sudah memutuskan untuk mendukung apapun yang akan Sehun lakukan. Ia merelakan kekasihnya itu pergi ke China. Dan keduanya berjanji akan menjalani hubungan jarak jauh dengan baik.

“jangan lebih dari tiga tahun. Kau harus kembali dan langsung melamarku.” Pinta Hyejin, dan Sehun tertawa.

“baiklah. Aku pasti akan kembali dan melamarmu.”

“tapi bagaimana jika aku di goda pria lain?” tanya Hyejin mencoba mengetes kekasihnya.

“aku yakin kau tak akan tergoda.”

Kini Hyejin yang tertawa. Ia mengangguk membenarkan ucapan Sehun.

“jadi satu minggu lagi kau akan pergi?”

“eum.”

Hyejin mendengus, waktunya bersama Sehun hanya tinggal satu minggu lagi.

“Sehun-ah. Ayo kencan sebelum kau berangkat?”

Sehun diam untuk mempertimbangkan. Jujur saja, kondisi tubuhnya semakin tidak baik. Bukan apa-apa, Sehun hanya tak mau di tengah kencannya nanti dirinya pingsan. Satu hari ini saja ia sudah tak sadarkan diri sebanyak dua kali.

“aku harus mengurus beberapa hal. Maaf.”

Senyum Hyejin luntur. Namun dengan sangat terpaksa ia memahami kekasihnya.

“baiklah. kita kencan di rumaha saja.”

Sehun tersenyum dan semakin mengeratkan pelukannya.Rasanya airmatanya ingin menerobos keluar.  Permintaan terakhir kekasihnya saja ia tak bisa menyanggupinya.

Iklan

20 thoughts on “Finally,I Got You #Special Sehun (10 A)

  1. Aku sebagai whirlwinds, ngerasain bgt sakitnyaaa T_T T_T..
    Padahal kalau Se Hun jujur, bisa lebih baik, bukan? Tapi alurnya pasti udah Eonni buat lebih baik, soooo.. Aku dukung, Eonni :'(.. Yaah, mau gimana lagiiii… udah masuk flashback ini T_T.
    Aku next lagi, yaaaa

  2. Astaga ternyata selama ini Sehun itu sakit kanker hati dan dia sengaja pergi ke China buat berobat bukannya buat kuliah disana…. Dan dia juga sengaja ga bilang tentang penyakitnya ke Hyejin karna dia takut kalo Hejin bakal ninggalin dia…. Aaah jadi makin baperrr sama ceritanyaa

  3. Sehun-ahhhhhhh😢😢😢😢
    Speechless bgt ini. Kasihan sehun. Tp kzl juga dia nyembunyiin masalah sepenting ini sama hyejin😢

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s