Finally, I Got You (10B)

cover sehun

Hyejin (OC/You)

Other Cast : Oh Sehun,Park Chanyeol,Kim Chanri (Oc),Kim Jong In and Seulgi(Cameo).

Genre : Romance,Angst,Friendship.

Leght : Chapter

Rating :General

Disclaimer : This story is mine. No Copy no paste. Sory for typo.

And Don’t be a silent readers. ^^

Orang yang ku percaya akan cintanya,

Memang telah meninggalkanku.

Jujur Tuhan, aku benar-benar tak tahu bahwa dia akan meninggalkanku.

Sungguh, aku tak tahu.

-I really didn’t know-(Baekhyun ft Chen)

hallo readers, post lagi nih ^^ . Tapi maaf ya ini ceritanya ngetiknya ngebut. Kayaknya bakal ngurangin pembaca nih. chapter ini pendek, maaf kalau bahasanya gak sebagus author senior lainnya. saya belum pinter buat bahasa kiasan.

maaf sebelumnya, kalo cerita sebelumnya kurang baik, begitupun chapter ini. yang kangen Baekhyun bisa baca di chapter 11 nanti ^^.

happy reading ^^. hope you like it.

#Special Sehun (10 A)

*


Sayangnya cuaca hari ini sangat bersahabat, sungguh berbanding balik dengan apa yang diharapkan oleh seseorang yang  saat ini sedang termenung dalam lamunannya. Sesekali ia menghela nafas panjang. Pria yang duduk di sampingnya terus menggenggam tangannya. Park Hyejin, ia menunjukan sedikit senyumnya. Dan Sehun sangat tahu gadisnya itu terpaksa melakukannya.

Satu minggu telah berlalu, dan sekarang saatnya perpisahan. Hyejin sangat berharap hari ini hujan petir datang agar kekasihnya tidak jadi pergi. Namun apa daya karena Tuhan lebih berkuasa mengatur alam.

Detik berikutnya pengumuman tentang persiapan penerbangan menuju China sudah menggema di airport itu. Hyejin menoleh pada Sehun dan menatap prianya dengan pandangan tidak rela.

Sehun berdiri, menggendong tasnya dan menarik kekasihnya. Tanpa malu ia merengkuh Hyejin diantara ramainya suasana tempat itu. Hayoung yang ada di belakang tubuhnya hanya membiarkan adiknya melakukan lovy dovy.

“Chagi-ya, sudah waktunya.” Lirih Sehun lalu melepas pelukannya.

Hyejin menunduk, tak mau melihat wajah kekasihnya. Sontak saja Sehun mengangkat dagu Hyejin dan membuat wajah gadis itu terangkat.

Dapat di lihatnya, mata Hyejin bergenang air mata. Sehun memejamkan matanya, sejujurnya ia sangat sedih melihat gadisnya menangis.

“hei, jangan menangis!” perintah Sehun.

Hyejin malah terisak kecil. Cairan bening itu sesungguhnya sudah di tahannya sejak tadi. Hyejin benar-benar tidak siap berpisah dengan Sehun untuk waktu yang lama. Ia hanya tak bisa membayangkan hari-harinya tanpa pria yang dicintainya.

“Hyejin-ah. jangan membuatku sedih. Eum?”

Hyejin menggeleng dan melepas tangan Sehun yang menangkup kedua pipinya. Lagi, ia terpaksa menunjukan senyumnya.

“Pergilah. Nanti kau ketinggalan lainnya.” Ujarnya dengan nada bergetar. Sehun merengkuh lagi tubuh mungil gadisnya. Pria itu juga ingin menangis jadinya. Di hirupnya dalam-dalam wangi rambut Hyejin. wangi itu akan menjadi salah satu hal yang di rindukannya.

“maafkan aku. Hyejin-ah.”

“eum. Hati-hatilah selama di sana!. Jangan terlalu manja dengan Hayoung Eonni. Kau sudah bukan anak Senior High School lagi. Arra?” ucap Hyejin memperingati kekasihnya. Sehun terkekeh dan melepaskan pelukannya.

“baiklah, sayang.”

Sehun mendekatkan wajahnya dan mencium lembut kening Hyejin selama beberapa detik.

“ya! ya! mau sampai kapan kalian bermesraan seperti itu?” suara Hayoung membuat dua pasangan itu berhenti saling tatap.

“Noona, jangan iri pada kami.”

“Mwo? Yak dasar bocah.”

Sehun mengabaikan kakak perempuannya mengoceh. Sekali lagi ia menatap kekasihnya.

“Hyejin-ah. jaga dirimu! Jangan menangis karena diriku. Apapun yang terjadi nanti, kau harus menjadi Park Hyejin yang ceria. Jika suatu hal buruk menimpaku, kau jangan pernah-”

“kau ini bicara apa Sehun-ah?. Aku tau kau bisa menjaga dirimu. Jangan membuatku cemas dengan kata-katamu.”

Sehun tak berniat melanjutkan ucapannya yang terpotong. Ia tersenyum dan mengusap puncak kepala kekasihnya.

“ayolah Sehun!. Hyejin-ah, maaf harus pergi sekarang. Kami  janji akan sering menghubungimu.” Ujar Hayoung karena sadar jika waktu keduanya sudah semakin mepet.

“baiklah eonni.Sampai jumpa.”

“eum. Kami akan sangat merindukanmu. Bye, Hyejin-ah.”

Hyejin membalas lambaian tangan Hayoung. Ia sedikit tersenyum melihat Sehun di tarik paksa. Sehun berucap tanpa suara dan Hyejin sangat tau prianya mengatakan ‘aku mencintaimu’.

Hyejin mendesah, kini separuh jiwanya akan berada dalam jarak yang jauh. Mulai hari ini, ia akan belajar tanpa Sehun di sisihnya.

.

.

.

Satu bulan berlalu sangat cepat, dan sudah selama seminggu ini Sehun terbaring di rumah sakit. Hayoung 24 jam berada di sampingnya karena takut terjadi sesuatu dengan  adik satu-satunya itu. Akhir-akhir ini kondisi Sehun semakin buruk.

Sehun  tersenyum, membuat wajah pucatnya sedikit terhiasi. Baru saja Hyejin menelfon, katanya kekasihnya itu sudah di terima menjadi mahasiswa Universitas. Ia sangat rindu mendengar kebahagiaan Hyejin. Selama menelfon, gadisnya itu terus berteriak senang.

Sehun merasa rasa sakitnya hilang hanya dengan membayangkan kekasih tercintanya.

Sedang senang melihat foto yang di kirimkan oleh Hyejin, tiba-tiba pintu ruang rawat terbuka. Seorang pria masuk dengan wajah muram.

“Luhan Oppa?”

Hayoung meletakan majalah  yang sedang di bacanya dan berdiri menghadap kekasihnya. Xie Luhan, pria berdarah China itu sudah hampir tiga tahun ini menjadi bagian dari kehidupan  Hayoung dan juga Sehun. Luhan lah yang menyarankan pengobatan Sehun di China, pria itu mengurus hampir semuanya. Ia sangat peduli, karena Sehun sudah dianggapnya seperti adiknya sendiri.

Luhan menatap dua orang di hadapannya dengan pandangan sedih sebelum bicara.

“aku mendapa informasi buruk.” Ujarnya membuat Sehun dan Hayoung termenung.

“apa itu?”

“orang itu, tiba-tiba membatalkan niat untuk mendonorkan hatinya untukmu, Sehun-ah.”

Sehun tersenyum miris, satu harapan untuknya tetap hidup sudah lenyap. Tak ada waktu lagi, Sehun yakin semuanya akan berakhir dengan kesedihan.

“tak apa, Hyung. Mungkin nasibku memang selalu buruk.”  Ujar Sehun. Sedih, tentu saja pria itu merasakannya. Tadinya dia sangat bersemangat karena kabarnya besok  operasi pengangkatan hatinya akan di lakukan, ada orang yang dengan senang hati mendonorkan hati untuknya.

Namun apa? ternyata kebahagiaannya itu hanya bertahan sesaat. Sehun sudah tak mau berharap lagi.

“Oppa, kenapa bisa seperti itu? apa biaya yang kita tawarkan terlalu sedikit? Aku mohon bujuk orang itu lagi. Luhan Oppa, aku mohon.”. Pinta Hayoung di selingi dengan tangisan.

Luhan menggeleng lemah dan menenangkan Hayoung dalam dekapannya.

“Noona, aku mau pulang saja.”

“kau masih harus melakukan terapi Sehun-ah. Bersabarlah, aku akan mencarikan pendonor lain. Sebaik-“

“sudahlah Hyung. Itu hanya akan membuang waktu.”

Sehun membalikan tubuhnya membelakangi Luhan dan Hayoung, menutup tubuhnya dengan selimut hingga batas lehar. Dalam diam airmatanya mengalir, Sehun menangis tanpa suara.

.

Duduk diam dan melamun, hanya itu yang Sehun lakukan sehari-harinya. Akhirnya ia pulang dari Shanghai Hospital setelah dengan susah payah memaksa Hayoung. Pria itu sudah kehilangan semangat sejak kabar pelaksanaan operasinya gagal.

Penyakit itu masih bersarang padanya dan malah bertambah parah.

Drrttt….

Ponselnya bergetar sejak tadi dan pria itu hanya meliriknya. Sangat jelas yang menelfonnya itu adalah Hyejin. Sengaja ia tak menerima panggilan, karena ia tak mau kekasihnya mendengar suaranya yang lemah.

Sehun tiba-tiba menutup mulutnya saat di rasa sesuatu akan keluar. Perutnya mual luar biasa. Dengan tenaga seminim mungkin ia berjalan menuju kamar mandi. Setelah membuka pintu kamar mandi ia langsung memuntahkan isi perutnya ke weatafel. Sehun membuka keran agar cairan merah berbau anyir itu larut dengan air. Ia berkumur dan mengelap sisa darah di sudut bibirnya saat mendengar ketukan pintu.

Dengan sisa tenaganya, Sehun berjalan pada pintu kamar. Ia membukanya dan menemukan Luhan bi depan kamarnya.

“Hyung?”

“Sehun-ah. aku membawa info baik.” Luhan mengatakannya dengan wajah bahagia. Sehun mengangkat alisnya.

“apa?”

“aku menemukan lagi seseorang yang mau mendonorkan hati untukmu. Kau bisa melakukan operasi.”

Sehun hanya bereaksi biasa saja. Iia tak mau banyak berharap sekarang, takut semuanya hanya harapan palsu seperti saat kemarin.

“sudah ku bilang. Seharusnya kau berada di rumah sakit saja. sekarang bersiaplah, kita harus kembali ke Shanghai Hospital.”

“Hyung, aku-“

“aku menunggumu di bawah.”

Luhan berlalu dari hadapannya. Entah mengapa perasaan Sehun malah tidak enak. Ia masuk lagi ke dalam kamarnya. Ponselnya sudah berhenti berdering, Sehun mengambilnya dan mengecek panggilan yang telah di buat oleh Hyejin.Tertulis sepuluh panggilan masuk di sana.

“maafkan aku, Hyejin-ah.”

Sehun menunduk, ia merasa sangat bersalah karena mengabaikan kekasihnya. Sebuah ide melintas di otaknya. Jika dia tidak bisa melihat Hyejin untuk terakhir kalinya, mungkin Hyejin-lah yang harus melihatnya untuk terakhir kalinya. Sehun memiliki keputusan gila hari ini. Ia sudah merasa sangat putus asa. Sehun tak mau merugikan banyak orang lagi. Mungkin mengakhiri hidup lebih baik dari pada ia harus mencuri hal berharga milik orang lain. Sudah Sehun putuskan, ia akan menolak donor hati itu.  Sehun sudah merasakan bagaimana sakitnya hidup dengan hati yang rusak. Ia tak mau orang lain mengalami hal yang sama. kata lain, ia tak mau menerima donor dari orang baik hati itu karena ia tak mau membuat si pendonor menderita hidup menderita.

Sehun membuka aplikasi kamera dalam ponselnya. Pria itu berniat membuat sebuah rekaman untuk Hyejin. Sehun juga akan membuat rekaman dirinya untuk orang-orang terdekatnya.

“Hyejin-ah, aku sangat mencintaimu. Semuanya, aku mohon maafkan aku.”

.

.

.

Luhan dan Hyejin menunggu Sehun di depan rumah namun adiknya itu belum juga keluar dari kamar.

“aisshh, sebenarnya apa yang sedang di lakukan bocah itu? kenapa lama sekali?.” Hyejin mendesah kesal, ia sudah tak tahan menununggu.

“apa sebaiknya kita hampiri saja?. Sepertinya kondisinya masih lemas.” Saran Luhan.

Hayoung menghela nafas dan mengangguk setuju. Keduanya masuk lagi kedalam rumah dan menuju kamar Sehun. kamar itu terlihat tenang, Hayoung mengetuk pintu berkali-kali namun tak ada jawaban dari dalam sana.

“Sehun-ah?. “ Hayoung memanggil, tapi yang di dalam tak juga menyahut.

“Oh Sehun? cepatlah!.”

Masih tak ada sahutan. Hayoung menatap Luhan dengan sorot takut. Luhan pun sama, dengan cepat tangannya memutar knop pintu yang ternyata tak terkunci.

Hayoung masuk dengan tergesa-gesa dan matanya langsung membulat saat melihat adiknya terbaring di lantai.

“SEHUN-AH!!!” teriakan Hayoung menggema di kamar. Wanita itu berlari dan mendekati Sehun yang terkulai tak berdaya. Yang lebih membuatnya kaget adalah banyaknya darah yang mengotori lantai.

“Andwe! Sehun-ah. kenapa kau melakukan ini hah? SEHUN-AHHH! Hikssss…”

Hayoung memeluk tubuh lemas adiknya. Darah segar masih mengalir dari pergelangan tangan Sehun. pisau kecil juga tergelatak di sampingnya.

“dia bunuh diri?” tanya Luhan dengan sangat lirih.Hayoung terisak hebat dan terus berusaha membangunkan Sehun. Dengan gemetar, Luhan menyobek kemeja bagian bawahnya dan melingkarkannya di pergelangan Sehun. Ia sedang berusaha menghentikan pendarahan hebat itu.

“Mianhae,Noona.” Suara seperti bisikan keluar dari bibir Sehun. Mata sipit itu setengah terbuka dan menatap Hayoung. Namun belum sempat Hayoung menjawabnya, Sehun sudah  menutup matanya lagi. Hayoung berteriak histeris dan Luhan langsung meraih tubuh Sehun. Ia menggendongnya di belakang tubuh.

“kita harus membawanya ke rumah sakit.”

Hayoung tak memikirkan hal lain, ia bangkit dengan kaki lemas. Keduanya berlari secepat mungkin menuju mobil.

“aku mohon bertahanlah Sehun-ah.”

.

.

.

Chanyeol sedang berada di rumah Hyejin. Ia akan membantu memindahkan barang ke apartement baru Hyejin di Seoul. Sedang asik bercanda dengan bibinya, tiba-tiba ponselnya berbunyi.

Ia mengerjap saat melihat nama Sehun di layar [onselnya.

“tumben sekali anak ini mengirim pesan? Mungkinkah di sudah selesai operasi?” lirihnya.

“Siapa Oppa?” Hyejin yang sedang membereskan barang-barang penasaran karena Chanyeol hanya menatapi ponsel dengan wajah bingung.

“ah, i-ini. temanku menelfon. Sebentar ya!” Chanyeol langsung keluar. Ia mengernyit heran saat Sehun mengirimkan pesan Video padanya.

Sebelum membuka pesan itu ia memastikan sekitarnya tak ada Hyejin.

Pesan video itu di bukannya. Dan selama menonton, Chanyeol membulatkan matanya.

“Kau gila Oh Sehun.”

Chanyeol menghentikan video itu dan langsung menelfon Sehun. panggilan itu tersambung namun tak diangkat. Berkali-kali ia mengulangi panggilan namun tetap saja Sehun tak mengangkatnya.

“apa maksudmy yang terakhir kalinya, Oh Sehun?”

.

.

.

Hayoung menangis meraung-raung di depan Sehun yang terbaring di ranjang rumah sakit. Luhan memeluk dan menenangkannya walaupun ikut menangis. Sehun di nyatakan meninggal setelah sampai di rumah sakit, ia tak bisa bertahan karena pendarahan yang sangat banyak dari pergelangannya. Hayoung masih tak menyangka, adiknya yang berkemauan keras untuk sembuh malah mengakhiri hidup dengan bunuh diri.

“tidaaakkk. Sehun-ah jangan seperti ini. Bangunlah Sehun-ah! kau harus melakukan operasi!” Hayoung terus mengguncang tubuh tak bernyawa itu dan berteriak.

“sttt… jangan meneriakinya seperti itu.”

“Oppa, Sehun tidak mungkin pergi seperti ini. Dia sudah berjanji akan berusaha untuk sembuh. Oppa, Sehun tidak mungkin mati.”

Luhan semakin mengeratkan pelukannya. Ia juga bertanya-tanya, mengapa Sehun memotong nadinya sendiri? Mengapa sehun memilih untuk bunuh diri disaat kesempatan untuk sembuh itu ada?

Sungguh Luhan tak mengerti.Tapi, ia melihat wajah Sehun sangat damai sekarang. Sehun sudah tak merasakan sakit lagi. Keluhan yang selalu keluar dari bibir Sehun kini tak ada lagi.

“Kau membuat kami semua terluka, Oh Sehun.”

.

.

.

Hyejin menatapi ponselnya.  Tak ada panggilan masuk maupun pesan. Ia mendengus kesal dan kesal pada Sehun.

“sedang apa kau? Apa kau sangat sibuk dengan dunia barumu?”

Hyejin melempar ponselnya dengan kesal. Badannya sedang tidak sehat, dan ia membutuhkan Sehun sebagai obatnya. Tai pria itu malah tak mengabarinya sama sekali.

Hyejin mengambil lagi ponselnya dan membuat pesan suara.

“sebenarnya seberapa padatkah jadwal kuliahmu? Mengapa mengabaikanku. YA! OH SEHUN!”

Kirim.

Hyejin berbaring di kasurnya. Ia sedang membayangkan moment bahagia saat bersama kekasihnya. Entah mengapa tiba-tiba dadanya menjadi sangat sesak dan perasaannya sangat tidak enak.

Mungkin ini karena ia sedang tidak enak badan, fikirnya.

“Sehun-ah. Aku sangat merindukanmu.”

.

.

.

TBC

 

Iklan

22 thoughts on “Finally, I Got You (10B)

  1. Asli netes aku baca part ini😭😭😭 Jd sehun mati bkn sepenuhnya karena kanker, tp dia udh nyerah dan bunuh diri. Sehuuuuunnnn teganya bikin semua org sedih😢😢😢

    Ah, mending aku next baca part selanjutnya. Baru simpan offline sampe part 10. Terlalu nyesek part special sehun😢

  2. Iiih aku baper beneran pas baca part yang ini, ceritanya itu bener” masuk banget ke hati gatau lagi mau gimana comentnya…
    Dan ternyata alesan Sehun meninggal itu bukan gara” penyakitnya tapi karna dia bunuh diri, dia ga mau orang yang ngedonorin hatinya itu bakal ngerasain apa yang dia rasain setelah orang itu ngedonorin hatinya ke Sehun :”(
    Sehun itu bener” baik banget sih tapi kenapa harus bunuh diri…..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s