Dirty Breath [Chapter 5]

cover

DIRTY BREATH

a story by Alkindi, staring by Oh Sehun & Khanza Kim, AU Drama, Romance, Sad, Crime, Marriage life and PG-17 rated.

Previous : INTRO | CHAPTER 1 | CHAPTER 2 | CHAPTER 3 | CHAPTER 4

DIRTY BREATH DILANJUT DI WATTPAD : imbadgirl1402

(KLIK INI UNTUK BACA CHAP 5-END)

Warning : Contains some Harsh words.

Budayakan baca Authors Note !

Blog Pribadi : https://altrash.wordpress.com/

 

Sinar matahari mulai masuk ke dalam kamar sebuah Mansion melalui ruas-ruas jendela. Panasnya terik matahari tak bisa dipungkiri membangunkan dua insan yang sedang tertidur pulas di atas kasur berukuran super besar itu. Sehun dan Khanza. Sehun terlebih dahulu bangun, ia membuka matanya dengan berat, lalu mendudukan tubuhnya di ranjang. Dan tanpa ia sadari kain kompres di dahinya sudah jatuh ke perut.

Oh shit, Sehun sudah mengingat semuanya.

Ia pun mengarahkan pandanganya ke seluruh ruangan, dan tepat, Khanza berada di bawah ranjangnya, gadis itu tertidur dengan tubuh yang menyentuh lantai marmer dan kepala yang ia tumpukan di ranjang Sehun. Sehun turun dari ranjangnya, berniat menggendong tubuh gadis itu ke atas ranjang. Bagaimanapun juga, Khanza juga seorang wanita.

Pria bermarga Oh itu masih sangat penasaran dengan jati diri Khanza yang sebenarnya. Sehun merasa kalau Khanza bukan orang sembarangan, gadis itu mungkin adalah salah satu petunjuk yang mungkin sangat berguna untuknya. Mungkin itulah alasan kenapa pria itu masih mempertahankan gadis yang sama sekali tak ia ketahui jati dirinya itu.

Pria itu beralih memandang nakas ketika deringan handphone membubarkan lamunanya, ia dapat melihat satu buah line masuk dari Mi Rae,

What about lunch today ?

Sebuah pesan singkat yang baru-baru ini sering ia terima, Sehun baru sadar ini hari minggu, tidak heran jika Mi Rae buru-buru mencuri waktu luangnya. Sehun melemparkan handphonenya di nakas tanpa berniat membalas pesan singkat dari Mi Rae.

Pria itu meluruskan lenganya sebentar lalu kedua tanganya mengambil ancang-ancang untuk memindahkan tubuh gadis di bawahnya itu ke atas ranjang. Dengan sangat pelan, Sehun meletakan tubuh gadis itu tanpa membuatnya terusik sama sekali.

Lalu Sehun terduduk di sisi ranjang sembari mengamati paras cantik Khanza yang sedang terlelap. Alisnya yang tegak, mengingatkanya pada seseorang, tapi Sehun lupa siapa orang itu. Ditambah lagi bibirnya yang merah natural tanpa di hiasi lipstick dan make up. Sehun bahkan baru sadar kalau gadis di sampingnya itu adalah tipe idealnya.

Kalau dilihat-lihat gadis ini juga beresiko besar untuk membuat Sehun  jatuh cinta

Kalau dilihat-lihat gadis ini juga beresiko besar untuk membuat Sehun jatuh cinta. Buktinya hati pria itu mulai bergetar saat ia berlama-lama menatap gadis itu. Padahal hanya tatapan, kenapa bisa seperti ini. Baru pertama kali ini Sehun merasakanya, sebelumnya ia tak pernah mengalami hal seperti ini dengan wanita-wanita yang mengelilingi hidupnya dulu. Tidak sekentara ini.

This feels different.

Kesimpulan Khanza bukan gadis biasa adalah tepat sekali. Gadis itu memang gadis yang menyimpan sejuta rahasia dengan wajahnya yang polos dan tidak berdosa ini.

Siapa kau sebenarnya ?

Sehun memperdalam tatapannya.

Berlama-lama menatap gadis itu bisa menaikan kinerja hormonnya, untuk itu Sehun berniat untuk segera meninggalkan gadis itu sebelum ia melukainya, mengingat kinerja jantungnya juga semakin tak karuan saat menatap gadis itu.

◄◄◄►►►

Suzy terduduk lemas di lantai balkon kamarnya dengan setumpuk kertas di kotak tua. Gadis itu menatap kosong ke arah foto itu, sebelum mengambil korek di sakunya dan membakar satu persatu foto di sana. Baekhyun terpampang jelas di lembaran-lembaran yang akan dimusnahkan itu. Foto SMA mereka sampai foto saat mereka menikah, semuanya sudah hangus terbakar.

Hanya menyisakan abu hitam yang langsung terbawa angin taman, menandakan bahwa tidak akan pernah ada kenangan pahit lagi diantara mereka. Kenangan pahit itu telah sirna terbawa angin taman. Abu yang mulai tertiup angin perlahan membuat Suzy untuk terakhir kalinya mengingat kenangan-kenangan mereka.

Dalam kurun waktu yang sangat lama ini, Suzy tersadar, diantara dirinya dan Baekhyun hanya ialah yang pernah merasakan jatuh cinta. She fell in love alone. Semuanya sia-sia. Dan seharusnya Suzy tersadar dari awal.

Dengan langkah gontai gadis itu mulai memasuki kamarnya lagi, menutup pintu balkon dan pintu kamarnya, tak lupa dengan korden yang kini sudah menutupi jendela kaca di sana, tak mengizinkan sedikitpun cahaya untuk masuk melalui celahnya.

Gadis itu menjatuhkan dirinya di lantai, ia bertanya-tanya dalam hati, jika memang ini yang terbaik untuknya, maka ia tak ragu lagi untuk melakukanya. Suzy sudah putuskan, kemantapan hatinya ditandai dengan ujung tanganya yang perlahan meraih pisau di nakas.

◄◄◄►►►

Sehun tak sanggup lagi menahan senyumnya ketika melihat Khanza yang keluar dari kamarnya dengan wajah yang semerah tomat. Gadis itu pasti berfikir kalau Sehun sudah berbuat hal buruk padanya, tapi kenyataanya hal itu tak terjadi, hampir saja terjadi.

Pria itu sedang sibuk menali tali sepatu olahraganya, dan hendak jogging di sekitar Mansionnya. Pria itu segera menghampiri Khanza setelah selesai memakai sepatunya. Gadis itu sepertinya sangat ketakutan pada Sehun.

Jogging pagi ini, kau harus mau.” Sehun menghampiri Khanza.

“J-jogging ?” Balas Khanza ragu.

“Ya.”

“A-aku”

“Ini rumahku, dan ini peraturanku. Setiap minggu pagi penghuni rumah harus jogging. Itu yang harus kau lakukan.” Balas Sehun menjelaskan, tapi terkesan dingin tak berperasaan.

Setelah lama berdiam diri Khanza akhirnya menerima ajakan, bukan, lebih tepatnya paksaan Sehun, untuk jogging pagi. Gadis itu keluar dari Mansion Sehun dan hanya beberapa langkah setelah menuruni tangga, tubuhnya terjatuh karena tak sengaja menginjak salah satu tali sepatunya sendiri yang belum diikat.

Sehun yang berdiri tak jauh dari sana dengan malasnya menghampiri gadis ceroboh itu dengan wajah yang masam dan malas. Sehun mengulurkan salah satu tanganya. Tahu maksud Sehun walau sedikit terdiam, Khanza akhirnya menggapai tangan itu dan langsung berdiri dengan perlahan. Sehun langsung menarik gadis itu untuk terduduk di pinggiran taman, Khanza dengan kaku menurutinya, sedetik berikutnya pria itu menali sepasang sepatu Khanza.

Gadis itu mengamati setiap gerakan tangan Sehun yang menalikan sepatu untuknya. Sehun melakukanya dengan sangat halus dan hati-hati. Entah kenapa tatapan Khanza tiba-tiba berubah mengamati wajah Sehun dari dekat. Lekukan yang sempurna, wajah Sehun bak malaikat yang sangat tampan. Dan tiba-tiba saja Khanza teringat perkataan Sehun kemarin malam. Tapi kenapa Sehun merasa bahwa tidak ada apapun yang terjadi diantara mereka.

Ada dorongan yang kuat dari diri Khanza untuk menanyakan perihal perkataan Sehun tadi malam. Gadis itu sangat ingin tahu apa maksud pria itu yang tiba-tiba mengajaknya menikah. Terlalu lama berasumsi dengan pikiranya, tak sadar jika si tampan di depanya sudah berpaling menatapnya. Gadis itu hampir saja terjungkir karena kaget apabila salah satu tangan Sehun tak menahan pinggangnya.

“Apa yang kau lakukan ?” Tanya Sehun begitu melihat perubahan ekspresi dan sikap Khanza.

Khanza terdiam sekian lama sebelum mengeluarkan sepatah kata, “Semalam—”

“Cepat lari.” Sehun memotong ucapanya. Dan langsung berdiri, setelahnya berlari kecil meninggalkan Khanza yang masih mematung di tempat. Gadis itu tak mengerti dengan maksud Sehun, tapi Khanza merasa bahwa Sehun mencoba mengindari pertanyaanya.

Khanza berlari di belakang Sehun, berjarak 3 meteran dari Sehun. Gadis itu dengan nafas yang terengah-engah mencoba mengejar langkah kaki Sehun yang memang panjang. Gadis itu kehabisan nafas, untuk itu ia mencoba berhenti sejenak.

Khanza memegangi kakinya yang pegal-pegal, sementara Sehun dilihatnya tak berhenti. Dia bahkan tidak tahu kalau Khanza berhenti, pria itu sudah jauh sekali dari posisi Khanza sekarang. Mau tak mau Khanza harus mengikuti Sehun kalau tak ingin kehilangan arah untuk kembali.

Gadis itu mulai berdiri, baru saja tiga langkah gadis itu berlari, tiba-tiba seseorang membekap mulutnya dari belakang. Khanza mencoba untuk berteriak, berharap Sehun yang sudah jauh di depanya menolongnya. Tapi sepertinya pria itu sudah tidak terlihat. Dan Khanza mulai hilang dari kesadaranya karena kehabisan nafas.

Jauh dari semua itu, sebongkah kayu berhasil mendarat di belakang leher pria yang menyekap Khanza tadi, Sehun pelakunya. Pria itu dengan cekatan menggendong tubuh Khanza yang sudah tak sadarkan diri untuk kembali ke Mansionnya. Meninggalkan si pria tak dikenal yang sudah jatuh menyentuh tanah.

Sehun berhenti sejenak saat ia mendapati sebuah Mercedes-Benz tepat terparkir di depan Mansionya. Pria itu penasaran, siapa yang datang, dan kenapa ia bisa tahu lokasi Mansionya itu.

“Bagaimana bisa kau datang kesini ?” Tanya Sehun sarkatis begitu mendapati seorang gadis sedang duduk di kursi bagian depan ruang tamu. Mi Rae lah gadis itu.

Mi Rae terlihat kaget melihat Sehun yang datang sambil menggendong Khanza di depannya. Gadis itu ingin menanyakan hal ini, tapi Sehun terlampaui pergi dari hadapannya dan segera masuk ke dalam Mansionnya. Mi Rae mengekor di belakang Sehun dan terduduk si Sofa besar ruang utama. Sedangkan Sehun sedang menaiki satu persatu anak tangga untuk membawa Khanza ke kamarnya.

Lama Mi Rae menunggu, akhirnya Sehun sudah terlihat menuruni anak tangga itu lagi. Pria itu berlalu menuju lemari es tanpa memperdulikan Mi Rae yang sudah berdiri dari duduknya dan hendak bicara. Sehun menuangkan sebotol bir ke dalam gelas, meneguknya hingga habis, barulah ia menghampiri Mi Rae yang sedari tadi mengamati gerak-geriknya.

“Kenapa kau datang ?” Tanya Sehun datar.

“Kau tidak membalas bahkan menerima telfon dariku.”

“Lalu ?”

“Kita harus makan bersama hari ini.”

“Aku tidak bisa. Aku sibuk.” Balas Sehun singkat, namun berhasil membuat Mi Rae berhenti sejenak, sebelum kembali membalas pertanyaan Sehun.

“Kau harus bisa. Kau harus menyisakan waktu untukku meskipun kau sibuk, Sehun.”

“Menyisakkan waktu untukmu ? Memangnya siapa kau ? Aku tidak peduli denganmu.”

What a… kau benci padaku karena kejadian dulu ?”

“Kenapa semua kata yang keluar dari mulutmu sangat tidak penting, dude. Dan bisa kau keluar dari rumah ku ? Aku tak pernah sekalipun memberimu izin untuk masuk.” Balas Sehun sarkatis.

Mi Rae menatapnya sebentar dengan mata sendu, lalu gadis itu dengan terpaksa keluar dari Mansion Sehun dengan perasaan kecewa yang sangat mendalam. Gadis itu meremas tanganya, memyiratkan bentuk emosinya. Bukan kepada Sehun, melainkan pada Khanza.

◄◄◄►►►

“Dokter Byun..”

Seorang wanita tiba-tiba masuk ke ruang kerja Baekhyun di Kyunghae Hospital. Wanita itu berlari ke depan Baekhyun dengan nafas terengah-engah. Terlihat ingin mengatakan sesuatu tapi masih berusaha menyetabilkan nafasnya. Baekhyun tahu betul siapa orang itu, sekretaris pribadi Suzy.

Baekhyun yang melihat perubahan ekspresi wanita itu langsung berdiri dengan tegang. Ia tahu ini pasti ada hubunganya dengan istrinya itu.

“Tenang-tenang. Ada apa ?” Tanya Baekhyun sambil menatap lurus wanita di depanya.

“Nona Suzy, dia tidak datang bekerja dan ponselnya sulit sekali dihubungi.” Ungkap wanita itu dengan terbata-bata.

“Kau sudah coba cari di appartement ?

“Itu dia.”

“Apa ?”

“Nona Suzy mengunci appartementnya, dan para pegawai sudah bergerombol di depan appartementnya untuk membukanya. Karena kami semua tak tahu passwordnya .”

Ungkap gadis itu, sebenarnya belum selesai. Tapi Baekhyun sudah menanggalkan jas dokternya dan berlari keluar dari ruangan itu dalam sekejap.

Baekhyun sudah berada di depan appartement  Suzy, sebenarnya itu adalah milik mereka berdua. Tapi sepertinya hanya Suzy yang tinggal di sana. Hingga jarang sekali bahkan tidak pernah Baekhyun datang kemari. Pria itu lebih sering menginap di rumah sakit atau pulang ke Appartement di dekat rumah sakit yang diam-diam sudah dibeli Baekhyun tanpa sepengetahuan Suzy dan keluarganya.

Pria itu terlihat sibuk mengetikkan password yang berkali-kali salah. Orang-orang yang mengelilingi Baekhyun hanya memandangnya seperti orang tolol. Baekhyun yang gusar berbalik memandang tajam mereka, ia mengusap rambutnya kasar.

Shit. Untuk apa kalian di sini ? Cepat pergi atau cari bantuan !” Teriaknya membuyarkan gerombolan orang-orang disana.

Baekhyun terus mencoba mengetikan Password itu satu persatu, hanya 4 digit angka. Tapi kenapa terlihat sangat susah. Pria itu semakin frustasi hingga ia sesekali mencoba menggedor pintu besi itu. Tapi hal bodoh itu untungnya tak terus dilakukan Baekhyun. Perasaanya semakin cemas tatkala menyadari sudah 15 menit ia memenceti tombol itu tapi kenyataanya tak kunjung juga terbuka.

“Kau suaminya ?”

Tanya seorang laki laki yang baru saja datang, Baekhyun menatapnya tak tertarik. Ia kembali berpaling pada pintu itu.

“Coba kau masukkan tanggal pernikahanmu.” Lanjut laki-laki tadi, Baekhyun menatapnya sebentar. Lalu dengan ragu ia mengetikan satu demi satu angka yang melambangkan tanggal dan bulan pernikahan mereka. Dan benar saja, pintu itu terbuka. Baekhyun langsung masuk ke dalamnya dalam sekejap.

Suzy.

Mata pria itu dengan cepat langsung menelusuri semua sudut ruangan. Sampai netranya jatuh pada seorang gadis yang tergeletak lemas di lantai kamarnya. Baekhyun tampak sangat terkejut, karena ada banyak darah yang mengelilingi tubuhnya. Pria itu dengan cepat menghapiri gadis yang sudah terlihat sangat pucat itu.

◄◄◄►►►

“Mau kemana ?” Tanya Khanza begitu melihat Sehun yang sedang membuka pintu kamarnya perlahan. Sehun mengentikan langkahnya begitu mendengar suara Khanza yang ternyata sudah sadar. Pria itu berbalik menghampiri Khanza.

“Kau sudah sadar ?” Tanya Sehun terduduk di samping ranjang. Sebuah pertanyaan yamg terlihat tak membutuhkan jawaban, untuk itu dia segera merubah topik pembicaraan.

“Kau ingat apa yang aku lakukan semalam ? Apakah aku melukaimu ?” Tanya Sehun serius, Khanza dapat melihat tatapan keseriusan yang terpampang di wajah pucat pria itu.

“T-tidak. Hanya saja—”

“Apa ?” Sehun langsung memotong. Pria itu takut jika ia mengatakan yang tidak-tidak pada Khanza. Mengingat pria itu dalam keadaan tak sadar kemarin malam.

Khanza terdiam sebentar, berat sekali untuk mengatakanya. Gadis itu juga terlihat tak kalah gugupnya dari Sehun.

“Kau memintaku untuk menikah denganmu.”

What the fuck, kau bercanda ?” Sehun menyela sekali lagi.

“Tidak.”

“Aku memang mengatakan itu kemarin malam” wajah Sehun mulai serius lagi kali ini. Khanza yang melihat itu sedikit memundurkan tubuhnya dan menyenderkanya di kepala ranjang.

“Menurutmu aku sadar atau tidak saat mengatakan itu ?” Tanya Sehun pada Khanza. Padahal pria itu jelas-jelas yang tahu betul jawabanya. Mungkin Sehun sedang mulai mempermainkan Khanza saat ini.

Dan Khanza akui itu berhasil.

Detak jantungnya yang sangat kentara mungkin bisa didengar oleh pria di depanya. Membuat Sehun lebih gencar untuk melakukan aksinya. Pria itu sedikit memajukan wajahnya. Memandangi bibir itu yang pernah tak sengaja ia rasakan, yang nyatanya membuat Sehun ketagihan. Pria itu ingin tetawa sekeras-kerasnya saat ini juga, padahal ia hanya sedikit mendekatkan wajahnya pada Khanza. Tapi melihat reaksi yang ditunjukkan gadis itu membuat Sehun sadar bahwa Khanza adalah wanita yang belum tersentuh. She’s so special, baru ini Sehun menemui wanita seperti Khanza.

“Aku serius mengatakanya.” Ungkap Sehun dengan sadar. Gadis didepanya langsung bereaksi.

“M-maksudmu ?”

“Ya, aku serius sekarang. Kau tak ingin membalas budi atas semua yang telah kulakukan padamu ? Inilah cara satu-satunya yang bisa kau lakukan.”

Marry me.” Tegasnya sekali lagi.

Nyatanya keringat dingin yang sedari tadi terus keluar dari dahi Khanza. Bukan jawaban yang sebenarnya tak dibutuhkan oleh Sehun. Karena biarpun gadis itu tidak ingin, Sehun akan terus memaksanya untuk menikahinya, bagaimanapun juga caranya. Dan pada akhirnya, wanita di depanya ini pasti akan menjadi istrinya. So, apa yang susah ?

“Aku tak perlu mengancammu untuk melakuknya kan ?”

◄◄◄►►►

“Baekhyun kemana ?” Tanya Sehun pada pria yang dengan perlahan mengayunkan klab golf untuk memasukan bola ke dalam lubang sasaran.

“Kau belum tahu ? ” Pria yang akrab dipanggil Chanyeol itu bertanya balik pada Sehun yang sedang menumpukan salah satu sikunya pada klab golf.

“Kenapa ?”

Ah shit, kurang sedikit. Giliranmu.” Chanyeol sedikit menyingkir dari sana. Mempersilahkan Sehun untuk mengambil tempat. Chanyeol sedikit tak nyaman dengan pegawai wanita yang terus memata-matai mereka, bukan, lebih tepatnya Sehun.

Sehun yang memang tampan dan berpenampilan menawan adalah alasan mereka. Sehun hanya mengenakan kemeja biru dongker panjang, celana jeans, dan sepatu slip-on casual yang juga berwarna abu-abu. Tak lupa topi izro hitam yang selalu ia kenakan saat bermain golf.

 Tak lupa topi izro hitam yang selalu ia kenakan saat bermain golf

“Kena” Ucap Sehun gemas. Bola itu sudah masuk ke dalam lubang. Giliran Chanyeol lagi.

“Aku benar-benar tidak tahu apa yang terjadi dengan Baekhyun. Memangnya dia kenapa ?” Sehun mencoba mengulangi topik pembicaraan yang sempat terlupakan sebelumnya.

“Istrinya mencoba untuk bunuh diri.” Jelas Chanyeol, pria itu mulai menepi dari lapangan golf, Sehun mengikutinya.

“Kenapa Suzy melakukan itu ?” Tanya Sehun, tapi Chanyeol terlihat masih sibuk menyalakan api di rokoknya. Chanyeol menghembuskan asap rokok itu setelahnya.

“Baekhyun memang bajingan. Dia menyukai teman Suzy. Kalau tidak salah dengar wanita yang disukai Baekhyun juga merupakan pasienya di rumah sakit Jiwa. Wow, kau lihat itu ? Dunia ternyata sangat sempit” Ucap Chanyeol sambil menghisap kembali rokoknya.

Sehun sedikit terdiam. Dunia lebih terasa sempit lagi karena wanita yang disukai Baekhyun dan yang membuat Suzy ingin mati adalah wanita yang  akan ia nikahi, Ucapnya dalam hati. This so unbelievable. Tapi tak ada yang bisa menghentikan Sehun. Lagipula bukankah itu hal yang bagus ? Ia menikahi Khanza dengan itu Baekhyun tak akan melukai hati istrinya lagi. Skenario yang sempurna.

Hey, kenapa kau diam saja ? ” Chanyeol memberikan satu batang rokok pada Sehun. Dan Sehun dengan senang hati menerimanya.

“Kau harus berikan Callesa libur. ” ungkap Chanyeol, membuat Sehun bingung dan mengeryitkan dahi.

“Apa maksudmu ?”

“Ya, Callesa sedang hamil sekarang.” Chanyeol mengatakan itu dengan santainya.

“Jangan bilang kau yang melakukan itu pada Callesa ?” Sehun sedikit naik pitam, mengingat Callesa itu sahabat sekaligus asisten yang paling pengertian bagi Sehun. Lantas siapapun juga tak terima melihat orang seperti Chanyeol menganggap ini sebagai hal kecil yang sepele.

“Kami tidak sengaja melakukanya kemarin malam. Aku lupa tidak memakai pengaman.” Chanyeol berterus terang. Sehun memakluminya pada akhirnya, karena jujur saja pria itu pernah melakukanya pada wanita yang tidak ingin ia sebutkan namanya.

Beberapa saat kemudian, ponsel Chanyeol bergetar. Pria itu langsung mengangkatnya dan menatap Sehun didepanya. Sehun yang merasa ditatap itu curiga dengan siapa yang menelpon Chanyeol.

“Ini Ahn Mi Rae.”

Benar saja. Kenapa jalang satu ini tak henti-hentinya mengganggu hidup Sehun.

“Ayo kita hentikan ini.” Sehun melemparkan klab golfnya ke sembarang arah, dan berjalan meninggalkan area lapangan diikuti oleh Chanyeol yang mengekor di belakang Sehun.

◄◄◄►►►

Satu pukulan berhasil mendarat sempurna di wajah seorang pria yang sebelumnya sudah babak belur. Beberapa dari mereka sudah berbaris dan siap untuk menerima pukulan dari pimpinan mereka. Hal ini terjadi jika mereka gagal melaksanakan tugas, padahal mereka sudah dibayar mahal.

“Kalian semua tidak berguna !” Teriak pimpinan pria itu tepat didepan mereka. Mereka semua menunduk dan tak berani menatap pimpinan mereka yang habis dibakar emosi itu.

“Menangkap satu gadis lemah saja tidak becus ! Sebenarnya siapa yang melalukan ini pada kalian ? Jangan bilang Sehun lagi.”

“B-benar, Boss.” Salah satu dari mereka membenarkan.

“Apa sebenarnya yang diinginkan pria itu ? Banyak sekali seribu gadis diluar sana yang tergila-gila padanya, tapi kenapa harus dengan Khanza bodoh itu.” Teriaknya tak terima.

“Ini berbahaya jika putrimu tetap bersama Sehun. Bagaimana kalau putrimu mengatakan pada Sehun tentang semua kebajikanmu ?”

“Tenang, dia tak akan berani mengatakannya. Walaupun dia mengatakannya atau tidak, dia akan tetap mati di tanganku.”

◄◄◄►►►

“Apa ini ?” Tanya Khanza begitu Sehun datang sambil membawa map merah yang langsung ia letakkan di meja .

“Surat perjanjian.” Balas Sehun singkat.

Khanza langsung membuka map itu dan ia terkejut seketika.

“M-menikah ?” Ucapnya bergetar

“Kenapa ? Bukankah sebelumnya pernah kukatakan . ” Sehun melihat perubahan ekspresi Khanza yang sangat kentara.

“Apakah kau tidak ingin membalas semua yang telah kulakukan padamu ?” Sehun semakin memojokkan Khanza.

“Di dunia ini tidak ada yang gratis. ” lanjutnya.

Khanza terllihat terdiam lama sekali sebelum akhirnya menandatangani surat itu, dengan terpaksa.

“Kita sudah resmi menikah lewat surat ini.” Sehun mengambil kembali surat dalam map yang telah ditandatangani Khanza. Meninggalkan gadis itu sendirian dengan batin yang tak menentu. Sejujurnya Khanza tak pernah berhubungan dengan lelaki sebelumnya. Ia hanya hidup di ruang tertutup, dan jarang sekali ada lelaki yang bisa masuk dalam hidupnya kecuali Dokter Byun.

Beberapa saat kemudian Sehun muncul kembali dengan pakaian yang sudah berganti. Ia terduduk di samping tempat tidur.

“Berapa ukuran kakimu ? Ukuran tubuhmu ?” Tanya Sehun sambil mengetikkan sesuatu di ponselnya.

“Apa maksudnya ?” Tanya Khanza benar-benar tak mengerti.

“Kau tahu ? Kita akan merayakan resepsi pernikahan. Aku tahu ini sangat mendadak, tapi orang-orang suruhan keluargaku bisa menyelesaikan semua ini dalam satu malam. Kau tak perlu khawatir.” Ungkap Sehun, rautnya telah berubah menjadi raut wajah yang serius.

“Kau masih waras kan ?” Tanyanya.

“T-tentu saja.” Balas Khanza apa adanya.

“Aku sudah memalsukan identitas dan latar belakangmu. Dan aku juga sudah membuat orang-orang yang mengetahui jati dirimu agar tetap tutup mulut. Jadi setidaknya jangan melakukan hal aneh apapun saat resepsi pernikahan nanti. Kalau kau tidak menuruti perkataanku, kau bisa tanggung akibatnya.” Ungkap Sehun tanpa jeda.

“Aku tidak main-main. ” Lanjutnya.

Mereka salling bertatapan satu sama lain cukup lama sebelum Sehun memutuskan untuk pergi meninggalkan Khanza.

“Kau bisa mati—” Ucap Khanza, membuat langkah kaki Sehun terhenti dan berbalik menatap bingung gadis itu.”

“— jika kau menikahiku, aku serius.” Khanza menatapnya dengan dalam dan meemperlihatkan kalau gadis itu sangat sungguh-sungguh sekarang.

“Begitukah, siapa sebenarnya dirimu ?” tanya Sehun menantang.

Sehun diam-diam sudah menggenggam pistol ditangannya.

to be continued

A/N :

And then, aku gak jadi ngeprivate Chapter 5, kenapa ? Karena kurasa ini terlalu awal. Dan aku baru saja mendapatkan pencerahan kalau seorang penulis tak seharusnya melakukan ini kepada pembancanya.

Hiks, mau bagaimana lagi ? Kalian itu bikin greget banget sumpah. Ada beberapa yang tahu FFnya mau di private buru-buru komen maraton dari 1-4, udah sok baik, komennya pendek lagi. Next thor, lanjut thor, bagus lanjut. Hello lo pikir gue apaan ha ?

Maaf ya yang kemarin udah terlanjur kubuat repot dengan Vote dan tinggalin alamat email, jangan Khawatir, dari situ aku bisa lihat kesungguhan kalian kok. Dan yang nggak sungguh juga :’v

Makasih sekali lagi buat Cool reader yang selama ini support ! Sampai jumpa di chapter 6 ! OHIYA, blogku baru nih Visit yuk ! Click me

Iklan

53 thoughts on “Dirty Breath [Chapter 5]

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s