Agent Lu – Finale [Scene 4 – Kill Me, Heal Me]

Agent Lu — Finale

[Scene 4 — Kill Me, Heal Me]

©2017 HyeKim’s Fanfiction Story

Starring With : Luhan as Luhan || Hyerim (OC) as Kim Hyerim

Genre : Politic, Romance, AU, Action, Sad, Tragedy, Melodrama ||  Length : Mini Chapter || Rating : PG-17

Poster By : ByunHyunji @ Poster Channel

Summary :

Pada tahun 2030, terpecah perang antara China, Rusia, Korea Utara—negara kesatuan komunis, melawan Korea Selatan yang dibantu oleh sekutunya, Amerika Serikat. Disaat itu juga, Agen Lu yang dikenal sebagai Luhan melaksanakan misi untuk membunuh presiden Korea Selatan berserta keluarganya. Namun Luhan malah jatuh cinta pada Kim Hyerim serta harus menelan pil pahit bahwa Hyerim adalah putri presiden Korea Selatan, yang merupakan salah satu target yang harus dibunuh Luhan.

Disclaimer :

This is just work of fiction, the cast(s) are belong to their parents, agency, and God. The same of plot, character, location are just accidentally. This is not meaning for aggravate one of character. I just owner of the plot. If you don’t like it, don’t read/bash. Read this fiction, leave your comment/like. Don’t be plagiat and copy-paste without premission.


Heal me to not kill you


⇒ CLICK HERE TO READ THE PREVIOUS STORY ⇐

HAPPY READING

║ ♫  ║ ♪  ║ ♫  ║ ♪  ║

Aksara akan penggambaran cinta sering kali didampingi kata buta. Love is blind, banyak orang mengklaim hal tersebut. Agaknya konyol, bila kala ini, Luhan mengakui definisi bahwa cinta itu buta. Realita menghantarkannya bahwa sosok yang tengah memenjarakannya pada asmara ialah targetnya. Namun, sekon ini, tubuh Luhan tertuntun tenang ke sebuah tempat bertitel Kona Beans.

Kedua tangan Si Pemuda Lu tersakukan ke dalam saku jeansnya, mulutnya merapalkan siulan tenang. Tak luput pula kepalanya terstir ke sana-sini—menelaah keadaan guna tak melewatkan sosok jelita yang menghantarkannya ke mari.

“Lama menunggu?” volume suara nan lembut menyeruak masuk kegendang Luhan, tatkala Si Pria sedang menolehkan kepala ke samping kiri. Menengok ke arah berlawanan, irisnya disuguhi sosok dara yang ia nanti sejak tadi.

Lemparan kurva lembut itu tertoreh pada Luhan yang seketika terpana. Perlu diingatkan kembali, bahwa cinta itu buta. Hatinya berbisik bahwa gadis bernama keluarga Kim ini ialah salah satu target misinya sebagai agen. Namun sisi hati lainnya berbisik, bahwa Kim Hyerim merupakan gadis penyita perhatiannya.

“Luhan,” panggilan Hyerim yang selembut salju itu mampu membuat Luhan mengedipkan netranya dan menghapus jejak raut bodohnya. “Apa kau bosan menunggu?” tanya kembali tergaungkan disertai mimik Hyerim yang tak enak.

Deheman Luhan lolos, posisi tubuhnya ia betulkan lebih tegak dengan obsidian menatap langsung manik Hyerim. “Tidak, Nona. Aku baru sampai.”

Luhan menyelipkan kebohongan karena yang terjadi, dirinya sudah menunggu perempuan ini hampir dua puluh menit bahkan mungkin lebih. Namun rasanya, penantiannya yang lama tak menjadi masalah jikalau pada finalnya bersitatap dengan Sang Pujaan.

Sungingang yang tersemat dibibirnya makin terlukis indah, “Bahasa Koreamu bagus sekali,” kemudian Kim Hyerim melemparkan pujiannya. Lidah Luhan nyatanya kalah telak akan kecepatan untuk merespon, saat mulut Hyerim mengayatkan kata lagi, “Kalau begitu apa dirimu tahu kata yang digunakan dalam bahasa Korea untuk menyatakan cinta?” Si Dara ini mengulas senyuman geli dengan raut senada.

Wajah Luhan terbingkai santai walau alisnya agak berkerut, disertai hunusan heran pada dwimanik milik gadis di depannya. Dengan satu alis terangkat, Luhan mensajakan jawabannya untuk Hyerim. “Saranghae? (aku mencintaimu)”

“Nado saranghae, (aku juga mencintaimu)” balasan Hyerim yang kelewat tenang juga secepat guntur itu tersuakan. Luhan agak tersentak namun pada akhirnya mengulas senyum. Kedua insan tersebut saling tatap dengan senyum geli. “Jadi, tadi dirimu mengungkapkan perasaan padaku, ‘kan?” Hyerim mengurai kata dengan senyum percaya diri.

Kerefleksan akan dengusannya pun terjadi, Luhan menunduk sejenak lalu kembali menjatuhkan pandangan pada Hyerim. “Anggap saja begitu…” frasanya terhenti sebentar, dan lantas ranumnya menyambungkan lagi, “… dan anggap saja hari ini hari pertama kita menjalin kasih.”

Tangan kanan Hyerim terangkat, jempol juga telunjuknya membentuk o. Kemudian mata kirinya mengedip, seraya mulutnya berfrasa. “Call! (setuju)” setelahnya, keduanya terkekeh sambil menunduk. Nyatanya, pertemuan ketiga ini menandakan takdir keduanya untuk menjalin sebuah asmara.

║ ♫  ║ ♪  ║ ♫  ║ ♪  ║

“Silim-dong, blok AB, nomor 116, Gwanak-gu. Rumah yang agak mencolok berwarna putih dengan pekarangan luas berisi taman warna-warni,” bariton lelaki bermarga Zhang itu terlafalkan kepada ponsel yang menempel ditelinga kanannya. Tangan yang tak mengukung ponsel, digunakan untuk menjepit putung rokoknya.

Sambil mengiring putung rokoknya dan menghisapnya, selaput telinga Yixing dimasuki kata dari lawan konversasinya di ujung telepon. “Kau yakin itu rumah rahasia Presiden Kim Jaehyun, Agen Zhang?”

Senyum miring meremehkan tersungging setelah sebelumnya Yixing mengeluarkan asap rokok dari mulutnya. “Tentu, Kapten. Agen Lu, lah yang memberikan alamatnya langsung padaku.” jawab Zhang Yixing santai dan kembali menghisap putung rokoknya.

“Baik, aku akan menghubungi Korea Utara dan Rusia untuk informasi ini. Katakan pada Agen Lu, dirinya sudah berkerja keras selama ini.”

Lantas perbincangan via smartphone itu terhenti diwakili suara ‘pip’. Dijauhkan oleh Yixing ponsel miliknya. Dwimaniknya menilik layar ponselnya yang menghitam itu, asap rokok kembali keluar dari mulutnya. Sambil menjejalkan rokok ke asbak dan menghancurkannya di situ, tancapan netra Yixing masih setia kepada ponselnya disertai gelengan pelan.

“Agen Lu memberitahuku? Ckckck, Luhan harus berterimakasih karena aku sudah membual,” kemudian kekehan pelan Yixing mengaung.

Ketika Yixing mengambil rokoknya yang baru dan pematik apinya, pintu flat apartemen bobroknya menjeblak terbuka. Hal tersebut diwakili oleh suara ‘brak!’ yang terlolong divolume maksimal. Obsidian Yixing terarahkan ke pembatas apartemennya dengan dunia luar, segera kelereng matanya dihadiahi sosok Wu Lian yang tampak terengah dengan dada naik turun dan tak lupa hunusan tajamnya. Gadis Wu itu menggunakan jubah hitam biasanya yang tampak sedikit berkibar lantaran ulah usil angin.

Pematik api itu Yixing gerakan untuk menciptakan api yang diiringkan ke rokok yang tertempel diranumnya. “Oh Wu, ada apa?” setelah sebelumnya menjepit putung rokok untuk ia jauhkan dari bibir, Yixing berkata santai dengan tangan melambai dengan jepitan rokok disela jarinya.

Kornea Lian masih membiaskan ketajaman, mulailah langkah terurai menuju Yixing. “Kau, ‘kan?” tanpa rinchi akan kemaksudan frasanya, Lian main menodongkan tanya ambigu demikian pada Yixing.

Kebingungan tak membelit Si Pemuda Zhang. Malahan, Yixing melihatkan senyum miring tersirat remeh. “Ya, itu aku…” jeda terambil dengan kegiatan menghisap rokok dengan santai oleh Yixing. Lian menggepalkan tangan secara otomatis mendengarnya. “dan semua ini karena bantuanmu, Lian sayang.” Yixing melanjutkan sajakannya, kali ini difinali oleh kekehan ringannya.

Mutlak, obsidian Lian melebar dengan muka terkejut. Lantas labirin otaknya memutar ulang kejadian tempo itu. Saat Yixing menanyakan perkara apa yang terjadi pada Luhan seusai kepulangan keduanya dari pesta makan malam di rumah Hyerim.

“Ada apa dengan Luhan, Wu?”

“Dirinya putus dengan Hyerim,”

“Oh, dia sudah sadar?”

Lian mengendikan bahu, “Tidak, sepertinya. Dia terpuruk, bukan?”

Anggukan Yixing menyetujui. Tanpa sepengetahuan rekannya ini, Yixing menyarangkan tatapan penuh arti pada profil samping Lian. “Ngomong-ngomong, kalian ke rumah rahasia Presiden Kim Jaehyun, bukan? Aku penasaran, di mana alamat rumah rahasia tersebut.”

Kepalan tangan Lian masih kukuh tercipta meskipun kali ini ada getaran hebat terjadi di sana. Bodoh. Dalam hati, dara ini merutuki ranumnya yang santai menguraikan informasi rumah rahasia Kim Jaehyun.

“Tenang, sekutu dan kita akan memusnahkan rumah mewah itu, Wu. Sesuai pesan yang kau terima di e-mail.” lontaran kata Yixing membuat kekacauan hilir hudik dalam diri Lian. Pikirannya langsung tertuju pada Luhan, dirinya tak mau pemuda itu menjadi down ketingkat paling akhir.

Badan Lian ia iring untuk berbalik kemudian merajut langkah ke luar apartemen Yixing. Tatkala berada di area atap flat bobrok tersebut, jari Lian menari lincah di layar ponselnya. Matanya mengkilatkan kecemasan, pun rautnya demikian. Kim Hyerim. ID kontak tersebut berhasil ia temukan. Oh, jangan tanyakan bagaimana Lian mendapatkan nomor Hyerim. Mudah saja, dirinya peretas handal yang bisa menghack dokumen negara tanpa terdeteksi. Maka dari itu, perkara mudah baginya untuk meretas ponsel Luhan untuk mengetahui nomor ponsel Hyerim.

Nada sambung terdengar, dengan penantiannya, Lian menggigiti ujung jempol kirinya resah. Iris matanya pun bergerak liar. Dirinya tak akan menampik bahwa sekarang, ia cemas akan keadaan perempuan yang ia cap sebagai gadis Korea sialan yang dicintai Luhan.

“Maaf, nomor yang anda tuju…

Keparat. Sialan. Makian terngaung dalam hati seorang Wu Lian. Kembali ia mencoba menghubungi Hyerim. Dirinya harus menginfokan Sang Gadis Kim untuk tak ke rumah rahasia ayahnya atau pergi dari rumah rahasia tersebut, lantaran akan ada serangan yang tercetuskan di sana.

“… nomor yang ada tuju tidak dapat dihubungi, cobalah…”

“Ya! Aku mencoba lagi menghubunginya, operator idiot!” adalah makian Lian sambil menatap sekilas layar ponsel yang melihatkan ID kontak Hyerim. Sesuai ucapan, kembalilah dirinya menghubungi Hyerim.

Namun percobaan dirinya menghubungi perempuan bermarga Kim itu, menghasilkan kenihilan. Malah nada tak tersambungkan lah yang menjawabnya sekarang. Ponsel Hyerim mati. Helaan napas sangat kasar Lian, terloloskan. Rahangnya mengatup keras. Apa jangan-jangan, Hyerim berada di rumah rahasianya lalu ponselnya berbunyi saat penyerangan, dan gadis itu—

‘Tap! Tap!’

Derapan langkah penuh amarah memasuki telinga Lian. Kepala gadis Wu ini terangkat untuk melihatkan obsidiannya pada sosok Luhan yang merajut langkah penuh kemarahan itu, parasnya pun terlukis serupa. Mengerti akan aksi Luhan, seorang Wu Lian hanya memejamkan mata pasrah dibarengi karbondioksida keluar dengan putus asa.

“ZHANG YIXING! BRENGSEK!” teriakan Luhan mengaung ditandai uraian langkahnya teriring sah masuk ke dalam apartemen Yixing. Sekon kedepan, dapat liang pendengaran Lian dengar, suara tonjokan terlolongkan diiringi tubuh yang ambruk.

Kala menarik diri tuk melihat yang terjadi di dalam, Lian disuguhi pemandangan Luhan yang menarik kerah Yixing yang ia paksa bangkit dari tumbangnya akibat tonjokan Luhan. “KAU GILA HAH, BAJINGAN?! TAK USAH MENGATAS NAMAKAN DIRIKU BILA KAU YANG MEMBOCORKAN INFORMASI TERSEBUT, KEPARAT!” satu tarikan napaslah yang Luhan lakukan untuk berkata demikian.

Sedari tadi, kepala Yixing yang terbuang menatap Luhan pun, ia arahkan untuk menatap pria itu dengan decihan yang diloloskan sebelumnya. Terbingkai jelas kobaran amarah Luhan dari raut serta binaran matanya.

“Kau yang gila, brengsek,”

‘Buk!’

Makian dan layangan tonjokan dipipi Luhan, terjadi sekejap mata. Kali ini, tubuh Luhan terjembab dengan pipi melukiskan memar yang tak terlalu parah. Lian sendiri masih menjadi penonton dengan gigi menggigit bibir bawahnya, bukan tak ingin melerai, namun melakukannya hanya akan memperkeruh suasana dan atmosfer yang terjalin tetap tak enak.

Tatapan nyalang Luhan melayang pada Yixing, senyum meringis juga terlihat dengan dengusan keras. “Aku. Tak. Akan. Membunuh. Kim. Hyerim.” Luhan mengeja jelas dengan ketegasan menyelimuti, tatapannya semakin nyalang dengan dagu terangkat. “Dan… aku tidak akan membiarkannya mati. Camkan itu, bajingan!”

Tubuh Luhan kembali ia tegakan juga berbalik dengan derapan langkah besar bertanda akan kemarahannya. Tatkala berpas-pasan dengan Lian, aura gelap tersuarkan dalam diri Luhan ditambahi delikan sekilasnya pada rekan gadisnya itu. Signal tersebut didapati Lian. Saat punggung Luhan berada beberapa jauh darinya, tanpa pikir babibu lagi, Lian memutar tubuh serta menyusul Luhan.

“Luhan!” adalah seruan Lian guna mencegat Luhan yang sudah mencapai finish menuruni tangga apartemen Yixing. Tungkai Lian diayunkan lebih cepat di petakan tangga turun agar dapat menyamai langkah Luhan. “Luhan!” kembali dirinya berseru meski tak sekencang sebelumnya, lantaran Lian berhasil menyusul Si Jaka Lu disertai meraih tangan kanan Luhan untuk mencegatnya.

Kepala Luhan tertoleh dengan paras marah yang tak luntur, tanpa membalikan badan. Disentak sangat kasarlah tangan Lian yang menyentuhnya. “Kau puas, Wu? Bukannya dari dulu kau ingin aku membunuh gadis yang kau bilang gadis Korea sialan, huh?” semprot Luhan sinis.

Respon gelengan dari Lian merupakan sahutannya, wajahnya pun membingkai ketidak setujuannya pada semprotan Luhan barusan. Hal tersebut menyebabkan lukisan heran pada mimik Luhan. “Tidak, Lu. Bagiku, lebih penting persahabatan dan cinta dibanding tugas sialan negara kita yang keji,” lalu, Lian memberikan tepukan tulus dengan senyum yang sama tulusnya pada Luhan yang termenung. “Aku tak ingin sahabatku terpuruk karena kehilangan cinta secara tragis. Aku sudah mencoba menghubungi Hyerim tapi tak terjawab, bahkan tadinya panggilan tersebut tersambung namun kesininya, ponsel Hyerim mati. Aku yakin dia ada di rumah rahasianya yang diserang saat insiden penyerangan. Cepat temui dan selamatkan Hyerim. Kali ini aku berada dipihakmu.”

║ ♫  ║ ♪  ║ ♫  ║ ♪  ║

Bunyi keypad laptop tersebut menggema lantaran gerakan jari-jari tangan seorang pemuda yang tengah sibuk juga menghimpit ponsel diantara telinga dan bahun kanannya—dengan kepala yang ia miringkan. Secara saksama, dirinya mendengarkan penuturan lawan bicaranya ditelepon.

“Data-data yang anda inginkan sudah ada, Letnan Park,”

Kursi pegas yang ia duduki, diputar oleh Chanyeol ke arah mejanya yang lain, lantas dirinya kembali terlarut pada tumpukan kertas yang ada di atas mejanya tersebut. “Benarkah? Apa kau sudah melengkapinya, Chaeyoung-ah?”

Waktu bersamaan, figur lain nampak di belakang Chanyeol. Lee Yara melayangkan pandang pada kekasihnya itu, kemudian suaranya memanggil, “Chan…” namun terpenggal oleh gerakan tangan Chanyeol yang melambai-lambai di udara—hal mutlak yang menyuruh Yara bungkam. Dengusan dengan wajah sebal, lantas dilakukan oleh Yara akan reaksi Chanyeol itu.

“Baiklah, terimakasih sudah berkerja keras. Kirimkan data-data lengkap tersebut ke faxku. Sekali lagi terimakasih, Chaeyoung-ah.” Chanyeol menutup sambungan dengan telepon kabelnya, dirinya pun berdiri dan memutar tubuh.

Langsung saja Park Chanyeol disuguhi sosok Yara yang melipat tangan dengan dwimanik tajamnya. “Oh, Yara-ya. Aku sibuk, sungguh. Tunggu sebentar saja, ya?” tanpa menunggu reaksi Sang Gadis, Chanyeol main melongos pergi ke dapur untuk mengambil minuman di gelasnya yang habis juga mampir ke kamar mandi.

Kala Chanyeol mengayunkan kaki pergi, kembali dengusan Yara tercuat, kemudian Si Gadis Lee memilih membanting bokongnya ke kursi pegas Chanyeol dengan sebalnya. “Katanya weekend. Ya, weekend dengan berkas-berkas kerjanya.” Yara mendesis kesal.

Well, Yara sendiri tahu bahwa kesibukan Chanyeol bukanlah hal remeh-temeh. Semenjak perang gencatan senjata kembali terjadi, devisi kepolisian Chanyeol juga mempunyai kesibukan ditingkat maksium. Yara memakluminya, namun mempunyai kekasih yang agak workaholic lah yang menjadi perkara untuknya.

‘Sret! Sret!’

Bunyi mesin fax akan pesan yang terkirim, menyentil telinga Yara dan menyebabkan kepalanya terstir serta terjatuh pada mesin tersebut yang mengeluarkan kertas-kertas berisi pesan. Dikarenakan tumpukan kertas pesan yang agak banyak, inisiatif Yara muncul dengan mengambil berkas-berkas tersebut dan membereskannya dibanding harus terbeber ke mana-mana. Tangan lentik Yara pun sibuk menata kertas-kertas tersebut hingga obsidiannya mutlak melebar dengan wajah terkejut.

‘Agent Lu’

Dilengkapi potret familiar yang otaknya langsung kenali tanpa pikir dua kali. Luhan, mantan kekasih Hyerim, sahabat baiknya. Kepala dara Lee ini menelaah ke sana-sini, mencari eksitensi Chanyeol yang belum menampakan batang hidung. Secara gesit, Yara melihat-lihat data-data yang lain. Agen Wu. Agen Zhang. Dua agen yang salah satunya gadis—yang Yara kenali sebagai teman Luhan yang Luhan bawa ke pesta makan malam Presiden Kim Jaehyun.

“Kamu melihat apa, sayang?” seketika, vokal khas Chanyeol menyentak Yara. Nyaris Si gadis bermarga Lee ini menjatuhkan kertas-kertas ketiga agen itu.

Dahi Chanyeol mengernyit kala mendapati Yara memasang wajah was-was serta berusaha menyembunyikan sesuatu. “Bukankah itu fax dari Chaeyoung untukku?” lafal aksaranya kembali terajut tambah heran tatkala mengetahui Yara memegangi erat berkas penting ketiga agen handal Tiongkok yang berada di Seoul.

Kepala Yara menghindar untuk bertabrakan pandang dengan kekasihnya ini. Dimakin eratkan pula kukuhannya pada kertas data agen-agen tersebut. Tidak, Chanyeol tak boleh mengetahui bahwa Luhan adalah agen. Yara tak ingin kekasihnya itu gegabah dan menyebabkan kepedihan antara jalinan Hyerim bersama Luhan.

“Yara, itu fax dari Chae—“

“Bukan!” sambar Yara memenggal sajak kata Chanyeol, secepat kilat. Kecurigan makin ditaruh oleh Chanyeol.

“Yara, berikan padaku. Apa yang kamu sembunyikan?” alis Chanyeol terangkat salah satunya. Merasa lakon kekasihnya aneh, terpaksa, Chanyeol merebut sedikit paksa kertas-kertas tersebut. Di lain sisi, Lee Yara berusaha mengamankan kertas-kertas tersebut namun aksinya berakhir pada kegagalan. “APA?! LUHAN?! DIA INIKAN KEKASIHNYA HYERIM?!”

Teriakan Chanyeol terlolongkan sangat syok ketika beres menelaah cermat berkas yang rekannya berikan. Yara sendiri hanya menggigit bibir bawah dengan kepala menunduk. Wajah pias Chanyeol masih terlukis saat mengalihkan fokus dari berkas-berkas tersebut kepada Yara.

“… terjadi serangan oleh pesawat-pesawat ketiga negara komunis di distrik Gwanak. Sejauh ini, hanya ada beberapa korban luka ringan juga kedua korban yang tewas. Tim relawan pun sudah tiba ke daerah Gwanak untuk menangani para korban. Sejauh ini hanya beberapa gedung yang runtuh. Kondisi yang paling parah adalah rumah di Silim-dong, blok AB, nomor 116. Rumah mewah tersebut sudah menjadi puing…”

Volume radio yang tidak terlalu besar itu menyita Chanyeol dan Yara yang lantas menatap benda mati itu juga saling tatap didetik selanjutnya, dengan obsidian melebar terkejut. Rumah yang disebutkan adalah rumah…

“Hyerim,” keduanya melafalkan nama tersebut sangat pelan.

Waktu kedepan, Park Chanyeol pun meprediksi apa yang terjadi dengan jelas. Seraya menyambar coat coklatnya diiringi ayunan tungkai tak santai, dirinya sempat mengumpat pelan. “Sial.”

Yara yang memasang paras cemas pun, lantas mengekori kekasihnya itu. Benak keduanya tertuju pada satu kesimpulan; Hyerim tengah mengalami marabahaya detik ini.

║ ♫  ║ ♪  ║ ♫  ║ ♪  ║

Gwanak hancur. Setidaknya ditengah belitan kacau yang hilir hudik dalam dirinya, Luhan dapat memahami distrik yang berbatasan dengan Anyang tersebut, hancur. Sesuai berita yang tersebar luaskan secepat kilat, Distrik Gwanak diserang dan kembali hancur meski tak secara menyeluruh.

Tungkai Luhan terayunkan tak santai, kepalanya menyisir ke sana-ke mari. Dwimaniknya menyensor rata seluruh penjuru. Satu sosok lah yang harus ia temui sekon ini, bila tidak, Luhan tak akan bisa tuk bernapas lega sampai kapan pun. Kupalan asap yang menyeruak lantas menghalangi layangan kilatan netra Luhan untuk menelaah keadaan Gwanak. Tenda pengungsi serta klinik sudah menjadi tanaman baru di sana. Banyak pula warga-warga dengan kondisi mengenaskan, simpang-siur di hadapan Luhan.

“Permisi, apakah anda melihat gadis ini? Usianya dua puluh lima tahun, rambutnya lurus panjang berwarna hitam di atas pinggul, matanya tidak terlalu belo maupun sipit. Dirinya diperkirakan terakhir berada di Silim-dong blok AB, di dekat rumah yang hancur total.”

Alat berjalan Luhan berhenti berderap untuk menanyai wanita pertengahan usia yang berpas-pasan dengannya, diikuti juga ponsel yang ia genggam erat ditunjukan pada Si Wanita guna melihat jepret Hyerim yang berada di layarnya. Namun asa Luhan berupa anggukan dan informasi lebih itu tak terjadi, wanita yang ia tanyai menggeleng. Sambil membungkuk seadanya dengan senyum serupa, Luhan menggumamkan terimakasih, lantas merangkai langkah gusarnya untuk mencari kembali gadisnya.

Bendera putih seperti ingin terkibarkan dalam hasrat dirinya, namun tampikan keras untuk menyerah turut andil juga dalam diri Luhan. Netra yang melayang sana-sini sudah kelewat gusar bukan main. Hyerim tak kunjung ia tangkap dari ujung obsidiannya, menyebabkan tangan Luhan terangkat guna mengacak-acak surai dan mengusap wajahnya resah. Bahkan sekon ini, posisi Luhan berpijak sudah berada di bibir paling dekat puing-puing rumah mewah Kim Jaehyun.

Dengan titik paling bawah akan pencariannya, kaki Luhan berayun makin dekat ke puing-puing rumah yang dahulu berdiri kokoh tanpa terusik dunia yang terporak-pondakan musuh. Tubuh Luhan kini sudah berpijak di atas bebatuan serta kayu-kayu hasil reruntuhan. Entah apa yang merayapi benaknya, Luhan menundukan kepala serta bergerak meneliti puing-puing. Dirinya tahu pemikirannya tak waras kala ia berspekulasi bahwa Hyerim ada di rumahnya saat insiden dan tubuh gadis itu berada di bawah—

“Tak usah khawatir, Nyonya. Saya sudah mengoleskan krim antibiotik serta menutupi luka gores dilengan anda. Untuk mencegah infeksi lebih lanjut, bisa hubungi dokter yang ada di klinik.”

Suara ayu yang sudah Luhan hafal betul, menerobos liang pendengarannya. Kepala Luhan terstirkan otomatis ke arah oknum penyuara vokal itu. Matanya makin menajam tuk menelisik secara saksama oknum suara ayu tersebut. Figur gadis bermahkota panjang di atas pinggul, tengah sedikit menunduk pada wanita paruh baya yang duduk di hadapannya. Dua perempuan itu bernaung di tenda pengungsi yang berjarak beberapa meter dekat tempat Luhan berpijak, mungkin oh, hanya satu jengkal dari tempat Luhan lantaran pria itu sudah melangkah mendekat ke tempat tersebut secara otomatis dengan wajah tak terbaca namun terlukis sendu mendalam.

“Terimakasih, Nak. Sekarang obatilah dirimu sendiri. Jalanmu saja pincang dan dari tadi sibuk menghalau darah dari sisi kepalamu.” balasan wanita yang diobati Si Gadis, terdengar khawatir dengan binaran khawatir yang tulus.

Ya, akurat seribu persenlah wanita yang bervokal barusan. Terlihat Si Gadis mengenakan  sebuah dress merah jambu di atas lutut yang sudah lusuh dengan sedikit robek sana-sini—bisa dibilang, pakaian yang tadinya berasal dari brand limited itu sudah serupa dengan pakaian pengemis walau tak terlalu parah. Tak dilupakan, kaki kanannya pun menampakan luka gores lebar yang melihatkan darah setitik disertai samping kepalanya yang terbentur pula menampakan darah.

Kurva gadis tersebut menyematkan senyum menenangkan walau tipis. “Tak apa, Nyonya. Saya baik-baik saja, terimakasih. Lebih baik anda istirahat sekarang.” Si Gadis bersikukuh ia tak apa, kemudian mengiring wanita yang ia rawat untuk tidur di atas velbed—tempat tidur lipat kapasitas satu orang dengan rangka dari besi atau yang lain dan biasanya digunakan oleh para tentara. Juga tak lupa menyelimutkan tubuh ringkih wanita tersebut.

Bodoh. Keras kepala. Gaungan dalam hati Luhan, merapal demikian, tak luput pula manik menghujamkan Si Gadis dengan tatapan dalam beribu arti. Tubuh Luhan pun setia berpijak mencermati penggerakan gadis yang telah menyitanya. Pada akhirnya, tubuh Si Keras Kepala yang Luhan rutuki, berbalik serta mengangkat wajah tepat dengan obsidian terjatuh pada sosok Luhan. Lantas Si Gadis tersebut mencetak kekagetan dimimiknya dengan mulut agak melihatkan celah.

Hyerim, itulah nama gadis keras kepala yang Luhan rutuki bodoh juga. Tak pernah ia sangka meski berharap ditingkat Dewa, dirinya akan bersitatap dengan Luhan setelah sebelumnya terseok untuk bebas dari reruntuhan bangunan rumahnya. Kim Hyerim tak pantang menyerah untuk bangun dan pergi sebelum bom hasil final pesawat-pesawat komunis menghancurkan rumah. Oleh sebab itu, dirinya bisa bernapas sampai detik ini. Namun melihat keabsenan Luhan untuk hadir di sudut pandangnya, bahkan tepat di hadapannya, merupakan suatu keajaiban yang membuat dadanya sesak tak terkendali.

Sibuk dengan benak beribu macam pikiran berkecamuk, Hyerim tak sadar jaka tampan di hadapannya telah merajut mendekat ke arahnya. Sahlah Luhan berdiri di hadapan gadisnya, tanpa berpikir panjang apapun, lengan Luhan terjulur serta menarik gadisnya ini kedalam rengkuhan erat dan hangatnya. Sementara Hyerim yang ditorehkan hal tersebut, masih terpaku akan ketercengungannya pada Luhan yang berada di hadapan bahkan memeluknya. Seketika, mata Luhan mengkilatkan air mata—netranya berkaca-kaca untuk menahan tetesan kristal jatuh.

“Bodoh, dirimu terluka, kenapa malah sibuk mengobati orang lain?” ujar Luhan dengan mata bergetar-getar serta tangan terangkat merengkuh tengkuk Hyerim.

Keterkejutan Hyerim masih belum berhenti. Matanya berkedip beberapa kali, bahkan tangannya belum membalas pelukan Luhan. Parasnya pun tak terbaca sama sekali. “Aku ini ‘kan, sering sekali jadi relawan di DMZ, jadi tidak ada masalah bila aku mengobati orang lain di sini.”

Dilonggarkan oleh Luhan pelukannya, kemudian kepalanya pun menunduk untuk menatap langsung Hyerim yang refleks mendongak. Manik Luhan tersita pada darah di sisi kepala kanan gadis Kim ini, darah masih mengucur meski tak deras. Detik kedepan, tubuh Luhan terputar dengan tangan yang dikaitkan erat dengan jari-jari Hyerim. Si Gadis menatap tautan tangan itu juga bergantian menatap tepat kewajah Luhan yang tengah melayangkan fokus padanya.

“Jangan keras kepala, ikut aku untuk mengobati lukamu.” Luhan berkata dengan sorot sedikit tajam. Lantas tubuhnya berbalik diiringi ayunan tungkainya yang diekori Hyerim.

║ ♫  ║ ♪  ║ ♫  ║ ♪  ║

“Sayang, apa ponsel Hyerim masih tidak bisa dihubungi?” vokal wanita paruh baya memecah sedikit ketegangan yang terjadi di sebuah mobil BMW 320i warna putih, yang terparkir di salah satu sisi jalan Seodaemun-gu. Layangan matanya pun memancarkan kekhawatiran pada profil samping suaminya yang sibuk menghubungi nomor putrinya dengan wajah resah.

Nada tak tersambungkan dari ponselnya yang diaktifkan mode speaker, membuat gelengan frustasi Kim Jaehyun terjadi. Park Seyoung—yang merupakan istrinya pun, menghela napas dengan kepala menunduk. Hyerim berada di rumah rahasia dan rumah rahasia keluarga Kim pun telah hancur. Tak sanggup kedua orang tua tersebut memikirkan kondisi terburuk akan putri mereka.

Setelah waktu terbuang untuk menghubungi Hyerim yang tak kunjung menjawab. Jaehyun menatap Seyoung dan membuang napas berat. “Seyoung-ah, pergilah ke Yeongdeungpo-gu. Aku dengar dari Farrel Rach, duta besar Amerika, ada salah satu diplomat yang akan pulang. Dirimu membawa passport dan visa, ‘kan? Ikutlah dengan menyamar menjadi bagian keluarga diplomat yang akan pulang ke Amerika itu. Kuyakin kepulangannya dipercepat menjadi hari ini setelah serangan di Gwanak.”

Seyoung pun menatap suaminya agak ragu dan terkontaminasi kecemasan. “Lalu bagaimana denganmu dan Hyerim?”

Seraya mengulas senyum menenangkan dengan tangan terulur meraih kedua tangan Sang Istri yang terpaut erat di atas pahanya, Kim Jaehyun menjawab, “Aku akan ke Silim-dong. Tak peduli aku presiden atau tidak, aku akan mencarinya sebagai ayahnya,” lantas suami istri tersebut menabrakan kedua irisnya tuk menyapa dalam pandangan, “Dan aku akan menyuruh Hyerim menyusul ke Amerika. Aku sendiri akan menetap di Korea. Kalian akan pergi ke Portsmouth, Inggris setelah itu untuk berlindung di sana, karena Amerika merupakan sekutu kita, tentara musuh bisa mengendusnya.”

║ ♫  ║ ♪  ║ ♫  ║ ♪  ║

Agaknya, suasana mulai tenang di Gwanak-gu. Meski tenda-tenda pengungsi serta klinik telah berjejer layaknya hutan di tengah neraka shinkhole, setidaknya, serangan tentara brengsek ketiga negara tersebut tidak terjadi lagi. Salah satu tenda klinik pun terlihat ditampungi beberapa orang yang salah satunya seorang gadis dan pemuda. Kim Hyerim dan Luhan.

Tangan Luhan masih bergerak didaerah disekitar wajah Hyerim untuk membersihkan muka Sang Gadis yang kotor, dan penyebab salah satunya ialah luka disisi kepala Hyerim—yang detik ini sudah diobati dengan plester yang melekat disumber luka. Pun kaki kanannya juga sudah diobati.

Kapas kotor yang digunakan Luhan, terbuang ke tempat sampah di sebelahnya tatkala acara membersihkan muka gadis di depannya ini terselesaikan. Dirinya masih mencermati Hyerim yang memilih menerawang ke arah lain agar tak menatapnya langsung.

“Apa dirimu—“

Luhan menstart ucapan dibarengi oleh Hyerim yang juga berkata,

“Kenapa dirimu—“

“—sudah baikan?”

“—bisa di sini?”

Akhir ucapan keduanya pun finish di timing yang sama. Pada akhirnya, Luhan pun bersitatap dengan dwimanik Hyerim. Ingin sekali senyum geli tersemat, namun yang ada keduanya hanya bertatapan kosong.

“Walau sudah menjadi mantan kekasih, kita masih kompak sepertinya,” sangat jelas, ada sedikit penekanan akan sajakan ‘mantan’ dari ranum Hyerim.

Mendengarnya, Luhan hanya berdehem pelan serta menunduk. “Mari kita mulai dari awal…” berusaha ia merangkai kata dengan tepat, lalu mengangkat wajah untuk mendalami obsidian Hyerim yang kebetulan menatapnya. “aku masih mencintaimu, Hyer.”

Bergeminglah respon Hyerim selama beberapa saat waktu bergulir. Peduli setan atau tidak, dirinya memasa bodohi keadaan tenda klinik yang disesaki oleh beberapa orang selain keduanya, Hyerim menarik Luhan ke arahnya, mengikis spasi yang tercipta diantara keduanya. Luhan tersentak kala perempuan Kim ini menariknya ke dalam pelukan erat.

“Aku juga,” bahu Hyerim bergetar naik turun, matanya berkilat-kilat dengan binaran berkaca-kaca. “Aku… juga… masih…” tersendatlah lafal katanya, sementara Luhan mulai mengangkat tangan untuk balas memeluknya disertai elusan lembut ditengkuk Hyerim. “Aku… masih… mencintaimu, Lu.” air mata itu pun lolos, pun eratan pada pelukan yang ia berikan pada Luhan semakin menjadi.

Balasan berupa pelukan tak kalah erat, dilakukan oleh Luhan. Mata Si Jaka juga turut andil berkaca-kaca. “Aku tidak akan membunuhmu. Tidak akan. Meski hal tersebut harus terjadi, just heal me to not kill you, Hyerim.” meski bibirnya bergetar kala berkata demikian dan Hyerim pun menenggelamkan wajah dibahunya dengan isakan tersuarakan.

Beberapa meter dari tempat keduanya kembali menjalin kasih, sosok gusar Park Chanyeol juga sosok cemas Lee Yara, terlihat melangkah di bibir dekat tenda klinik Hyerim dan Luhan. Kepala Chanyeol menelaah keadaan sekitar dengan gerakan retina liar. Yara sendiri hanya menggigit bibir bawahnya dengan kedua jari-jari tangannya yang terpaut dan bergerak-gerak resah.

Tahu-tahu, retina Chanyeol jatuh pada sebuah objek. Fokusnya lebih menajam, pompaan darah menggebu sampai ke ubun-ubun kala melekatkan iris pada sosok agen sialan yang tengah menciptakan suasana haru biru itu.

YA! AGEN LU! LEPASKAN PELUKANMU DAN IKUT DENGANKU SEKARANG!” dengan kobaran marah yang terlihat jelas, Chanyeol berucap dengan mata melotot. Detik berikut, sebuah pistol dikeluarkan Si Polisi Park ini, dibarengi pelatuk yang tertarik. Cuatan peluru itu melayang dan mengenai besi penyanggah tenda klinik.

Teriakan terlolongkan dari mulut orang-orang yang nampak di sana. Luhan yang merupakan sasaran utama, terlonjak dan melepaskan rengkuhannya dari Hyerim, tubuhnya berdiri serta melompat ke belakang beberapa meter. Yara, begitupula Hyerim, hanya melebarkan mata kaget akan aksi Chanyeol barusan.

‘Dor!’

“AKH!”

Kembali, tembakan tergaungkan dari pistol milik Chanyeol yang diarahkan ke arah atas. Teriakan orang-orang pun kembali terdengar setelah peluru tercuat dari pistol milik Park Chanyeol. Beberapa orang pun tampak merunduk mencari perlindungan. Kepala Luhan terangkat, melayangkan tatapan pada Chanyeol yang melihatkan kobaran bak kesetanan diparasnya.

‘Krek!’

Pistol milik lelaki bernama lengkap Park Chanyeol itu, kini terarahkan ke arah Luhan. Matanya menyiratkan ketajaman. “Lepaskan Hyerim. Kau tidak bisa membunuhnya.” Chanyeol berucap dengan ancaman yang sangat kuat dalam intonasi pita suaranya.

Helaan napas Luhan terjadi dengan mata terpejam. Obsidian Luhan akhirnya terbuka kembali dengan wajah serta binar mata memelas, “Chanyeol-ssi, aku tak akan membunuh kekasihku sendiri.” Luhan berkata seperti itu.

Kurva Si Polisi Park menyunggingkan senyum miring meremehkan. “Omong kosong,” decihnya dan mulai menggerakan jari untuk ancang-ancang menarik pelatuk pistolnya, “Negaramu berisi petinggi negara sampah yang mengurusi serta mendukung rencana gila peluncuran nuklir kepada Korea Selatan dan Amerika. Negaramu juga berisikan orang-orang bajingan yang menghancurkan Korea Selatan hingga menjadi salah satu negara konflik ditahun 2030. Wow! Sungguh menajubkan.”

Berada di sebelah Chanyeol, Yara menatap kekasihnya itu tambah cemas, dirinya berusaha berkata untuk menghentikan Chanyeol—

‘Dor!’

Namun tak terjadi lantaran terlonjaknya Lee Yara akan tembakan yang mengaum kembali. Jeritan juga mendominasi setelahnya. Yara pikir, itu ulah Park Chanyeol, namun saat meneliti, sekarang kekasihnya itu tampak mendesis kesal dengan kepala menoleh ke satu titik, parasnya pun mencetak kekesalan. Luhan dan Hyerim pun melayangkan tatapan pada titik tumpu Chanyeol menjatuhkan kilatan iris matanya. Zhang Yixing. Lelaki yang meleset menembak Chanyeol itu, sedang berdiri di sebuah balkon kumuh apartemen yang berada di dekat sana.

Yixing mengangkat pistolnya lalu meniup-niupkan ujungnya. Kemudian, dirinya menatap Luhan, Hyerim, serta Chanyeol juga Yara, bergantian dengan senyum miringnya. “Oh Letnan Park, kau gesit juga.”

Yixing memberikan applause dengan tepuk tangan singkat tanpa ketulusan sama sekali. Kobaran berapi-api dalam diri Park Chanyeol makin meningkat, dadanya sampai naik turun tak teratur juga napasnya pun terengah-engah. Matanya sangat nyalang menusuk Yixing yang berlakon santai.

“Ya, ya, aku tidak akan ikut campur. Urusi urusan kalian saja untuk saat ini  Letnan Park dan Agen Lu.” adalah ujaran Yixing kembali ditengah atmosfer tegang tersebut, lakon Si Pria Zhang itu masih juga santai seakan tanpa dosa.

Merasa diberikan lampu hijau, Chanyeol menoleh kembali kepada Luhan. Dengan gejolak penuh keyakinan yang membelungi, tangan Chanyeol kembali terangkat, pistolnya siap membidik objek Luhan dengan fokus maksimal. Signal Chanyeol yang akan menghabisinya membabi buta, ditangkap oleh Luhan. Kegesitan Agen Lu itu lantas teraksikan, dengan beribu paksaan, Luhan menarik Hyerim lalu menjepit leher Hyerim dengan tangannya. Kegesitan seperkian detik itu benar-benar applause luar biasa saat Luhan sudah mengeluarkan pistol juga dan diletakan disamping kepala Hyerim.

“Sekali lagi menembak, gadis ini mati.” ancaman Luhan yang meremangkan seluruh organ tubuh itu tersuakan.

Chanyeol dan Yara tampak cemas bukan main. Sementara Yixing mengulas senyum santai dengan kepala mengangguk-angguk tenang. Hyerim sendiri tak digerubungi perasaan kalut, lantaran nyatanya, Luhan meliriknya dari ujung mata dengan pandangan meminta maaf. Lelaki Lu ini tak ingin masalah lebih berlanjut dengan aksi tembak-tembakan keji dan malah membawa gadisnya kedalam petaka rumit saat aksi tembak-tembakan terjadi, karena Yixing ada di sini, rekannya itu bisa saja membunuh Hyerim.

Ketegangan yang mendominasi makin terjalin. Perlahan, Chanyeol menurunkan senjatanya dan masih setia menghunus Luhan dengan tatapan tajamnya. Tak lupa, Chanyeol menarik Yara tepat di belakangnya untuk berlindung. Dapat Hyerim rasa dengan jelas, tangan Luhan yang mengukungnya bergetar begitupula pegangannya pada pistolnya.

“Aku yakin, kau tak dapat membunuhnya, bukan?” suara Chanyeol terdengar, setia pula sorot tajamnya tertoreh pada Luhan. Kembali, pistol Chanyeol tercondongkan kepada Luhan dengan siap membidik. “Lepaskan Hyerim dan aku dengan senantiasa menembak—“

‘DOR!’

Pelatuk pistol yang tertarik, lagi-lagi terdengar menandakan  kembali tercuat sebuah tembakan. Tembakan yang pas mengenai sisi kulit lengan kanan Hyerim. Refleks lantas terjadi, Luhan melepaskan jepitannya dileher Hyerim dan terlihat Si Gadis pun terlonjak serta berakhir jatuh tersungkur di atas tanah. Lengan kanannya yang tertembak mengeluarkan darah, segera, Hyerim menghalaunya dengan tangan kirinya.

Serentak, seluruh fokus melayang ke oknum penembak tadi. Zhang Yixing, sudah tertebak dirinya tak akan tinggal diam. Dengan aksi santai dengan sunggingan miring meremehkan, senjatanya tersebut ia usap-usap ujungnya.

“Keparat,” Luhan mengumpat dengan logam matanya menghunus tajam Yixing. Mukanya didominasi kemarahan disertai gigi menggertak.

Ringisan meremehkan diranum Yixing terulas, “Sudah cukup drama-dramanya, aku akan menghabisi kalian semua.”

Lalu, pemuda dengan sebutan Agen Zhang tersebut mengambil revolver yang dari tadi ia taruh di lantai balkon apartemen kumuh tempatnya berpijak. Bidikan fokusnya pun terarah kepada Luhan, Hyerim, Chanyeol, juga Yara. Senyum miring hasrat meremehkannya pun makin mengembang.

║ ♫  ║ ♪  ║ ♫  ║ ♪  ║

Beberapa meter dari tempat Luhan bersama empat orang lainnya berada, mobil milik Presiden Kim Jaehyun sudah berada di bibir tempat rumah rahasianya dulu berdiri kokoh. Kepala Sang Presiden pun menelaah ke daerah sekitar. Puing-puing bangunan rumahnya seakan menggetarkan jiwanya kala mengingat putri semata wayangnya berada di sana saat insiden penghancuran.

“Tuan, saya rasa Nona ada di salah satu tenda pengungsi,” ucap supir pribadi Kim Jaehyun dengan mata terarah pada majikannya dari kaca spion depan.

Terlihat Jaehyun menghela napas. “Mungkin, aku yang akan mencarinya sendiri. Mereka mengincar utama diriku, tidak akan kubiarkan putriku mati begitu saja.” tekadnya bulat diiringi tubuhnya yang ia iring keluar meski Si Supir menatapnya khawatir.

Tanpa sepengetahuan Kim Jaehyun, seorang gadis dengan jubah hitam berkibar, menatapnya dalam. Wu Lian, salah satu agen yang berasal dari Tiongkok itu melekatkan tatapan tajam pada punggung Kim Jaehyun yang mengayunkan kaki santai. Mungkin, hanya Lian yang menyadari eksitensi Sang Presiden lantaran warga yang lain sibuk dengan urusan masing-masing serta kekalutan yang membelengu.

“Mungkin, semuanya akan berakhir hari ini.” gumam Lian dengan senyum tipis terukir. Lantas Sang Dara mengayunkan tungkai lebih ekstra untuk menuju suatu tempat.

║ ♫  ║ ♪  ║ ♫  ║ ♪  ║

Cengkeng mata Yixing menyipit untuk lebih fokus membidik sasarannya. Sasaran pertamanya ialah Kim Hyerim—yang masih berposisi tersungkur di atas tanah, dengan mimik meringis sakit dan tangan menghalau darah dari lengan kanannya. Di lain sisi, Yara meremas bahu Chanyeol kuat tuk melampiaskan ketakutannya. Luhan sendiri terasa kaku untuk bergerak begitupula Chanyeol.

“Berhenti,” bariton lelaki menyela dan lantas seluruh atensi tertarik ke arah bibir suara. Sosok Kim Jaehyun tengah melangkah dengan muka sendu terkhusus untuk Hyerim yang balas menatapnya dalam. “Jangan sakiti putriku.” Kim Jaehyun pun melayangkan pandangan ke arah Yixing. Respon Si Agen hanya jungkitan alis serta wajah penuh makna.

Yixing menelengkan kepalanya, revolvernya meluncur turun dari bidikan yang terarah kepada Hyerim. Melihat celah tuk melancarkan aksi, Park Chanyeol dengan cekatan mengambil pistol dan kembali membidikan kepada Luhan.

“Chan…” Yara berbisik lirih begitu juga kornea matanya membiaskan hal serupa. “Kumohon berhenti.” Yara kembali berucap, lalu menatap Hyerim dengan miris—sesuai keadaan sahabatnya yang memang sangat miris.

Hening berbelit pada akhirnya. Tidak ada penggerakan sekalipun. Hingga pada finalnya, Hyerim mendongakan kepala kepada Luhan, nampak binar matanya berkaca-kaca. Sekon berikut, tubuhnya ia stirkan berdiri sambil menggeret diri mendekat pada kekasihnya itu. Samar, terdengar Hyerim meringis juga Si Gadis yang masih menekan luka tembak dilengan kanannya.

“Luhan,” panggilan Hyerim memecah hening yang terajut. Seluruh fokus kepala pun terarah padanya. Hyerim dan Luhan saling tatap dengan sendu dan ranum Hyerim pun berfrasa kembali. “Bunuh aku.”

Kurva Yixing membentuk seuntas senyum picik setelah mendengar ucapan Hyerim, dirinya juga masih menelengkan kepalanya dan merasa tontonan di bawah balkon apartemennya ini sangat menarik. Terlihat Luhan menggeleng dengan bola mata bergetar.

“Tidak, Hyer. Aku tidak akan melakukannya,” tegas Luhan dengan gelengan kuat.

Ludah Chanyeol terbuang, kepalanya menggeleng-geleng. Tidak tahan dengan hasrat yang membelunginya, tungkai Chanyeol mendekat kepada Luhan. Dengan kobaran api yang menyelimuti, tonjokan Chanyeol melayang kepipi Luhan hingga Agen Lu tersebut tersungkur.

“Tidak usah banyak berlagak lagi. Sekarang ikut saja denganku, Agen Lu!” teriak Chanyeol dengan kilatan berapi-api.

Luhan meringis dalam tumbangnya sambil mengusap pipinya kasar, kemudian dirinya menatap Chanyeol dan Hyerim bergantian. Gadisnya itu menatapnya memohon. Di lain sisi Si Polisi Park menatapnya berkobar. Kala Luhan menatap  Yixing, rekannya itu menatapnya tajam.

“Kau ingin tertangkap begitu saja, Lu, dengan lari dari tugasmu?” suara Yixing menyahut, Si Agen Zhang terlihat berkacak pinggang. “Maka dari itu kau akan menjadi pengkhianat, Agen Lu. Dan aku tidak akan benar-benar  tinggal diam sekarang.”

Dengan kobaran membuncah diparasnya, Yixing kembali membidik revolvernya. Bidikannya sudah berada difokus yang tepat, tanpa ragu sekalipun, dirinya menarik pelatuk dan kembali tergaungkanlah suara tembakan. Suara ‘dor’ itu menorehkan peluru pistol kepada Kim Jaehyun. Sang Presiden pun lantas mendapatkan luka tembak disisi perut kirinya.

“AYAH!” teriakan Hyerim mengaum dengan wajah terkejut, dirinya berlari menuju ayahnya yang mulai tumbang perlahan.

Tak mau meninggalkan sisa, Yixing menarik pelatuknya lagi dan—

‘DOR! DOR! DOR!’

Tembakan membabi buta tercetuskan. Secara refleks, kepala Luhan terarah ke tempat Yixing berpijak. Pupil matanya melebar segera tatkala menangkap pemandangan yang terjadi di balkon apartemen tersebut. Tubuh Yixing tumbang dengan derasnya darah Si Agen yang membanjiri lantai balkon tersebut. Kelereng mata Luhan pun teralih pada Si Penembak. Wu Lian, gadis itu sedari tadi bersembunyi mencari timing yang tepat. Penyesalan tercetak diwajah gadis Wu itu dengan tangan yang mulai menurunkan pistolnya. Zhang Yixing tampak terbatuk dan mengeluarkan darah dari batuknya, matanya membola hingga akhirnya menutup untuk menyambut ajalnya.

“Lian…” gumam Luhan tidak percaya akan pemandangan yang ia lihat. Si Gadis Wu hanya tersenyum tipis sembari menatapnya. Luhan sendiri masih diselimuti keterkejutannya akan rekannya yang membunuh rekannya juga.

“Ayah! Ayah! Ayah!” seruan Hyerim yang bersimpuh di dekat tubuh ayahnya, terdengar. Tangisan Si Gadis pun pecah. Kepala Presiden Kim pun dipangku diatas paha putrinya yang kian meneteskan air mata. “Ayah…” Hyerim bersuara disela isakannya.

Kim Jaehyun menekan luka disisi tubuhnya sambil melayangkan tatapan pada Hyerim dengan senyum tipisnya. “Hyerim-ah…” lalu tangannya melayang untuk mengelus lembut pipi Sang Putri yang terus dibanjiri anakan sungai air mata.

Tak tinggal diam, Lee Yara juga mendekat ke arah Kim Jaehyun dan ikut berjongkok di sebelah Hyerim, dengan mimik khawatir. “Paman,” panggilnya lirih.

Sementara, di sudut lain, Chanyeol menatap Luhan tajam dan balasan Luhan hanya binaran mata sayunya. Dengan bahu naik turun dan bibir bergetar, kembali, Park Chanyeol mengangkat senjatanya dan mengarahkannya lurus pada Luhan. Si Agen Lu sendiri hanya bergeming dengan wajah pasrah serta senyum tipis. Tanpa ingin menunda seperti sebelumnya, Chanyeol menarik pelatuknya dan—

“Jangan!” Hyerim mencegat sambil menatap aksi tersebut dengan kalut disertai gelengan kerasnya. “Jangan menembak, Chanyeol!” kali ini Hyerim berteriak, membuat Sang Ayah dan Yara menatapnya dalam.

“Yara…” kemudian Hyerim menatap sahabatnya itu lembut. “Bawa ayahku ke rumah sakit, aku yakin ada Supir Jung yang mengantar ayah ke sini. Suruh dirinya membawa ayah ke rumah sakit.” Hyerim meminta sambil meraih kedua tangan Yara dan megenggamnya keras.

Anggukan Yara pun merespon tak lama kemudian. Lantas Hyerim menunduk, menatap ayahnya yang berbaring bersimpuh darah dipahanya. “Ayah, sampaikan salam kepada ibu dariku, ya. Terimakasih sudah mengurusku selama ini.” air matanya turun membasahi muka Sang Ayah yang ia belai sayang.

Tahu konversasi ini bertopik apa, Jaehyun pun meraih tangan putrinya dan mengenggamnya erat lantaran tahu kali inilah detik terakhir dirinya bisa merasakan genggaman hangat dari putrinya. “Ayah menyayangimu.”

Suara lirih tersebut membuat hatinya menghangat, menyebabkan seuntas senyum lembut terpatri dibibir Kim Hyerim. “Aku juga. Jangan pernah menyesal. Jiwa ayah lebih berharga dibandingkan aku. Ayah adalah jiwa Korea Selatan.” tak mau membuang waktu lagi, kepala Hyerim terstir pada Yara yang juga turut andil menangis. “Yara, bawa ayahku sekarang.”

Waktu kedepan, Yara pun menuntun Kim Jaehyun dengan tergopoh. Dirinya menatap Hyerim sekilas dengan senyum lembut sebelum menghilang dari sana. Tubuh Hyerim berdiri dan menggeret langkah menuju Luhan dan Chanyeol yang berhadapan. Tangan Hyerim menyentuh bahu Chanyeol, membuat temannya itu menoleh.

Kurva Hyerim melemparkan senyum. “Temani Yara. Aku akan mengakhirinya di sini,” lalu tatapannya terarah pada Luhan. “Luhan, tinggal menarik pelatukmu padaku. Semua berakhir, ‘kan?”

Respon Luhan masih dengan kukuhan penolakannya, dirinya menggeleng lalu menarik tangan Hyerim dan membuat tubuh Si Gadis tertarik ke arahnya. “Heal me to not kill you,” ujar Luhan sembari mencengkram kedua bahu gadisnya disertai hunusan tajam dari korneanya. “Kamu harus melakukannya, Hyerim. Jangan membuatku buntu dan malah berakhir membunuhmu!” mata Luhan berkaca-kaca dan Hyerim pun serupa, iris keduanya bersibobrok dengan sendu.

“Kamu harus membunuhku, Lu. Maka dari itu kamu tidak akan jadi pengkhianat, bukan?” balas Hyerim dengan tatapan memohon. Mata Luhan terpejam kemudian terbuka dan tatapannya tertancap pada pistol yang Chanyeol pegang, seketika sebuah pemikiran bersarang dalam dirinya.

“Menjadi pengkhianat atau tidak, aku akan mati. Mati dibunuh negaraku karena menjadi pengkhianat. Atau mati secara perlahan karena membunuh kekasihku sendiri,” iris Luhan tertancap kembali pada obsidian Hyerim, lalu dirinya menyematkan senyum tipis. “Bila aku bisa membunuhmu, maka dirimu bisa membunuhku juga, bukan?”

Frasa yang Luhan lafalkan membuat pupil mata Chanyeol dan Lian, melebar tak percaya. “Luhan…” Lian menggumamkan nama rekannya dengan syok luar biasa, ia tahu arus kata yang Luhan bawa.

Hyerim sendiri menatap Luhan tersulut akan kebingungannya, walau dirinya sedikit paham apa yang Luhan minta. “Maksudmu—“

Tak menanggapi ucapan Hyerim yang belum terjalin sempurna, Luhan menoleh pada Chanyeol yang mendadak mematung. “Chanyeol-ssi, berikan pistolmu pada Hyerim.” dan pemikiran Hyerim yang sempat hinggap ditengah ketidakpahamannya itu, menjurus kekebenaran.

Si Polisi devisi khusus itu tak langsung menuruti Luhan, Chanyeol meneguk ludahnya dahulu serta menatap Luhan sedikit dalam. “Dirimu tidak akan menyerangku setelah aku menyerahkan senjataku ini, ‘kan?” ujar Chanyeol dengan cengkeng mata menyipit.

Segeralah Luhan menggeleng dengan senyum meyakinkan. “Akan kupastikan pistolmu menghunus tubuhku sampai ajal menjemputku.” Luhan menurunkan tangan dari bahu Hyerim, serta memberikan tatapan terlembutnya pada Sang Gadis. “Dengan begini, semua impas. Aku menyelesaikan misiku untuk membunuh setidaknya salah satu anggota keluarga Kim Jaehyun. Dan juga, Hyerim bisa membunuh kekasihnya yang berkhianat.” dan Luhan pun melirik Lian yang memberikannya senyum dengan penuh dukungannya.

Napas Chanyeol terhela, lalu dirinya menyerahkan senjata tersebut pada Hyerim sambil membuang muka. Sejenak, Hyerim hanya menatapi pistol yang terulur padanya. Dirinya dikurubungi perasaan sedikit bimbang hingga pada akhirnya menerima pistol tersebut. Tatkala obsidiannya menyapa figur Luhan, prianya itu tersenyum sambil mengulurkan tangan.

“Ayo kita selesaikan sekarang,” ujar Luhan dengan senyum lembut yang membuat Hyerim terbius dan tanpa pikir panjang menyambut uluran tangannya.

Sepasang kekasih itu mulai merangkai langkah menjauh. Sementara Park Chanyeol dan Wu Lian menatapi punggung keduanya dalam. “Kamu sudah melakukan hal yang benar, Agen Lu.” Lian bergumam lalu mengarahkan pistol kepelipisnya sendiri.

‘DOR!’

Tembakan kembali tercetuskan diiringi tubuh Lian yang ambruk dengan darah merembes dari pelipisnya. Toh, bila ia kembali ke markas, hasilnya sama, Lian akan dibunuh karena sudah membunuh rekannya sendiri; Zhang Yixing.

║ ♫  ║ ♪  ║ ♫  ║ ♪  ║

Genggaman tangan Luhan yang menyalurkan kehangatan dalam dirinya, seketika terlepas tatkala Si Pemuda telah membawanya ke tempat agak jauh dari tempat Chanyeol dan Lian barusan. Tubuh Luhan terputar menghadap Hyerim yang dari tadi setia memandanginya. Luhan mengulas senyum lembut yang membuat Hyerim kembali terjatuh padanya.

“Kamu bisa menggunakan pistol, ‘kan?” Luhan memberhentikan keheningan dengan pertanyaannya.

Jawaban dari Hyerim ialah sebuah anggukan. “Dan dirimu memastikan akan menembakku saat aku menembakmu, ‘kan?” gantian, Hyerim melontar tanya dengan tatapan dalam.

Meski berat dirasa dirunggu, kepala Luhan pada akhirnya mengangguk untuk mengiyakan pertanyaan gadisnya. “Selalu ingat, aku mencintaimu.” tangan Luhan melayang untuk menyentuh pipi kanan Hyerim dan mengusapnya.

Ranum Hyerim tertarik ujungnya, melukiskan sebuah senyum hangat dan tangannya pun terangkat tuk menyentuh pipi Luhan. “Aku lebih dari mencintaimu…” bibirnya bergetar dengan air mata yang lolos, “Pertemuan pertama kita begitu mengagumkan, maka aku ingin pertemuan terakhir kita teringat.” lantas iris keduanya menyapa sambil saling menyelami, menikmati momen terakhir yang keduanya akan rasakan di dunia nan singkat ini.

Diturunkan oleh Luhan tangannya dari pipi Hyerim, Sang Dara Kim pun melakukan hal serupa. Kemudian, Luhan mengikis habis spasi antaranya dengan Hyerim, menarik gadisnya ke arahnya lantas menyarangkan ciuman diranumnya. Tatkala Luhan mulai melumat bibir atas dan bawahnya bergantian, kesentakan pada keterkejutannya pun menyadarkan Kim Hyerim. Lantas Hyerim mulai merespon ciuman Luhan dengan lumatannya juga. Buaian panjang dengan anakan sungai mengalir dipipi keduanya itu menghantarkan rasa hangat kerunggu  Kim Hyerim serta Luhan. Pangutan itu terhenti dengan Luhan yang menjauhkan wajahnya dari Hyerim. Keduanya saling melempar retina untuk menyapa.

“Sekarang saatnya,” bisik Luhan tepat ditelinga kanan Hyerim. Kepala Hyerim mengangguk pelan serta Luhan pun melepaskan pelukan pada gadisnya.

Keduanya mengangkat tangan yang mengukung pistol dengan sedikit gemetar. Pistol Luhan dileher Hyerim, sementara pistol Hyerim ditaruh dipelipis Luhan. Nampak jelas air mata yang tertahan dengan bola mata berkaca-kaca dari keduanya yang melempar pandang sendu. Obsidian Hyerim dan Luhan  terpejam diiringi tangan keduanya menarik pelatuk pistol yang lantas mengaumkan tembakan tragis.

‘DOR! DOR!’

Peluru yang menghunus pelipis dan leher Luhan juga Hyerim mencuatkan darah yang keluar diiringi tubuh sepasang kekasih tersebut yang tumbang. Napas Luhan tersenggal dengan pandangan mengabur, dirinya masih bisa melihat gadisnya terbaring tak berdaya di hadapannya. Hyerim membuka matanya dengan tatapan yang sama tak jelasnya, dirinya mengukir senyum kala lehernya terasa tercekik dan matanya memaksa menutup. Senyuman Sang Gadis membuat Luhan merasa tak sia-sia akan ajal yang menghampiri, kurvanya pun juga membentuk senyum. Tangan Luhan terulur dengan gerakan ditingkat paling bawah, dirinya membawa tubuh Hyerim kepelukannya, mendekapnya erat dengan hangat sebelum kedinginan menghampiri keduanya tuk menemui maut. Hyerim pun mengangkat tangan, membalas pelukan Luhan meski tak terlalu erat. Dengan hembusan napas panjang, keduanya pun meninggalkan dunia kejam yang tidak bisa menyatukan mereka berdua.

║ ♫  ║ ♪  ║ ♫  ║ ♪  ║

Dengan rokok tersulut dibibirnya, Chanyeol menyandar di salah satu tembok apartemen yang sudah setengah hancur. Dirinya menunggu waktu akan maut sepasang kekasih tersebut. Hingga akhirnya dua buah tembakan menyapa gendang telinganya. Hyerim dan Luhan. Chanyeol pun membuang putung rokoknya dan menginjaknya sampai tak berbentuk.

Tangan miliknya merongoh saku celananya untuk mengambil ponsel. Sebentar, dirinya menghela napas. “Hallo? Kapten?” Chanyeol mulai menstart ucapan dengan ponsel ditelinga kanannya. Setelah terdengar jawaban dari sebrang, tatapan Chanyeol menerawang ke langit lepas. “Tiga agen handal dari Tiongkok sudah tewas, Kapten. Kita hanya perlu menunggu Presiden Kim yang tertembak untuk pulih dan kembali menghadapi perang ini.”

—END—


Hallo, lama gak berjumpa dengan FF chapterku. Rasanya kayak naik roller coaster mengingat ngerjain beberapa FF chapter itu dengan mood naik turun tak menentu dan malah kepikiran ide baru dan ff baru pft. Maaf juga baru bisa selesein Agent Lu itu sekarang, aslinya udah ada draftnya sampe habis dan bahkan udah dibetain sama betareaderku buat FF ini. Cuman, buat ngecek hasil chapter ini tuh rasanya aku males padahal udah beres dari aku pas liburan di Itali hft. Maaf ya, dan maaf juga bila alurnya begini banget T_T kayak maksa? Tapi dari awal emang mau chapternya dikitttt sekali, malahan tadinya maunya cuman 3 chapter padahal pas ngetik bagian akhir, aku agak gatel juga buat nambahin masalah baru LOL. Tapi rasanya gak pas, karena judulnya Agent Lu, sementara tokoh Luhannya aku matiin.

Okay, how about the ending? Ini happy agak sad loh, LOL. HYERIM-LUHAN SAMA-SAMA MATI, BUKANNYA LEBIH BAIK BEGITU? AKAKAKAKAK. Luhan nyelesein misi. Hyerim pun ngebunuh orang yang notabene ngebunuh dia. Kan impas, dibanding bersama di dunia yang kejam LOL.

Intinya, jangan lupakan komentar kalian ya. Bila banyak siders, korbannya akan kayak My Cinderella, akan aku PW secara tiba-tiba ^^

Sampai jumpa lain waktu ya.

WITH LOVE,

HYEKIM ❤

Iklan

2 thoughts on “Agent Lu – Finale [Scene 4 – Kill Me, Heal Me]

    • Iya akhirnya begini hahahah. Kenapa bingung? XD mereka ya di surga bisa jadi bersama, intinya mereka sama-sama mati dan itu yang terbaik sih. Soalnya kalau masih sama-sama hidup pun, perjalanan cinta mereka gak akan lancar. Luhan harus milih bunuh Hyerim/gak, kalaupun enggak, akan ada agen yang ngebunuh Hyerim, ngebunuh Hyerim pun, Luhan enggak akan sanggup kalaupun sanggup, dianya yang akan kepikiran terus selamanya, ‘kan? 😀

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s