[Auhor Tetap] Finally, I Got You (12)

Untitled

ByunPelvis

Main Cast : Byun Baekhyun,Park Hyejin (OC/You)

Other Cast : Oh Sehun,Park Chanyeol,Kim Chanri (Oc),Kim Jong In and Seulgi(Cameo).

Genre : Romance,Angst,Friendship.

Leght : Chapter

Rating :General

Disclaimer : This story is mine. No Copy no paste. Sory for typo.

And Don’t be a silent readers. ^^

*

aku tidak baik-baik saja
aku masih mendapatimu di sudut hatiku
tidak ada cara agar aku bisa bahagia
tidak ada jalan bagiku untuk baik-baik saja-Park Hyejin

(1)   (2)   (3)  (4)

(5)  (6)   (7)    (8)

(9) (Special Sehun  (10 A) & (10B) )

(11)


 

Dua pemuda tampan sedang sibuk dengan ponselnya masing-masing. Sesekali salah satunya mengerang frustasi. Byun Baekhyun, pemuda ini yang paling terlihat sangat lelah. Hampir satu hari ini ia mencari Hyejin hingga pelosok Seoul di temani sahabatnya. Chanyeol  tak menghiraukan racauan Baekhyun karena ia sedang sibuk mencari informasi dari orang terdekat Hyejin.

“Yeol, siapa lagi yang harus kita tanyai? Tak ada yang bertemu dengan Hyejin hari ini.” bibir tipis Baekhyun sekali lagi bertanya. Chanyeol meletakan ponsel dan mengendurkan bahunya.

“entahlah. Kau tau kan? Hyejin tak banyak memiliki teman akrab. Bahkan teman sekelasnya ada yang tidak mengenalnya.” Jawab pemuda tinggi itu. Keduanya saat ini sedang berada di apartement Hyejin, bermaksud menunggu karena siapa tahu gadis itu pulang. Padahal jam sudah menunjukan hampir tengah malam, dua orang itu tak ada niat untuk memejamkan mata.

“Ya Tuhan, sebenarnya kemana Hyejin? Bagaimana jika orang tuanya tahu hal ini? mereka pasti sangat khawatir.” Ujar Baekhyun. Mendengar itu Chanyeol langsung menatap Baekhyun.

“ah iya Baek, kenapa aku malah tak memikirkannya? mungkin saja Hyejin ke Daegu.”

Chanyeol langsung meggunakan ponselnya untuk menghubungi bibinya. Ia sedikit yakin jika Hyejin berada disana.  Sedangkan Baekhyun memandang Chanyeol dengan tatapan sebal. Kenapa tidak dari tadi Chanyeol bertanya pada orang tua Hyejin? fikirnya.

“yoboseyo? Immo?”

Pertama Chanyeol berbasa-basi dengan menanyakan kabar. Sudah terhitung lama ia tak berkomunikasi dengan ibu Hyejin.

“Emm, Immo! Apakah Hyejin berada di Daegu?”Chanyeol bertanya dengan was-was, takut perkiraannya salah. Namun setelah bibinya menjawab pertanyaannya, Chanyeol terlihat menghela nafas lega.

“syukurlah. Aku lega mendengarnya. Aku kira dia kemana.”

Chanyeol sedikit mengobrol lalu setelah dirasanya cukup ia mengakhirinya. Baekhyun langsung menatap Chanyeol atunsias.

“Bagaimana?”

“Hyejin berada di rumah orang tuanya. Itu artinya dia baik-baik saja.”

“Yeol, apa kita harus ke sana sekarang?”

“untuk apa? aku yakin dia tak mau bertemu denganku maupun kau.”

“ayolah Yeol. Tidakkah kau khawatirpadanya?” bujuk Baekhyun, ia akan terus memaksa Chanyeol.

“ya baiklah, kita akan berkunjung kerumah Hyejin.” ujar Chanyeol pada akhirnya.

“Kalau begitu ayo!” ajak Baekhyun yang terlihat atunsias.

“kau gila? Ini sudah tengah malam. Menginaplah di sini. Besok pagi barulah kita ke Daegu.” Usul Chanyeol. Pemuda itu dengan santainya langsung membaringkan tubuh di sofa. Baekhyun menbuang nafasnya dengan kasar. Jika saja tahu alamat rumah Hyejin, pasti ia akan pergi tanpa sahabatnya itu.

terhitung sudah ada setengah jam Baekhyun hanya diam menatapi langit-langit, fikirannya sedang terbang entah kemana. Matanya itu tak bisa diajak kerja sama, ia tak merasakan kantuk sama sekali.

Diliriknya Chanyeol yang kini sudah tertiur lelap. Ia berdiri dan berjalan meninggalkan ruang tengah. Walau baru tiga kali ini memasuki apartement Hyejin, tapi Baekhyun sudah hafal tempat itu. Ia senang berkeliling menelusuri setiap ruangan. Hingga kakinya sekarang berhenti tepat di depan sebuah pintu. Baekhyun mengangkat tangannya untuk menyentuh knop, namun ada juga rasa ragu.

Bukankah perbuatannya itu lancang? Pasti Hyejin akan sangat marah jika ia masuk kesana.

Baekhyun tak peduli, ia membuka pintu kamar Hyejin dan masuk. Tadi pagi saat mencari Hyejin, ia juga memasuki kamar itu. Namun Baekhyun tak melakukan hal apapun selain berteriak mencari keberadaan Hyejin.

“ternyata dia sangat feminim.” ujarnya setelah menghidupkan lampu dan melihat cantiknya kamar milik Hyejin. Pemuda itu semakin masuk ke dalam untuk melihat-lihat. Semua barang di sana tertata rapi, ada juga beberapa foto Hyejin yang tergantung di dinding. Baekhyun tersenyum, ternyata Hyejin hobi bersecla juga.  Banyak hal yang tidak di ketahuinya tentang gadis kesayangannya, Baekhyun jadi makin penasaran.

Tatapannya teralih ke meja belajar kecil yang ada di sudut ruangan. Baekhyun mendekatinya dan duduk di sana. Ada setumpuk buku berlebel perpustakaan di meja, di sampingnya ada laptop milik Hyejin.

“apa kau menghabiskan waktumu hanya untuk belajar, heum?” Baekhyun bertanya padahal jelas-jelas tak ada Hyejin disana.

Kini satu barang membuatnya tertarik untuk melihat. Baekhyun mengambil note book bersampul merah muda. Ia kembali lancang karena membuka benda pribadi milik Hyejin. Buku itu sama halnya seperti diary, didalamnya tertulis beberapa moment yang Hyejin tulis.

Baekhyun berhenti membalik kertas setelah menemukan sebuah tulisan.

Daftar keinginan Park Hyejin, begitulah yang tertulis di sana. Baekhyun melihatnya karena penasaran.

  1. Aku berharap bisa piknik bersama Sehun.
  2. Aku sangat ingin menerbangkan lampion harapan bersama Sehun, sepertinya sangat romantis.
  3. Dinyanyikan lagu saat berkunjung ke caffe, aku ingin Sehun melakukannya untukku. ^^

Semoga terwujud saat Sehun pulang dari China nanti

Baekhyun tersenyum saat membacanya. Ternyata Hyejin seperti kebanyakan gadis yang menginginkan hal romantis saat kencan.

“Maafkan aku, Hyejin-ah.”

Baekhyun menyobek lembaran itu, mengamatinya lagi sebelum memasukkannya ke dalam saku celananya.

.

.

.

Hyejin berbaring namun matanya tak terpejam sama sekali. Sisa airmata masih menganak di pipinya. Satu menit yang lalu Hyejin baru saja berhenti menangis. Hatinya kembali sakit setelah melihat video yang diberikan Hayoung untuknya. Video itu menampilkan rekaman Sehun yang bercerita banyak hal padanya. Sehun menyuruh Hyejin untuk melupakannya, Sehun menyuruh Hyejin untuk tidak bersedih dan Sehun menyuruhnya untuk mencari pria yang bisa membuatnya bahagia.

‘Bodoh, kau fikir siapa yang bisa membuatku bahagia selain dirimu Oh Sehun’ lirih hatinya. Hyejin menyesal menonton video itu. Ia tak sanggup melihat betapa menyedihkannya seorang Oh Sehun.

Tiba-tiba pintu kamar terbuka, dengan cepat Hyejin menutup wajahnya dengan bantal. Tidak mau ibunya melihat wajah kacaunya.

“Hyejin-ah?”

Hyejin merasa seseorang duduk di ranjang. Detik berikutnya, bantal yang digunakan untuk menutup wajahnya di tarik.

“Eomma tahu kau belum tidur.”

Hyejin mengubah posisinya menjadi duduk dan menatap ibunya dengan sendu.

“ada apa nak? Kenapa kau menangis heum? Ceritalah padaku.”  Ibunya mengusap surai hitamnya. Hyejin mengumpulkan lagi airmata di pelupuk matanya. Dalam sekejap, tubuhnya sudah masuk ke pelukan sang ibu.

“ada apa sayang? Kenapa kau tak mau cerita, heum?” tanya ibunya. Berulang kali ia mendesak putrinya untuk bercerita, namun Hyejin hanya diam seolah bisu.

“eomma, aku menyayangi Sehun. Aku ingin bersamanya.” Lirih Hyejin.

“hei, bukankah kau sudah bertemu dengan sehun heum? Apa masih kurang tiga hari di China?”

Hyejin hanya diam, ia tak mampu untuk bercerita tentang apa yang terjadi. Namun perasaannya sedikit tenang saat ini. Memeluk ibunya seperti itu bisa sedikit mengurangi kesedihannya.

“eomma tak tahu mengapa kau malah sedih begini. Kau harus cerita nanti. arraseo?” perintah ibunya, Hyejin hanya menimpalinya dengan anggukan.

“Hyejin-ah, tadi Chanyeol menelfon. Dia tak tahu kau berada di sisni. Kau tak memberitahunya?”

Hyejin melepas pelukan itu  dan langsung berbaring. Ia tak mau menjawab pertanyaan ibunya.

“eomma aku mengantuk. Bisa tinggalkan aku?”

“astaga, kau ini. Apa kau sedang bertengkar dengannya?”

“eomma.”

“baiklah. Tidurlah, kau pasti sangat lelah. Ingat. Besok kau harus cerita pada eomma.”

“eum.”

Wanita paruh baya itu mencium kening putrinya dan berjalan pergi meninggalkan kamar. Hyejin membuka matanya yang tadi pura-pura terpejam. Lagi-lagi Chanyeol, kenapa sepupunya itu tidak bisa berhenti.

.

.

.

Mobil Baekhyun memasuki khawasan Daegu, setelah melakukan perjalanan panjang akhirnya mereka sampai juga. Kini, tujuannya adalah rumah milik orang tua Hyejin yang sedikit berdekatan dengan desa. Tak perlu susah untuk menemukannya karena yang menyetir saat ini adalah Chanyeol.

Baekhyun terus bicara selama perjalan, seperti halnya radio yang sedang menyiarkan acara talk show. Chanyeol sudah kebal dengan kecrewetan sahabatnya itu.

“Yeol, kapan kita sampai?”

“sebentar lagi. Kenapa kau tidak sabar sekali?” heran Chanyeol karena Baekhyun terus mendesaknya untuk cepat.

“aku sangat merindukannya. Rasanya sperti mau meledak.”

Chanyeol memutar malas kedua bola matanya. Sekarang mobilnya berbelok pada sebuah halaman luas.Chanyeol mematikan mesin mobil setelah tepat di depan rumah besar yang tampilannya cukup mewah.

Baekhyun mengikuti Chanyeol dan berjalan mendekati rumah itu. Belum sempat mengetuk, pintu sudah terbuka terlebih dahulu.

“Anyeonghaseyo, Immo.” Chanyeol tersenyum lebar dan menyapa bibinya.

“Ommo, Chanyeol-ah?”

Wanita paruh baya itu langsung memeluk sayang keponakannya. Baekhyun yang ada di belakang hanya tersenyum tipis melihat kedekatan Chanyeol dengan ibu Hyejin.

“Chanyeol-ah, immo sangat merindukanmu. Dasar anak nakal, kau melupakanku setelah asik di Seoul eoh?”

“tidak  Immo, mana mungkin aku melupakanmu. Tugas kuliah membuatku sibuk.”

“ckk benarkah? Kukira kau melupakanku.”

Keduanya tertawa bersama, kemudian tatapan ibu Hyejin teralih pada seseorang yang berdiri tak jauh dari Chanyeol.

“eoh? Apa dia temanmu?” tanya beliau sembari menunjuk Baekhyun.

“Anyeonghaseo, ajhuma.” Baekhyun membungkuk hormat dan memberi salam pada ibu Hyejin. Dapat dilihatnya, waja Hyejin sangat mirip  dengan wanita paruhbaya dihadapannya.

“ah ya. Dia temanku , namanya Byun Baekhyun.” timpal Chanyeol karena baekhyun hanya diam tanpa memperkenalkan diri.

Ibu Hyejin mengangguk mengerti dan menyuruh keduanya masuk.

“Immo, dimana Hyejin? aku ingin menemuinya.”

“ah, Hyejin? dia keluar sejak tadi pagi. Katanya ada teman yang mengajaknya ke pantai.” Terang ibu Hyejin. Chanyeol mengerutkan keningnya, setahunya Hyejin tidak menyukai pantai di musim panas seperti ini.

“dia berangkat sendiri?”

“eum. Ckk anak itu. aku tak tahu kenapa dia terlihat murung sejak pulang.”

Baekhyun terdiam, lagi-lagi ia tak bertemu Hyejin. Ada sedikit rasa kesal karena kesabarannya mulai habis. Pria itu menyerobot kunci mobil yang ada di tangan Chanyeol dan berlari keluar.

“YA! Byun Baekhyun kau mau kemana?”

Baekhyun tak memperdulikan Chanyeol dan terus berjalan hingga masuk kedalam mobilnya. Chanyeol berjalan mengikuti Baekhyun namun belum sempat mencapai mobil, Baekhyun sudah menjalankannya. Jawabannya hanya satu, pasti Baekhyun mencari Hyejin sekarang.

“bodoh, memangnya kau tahu pantai mana yang di kunjunginya?” ujarnya.

“ada apa Chanyeol-ah?” bibinya bertanya. Chanyeol menghela nafas dan sedikit tersenyum.

“tidak apa immo. Kami hanya khawatir pada hyejin. dia-“

“sebenarnya ada apa? Saat pulang, Hyejin terlihat murung dan dia terus menangis. Apa ada masalah di Seoul?”

Chanyeol yakin Hyejin tidak bercerita tentang Sehun pada bibinya. Pasti Hyejin membingungkan orang rumah.

“Immo, Hyejin seperti itu karena Sehun.”

“memangnya apa yang terjadi?”

“aku akan menceritakan semuanya.”

.

.

.

Baekhyun mengaktifkan GPSnya untuk melacak dimana keberadaan Hyejin. Setelah memutari seluruh daerah berpantai di kota Daegu, pada akhirnya ia bisa menemui titik keberadaan Hyejin. Baekhyun turun dari mobilnya dan berlari diatas pasir putih. Pandangannya menyapu lautan maupun tepi pantai.

Pikiran negatif bergelantungan di otaknya. Namun Baekhyun yakin, Hyejin tidak mungkin melakukan hal yang sama dengan Oh Sehun.

“aishh dimana dia?”

Setelah kekhawatirannya berada di puncak, akhirnya ia menemukan seseorang berdiri menghadap lautan. Ombak kecil menghantam kaki mungil itu.

Baekhyun berjalan pelan menghampiri Hyejin yang sedang terdiam bak patung. Ia menatap punggung penuh kesdihan itu, membuat Baekhyun sangat ingin memeluknya.

Setelah berdiri di samping Hyejin, yang di dapati Baekhyun hanyalah tatapan kosong. Sepertinya Hyejin tak menyadari ia berada di samping.

“Kau membuatku sangat khawatir Park Hyejin. Apa yang kau lakukan di sini?”

Hyejin menoleh setelah seseorang bicara padanya, ia mematung saat menemukan Baekhyun berada di sampingnya. Wajah menyebalkan itu, entah kenapa Hyejin terkunci saat menatapnya.

“k-kau?”

Hyejin heran, bagaimana bisa Baekhyun menemukannya di tempat itu. ia memastikan apa yang dilihatnya bukanlah halusinasi.

“kenapa? Kau kaget?”

Hyejin tak menimpali Baekhyun dan kembali menatap laut. Entah kenapa, melihat Baekhyun ia malah ingin menangis.

“Park Hyejin?”

“Pergilah!” ketusnya. Hyejin tak mau Baekhyun melihatnya menangis saat ini.

“pergi? Tidak bisakah kau memintaku untuk menemanimu? Aku tau kau membutuhkan seseorang untuk bersandar.” Lantang Baekhyun.

“aku tidak membutuhkan siapapun kumohon pergilah!” masih saja Hyejin menyuruh Baekhyun pergi.

“tatap aku jika sedang bicara. Apa aku ini angin?” vokal Baekhyun mulai berubah dingin.

“terserah.”

Hyejin berbalik dan melangkah pergi, namun Baekhyun menahan tangannya.

“semua orang pernah merasakan kehilangan. Aku tau kau sedang sedih karena kematian Oh Sehun. Tapi bisakah kau berhenti membuatku khawatir? Kau tau? aku memikirkanmu setiap saat? Takut sesuatu buruk terjadi padamu. Namun apa? setelah aku jauh-jauh kemari kau malah mengusirku? Sebenci itukah kau padaku Park Hyejin.” ujar Baekhyun dengan setengah berteriak. Bahkan matanya merah menahan tangis, semua beban hatinya sudah tak bisa di tahan lagi.

“bukankah aku bodoh? Mencintai seseorang yang membenciku?” lanjutnya .

“aku tak pernah memintamu untuk kemari. Berhenti menemuiku, sudah berapa kali kukatakan hah? aku hanya mencintai Sehun.” Balas Hyejin tak kalah kerasnya. Ia terisak sekarang, bahkan sampai terduduk di pasir.

Baekhyun menatapnya iba. Ia berjongkok dan berusaha menghapus airmata itu, namun tubuhnya di dorong hingga ia terduduk. Hyejin seolah tak mau di sentuhnya.

“Menangislah sampai airmatamu habis!. Percuma saja, Oh Sehun tidak akan kembali.”

Hyejin benci Baekhyun berkata seperti itu walau kenyataannya memang benar. Sehun tak akan pernah kembali sekalipun ia menangis darah.

Tangisan Hyejin semakin memilukan, jujur Baekhyun tidak ingin ini. Ia memberanikan diri untuk memeluk Hyejin, tidak peduli sekuat apa gadis itu meronta.

“Jangan merasa sendiri. Aku bersamamu, Hyejin-ah. Dan aku mohon, jangan memintaku untuk pergi.”

Baekhyun mengusap punggung bergetar Hyejin. Ia lega karena rontaan Hyejin perlahan berhenti. Tak ada yang berbicara setelahnya, untuk beberapa menit Hyejin masih sibuk menyelesaikan tangisannya. Di lain itu, Hyejin merasa ada sesuatu yang tidak asing. Pelukan Baekhyun, entah mengapa rasanya seperti ia sedang memeluk Sehun. Mungkinkah itu hanya perasaannya saja karena terlalu merindukan mendiang kekasihnya? tidak, ini benar-benar sama. Hyejin hendak membalas pelukan itu, namun mengingat jelas orang yang memeluknya itu Baekhyun, ia mengurungkannya.

Setelah dirasa cukup, Baekhyun melepas pelukannya dan menangkup kedua pipi Hyejin.

“Hyejin-ah, anggap saja aku ini orang lain yang dengan senang hati ingin mendengar ceritamu. Bagaimana? Mau bercerita?” sekarang Baekhyun berbicara lembut, tidak sekeras sebelumnya.

Hyejin perlahan menatap Baekhyun. Gadis itu selalu saja menemukan ketulusan di netra itu. Baekhyun menunggu, Hyejin diam seperti mempertimbangkan sesuatu. Hyejin melepas tangan Baekhyun yang masih menangkup kedua pipinya. Malah sekarang, ia memalingkan wajahnya. Ia merasa mau, sekeras apapun ia menyuruh baekhyun pergi namun pria itu teta saja bertahan. Hyejin tau dirinya memang keterlaluan. Baekhyun benar, ia memang butuh sandaran saat ini.

“aku tak pernah merasakan sakit seperti ini, Baekhyun-ssi. Ini sangat menyiksaku.” Lirihnya hampir tak terdengar. Baekhyun sedikit tersenyum, itangannya terulur untuk menggenggam jemari mungil Hyejin.

“aku yang akan menyembuhkannya, Hyejin-ah. Sesulit apapun itu.”

Hyejin menatap Baekhyun. Ia tak tahu mengapa diam saja saat Baekhyun berkata seperti itu. Keduanya hanya saling tatap untuk beberapa detik sampai Baekhyun memutus kontak mata. Ia hanya takut kehilangan kontrolnya jika terpaku pada iris hitam milik Hyejin.

“Hyejin-ah, jika kau tak menyukaiku sebagai orang yang mencintaimu. Bisakah kau menganggapku sebagai teman?”

Hyejin terdiam lagi, Baekhyun bertanya yang membuat dirinya tak bisa untuk menjawabnya.

Dan apa ini? ada apa dengan jantungnya yang tiba-tiba berdebar 2x lebih cepat?

“aku….”

.

.

.

Chanyeol membuat bibinya tercengang dengan apa yang diceritakan olehnya. Beliau tidak menyangka hal semenyedihkan itu terjadi pada putrinya.

“jadi Oh Sehun sudah meninggal?”

Chanyeol mengangguk. Sudah diduganya, Hyejin belum bercerita pada siapapun.

“putriku yang malang, aku tidak tahu dia terus menangis karena hal itu.” tutur beliau dengan nada prihatin. Sungguh beliau tak tahu , Oh Sehun yang dulu sangat sering main ke rumahnya telah tiada.

“Immo. Jika Hyejin melakukan hal aneh, katakan padaku.”

“eum tentu saja. eh? hal aneh apa maksudmu, Chan-ah?” tanya ibu Hyejin yang tak maksud tentang ‘hal’ apa yang keponakannya itu maksud.

“ah, tidak. siapa tau dia melakukan hal macam-macam.”

Tiba-tiba pintu utama terbuka dan pandangan Chanyeol maupun ibu Hyejin tertuju ke depan.

“eomma, aku pulang.”

Hyejin masuk terlebih dahulu, sedangkan di belakangnya ada Baekhyun yang juga masuk dengan baju basah kuyub. Chanyeol mengangkat sebelah alisnya.

“Baek? Apa yang terjadi padamu?”

 

TBC

Preview of the next chapter..

 

“Baekhyun-ah, bolehkah aku memelukmu?”

.

.

“Aku Byun Baekhyun, bukan Oh Sehun.”

.

.

“Jong In-ah. pernahkah kau menyesal karena tidak menyukai seseorang?”

.

.

“Jadi? bisakah kita berteman?”

.

.

 

Huaaaa ini apa? jauh dari teasernya ^^

maafkeun yahh readers, author ini ngetik pakai ide pas-pasan he he.

ngetiknya ngebut dan dadakan , jadi selesai langsung post.

maaf yah kalau kurang puas…

dan sengaja chapter ini pendek kaya chapter sebelumnya.

kebiasaan author tu banyak typonya ya?. maklum lah ya ngetik ngebut gak sempet cek ^^.

dan untuk komentar, maaf gak bisa balas satu-satu. Author selalu mantau komentar tiap hari, untuk semangat nulis. tanpa komentra kalian, author jadi pesimis mau lanjut.

dan next chapter bakal author sandi kayaknya.

ada spesialnya.. ^^ (mungkin)

Kalau mau akrab bisa WA : 0823249084087 (kalau ada kuota bakal dibales ^^)

okey see you…

 

Iklan

28 thoughts on “[Auhor Tetap] Finally, I Got You (12)

  1. bkyn kasar bgt pas blg mau hyejin nangis kaya apa juga sehun gabakalan balik. Nyesek baek😢
    Hangat ya hyejin dipeluk bkyn? Aku juga mauuuuuu😂😂😂
    Tp itu knp dah TBC nya bkyn basah kuyup? Kehujanan kah? Kecebur kah? Maen becekan kah(?)😂😂😂

    Part 13A di password ya? Pengeeennnn. Gmn caranya ya?

  2. Astaga udah dicarin kemana – mana ternya dia pulang ke rumah orang tua-nya. Beakhyun bener” type cowok idaman banget dia tetep pantang nyerah buat nyari Hyejin dan dia selalu berusaha buat bikin Hyejin nyaman di deket dia…. Huaaaah Tuhan tolong sisain satu aja cowok yang kaya diaa

  3. Beakhyun bener” type cowok idaman banget dia tetep pantang nyerah buat nyari Hyejin dan dia selalu berusaha buat bikin Hyejin nyaman di deket dia .. Dan itu knapa pulang2 mreka basah ?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s