Nightmare [Epilog #1]

Poster by : Alkindi (https://dirtykindi.wordpress.com/)

EXO’s Sehun, OC’s Mikyung & Ji Ah

Romance | Married Life | Family

Disclaimer! The original results my imagination. NOT FOR PLAGIARISM OR COPY PASTE!!!

©2016.billhun94


Oh Ji Ah

-oOo-

Sehun kira tidak ada yang lebih berharga dari keluarga kecilnya―kira-kira sudah berapa kali ya ia mengatakan hal ini?Pria itu merasa bahwa dirinya tidak bisa berhenti merasa bersyukur dan berterima kasih pada Tuhan atas apa yang sudah diberikan-Nya pada dirinya.

Tidak terasa, Oh Ji Ah kini sudah tumbuh menjadi gadis kecil yang aktif dan sangat menggemaskan. Sehun harus mengucapkan syukur lagi karena putrinya itu tidak mewarisi sifatnya yang kaku dan cenderung pendiam, melainkan sifat Mikyung yang periang.

Tahun ini Ji Ah genap berusia 4 tahun. Anak perempuan memang lebih cepat belajar berbicara daripada anak laki-laki. Ji Ah pun begitu. Gadis kecil Sehun itu tidak berhenti mengoceh, baru berhenti setelah tertidur.

Seperti saat ini, Ji Ah datang ke ruang kerja Sehun dan mengagetkannya. Sehun yang sedang menandatangi berkas-berkas harus berhenti sebentar untuk meladeni putri kecilnya ini.

“Daddy tahu Princess Cinderella tidak?” Tanya Ji Ah dengan antusias, tangannya terus menarik ujung kaus yang Sehun kenakan agar mendapat atensi dari sang ayah.

Sehun memang jenius, tapi jika menyangkut hal-hal yang biasanya para gadis seumuran dengan Ji Ah, Sehun menyerah. Istrinya-lah yang berperan disini. Sehun lebih memilih untuk menyibukkan diri daripada ikut terlibat.

Tidak ingin mengecewakan putri kecilnya, Sehun menjawab seadanya. “Oh, pasti yang punya rambut sangat panjang itu,” biarlah ia tampak bodoh, yang terpenting putrinya ini bahagia.

Berbanding terbalik dari apa yang ada diekspektasi Sehun, gadis yang mengenakan piyama tidur bergambar kartun kesukaannya itu justru merubah raut wajahnya menjadi cemberut.

Bayangin aja kayak gini:v

“Daddy payah,” cibir Ji Ah. Gadis kecil itu menggelengkan kepalanya, membuat rambutnya yang dikuncir kuda bergoyang. “Uncle Jongin, Taeyong dan Kyungsoo saja tau. Masa Daddy tidak tau, sih?!” Gertaknya. Kakinya menghentak, kesal.

Kalau sudah seperti ini, Sehun jadi bingung sendiri. Ji Ah seperti jelmaan Mikyung. Kalau sudah merajuk, pasti akan susah untuk ditenangkan.

Sehun menarik tangan Ji Ah, membawa gadis kecilnya itu untuk duduk dipangkuannya. “Maafkan Daddy, sweatty. Daddy janji akan membelikan rumah Princess yang baru untuk Ji Ah nanti. Tapi, Ji Ah tidak boleh marah lagi, ya?” Mohonnya.

Sudah cukup Sehun didiamkan seharian oleh putrinya sendiri karena masalah yang sama minggu kemarin.

Raut wajah Ji Ah yang tadinya cemberut kini mulai berganti, ada segaris senyuman di bibir mungilnya. Matanya yang sipit juga ikut tersenyum. Ia memeluk sang ayah erat-erat. Lalu berkata, “Ji Ah sayanggggggg Daddy.”

“Daddy juga sayang Ji Ah,” Sehun membalas pelukan Ji Ah sambil mengelus punggungnya. Selang beberapa menit, ia dapat merasakan napas yang teratur dan dengkuran halus di dadanya. Bisa dipastikan kalau kini Ji Ah sudah terlelap.

Satu hal lagi yang membuat Ji Ah tampak seperti Mikyung kecil; yaitu bisa tidur dimana saja.

Sehun mengecup puncak kepala gadis kecilnya. Tidak selamanya memiliki putri kecil itu gampang. Awalnya ia kira memiliki putri kecil itu lebih baik dari anak laki-laki yang merepotkan dan nakal. Ia mengalamai banyak kesulitan untuk sekadar memahami hal-hal yang belum pernah dijamahnya. Kendati demikian, ia menikmati semua itu asalkan gadis kecilnya bahagia.

Mungkin jika Mikyung tahu apa yang sudah Sehun lakukan untuk meredakan putri mereka, wanita itu akan marah. Pasalnya, Mikyung sudah memberitahu untuk tidak selalu memanjakan Ji Ah. Namun, mau bagaimana lagi. Jika tidak seperti itu Ji Ah tidak akan mau berhenti merajuk.

-oOo-

Sehun akui, ia adalah tipe ayah yang sangat posesif pada putrinya. Apapun yang gadis kecilnya itu lakukan di rumah, harus dalam pengawasannya. Apalagi kalau Mikyung sedang keluar rumah dan hanya menyisakannya dan Ji Ah. Ia harus ekstra mengawasi putrinya.

Contohnya saat anak tetangga sebelah mengajak Ji Ah bermain. Sehun yang saat itu sedang sibuk dengan laptop-nya sambil mengawasi Ji Ah bermain di ruang tengah langsung mencegah putri kecilnya untuk keluar rumah sebelum ia sendiri yang memastikan.

“Daddy berlebihan sekali. Itu ‘kan hanya Kyung Shik,” komentar Ji Ah yang berjalan di belakang Sehun.

Pintu terbuka dan menampilkan seorang anak laki-laki yang lebih tua setahun dari Ji Ah yang sedang tersenyum manis. Matanya yang sipit menatap Sehun, lalu memberikan salam. Sopan santun yang orangtuanya ajarkan padanya.

“Apa boleh aku mengajak Ji Ah bermain, Uncle?” Tanya bocah itu, matanya mengedip lucu sesekali.

Ji Ah sudah menatap sang ayah dengan penuh harap.

“Tidak. Ji Ah akan sakit kalau terkena sinar matahari berlebih,” jawab Sehun, datar. Seperti tidak punya rasa kasihan pada anak berusia 5 tahun itu.

Ji Ah cemberut. Tangannya menarik-narik ujung kaus sang ayah sambil menghentakkan kakinya. “Daddy jahat. Kita ‘kan bisa bermain di rumah Kyung Shik,” rajuk Ji Ah.

Melihat putri kecilnya mulai merajuk lagi tidak membuat Sehun berubah pikiran. Walaupun ini akhir pekan, ia harus membatasi waktu Ji Ah bermain di luar.

Kyung Shik yang kecewa tetap menampilkan senyumnya. Niatnya untuk menunjukkan mainan baru yang baru saja dibelikan sang ayah pupus sudah. Ia membungkuk sebelum undur diri.

Ji Ah menatap nanar kepergian Kyung Shik.

“Kau terlalu berlebihan pada Ji Ah, Sehun.” Komentar Kyungsoo, si tetangga sebelah rumah yang merupakan ayah dari Kyung Shik yang kebetulan sedang menyiram tanaman di taman depan.

Sehun yang keras kepala tidak menerima begitu saja komentar Kyungsoo, ia pun membalas, “Tetap saja, ini deminya.”

Kyungsoo hanya geleng-geleng kepala dengan tingkah Sehun. Sudah sekitar dua tahun pria itu pindah di samping rumahnya. Ji Ah sudah cukup besar untuk sedikit bebas dari ke-posesifan Sehun.

Sehun menoleh ke samping, sudah tidak menemukan Ji Ah di tempatnya.

“Ji Ah?” Panggil Sehun sambil memasuki rumah.

Yang dipanggil tidak menyahut. Kaki kecil si gadis dengan dress ungu itu masuk kedalam kamar yang didominasi warna pink. Ia menutup pintu dengan cara dibanting, membuat suara nyaring. Di dalam kamar, Ji Ah menjatuhkan tubuhnya di ranjang lalu menyembunyikan wajahnya di bantal. Saat ini ia sedang menyuarakan protesnya atas sikap sang ayah yang terlalu berlebihan itu.

Tok tok~

Sehun mengetuk pintu kamar Ji Ah, tidak ada tanggapan. Lantas pria berkaus hitam itu berujar untuk membujuk putri kecilnya, “Ji Ah mau kemana hari ini? Daddy siap untuk menemani.”

Tetap tidak ada tanggapan. Sehun menghembuskan napasnya kasar. Ia menyerah kali ini.

-oOo-

Sampai matahari sore datang, Ji Ah tak kunjung menampakkan batang hidungnya. Serta merta membuat Sehun khawatir sampai-sampai ia tidak bisa fokus untuk mengerjakan pekerjaan kantornya. Masalahnya gadis kecilnya itu tidak keluar kamar sejak tadi siang. Belum makan siang pula. Sehun takut kalau Ji Ah kelaparan.

Pintu rumah terbuka, menampilkan sosok Mikyung dengan berbagai macam kantung belanjaan di tangannya. Sehun yang melihat itu langsung membantu sang istri dan menaruh kantung belanjaan itu di meja pantry dapur.

“Ji Ah mana?” Tanya Mikyung pada Sehun.

Pria itu berbalik badan untuk menghampiri sang istri yang sudah seharian ini tidak dilihatnya. Sehun memeluk Mikyung erat, menghirup feronom dari lehernya, dan mengusel disana yang membuat Mikyung kegelian.

“Kau ini kenapa, sih? Aku bertanya padamu, dimana Ji Ah?”

Sehun melepas pelukannya, ia memasang wajah cemberut dengan bibir yang mengerucut. Melihat itu, Mikyung jadi gemas dan tidak tahan untuk mengecupnya. Walaupun begitu, Sehun tetap memasang wajah cemberutnya.

Mikyung rasa, sejak kehadiran Ji Ah di tengah-tengah mereka, Sehun jadi lebih ekspresif dan lebih manusiawi. Aura seorang ayah benar-benar terpancar dalam diri pria yang sangat dicintainya itu.

“Ji Ah sedang merajuk, aku melarangnya untuk bermain,” jawab Sehun akhirnya.

Kening Mikyung mengerut, “Kenapa kau melarangnya?” Tanyanya.

“Karena aku tidak mau dia sakit seperti saat itu.”

Mikyung menghela napas, memandang sang suami dengan tatapan tak percaya. “Aku yakin kau tidak lupa kalau waktu itu Ji Ah sakit karena tertular darimu,” katanya.

“Tapi tetap saja berbeda-”

Mikyung memotong cepat dengan berkata, “Jangan terlalu keras pada putrimu. Dia butuh bermain diusianya sekarang, Oh Sehun.”

Setelah Mikyung meninggalkan Sehun sendirian di dapur, otak pria itu menggeledah setiap kata-kata yang istrinya ucapkan tadi.

Apa ia terlalu keras?

Benarkah?

Sehun menggeleng lalu mengacak rambutnya sebelum mengikuti jejak sang istri ke kamar Ji Ah. Di kamar putri kecilnya, Mikyung sedang berusaha untuk membujuk anak mereka.

“Kalau Ji Ah seperti ini, besok kita tidak akan jadi pergi kerumah Jungie,” Mikyung terlihat pasrah membujuk Ji Ah sampai ia harus mengancamnya.

Entah sifat keras kepala Oh Ji Ah menurun dari sang ayah atau ibu. Mungkin keduanya?

Sekadar informasi, Jungie itu adalah anak dari Jongin dan Soojung yang baru berusia satu tahun. Ji Ah sangat menyukainya sampai terkadang menginap di rumah mereka karena tidak ingin berjauhan dari Jungie.

“Tapi aku kesal pada Daddy,” sungut Ji Ah, bibirnya mengerucut lucu.

Sehun jadi merasa bersalah. Ia tidak seharusnya melarang Ji Ah tadi. Gadis kecilnya itu bahkan tidak mau menatapnya ketika sorot mata mereka bertemu.

“Maafkan Daddy, ya?” Mohon Sehun, kakinya melangkah masuk.

Tidak mendapatkan respon membuat Sehun membawa putri kecilnya itu kedalam pangkuannya. Ji Ah menolak, tapi ia menahannya. Mikyung yang melihat hal tersebut hanya bisa geleng-geleng kepala saja. Ia pun memilih meninggalkan kamar Ji Ah, memberi ayah dan anak itu waktu.

Sehun menangkupkan wajah cantik Ji Ah dengan tangannya. Bibir Ji Ah yang sudah mengecurut semakin bertambah dan membuat Sehun yang gemas pun mengecupnya.

Satu ide terlintas di kelapa Ji Ah. Ia tahu jika sang ayah akan sulit untuk menyetujui permintaan yang sebenarnya adalah idenya ini. Kapan lagi ia bisa mengerjai ayahnya sendiri yang terkenal dingin. “Aku akan memaafkan Daddy kalau Daddy mengizinkanku untuk menginap di rumah Kyung Shik malam ini,” ujarnya dengan mata berbinar.

Tidak. Itu tidak boleh. Gadis kecilnya tidak boleh berjauhan darinya.

Entah angin apa, Sehun malah mengganguk setuju walaupun batinnya berperang untuk menolak.

Ji Ah langsung mengecup pipi sang ayah sebelum berlari keluar kamar untuk memberitahu ibunya bahwa sang ayah telah mengizinkannya untuk menginap di rumah Kyung Shik.

-oOo-

Sudah tengah malam, besok Sehun harus bekerja. Alih-alih terlelap di ranjang empuknya, pria itu malah mengerjakan tugasnya yang sempat tertunda tadi.

Pintu ruang kerja Sehun terbuka, menampilkan sosok Mikyung dengan gaun tidur satin berwarna merah. Wanita itu datang dengan secangkir kopi untuk sang suami, lalu ia meletakkan cangkir itu di meja.

“Istirahatlah dulu,” ujar Mikyung sambil menaruh bokongnya di sofa yang ada di ruang kerja Sehun.

Yang dimaksud masih terlihat sibuk dengan apa yang dikerjakannya, membuat Mikyung mendengus. Walaupun sudah memiliki anak, Sehun tetap menjadi workaholic.

“Oh Sehun, kau bisa sakit lagi kalau bergadang terus,” nasihat Mikyung mengingat beberapa bulan yang lalu Sehun demam tinggi setelah seminggu terus bergadang.

Kali ini Sehun melirik Mikyung, menghela napas sebentar sebelum beranjak dan menghampiri wanita itu dan duduk di sampingnya.

“Aku harus menyelesaikan ini segera,” kata Sehun sambil menyeruput kopi yang Mikyung buatkan padanya tadi.

Mikyung merapihkan rambut sang suami yang berantakan sebelum menatapnya. “Tetap saja, kau harus istirahat, hm.” Ujarnya lembut.

Sehun tersenyum lalu mengangguk sebelum memeluk wanita yang dicintainya itu. Ia menghirup feronom wangi stroberi dari sela-sela rambut Mikyung sebanyak yang ia mau.

Bagaimana pun, Sehun amat sangat bersyukur karena wanita yang kini mendampinginya adalah wanita yang sangat hebat. Buktinya dia sudah melahirkan seorang putri cantik, menjadi ibu untuk anaknya. Wanita yang sangat tegar dan pemberani. Wanita yang dicintainya.

Sehun melepaskan pelukannya. Ia menatap manik Mikyung dalam sebelum memberikan kecupan singkat dikening sang istri.

Andai Sehun tahu jika Mikyung juga merasa bersyukur dan beruntung karena memiliki pria itu. Memberikannya kebahagiaan yang hampir tidak pernah dijamah oleh Sehun. Pria itu, Oh Sehun, pria yang sangat dicintainya.

Ini yang paling disukai Mikyung ketika Sehun menjadi sangat lembut. Memberikan cinta dan kasih sayangnya. Walaupun begitu, tetap saja, Oh Sehun adalah pria yang tak terbantah dan….

“Ji Ah sudah besar sekarang. Dia pantas memiliki seorang adik, bukan?” Ujar Sehun dengan memberikan wink pada Mikyung sebelum menindih wanita itu.

-oOo-

To Be Continue

TINGGALKAN JEJAK SETELAH MEMBACA!!!

#Thanks

Terima kasih banyak buat readers yg sudah setia menunggu epilog ff ini. Kalau tidak ada halangan aku berniat untuk membuatkan satu epilog/#2 lagi:)

Iklan

22 thoughts on “Nightmare [Epilog #1]

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s