[Author Tetap] Finally, I Got You (15)

Untitled

 

ByunPelvis

Main Cast : Byun Baekhyun,Park Hyejin (OC/You)

Other Cast : Oh Sehun,Park Chanyeol,Kim Chanri (Oc),Kim Jong In and Seulgi(Cameo).

Genre : Romance,Angst,Friendship.

Leght : Chapter

Rating :General

Disclaimer : This story is mine. No Copy no paste. Sory for typo.

And Don’t be a silent readers. ^^

Typo banyak.

previuos :

(1)   (2)   (3)  (4)

(5)  (6)   (7)    (8)

(9) (Special Sehun  (10 A) & (10B) )

(11) ,  (12) ,  (13 A) ,   (13B) ,  (14) 

*

‘Perasaan itu mulai ada, mungkin. Tak terasa begitu jelas namun aku mulai nyaman berada di dekatnya. Mungkinkah aku menyukainya?’

*


Chapter 15

Seonggok manusia tengah terduduk seorang diri di sebuah taman. Padahal langit sudah petang dan cuaca pun sangat dingin namun seorang gadis yang sedang terisak itu enggan meninggalkan tempat yang sedang dipijakinya sejengkang pun.

Ia akan pergi jika seseorang yang sedang ditunggunya datang. Tak lama, suara mobil membuat kepalanya yang tadinya menunduk terangkat. Sosok pria terlihat menyembul dari pintu mobil dan sedikit kebingungan saat menyapukan pandangan. Kim Taerin, gadis berwajah sembab itu langsung bangkit dari duduknya dan berlari mendekati pria yang sejak tadi dinantinya.

“Baekhyun-ah.”

Baekhyun menghentikan langkah ragunya saat mendengar suara parau memanggilnya. Dalam tiga detik tubuhnya sudah di rengkuh erat.

“Kim Taerin, kau baik-baik saja? apa yang terjadi?” tanya Baekhyun dengan nada cemas, ia melepas pelukan Taerin dan menatapinya. Taerin terlihat menyedihkan, bagaimana tidak? Taerin terlihat acak-acakan dan jika dilihat dengan teliti, sudut bibir gadis itu memar.

“hei, apa yang terjadi? Kau terluka” ulang Baekhyun karena Taerin tak kunjung menjawabnya.

“Mantan kekasihku, dia memaksaku untuk kembali padanya. Aku menolak dan dia, dia-“

Taerin terlihat ragu melanjutkan ucapannya, ia semakin menatap iris pekat milik Baekhyun yang menurutnya membuat hati tenang. Airmatanya ditumpahkan lagi.Baekhyun menghela nafas berat, ia paling tidak tega melihat seorang wanita menangis. Apalagi masalah Taerin saat ini karena seorang pria.

“apa kau dipukul olehnya?” vokal Baekhyun terdengar datar. Taerin mengangguk pelan dan menyentuh sudut bibirnya yang berdenyut sakit. Berusaha membuat Baekhyun semakin khawatir padanya.

“dia menamparku. Dia sangat kasar, dan terus memaksaku.  Aku tidak mau kembali pada pria brengsek itu. Dia tak pernah menghargaiku.” Terang Taerin, nadanya terdengar menyedihkan. Baekhyun menepuk bahu Taerin untuk menenangkan tangis gadis itu.

Ia tak menyangka gadis ceria seperti Taerin bisa memiliki kekasih sebrengsek itu. Sangat disayangkan ia tak tahu siapa kekasih Taerin.

Taerin merasa angin berhembus sangat kencang. Ia mengusap kedua lengannya karena dingin, melihat itu Baekhyun melepas jaket yang dikenakan dan menyampirkannya di bahu Taerin. Ia hanya kasihan dengan keadaan temannya itu.

Memndapatkan perlakuan yang menurutnya sangat manis, Taerin menahan senyumnya. Bunga-bunga seolah bermekaran di dalam hatinya.

“mengapa aku yang kau suruh kemari?” tanya Baekhyun yang sontak membuat Taerin terdiam.

“emm aku…..entahlah, yang melintas difikiranku hanyalah dirimu. Kurasa kau yang bisa menolongku darinya” Ujarnya beralasan. Lagi, Baekhyun menghela nafasnya .

“Taerin-ah, aku tidak mau terseret ke dalam masalah asmaramu. Bagaimana jika mantan kekasihmu itu melihatku dan mengira yang tidak-tidak?” tanya Baekhyun, sebenarnya ia sedikit tidak nyaman menemui Taerin. Pria itu sungguh tak mau seseorang salah faham dengan perhatiannya pada Taerin.

“maaf, aku tak memikirkan siapapun selain kau.” Lirih Taerin. Ia menunduk karena merasa tidak enak. Tadinya ia fikir Baekhyun akan membelanya di depan mantan kekasihnya. Sayang sekali pria bernama Vernon yang pernah memiliki hatinya itu pergi lima menit sebelum Baekhyun datang.

“kau hanya perlu menjauhinya. Jika dia bertindak kasar lagi laporkan saja pada polisi. Kau berhak mendapatkan perlindungan.” Tutur Baekhyun memberi saran. Taerin mengangguk kaku dan mengusap sisa air matanya.

“ne, terimakasih. Maaf telah mengganggu waktumu. Sungguh, tadi itu yang hanya ada di fikiranku hanya dirimu.” Terang gadis itu sekali lagi. Baekhyun kembali menepuk bahu Taerin.

“eum. Tak apa.”

Senyumnya masih bertahan, lalu Baekhyun melirik jam di pergelangan tangannya. Ia sudah hampir satu jam meninggalkan apartement Chanri, padahal  tadi janjinya hanya sebentar.

“dimana rumahmu? Aku akan mengantarmu, Taerin-ah?”

Taerin mengerjap dan suara hatinya bersorak senang. Inilah yang diharapkannya, bisa berdua dan diantar pulang oleh pria yang disukainya.

“ah tidak usah, aku bisa naik bus.” ujarnya pura-pura menolak.

“benarkah? Tapi bukankah lebih aman jika kuantar? Bagaimana jika mantan kekasihmu itu menguntit dan menyakitimu lagi?” Baekhyun sedikit menakuti agar niat baiknya tak di tolak. Ia sungguh-sungguh menawarkan tumpangan demi keselamatan gadis itu. Ada sedikit jeda untuk Taerin menimbang, detik selanjutnya ia mengangguk.

“kalau begitu baiklah.” pada akhirnya Taerin setuju. Ia tersenyum samar saat merasakan sepercik kenahagiaan.

Baekhyun menarik lengan Taerin untuk dibawa menuju mobilnya.Mereka tidak tahu jika seseorang tengah mengawasi keduanya sejak tadi.

Setelah masing-masing masuk dan duduk di dalam mobil, Baekhyun langsung sibuk mencari sesuatu. Ia membuka laci dasboard dan mengambil kotak p3k.

“pakai ini agar lukamu cepat sembuh.” Perintah Baekhyun setelah menemukan salep luka dan menyodorkannya pada Taerin.

“tidak usah. Lukanya tak cukup parah pasti besok sudah hilang.”

Baekhyun berdecak karena Taerin tak menerima salep pemberiannya. Ia membuka penutup salep itu dan menarik tangan Taerin. Baekhyun menekan pembungkus salep hingga setitik gel didalamnya keluar, lalu meletakannya di jari telunjuk Taerin.

“pakailah. Aku yakin kau sedang kesakitan.”

“e-eoh.”

Lagi-lagi Taerin tersenyum samar. Jantungnya berdegup kenjang lagi hanya karena mendapat perhatian kecil dari pria disampingnya itu. Baekhyun memperhatikan Taerin untuk memastikan gadis itu mengoleskan pada bagian luka. Dan tentu saja, Taerin menjadi gugup karena ditatap seperti itu. Dengan cepat ia menempelkan salep ke sudut bibirnya.

Baru saja Baekhyun memutar kunci untuk menyalakan kendaraannya, namun tiba-tiba seseorang membuka pintu mobil dan menarik kerahnya hingga terjembab keluar.

Baekhyun mengaduh dan berdiri, Ia melihat siapa yang menarik kerah bajunya hingga rasanya sangat tercekik.

“Vernon?” kagetnya setelah tahu siapa pria dihadapannya. Taerin tak kalah kaget dan ikut keluar dari mobil, ia mendekati dua pemuda itu.

“Byun Baekhyun. Beraninya kau!”

Bugg

Baekhyun tak sempat menghindar saat Vernon memukulnya. Sedangkan Taerin berteriak melihatnya.

“Jadi kau pria yang merayu Taerin hah?”

Baekhyun langsung merasakan sesuatu yang anyir. Dan darah di dapatinya saat tangannya menyentuh sudut bibir. Ia menatap tajam pada seorang pria yang baru saja membogem pipinya sangat keras. Taerin yang berdiri tak jauh darinya sudah menangis.

“jujur saja Byun Baekhyun, kau merayunya kan?” tanya pemuda berwajah Korean- American itu. Tadinya pria itu sudah mau pulang setelah menemui Taerin, tapi karena sadar telah melukai gadisnya, Vernon kembali untuk minta maaf. Namun dari jauh, ia melihat Taerin sedang memeluk seorang pria. Darahnya langsung mendidih dan emosinya tak tertahankan lagi.

Baekhyun terkekeh dan semakin mendekati pria yang menjadi salah satu rivalnya di kampus mulai dari urusan basket, prestasi maupun kepopuleran. Ia tak menyangka Taerin ternyata menjalin kasih dengan pemuda sombong  bernama Vernon itu.

“Aku tidak pernah merayunya. Kau salah faham, kami hanya berteman.” Terang Baekhyun. Sebisa mungkin pemuda itu menjaga emosinya untuk tidak membanting Vernon.

“kenapa kau selalu merebut semuanya dariku? Brengsek.”lantang Vernon tepat dihadapan wajah Baekhyun.

“aku tidak pernah merebut apapun darimu Vernon-ssi. Kau yang brengsek karena menyakiti wanita lemah sepertinya. Kau terlihat seperti psycopat karena memukul Taerin dan memintanya untuk kembali padamu.”

Ucapan Baekhyun membuat Vernon semakin marah. Ia kembali menarik kerah Baekhyun.

“VERNON, HENTIKAN!” Teriak Taerin. Ia ketakutan melihat amarah mantan kekasihnya.

“Byun Baekhyun, kepapa kau tidak melawanku? Hah?” lantang Vernon. Ia merasa tidak puas karena Baekhyun hanya terdiam saat ia menyerangnya. Pemuda itu masih ingat saat keduanya berkelahi di lapangan basket, saat itu Baekhyun bermain kasar dan memukulnya.

“Kau masih beruntung karena aku tak mematahkan tulangmu. Saekiya!” Ujar Baekhyun dengan santainya. Dirinya memang niat tidak membalas. Lagipula Vernon hanya salah faham saja mengira dirinya mendekati Taerin.Jadi untuk apa dia marah? Jika dia meladeni Vernon sama saja memperumit masalah. Juga hanya akan membuang tenaganya saja.

Mendengar apa yang Baekhyun ucapkan, Vernon kembali melayangkan kepalan tangan hendak memukul Baekhyun lagi.

“BAIK! Ayo kita bicara, eoh? Aku akan menuruti kemauanmu. Vernon, aku mohon jangan pukul Baekhyun.” Taerin menghalau saat tinjuan Vernon masih berada di udara. Ia menatap dengan sangat memohon pada pria yang baru beberapa hari ini di putuskannya.

“Aku belum melepaskanmu, Baekhyun-ssi.” tutur Vernon sembari menghempaskan Baekhyun. Pemuda itu menatapnya dengan penuh kebencian dan beralih menarik tangan Taerin. Mata penuh amarah itu menatap jaket pria yang tersampir di bahu Taerin. Dengan gerakan ia melepasnya dan melemparnya ke wajah Baekhyun.

“Baekhyun-ah, maafkan aku.” lirih Taerin di sela tangisnya.Vernon langsung menarik tangannya secara paksa. Setelah melihat punggung Taerin semakin menjauh, Baekhyun menghela nafas dan berbalik masuk ke dalam mobilnya.

Sebenarnya ia sedikit khawatir saat melihat Taerin di bawa oleh Vernon. Bagaimana jika gadis itu disakiti lagi? Baekhyun hanya tak tega saja membayangkannya.

“akhh” rintih Baekhyun. Rasa sakit akibat pukulan Vernon tadi semakin perih.

“sial, pria gila itu kenapa harus memukulku segala? Cih, dasar psycopat.” Umpatnya. Untung saja Baekhyun berhasil menjaga amarah. Jika tidak, sudah dipastikan Vernon terbaring di rumah sakit karena patah tulang. Ia menahan diri  tidak memberi pria itu jurus hakpido andalannya.

“huh”

Baekhyun mulai menjalankan mobil sembari menahan rasa perih itu.

.

.

.

Hyejin merasa kepalanya sedikit pusing setelah menghabiskan satu botol soju. Ia sibuk memijat pangkal hidungnya, mengabaikan candaan Chanri dan juga sepupunya. Untungnya ia bisa mengontrol diri untuk tidak minum lebih banyak lagi, karena bisa saja dirinya mabuk. Akan sangat merepotkan jika ia tidak sadar karena pengaruh alkohol..

“Oppa, aku harus kembali ke apartement sekarang.” Ujar Hyejin dengan nada lesu, belum pernah ia merasa tidak betah seperti sekarang. Chanyeol menghentikan candaan setelah mendengar ucapan sepupunya.

“eoh? Kenapa buru-buru? Kau belum kenyang kan?” cegah pria tinggi itu. Hyejin beranjak dan mengambil tas miliknya.

“Hyejin-ah. Masih terlalu awal untuk pulang. Nanti saja ya?” timpal Chanri. Ia terlihat tidak rela Hyejin berniat pergi.

“Eonni, aku harus mengecek beberapa tugasku.” Ujar Hyejin beralasan.

“kalau begitu biar kuantar dengan mobil Chanri.” Chanyeol menawarkan dirinya untuk mengantar namun sepupunya itu langsung mengibaskan tangan.

“tak usah, Oppa. Kurasa masih banyak bus. Ini belum ada jam 8.” Tolak Hyejin, ia hanya tak mau mengganggu moment asik dua pasangan itu.

“sudah ya, aku pulang. Sampai bertemu besok. ”Belum sempat Chanyeol bicara lagi, Hyejin sudah melenggang pergi secepat angin berhembus.

Gadis itu terus melangkahkan kakinya dengan pandangan kosong, pikirannya terbang entah kemana hingga tak sadar dirinya kini telah sampai di sebuah halte.Hyejin duduk di bangku untuk menunggu bus. Tangannya merogoh ke dalam tas untuk mengambil ponsel dan mengeceknya. Ia menhela nafas, tak ada satu pesan pun disana.

Tadi pun setelah keluar dari apartement Chanri, ia sempat terdiam cukup lama di lobi. Yang terus menonjol di fikirannya adalah Baekhyun. Menyebalkan sekali karena pria itu terus berputar ria diotaknya.

Bisa dikatakan Hyejin tadi menanti Baekhyun kembali, namuia  hanya terlalu gensi untuk mengakui.

“huh, apa yang kau fikirkan Park Hyejin.” lirihnya. Hyejin menegakkan tubuhnya setelah melihat bus dari arah kanan. Saat bus berhenti tepat di hadapannya, Hyejin langsung naik dan mencari tempat duduk yang menurutnya nyaman.

Hyejin baru ingat, ia terakhir kali naik bus saat bersama Baekhyun. Dimana saat pria menyebalkan itu memaksanya mengunjungi Namsan Tower. Ia sedikit menarik senyum saat mengingat sesuatu yang lucu, waktu itu Baekhyun mendorong anak SHS hanya karena dirinya terus ditatapi. Bahkan Baekhyun mendesak orang-orang hanya untuk  bisa berdiri di hadapannya. Dan yang paling tidak bisa dilupakan adalah saat  Baekhyun pura-pura patah tulang untuk mendapat perhatiaannya.

Lagi-lagi ia memikirkan pria itu, pria yang tanpa di sadari selalu berada disisihnya.

Hyejin menyandarkan kepalanya di kaca bus. Memfokuskan netranya pada sisi jalan. Rintik hujan perlahanmenutupi kaca  sehingga membuat pemandangan di luar sana tidak begitu jelas. Hyejin mendengus, menatap cemas langit hitam di atas sana.

“kenapa harus hujan? Aku tidak membawa payung.”

.

.

.

Setelah sekitar lima belas menit mengemudi, kendaraan Baekhyun terparkir di depan gedung apartement Chanri. Dengan sangat cepat ia mengayunkan kedua kakinya. Menerobos hujan hingga mencapai lobi. Baekhun menaiki evalator untuk mencapai apartement Chanri yang berada di lantai 4.

Chanyeol sedang membereskan meja makan saat pintu apartement berbunyi tanpa jeda. Melihat kekasihnya sedang sibuk memungut sampah, Chanri berinisiatif untuk membuka pintu. Ia melihat wajah Baekhyun pada layar intercome.

Chanri membuka pintu dan dibuat terkejut dengan wajah lembam Baekhyun, bahkan ada darah di sudut bibir pria itu.

“lama sekali.” Lontar Baekhyun, ia langsung masuk kedalam dan menyapukan pandangannya.

Tentu saja yang sedang dicarinya sekarang adalah Hyejin. Jauh dengan apa yang diharapkan, Baekhyun memejamkan matanya karena menyesal. Sepertinya Hyejin sudah pulang, ia terlambat.

“Ya, Baek! apa yang terjadi?” heboh Chanri. Ia masih terheran dengan keadaan Baekhyun.

Kegiatan Chanyeol membereskan meja terhenti dan ikut menatap Baekhyun tak kalah kagetnya.

“Baek, kau berkelahi?”

“Dimana Hyejin?” tanya Baekhyun tak menggubris pertanyaan dua temannya.

“Dia sudah pulang.” Jawab Chanyeol yang masih mengamati wajah lebam Baekhyun.

Benar kan? ternyata Hyejin sudah pulang. Baekhyun menghembuskan nafas kasar dan mengacak rambutnya.

Tanpa pikir panjang Baekhyun berlari keluar. Entah mengapa, sesuatu harus ia jelaskan pada Hyejin. Baekhyun tak mau Hyejin salah sangka tentang kepergiannya menemui Taerin tadi.

Chanri masih menatap bingung hingga Baekhyun menutup pintu apartementnya. Ia beralih menatap Chanyeol dan mendapat gelengan dari kekasihnya itu.

Keduanya bingung mengapa Baekhyun terluka seperti itu setelah menemui Kim Taerin.

“hah… gadis itu pasti menciptakan masalah baru.” Ujar Chanri sembari membayangkan wajah Taerin. Jika nanti benar timbul masalah, Chanri akan menjambak gadis yang sangat tidak di sukainya itu.

.

.

.

Hyejin baru saja membersihkan dirinya. Ia memakai piyama tidur bermotif beruang yang membuatnya terlihat semakin imut. Gadis itu berjalan ke meja belajar, mengambil buku yang ada di dalam tasnya dan duduk. Baru akan membuka tugasnya, bel apartement berbunyi. Hyejin mengerutkan dahinya, berfikir siapa yang mengunjungi apartementnya saat malam hari. Kaki yang terbungkus sandal rumah itu melangkah keluar dari kamarnya.

Hyejin berfikir mungkin yang ada di luar itu Jong In. Dengan santai ia membuka pintu depan tanpa melihat layar intercome.

Matanya membulat sempurna saat mendapati Baekhyun ada di hadapannya. De Javu, Hyejin pernah mengalaminya. Melihat Baekhyun datang ke apartementnya dengan wajah lebam.

“K-kau-“

Baekhyun mendekat dan meletakan kepalanya di bahu Hyejin.

“sangat sakit.” lirih Baekhyun. Tidak, sebenarnya pria itu hanya sedang berekting agar Hyejin peduli padanya.

Sedangkan Hyejin merasa otot di seluruh tubuhnya tak berfungsi, bahkan ia menahan nafasnya saat hangatnya nafas Baekhyun terasa di kulit lehernya. Begitu banyak pertanyaan dalam otaknya. Mengapa Baekhyun menemuinya dengan keadaan seperti itu lagi, mengapa pria itu terluka setelah pergi bertemu dengan Kim Taerin. Terlalu sulit untuk Hyejin menebaknya. Dan haruskan ia bertanya pada Baekhyun? entah mengapa bibirnya sangat ingin berucap.

“Obati aku, Hyejin-ah!”

.

.

.

Baekhyun maupun Hyejin sama-sama terdiam walau duduk berhadapan. Hyejin sibuk menuang antiseptik pada kapas sedangkan Baekhyun sibuk menatapi gadis itu. Menurut aekhyun, malam ini Hyejin terlihat berbeda. Gadis itu menggelung rambutnya dan mengenakan piyama tidur yang sedikit kebesaran. Baekhyun menahan senyumnya, sungguh Hyejin terlihat sangat menggemaskan.

Ditatap tanpa berkedip membuat Hyejin semakin menundukan wajahnya, kali ini suasana hatinya berbeda. Jika biasanya ia dongkol jika Baekhyun berada di hadapannya, tapi sekarang Hyejin jutru merasa grogi.

Ia mengangkat tangannya dan menempelkan kapas ke luka Baekhyun.

“hei, lukaku bukan disitu.”

Hyejin mendongak dan kini menatap wajah Baekhyun. Ia mengerjap karena malah menempelkan kapas ke hidung Baekhyun. Pria dihadapanya itu tertawa melihat tingkah gadis kesayangannya. Ia menggenggam jemari Hyejin dan menempelkan pada lukanya.

“lukaku ada disini, Hyejin-ah.” ujar Baekhyun, ia masih saja tertawa kecil.

Hyejin berdaham untuk mencairkan rasa gugupnya.Ia harus cepat mengobati agar pria itu pulang.

“Kau, bagaimana bisa terluka seperti ini?” tanya Hyejin, lirih dan cepat.

“aku dihajar Vernon.”

Hyejin menghentikan kegiatannya, Ia menatap Baekhyun sedikit kecewa.

“Kau berkelahi?”

“tidak. Vernon memukulku karena salah faham. Aku sengaja tidak melawannya.Kau tau? ternyata dia mantan kekasih Taerin. Dia mengira aku ini mendekati-“

“tau seperti itu kenapa datang menemuinya? Merugikan diri sendiri saja.” kesal Hyejin. Gadis itu tak tahu mengapa dirinya tidak suka mendengar ucapan Baekhyun.

Dengan gerakan kasar Hyejin mengoleskan salep luka pada sudut bibir Baekhyun. Membuat pria itu memekik kesakitan.Baekhyun menangkap tangan gadis itu dan mata keduanya berhasil bertemu dalam satu titik.

“Kau mencemaskanku kan?”

“aku? hah tidak sama sekali.” Jawab Hyejin. Ia melepas tangan Baekhyun namun pria itu malah beralih mencengkram kedua bahunya.

“Hyejin-ah , aku tidak menganggapnya lebih dari teman.” Ujar Baekhyun, seolah takut Hyejin salah mengerti atas perhatiannya pada Taerin.

“aku tahu.”

“kenapa kau tidak mencegahku pergi tadi?”

“kau bilang dia temanmu. Bukankah kau memang harus menemuinya?”

Baekhyun menghela nafas dan menurunkan tangannya. Ternyata dugaannya salah. Bodoh sekali karena ia berharap Hyejin akan cemburu. Memang siapa dia?

Bukanlah orang yang Hyejin sukai.

“sudah selesai. Kau bisa pulang.” Tutur Hyejin. Tidak menjawab, Baekhyun malah berbaring di sofanya.

“aku terlalu lemas untuk berjalan. Biarkan aku menginap disini.”

Baekhyun berkata sembari menutup netranya, menghindari air mata yang mungkin saja akan terjatuh. Hyejin mengigit bibir bawahnya kesal.

“Terserah saja.”

Ia bangkit, tak memperdulikan Baekhyun. Setelah meletakan kotak obat, Hyejin  masuk ke dalam kamarnya. Tangannya terangkat menyentuh dada sebelah kiri.

Debaran macam apa yang dirasakannya sejak tadi?

Sedangkan Baekhyun, pria itu benar-benar menjatuhkan air matanya setelah Hyejin pergi. Mengapa semakin lama ia merasa kesulitan mendapatkan hati gadis itu.

Mungkinkah Baekhyun harus menyerah? Tapi ia sudah berjanji pada dirinya sendiri untuk mencintai Hyejin sampai kapanpun. Bakhyun hanya merasa tak memiliki harapan.Jika dalam satu bulan ini Hyejin tak kunjung meliriknya, mungkin Baekhyun akan mundur.

Ia sadar, cinta itu memang tak bisa di paksakan.

.

.

.

Hyejin tak bisa memejamkan matanya. Ia terus memikirkan Baekhyun yang ada di apartementnya. Ia mendudukan tubuhnya, menatap pintu kamar dengan bimbang.

Kakinya turun dari ranjang dan ia berjalan menju lemari untuk mengambil sesuatu. Hyejin mengambil sebuah selimut dan juga mantal. Ia keluar dari kamarnya dan mengendap saat mendekati Baekhyun.

Ia tidak yakin untuk melakukannya, ditatapnya lagi selimut dan bantal yang ada di tangannya.

Ia berbalik, namun lenguhan Baekhyun membuatnya terdiam. Hyejin mendekat pada Baekhyun dan mendapati pria itu tidak tenang dalam tidur. Bahkan ia melihat jelas keringat membasahi pelipis Baekhyun.

Hyejin berfikir haruskah membangunkan Baekhyun atau tidak. Ia mengabaikannya dan dengan perlahan mengangkat kepala Baekhyun dan mengganjalnya dengan bantal. Setelah selesai , ia menyelimuti tubuh Baekhyun.

Gadis itu mengamati wajah tertidur Baekhyun. Cukup lama sampai tiba-tiba mata baekhyun terbuka lebar. Hyejin melotot dan menegakan tubuhnya. Saat berniat kabur tangannya lebih dulu di genggam Baekhyun. Ia bahkan ditarik hingga terduduk disamping pria itu.

Hyejin mengerjap, Baekhyun menatapnya dengan pandangan … sedih?

Ya, sepertinya pria itu tidak baik-baik saja.

“aku mimpi buruk. Temani aku, Hyejin-ah. Jebal!” lirih Baekhyun. Ini pertama kalinya untuk Hyejin mendengar nada bicara Baekhyun sesedih itu.

“a-apa?”

Baekhyun semakin menggenggam erat tangan Hyejin dan kembali memejamkan matanya. Tidak mengijinkan gadis itu meninggalkannya. Baekhyun mengalaminya lagi, rasa cemas luar biasa saat tidur. Untunglah saat membuka mata, obatnya ada di hadapannya.

Hyejin terpaku saat melihat butiran bening mengalir seiring terpejamnya mata Baekhyun.

Tanpa disadari, tangannya membalas genggaman Baekhyun.

‘kenapa kau membuatperasaankuku aneh seperti ini, Baekhyun-ssi?’

.

.

.



Pagi sudah mengganti posisi malam, tak terasa waktu berjalan sangat cepat. Seorang wanita paruhbaya melangkahkan kakinya di koridor apartement. Matanya meneliti setiap nomor yang tertempel di pintu. Ia sedang mencari pintu dengan nomor 16,tempat tinggal milik putru sematawayangnya.

Setelah berhasil menemukannya. Ibu satu anak itu tersenyum lega. Tangannya menekan kode pintu apartement yang sudah dihafalnya.

Bunyi bip menandakan pintu telah terbuka. Wanita 45 tahun itu masuk dan menutup pintu kembali.

“Hyejin-ah, Eomma datang. Apa kau sudah bangun?” teriaknya sembari berjalan menuju dapur.

“Sayang, kau masih tid- Ommo!”

Tanpa sengaja ia menoleh ke ruang tengah, matanya membulat saat melihat dua orang tertidur disana. Ia hafal betul gadis yang tertidur dengan posisi terduduk itu adalah Hyejin. Wanita yang tak lain adalah ibu Hyejin itu mendekat dan semakin terkejut saat tau yang terbaring di sofa adalah seorang pria.

“HYEJIN-AH!”

Hyejin langsung membuka mata saat mendengar seseorang menyerukan namanya sangat keras. Pandangannya masih tidak begitu jelas, ia menoleh dan mengerjap. Semakin lama bayangan seseorang semakin jelas. Hyejin terdiam lalu berdiri setelahnya.

“E-eoma?”

Hyejin kelimpungan, ia sangat terkejut melihat ibunya ada di apartementnya. Ia menepuk pipinya,berharap sekarang adalah mimpi. Sial, kenapa ia malah merasakan sakit

Baekhyun menguap lebar dan mengusap kedua matanya. Saat mata sipitnya menangkap objek di hadapannya,pria itu langsung terduduk tegak.

“ajhuma?”

Ibu Hyejin melongo, bahkan tas yang dibawanya sudah terjatuh sejak tadi.

“hei kalian-“

“tidak/tidak”

.

.

.

TBC

Preview

“astaga Hyejin, kau membiarkan seorang pria tidur di apartementmu. Ah tapi tadi itu romantis.”

.

.

“Baekhyun-ah, aku menyukaimu.”

.

.

“Jangan dekati aku lagi. Bukankah sekarang kau sudah menjadi kekasih Kim Taerin?”

.

.

“Hyejin-ah. Ayo kencan hari ini. Jika kau menolak, foto ciuman itu akan tersebar.”

.

.

“Sehun-ah! Kencan yang aku inginkan lakukan bersamamu sudah kurasakan, bersama Baekhyun.”

.

.

Heol , ini apa? kok amburadul?.

Sebelumnya ada yang komentar cerita ini semakin biasa. Aku malah mikirnya dari awal emang biasa. ^^

Terimakasih, aku jadi tau kekuranganku dalam menciptakan alur. Aku dah bilang kan kalo aku mau cepet tamatin ff ini? itu karena ide udah gak ada lagi. Ini pas-pasan bgt dan ngambil alurnya dari beberapa film/drama he he.

Maaf yah kalo membosankan. Aku usahain bakal happy ending deh.

Chapter  16 baru setengah ketik, belum siap post hari ini ^^.

Oke deh pamit aja.

Harapannya semoga kalian bertahan sampai ff aneh ini ending.^^

So, see you next chapter yahhh. Terimakasih untuk yang sudah baca  dan juga komentar. Tak bisa menjawab komen kalian satu-satu hehe.

Love you all

Iklan

19 thoughts on “[Author Tetap] Finally, I Got You (15)

  1. Ahhh suka pas bkyn purapura kesakitan dihajar vernon. Manja bgt😜
    Masih heran knp bkyn kalo malem2 suka gelisah suka nangis dan penasaran knp hyejin obatnya? Bkyn, uljimaaaaa😢😢😢

  2. Pfft kok anku ngakak ya pas hyejin ngobatin baekhyun malah ngobatin ke idung duuuh mreka manis bgt sihh …
    Nahkan ketauan ibunya hyejin ,, next chap aja ya

  3. Yeay ternyata Hyejin itu mulai ada perasaan sama Beakhyun. Beakhyun bisa aja yah segala pura” sakit lagi padahal mah sebelum ketemu Hyejin baik” aja hahha. Akujadi penasaran sebenernya kenapa sih Beakhyun sering mimpi buruk kaya gitu???

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s