[Author Tetap] Unexpected Love – Part 3

1483173119189

Unexpected Love

story by blank.

Park Chanyeol, Oh Sehun, Kim Jongin, OC, and others | chaptered | romance

part 1 | part 2

CHAPTER 3

Chae Yoon masih diam di tempatnya sembari terus berpikir dengan otaknya yang sebenarnya tidak terlalu pintar. Kenapa harus laki-laki itu? Apa ini hukuman dari ayahnya karena dirinya selalu saja membantah perkataan ayahnya? Chae Yoon berani bersumpah, ia lebih baik menikah dengan pria tua mesum yang punya banyak anak daripada harus berbagi kamar dengan laki-laki brengsek semacam Kim Jongin. Hell, yang benar saja.

Apalagi dengan kejadian yang lima belas menit lalu ia alami. Benar-benar… ya ampun. Bahkan Chae Yoon sendiri bingung harus menampar laki-laki yang sudah menyelamatkannya atau berterimakasih karena sudah menyelamatkannya.

Ya, Park Chanyeol—laki-laki yang sekarang sedang menyetir mobil dengan santai ini berada tepat di sampingnya. Laki-laki itu yang sialnya menjadi penyelamatnya—dengan cara yang amat-sangat tidak Chae Yoon duga.

15 menit sebelumnya

Chae Yoon masih meronta dibawah tatapan Jongin sambil berusaha keras melepaskan genggamannya dari cengkraman kuat lelaki itu. Ia berteriak marah, kalap dengan makian yang ia lontarkan untuk laki-laki brengsek bernama Kim Jongin. “Lepaskan, brengsek. Atau aku akan menendang bokongmu!”

Diluar dugaan, Jongin justru terkekeh. “Oh, akan kuterima tendanganmu dengan senang hati,” katanya mengejek. Lantas menarik lengan Chae Yoon agar semakin dekat padanya. “Ayo pulang.”

Tersenyum mengejek, Chae Yoon berdecih sambil menatap Jongin. “Tidak akan. Lebih baik mati kedinginan disini daripada harus ikut denganmu.”

“Oh, kau membuat hatiku sakit.” Jongin menunjukkan ekspresi terluka, lengkap dengan tangannya yang meremas bagian dadanya yang sakit.

“Menjijikan,” Chae Yoon memutar bola mata malas. Sekali lagi mencoba melepaskan genggaman tangannya. “Aku ingin pulang. Sendiri. Sekarang, kau harus pergi sebelum—,”

Chae Yoon tak sempat menyelesaikan kalimatnya karena ada sesuatu yang hangat menyentuh pipinya secara tiba-tiba. Kejadiannya amat cepat, hingga Chae Yoon menyadari jika beberapa helai rambutnya terbang karena angin yang ditimbulkan seseorang yang kurang ajarnya mencium pipinya.

Diulang. Mencium pipinya.

Sama dengannya, sepertinya Jongin juga merasakan keterkejutan dan kebingungan yang sama (heol¸itu terlihat jelas di matanya yang sehitam malam), yang spontan membuatnya melepaskan cengkramannya pada lengan Chae Yoon.

“Halo, sayang,” laki-laki itu merangkul mesra pundak Chae Yoon, berlagak seperti akan mencium pipinya untuk yang kedua kali. Sebelum menjauhkan wajahnya lagi karena melihat perubahan wajah Chae Yoon yang berubah menjadi seorang pembunuh bayaran yang siap mengulitinya kapan saja. “Apa yang kau lakukan disini? Oh, siapa dia? Kau mengenalnya?” laki-laki itu mengarahkan pandangnya kearah Jongin yang tampaknya belum pulih dari rasa keterkejutan yang menamparnya amat keras.

Setelah lama Jongin terdiam, dengan matanya yang agak melotot, ia akhirnya bersuara. “Siapa dia?”

Chae Yoon jadi gelagapan sendiri, di satu sisi ia sibuk untuk membuat dirinya nyaman dengan perlakuan memalukan yang Chanyeol lakukan padanya, dan di sisi lain berpikir apakah ia akan berbohong kepada Jongin dan memikirkan konsekuensinya untuk kedepan. “Dia Chanyeol.”

“Dan aku pacarnya.” Itu Chanyeol yang menjawab. Sumpah, tak ada sedikit pun niatan Chae Yoon untuk mengakui hubungan mereka yang jelas-jelas palsu kepada Jongin dengan nada paling enteng yang pernah gadis itu dengar. Astaga, jadi Chanyeol ini berniat membantunya atau makin mendorongnya pada lubang hitam yang dalam?

Bagaimana jika sehabis ini si brengsek Kim Jongin akan memberitahu ayahnya dan ia akan menikah dengan Jongin dalam waktu kurang dari sebulan? Atau yang lebih buruk, diisolasi dalam rumah dan dikawal oleh pengawal setiap dirinya hendak ke toilet?

Oke, dunia tidak akan terlalu kejam padanya. Semoga.

Ditantang dengan tatapan Chanyeol yang kurang ajar, Jongin berusaha untuk melangkah maju mendekat dan menatap menantang mata hitam Chanyeol. “Oh ya?” katanya memulai dengan nada paling menyebalkan abad ini. “Tapi bagaimana jika kubilang, aku yang akan menikah dengannya?”

“Cih,” Chanyeol menatap Jongin seperti laki-laki itu adalah benda paling hina yang pernah Chanyeol lihat. “Tapi setidaknya sekarang, kalian belum menikah.”

Well, mungkin memang belum, tapi akan.”

“Oh ya Tuhan, bisakah kalian berhenti?” Chae Yoon angkat suara, muak sekali rasanya mendengar dua pria berkata hal menjijikan semacam itu di depan wajahnya. Yang ia inginkan saat ini hanya menghilang dari peradaban manusia dan kembali saat dua pria di hadapannya ini sudah menikah dan mungkin saja sudah berbaring dengan tenang sepuluh kaki di bawah tanah.

Jongin yang menyahut cepat. Tatapannya tenang. “Tolong bilang padaku siapa dia sebenarnya.”

Dan dengan nada yang Chae Yoon usahakan setenang mungkin, ia menjawab lugas. “Seperti yang kau dengar, dia pacarku.”

Chanyeol tersenyum puas, merasa menang begitu kalimat itu meluncur sukses melewati tenggorokan Chae Yoon. Tapi Jongin tidak, tatapannya lurus menatap manik Chae Yoon yang secoklat kayu mahoni. “Aku tahu kau berbohong. Aku kenal kau, Song Chae Yoon. Jadi percuma jika kau mencoba berbohong padaku. Aku tahu kau berbohong.”

Oh come on, men. Tidak usah malu untuk menyatakan dirimu kalah. Itu hal biasa antar dua pria yang mencintai gadis yang sama.”

17 menit setelahnya

“Aku minta maaf untuk yang tadi.” Chanyeol buka suara, seperti mencoba untuk memecah hening dengan permintaan maafnya.

Karena laki-laki itu sudah minta maaf tanpa Chae Yoon minta, jadi ia tak akan menampar pipi mulus pria itu. “Hanya—jangan melakukan itu lagi.”

Chanyeol terkekeh, mengerem sedikit mobilnya saat mobil lain hendak mendahuluinya. “Aku tidak bermaksud. Tapi jika kau ingin menamparku, aku akan menerimanya dengan senang hati.”

“Tidak akan,” katanya sambil lalu. “Aku hanya sedang cemas dengan apa yang akan terjadi setelah ini.”

“Kenapa? Apa kau takut laki-laki yang bernama Jongin itu akan melaporkanmu pada ayahmu dan kalian akan menikah dalam waktu sebulan?” Chanyeol berkata ringan sembari menghentikan mobilnya saat lampu lalu lintas berubah warna menjadi merah. Lantas menatap Chae Yoon.

Chae Yoon mendesah pelan. “Astaga, apa tidak bisa menggunakan bahasa yang setidaknya tidak membuatku tersinggung? Aku muak mendengar kata perjodohan, pernikahan, dan apalah.”

Chanyeol mengangkat bahunya acuh. “Maaf,” lantas menatap lampu merah sekali lagi. Dalam beberapa detik yang terasa seperti sepuluh hari tanpa ponsel, Chanyeol akhirnya membuka suara. “Kau mau makan?”

Tidak ada pilihan untuk menolak, akhirnya Chae Yoon menerima ajakan Chanyeol untuk makan di sebuah kafe yang letaknya beberapa blok dari tempatnya sekarang. Setelah berbelok beberapa kali dan menunggu lampu pejalan kaki berubah warna, Chanyeol memarkir mobilnya di depan sebuah kafe sederhana dengan pencahayaan yang tidak terlalu terang. Kafe itu lumayan ramai, pengunjungnya juga beragam: siswa dengan pacar dan temannya, pekerja kantor dengan rekan bisnisnya, dan mahasiswa dengan laptop juga tugasnya.

Chae Yoon turun dari mobil dan berjalan berdampingan bersama Chanyeol memasuki kafe itu dan duduk di salah satu kursinya. Chae Yoon memanggil seorang pelayan, lantas menyebut menu apa yang ingin ia makan, dan mempersilahkan Chanyeol untuk memesan. Setelah pesanan mereka tercatat rapi di buku kecil yang pelayan itu bawa, mereka menunggu selama beberapa menit dengan obrolan ringan.

“Jadi, sejak kapan kau menyukai musik?”

Chanyeol terlihat seperti berpikir. “Seingatku, saat umurku lima tahun.”

“Sungguh?” Chae Yoon sungguh-sungguh menampakkan ekspresi kagumnya, yang alih-alih membuat Chanyeol senang, malah membuat pria itu memutar bola matanya.

“Tidak usah sok memujiku.”

Chae Yoon jadi ikut memutar bola mata. “Aku sungguh-sungguh! Umur lima itu bukan umur yang lazim untuk kau memegang sebuah alat musik yang bahkan besarnya bisa dua kali lipat dari besar tubuhmu.”

“Tidak juga,” Chanyeol menerawang. “Saat umurku masih lima, alat musik yang pertama kupegang adalah harmonika.”

Senyum di bibir gadis itu hilang seketika. Sial, kenapa dia selalu gagal memuji kemampuan orang lain? Kenapa juga Chanyeol tega membuat niat baiknya hancur? “Oh,” hanya kata itu yang mampu Chae Yoon katakan untuk menutupi rasa malu yang merambati wajahnya. Astaga, untuk apa ia sampai repot-repot membuat matanya tampak berbinar jika akhirnya begini.

Chanyeol terkekeh. “Aku juga mulai bermain gitar, yang besarnya dua kali besar tubuhku.”

Belum sempat Chae Yoon menjawab pernyataan Chanyeol, makanan mereka sudah datang dengan seorang pria tinggi yang menyapa gadis itu lebih dulu. “Song Chae Yoon?”

Chae Yoon menoleh. Matanya membulat ketika menyadari siapa yang sekarang ia lihat. “Oppa? Wah, aku tidak pernah tahu jika kamu juga bekerja di sini!”

Sehun tersenyum, lantas tatapnya beralih pada Chanyeol yang bingung melihat keakraban antara Chae Yoon dan dirinya. “Wah, kamu juga tidak bilang padaku jika sedang berkencan.” Ada sakit yang menjalari tenggorokan Sehun ketika dirinya selesai mengucap kalimat itu. Rasanya aneh, rasa ini seperti kau hampir kehabisan oksigen hingga paru-parumu berdenyut. Seperti…

Chanyeol yang menjawab dengan nada enteng. “Bisa dibilang. Terserah kau mau berpikir apa.”

…kau sedang patah hati.

Chae Yoon melotot kearah Chanyeol yang hanya dibalas dengan kekehan ringan. Sehun tertegun sejenak, sebelum akhirnya tersenyum dan menata makanan lezat yang ia bawa di meja makan. Lantas permisi untuk kembali ke dapur. Sesampainya di sana, yang bisa Sehun lakukan hanya berdiam sambil menatap Chae Yoon dari jendela kecil di depan pintu dapur. Chae Yoon tertawa disana, bahkan sampai sesekali memegangi perutnya. Sehun terkekeh, mengejek dirinya sendiri yang hanya bisa melihat gadis itu bahagia bersama pria lain.

[.]

Chae Yoon bersiap pergi ke kampus begitu jam bekernya berbunyi nyaring. Lantas menuruni tangga dengan perasaan tenang sampai netranya menangkap sosok Kim Jongin yang sedang asik menyesap kopi di meja makan dan mengobrol akrab dengan ayahnya. Alis Chae Yoon menukik tajam, jantungnya berdeyut keras. Apa-apaan ini? Apa Jongin kesini karena permintaan ayahnya? Tapi untuk apa? Oh, sial. Bajingan itu sudah mengadu rupanya.

Chae Yoon baru hendak kembali ke kamarnya begitu sapaan ringan menghampiri gendang telinganya. “Selamat pagi. Maukah kau bergabung dengan kami disini?”

Demi Tuhan, Chae Yoon ingin sekali menampar bibir laki-laki itu karena sudah bicara sok manis di depan ayahnya.

Chae Yoon menoleh dan mendapati ayahnya yang sedang tersenyum manis kearahnya. Juga Jongin yang pura-pura manis. “Tentu.” Jawabnya ceria, segera menuruni tangga dan mengecup sekilas pipi ayahnya. Lantas duduk tepat di samping laki-laki paruh baya itu.

Ibu datang dan berdiri di samping Chae Yoon. “Kau harusnya duduk di samping Jongin.”

Tak perlu susah payah untuk menyembunyikan keterkejutan sekaligus ketidakmauannya. “Kenapa aku harus?”

“Karena kau memang harus.”

Oh, sial.

Jongin tersenyum bengkok ketika bibirnya berkata. “Tidak apa-apa jika kau tidak mau.”

Tak ada gunanya untuk membantah sekarang. Yang harus gadis itu lakukan hanya berakting seolah-olah dengan senang hati dijodohkan dengan laki-laki brengsek ini dan menendang bokong Jongin begitu mereka sudah di dalam mobil. “Tidak. Aku mau.” Tersenyum, Chae Yoon bangkit dari duduknya dan kembali menempatkan bokongnya di samping kursi Jongin.

Selama acara makan-makan itu berlangsung—sumpah, bahkan Chae Yoon tak ingat tadi dia makan apa—akhirnya mereka—tentu saja itu Si Brengsek Kim Jongin dan Song Chae Yoon—duduk tenang di dalam mobil sport hitam yang sedang melaju dengan kecepatan sedang di jalanan ibu kota yang mulai padat. Chae Yoon hanya mengedarkan pandangannya kearah jendela, mengamati took-toko kecil dan kafe yang mulai menjajakan makanan. Kedai kopi yang mulai ramai pengunjung juga menarik perhatiannya. Ia jadi teringat Sehun. Semalam, karena terlalu asik mengobrol dengan Chanyeol ia sampai lupa untuk menelpon Sehun. Apa yang dilakukan laki-laki itu sekarang?

Chae Yoon harus mengingatkan dirinya sendiri untuk menelpon Sehun nanti. Setelah urusannya dengan Kim Jongin selesai.

Lamunannya buyar ketika mobil berhenti dan Jongin yang melepas seatbelt. “Kau mau turun atau menunggu disini?”

Chae Yoon baru sadar jika mobil Jongin sudah terparkir rapi di depan sebuah minimarket. Ia menoleh kearah laki-laki itu yang sudah lebih dulu mengamatinya dengan alis terangkat. “Tidak. Aku disini saja.”

“Baiklah.” Jongin mengangguk, lantas turun dan menutup pintu, berjalan ke dalam minimarket dan hilang di balik pintu kaca.

Chae Yoon menarik napas pelan, mencoba untuk menahan hasrat kabur dari tempat itu. Merasa bosan, gadis itu memilih untuk melihat koleksi yang ada di mobil Jongin. Ada beberapa album Coldplay, Demi Lovato, dan Bruno Mars. Merasa tertarik dengan salah satu album itu, Chae Yoon akhirnya membukanya. Alih-alih mendapati kaset yang diinginkannya, gadis itu malah menemukan secarik kertas kusam yang dibungkus dengan amplop merah muda yang warnanya sudah luntur. Menimang sebentar, Chae Yoon kalah dengan rasa penasarannya. Ia melihat kearah pintu minimarket¸oh, Jongin belum selesai melakukan pembayaran.

Jadi gadis itu membuka surat itu perlahan-lahan dan membacanya dengan khidmat.

Matanya membulat, napasnya terasa sesak, dan jantungnya berdebar cepat. Buru-buru, Chae Yoon lipat kembali surat itu dan menyimpannya kembali dengan rapi ke dalam kotak album yang tadi ia buka. Mencoba mengontrol emosinya saat pintu mobil terbuka dan Jongin yang masuk ke dalamnya. Memberinya sekaleng kopi susu. “Minumlah. Kuharap kau masih menyukainya.”

Bahkan setelah semua itu, kau masih bersikap seperti ini padaku, Kim Jongin?

Bersambung.

akhirnya update juga.

 

Iklan

One thought on “[Author Tetap] Unexpected Love – Part 3

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s