[Author Tetap]-Bitter Fate (Chapter 1)

cover real Bitter Fate

ByunPelvis

 Main Cast       : Oh Sehun , Oh Jisun (Oc) , Byun Baekhyun.

Other Cast : Park Chanyeol, Kim Jong In, Yoon Sohee, ect.

Genre   :  Angst , Romance , Sad,  Family, AU.

Rating  : PG-15

Leght   : Chapter

Disclaimer : This story is mine. No Copy no paste. Sory for typo.

And Don’t be a silent readers. ^^

Typo banyak.

*

‘Aku ingin berjalan di tengah derasnya hujan agar tak ada yang tahu jika aku sedang menagis.’

*

‘aku ingin kau pergi dari hidupku’

*

‘Aku kembali, aku ingin membahagiakan hatimu. Ku mohon, jangan menangis lagi.’

^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^

Chapter  1

Mengapa hidupku sangat berbeda dengan yang lain?. Kenapa Tuhan memberiku takdir semiris ini?

Terasingkan, itulah diriku. Disaat mereka tertawa bersama keluarga, aku menangis karena kesepian.  Saat mereka berkumpul bersama, aku hanya terpojokan di sudut ruang gelap.

Apa nasib anak sulung memang seperti ini?. Di abaikan dan tidak mendapat kasih sayang lebih dari keluarga? Mereka lebih menyayangi si bungsu, benar?

Alasannya adalah diriku yang tak memiliki hubungan darah dengan keluarga ini. Mereka tak memberiku perhatian serupa selayaknya anak kandung.

Menjadi anak angkat di sebuah keluarga konglomerat tak membuatku bahagia. Aku justru menyesal.

Sungguh, aku tak pernah meminta untuk diurus oleh keluarga ini. Mereka sendiri yang memilih untuk mengukir  namaku dalam daftar keturunan keluarga Oh.

Aku, gadis polos yang dengan mudahnya mau menjadi anak mereka. Pada awalnya mereka menyayangiku. Aku diperlakukan seperti putri di tahun pertama, namun saat ibu ‘angkat’ ku mendapatkan buah hati (kandung), aku bagai sampah yang tak memiliki guna lagi.

Mereka memang menghidupiku, namun mereka tak pernah memandangku lagi sebagai bagian dari mereka. Aku bertanya-tanya, untuk apa mereka repot-repot mengurusku jika pada akhirnya seperti ini?

Kadang aku berfikir buruk, mengira mereka mengadopsiku hanya untuk percobaan. Mereka hanya memanfaatkanku. Ya, kerena ku dengar dari nenek, katanya dulu mereka kesulitan mendapatkan momongan. Aku hanya dijadikan sebagai pancingan saja oleh keluarga Oh.Mereka memilih untuk mengadopsi salah satu anak terlantar seperti diriku agar cepat memiliki anak. Saat itu usiaku masih 2 tahun, tak memiliki keluarga dan tinggal di panti asuhan. Malang sekali bukan?. Hidupku benar-benar menyedihkan.

Tok tok..

Aku tersadar dari lamunan saat suara ketukan pintu menggema keras. Dengan malas, aku beranjak dari balkon untuk membukanya. Wajah paruh baya yang biasa ku panggil ‘Yoon Ajhuma’ kudapati saat pintu kubuka lebar. Beliau tersenyum setelah melihatku.

“Nona, makan malam sudah siap. Sebaiknya anda ke ruang makan.” Ujarnya lembut. Aku membalasnya dengan senyum tipis. Ternyata harapanku tadi hanya sia-sia. Kukira yang mengetuk pintu kamarku itu eomma atau appa. Bodoh sekali aku berharap seperti itu. Mana mungkin mereka menghampiri kamarku untuk mengajak makan malam.

“Baiklah, Ajhumma. Emm… apa mereka sudah mau selesai?” tanyaku dengan hati-hati. Aku menebak pasti orang rumah sudah menyantap makan malam sejak tadi. Karena sudah sangat sering aku makan sendiri hanya karena telat bergabung.

“Belum. Mereka barusaja memasuki ruang makan.”

Aku mengangguk mengerti. Kaki ini masih saja mengakar di daun pintu, aku merasa tak bisa melangkah. Bagaimana? Apa aku harus ke ruang makan sekarang atau menunggu mereka selesai?

Entahlah, aku bingung. Aku rindu bersama mereka, namun aku juga tak ingin terabaikan di sana.

“Nona?”

Ajhuma menyentuh bahuku, menatapku dengan penuh tanya.

“Eh… a-aku makan nanti saja, Ajhuma.  Bagaimana jika kita makan bersama nanti? Kita bisa menghabiskan makanan.” Ujarku, berusaha tersenyum. Ya, aku sedang berusaha mengajak Yoon Ajhuma untuk makan malam bersamaku. Sudah sangat sering memang, beliau malah seperti eomma lain bagiku.

“Tidak nona. Kau harus makan malam dengan mereka.”

“Tapi-”

“Ayolah nona.”

Yoon Ajhuma menarikku meninggalkan kamar. Kami menuruni anak tangga untuk menuju ruang makan. Dari arah jauh aku bisa melihat tiga orang sedang mengobrol di sela acara makan. Mereka eomma,appa dan adikku ‘Oh Sehun’. Jantungku berdebar saat jarakku dengan ruang makan semakin dekat. Yoon Ajhuma melepas cengkraman tangannya dan mengangguk.

Dengan ragu aku meneruskan langkah, semakin mendekat ke meja makan.

Yang pertama melihatku adalah appa, ia sedikit tersenyum. Aku membungkukan tubuhku untuk sekedar memberi salam. Tak ada yang menyambutku dengan kata-kata, semua sibuk dengan obrolannya.

Lagi-lagi terasingkan. Aku seperti kasat mata di hadapan mereka. Terlebih adikku, ia  seperti tak menyadari kehadiranku, padahal aku duduk tepat di sampingnya.

“Sehun-ah, apa mobilmu sudah di betulkan? Sudah berapa kali eomma bilang huh? Jangan pinjamkan barangmu pada orang lain.” suara Eomma masih tersambung dalam obrolan. Aku melirik Sehun yang hanya tersenyum tanpa dosa. Bocah ini terbilang sangat nakal, sudah berapa kali aku mendengar dia mendapat omelan dari eomma.

“maaf, eomma. Kau tau kan aku ini murah hati? Mobilku akan baik-baik saja. Hanya sedikit penyok di bagian depan.” Ujar Sehun dengan santainya. Astaga anak ini, aku sangat ingin menasehatinya. Hemm.. tapi bagaimana caranya?. Berbicara denganku saja dia enggan. Sehun tak akan sudi berkomunikasi denganku.

“kau ini. Sudahlah, ganti saja mobil yang baru. Kau bisa pilih merk yang kau suka.”

Kali ini ucapan eomma membuatku membulatkan mata. Dengan mudahnya beliau berkata seperti itu. Mobil baru? Bahkan mobil yang lama saja masih mulus. Menurutku mereka terlalu memanjakan Sehun.

“Benarkah? Yesss.. tapi eomma, aku mau motor saja. Boleh kan?”

“Tidak.” tanpa sadar aku berucap. Tiga orang itu langsung menatapku. Diantara mereka, Sehun lah yang tatapannya paling terlihat menyeramkan. Ia seolah menusuk jantungku dengan sorot matanya.

“Kenapa?  Kau tidak suka?. Atau kau iri?”

Ya Tuhan, pertanyaannya membuat dadaku sesak. Tidak, bukan begitu maksudku.

“T-terlalu bahaya menggunakan motor. Sebaiknya gunakan mobil saja, Sehun-ah. Bukankah teman-temanmu-“

“DIAM!. Tidak usah mengaturku!”

Bibirku terkatup rapat saat Sehun mengeraskan suaranya. Aku langsung menunduk untuk menghindari hujaman pedang dari netranya.

Yang kudengar setelahnya adalah bantingan sumpit. Tak lama suara decit kursi terdengar keras. Tanpa kata-kata, Sehun beranjak pergi. Kulirik punggung penuh amarah itu yang semakin menjauh dari ruangan ini.

‘maafkan aku, Sehun-ah’

Sungguh, aku tak berniat mengaturnya. Aku hanya tidak ingin dia mendapat resiko buruk jika menggunakan kendaraan roda dua itu. Yang ku tahu, sebagian dari temannya sering melakukan balap liar. Aku hanya tak mau Sehun mengikuti kegiatan buruk itu. Karena aku tau, anak itu sangat mudah terpengaruh.

“kau sudah merusak moodnya. Sekarang bagaimana?”. Kini dadaku kembali sesak mendengar pertanyaan eomma. Aku menggeleng karena memang tak tahu.

Sekarang giliran eomma yang beranjak meninggalkan ruang makan. Rasanya aku ingin mengejar mereka dan bersujud untuk meminta maaf.  Jangan salah, aku sangat sering melakukan itu. Bersikap seperti seorang budak yang di marahi oleh majikannya.  Namun entah mengapa, sekarang tubuhku tak bisa bergerak untuk menghentikan Sehun maupun Eomma. Aku terlalu takut  mendapat tatapan menyakitkan dari cara pandang mereka.

Kuhela nafas panjang. Aku menyesal karena tak bisa menahan diriku tadi. Seharusnya aku diam saja. Kenapa mulut ini sangat lancang berucap?.

Hanya ada aku dan appa sekarang. Aku memaksa senyum saat saling melempar pandang. Beliau menatapku dengan tatapan sedih, sepertinya. Tanganku bergetar saat menyumpitkan nasi. Ini karena tenagaku sudah terkuras habis oleh fikiranku.

“selamat makan, appa.”

Aku menyuapkan nasi dengan lahap.  Ya, hanya nasi tanpa lauk apapun. Aku tak berani untuk sekedar mengambil telur gulung kesukaanku.

Aku berusaha mengabaikan kejadian tadi. Aku tidak boleh menangis sekarang.

“makan pelan-pelan.” Suara yang amat kurindukan itu berbicara padaku, walau sangat lirih.

Appa meletakan satu gulung telur di atas mangkuk nasi yang ku gunakan. Sontak saja aku mengangkat kepalaku, kulihat senyum samar terukir di bibirnya. Appa seolah mengatakan baik-baik saja. Aku juga membalasnya dengan senyum tipis.

Satu-satunya orang yang sedikit peduli denganku hanyalah appa. Aku bisa melihatnya walau perhatian itu terlihat samar.

Suahlah, lebih baik segera ku selesaikan acara makan ini. Mungkin jika aku selesai, barulah Sehun mau kembali keruang makan.

.

.

*Bitter Sweet*

.

.

Pagi terlalu cepat datang, aku semakin meringkuk sembari membenarkan selimut yang menutup seluruh tubuhku. Kepalaku terasa sangat berat dan nafasku terasa panas. Aku mengerjap saat perlahan cahaya menyengat ke dalam retinaku. Pusing langsung menyerang saat aku terduduk.

Oh, sepertinya aku kurang enak badan. Apa ini akibat karena aku hujan-hujanan kemarin? Sepertinya iya, aku kelelahan dan tidur telalu malam.

Pandanganku menyapu ke seluruh ruangan. Kamarku sangat berantakan, beberapa buku berserakan di lantai.

“astaga!”

Aku langsung bergegas menuruni ranjang setelah mengingat satu hal. Bodoh , tugas kuliahku belum sepenuhnya selesai. Aku membuka laptop dan mencari buku yang kugunakan untuk merangkum.Sial, hari ini adalah jadwal untuk melakukan presentasi. Aku malah santai-santai di tengah dead line tugas.

Aku lupa satu hal, kontak lensaku. Aku tak bisa melihat sesuatu dengan jelas tanpa soft lens. Ku raba kotak yang ada di dekat nakas, di sana tempatku meletakan benda yang fungsinya mirip dengan kaca mata itu. Setelah mendapatkannya, segera kupakai agar bisa melihat normal tulisan dilembar rangkuman.

Dengan gerakan cepat aku membuka buku dan menyalin kelimat demi kelimat ke dalam lembar kerja. Aku harus menyelesaikannya, waktuku hanya tersisa dua jam.

Disaat semua orang sibuk menyiapkan sarapan, aku malah berhadapan dengan tugas seperti ini. menyebalkan.

Oh, dan aku belum sempat menyapa Eomma maupun Appa pagi ini. Pasti mereka sudah berangkat ke perusahaan.

*

*

“nona, kau tidak sarapan?”

Yoon Ajhuma bertanya saat aku keluar dari kamar. Kini piyama yang tadi ku pakai sudah berubah menjadi pakaian rapi. Tubuhku juga sudah wangi karena aku baru saja selesai bersiap. Ku sambut kehadiran Ajhuma dengan senyum hangat.

“aku sudah telat Ajhuma. Jam kuliahku di mulai 20 menit lagi.” Tolakku dengan nada halus. Aku membungkuk sebelum berlari pergi. Saat hendak membuka pintu utama, Sehun melintas di depanku. Aku tersenyum melihatnya juga sudah rapi. Sapaan selamat pagi ku berikan padanya. Namun seperti biasa, dia hanya diam menatapku tanpa membuka suara. Sepertinya Sehun masih kesal pasca makan malam. Baiklah, kurasa moodnya masih buruk dan aku tak boleh memperkeruh.

Aku melanjutkan langkahku, namun tiba-tiba saja keningku menubruk punggung Sehun. Ia berhenti berjalan saat aku ada di belakangnya. Aku menunduk, alih-alih menghindari tatapan galaknya.

“Hei, Oh Jisun!”

Aku baru mengangkat kepalaa saat Sehun menyebut namaku. Bocah ini bersender pada pintu dan menatapku dengan pandangan meremehkan. Detik berikutnya senyum ‘ejekan’ terulas di bibir mungilnya.

“Ya?”

“Sial, kau hampir saja membongkar tabiatku di depan eomma tadi malam.” Ujarnya dengan nada ketus. Aku mengerjap karena tak mengerti maksud ucapannya.

“Apa maksudmu, Sehun-ah?”

“Tidak usah ikut campur. Kau mau bicara apa tadi malam hah? Kau mau bilang ‘Sehun tidak boleh pakai motor karena teman-temannya sering balapan’ . Bukankah kau mau bilang begitu pada eomma?” tanya Sehun.

Aku mendengus, pria ini pandai sekali menebak pikiranku.

“Ya , aku mau bilang begitu. Aku melihatmu balapan satu minggu yang lalu.Aku hanya tidak ingin-“

“Sttt……, memang siapa kau hah? Ingat siapa dirimu, Oh Jisun. Kau hanya anak angkat di keluarga ini. Kau tidak berhak mengatur urusanku.”

Belum selesai aku berucap, Sehun sudah memotongnya. Kedua tanganku terkepal erat. Jantungku seperti terlepas saat Sehun mengatakan tentang statusku di keluarga ini. Aku berusaha menahan cairan bodoh yang mulai menganak di pelupuk mataku. Aku tak boleh menangis di hadapannya.

“Maaf, aku hanya tidak ingin sesuatu hal buruk terjadi padamu. Ya, memang benar, aku bukanlah siapa-siapamu. Terserah saja apa yang mau kau lakukan, Sehun-ah. Tapi kumohon, jangan membuat dirimu sendiri terluka.”

“Damn!”  Ucapnya keras.

Aku berusaha tersenyum, selalu seperti itu. Kenapa sulit bagiku untuk membalas bentakannya? Kenapa sangat sulit untuk sekedar memukul kepalanya seperti kebanyakan kakak yang sedang kesal dengan adiknya?

Aku menyayangi Sehun, sangat. Dia sudah kuanggap seperti adik kandungku. Tak pernah sekalipun aku menganggapnya sebagai adik angkat.

“aku berangkat dulu, Sehun-ah. Sampai nanti.” Aku berpamitan dan berlari keluar.

Air mataku menetes di setiap langkah yang ku jangkau. Aku menahan isakan dengan mengigit bibir bawahku.

“Jisun-ah!”

Suara melengking terdengar meneriaki namaku. Aku mengusap air mataku dan berbalik untuk melihat siapa yang dengan kerasnya memanggilku.

Aku tersenyum saat melihat  Sohee mendekat padaku. Dia langsung merangkul bahuku setelah tepat berada di sampingku. Yoon Sohee, gadis ini adalah anak Yoon Ajhuma sekaligus temanku. Kami sangat dekat sejak 3 tahun yang lalu. Bisa di bilang dia adalah sahabat keduaku. Kami satu universitas, bahkan satu kelas. Ia tinggal di samping rumah, tepatnya di paviliun kecil tempat tinggal yang di sediakan untuk pelayan. Aku sangat menyayanginya, dia satu-satunya wanita yang tulus berteman denganku.

“Jisun-ah, kau menangis?” tanya gadis ini setelah melihat jelas wajahku. Aku menggeleng, berusaha berbohong padanya.

“Ah, tidak. Mataku tadi kemasukan debu dan aku-“

“Bohong, apa tuan muda Sehun lagi yang membuatmu sedih seperti ini?” tanya Sohee dengan nada cemasnya. Dia menghapus sisa airmata yang masih menganak di pipiku.

Sial, membohonginya itu sangat sulit. Karena dia tau segalanya tentangku.

“Heum begitulah. Apa kau menungguku tadi?” tanyaku , sengaja ku alihkan obrolan. Aku tak mau Sohee kasihan padaku.

“Ya, tentu saja.”

“Maaf, aku lupa mengerjakan tugas presentasi tadi malam. Aku baru menyelesaikannya setelah bangun tidur” Ku beberkan alasan mengapa aku telat. Dan lenganku sukses mendapat pukulan. Sohee terlihat heran. Mungkin jika aku sedang tidak sedih, sumpah serapah sudah memenuhi gendang telingaku.

Dia menarikku untuk berjalan lebih cepat. Hanya perlu melewati beberapa rumah untuk sampai ke halte. Kami  langsung masuk saat bus yang biasa kami tumpangi berhenti.

Untunglah kami mendapat tempat duduk, aku mengambil posisi dekat jendela. Sohee sibuk dengan ponselnya, jadi aku lebih memilih memfokuskan pandanganku pada sisi jalan. Bus berhenti saat lampu lalu lintas berubah merah. Ku hembuskan nafas berat, pasti macet seperti ini berlangsung lama. Dan efeknya, kami akan bosan dan mengeliat kesal.

Tanpa sadar pandanganku terjatuh pada mobil audi silver yang amat ku kenali. Tepat di samping bus yang ku tumpangi, mobil pribadi milik appa  berhenti. Aku mengamati si pengandara, kugeser kaca bus agar terbuka.

Kudapati Sehun duduk di kursi kemudi. Ah benar, mobil Sehun ada di bengkel dan dia meminjam mobil appa untuk ke kampus.

Aku masih mengamatinya, sampai dia menoleh dan tanpa sengaja membalas tatapanku. Seketika kaca mobilnya langsung di tutup. Bahuku mengendur, apa Sehun semarah itu sampai tak mau aku melihatnya?

“Jisun-ah, biar kutebak. Kau belum sarapan kan?”

“Eum.”

“Astaga, Oh Jisun. Eommaku tadi titip bekal untukmu. Kau harus memakannya. Eomma menyuruhku untuk mengawasimu. Ini, makanlah.”  Omelnya, dia menyodorkan satu kotak berisi sendwich padaku. Aku menerimanya dengan senang hati.

Sudahlah, untuk apa aku memperdulikan Sehun. Terus memikirkannya membuat nafsu makanku buruk. Kulirik Sohee dengan tatapan sebal, risih sekali karena dia terus mengawasiku.

“Aku akan menghabiskannya. Berhenti menatapku seperti itu. Aisshh.”

“Baguslah. Anak pintar.”

“cihhh..”

.

.

.

Normal POV

Sehun tertawa mendengar lelucon Kim Jong In , dua pria tampan ini mengabaikan dosen yang sedang menerangkan materi. Temannya yang lain yaitu Mark Lee dan Taeyong ikut mendengar namun hanya memasang seyum.

Tak henti hentinya Kim Jong In bercerita tentang hal lucu, sampai sebuah spidol menghantam meja tepat di depannya. Jong In maupun Sehun tersentak kaget. Saat itu juga Dosen menatap keduanya dengan pandangan kmembunuh.

“kalian , dasar berandal. KELUAR dari kelasku!”

—————————————————————————————————

“Ini semua karena kau, Kim Jong In. Kita di usir dari kelas gara-gara kau berisik” Ketus Sehun. Pada akhirnya, keduanya berakhir di cafetaria. Sedang di salahkan, dengan santainya Jong In menyeruput ice latte.

“Brengsek, kenapa menyalahkanku? Siapa yang tertawa terbahak-bahak? Itu kau, Oh Sehun.” ujar Jong In tidak terima. Sehun bertingkah seolah akan memukul Jong In. Namun pria kulit tan yang ada di hadapannya malah menjulurkan lidahnya.

“Lagian kenapa kau bercerita soal film ‘Real’ yang super mesum itu?. Membuatku geli saja.”

“Karena Choi Sulli adalah artis idolaku haha.” Kali ini Jong In tertawa keras, membuat seisi caffetaria memandang keduanya. Sehun langsung menyumpal mulut temannya dengan fried potato. Menurutnya Jong In memalukan jika sudah berubah menjadi pria berotak mesum.

Jong In menatap kesal karena Sehun menyuapkan lebih dari tiga potong kentang ke dalam mulutnya. Bahkan tadi ia hampir aja tersedak. Pria bermarga Kim itu memperhatikan Sehun yang  terlihat sibuk mencari sesuatu, dengan isengnya Jong In menempelkan gelas ice latte ke pipi Sehun. Tentu saja si empu marah dan berusaha memukulnya.

“ya! ya! kau sedang mencari mangsa? Auhh serius sekali.” Ujar Jong In. Mendengar itu Sehun hanya memutar bola matanya. Punggungnya kebali di senderkan ke kursi.

“aku mencari seseorang yang mau membantuku untuk membunuhmu Kim Jong In.”

“Heol, dasar sadis. Ah iya,  bagaimana mobilmu? Apa rusak parah? Maaf saat itu aku benar-benar mabuk.” Sesal Jong In. Ia merasa bersalah karena telah meminjam mobil Sehun dan menabrak pembatas jalan hingga body mobil bagian depan penyok.

“Tak apa. Aku malah mempunyai kesempatan untuk ganti kendaraan. Mobil yang ada di bengkel akan ku jual.” Ucap Sehun dengan entengnya. Jong langsung melotot tidak percaya. Temannya benar-benar memiliki nasib baik.

“Daebak, kau sangat beruntung lahir di keluarga konglomerat. Apa membeli sesuatu yang mahal bagaikan membeli sebutir kacang? Ckckckk?”

“Ya begitulah. Hah, tapi aku hampir saja sial. Gara-gara benalu itu aku nyaris ketahuan eomma.”

“Maksudmu?” Jong In tak mengerti apa maksud ucapan temannya. Alisnya terangkat sebelah.

“Oh Jisun, dia hambir saja melaporkan apa yang telah kita lakukan satu minggu yang lalu. Dia hampir saja membahas soal balapan di depan eomma.” terang Sehun dengan nada kesal.

“Ya!. Bagaimanapun juga dia itu kakakmu Sehun-ah. Kenapa kau tega menyebutnya benalu? Astaga.” Heran Jong In, ia tak habis fikir dengan temannya. Selama ini yang ia dengar dari Sehun hanya ungkapan kekesalan tentang Oh Jisun. Sebenarnya Jong In sedikit kecewa pada temannya itu, gadis sebaik Jisun terluka karena sikap Sehun yang masih labil. Ia sebenarnya menyadari satu hal, namun ia hanya diam.

“Sudah ku bilang berkali-kali. Dia bukan kakakku. Aku anak tunggal. Dia hanya anak angkat yang harusnya lenyap dari keluargaku.” Kukuh Sehun. Ia berusaha meyakinkan Jong In, merasa puas jika kata-katanya di ‘iya’kan.

“Hah… terserah kau saja. Oh Sehun.”

Tidak ada yang sadar jika percakapan keduanya telah di dengar oleh seseorang. Tangan kekarnya mengepal erat saat emosinya mulai memuncak. Ia bangkit dari tempat yang didudukinya untuk beranjak pergi. Tadinya ia ingin mengejutkan Sehun dengan kehadirannya, namun saat mendengar Sehun bicara jelek soal Jisun ia menjadi enggan.

Ternyata Oh Sehun masih saja membenci Oh Jisun. Sangat lucu menurutnya. Baginya, Oh Sehun benar-benar bodoh karena membenci seseorang yang dengan tulus memberikan kasih sayang serta perhatian.

“Oh Sehun. Kau tidak berubah sejak 6 tahun yang lalu.”

Pria ini terus berjalan meninggalkan caffetaria. Ia menelusuri koridor. Kepalanya pusing karena terus mengamati setiap wajah setiap mahasisiwi di tempat itu. Ia sedang mencari gadis yang sudah sangat dirindukannya. Ia akan memberi kejutan, pasti gadis kesayangannya itu akan senang jika tau ia telah kembali setelah 6 tahun lebih meninggalkan Korea.

“Jisun-ah. Kau di mana?”

.

.

.

Jisun dan Sohee barusaja keluar dari kelasnya. Mereka baru saja maju untuk presentasi. Keduanya tersenyum lega karena langsung di beri poin tinggi oleh Dosen.

“Jisun-ah. Bagaimana kalau kita menghabiskan waktu sampai sore? Ayolah, kita segarkan fikiran. Bukankah kau jenuh karena memikirkan presentasi itu belakangan ini.?” ujar Sohee berusaha mengajak. Jisun mempertimbangkannya, jika ia pulang awal ke rumah pasti akan sangat kesepian. Lagipula ia sedang tak mau bertemu adiknya. Setelah mendapat keputusan ia mengangguk setuju.

“baiklah. Ayo ke Hongdae, aku akan mentraktirmu.”

“uwaaah, Nona Jisun kau sangat baik.”

“hei Yoon Sohee, berhenti memanggilku seperti itu.”

“haha baiklah.”

Keduanya menjajahkan kaki menjauhi halaman kampus. Sohee lagi-lagi menarik Jisun untuk sampai ke halte. Mereka dengan senang hati menunggu bus. Sembari menunggu, Jisun mengamati pesan dari seseorang. Entah  pesan dari siapa karena nomor si pengirim tak bernama.

Pesan itu tersemat sebuah kata.

‘aku kembali, Jisun-ah.’

Jisun  mengernyitkan keningnya. Ia masih bingung sampai bus yang sedang di tunggu sudah berhenti di hadapannya. Sohee menariknya, membawanya masuk dan langsung mencari tempat duduk.

Jisun menggeleng tak mengerti, ia kembali memasukan ponselnya dan mulai membuat obrolan dengan Sohee.

*

*

Di tempat lain, Sehun sedang di seret oleh juniornya. Gadis manis dengan bando kelinci terus memaksanya untuk pergi kencan.

“Oppa, ayolah. Kita jalan-jalan ya?” rengek gadis berparas imut itu.

“Hei, kita sudah putus. Aku sudah bosan denganmu, Jennie-ssi.” dengan entengnya Sehun berbicara. Bahkan tangannya di hentakan untuk melepas cengkraman mantan kekasihnya.

“Aku tau.Tapi ayolah temani aku. ini untuk terakhir kalinya.”

“Hah sial. Jangan memohon! Ckk baiklah. Tapi waktumu hanya 1 jam.” Sungguh Sehun tak pernah tega melihat wanita memohon padanya. Dengan sangat terpaksa ia menerima ajakan mantan kekasihnya itu. Kekasih? Sungguh Sehun tak pernah mencintai semua mantan kekasihnya. Ia bisa di bilang brengsek karena tujuannya mengencani wanita hanya untuk pelampiasan terhadap sesuatu.

Dengan tingkah manja, gadis bernama Jennie itu menariknya memasuki mobil. Tentu saja yang di gunakan untuk jalan-jalan adalah mobil Sehun.

“Mau kemana?” dengan malas Sehun bertanya, Jennie yang sedang sibuk dengan kacanya menjawab tanpa menoleh pada si pemilik suara.

“Ke Hongdae ya? ku dengar ada karnaval di sana.”

“Aku benci tempat ramai.”

Sehun fokus menyetir, mengabaikan gadis di sampingnya yang sedang sibuk berdandan. Jika sudah seperti ini, ia mengabaikan Jong In,Mark dan juga Taeyong. Waktu berkumpul bersama teman-temannya terhalang hanya karena sang mantan.

*

*

Jisun melihat beberapa pernak-pernik yang dijual di pinggir jalan. Ia tertarik saat melihat distrik yang di dalamnya menjual jam tangan. Gadis itu mendekat dan melihat jam couple yang menarik minatnya.

“Sohee-ya, bukankah jam ini sangat bagus. Apa menurutmu Sehun akan menyukainya? Dia kan suka mengoleksi jam seperti ini.”

Bukannya menjawab, Sohee malah menatap Jisun dengan tatapan sedih. Sejahat apa Sehun menyakiti , masih saja Jisun bersikap baik.

“Yoon Sohee!”

“A-ah? ne? eum.. ya jam itu bagus.”

“Benar kan?”

Sohee mengangguk. Tanpa ragu, Jisun langsung membawa jam couple itu menuju kasir. Sohee menatap punggung  Jisun dengan hati miris.

Jisun kembali ke hadapannya dengan menenteng dua paper bag berukuran kecil.

“Ini untukmu, dan ini untuk Sehun.”

Jisun menyodorkan satu paper bag pada Sohee. Karena bingung, Sohee hanya diam menatapnya. Jisun terkekeh dan mengambil tangan Sohee, ia memaksa Sohee menerima jam pemberiannya.

“Aku akan memberikan yang satunya lagi untuk Sehun. Ohoo.. kalian akan memakai jam couple. Kau suka?” tanya Jisun dengan nada senangnya.

“A-apa?. Ya!. Kenapa kau seperti ini?. Aku tidak mau.” Tolak Sohee, ia menyerahkan kembali paper bag pada Jisun.

“Ya!. Bukankah senang melihat pria yang kau sukai memakai jam tangan yang sama denganmu.” kali ini Jisun berusaha menggoda. Dan sontak saja pipi Sohee bersemu merah.

“Ah kau ini. Hentikan!”

Sohee berjalan meninggalkan Jisun. Puas membuat temannya malu, Jisung berjalan sembari terus menggoda Sohee. Ia mendukung 100%  seorang Yoon Sohee yang sangat menyukai adiknya. Jisun berharap suatu saat nanti temannya itu bisa pacaran dengan Sehun. sungguh ia akan bahagia nantinya.

“Hei adik ipar, terimalah jam ini atau aku akan marah.” Lagi-lagi Jisun membuat Sohee tersipu. Dengan gerakan cepat ia merebut paper bag dari tangan Jisun.

“Baiklah. terimakasih.”

“Haha…Sohee-ya,  apa kau sangat menyukai adikku? Heum?”

“Eum”

Mereka tertawa sepanjang langkah, sampai  tiba-tiba saja sebuah pemandangan dari depan membuatnya sama-sama diam.

Tepat di hadapannya, berdiri Sehun dan juga seorang gadis yang tak lain adalah Jennie. Keduanya terlihat mesra karena saling bergandengan. Tubuh Jennie sangat menempel pada Sehun. Dan menurut Sehun, pemandangan di hadapannya sangat memuakan. Ia mengeraskan rahangnya karena mulai emosi.

Melihat ekspresi lain dari wajah Sehun membuat Sohee mundur satu langkah dan menunduk. Sedangkan Jisun masih diam memperhatikan Sehun yang saat ini tengah menghunusnya dengan tatapan dingin.

“sial! Ya! Oh Jisun ! Kau mengikuti kami?”  tanya Sehun tiba-tiba. Jisun membulat dan menggeleng cepat.

“T-tidak Sehun-ah. Aku-“

“Tuan Sehun, aku yang mengajaknya kemari. Jisun hanya menemaniku untuk membeli sesuatu. Kami permisi.” Dengan cepat Sohee memotong ucapan Jisun. Walau dengan nada bergetar, ia berusaha membuat alasan agar Sehun tak berangsur marah pada temannya. Sohee membawa Jisun berlalu dari hadapan Sehun dan juga Jennie.

Karena masih saja kesal, Sehun berbalik dan menahan lengan Jisun. Bahkan ia menariknya hingga kakak’nya itu hampir saja terjembab.

“Kenapa hah? kenapa kau selalu muncul di hadapanku? Kenapa kau selalu muncul bahkan saat aku pergi tengah malam?. Kau sengaja kan, Oh Jisun?. Kau tau? Aku bosan melihat wajahmu.”. Marah Sehun, suaranya lumayan keras. Padahal mereka berada di khawasan ramai pengunjung. Jennie menutup mulutnya tidak percaya saat wanita polos seperti Jisun kenal dengan mantan kekasihnya. Sedangkan Sohee bingung harus melakukan apa, ia berusaha mendekat namun Sehun memberi isyarat padanya untuk diam. Gadis itu juga sempat memperhatikan gadis imut yang tadi menggandeng Sehun. Hatinya sedikit sakit.

“Tidak, Sehun-ah. Maafkan aku.”  lirih Jisun. Ia berbicara sembari menunduk, menyembunyikan airmata yang sudah terjatuh bebas menerpa pipinya.

“Pulang saja! Jangan cari masalah.”

Setelah mengatakan itu, Sehun langsung menghempaskan tangan Jisun. Kaki panjangnya kembali melangkah. Jennie sempat memandang Jisun dengan pandangan meremehkan, ia ikut berbalik dan berlari kecil untuk menyusul Sehun.

“Jisun-ah.”

Sohee langsung mendekat dan memeluk Jisun. Ia sangat tau jika temannya sekarang sedang sakit hati. Suara isakan kecil mulai menyeruak ke indra pendengarnya. Sohee mengusap punggung Jisun untuk menenangkan.

“Maaf, aku tak bisa menghentikan Tuan Sehun. Dia sangat kurang ajar karena berbicara seperti tadi. Aku bersumpah akan memberinya pelajaran secara diam-diam.” Ujar Sohee untuk sekedar menghibur hati Jisun.

Yang diajaknya bicara hanya mengangguk. Ia merasa tak memiliki kekuatan untuk membalas dengan kata-kata. Hatinya kemblali tersayat, jika terus seperti ini kapan bekas luka yang terdahulu akan membaik?. Jika sakit hati (bukan penyakit) bisa menyebabkan kematian,mungkin sudah sejak dulu ia menjadi mayat.

*

*

Sohee memandang Jisun yang malah duduk di halte setelah turun dari bus. Dengan berat hati ia ikut duduk di samping temannya.

“Jisun-ah, ayo pulang. Ini sudah sore.”

“Tidak, Sohee-ya. Aku masih belum siap bertemu dengan Sehun.”. Balas Jisun dengan nada lirih. Matanya memandang arah depan dengan  tatapan kosong.  Sohee yang melihatnya hanya menghela nafas.

“Baiklah. Aku akan menemanimu.”

“Tidak, Sohee-ya. Kau harus pulang, aku tak mau Yoon ajhuma mencemaskanmu.” Ujar Jisun yang kali ini telah mengalihkan pandangan dari jalan. Sohee berdecak kesal dan bangkit dari duduknya.

“ckk.. eomma-ku akan  lebih khawatir padamu, Jisun-ah. Ayolah!”

Jisun bersikukuh menolak untuk pulang. Ia menggeleng keras, membuat Sohee semakin frustasi.

“Pulanglah terlebih dahulu. Aku memerlukan waktu satu jam untuk meredakan kesedihanku.”  Jisun kembali berujar, kali ini dengan senyum tipis.  Jika seperti itu Sohee tak bisa menganggu. Ia ingin Jisun nyaman walau sendirian.

“Hah… baiklah nona, aku pulang lebih dulu. Ingat!. Kau harus langsung pulang!. Ku tunggu kau di paviliun.!”

Jisun terkekeh mendengar ucapan Sohee yang sok seperti ajhuma cerewet. Ia menggerakan tangannya bermaksud untuk mengusir temannya. Sohee, masih mengawasinya bahkan saat sudah ada di jarak jauh.

Kini hanya ada dia dan beberapa orang yang sedang menunggu bus. Jisun memalingkan wajah saat airmatanya kembali bergenang. Saat semua orang yang ada di halte memasuki bus barulah ia mengeluarkan isakan.

Ia sangat terluka setiap memikirkan kata-kata adiknya. Sekuat apa ia berusaha tabah, namun otaknya terus saja mengingat perlakuan Sehun. Ia merasa sangat tak di hargai sebagai kakak, bahkan di depan temannya maupun orang lain tetap saja Sehun menistakannya. Ia semakin sedih saat mengingat kedua orang tua angkatnya selalu saja membandngkannya dengan Sehun.

Ia memalukan sedangkan Sehun sangat berharga. Itulah kata yang sering ibunya lontarkan padanya.

Sangat miris, ia benar-benar tidak tahan berada di keluarga itu. Namun bagaimana lagi? Rasa sayangnya pada keluarga Oh tak terhingga. Ia masih berat untuk pergi.

Jisun mengusap kedua matanya, dan saat itu juga soft lens yang ia kenakan terlepas. Lebih parahnya benda itu terjatuh.

“ya ampun.”

Sekarang sebelah matanya buram. Hanya tersisa satu soft lens dan ia terpaksa harus menyopotnya. Pandangannya menjadi tidak jelas. Jisun membuka tasnya dan kesulitan mencari sesuatu.

“ekmm…”

Sebuah suara membuat kegiatannya terhenti. Jisun menoleh dan menemukan seseorang berdiri di hadapannya.

Jisun menyipitkan matanya, berusaha melihat siapa yang saat ini ada di depannya.

“Maaf, kau siapa?”. Tanya gadis itu.

“Ya! Oh Jisun, tega sekali kau melupakan aku?”. Ujar seseorang di hadapannya. Kini Jisun mengerjap setelah mendengar dengan jelas si pemilik suara. Dengan cepat ia mencari kaca mata di dalam tasnya.

Belum sempat mendapatkannya, seseorang itu sudah menangkup wajahnya.

“Benar kan kau Oh Jisun?”.

Jantung Jisun berdebar semakin kencang, tiba-tiba airmatanya kembali menyeruak untuk keluar.

“k-kau?.”

“ini aku, sahabat sejak kecilmu. Byun Baekhyun.”

Jisun mematung, satu cairan bening berhasil lolos. Ia berdiri dan mendekatkan wajahnya . Wajah pria di hadapannya memang terlihat buram, namun ia mengenali postur tubuh itu walau sudah sangat lama tidak bertemu.

“Baek-Hyun? Baekhyun-ah?. Benar kau Byun Baekhyun?”. Tanya Jisun tak percaya. Ia masih menangis, merasa sedih juga bahagia. Orang yang selama ini pergi jauh meninggalkannya sekarang ada dalam jangkauannya. Ini seperti mimpi, Jisun sungguh tak percaya. Byun Baekhyun datang disaat tak terduga.

“Ne, aku kembali Jisun-ah.”

Tanpa pikir panjang, Jisun langsung memeluk sahabat sejak kecilnya itu. Ia sunguh merindukan Baekhyun. Belum lama ini ia mimpi bertemu dengannya dan kini jadi kenyataan.

Baekhyun tersenyum, ia sangat bahagia. Akhirnya, setelah 6 tahun lamanya ia bisa bertemu lagi dengan sahabatnya. Jisun pun begitu, gadis itu sangat senang karena orang yang dulu selalu menghiburnya kini telah kembali.

Mungkinkah Baekhyun kembali untuk mengobati luka hatinya?

Apakah sahabat sejak kecilnya itu masih sangat menyayanginya seperti 6 tahun yang lalu?

Jika Sehun alasannya untuk sakit, maka Baekhyun adalah obat yang akan menyembuhkannya.

Semoga saja.

.

.

.

TBC

Hai haiii…

Huaaa… kak vis balik post dengan ff baru, padahal ada  2 ff masih nganggur. Maaf yang lain aku hiatuskan karena aku mau fokus ama ff ini dulu. Lagi sakit hati ama orang rumah jadinya bikin ff ini.

Entah kenapa pengen bgt buat ff genre seperti ini. anak yang kurang perhatian. Seorang kakak yang di benci oleh adiknya sendiri.

Karena sejujurya kehidupanku gak jauh beda dari cerita ini.

Tapi aku bukan akak angkat loh ya ^^. Ini kuuubah biar lebih sedih aja.

Oke, adakah yang suka? jika iya silahkan komen dan kasih pendapatmu.

Jika banyak yang minat aku bakalan lanjut.

Minimal 10 komentar tentang ff ini.

Author juga butuh tanggapan reader lho. Reader itu motivasi para wpenulis.

Jadi,, yukkk tinggalkan jejakmu (gak maksa kok)

Budayakan menjadi good reader. ^^

So, cakap-cakapku segini aja.

Harapannya semoga suka. Maaf kalo banyak typo dan kata-kata aneh. Gak terlalu pinter buat  bahasa cerita.

See you next chapter ya…

Bye…Bye….

By : ByunPelvis

Iklan

6 thoughts on “[Author Tetap]-Bitter Fate (Chapter 1)

  1. Demi apapun pengen nangis kaaa 😭😭😭😭 sedihh, baru cerita awal aja udah begini. Tempeleng aja jisun si sehun 😤😤😤😤 plis lanjut kaaaa 🙏🙏🙏🙏🙏🙏💪💪💪💪💪

  2. aduh thor sampe deres bgt ni airmata,kok tega bgt itu sisehun .semoga dengan dtangnya baek jisun gk menderita lagi

  3. Huuwaaaaa 😭😭😭. Baru selesai baca… nyess bgt…
    Alda kira, Sehun yg bakal jadi kakaknya. Wah, Jisun yg tabah, ya 😰..
    Awas loh Hun, nanti kemakan omongan sendiri… *reader mengutuk :v 😈😂😂✌
    Suka alurnya, nge feel dan Baek nya cocok bgt bgt ^^..
    Ditunggu bgt next nya ya, Kak Vis 😉😘😚.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s