[Author Tetap]-Bitter Fate (Chapter 2)

cover real Bitter Fate

ByunPelvis

 Main Cast       : Oh Sehun , Oh Jisun x Byun Baekhyun.

Other Cast : Park Chanyeol, Kim Jong In, Yoon Sohee, ect.

Genre   :  Angst , Romance , Sad,  Family, AU.

Rating  : PG-15

Leght   : Chapter

Disclaimer : This story is mine. No Copy no paste. Sory for typo.

And Don’t be a silent readers. ^^

Typo banyak.

*

‘Aku ingin berjalan di tengah derasnya hujan agar tak ada yang tahu jika aku sedang menagis.’

*

‘aku ingin kau pergidari hidupku’

*

‘Aku kembali, aku ingin membahagiakan hatimu. Ku mohon, jangan menangis lagi.’

^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^

  (Chapter 1)

*


Jarum jam sudah semakin memuncaki pertengahan malam, dimana hawa dingin juga semakin bertambah. Di tengah gelapnya suasana dua insan tengah duduk  bersebelahan di sebuah taman. Gadis itu, Oh Jisun terus melirik pria di sampingnya dengan tatapan kecewa. Bagaimana tidak, selama ini Byun Baekhyun sangat jarang memberinya kabar. Sekrang tanpa diketahui olehnya, pria itu malah sudah kembali ke Seoul.

Melihat Baekhyun berdiri di hadapannya dengan penampilan lebih dewasa dari sebelumnya membuatnya terpaku. Sahabat manjanya itu sudah berubah menjadi pria yang sangat tampan.

Baekhyun sebenarnya ingkar janji. Dulu pria itu bilang hanya meninggalkannya selama 3 tahun.  Namun setelah di tunggu selama itu, sahabatnya tak juga kembali untuk menemuinya. Tadinya Jisun ingin melupakan Baekhyun karena terlalu marah.  Namun hatinya sulit untuk melakukannya.  Jika ia kehilangan Baekhyun,  kehidupannya mungin akan lebih hancur lagi.  Jisun tak mau,  sampai  akhirnya ia berusaha sabar untuk terus menunggu.

Sudah terhitung  6 tahun sejak mereka berpisah, bukanlah waktu yang sebentar bukan?. Sungguh, Jisun sangat merindukan Baekhyun .Ia rasanya ingin menangis  melihat sosok pria yang dulunya selalu ada untuknya kini berada dalam jangkauannya lagi. Tuhan ternyata menyayanginya.  Dirinya bagai diberi obat untuk mengobati sakit hatinya. 

“ekhmm..”

Baekhyun membuat suara, mencoba mencairkan keadaan yang cukup canggung.Tak ada pembicaraan lagi setelah keduanya berbincang tentang kondisi keluarga. Tidak ada sapaan gembira atau pekikan senang , Baekhyun merasa perbedaan pada Jisun semakin jelas.

Tak salah lagi, pasti penyabab seorang Jisun sedih seperti sekarang adalah keluarga gadis itu sendiri. Baekhyun mengetahui tentang semua masalah yang Jisun alami. Sejak kecil, Baekhyun tak pernah jauh dari  sahabatnya. Bahkan saat dirinya pergi meninggalkan Korea, ia tau betul bagaimana keadaan Jisun. Sekarang mengetahui kabar seseorang tidaklah sulit. Ia memiliki kaki tangan untuk memantau keadaan sahabatnya. Baekhyun menyayangi Jisun, ia tak mau gadis kesayangannya terluka.

Jisun membenarkan kaca mata yang di kenakannya. Lega sekali karena ia berhasil menemukan kaca mata minus dalam tas selempangnya, jadi sekarang ia bisa melihat jelas bagaimana paras tampan Baekhyun.

Gadis itu melirik sahabatnya dengan tatapan kesal. Sungguh, ditatap sangat detail oleh Baekhyun membuatnya cukup risih.

“berhenti menatapku seperti itu.” lirihnya. Ia merasa Baekhyun menatapnya dengan arti ‘kasihan’. Sedangkan Baekhyun hanya tersenyum tipis. Tangan kanannya terangkat untuk mengacak rambut Jisun.

Lihatlah!.Gadis itu bahkan hanya terdiam saat Baekhyun jail. Dulu sekali, Jisun akan sangat kesal dan berteriak marah jika seseorang membuat rambut gadis itu berantakan. Perubahan yang sangat tak terduga.

“Kenapa kurus sekali? Kau tidak menjaga pola makanmu ya? ”.  Kini nada bicara Baekhyun berubah kesal.

“aku diet.” Jawab Jisun beralasan. Kenyataan sesungguhnya ia memang tak bisa menjaga pola makan.  Jisun tipikal anak yang tak nafsu makan jika keadaan hatinya kurang baik.

Bagaimana tidak kurus, setiap hari hatinya selalu tergores pedang tajam milik orang-orang yang sangat di sayanginya. Ia sudah kenyang makan hati.

“Jisun-ah, jangan abaikan kesehatan. Aku akan sangat marah jika nanti kau sakit. Mulai sekarang aku akan mengawasimu lagi, sama seperti dulu. Mengerti ?”. Baekhyun bicara tanpa spasi, sama persis seperti 6 tahun yang lalu. Pria ini masih saja cerewet dan banyak aturan.

“hemmm, aku selalu telat makan” jujur gadis itu pada akhirnya. Baekhyun menghela nafasnya, ternyata benar apa dugaannya. Jisun tak menjaga kesehatannya. Dengan jail, tangannya terangkat untuk menyentil kening Jisun, sontak saja si empu memekik kesakitan.

“yaakk, kenapa menyentil keningku?” protes Jisun tak terima, ia tak tahu dimana kesalahannya sampai Baekhyun membuat keningnya memerah.

“aku akan menghukummu. Ikut aku, kau harus makan banyak malam ini.”

Dengan paksa, Baekhyun menarik tangan Jisun, keduanya berjalan cepat meninggalkan taman itu.

“hei.. aku mau pulang,. Ini sudah jam 10 malam.”

Baekhyun tak menghiraukan ucapan Jisun. Ia tetap saja membawa sahabatnya sampai masuk ke dalam mobil.

.

.

.

Sehun barusaja menapakan kedua kakinya di halaman rumah setelah jarum jam berada di angka 11 malam. Pria kulit susu ini membuka pintu utama dengan sedikit kasar. Jantungnya serasa ingin copot saat menemukan pelayan rumahnya berdiri tegak di belakang pintu.

“ajhuma, kau mengagetkanku. Ckk…”. Kesal Sehun dengan mata melotot. Tangannya mengelus dada untuk mengurangi debaran kencang pada jantungnya. Sehun langsung berlalu sembari mengumpat kesal.

“Tuan muda.”

Langkah Sehun terhenti, tubuhnya berbalik untuk menatap Yoon Ajhuma.

“apa?”

Setelah panggilannya di tanggapi, pelayan rumah keluarga Oh itu seolah kelu untuk mengajukan pertanyaan yang sejak tadi sudah tersimpan di pangkal tenggorokannya.

“N-nona Jisun belum pulang. Apa anda melihatnya?. Kata putriku, tadi nona sudah sampai halte, tapi entahlah mengapa sampai sekarang belum juga sampai rumah. Apa-“

”Ya! Ajhuma, apa itu menjadi urusanku? Masa bodoh. “

Sehun memotong kata-kata Yoon Ajhuma. Tanpa peduli ia melenggang pergi. Dengan perlahan kaki panjangnya menaiki anak tangga hingga mencapai lantai 2 untuk mencapai ruangan pribadinya. Saat akan membuka pintu kamarnya, ia sempat melirik ke samping yang tak lain adalah ruangan milik kakaknya. Entah darimana asalnya rasa penasaran yang hinggap di hati Sehun . Tanpa sadar kakinya melangkah mendekati pintu coklat tepat disishnya.

Tak tau kenapa Sehun ingin memastikan sendiri apakah benar Jisun belum pulang. Walau ia tak pernah peduli dengan kakak angkatnya itu, namun ia selalu tau jika saat jam seperti ini Jisun sudah duduk manis di rumah. Namun apa sekarang? Kata Jeon ajhuma Jisun sudah di hate dekat komplek namun bagaimana ceritanya sampai sekarang gadis itu tak ada di rumah?

Cklek

Knop pintu berhasil di buka. Ternyata tidak di kunci dan Sehun benar-benar membodohi Jisun. Bagaimana bisa seorang gadis tak mengunci pintu jika hendak pergi.

Sehun mulai menjamahi kamar Jisun. Pengharum ruangan beraroma strawbery langsung menyeruak ke indra penciumannya. Yang didapatinya hanya ruangan gelap.

“hah aku mulai gila.” Lirihnya. Walaupun merasa tak sudi, pada akhirnya ia malah semakin masuk menjelajahi kamar tanpa cahaya itu.

Sehun mencari saklar untuk menghidupkan lampu, dan setelah beberapa detik meraba dinding akhirnya ia menemukannya. Ruang kamar menjadi terang, Sehun bisa melihat ranjang kecil yang tertata sangat rapi.

“ckk… apa semua wanita menyukai merah muda?” herannya sembari memandangi tempat tidur Jisun. Matanya tak sengaja melihat sebuah foto diatas nakas. Sehun mendekat dan mengamatinya.

‘aku dan adikku’

Di bawah foto tertulis tulisan itu.

Sehun mengambil figura kaca dengan kasar. Ia merasa kesal karena foto yang menurutnya sangat jelek terpampang sebagai pajangan.

Foto itu adalah saat ia lulus SHS. Kira-kira satu tahun yang lalu. Saat itu semua keluarga datang untuk menghadiri upacara wisuda, termasuk Jisun. Menyebalkan sekali menurutnya karena harus kakaknya yang datang, itu karena kedua orang tuanya tak bisa hadir lantaran sibuk bekerja.

Saat acara wisuda selesai, Jisun memaksanya untuk foto bersama. Tentu saja saat itu ia menolak. Namun kakak angkatnya tak kehabisan akal untuk membuatnya mau berfoto bersama. Saat itu, Jisun memohon dengan mata berkaca-kaca. Sudah seperti itu ia pasti akan malu jika teman-temannya melihat, jadi dengan terpaksa Sehun menurut.

Dalam foto itu Jisun tersenyum sangat lebar  dan terlihat sangat bahagia, berbanding balik dengan Sehun yang malah memasang wajah datar.

“gadis bodoh.” Sehun meletakan kembali foto itu ke tempat semula.  Ia berganti menatap lainyya, tiba-tiba matanya menangkap sebuah buku kecil di samping bantal.

Kini rasa pensarannya benar-benar besar. Ia tau akan sangat gila jika mengambil buku yang sepertinya adalah sebuah diary.

“ckk… aku memang sudah gila.”

.

.

.

Baekhyun memaksa ingin ikut masuk setelah mengantar Jisun tepat di depan rumah keluarga OH. Mereka baru saja pulang dari acara makan besar, begitulah Jisun menyebutnya. Baekhyun sangat tega menyuruhnya makan ini itu sampai rasanya perutnya seperti akan meledak. Jika saja menolak itu baik, ia pasti memilih untuk tak menerima tawaran makan malam yang Baekhyun beri atau lebih tepatnya memaksa.

“ayolah, aku ingin bertemu ajhuma dan ajhussi.” Rengek Baekhyun. Pria ini terus berusaha untuk melewati tangan Jisun yang menghalanginya untuk masuk.

“Tidak Baekhyun-ah, ini sudah malam. Kau pulang saja, ya?. lagian kedua orangtuaku tak di rumah.”

Baekhyun menghela nafas panjang. Kini dirinya merasa seperi orang asing karena Jisun tak mengijinkannya masuk. Memang benar ini sudah malam, tapi hei… dulu saja mereka main bahkan sampai menginap. Namun sekarang apa masalahnya?

“Kau melarang tamu untuk masuk?. Tidak sopan sekali.”

“bukan begitu. Hanya saja-“

Kata-kata Jisun tergantung saat pintu utama terbuka dan memunculkan sosok Sehun yang sudah rapi dengan jaket hitamnya. Pemuda itu sempat terpaku saat melihat Jisun ada dihadapannya. Barulah setelah beberapa detik ia mengalihkan tatapannya.

“Oh Sehun, lama tidak bertemu?”

Suara Baekhyun membuat Sehun kembali menghentikan langkahnya. Seketika matanya membulat saat tau siapa yang berdiri di hadapannya

Sehun menatap Baekhyun dan Jisun secara bergantian. Tangannya mengepal tanpa sadar, dan rahangnya mengeras. Walau hatinya terasa aneh, Sehun tetap memaksa untuk tersenyum.

“ah… Baekhyun Hyung?”.  Sehun akhirnya mengeluarkan suaranya. Ia mendekat untuk menyapa Baekhyun. Mereka dulunya lumayan dekat dan Sehun juga sudah menganggap Baekhyun seperti kakak laki-lakinya. Ia memeluk Baekhyun untuk sekedar salam pertemanan.

Baekhyun tak menunjukan ekspresi lebih, entah mengapa rasanya ia ingin marah saat melihat wajah Sehun yang sebenarnya terbilang mirip dengan Jisun. Tangannya mendorong bahu Sehun hingga pelukan terlepas, Baekhyun juga memberikan senyum walau tak ingin.

“Hyung, kau kembali?.” tanya Sehun yang malah terdengar ambigu di telinga Baekhyun.

“ya, kenapa?. Kau tak suka?.  Sebenarnya kau bertanya atau mengajukan pernyataan?”. Begitulah balasan Baekhyun. Sehun melunturkan senyumnya. Ia berganti melirik Jisun dengan tatapan datar.

“Astaga kenapa kau ketus begitu?. Tentu saja aku senang. Setidaknya Oh Jisun memiliki teman.” Ucapnya masih menajamkan pandangannya pada sang kakak. Jisun menunduk, seperti biasa ia tak mau melihat sorot menakutkan milik Sehun.

“Oh Sehun, kau..-“

“sudah ya?. Teman-temanku menunggu di depan. Hyung, jika ada waktu aku ingin main denganmu. Bye.”

Sehun melenggang meninggalkan Baekhyun dan Jisun yang sekarang sedang berperang dengan pikirannya masing-masing. Jisun menatap kepergian adiknya dengan tatapan sedih.

Hampir tengah malam begini, Sehun pergi untuk bermain. Beginilah jika kedua orang tuanya sedang berada di luar kota. Sehun bebas melakukan hal yang disukainya. Dan jujur, Jisun sangat ingin mencegah adiknya itu namun tak berdaya. Ia akan merasa gagal menjadi kakak yang baik jika sesuatu yang buruk terjadi pada Sehun.

“anak itu tak juga berubah.”

Jisun berusaha tak terlihat sedih dihadapan Baekhyun. Sekarang ia malah tak ingin Baekhyun pergi. Mendapati perilaku dari Sehun selalu membuat hatinya sesak. Dan ia yakin jika Baekhyun bersamanya, perasaannya menjadi nyaman.

Sedangkan Baekhyun terdiam melihat Jisun melamun menatap gerbang di depan. Ia berniat  menyentuh kepala Jisun, namun saat hendak mendaratkan telapak tangannya seseorang menubruk bahunnya.

“Jisun-ah! Kenapa baru pulang hah?. Aku sangat khawatir. Ku kira kau tak akan kembali. ya aku sangat takut.” pekikan menyakitkan telinga terdengar sangat keras hingga Baekhyun menutup kedua telingannya. Ia heran melihat seorang gadis tiba-tiba datang dan berteriak di hadapan Jisun.

“Ya! jangan meneriaki Jisun seperti itu.” Ujarnya karena kesal dengan gadis asing yang terlihat akrab dengan Jisun.

Gadis yang tak lain adalah Sohee itu berbalik dan mengerjap saat mendapati pria asing berdiri di situ.

“siapa kau?” tanya Sohee dengan alis terangkat sebelah.

“aku-“

“YA! apa kau merayu Jisun dan mengajaknya jalan sampai malam seperti ini. Ya! kau tau dia bukan gadis sembarangan. “ lagi-lagi Sohee kembali berteriak , kali ini bukan pada Jisun melainkan dengan pria di hadapannya.

Baekhyun mengelus dadanya karena benar-benar kesal dengan gadis di hadapannya. Entah siapa yang jelas Baekhyun sangat tak menyukainya sejak pandangan pertama.

“hei.. kau bilang apa? aku merayu? Heol.”

Jisun menahan tawa melihat Baekhyun berekspresi seperti ‘tidak terima’ dengan kata-kata Sohee. Seperti itulah sahabat wanitanya, dia akan sangat galak terhadap pria yang berusaha untuk mendekatinya. Alasannya, Sohee tak ingin hatinya terluka hanya karena seorang pria.

“Sohee-ya. Dia juga sahabatku. Namanya Byun Baekhyun, dia yang sering aku ceritakan padamu.” Bisik Jisun, seketika itu Sohee melotot. Cara pandangnya yang sebelumnya galak menjadi luluh. Ia meringis dan menunduk sopan.

“oh, hallo. Haha jadi kau sahabat Jisun yang tinggal di USA itu?”

Baekhyun memutar bola matanya. Ia terlanjur kesal jadi malas meladeni gadis yang..  entah siapa namanya. Ia beralih menatap Jisun yang saat ini sedang tersenyum. Syukurlah, ia kira karena Sehun tadi Jisun menjadi sedih kembali.

“Jisun-ah. Kalau begitu aku pulang.” Pamit Baekhyun pada akhirnya. Jisun mengangguk walau sebenarnya tidak rela. Hatinya sudah hangat selama bersama Baekhyun tadi.  Kebersamaan mereka hari ini bagaikan mimpi. Jisun sangat takut semua itu benar-benar hanya mimpi.

Baekhyun berbalik, namun Jisun menahan dengan menggenggam lengannya. Pria itu memandang mata si pemilik tangan dengan tatapan tanya.

“ada apa? Jisun-ah?”.

“Baekhyun-ah, ini…..  bukan mimpi kan?”

Baekhyun tersenyum dan kembali mendekati Jisun. Dalam sekejap tubuh keduanya sudah menyatu. Baekhyun kembali memeluk Jisun.

“bagaimana? Kau masih menganggap ini mimpi? Hei Jisun-ah, ini nyata. Aku benar-benar kembali.” terang Baekhyun.

“hemm…”

Baekhyun melepas dekapannya dan tersenyum melihat wajah sendu Jisun.

“ Mulai besok aku akan jadi supirmu. Jangan pergi sebelum aku datang.” tegas Baekhyun.

Sedangkan Sohee yang sejak tadi melihat dua insan itu menutup mulutnya. Ia tak percaya sikap Baekhyun pada Jisun hanya karena sahabat semata. Memang tak salah jika seorang sahabat sangat perhatian, namun menurutnya ini berlebihan. Dari cara pandang,memeluk,dan tersenyum yang Baekhyun lakukan terlihat mengganjal di matanya. Dan Sohee tak perlu pusing untuk mendapatkan jawabannya.

“a-apa?. Ya, Baekhyun-ah aku tidak berangkat sendirian. Sohee-“

“aku tidak peduli. Jangan membantahku Jisun-ah.  Sudah ya,  aku pulang. Sampai besok.” Pamitnya. Jika berlama-lama menatapi Jisun mugkin Baekhyun tak akan bisa tidur malam ini.

Baekhyun berlari memasuki mobilnya tanpa mau mendengar kata-kata Jisun lagi. Setelah berada di dalam kendaraannya, pria ini menyentuh dada kirinya.  Debaran super kencang sangt mengganggu kerja otaknya.  Untung saja Baekhyun bisa menahan diri. Jika tidak,  ia pasti sudah salah tingkah.

Perasaannya tak pernah pergi,  sejak dulu sampai sekarang hanya seorang Oh Jisun yang bisa membuat kerja otaknya kacau.

Mobil audi silver milik Baekhyun meninggalkan halaman rumah Jisun. Kini hanya tertinggal dua wanita yang berdiri di sana.

“ya! ya! ya! jadi dia sahabatmu yang itu?” tanya Sohee dengan hebohnya.

“hemm”

“waaah dia sudah kembali. First lo-“

Sebelum Sohee melanjutkan perkataannya, Jisun sudah lebih dulu membekap mulutnya. Memang tidak masalah jika terucap karena tak ada orang lain yang mendengar. Hanya saja Jisun malu jika Sohee mengungkit tentang cinta monyet yang ia alami dahulu.

“ayo masuk!”

Jisun berjalan meninggalkan Sohee. Pipinya rasanya sangat panas dan ia tak mau Sohee melihat lalu menggodanya.

“Ya! Jisun-ah. jadi dia?”

“diam!”

.

.

.

.

Sehun sedang bersama Jong In  dan dua temannya. Sekarang mereka sedang berada di arena balap motor. Senyum meremehkan terukir saat seorang pria yang selama ini dianggap musuh oleh Sehun berada di pertengahan jalan. Sehun menggeber motornya. Ya, pria kulit susu itu kini telah mendapatkan sesuatu yang sudah diinginkannya sejak dua hari yang lalu. Sebuah motor dengan merk NCR Leggera 1200 Titanum spesial edition telah sah menjadi miliknya.

Senyum smirk terukir di bibirnya karena kendaraan yang ia miliki paling berkelas. Lawan balapnya malam ini tak main-main. Ia akan  mempertaruhkan jiwa dan raganya agar menang dan membuat musuhnya malu.

“Hei, Kim Junmyeon! Kau siap melawanku?”

Pria benama Junmyeon yang sedang duduk santai diatas motornya terkekeh mendengar tantangan Sehun.

“bocah tengik, kau masuk kedalam nerakamu karena berani menantangku.”

Kim Junmyeon langsung memakai helmya, motor sport yang tak kalah mahal itu sudah berpindah ke garis star. Sehun juga menyiapkan dirinya, ia akan berusaha memenangkan taruhan malam ini walau sebenarnya hatinya sedikit tidak yakin.

*

*

Pertandingan balap motor antara Sehun dan beberapa pembalap lainya telah usai setelah beberapa kali putaran. Setelah turun dari motor Sehun langsung membanting helmnya. Jong In yang ada di belakangnya berusaha menghentikan Sehun yang terus berjalan untuk menghampiri Junmyeon . Prria bermarga Kim itu tengah tertawa bersama gadis-gadis penghibur di area kemenangan.

Entah Sehun sedang sial atau memang payah. Ia tertinggal jauh di garis start dan pemenangnya malam ini jelas seorang Kim Junmyeon.

“Ya! Ya! Sehun-ah, sudah hentikan.” Jong In terus menarik lengan Sehun agar jalan temannya itu terhenti.

“Mingir! Dia berbuat curang karena hampir saja menyerempetku. Brengsek, apa itu caranya untuk mengalahkan lawan?” . Emosi Sehun semakin menganak, apalagi mendengar tawa dari musuhnya di depan sana.

“jangan membuat masalah. Harga dirimu sudah jatuh ke tangannya, Sehun-ah.” bisik Jong In.

“hah… sial.”

Jong In berhasil menghentikan langkah Sehun, ia menepuk bahu sahabtanya untuk sekedar menyabarkan.

Kim Junmyeon mengubah arah pandangnya, setelah melihat Sehun ia turun dari motor dan menghampirinya. Senyum kemenangan membuat Sehun bertambah muak.

“hei  Oh Sehun. Kau kalah hah?” tanya Junmyeon dengan senyum ejekan.

“kau mau apa?. Motorku?. Mobil? Ambil saja sekarang.” Ujar Sehun dengan entengnya. Ia sedang berusaha untuk tak memukul Junmyeon.

“Emm aku sudah bosan dengan benda-benda itu. Ada hal yang lebih menarik. Aku yakin kau akan langsung memberikannya padaku.” Ujar Junmyeon dengan penuh keyakinan. Sehun mengernyitkan keningnya sebagai gambaran tidak faham.

“katakan saja. Jangan mengulur waktu emasku, Kim Junmyeon-ssi!”

Jumyeon tertawa diikuti teman-temaannya. Smirk semakin menghiasi paras tampannya. Sangat senang melihat Sehun memasang wajah putus asa.

“ Gadis dari fakultas kedokteran bernama Oh Jisun, bukankah dia saudaramu?” tanya Junyeon sebagai awal perkataannya.

“kurasa…. aku menyukainya.” sambung Jumyeon dengan penuh penekanan. Orang-orang yang sedang memutari mereka terlihat serius menonton aksi sengit keduanya.

Sehun mengeraskan rahangnya saat nama Jisun terucap di bibir musuhnya. Dimanapun ia berada nama kakak ‘angkat’nya selalu memenuhi pendengarannya.

“kenapa? Kau mau mengencaninya? Ambil saja!”

Sehun langsung berbalik setelah mengatakan itu. Amarah dalam hatinya tanpa sadar semakin bertambah. Ia menghiraukan Jong In maupun Taeyong yang terus bicara padanya.

“Kalau begitu dekatkan aku dengannya. Jika tidak……”

Ucapan Jumyeon membuat langkah cepat Sehun terhenti . Nafasnya terhembus sangat berat dan hatinya menjadi sangat kacau. Entah perasaan apa itu, Sehun sendiri tak bisa menjawabnya.

“jika tidak?” tanya Sehun, matanya elangnya melirik Junmyeon setajam belati.

Sedangkan yang ditatap masih saja tersenyum meremehkan. Junmyeon maju dan berhenti tepat disamping Sehun. pemuda itu membisikan sesuatu yang sontak saja membuat Sehun bagai tersambar petir.

“brengsek kau.”

.

.

.

Jisun tengah tersenyum memandangi langit malam ini. Jarum jam sudah melewati jam 12, itu artinya ini sudah pagi.  Gadis itu baru saja mendoakan kedua orang tuanya. Bukan ayah dan ibu angkatnya yang sekarang, melainkan kedua orang tua kandungnya yang entah saat ini sedang berada dimana. Ia bercerita kepada kelamnya malam jika hari ini sahabatnya sudah kembali. Jisun bisa mendapatkan kembali kebahagiaan yang tadinya sempat hilang. Semoga saja ini awal dari cerita barunya.

Tatapan mata Jisun berpindah ke sebeuah kotak kecil berisikan buku tabungan juga brosur apartement kecil.  Ia membuka jumlah uang yang tertulis di sana.

“sebentar lagi, aku hanya perlu menabung sedikit lagi agar bisa membeli apartement kecil.”

Jisun sedang mengatur keuangannya. Selama ini uang saku yang diberi oleh orang tua angkatnya ia kumpulkan. Jisun sebenarnya diam-diam melakukan kerja paruh waktu, ia melakukannya agar bisa menambah uang tabungan untuk kehidupan mandirinya nanti. Ia tau tak selamanya bisa menumpang di keluarga Oh. Ada saatnya ia harus pergi dan menjabut namanya dari daftar keluarga ini. Kepergiannya adalah keinginan Sehun. Jika dengan meninggalkanrumah  ini membuat adiknya nyaman, maka Jisun tak akan berat hati. Dan setelah ia pergi, niatnya dalah untuk mencari orang tua kandungnya. Jisun sangat ingin bertemu keduanya.

Ia hanya perlu menunggu waktu yang tepat untuk melakukannya. Meskipun tak ada yang membantu, ia akan tetap berusaha.

“ Kau pasti bisa Jisun-ah.” yakinnya. Ia membereskan barangnya dan berpindah ke ranjangnya.

Seperti biasa, sebelum tidur Jisun akan melihat foto=foto kenangan masa kecil bersama kedua orang tua angkatnya dan juga Sehun. foto itu ada dalam buku diarynya.

“oh tidak! apa aku menghilangkannya?”. Bingungnya setelah tak menemukan buku kecil yang biasanya ada di atas ranjang. Jisun mengobrak-abrik kasur dan mengecek ke berbagai tempat. Sayang sekali, buku diary miliknya tak nampak sama sekali. Jisun menggigit kuku jarinya, kebiasaannya jika sedang cemas. Bagaimana jika bukunya jatuh di jalan? Atau tertinggal di perpustakaan? Oh tidak, Jisun sangat yakin hari ini diarynya ia tinggalkan di atas ranjang.

Sungguh, ia akan benar-benar menagis jika buku kenangan itu hilang. Hanya diary itulah yang bisa membawanya ke masa lalu. Di dalam sana banyak cerita saat Sehun masih menyayanginya.

Jisun menutup wajahnya dengan kedua telapak tangan lalu terisak. Ia hanya sedang menangisi kecerobohannya.

‘kumohon jangan hilang, hanya itu satu-satunya kenangan yang ku miliki bersama keluarga ini.’

Sekarang Jisun harus bagaimana?. Hanya diary’nya yang akan menjadi kenangan saat ia pergi nanti. Benda itu malah lenyap tanpa sebab. Nasibnya selalu saja buruk.

Namun Jisun tak akan berhenti, sampai kamar itu hancur pun ia akan tetap berusaha untuk mencarinya.

.

.

.

TBC

 

Ahh entahlah… ini kok gaje bgt yahh? Sorry ku lagi gak ada ide. Pendek dan tak banyak kejadian.

Sibuuuk bgt karena waktunya habis buat kerja dan istirahat.

Semoga aja bisa nyambung….

Sedikit demi sedikit yang penting lanjut.

Maaf ya kalo bikin bingung.

kalau sempat ini ff bakal next besok minggu lagi.

okay,,, author pamit dulu. mau bobo hehe…

thanks yah yang sudah mampir baca.

semoga suka….

see you next chapter…

 

 

 

 

Iklan

5 thoughts on “[Author Tetap]-Bitter Fate (Chapter 2)

  1. Eonniiii! 🙋🙋 Lama tak jumpaa. Wah, Aku baru sempet baca, cobaa 😭 .. Banyak beut tugas, dll. 😞
    Makin seruu… Nge feel bgt bgt bgt bgt kesekian kalinyaaaa 😍😍😍….
    “…Jika berlama-lama menatapi Jisun mungkin Baekhyun tak akan bisa tidur malam ini…” Waaah.. Ternyata Baek sama Jisun udah saling feeling dari dulu, ya? 😮 1st❤
    Suho nya juga suka jisun 😲.
    “…banyak cerita saat Sehun masih menyayanginya.” mulai dari kapan, Sehun benci Jisun? Apa sekarang Sehun mulai care atau ada perasaan lain ke Jisun? Diary nya juga dibawa aje sama Sehun 😏😄.
    Terus lanjut ya, Eonni.. Aku tunggu bgt ^^

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s