The Rest Love Pieces 나머지 사랑 조각들 — Slice #1

trlp

The Rest Love Pieces

나머지 사랑 조각들 — Slice #1

©2017 HyeKim’s Fanfiction Story

Starring With : ex-EXO’s Luhan as Luhan || OC`s Hyerim as Kim Hyerim

Genre : Romance, Drama,  AU, slight!Medical ||  Length : Twoshot  || Rating : Teenagers

Poster by : NJXAEM @ Poster Channel (thankchu mih)

´Luhan merupakan dokter yang mengirim diri ke negara konflik sebagai relawan. Satu hal yang pasti, dirinya hanya ingin menemui Hyerim, istrinya yang pergi meninggalkannya setelah sebuah keributan di rumah tangga keduanya. Memangnya alasan apa lagi dirinya pergi ke daerah di mana dirinya bisa menyabung nyawa bila tidak masih mempunyai kepingan cinta untuk Hyerim?´

Disclaimer :  This is a work of fiction. Any similarity of plot, character, location are just accidentally. This contain is not meaning for aggravate one of character/organization. All cast belong to God, their parents, and their agency. But the storyline is mine. Plagiarism, copy-paste without permission, and be a silent readers  are prohibited. Leave this story if you don’t like it.


“Tidakah kamu lihat masih adanya sisa keping cinta diantara kita?”


HAPPY READING

║█║♫║█║♪ ║█║♫ ║█║ ♪ ║█║

Aleppo. Mungkin rasanya ia bermimpi tatkala sekon ini netranya membingkai jelas kota yang termasuk dalam kota konflik nan ada di dunia. Namanya Luhan, dirinya menyandang profesi dokter. Manik tegasnya menyisir keadaan menyayat hati di sekitarnya. Kota nan seharusnya terlukis indah malah terporakporanda layak semilir angin yang lalu. Hancur, tangis, serta banyak pula nyawa melayang, semua bisa Luhan rekam jelas di otaknya kala ini.

“Aku tidak menyangka, keadaannya sekacau ini meski sering melihat diberita-berita,” vokal ayu seorang gadis menyentil gendang Luhan, lantas pria Lu ini pun mengalihkan atensi pada Sang Gadis yang sama-sama menyandang profesi dokter sekaligus relawan di sini.

“Apa kamu ingin pulang sekarang, Xuan Yi setelah melihat jelas di depanmu keadaan Aleppo? Kamu pasti paham, ‘kan sekarang bagaimana khawatirnya ibumu saat kamu main bergabung ke MSF[1],” komentar Luhan, mengamati raut santai namun tersirat pias milik Wu Xuan Yi—dokter yang sama-sama berdarah Tiongkok layaknya dirinya.

Gadis Wu ini menyorot irisnya pada Luhan, acuh tak acuh pula Xuan Yi mengedikan bahunya. “Tidak juga. Ibuku, ‘kan memang over padaku. Aku tetap tak mau kembali.”

Kembali Xuan Yi menjatuhkan fokus sekeliling dari bak terbuka truk yang mengangkut para dokter MSF, dalam hati menyayangkan beberapa puing yang mungkin dahulu berdiri kukuh membingkai bangunan indah nan memanjakan mata. Luhan sendiri tak peduli akan kekerasan kepala salah satu rekannya di rumah sakit selama tiga bulan terakhir ini, maka dari itupun, ia juga sibuk menyisir ke sekeliling, menanti truk yang membawanya bersama para dokter lain dari berbagai negara, sampai ke tempat tujuan.

Menyajikan beberapa kemirisan di Aleppo, hati Luhan teriris, berdenyut keras menyisihkan luka. Antara iba  kepada para warga di sini juga lolongan keras hatinya berfrasa apakah sosok yang ingin ia temui, masih bisa dirinya temukan di tengah kota porakporanda oleh  serangan brengsek para tentara tanpa belah kasihan yang tak mengidahkan hukum perang. Napas Luhan terhela kemudian menunduk dalamlah kepalanya, pun jari-jarinya terpaut menjadi satu.

“Ngomong-ngomong,” tiba-tiba, Xuan Yi berfrasa lantaran hanya dirinya dan Luhan yang dari Beijing, maka frasa berbahasa Mandarin tersebut ditujukan pada Luhan. Pun Luhan sudah mengangkat kepala dengan alis berjungkit pada rekannya.

Tampang serta kelereng mata Xuan Yi terlihat penasaran sembari menelengkan kepala. “Kenapa kamu mendaftar ke MSF, Lu? Ingin mengorbankan nyawamu seperti aku?” kekehan menghiasi difinal tanyanya, menyebabkan Luhan menoreh tatapan datar serta tajam.

Bola manik Luhan berputar, masih membinar kedataran dari obsidian, Luhan mengimbuhkan, “Aku tidak seperti dirimu yang kurang hajar membuat ibumu jantungan saat mendaftar ke MSF dan berlagak sok dengan nyawa karena berprofesi sebagai dokter,”

Sarkas imbuhan Luhan tidak dibawa perasaan oleh Xuan Yi yang malahan kian terkekeh dengan cengirannya. “Lalu? Kamu ingin apa di sini? Ya, aku tahu pasti ingin menyelamatkan para nyawa tapi—Hei! Kamu ini dokter tercerdas di Haidan Medical Centre. Kamu ini tidak peduli apapun termasuk halnya perempuan,” sajak katanya pause dahulu sebab memasukan kekehan ditengah-tengah, Luhan pun tambah menatap datar Xuan Yi. “Ya, well, kamu tidak seperti aku yang penuh tekad juga nekat, jadi aneh saja kamu main pergi ke sini.”

Kegemingan menerjang Luhan. Benaknya terbang jauh hingga terjatuh pada satu bingkai wanita dengan kuluman senyum manisnya. Rindu, hanya itu deskripsi yang bisa Luhan urai pada sosok Si Wanita.

Dengan pikiran menerawang jauh serta setia berimaji akan sosok wanita manis dalam benaknya, Luhan merespon utar tanya Xuan Yi, “Aku ingin bertemu seseorang di sini,” dan dirinya melirik Xuan Yi yang membuka mulut serta mendadak antusias. “Ada seseorang yang kurindu dan dia ada di sini.” lantas manik Luhan menerawang kembali ke arah lain, berasa akan bertemu dengan sosok yang ia rindu.

║█║♫║█║♪ ║█║♫ ║█║ ♪ ║█║

Hurry up, guys! We have another passient! (Cepat, kawan-kawan! Kita mempunyai pasien lain)” pandu seseorang bernama Johnny—salah satu dokter yang berwarga negara Inggris, kepada para dokter MSF nan sibuk di tenda klinik.

Sibuk dengan berbagai korban menggambarkan rinci tenda klinik. Akan tetapi, belum juga satu menit dari datangnya korban wanita hamil yang tertembak di bagian pergelangan kaki, sudah ada lagi korban yang berjatuhan. Melihat adanya seorang dokter nan tidak terlalu sibuk, Johnny meneriakinya.

“Adeline, ke mari! Bantu aku menangani pasien yang baru datang,”

Merasa namanya diteriaki, Adeline Kim—wanita berdarah Korea yang memakai nama internasionalnya di sini, membelokan kepala ke arah Johnny. Dirinya membuang napas dahulu sebelum akhirnya mengayunkan tungkai.

For the god’s shake, Johnny! Aku sedang membantu Carel dan kamu main—“

Tangan Johnny melambai-lambai di depan muka Adeline  berserta wajahnya yang jengah akan omelan Adeline yang akan tumpah. “You waste your time for complaint. (Kamu membuang waktumu untuk komplain) Sekarang, kamu hanya perlu membantuku, oke?”

Johnny menyambar lengan Adeline, menggeretnya ke sisi pasien yang baru berlabuh ke klinik. Seorang anak remaja berumur lima belas tahun terlihat terluka di lengannya hasil dari peluru pistol. Anak lelaki tersebut menekan lukanya sambil merintih. Adeline Kim menampakan air wajah ibanya lantas dengan gesit menggeser diri ke arah anak laki-laki tersebut.

Manik Adeline  menilik seberapa dalamnya luka tembak yang tertoreh pada lengan anak lelaki tersebut, “Johnny! Ambilkan kain kasa,” imbuh Adeline tanpa menoleh pada Johnny.

Cekatan, Johnny menyerahkan kain kasa yang tadi sudah ia ambil. Lekas Adeline menerima kain kasa tersebut dan menekan luka tembak Si Anak Lelaki guna menghentikan pendarahan. Anak lelaki nan terluka pun melolongkan rintihan.

“Akh,”

Adeline mendongak dan menyungging senyum menenangkan, dengan bahasa Arabnya yang setengah fasih, Adeline melafal aksara lembut, “Tenang. Lukamu akan sembuh. Yang kuat, oke?” anggukan lemah menjadi respon Si Anak, kian merekah pula senyum Adeline untuk menenangkan.

Detik berikut, setelah pendarahan berhenti, dokter garis Kim ini memeriksa denyut nadi Si Anak kemudian menoleh ke pada Johnny yang berdiri di belakang Adeline nan berposisi berjongkok di samping velbed[2] pasien.

“Kita operasi sekarang untuk mengeluarkan peluru yang ada di lengannya,” imbau Adeline, pun Johnny setuju dengan menunjukannya melalui anggukan. Persetan dengan tempat yang kurang higienis, toh banyak pula korban di sini yang tak pandang bulu untuk dioperasi segera.

Jarum suntik berisikan obat bius dipegang oleh Adeline sekon ini. Perlahan, dirinya menyuntikan obat bius di daerah lengan yang tertembak. Sebagai asisten, Johnny menenangkan anak yang merintih pelan tatkala diberi suntikan bius.  Sehabisnya, suntikan tersebut dialihkan ke Johnny nan lekas menaruhnya di tempat asalnya.

Dengan mengadahkan tangan berbalut sarung tangan operasi, tanpa menaruh atensi pada Johnny, “Scalpel,[3]” imbuh Adeline.

Otomatis Johnny memberikan benda yang dimaksud. Secara telaten, Adeline membelek luka tembak tersebut. Sakit tak dirasa anak lelaki yang terkena luka tembak dikarenakan obat bius yang disuntikan padanya sebelumnya. Setelah luka tersebut terbuka, manik elang Adeline beraksi mencari eksitensi peluru yang tertoreh di dalam. Mengembalikan kembali scalpel, Adeline mengimbuhkan lagi hal lain kepada Johnny.

Tisseu foceps,[4]

Alat untuk menjepit tersebut sudah teralihkan ke tangan Adeline. Fokus, Si Wanita berdarah Korea ini mengambil perlahan peluru yang menancap di dalam tubuh pasiennya. Setelah terjepit oleh alat yang Adeline gunakan, tissue focepspun ia tarik serta dirinya menaruh peluru tersebut ke paratus yang telah disodorkan Johnny.

Adeline menatap pasiennya, dilengkapi pula senyum manisnya. “Kita tinggal menjahitnya. Jadi tetap tenang, ya.”

Lalu atensinya kembali pada luka Si Pasien. Dengan benang jahit yang sudah disiapkan Johnny, Adeline pun menjahit luka tersebut secara perlahan. Ditengah mengobati anak luka tembak tersebut, dokter-dokter MSF yang baru datang pun sampai ke klinik. Beberapa dari mereka langsung dipikulkan tugas untuk membantu pasien nan kian deras.

Satu dari para jejeran dokter baru, terdapat Wu Xuan Yi dan Luhan. Gadis Wu tersebut terlihat mengipasi dirinya dengan tangan kanannya dikarenakan oleh temperatur cuaca yang lebih panas dibanding Beijing.

“Huh, ya Tuhan. Belum apa-apa sudah dapat tugas dan juga panas sekali,” eluhnya mengundang Luhan meliriknya sekilas.

Berserta alis berjungkit, Luhan menyahuti secara sarkastik, “Menyesal datang ke sini, huh?”

Segera Xuan Yi balas menatap Si Lelaki Garis Lu dengan tekuk wajah berusaha biasa. “Tidak, ya. Aku akan mengerahkan seluruh tenagaku di sini. Bukan sepertimu yang ke sini hanya untuk bertemu seseorang.” oloknya dengan menjulurkan lidah sebentar.

Luhan hanya membalasnya dengan air wajah datarnya. Oleh sebab pasien yang kian deras berlabuh ke klinik, kedua dokter asal Tiongkok itupun bergegas menolong walupun ini hari pertama keduanya di sini. Tatkala berjalan, Luhan tanpa sadar melewati tempat Adeline berada. Dirinya tak melihat barang sedikitpun eksitensi Adeline yang berjongkok tepat membelakanginya. Keduanya tidak menyadari akan hadirnya satu sama lain, hanya saling tak mengacuhkan tanpa disadari.

║█║♫║█║♪ ║█║♫ ║█║ ♪ ║█║

Hari berlalu. Timing bergulir. Mentari kian turun di ufuk barat. Cucuran keringat membasahi pelipis Luhan bahkan seluruh tubuhnya. Selain hambatan iklim yang lebih panas, pekerjaan suka rela sebagai relawan memang bukan hal remeh temeh. Hampir sepuluh jam penuh semenjak dirinya datang, Luhan dijejali beberapa pasien nan kian pesat memasuki klinik. Adapula para dokter MSF yang tadi turun langsung ke tempat kejadian perkara—tetapi Luhan tidak masuk ke dalamnya, dirinya tetap mengobati para pasien di klinik.

Sekon ini, Luhan setidaknya bisa merehatkan diri. Tubuhnya dia bawa duduk di atas velbed yang akan menjadi tempat tidurnya mulai sekarang. Bisa dikata, Luhan tengah bernaung di tenda tempatnya tinggal. Gigitan diberi oleh giginya pada sebungkus roti, sekiranya untuk menghalau lapar.

Langkah kaki memecah memasuki gendang Luhan, menarik atensinya ke arah pintu masuk tenda tempatnya akan bermalam. Figur Xuan Yi segera tersajikan setelahnya, Si Gadis menebar senyum sebelum akhirnya masuk tanpa permisi dan ikut duduk di sebelah Luhan.

Xuan Yi membuka botol minuman yang ia bawa, meneguknya setengah kemudian mendesah panjang. “Hahhhhh… lelah sekali,” ujung mata Luhan pun melirik gadis di sebelahnya sambil mengunyah roti. Seketika, Xuan Yi menstir kepala ke arah Luhan. “Ngomong-ngomong, aku penasaran pada orang yang kamu cari di sini. Perempuan kah?” seraya menggoda, Xuan Yi menaikan satu alisnya.

Roti yang terkurung di mulutnya pun tertelan. Sejenak, bola netra Luhan berputar dan menghunus iris Xuan Yi dengan biasan mata selayak biasa—datar. “Iya, perempuan. Kenapa?” kembali rotinya digigit oleh Luhan.

Rasa penasaran Xuan Yi jadi meningkat, dirinya menilik Luhan antusias. “Wah! Sudah kuduga kenapa kamu selalu cuek pada suster dan dokter perempuan di rumah sakit,” kepala gadis garis Wu ini menggeleng-geleng singkat dengan mulut membentuk o, “Pasti kamu ke sini menyusul cinta pertamamu, ya? Atau mantan pacarmu?” lengan Xuan Yi menyenggol-nyenggol lengan Luhan dengan godaan tersirat di wajah serta tatapannya.

Risih. Pokoknya Luhan merasa begitu. Sebuah jitakan finalnya melayang di kepala Xuan Yi, membuat gadis tersebut mengaduh dan memberhentikan aksi menyenggol lengan Luhan, tergantikan dengan aksi mengelus samsak jitak Luhan. Pandangan Luhan terbuang ke depan, kembali ia menerawang sambil mengunyah rotinya. Belum juga Xuan Yi melayang protes, Luhan sudah menyerobot lebih dahulu.

“Dia bukan mantanku. Ya, mantan pacar bisa dibilang,” bahu Luhan mengedik dengan raut tak acuh. Sedangkan Xuan Yi makin digerubungi penasaran. “Cinta pertama? Sayangnya bukan. Tapi dia cinta terakhirku,” dwimanik Xuan Yi otomatis berbinar mendengar frasa kelewat manis Luhan—yang terkenal sebagai dokter kaku bin dingin. “Dan dia sebenarnya…” kepala Luhan berbanting stir ke arah Xuan Yi, netranya penuh kelekatan diiringi senyum tipis mengembang. “… istriku.”

Sesuai prediksi, Xuan Yi tampak syok dengan membuka juga menutup mulutnya beberapa kali. Luhan sendiri berlagak santai dengan menghabiskan rotinya kemudian membuang sampahnya ke tempat sampah yang ada di tendanya. Tatkala kembali duduk di sebelah Xuan Yi, gadis Wu tersebut dengan seenak jidat menyarangkan pukulan di bahu Luhan, membuat Luhan menatapnya risih.

Dengan kecengoan masih ada di rautnya, “Kamu sudah menikah? Serius? Kenapa tidak pernah bilang?” Xuan Yi menodong tanya begitu.

Luhan menggaruk tengkuknya. Perlahan, kepalanya mencetus anggukan. “Ya. Kamu tahu, ‘kan aku lama tinggal di Korea? Bahkan ibu serta ayahku masih tinggal di Seoul. Aku berkencan dengan perempuan satu tingkat juga satu fakultas kedokteran denganku. Hubungan kita sampai kejengjang pernikahan,”

Saat Luhan menstart dongeng, Xuan Yi saksama mendengarkannya tanpa berniat menyela dan hanya sesekali mengangguk. “Kita berkerja di satu rumah sakit yang sama setelah menikah. Tapi… karena kebodohanku, istriku meminta cerai,” sajak kata Luhan diakhiri oleh nada miris dengan senyum serupa.

Di tempatnya sebagai peran pendengar, Xuan Yi bergeming dan menatap dalam Luhan. “Jadi… kalian sudah bercerai?” vokal Xuan Yi dikumandangkan hati-hati ketika bertanya.

Sebuah gelengan dengan ranum merekahkan senyum tipislah jawaban Luhan. “Aku tidak pernah menandatangani surat cerainya,” menunduk dilakukan Luhan setelahnya, tangannya teramit menjadi satu di atas pahanya. “Dan saat itu, istriku mendaftarkan diri menjadi relawan di MSF. Kamu tahu? Dengan bodohnya aku tidak mencegahnya, gengsiku tinggi. Dirinya pun pergi meninggalkanku walau aku tahu dia ingin dicegah olehku. Aku malah pergi ke Beijing. Kita tidak pernah bercerai, aku tidak pernah menandatangani suratnya. Tapi setelah tiga bulan berlalu, aku makin merindukannya dan menyusulnya ke mari.”

Dongeng Luhan ditutup dengan dirinya membuang muka ke arah samping. Banyak berjuta rindu yang ingin ia sampaikan, pun frasa maaf yang ingin dirinya kumandangkan. Sebuah tepukan di bahu dilakukan Xuan Yi pada Luhan guna rekannya ini tegar.

“Aku tidak tahu kebodohan apa yang kamu lakukan sampai istrimu mengajukan cerai,” imbuh Xuan Yi setelahnya, tangannya pun masih setia mengelus bahu Luhan. “Tapi setidaknya, kamu rela ke sini untuk menemuinya dan meminta maaf padanya. Kamu bisa memperbaiki segalanya, Luhan. Aku yakin istrimu akan memaafkanmu.” hibur Xuan Yi dengan menyungging senyum menenangkan.

Luhan menatap rekannya selama tiga bulan terakhir ini. Xuan Yi merupakan rekannya yang paling dekat dengan Luhan, setidaknya. Gadis ini kelewat hyper dengan sifat kepala batu yang menjadi wataknya. Sifatnya malah menghantarkan rindu Luhan kian berlebih pada sosok istrinya.

Tiba-tiba, Luhan mendengus menahan tawa. “Kamu tahu, sifat kepala batumu itu membuatku makin rindu pada istriku,” frasa Luhan yang mana Xuan Yi jadi melebarkan matanya. “Istriku juga keras kepala sepertimu, tahu. Dia juga termasuk hyperactive, apalagi saat kita masih kuliah.”

Dengusan Xuan Yi tercuat, tangannya ditarik dari bahu dan beralih menorehkan pukulan di lengan Luhan. “Kalau begitu jadikan saja aku pengganti istrimu.” guraunya diselipi oleh kekehan. Luhan pun jadi ikut terkekeh.

Dimasa atmosfer hangat tersebut masih terjalin disertai oleh kekehan, sosok lelaki menerobos masuk tenda Luhan. Fokus Luhan berserta Xuan Yi lekas beralih ke arah lelaki berdarah Spanyol tersebut yang dikaruniai nama Pedro. Raut pucat Pedro menandakan akan keadaan darurat yang bisa dibaca oleh Xuan Yi dan Luhan.

“Kita butuh bantuan kalian,” silabel teresebut disajakan Pedro dengan panik, sebelum kedua dokter berdarah Tiongkok yang ada di situ bertanya. “Para dokter MSF yang tadi turun tangan ke pasar yang diserang, terkena luka tembak dan sebagian meninggal karena serangan susulan.”

Dwimanik milik Wu Xuanyi dan Luhan pun mutlak melebar. Keduanya refleks bangkit dari duduk santai mereka. Pedro pun kembali menyambungkan kata, “Ada dua orang yang terluka parah dari para dokter yang selamat. Salah satunya seorang perempuan, dia berdarah Asia dan orang Korea,” detik berikut, Pedro memberikan sebuah dokumen pada Luhan dan Xuan Yi.

Lantas, kedua orang tersebut pun mengambil dokumen yang tersodorkan ke mereka. “Aku dengar kamu, Luhan. Kamu bisa berbahasa Korea, jadi mungkin akan lebih enak berkomunikasi dengan dokter perempuan dari Korea ini dan merawatnya untuk beberapa waktu kedepan. Dan Xuan Yi, kebetulan juga dokter dari China lah yang akan kamu rawat,”

Dokumen yang dipegang Luhan serta Xuan Yi pun mulai dibuka, bait-bait kata yang tertera mulai dibaca. Dokumen tersebut mengiformasikan keadaan dokter yang sudah dioperasi barusan dan akan mereka berdua rawat. Seketika saja Luhan termangu membaca aksara nama yang tertoreh di kertas dokumen.

“Dokter dari China yang akan  kamu rawat bernama Zhang Yixing,” ujar Pedro sambil menatap Xuan Yi, Si Gadis pun balas menatap dengan mengangguk paham. Kemudian, Pedro beralih menatap Luhan dan berujar. “Dokter dari Korea yang akan kamu tangani bernama Adeline Kim, itu nama internasional yang dia pakai di sini. Tetapi, nama aslinya adalah—“

“—Kim Hyerim.” potong Luhan dengan muka kosong dan sorot iris penuh arti pada aksara nama yang ada di kertasnya.

Ya, Adeline Kim atau lebih familiarnya Kim Hyerim, adalah wanita yang Luhan rindu. Wanita yang dulu Luhan sia-siakan. Wanita nan berstatus sebagai istrinya yang sedang ia cari di sini.

║█║♫║█║♪ ║█║♫ ║█║ ♪ ║█║

Agaknya, Adeline Kim atau bisa disebut pula Kim Hyerim, gontai saja menjalani perihal yang tengah terjadi padanya. Tertembak di bagian perut sebelah kiri. Umpatan dalam hati terus terlaksana, tetapi well, ini bukan kala pertama Adeline atau Hyerim, mengalami luka ketika tengah menjalani tugas di Aleppo. Tiga bulan. Waktu yang lumayan lama untuk bergerliya di daerah konflik seperti ini. Meski realitanya, lukanya yang sekarang lah yang paling parah.

Velbed yang menaungi Hyerim bergoyang tatkala Si Wanita membalik tubuhnya, menjangkau ponsel di meja yang berada di sebelah kanan velbednya. Obsidiannya disapa beberapa pesan teks dari Sang Ibunda, pun Sang Ayah. Pesan-pesan yang sudah selayak makanan sehari-hari Kim Hyerim. Contohnya seperti; ‘Apa tugasmu hari ini berat?’ ‘Sudah makan belum?’ ‘Kapan kamu akan pulang, Hyer?’ ‘Kamu tidak rindu pada Luhan?’. Sialan, pertanyaan rindu akan sosok tersebut membuat dengusan keras Hyerim terlaksana, bola matanya pun berputar. Rindu? Bila boleh jujur, Hyerim masih berharap pada sosok mantan suaminya—O, Luhan belum menjadi mantan suaminya, sayangnya. Akan tetapi, luka yang ditumpukan Luhan padanya, sudah lelah Hyerim pikul. Maka dari itu, wanita Kim ini memilih berlari, meningalkan sepucuk surat cerai serta menjejakan kaki di  Aleppo. Menyibukan diri ditengah negara porak poranda.

Langkah kaki menyentil telinga Hyerim, disertai jua sosok yang memasuki tenda tempatnya berada. Lantaran memunggungi Si Sosok yang baru datang dengan sibuk memainkan game di ponsel, Hyerim jadi tak tahu siapa yang mendatanginya. Well, dirinya sudah menduga bahwa seratus persen yang datang ialah dokter yang akan merawatnya sampai membaik.

Hello, glad to meet you. I have heard that you’re a new doctor from China, (Hai, senang bertemu denganmu. Aku telah mendengar bahwa kamu adalah dokter baru dari China)” sapa Hyerim masih memunggungi dokternya dan tak mengalihkan atensi dari ponselnya—mungkin bisa dikata tak sopan, tapi Hyerim sedang amat terlarut pada gamenya.

Hening terpecah, hanya suara game Hyerim lah yang mendominasi dengan gumaman pelan Si Wanita sesekali. Dokter dari China tersebut bergeming, bibirnya kelu, kepalan tangan telah tercipta otomatis, irisnya menusuk sosok Hyerim dengan sayu tersirat jutaan rindu terlafal dalam hati. Hasrat ingin memeluk Si Wanita pun menggebu.

Merasa janggal, lidah Hyerim bersua lagi dengan atensi masih pada game ponselnya, “Kenapa kamu diam saja?”

Dan hal tersebut membuat Si Dokter dari China terkesiap. Terlebih dahulu, ia berdehem membersihkan tenggorokannya. “Senang bertemu denganmu juga Adeline Kim,” vokalnya kalem menggunakan bahasa Korea fasih. Mendengarnya, Hyerim menghentikan penggerakan pada jari di layar ponsel, pun netranya melebar. “Atau mungkin aku bisa memanggilmu dengan nama Kim Hyerim. Nama yang tidak asing untukku, omong-omong.”

Tunggu, vokal ini rasanya familiar. Harmoni acak mulai berkumandang di rongga dada Hyerim. Asanya akan sosok tersebut untuk hadir jadi timbul. Dengan jantung berdegup, secara perlahan, Kim Hyerim membalik badannya. Cengkeng matanya yang melebar, kian melebar saat merangkum sempurna sosok nan tengah berpijak beberapa jengkal di depannya dikacamata korneanya.

Diterjang kaget seketika, berusaha Hyerim menetralkan diri dan bersajak super pelan, “Ka… mu?” lantas matanya mengerjap-ngerjap, memastikan ini hanya ilusi belaka atau realita.

Menyemat senyum simpul, Luhan—dokter yang akan merawat Hyerim, mengantongi tangannya di saku celana jinsnya. Perlahan, alat berjalannya terayunkan mendekat ke arah Hyerim yang malah memasang tampang was-was.

“Ya, ini aku,” respon Luhan akhirnya, pita suaranya setenang plus selembut salju. Hyerim masih membolakan matanya, pun tatapannya teriring ke manapun Luhan bergerak, masih syok. “Lama tidak berjumpa istriku.”

Luhan menarik kursi di dekat velbed Hyerim, lekas membanting bokong di situ, sematan senyum simpul kelewat manisnya masih terbit. Sok bebas dosa, dirinya menatap Hyerim lembut. Sekon ini, sepertinya Kim Hyerim sudah pulih benar dari kekagetannya, bahkan dia sudah menatap Luhan memicing.

“Kenapa kamu bisa ada di sini, huh?” sinis tertampilkan dari nada serta tatapan wanita berkeluarga Kim ini. Gengsi masih ditanam, walau hati berdesir melihat sosok suaminya lagi.

Senyum Luhan malah kian terbit, “Menyusulmu,” jawaban yang sukses membuat getaran hebat di jantung milik Hyerim. Sembari menabrakan korneanya dengan Hyerim, Luhan melafalkan lagi. “Aku masih mencintaimu maka aku menyusulmu. Aku juga merindukanmu maka aku ingin menemuimu.”

Mempertahankan gengsi serta ego, Hyerim berakhir mencengkram kuat ponsel di kukung tangannya, rahangnya turut mengatup, juga dagunya agak terangkat berserta iris tajam memicingnya.

“Kamu kerasukan sesuatu, Luhan?” ejeknya dengan kekehan sarkas. Tak merasa sakit hati, senyum tipis malahan tertarik di kurva Luhan, memaklumi respon istrinya. Dengan tatapan mengolok, “Jangan bicara omong kosong. Aku tidak ingin bicara denganmu selain kamu mengatakan sudah menyetujui surat cerai kita.” itulah kata-kata penuh penekanan dari Hyerim.

Membuang napas singkat, Luhan menyungging senyum lagi. “Tidak bisa begitu, Nyonya Lu,” terselipi panggilan nan nyatanya membuat Hyerim terpaku sekon ini. Mengamit tangannya jadi satu di atas paha, Luhan membungkukan tubuh condong ke Hyerim dengan tatapan lurus-lurus pada wajah istrinya. “Aku di sini berperan sebagai doktermu dan banyak sekali yang harus kuomongkan. Kamu harus menurut padaku Nona Adeline Kim. Karena aku seorang dokter yang merawatmu.”

Menghempas jatuhnya dirinya pada Luhan untuk kesekian kalinya, Hyerim mengeluarkan dengusan dengan tatapan serta raut datar. “O, ya, aku pun dokter di sini, Tuan Lu. Jadi aku bisa menuruti diriku sendiri.”

Gelengan singkat Luhan teraksi, “Kubilang dokter yang merawatmu Nona Adeline,” ingat Luhan dengan tenangnya, kontras dengan Hyerim yang makin melihatkan kesinisannya.

Sorot mata tajam terlayangkan dari Hyerim pada Luhan, “Berhenti memanggilku dengan Adeline,” ucapnya, risih.

Ranum Luhan mengembang senyum lagi tetapi kali ini tersirat menggoda. “Lalu? Aku harus memangilmu apa? Sayang? Istriku? Honey? Darling? Baby? Wifeu?”

Alis Luhan terangkat sebelah dengan air wajah menggoda. Sedangkan Hyerim cengo dengan mulut terbuka lebar, tak mengira Luhan akan menjadi sosok seperti ini. Dahulu, suaminya ini dingin tak tersentuh, jarang pula berekspresi.

Memasang tampang berjengit ngeri, Hyerim bervokal. “Aku yakin kamu bukanlah Luhan yang kukenal.”

“Tentu saja,” sambar Luhan kilat, membuat Hyerim mengernyit. “Aku ingin memenangkan hatimu kembali, maka aku pun berubah untuk memperbaiki kesalahanku dimasa lalu.” adalah kata-kata Luhan seraya  menatap lurus-lurus tepat di obsidian Sang Istri dengan sungguh-sungguh.

║█║♫║█║♪ ║█║♫ ║█║ ♪ ║█║

Menjelang hari esok, kondisi Hyerim memang membaik namun tetap memerlukan rehat karena luka tembak bukanlah hal sepele apalagi di bagian perut sebelah kirinya. Akan tetapi, wanita tersebut bukannya berada di balik selimut di atas velbednya, Kim Hyerim malah bersinggah ke bangunan bergaya neo klasik dan gothik yang setengahnya sudah hancur. Wanita satu ini asyik mengabdikan bangunan tersebut dalam kamera ponsel. Walau sudah tiga bulan berpijak di Aleppo, tetapi Hyerim belum barang sekali menikmati diri layaknya turis bila berada di luar negeri, sebab akan tugasnya sebagai dokter MSF.

“Kamu memang keras kepala,” sebuah suara menyentak Hyerim, membuatnya membelokan kepala ke sumber suara. Terdapatlah Luhan nan tengah berkacak dengan muka datarnya. “Apakah ada waktu untukmu berfoto-foto dengan cengiran bodohmu saat luka tembakmu belum mengering sepenuhnya, Nona Adeline?”

Memasukan ponsel ke saku jins pendek di atas lututnya, Hyerim melayangkan tatapan terganggu pada Luhan dengan air wajah memberengut. Dengusan keras mengawali awal mula Hyerim berkata. “Kubilang jangan panggil aku Adeline! Risih saat kamu memanggilku begitu.”

Luhan menelengkan kepala dengan alis berjungkit. “Tetapi kamu memakai nama itu di sini, Hyerim sayang,” sisipan kata sayang melekatkan lem pada ranum Hyerim. Si Wanita bergeming. Sementara Luhan tersenyum lebar. “Dan nama Adeline adalah nama internasionalmu yang aku berikan.”

Hyerim hanya mendengus, tak mengelak atau mengeluarkan frasa apapun. Menghadapi Luhan yang dingin dan kaku sepertinya tidak sesukar menghadapi Luhan yang berubah hampir 180 derajat layaknya sekarang. Tungkai Hyerim kembali terayunkan, sengaja dirinya menabrak keras bahu Luhan tatkala melewati lelaki satu itu. Kembalilah Hyerim bergelut dengan ponselnya, mengabdikan potret sekitar. Di belakangnya pun, Luhan mengekori dengan tersenyum-senyum. Sesekali, lirikan ditorehkan Hyerim dengan risih.

Aktifitasnya lekas dihentikan seketika, pun Hyerim membalik badan dengan memangku tangan di pinggang. Sorot irisnya tajam bercampur risih kepada Luhan yang berdiri di depannya. “Bisa tidak, tidak mengikutiku?”

Dengan tenang, Luhan meloloskan deheman lalu menyungging senyum manis—sumpah, Kim Hyerim ingin sekali menarik bibir Luhan sampai sobek, dahulu suaminya ini sangat sukar menebar senyum keramah tamahan. “Aku doktermu, Nona Adeline—Ups, maksudku, Kim Hyerim. Aku bertanggung jawab atas kesehatanmu sekarang.”

Dwimanik Hyerim berputar dengan jengah. “Hei! Aku cukup sehat, tahu. Ingin kubuktikan, hah?” tubuh Hyerim beranjak mendekati Luhan dan berusaha melayangkan tinjuan ke bahu pria Lu ini. “lihat, aku bisa meninju—Eh!” namun tinjuannya meleset dan tubuhnya malahan oleng seraya pekikannya pecah.

Panik, Hyerim melebarkan obsidiannya dan ekuilibriumnya sungguh hilang total. Luhan yang tepat di depannya pun refleks meraih lengan Hyerim dan menarik tubuh Si Wanita ke arahnya serta memeluk pinggangnya. Kim Hyerim tersentak tatkala tubuhnya menabrak tubuh Luhan, perlahan maniknya menatap wajah Luhan yang sangat dekat dengan wajahnya. Luhan pun tengah menatapnya sebelum akhirnya memberikan sentilan di dahi Hyerim.

“Aw!” membuat Hyerim mengaduh dengan memejamkan netra sejenak. Sehabisnya, wanita garis Kim ini melayang binaran mata kesal.

Sedangkan Luhan, dia mengaksikan gelengan berserta decakannya. “Seperti biasa, ceroboh.”

Ranum Hyerim mencebik. Masa berikut, perempuan ini baru menyadari akan tangan kanan Luhan yang melingkar di pinggangnya, menyebabkan rona di pipinya terlukis meski samar. “Ya! Lepaskan pelukanmu di pinggangku!”

Terangkat satulah alis Luhan, tercetak jua raut menggodanya berserta senyum menyeringai menghiasi. “Kalau tidak mau?” frasanya refleks membuat Hyerim memutar bola mata lagi.

Tangan Hyerim mulai melayangkan pukulan-pukulan juga dorongan-dorongan di bahu Luhan guna pelukan di pinggangnya oleh Luhan, terlepas. “Heh! Lepaskan. Aku tidak mau disentuh olehmu—“

Akan tetapi, obsidian Luhan tahu-tahu melebar dengan arah tatap lurus-lurus. Air wajahnya pun terbingkai pias. “Heh! Awas! Tentara musuh!” bass Luhan pecah divolume lumayan nyaring.

Mutlak pula netra Hyerim ikut melebar, aksi memukul dan mendorong bahu Luhan pun jadi memelan. Keseimbangan tubuh dara marga Kim ini kembali oleng. “Heh! Heh!” ujaran abstrak lolos dari mulut Hyerim, panik akan eksitensi tentara musuh yang  ada di belakangnya—menurut apa yang Luhan lontarkan.

Sekon selanjutnya, Luhan menarik tubuh Hyerim mendekat. Dibawalah tubuhnya berserta tubuh Sang Dara terjatuh di atas tanah, upaya juga menghindari tentara musuh yang kornea matanya tangkap. Sahlah tubuh Hyerim menindih tubuh Luhan kala ini, manik dara Kim tersebut pun tak terekspos rapat-rapat. Di lain sisi, Luhan malah melengkung senyum sembari memeluk tubuh Hyerim erat.

Hening menyelimuti. Bukannya suara rusuh tembakan ataupun derap langkah bising—yang harusnya menjadi khas akan adanya para tentara musuh. Netra Hyerim mulai terbuka dengan picingan nan tersorot kepada Luhan yang malahan senyam-senyum.

“Hei!” tegur Hyerim, dibelit bingung. “Mana tentara musuhnya?” lontar tanyanya dengan volume nyaring. Sebuah lirikan diberikan Luhan padanya, dan seuntas senyum serta mimik jahil pun diaksikan jaka satu ini. Lantas Hyerim memahami situasi. “HEH! KAMU BERBOHONG MASALAH TENTARA MUSUH YANG DATANG?” persetan menimbulkan kebisingan, teriakan Hyerim mengudara.

Segera Hyerim menjauhkan diri dari kukungan Luhan yang mendekapnya. Perlahan jua tubuhnya mulai berdiri dan membereskan penampilannya. Irisnya menusuk tajam Luhan yang masih mempertahankan posisi berbaring dengan paras santai serta senyuman seirama.

“Sialan, Luhan, sialan, brengsek. Kamu membuatku takut, bajingan!” Hyerim menumpahkan umpatannya pada Luhan. Kakinya turut menyentak-nyentak kasar bumi sebelum akhirnya tubuhnya berbalik dengan merajut langkah lebar-lebar pertanda kesal.

Di tempatnya, Luhan mulai berdiri. Dipandangi lah punggung Hyerim yang mulai hilang dari sudut pandangnya dengan senyuman simpul.

║█║♫║█║♪ ║█║♫ ║█║ ♪ ║█║

“Brengsek, bajingan, sialan, keparat.” masih digerubungi kesal, Hyerim menderap langkah lebar-lebar dengan mimik tertekuk habis-habisan disertai umpatan-umpatan kasar terkhususkan pada Luhan. Kepalan tangannya pun tercipta menandai kejengkelannya. “Dia pikir lucu apa mengerjaiku dengan begitu? Dasar Luhan keparat—“

“—He-hello!”

Sebuah sapaan dengan munculnya seorang gadis, memenggal dumelan Hyerim yang refleks tersentak dengan mimik kaget dan memegangi dadanya yang berdentum seketika.

“Ya Tuhan!” desah dara bernama Kim Hyerim ini, berusaha pula dirinya merendam kaget dan mulai menyensor dari atas sampai bawah oknum yang menyapanya.

Menarik kesimpulan, gadis yang menyapanya ini berdarah Asia tetapi bukan orang Korea. Karena, Si Gadis menyapanya dengan bahasa Inggris dan penuh akan keraguan—bila sesama orang Korea, kenapa harus ragu, bukan? Lagi, gadis ini bukan orang Jepang sebab relawan Jepang belum ada sama sekali semenjak Hyerim menjadi relawan tiga bulan ini. Dipastikan, gadis Asia ini dari China. Tapinya, Hyerim tidak kenal atau belum pernah menyapa gadis China ini namun dara ini malah seakan kenal dengan menyapanya. Kesimpulan besarnya, Kim Hyerim yakin bahwa dara yang main menyapanya ini adalah rekan atau kenalan Luhan.

Memberi tatapan ragu, Hyerim mengutar tanya walau sudah melakukan hepotisis. “Kamu mengenalku?”

Responnya adalah anggukan santai, dara berdarah China ini mengulurkan tangan seraya menarik ranum ke atas sangat lebar. “Wu Xuan Yi,”

Gotcha! Dari namanya, Hyerim yakin bahwa perempuan bermarga Wu ini adalah rekannya Luhan. Dengan lakon ragu didalamnya, Hyerim balas menjabat. “Adeline Kim. Tapi karena kita sama-sama orang Asia, panggil saja aku Kim Hyerim.”

Acara menjabat dan melempar nama masing-masing pun beres. Xuan Yi tampak masih menyemat senyum kelebarannya yang malahan membuat Hyerim risih, apalagi Xuan Yi menatapnya lekat-lekat.

“Aku sebenarnya sudah tahu tentangmu, kok,” Xuan Yi berkata seakan benar-benar tahu siapa Hyerim. Hyerim baru saja mau mengatakan dalam hati bahwa Xuan Yi sok kenal— “Kamu istrinya Luhan, ‘kan?” —tetapi diurungkan segera saat, well, Xuan Yi tahu siapa dirinya dan Hyerim sempat lupa akan prasangka dibenaknya bahwa Xuan Yi adalah rekannya Luhan.

Sebuah sungging risih terlukis di bibir Hyerim, parasnya pun demikian. “Aku bukan lagi istrinya. Well, masih, sih. Tapi, sesegera mungkin aku tidak akan menjadi istri dari orang itu.” sanggah Hyerim.

Kornea Xuan Yi mendapati barang berkilau melingkar di jari manis Hyerim. Senyum tipis dara bermargakan Wu ini pun mengembang. “Namun, kamu masih memakai cincin pernikahan kalian berdua. Luhan pun begitu.”

Dilihatnya, Hyerim seakan tertangkap basah dengan mengatupkan mulutnya beberapa kali, bingung ingin bersanggah bagaimana. “I—itu… ah, sudah, Nona. Kamu tidak berhak ikut campur akan pernikahan kita berdua.”

Baru rajutan langkahnya ingin terurai untuk beranjak, Xuan Yi bersajak, “Luhan sangat mencintaimu,” dan langkah Hyerim sontak terhenti dengan tubuh kaku. “Dirinya merindukanmu. Aku yakin kamu lebih mengenalnya. Untuk apa dia ke tempat ini, ke tempat di mana dirinya bisa menyabung nyawa, bila tidak masih memiliki keping cinta untukmu?” kelereng mata Xuan Yi bersibobrok dalam dengan manik Hyerim yang kosong. “Kumohon, rujuklah dengannya. Kalian masih sama-sama memiliki keping cinta tersisa, bukannya begitu?”

Mimik Hyerim nan kosong sudah berubah dengan memupukan keangkuhannya, dagunya digerakan agak terangkat. “Urusi, urusanmu, Nona Wu. Kamu tidak tahu apa-apa tentang kita berdua,” diafragma Hyerim mulai naik turun  tak menentu dengan sesak menghampiri, memori akan kesakitan yang Luhan tanam pun mulai timbul muncul di ruang benaknya. “aku memahaminya selama ini. Dia yang jarang berekspresi, tapi aku selalu memahaminya karena aku yakin cintanya hanya untukku. Tetapi, apa yang sudah dia lakukan dahulu padaku, sungguh menyakitiku. Aku tidak bisa menerimanya.”

Likuid dengan perwakilan kaca-kaca mulai ingin merembes dari matanya. Maka Hyerim memilih beranjak sesegera mungkin. Diafragmanya kembang kempis tak menentu, sakit yang berusaha Hyerim kubur selama tiga bulan terakhir pun mulai muncul lagi.

“Memangnya apa kesalahan yang Luhan lakukan?” walau tahu lancang dengan sok ikut campur, Xuan Yi mempertaruhkan keberanian untuk bertanya.

Lagi, Hyerim menunda langkahnya dengan dada terhentam keras, tetesan likuid mulai turun dan secepat mungkin diusap kasar olehnya. Seraya memejam kelopaknya, Hyerim beraksara secara perlahan dengan kesesakan hebat. “Dia…, Luhan… berselingkuh.”

║█║♫║█║♪ ║█║♫ ║█║ ♪ ║█║

Punggung dengan bahu bergetar tersebut perlahan mengurai langkah ditemani oleh koper nan tergeret berat—sama hal dengan hati, pun kakinya tuk meninggalkan rumah maupun kenangan yang terajut bersama sosok yang dicinta. Likuid hangat mengenang di obsidian, kepala yang menunduk hanya kedok semata akan sisi lemah yang tak ingin dilihat orang lain.

“Kim Hyerim,” namanya terkumandang dari arah belakang. Meski ego berkata terus maju, namun hati memenangkan pertikaian untuk mempause pacuan langkahnya.

Luhan—oknum yang baru memanggil, menorehkan tatapan dalam pada punggung Hyerim. “Apa maksud dari semua ini? Kamu ingin pergi?” oktaf Luhan menjulang tinggi. Rahang Si Pria turut mengatup diiringi diafragma naik turun tak menentu.

Di bawah bibirnya diberikan sebuah gigitan keras, kelopak maniknya terpejam erat oleh Hyerim. Perlahan, tubuhnya berputar dengan iris bergetar membinarkan likuid brengsek yang siap meluncur.

“Kamu tuli?” imbuh Hyerim, sarkastik tertarik dari ujung ranumnya. “Aku akan jadi relawan MSF di Aleppo. Dan surat cerai di meja makan harus kamu tanda tangani secepatnya.”

Tampang Luhan mengerut. Dalam diri ada hasrat ingin menarik Hyerim ke rengkuhan, membisikan frasa ‘jangan pergi’ tepat di telinganya. Akan tetapi, ego membentur langitnya masih membelit Luhan, maka hanya irisnya nan menusuk figur Hyerim lah yang teraksikan kala ini.

“Sudah kubilang, Hyejin bukan siapa-siapa!”

Ketegasan terunsuri di nada bicaranya. Tetapi, ringisan di kurva bibir Hyerim lah yang meresponnya. Hati Sang Dara terlanjur remuk, terpecah belah berceceran tanpa bisa digabungkan kembali. Maka sajak kata Luhan barusan, sukar—malahan, memang tidak Hyerim percaya.

“Bukan siapa-siapa katamu?” ringis Hyerim. Keparatnya dikala begini, kristal bening di pelupuknya bercucuran dengan refleksnya. “Bukan siapa-siapa yang kamu terima senang hati untuk candle dinner light bersama. Bukan siapa-siapa yang kamu terima di kamarmu, begitu?” kelekit Sang Istri, menguarkan kesinisan dari maniknya.

Karbondioksida Luhan terbuang berat. Layangan tatapannya lurus-lurus merangkum obsidian Hyerim yang bergetar menahan tangis berkelanjutan. “Aku tidak menerimanya di kamar kita—”

“—Kamarmu,” ralat Hyerim kilat, setia jua dengan kesinisannya terpampang. “Jangan kira selama ini aku diam, aku tidak akan pergi, Luhan. Aku muak, tahu! Dan tidak usah berakting seakan kamu membutuhkanku, brengsek. Saat aku pergi kamu pasti akan bersama Ahn Hyejin, bukan? Busuk!”

Sehabis melontar uneg-uneg yang menjanggal hatinya, kembali lah Hyerim menstir tubuhnya berbalik. Sekali lagi, hatinya berbisik untuk tinggal namun egonya memenangkan pertikaian dengan berbisik untuk pergi. Tungkai Si Dara mulai terayunkan, menunduk lagilah kepalanya dengan memejam netra meloloskan likuid tanpa isakan mendominasi—Kim Hyerim menahan isakan lolos dengan membekap mulutnya. Diafragmanya pun turut naik turun, menyisihkan sesak membelengungi. Asa dalam diri yakni Luhan mencegahnya dengan menariknya untuk tetap tinggal, tak terealisasi sama sekali.

Luhan, dia hanya bergeming, menatapi bahu Kim Hyerim nan naik turun sebab tangis dengan menahan lolongan isakannya. Dengan bodohnya, Luhan melepas kasihnya pergi meninggalkannya.

║█║♫║█║♪ ║█║♫ ║█║ ♪ ║█║

Malam telah menyambut Aleppo. Bintang bertebaran dengan eloknya di atas negara yang terporak poranda, tanpa mengacuhkan sama sekali bagaimana keadaan tempat yang tengah ia hiasai dengan keindahannya bersama Sang Bulan. Kim Hyerim, dirinya melabuhkan diri di atas velbednya, maniknya menerawang ke lampu yang tergantung di tendanya. Ranum wanita Kim ini mengerucut, nyatanya lebih membosankan tidak memiliki kerjaan dibandingkan sibuk dengan beribu pasien di klinik.

Derap langkah terdengar mendekati tenda milik Hyerim, disusul timbulnya sesosok pria dengan sunggingan senyum hangatnya. “Malam Nyonya Lu,” adalah sapaan Si Sosok yang baru muncul.

Fokus Hyerim beralih kepada sosok pria yang baru datang, dengan delikan tajam. Tebaknnya benar bahwa yang menyungging sapaan ‘Nyonya Lu’ padanya hanya satu orang, tak lain dan tak bukan hanyalah Luhan—yang sekarang tengah menggeret diri lebih mendekat ke arah Hyerim.

“Adeline atau Nyonya Lu adalah sapaan yang sangat dilarang untuk kamu ucapkan padaku,” setelahnya, Hyerim memunggungi Luhan dengan pipi mengembung.

Spontan Luhan tersenyum lebar mendengar kata-kata wanita bernamakan Kim Hyerim ini. Sah pula Luhan berdiri di samping velbed Hyerim, ditatapi lembut paras samping wanitanya sembari menyungging senyum lebar. Tubuh Luhan menunduk, membabat spasi antaranya dan Hyerim lantas disarangkan sebuah ciuman di pipi kanan Hyerim olehnya. Lekas yang diberi ciuman pun melebarkan obsidian dengan kagetnya, tingkah kurang hajar Luhan menyebabkan serangan mini di rongga dada Hyerim.

Sedang Luhan, pria Lu ini telah menegakan tubuhnya kembali dengan senyum polos menghiasai mukanya. Di sisi Hyerim, dirinya membelokan perlahan kepalanya hingga saling bertabrakan dengan manik Luhan, terbuai panjang dalam kornea lembut Si Pria.

Hey, what the hell you did to me before? (Hei, apa yang kamu lakukan padaku tadi?)” semprot wanita bernama lengkap Kim Hyerim ini diiringi pelototan horrornya. Masih saja Luhan tebal muka dengan cengiran mengembang.

Luhan menaikan satu alisnya dengan melihatkan tampang menggoda. “I just kissed you on the cheek. Do you want more in your lips, honey?  (Aku hanya menciummu di pipi. Kamu ingin lebih di bibirmu, sayang?)”

Refleks napas Hyerim terhela dengan mimik tak habis pikirnya. Dilayangkan binar tajam berasalkan dari dwimaniknya. “I will punch your idiot face if you did it to me— (Aku akan memukul wajah idiotmu jika kamu melakukannya padaku—)

Frasa Hyerim terpenggal lantaran Luhan secepat kilat membungkuk serta berbisik, “Then just punch me, sweetheart, (Maka pukul saja aku, sayangku)” setelahnya, Luhan pun menyerang bibir Hyerim. Lantas cengkeng mata Hyerim melebar dengan percepatan gila-gilaan di rongga dadanya.

Ugh sialan, ternyata bibir Luhan masih semanis dulu, bahkan kecandauan dalam diri Hyerim pada bibir Luhan rasanya meningkat. Keparat, Kim Hyerim merasa terjadi gangguan di otaknya. Tatkala Luhan menstart lumatannya, Hyerim mendorong bahunya kuat-kuat dan memberikan cubitan keras hingga Luhan memberikan spasi lebar antara keduanya.

Segera Hyerim beranjak dari posisi tidurnya. Diafragmanya naik turun akan napasnya yang tersenggal. Rona pipinya malah mengudara jua disituasi dirinya melayangkan tatapan tajam pada Luhan yang tersenyum kalem.

“Kamu benar-benar butuh pelajaran,” kelit Hyerim, kobar amarah tampak di korneanya.

Alat berjalannya menggeser diri mendekati Luhan dengan kepalan tangan berancang-ancang menonjok pipi Si Pria Marga Lu ini. Sayangnya, kegesitan Luhan segera menghalau kepalan Hyerim dan malahan menarik lengan wanita yang mengepal ini untuk membawa Hyerim ke dalam pelukannya. Lagi-lagi Hyerim tersentak, berusaha dirinya melepas diri dari kukungan Luhan.

“Hei, lepas! Aku tidak mau disentuh olehmu!” hardikan istrinya yang mengudara, hanya berupa angin lalu bagi Luhan yang malahan mengeratkan pelukan.

“Kamu yakin tidak ingin disentuh olehku?” Luhan menyerong tatapan pada Hyerim nan berada dalam kuasa dekapannya, dan masih pula wanita Kim ini meronta ingin dibebaskan. “Kamu yakin ingin melepas diri dari pelukanku padahal jantungmu berdetak begitu?” ranum Luhan mengembangkan senyum simpul.

Bait kata Luhan suskes membuat Hyerim bergeming dengan pipi semerah tomat. Ugh sialan, kenapa jantungnya meski mengumandangkan harmoni acak segala, sih? Memalukan. Sekon selanjutnya, kelonggaran terjadi pada pelukan Luhan untuk Hyerim, ditatapi lekatlah paras wanitanya yang memilih tak memandang langsung dirinya.

“Tidakah kamu lihat masih adanya sisa keping cinta diantara kita?” selembut simfoni, Luhan berkasara demikian, mengundang tatapan Hyerim tuk menyelami dalam obsidiannya.

Lama terpana, finalnya Hyerim mendengus keras tercampuri kegelian. “Keping cinta?” ulangnya sarkastik dengan binar kornea seirama. “Kamu cocok jadi pelawak dibandingkan dokter, sepertinya.”

Sarkasme Hyerim nyatanya tak membuat Luhan goyah. Sang Jaka lantas mengangkat dagu milik Hyerim, memaksa wanita kesayangannya ini menyelami dalam obsidian kecoklatannya, mengundang keterpanaan kembali menerjang Hyerim yang lantas bungkam seribu bahasa.

“Pipimu merah,” ialah imbauan Luhan dengan senyum simpul, mendapati rona kemerahan di pipi Hyerim. “jantungmu berkontraksi. Tatapanmu tersirat rindu. Apa lagi bila bukan masih menyisihkan keping cinta padaku?” bola mata Hyerim bergetar gugup, merasa tertangkap basah tanpa bisa menyangkal satu frasa pun. “Aku masih mencintaimu—bukan, aku tidak pernah berhenti mencintaimu, Kim Hyerim.”

Kelu di mulutnya berusaha Hyerim hapuskan, salivanya ia teguk susah payah. “Lepaskan pelukanmu, Dokter Lu. Ini sudah melewati batas antara pasien dan dokter—“

Melihat pamor masih terbendung dalam diri Hyerim, Luhan lekas membabat spasi antara keduanya lagi seraya memiringkan kepalanya dengan menabrakan lagi bibirnya pada bibir Hyerim. Frasa Kim Hyerim tertelan secara paksa lagi, maniknya juga membulat serta mengerjap dungu. Lumatan dilayangkan oleh Luhan, ciuman yang diaksikan masih sepihak tatkala Hyerim tak kunjung memberi balasan. Tapi, ego wanita Kim ini luntur, hati dan tubuhnya mengkhianati dirinya ketika Hyerim perlahan merespon ciuman Luhan, terbuai panjang dalam lumatan lembut yang dilayangkan dari satu sama lain.

Tautan keduanya lepas, perlahan Luhan membeber spasi dengan kontak mata tidak terputus sama sekali. Tepat di hadapan wajah Hyerim dengan seuntas senyum lembut, dirinya membisikan. “Lihat? Kamu masih menyimpan sisa keping cinta padaku, Hyerim.”

계속 / TBC—

[1] MSF = kepanjangan dari Médecins Sans Frontières dan dikenal juga sebagai dokter tanpa batas atau dokter lintas batas.  Merupakan organisasi yang awalnya berdiri di Prancis yang beranggotakan tenaga medis dan sering bertugas di daerah konflik atau daerah yang mengalami musibah.

[2] velbed = tempat tidur lipat kapasitas satu orang dengan rangka dari besi atau yang lain dan biasanya digunakan oleh para tentara.

 [3] Scalpel = pisau operasi yang berfungsi untuk melakukan  pembedahan.

[4] Tisseu foceps = pinset operasi yang berfungsi untuk menjepit jaringan atau organ.


Ha-i! Lagi-lagi si Elsa dengan enggak tahu diri ngepost FF baru wakakakakak. Gak apa dah gak tahu diri, yang penting inget identitas /ohok ohok/ Sebenernya ini bukan project baru/selingan, gak, gak. Ini cuman 2 chapter kok. Dan yap, masih ada TBC-nya. Chapter 2nya masih dalam proses. Insya Allah minggu depan udah ada. Dan ini FF udah menjamur, ‘kan sayang gak dilanjut-lanjut, poster juga udah lama rikeusnya huhu :”>

Entah kenapa ini ngerasa ala dots gitu yakkk, jadi inget FF ane yang This Love, ‘kan ya well, beda sih soalnya Luhannya di sini dokter bukan tentara wahahahaha. Dan istilah medis di atas, aku minim banget, IPA aja aku peanya naujubilah, hanya referensi dari om gugel kemudian dari adegan drama-drama koriya medis yang setidaknya buat aku ‘ngeh’ dikit sama hal medis. Semacem jadi tau scalpel, tisseu foceps, dll (?) intinya kalau ada kesalahan, silakan monggo koreksi di box komentar ^^

Di sini masih samar kah akan kelanjutan HyerLu mau bagaimana? Masih ya, apa bener nih Luhan selingkuh? Kalau iya kampret banget dia dateng ke Hyerim dengan tebal muka wakakakakak :”’> intinya silakan saksikan chapter 2nya nanti, shay, akan gimana ini mereka berdua.

Catch Me On : WordPress & Wattpad

.HyeKim

 

Iklan

4 respons untuk ‘The Rest Love Pieces 나머지 사랑 조각들 — Slice #1

  1. Ouw aku kira awalnya oneshoot, aku juga anak IPA dan aku juga tidak tau sama semua itu memalukan ya anak IPA seperti aku ini padahal cita cita aku jadi dokter loe #abaikan komen yang itu# hihihihi bagus kok ffnya aku suka deh tapi jangan sad ya endingnya thor aku was was deh kalau endingnya nanti sad soalnya rawan sekali situasinya di tempat seperti itu, dan lagi Hyerim sudah beberapa kali kena pelurunya jadi takut atau nanti Luhannya oh tidaaaaaaaaaaaaak author jangan sad ya endingnya

    • Wkwkwk gak kok ini 2shot XD nanti juga tau kalau udah kuliah dikedokteran ahahah, apalagi aku, lebih gak tau lagi :”””D modal liat drama korea doang hahah mana kalau liat adegan operasi suka geli sendiri /abaikan/

      Wihiw makasih ya udah suka. Sad gak ya sad gak ya sad gak ya /ditampar bolak-balik/ kan gereget di daerah rawan, reuni lagi ini pasangan suami-istri :”””)) hyerim kan setipe bongsun, strong women kok dia mau kena tembak berapa kali /ciaaa/ luhan juga kuat kok wkwkwk

  2. Etdaaah
    Dua2nya gengsi setinggi langit. Untung aja si luhan agak nyosor ato emang nyosor banget wkwk dan hyerim gak kuat sama the power of lovenya luhan
    Ini yg kek curhatan pribadi ya saa??? Wkwkwk

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s