[Author Tetap] What is Pain (Chapter 1)

Cast: Park Chanyeol, Oh Sekyung (OC).

Genre: Romance, hurt

Rate: PG-13

Disc: THIS STORY IS CLEAR FROM MY MIND. Jangan plagiat dan copy paste!

Like dan comment ya πŸ™‚

.

.

.

It’s Over, Isn’t it?

Aku menatap laki-laki itu dan tersenyum. Parasnya sangat lucu dan tampan, dia sangat baik dan ramah. Banyak gadis yang menyukainya, tadinya aku tidak berfikir aku akan juga menyukainya dan aku tidak menyukainya.

Namun selama ini, aku berbohong.

.

.

What is pain?

*거짓말 (A lie.)

Author pov*

Oh Sekyung, gadis itu tersenyum tatkala melihat seorang laki-laki yang menatapnya setelah menunggu hampir 1 jam.

“Apa yang kau lakukan?” Tanya laki-laki itu terlihat sedikit jengkel.

“Maaf, aku harus menyelesaikan tugasku.” Sekyung tersenyum kecil lalu menarik tangan laki-laki itu.

“Ayo!”

Mereka berjalan dan berjalan, Sekyung menatap punggung laki-laki yang berjalan cepat di depannya.

“Heni, Suho dan Minji tidak ikut?” Tanya Sekyung yang dibalas gelengan oleh Chanyeol.

Lagi, hari itu mereka ber2 saja. Bukan sebuah kencan namun terasa seperti kencan.

“Tugasmu sudah selesai?” Chanyeol mulai membuka pembicaraan, ia menatap Sekyung yang sekarang berjalan disebelahnya.

“Belum, aku harus mengerjakan beberapa lagi besok.”

“Bagaimana dengan yang lain? Mereka sudah selesai?”

“Mira, Chaena dan Baekhyun sudah selesai namun masih ada yang belum.” Sekyung merengek betapa sulitnya pekerjaan yang harus dilakukan, Chanyeol mendengarkan.

Mereka selalu melakukan itu, bukan karena saling suka, tapi saling mengerti.

Chanyeol adalah sosok yang tertutup namun sebenarnya adalah orang yang memiliki banyak masalah. Ia tidak bercerita atau melakukan hal-hal seperti marah-marah atau kesal. Ia lebih diam dan berfikir saat ada masalah.

Disisi lain, Chanyeol juga sangat mengerti sifat Sekyung yang mudah stress dan depresi. Chanyeol juga mengerti bahwa Sekyung tidak terlalu terbuka sama sepertinya namun juga berbeda. Saat Chanyeol memilih diam merenung, Sekyung menangis dan depresi serta menyalahkan dirinya.

Mungkin itu alasan mengapa Chanyeol ingin mendengarkan dan bahkan memaksa Sekyung bercerita tentang masalahnya. Begitu juga sebaliknya.

Sekyung tau jika Chanyeol memiliki masalah, ia tau bahkan saat Chanyeol terlihat baik-baik saja. Ia tau Chanyeol tidak suka bercerita namun ia juga ingin mendengar cerita Chanyeol. Ia ingin setidaknya menjadi seseorang yang bisa Chanyeol percaya.

Sekyung pov*

Aku bukan menyukainya, bukan terbawa perasaan atau sekedar ingin bersamanya namun kenyataannya, aku bersama dengannya hampir setiap hari.

Aku tau, batas wajar teman sampai dimana, bukan merasa terlalu dekat atau terbawa perasaan. Aku hanya..

Aneh.

Aku merasa aneh saat bersamanya.

Akhir-akhir ini rasanya kami terlalu dekat. Terlalu sering bersama, bahkan terasa seperti kencan diam-diam. Aku tau kami bukan pasangan namun rasanya seakan kami berpacaran. Entahlah.. backstreet?

Aku mulai aneh.. semakin dekat dengannya semakin aku merasa aku berubah. Aku suka menceritakan hal-hal dengannya walau tidak semua. Aku juga lebih memperhatikan dirinya.

Mungkinkah aku menyukainya? Namun itu tidak mungkin. Bagaimana bisa aku menyukainya?

“Sekyung!” Aku tersentak dan menatap Chanyeol bingung.

“Ada apa?” Tanyaku penuh kelinglungan.

“Kau kenapa? Kau bengong tadi. Ada masalah?”

Tidak -ada-

Apa aku harus mengatakan hal ini padanya? Atau aku biarkan saja? Mungkin ini hanya angin lewat, iya kan?

“Tidak apa, aku hanya.. lelah.” Chanyeol mengangguk dan meneguk minumannya. Kami memang sedang duduk di cafe dan berbincang seperti biasa namun semakin hari, aku merasa ini bukan lagi hangout.

“Apa yang kau lakukan jika ada yang menyukaimu dan dia berada dekat denganmu?” Tanyaku tanpa ragu agar terlihat seakan ini hanya basa basi dan bercanda.

“Biasa saja, memang kenapa?”

“Entahlah.”

“Ada yang menyukaiku?” Hatiku berguncang entah kenapa, aku merasa bahwa ini aneh. Kenapa aku harus gugup? Seharusnya ini hanya basa basi biasa.

“Temanku menyukaimu,” aku tertawa lalu menghela nafas. “Bercanda. Aku hanya ingin tau. Kau dan aku, apa yang terjadi jika aku menyukaimu?”

Chanyeol terlihat menatapku dan menghela nafas, kurasa ini akhirnya..

“Kau menyukaiku?” Tanyanya terlihat serius. Tentu saja aku tertawa dan mencubit pipinya seperti biasa, “tentu saja aku bercanda.” Aku tertawa kecil saat ia mengeluh kesakitan.

“Aish”

“Apa?” Tanyaku yang dijawab gelengan.

“Bodoh.” Aku tersenyum dan mengambil minumannya dan meminumnya.

“Itu minumanku!” Chanyeol merengek seperti anak kecil saat aku menghabiskan minumannya. “Parah!” Aku hanya tertawa mendengarnya lalu menatap ke luar jendela.

“Tapi.. apa yang terjadi jika aku menyukaimu?” Aku terlihat menatap datar keluar. Entah bagaimana, aku hanya.. ingin memberitaunya tanpa harus memberitaunya.

“Yasudah tidak apa-apa. Kita tetap berteman kan?” Aku terkejut mendengar hal itu.

“Apa? Jahat sekali. Nanti jika aku sakit hati bagaimana?” Aku tidak ingin terlihat kecewa. Tapi entah mengapa aku kecewa.

“Aku tidak suka ini. Aku sudah nyaman berteman denganmu atau Heni bahkan Minji, aku tidak mau pertemanan kita hancur karena hal ini.” Aku tau, aku seharusnya cukup tau dengan jawaban itu.

“Baiklah.” Aku tersenyum lalu mengelus puncak kepalanya.

Jam menunjukan pukul 5 sore, aku harus pulang. Aku membereskan barang-barangku dan bangkit.

“Aku harus pulang, kau juga pulanglah.”

Chanyeol bangkit dan mengangguk serta menunggu diriku dijemput. Aku tersenyum melihatnya lalu menatap kosong sepanjang jalan.

Kenapa rasanya..

Menyakitkan?

Aku tidak menyukainya. Tidak, tidak boleh.

Aku tidak mengungkit kejadian itu sama sekali hingga suatu hari semuanya berubah.

Hari itu kami semua berkumpul, aku, Chanyeol, Heni, Suho, Minji. Kami mengobrol seperti biasa dan saat itu Chanyeol menyuarakan 1 hal. 1 hal yang mengejutkan semuanya.

“Aku menyukai Yeon.” Ujar Chanyeol membuat semua menatapnya. Aku tertawa dan menganggap itu lelucon namun dia tidak bercanda.

“Aku serius.”

“Aigoo, Chanyeol sudah besar.” Ujar Baekhyun membuat Mira dan Chaena tersenyum menahan tawa.

“Yeon memang cantik.” Puji Mira yang diangguki oleh Chaena dan diriku.

“Kalian akan cocok jika bersama.” Chanyeol tersenyum mendengar ucapan Chaena.

“Aku akan mengajaknya berkencan beberapa hari lagi.” Aku terdiam. Hanya bisa tertawa dan berpura-pura memiliki rencana dan pulang.

“Maaf semua, aku harus pulang.” Aku tersenyum dan melambai. Kutatap Chanyeol yang menatapku dan tersenyum.

“Aku pulang.” Aku berharap, hanya berharap bahwa ini semua omong kosong.

Tapi harapan itulah yang sebuah omong kosong..

Aku tidak seharusnya berharap lebih.

Beberapa hari setelahnya Chanyeol dan Yeon resmi berpacaran. Semua orang mengagumi pasangan itu. Aku hanya bisa tersenyum saat melihat mereka diselamati semua orang. Aku bahkan tidak bisa menyelamati Chanyeol..

Aku tau, aku hanya membohongi diri dengan berkata aku tidak menyukainya. Aku ingin membohongi perasaanku dengan mengatakan aku baik-baik saja. Mengatakan aku tidak menyukainya dan aku hanya akan merasakan keanehan ini sejenak. Seperti angin lewat.

Dan dia berjalan kearahku, tidak sendirian. Bersama dengan Yeon. Mereka terlihat.. cocok..

Seperti angin lewat, ya kan?

Aku tersenyum menatap Chanyeol dan pergi berjalan melewati mereka begitu saja.

“Aku perlu berbicara padamu.” Bisikku yang entah di dengar atau tidak oleh Chanyeol.

Hari itu hanya ada aku dan Chanyeol sepulang sekolah. Kami bertemu di cafe biasa, Suho, Minji, Heni sudah pulang.

“Ada apa denganmu?” Tanya Chanyeol terlihat bingung.

“Entahlah.”

Keadaan menjadi hening sebentar lalu aku menghela nafas. Ini harus berakhir.

Aku akan membunuh seseorang hari ini.

“Aku menyukai seseorang.” Ujarku pelan.

“Siapa?” Tanya Chanyeol terlihat antusias aku tersenyum dan menggeleng.

“Aku tidak akan memberitau namanya. Aku hanya menyukainya, baru saja aku mengetahuinya. Tidak, aku sudah mengetahuinya sejak lama. Tapi aku selalu membohongi diriku dan berkata aku tidak menyukainya.” Aku menghela nafas dan menatap mata Chanyeol yang menatapku.

“Kau tau, hari ini aku membunuh perasaanku. Kurasa ini yang terbaik. Aku akan baik-baik saja kan?” Chanyeol menggeleng dan menatapku.

“Kau membohongi dirimu sendiri.” Aku tertawa mendengarkan hal tersebut namun mataku sedikit mengeluarkan air mata yang tentu saja kuhapus dengan cepat.

“Aku akan baik-baik saja. Ini lebih baik.” Aku berharap dia akan menghentikanku namun lagi, harapanku adalah omong kosong.

“Baiklah jika kau berfikir seperti itu. Tapi percayalah, akan ada orang yang lebih baik dari laki-laki yang kau suka itu.” Aku tersenyum dan menatapnya lama.

“Selamat.”

Saat itu hatiku terluka, aku telah membohongi dan membunuh perasaanku sendiri. Aku berharap dengan ini rasa sakitku akan berkurang bahwa aku tidak akan merasa sakit hati.

Kenyataannya, saat aku membuka mata kepada kenyataan. Hatiku sangat sakit, aku tidak baik-baik saja. Itulah akibat kebohonganku sendiri, rasa sesak di dada saat aku mengucap kata selamat menyadarkanku dari kebohongan.

Nyatanya, aku menyukainya dan aku tersakiti atas kebohonganku terhadap perasaan ini..

“Terimakasih.” Chanyeol tersenyum dan menatap jam.

“Ah, aku harus menjemput Yeon di tempat kursus. Aku duluan ya!” Aku mengangguk dan tersenyum. Chanyeol pergi begitu saja meninggalkanku sendirian.

Aku tersenyum dan menunduk namun air mata tetap keluar.

Perasaanku yang terbunuh dan aku meringis kesakitan.

Hari ini, aku berduka.

6 pemikiran pada “[Author Tetap] What is Pain (Chapter 1)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s