[Twelveblossom] Dear Husband: The Way I Love You

cdef50c8600658882f285a3cc700d7d6

Twelveblossom (Twelveblossom.wordpress.com | Sehun, Nara, Liv, dan Chanyeol | Romance, Marriage Life & Friendship | Wattpad: twelveblossom | Line@ @NYC8880L

Previous:

The day When I Meet You –  Taken By The Past – Marriage Scenario – Somtimes He’s Angel

“Look at me look at me now. You are burning me up like this. I can’t turn it off.” ―Playing With Fire, Blackpink

Sehun mengajak Nara ke salah satu apartemennya yang paling dekat dengan kediaman Keluarga Park. Mereka sampai di lantai sepuluh tepat pukul dua dini hari. Apartemen yang memiliki sistem keamanan ketat tersebut sangat sepi, hanya suara langkah kaki Nara serta Sehun terdengar di sepanjang lorong.

Nara yang sedari tadi terseok-seok berjalan memasuki apartemen nomor 1002, mengekori Sehun. Setelah Nara mengamati sekilas ruangan yang luas itu, si gadis menyadari bahwa apartemen Sehun tersebut sangat sederhanaberlainan dengan hal-hal mewah yang sebelumnya diperlihatkan. Walaupun yang dimaksud sederhana tetap ternodai dengan barang-barang yang Nara yakin limited edition. Warna dindingnya cream dan lantai kayu membuat apartemen Sehun hangat.

Pertama kali masuk si gadis disuguhkan ruang tamu yang terdapat sofa hitam, kemudian ada sekat dinding yang membatasi antara ruang santai dan dapur. Totalnya ada dua kamar, Nara menebak dua pintu tertutup yang berada di dekat ruang santai.

“Kau tidur di kamar. Aku di ruang kerja,” jelas Sehun sembari menunjuk dua pintu yang tertutup itu secara bergantiantebakan Nara salah.

Nara mengerjap beberapa kali. “Apa apartemen ini hanya memiliki satu kamar tidur?”

Sehun mengangguk. “Cepat masuk, beristirahatlah,” ujar Sehun. Pemuda itu hendak melangkah lagi, tapi segera dihentikan saat ia teringat sesuatu. “Ada beberapa pakaian dan perlengkapan wanita di sana

Kau menyimpan barang-barang wanita?” potong Nara tanpa berusaha menghapus keterkejutannya.

Sehun memutar bola mata saat mendapatkan tanggapan tersebut dari lawan bicaranya. “Ini apartemen milik Ahra. Dia sering datang ke mari saat ingin sendirian atau jika akan bertemu denganku. Aku kerap membawa pekerjaan ke apartemen ini, makanya kamar itu kuubah menjadi duplikat kantor. Ahra sangat senang tidur, makanya ruangannya dibuat senyaman mungkin untuk istirahat,” jelas Sehun.

Nara mengangguk tanda bahwa ia paham. Mereka sering menginap bersama. Apa merek juga tidur berdua? Batin Nara mulai saling sahut-menyahut.

“Kami tidak melakukan apapun yang sekarang kau pikirkan. Aku dan kakakmu tidak pernah menghabiskan malam bersama,” vokal Sehun seolah dapat membaca benak gadis yang kini tersenyum lega.

Sehun hanya menatap gadis muda itu sekilasmerasa janggal dengan raut Nara yang tiba-tiba cerahsebelum menghilang di balik ruang kerjanya.

Nara membereskan diri, setelah memuji betapa indahnya kamar yang dulunya milik saudaranya tersebut. Ruangan itu terlihat sangat berbeda dengan kesederhanaan yang ditampilkan sebelumnya. Nara di sambut dengan ranjang besar berkelambu merah yang terletak di tengah ruangan, Ada beberapa bantal yang empuk tertata rapi di sana. Pada sudut kanan ruangan, berseberangan dengan kamar mandi terdapat susunan koleksi Lego dan puzzle. Pada sisi yang lain dihiasi lukisan bangunan. Beberapa desain yang belum selesai juga tertempel di papan putih dekat meja rias. Nakas yang terletak di kanan dan kiri ranjang menampakkan potret Ahra yang sedang tersenyum dan Sehun yang mengecup pipi Ahra.

Nara duduk di pinggir ranjang, tangannya mengambil bingkai foto yang terdapat Sehun dan Ahra yang tersenyum pada kamera. “Kau bahkan tidak pernah memberikan ekspresi bahagia seperti ini saat bersamaku,” gumam Nara sembari menyentuh paras Sehun yang ada di potret. Ia meletakkan pigura itu, kemudian memandang wajah Ahra yang berada di sana, membeku selamanya menjadi sebuah kenangan. “Aku merindukanmu, Ahra. Walaupun dulu kita jarang bertemu, tapi saat kau datang mengunjungiku di rumah sakit adalah waktu yang paling menyenangkan di hidupku. Maafkan aku,” bisik Nara, ia menggigit bibir. Nara mengehela napas. Gadis itu berusaha melupakan kesedihannya sebab dirinya amat lelah hari ini.

Nara berbaring di ranjang. Tak ada debu sama sekali di tempat ini. Nara yakin apabila Sehun menjaga ruang yang menjadi kenangan kasihnya dengan sangat baik.

Baru beberapa menit Nara mencoba untuk terlelap, namun usahanya gagal ketika dia membuka mata. Nara menyadari bahwa lampu yang ada di ruangan tersebut mati. Tergesa-gesa Nara bangun dari tidurnya. Ia meraba-raba nakas, berusaha mencari ponsel untuk sumber penerangan. Kendati menemukan ponsel, Nara justru menjatuhkan pigura yang berada di sana. Gadis itu sangat terkejut. Jantungnya mulai berdetak cepat, ia merasakan sedikit nyeri.

“Sehun,” panggil Nara. Ia berdiri mencoba menggapai sakelar lampu, hasilnya nihillampu itu tak ingin menyala. Nara merasakan kakinya sakit terkena serpihan kaca dari bingkai.

“Sehun, kau di mana?” gumam Nara. Kondisinya semakin tidak baik. Ia mencoba menggapai engsel sebelum pintu itu terbuka. Sehun berada di sana, menatap Nara yang berjongkok di depannya.

Sehun membawa senter kecil. Ia meletakkan sumber cahaya tersebut di lantai, kemudian menggendong Nara ke atas ranjang. “Jung Nara, bernapas. Aku di sini, semuanya baik-baik saja,” ujar Sehun menyakinkan. Ia membelai tangan Nara yang dingin. “Sial, kenapa mereka melakukan pemadaman listrik di saat seperti ini?” Sehun mengambil lampu darurat di lemari. Ia menyalakan lampu itu membuat ruangan menjadi remang-remang. “Nara buka matamu, jangan takut,” bujuk Sehun. Pria itu sangat tidak tahan melihat keadaan Nara. Ia tahu apabila Nara memang trauma pada gelap ketika dia di ruangan tertutup. Akan tetapi, Sehun belum pernah sekali pun melihat respons Nara secara langsung. Sehun hanya dapat terus membisikkan kata-kata yang membuat Nara merasa aman. Dia menyentuh pipi Nara mengusap peluh si gadis.

Beberapa menit berselang. Nara memang masih terengah-engah sembari memegang jantungnya, namun gadis itu mulai membuka mata.

“Apa kau masih merasa nyeri?” tanya Sehun pada gadis yang kini berbaring di sampingnyaSehun duduk di pinggir ranjang. “Di mana obatmu? Aku ambilkan, sebentar,” Sehun hendak beranjak dari sana, tapi tangan Nara meraihnya.

“Jangan pergi,” bisik Nara.

Sehun mengangguk. Ia memposisikan dirinya duduk di samping Nara. Ia menyelimuti gadis itu. Jari-jari Sehun dengan lembut membelai puncak kepala Nara. Tatapan pria itu beralih ke arah pigura yang pecah.

Napas Nara perlahan-lahan tenang. Ia menemukan kedamaian ketika Sehun berada di sisinya. Jantungnya memang masih sakit, namun dia merasa sebentar lagi semuanya akan normal kembali. Nara dapat melihat Sehun tertegun melihat bingkai foto yang jatuh berserakan akibat ulah tidak sengaja Nara. “Maafkan aku,” ucap Nara, dia menengadah agar dapat melihat raut Sehun.

“Apa kakimu terkena pecahannya?” vokal si pria tanpa mempedulikan ungkapan penyesalan dari Nara yang sebenarnya tak perlu. Sehun menyibakkan selimut gadis yang kini mengenakan piama biru toska. Sehun mengamati kaki Nara, terdapat bercak darah di sana. “Pasti sakit. Tunggu sebentar saja, okay? Ini perlu diobati,” dengan cepat Sehun pergi meninggalkan Nara. Ia mengambil kotak obat dan air minum. “Di mana obatmu?” tanya Sehun sekali lagi. Pria itu segera meraih tas yang Nara tunjuk. Sehun membantu Nara duduk, menunggunya meminum pil tersebut secara perlahan.

“Maaf sudah merepotkan,” bibir Nara pada akhirnya dapat berbicara dengan benar. Gadis itu bahkan sempat menolak ketika Sehun mulai mengobati kakinya yang berdarah. “Aku bisa melakukannya sendiri

Kau tak dapat melakukannya sendiri. Berhenti mengajakku berdebat karena aku sedang sangat marah,” potong Sehun.

“Aku akan memperbaiki piguranya

Persetan dengan pigura sialan itu,” lagi-lagi Sehun menyela Nara. Ia berusaha menenangkan diri sebab mata lawan bicaranya sudah mulai berkaca-kaca. “Aku tidak suka melihatmu kesakitan seperti tadi. Aku marah pada diriku sendiri karena tak dapat berbuat apapun untuk mencegahnya.”

Nara seketika diam. Ia berusaha mengolah pernyataan yang baru saja Sehun berikan padanya. Rasanya, lidahnya terlalu mati rasa untuk membalas ucapan pria itu. Bahkan Nara juga menurut ketika Sehun memintanya berbaring, mencoba tidur, sementara Sehun tetap terjaga hingga si gadis terlelap pulas.

“Dia tidak terlihat galak kalau sedang tidur,” ocehan Nara dimulai pada siang haribenar, Nara bangun pukul sepuluh pagi dengan Sehun yang terlelap di dekatnyaposisinya menghadap si gadis. Nara mengamati Sehun yang begitu damai, jauh lebih tampan dari sebelumnyamungkin karena dia tak mengoarkan perkataan pedas.

Semuanya terasa pas jika berkaitan dengan Sehunkemeja putih yang kini dikenakan si pria menambahkan kesempurnaannya. Bahkan hati Nara semakin berdebar ketika atensi netranya tertuju pada rahang tegas si pria. “Ahra sangat beruntung. Sehun sangat menyukainya. Apa boleh aku menyukaimu, Oh Sehun?” tanya Nara pelan. Ia tak ingin mendapatkan jawaban sebab Nara sudah tahu hasil akhirnya.

“Bagaimana keadaanmu? Apa sudah lebih baik?” suara bariton Sehun tiba-tiba terdengar. Ia membuka matanya lebar, melihat paras Nara yang sekarang sangat dekat dengannya.

Nara secara otomatis memberikan spasi yang lebar di antara mereka. Gadis itu bahkan terlalu gugup untuk dapata menjawab pertanyaan Sehun. Nara takut apabila Sehun mendengar ucapannya tadi.

“Aku rasa kau tidak baik-baik saja. Apa kita perlu menemui doktermu?” Sehun kembali berargumen. Ia beranjak dari tempat tidur. Tangannya terlipat di depan dada. “Wajahmu terlalu merah,” lanjut Sehun.

Nara menggelengkan kepala. Surainya yang cokelat berantakan akibat posisi tidurnya. Gadis itu duduk, ia merapikan rambutnya. “Aku sudah sehat,” jawabnya singkat. Nara terburu-buru berdir tanpa menyadari jika kakinya masih sakit “Aw!” keluh Nara, merasakan perih.

Sehun mendengus. “Hati-hati Jung Nara, kakimu masih sakit. Kau tak boleh langsung berjalan begitu saja, lihat baik-baik posisi yang tepat agar tidak mengenai bagian yang tergores.”

Nara mencebik. “Iya, Oh Sehun. Kau cerewet sekali seperti Park Chanyeol, menyebalkan.”

Nara menuju kamar mandi pelan-pelan, sementara Sehun menunggu di kamar itu dengan sabar.

“Lama sekali,” kalimat itulah yang diucapkan si pria ketika Nara keluar dari kamar mandi. Sehun berusaha agar matanya tak begitu sering menatap Nara yang kini lebih cantik sebab surainya yang basah. Sehun tentu saja tidak berencana dicap sebagai laki-laki hidung belangmemanfaatkan wanita yang sedang sakit. Akan tetapi, mendapati Nara yang kini berjalan tertatih-tatih sambil mengernyit kesakitan membuatnya tak sabar. Jadi, jangan salahkan Sehun apabila dirinya menuju ke arah Nara lalu menggendongnya.

“Sehun, berhenti. Turunkan aku!” seruan Nara tak digubris oleh Sehun.

“Sepagi ini aku harus melihat adegan yang sangat dewasa,” keluh Kang Daniel yang rupanya sudah berada di dapur, saat Nara dan Sehun masuk ke area itu. Si pemuda yang kini mewarnai surainya blonde tersebut menggunakan apron, Ia nampaknya sedang menggoreng sesuatu.

Nara semakin memberontak di dekapan Sehun. Walaupun itu sia-sia karena tenaga Sehun berkali-kali lipat lebih besar daripada dirinya. “Lepaskan Sehun ada Daniel,” perintah Nara.

Sehun mendudukan Nara di salah satu kursi makan. “Memangnya kenapa kalau ada Daniel? Toh aku hanya menolongmu,” kilah Sehun yang kini ikut menghempaskan diri di kursi depan Nara.

Well, kalian harus mengisi energi sebelum memulai perdebatan, bukan?” Daniel menengahi Sehun dan Nara yang sudah saling melotot. Ia menghidangkan nasi goreng untuk mereka berdua.

“Kenapa kau di sini?” tanya Nara sembari menyuapkan nasi goreng ke mulut. Ia sangat lapar.

Daniel melejitkan bahu. “Bosku bilang ada yang harus kulakukan,” jawabnya enteng.

“Jadi, pekerjaan yang kau maksud adalah kau menjadi pembantu rumah tangga,” simpul Nara lantas mendapatkan kekehan kecil dari Sehun. Gadis itu menautkan alis bingung. “Kenapa kau tertawa? Memangnya ada yang salah?” tanyanya, Ia menatap Sehun serta Daniel bergantian.

“Tentu saja, salah. Aku lulusan terbaik di universitasku dan kau bilang―ah sudahlah,” Daniel enggan menuntaskan penjelasanannya karena menilik raut Nara tidak tampak tertarik. “Bosku adalah Oh Sehun, dia memintaku menjagamumaksudkumenangani proyekmu selama dia pergi ke London,” Daniel membenahi ucapannya saat Sehun memberikan pandangan tajam pada dirinya.

“Apa kau akan kembali tinggal di London?” tanya Nara, atensinya sepenuhnya menuju ke pemuda itu.

Sehun mengangguk cuek.

Nara langsung menunduk. “Apa kau tidak akan kembali ke Seoul?’

“Tidak tahu, sebenarnya aku tak memiliki banyak urusan di sini jadi

Bagaimana denganku?” timpal Nara. Gadis itu ingin menelan kembali ucapannya setelah sadar apa yang tadi ia pertanyakan.

Sehun tertawa mengejek. “Kau bisa melanjutkan hidupmu lagi, sama seperti dulu,” jawab Sehun.

“Tenang saja, Noona, ada aku,” Daniel ikut serta berbicara tak lupa menyematkan senyum yang membuat sepasang netranya menghilang. “Kalau kau rindu pada Hyungku satu ini, aku akan mengantarmu ke London,” lanjutnya.

Nara mengerucutkan bibir. “Aku tidak bisa naik pesawat. Apa kau lupa?” balas Nara.

“Ah, ya maafkan aku. Kalau begitu, aku akan menyeretnya kembali untukmu. Aku tahu banyak soal kelemahannya,” bisik Daniel berharap Sehun tak mendengar mengenai hal yang ia ucapkan.

Nara menjungkitkan ujung bibirnya.

Daniel memang begitu, dia selalu tahu cara membuat Nara bahagia.

“Kucingnya sangat lucu,” Nara bertepuk tangan ketika dirinya di kelilingi dua kucing yang dibawa Daniel ke apartemen Sehun. Nara masih berada di hunian Sehun sembari menunggu asisten si pria mengantarkan mobilnya. “Siapa nama mereka?” tanya Nara yang sedang duduk di lantai ruang santai.

Daniel yang sedari tadi tertawa melihat tingkah Nara pun menjawab, “Rooney dan Peter,” ujar si pemuda yang kini mengenakan kaus cokelat dan celana jeans.

“Tapi, mereka perempuan,” protes Nara sambil menggendong kucing bewarna cokelat tersebut. Kucing itu nampaknya suka sekali dengan bau Nara.

“Nama itu sudah cocok agar mereka tidak terlalu feminim,” kilah Daniel. “Nanti sebelum Hyung pulang kita harus membereskan semuanya. Kalau tidak, aku bisa dipecat,” imbuh Daniel.

“Apa mereka tinggal di apartemenmu?”

“Ya, tepatnya tiga lantai di atas punya Hyung.”

Nara mengangguk, “Sehun sangat galak bahkan pada hewan lucu seperti mereka.”

“Dia tidak suka sesuatu yang terlalu berisik,” ujar Daniel.

Nara tertegun sebentar. “Apa menurutmu Seoul jadi lebih berisik dari London?” tanya Nara yang langsung mendapatkan tatapan bingung dari Daniel. “Sehun ingin kembali ke London, bukan? Artinya dia tidak nyaman berada di sini. Satu-satunya hal yang membuatnya risih adalah sesuatu yang berisik

Dia hanya ingin menghindarimu.”

“Menghindariku?”

Daniel tersenyum. “Aku memang terkenal dapat membaca isi hati orang lain, tapi tak perlu bakat istimewa serupa milikku untuk memahami Hyung.” Pemuda itu segera mencibir kesal karena Nara tak juga paham. “Dia mulai memedulikanmu, mengawatirkanmu, dan melindungimu. Sebelum semuanya berjalan tak sesuai prediksinya, maka dia ‘mereset’ logikanya dengan cara menjauh.”

“Kau terlalu berlebihan. Sehun sama sekali tak pernah berbuat baik padaku. Ia hanya bisa mengancam dan mengatakan kalau dirinya membenciku,” bantah Nara. Meskipun bibirnya berucap demikian, tapi hatinya bertolak belakang kegirangan.

Daniel melejitkan bahu. “Terserah saja, pada akhirnya kalian akan menikah. Cepat atau lambat karena perjanjian keluarga,” kata pemuda itu sambil mengelus kucingnya. “Sebentar lagi keluarga besar kami akan melakukan pertemuan besar yang artinya seluruh anggota dewan perusahaan hadir di sana. Mereka punya kekuatan untuk menarik kalian ke depan altar dengan paksa. Kalau saranku lebih baik, saling jatuh cinta agar tak ada unsur pemaksaan sehingga semuanya pun bahagia,” ungkapan Daniel itulah yang membuat Nara berpikir panjang.

Sehun mengajak Nara makan siang untuk kesekian kalinya dalam tiga minggu terakhir. Pria itu meminta si gadis untuk menemuinya di salah satu gerai sandwich yang menjadi favorit Nara di daerah Gangnam dekat kantor mereka. Baru kali ini Sehun mengajak ke tempat yang sederhana. Tak biasanya juga Sehun membiarkan Nara memesankan menu untuknya. Sehun bertingkah sedikit ganjil di mata Nara, ia bahkan ketahuan menatap si gadis lamat-lamat seperti memastikan sesuatu.

“Apa ada yang salah dengan wajahku?” tanya Nara pada akhirnya.

Sehun menggeleng. Ia menegaskan dengan ucapan, “Tidak.”

“Apa ada yang ingin kau katakan?”

“Tidak,” ulang Sehun.

Nara berdeham. “Begini, Oh Sehun aku merasa tak nyaman apabila sewaktu makan ada yang mnatapku seolah aku tahanan,” keluh Nara, ia meletakkan sandwich daging sapi miliknya.

Sehun tersenyum. “Aku hanya memerhatikanmu, melihatmu beberapa kali membuatku menyimpulkan kalau wajahmu ternyata tidak begitu mirip dengan Ahra,” ujar Sehun.

“Apa kau baru menyadarinya?” Nara mendengus. “Ahra berkali-kali lipat lebih cantik dariku,” sambung Nara.

“Iya memang benar. Ahra jauh lebih cantik daripada dirimu. Aku jadi merasa bersalah karena menyamakan dia dengan kau,” timpal Sehun yang langsung membuat Nara cemberut.

Gadis itu sama sekali enggan menanggapi. Ia ingin segera menghabiskan makanannya kemudian kabur dari kemungkinan adu argumen dengan lawan bicaranya. Akan tetapi, ia kembali memelankan kunyahannya ketika mengingat perbicangannya bersama Daniel kemarin. Nara ingin tahu kapan Sehun kembali ke London. Ia hanya sedikit penasaran, tidak lebih.

“Em, Oh Sehun,” bibir Nara akhirnya terbuka. Ia menatap Sehun sekilas, lalu arah pandang matanya kembali ke atas piring. Dia menghela napas. “Kapan kau pergi ke London?” tanyanya.

“Besok malam,” jawab Sehun sembari meneguk jus jeruk.

“Daniel berkata padaku, kau tidak akan kembali dalam waktu dekat. Apa itu benar?”

“Iya, ada banyak urusan yang harus kutangani,” jawabnya ringan tanpa menyadari paras Nara yang berubah kelabu. “Kenapa memangnya? Hidupmu pasti akan tenang setelah ini,” lanjutnya.

“Iya, tentu saja hidupku pasti akan baik-baik saja jika kau pergi,” Nara menggantungkan perkataannya. “Berarti ini bisa jadi makan siang terakhir kita, bukan begitu Oh Sehun?”

“Benar, maka dari itu kita mengunjungi tempat makan yang sesuai seleramu. Selama ini, aku berusaha mengajakmu melakukan banyak hal yang biasa Ahra lakukan. Tapi, saat iniaku menginginkan Jung Nara bukan Jung Ahra untuk menemaniku.”

Tarikan bibir membentuk senyum simpul enggan luput dari paras Nara setelah makan siangnya dengan Sehun beberapa jam lalu. Gadis itu merasa istimewa karena Sehun menghargainya sebagai Jung Nara untuk pertama kalinya. Nara mengingat kebaikan si pria baru saja terkuar sehari sebelum keberangkatan Sehun ke London.

Nara menerima panggilan Sehun melalui ponsel beberapa jam lalu. Pria itu mengirim pesan pada Nara apabila ada beberapa barang si gadis yang tertinggal di apartemennya. Nara sebenarnya dapat mengambilnya kapan pun karena Kang Daniel juga mengetahui password dari apartemen Sehun. Si gadis memilih untuk berkunjung sepulang kerja agar ia dapat bertemu Sehun sebelum pria itu meninggalkan Seoul.

“Di mana Sehun?” tanya Nara pada Kang Daniel yang membukakan pintu apartemen Sehun.

Pemuda itu tersenyum manis menyapa Nara. “Hyung sebentar lagi sampai, tunggu saja,” lanjutnya sembari memersilahkan Nara masuk.

Nara mengangguk. Ia melepas mantel, lalu meletakkan tas di sofa. Ada tas kertas berukuran besar yang Nara pamerkan kepada Daniel. “Aku membeli beberapa bingkai foto cantik untuk mengganti yang kupecahkan kemarin.”

Daniel mengangguk. “Fotonya dibawa Hyung ke ruang kerjanya, kelihatannya masih belum dipasang. Coba saja lihat di sana, Noona,” balas Daniel sambil lalu, ia melanjutkan menonton film di ruang santai.

“Apa tidak masalah aku masuk ke sana?” tanya Nara pada pemuda berkaus merah marun itu.

Daniel mengangkat bahu cuek, “Aku tidak tahu, tapi itu hanya ruang kerja. Aku rasa boleh saja.”

“Baiklah, lagi pula aku berniat baik,” Nara menyakinkan diri.

Nara melangkah ke ruang kerja Sehun. Gadis itu sedikit gugup. Ia merasa penasaran dengan apa yang ada di ruangan tersebut. Nara membuka engsel pintu yang tak terkunci. Sepasang netranya disambut oleh meja kerja yang terbuat dari kayu tampak kokoh. Ruangan tersebut tidak terlalu besarkamar tidur milik Ahra jauh lebih luas. Rak-rak yang terdapat buku-buku melapisi dinding bercat cream. Ada jendela besar yang ditutupi kelambu berwarna perpaduan antara hitam serta emas.

Nara membeku sejenak melihat foto yang berukuran lumayan besar terpasang pada dinding, terletak tepat di samping kanan meja kerja Sehun. Sepasang pria dan wanita tersenyum menghadap ke kamera. Si wanita mengenakan gaun pernikahan dan sang pria memakai tuksedo hitam. Sehun abadi di gambar tersebuttangannya ada di pinggang Ahra. Mereka saling berhadapan. Sehun mengecup kening Ahra. Mereka terlihat bahagia.

Nara tersenyum miris. Tak seharusnya ada nyeri ganjil yang terasa. Dia berusaha menenangkan diri. Sekali lagi. Nara merasa kecemburuan itu ingin melahapnya. Ia mengutuk dirinya sendiri sebab tak seharusnya Na ra menyukai pria yang sempat menjadi milik saudarinya.

“Jung Nara,” panggil Sehun yang baru saja memasuki ruang kerja. Pria itu masih mengenakan kemeja dan dasi yang menjadi setelan wajibnya ketika bekerja. “Kenapa kau di sini?’ tanyanya. Ia menarik tangan Nara kasar membuat si gadis berbalik, sekaligus menghadap ke arahnya.

Gadis itu berusaha mengukir paras ramah demi menutupi perasaan aneh yang mulai menyerang. “Foto itu sangat indah. Aku menyukainya,” dusta Nara. “Aku datang untuk mengambil barangku, sekaligus memperbaiki yang sudah kurusak.” Nara menunjuk pigura di atas meja Sehun.

Sehun meraup wajahnya. “Tidak usah, lebih baik kau segera pulang sudah malam.”

Nara menunduk, suasana hatinya mendadak murung. Ia menjungkitkan satu sisi bibirnya membentuk seringai. “Kau akan pergi besok dan tak tahu kapan kembali,” gumam Nara. Si gadis menarik napas. “Seharusnya kau mengucapkan salam perpisahan padaku,” kata Nara, kini matanya menatap Sehun.

Sehun hanya diam.

Nara melepaskan tangan Sehun yang ada di lengannya. Ia duduk di kursi yang terletak di depan meja kerja Sehun. Perlahan-lahan Nara mengganti bingkai yang rusak itu dengan bingkai yang baru. “Melalui foto ini aku dapat merasakan jika kalian menghabiskan waktu dengan baik.”

“Dia adalah kenangan untukku,” ungkap si pria dingin.

Nara menengadah agar dapat menujukkan atensinya pada pria yang kini berdiri di sampingnya. “Kau tersenyum lebar, kau melindungi Ahra dengan sangat baik, dan kau … menyukainya,” ujar Nara sembari mengusap salah satu foto yang memotret Sehun dan Ahra ketika tersenyum. “Apa semua orang yang melihat foto ini juga berpikiran sama denganku?” tanya Nara pada si pria. Bertepatan dengan kalimat yang dikatakan Nara, tangan si gadis tergores kaca dari bingkai yang rusak.

Nara mengernyit. Ia melihat telunjuknya yang berdarah.

Sehun bertindak lebih cepat dari dugaan si gadis. Pria itu berlutut di samping kursi yang dijadikan tempat duduk oleh Nara. Ia menarik jari Nara yang terluka untuk melihat luka itu dalam atau tidak. “Seharusnya kau lebih berhati-hati,” Sehun memperingatkan.

Tangan Nara yang lain menyentuh paras Sehun membuat si pria menengadahraut mereka berhadapan. Ia mengusap rahang Sehun. “Jangan mudah cemas karena diriku.” Nara memberikan jeda sejenak agar dapat membaca mata Sehun. “Semua hal yang kau lakukan padaku, sangat menyiksaku. Kau membuatku semakin ingin dicintai seperti caramu mencintai Ahra,” tutup Nara sembari menjauhkan tangannya dari wajah Sehun. Ia memalingkan wajah.

Hal yang tak disangka-sangka pun terjadi. Sehun merangkum paras si gadis secara tergesa. Pria itu hanya memandangi wanita di hadapannya, seolah ia sedang menimbang sesuatu. Selang beberapa sekon, Sehun tampak menyerah pada keadaan. Akal sehatnya kalah, dia memilih perasannya.

Sehun pun meniadakan jarak di antara mereka.

Secara sadar Sehun mengecup Nara yang kini ada di dekapannya.

Nara membolakan mata. Itu adalah ciuman pertamanya selama dua puluh dua tahun dirinya hidup … dan rasanya tidak buruk.

Tidak buruk karena Sehun yang mengecupnya.

-oOo-

Terima kasih sudah membaca :). Cerita ini juga akan dipublis di blog pribadi saya twelveblossom.wordpress.com wattpad dengan username @twelveblossom / wattpad.com/twelveblossom . Part selanjutnya >> Dear Husband: I’m Okay Even It’s Hurt.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s