[Author Tetap] What is Pain? (Chapter 2)

Cast: Park Chanyeol, Oh Sekyung (OC).

Genre: Romance, hurt

Rate: PG-13

Disc: THIS STORY IS CLEAR FROM MY MIND. Jangan plagiat dan copy paste!

Like dan comment ya πŸ™‚

.

.

.

Everything is okay until i stop pretending.

But still,

I just need to pretend a little more longer.

Till my heart healed.

.

.

What is Pain? Pretending.

Author pov*

Sekyung menatap kedua sejoli dihadapannya. Ia tersenyum melihat bagaimana Chanyeol terlihat menyayangi Yeon sepenuh hati.

“Kalian sudah pesan makan belum?” Tanya Yeon kepada Sekyung, Heni dan Suho. Tentu saja ia tidak bertanya pada Chanyeol karena Chanyeol-lah yang akan memesan makanan mereka.

“Aku tidak lapar.” Ujar Suho, “tapi aku mau milkshake.” Lanjutnya lalu tersenyum kepada Chanyeol. Sinyal bahwa ia juga harus membelikan Suho hal tersebut.

“Aku mau kentang!” Heni terlihat bersemangat menambahkan, membuat sekitar tertawa kecil melihat tingkahnya yang seperti anak kecil merengek.

“Bagaimana dengan Sekyung, kau mau apa?” Tanya Chanyeol seraya menatap Sekyung.

Sekyung menatap mata Chanyeol, mereka bertukar pandang sejenak lalu suara Yeon menyadarkan Sekyung.

“Ada apa Kyung?” Tanya Heni terlihat khawatir dengan wajah Sekyung yang terlihat mulai pucat.

Sekyung yang tersadar lalu mengedipkan matanya beberapa kali dan tersenyum. “Aku tidak apa-apa.”

Sekyung menatap ke menu dan teringat makan siangnya. Bekalnya masih berada di sekolah, di dalam lokernya.

“Ah! Aku harus kembali ke sekolah. Aku meninggalkan bekalku!” Sekyung berdiri dan menggapai tasnya namun Heni menahannya.

“Kau ambil besok saja, lagipula kotak makan itu tidak akan kemana-mana.” Sekyung menatap Suho, Yeon dan Chanyeol. Mereka terlihat agak kaget.

“Aku.. baiklah. Besok saja.” Sekyung kembali duduk dan tersenyum.

“Maaf. Kalian pesan saja, aku ingin cola.” Chanyeol menatap Sekyung tak yakin.

“Kau tidak mau makan?” Tanyanya yang diberi gelengan oleh Sekyung.

Chanyeol ragu namun pada akhirnya ia tetap pergi memesan.

“Bagaimana? Hubungan kalian sudah sejauh mana?” Tanya Heni bersemangat. Tentu saja Yeon terlihat malu, namun ia tetap menjawab.

“Berpegangan tangan? Tidak sering.” Ujarnya seraya tersipu.

“Tentu saja! Kalian masih baru 2 hari berpacaran. Itu wajar.” Suho tersenyum dan menyemangati Yeon, membuat Yeon terlihat senang dan malu.

“Selamat pada kalian.” Sekyung tersenyum dan Yeon terlihat berterima kasih.

“Aku ingin memberikan hadiah spesial padanya.” Suho menatap Heni dan Sekyung lalu mereka bertukar signal.

“Kami akan membantu. Tapi untuk acara apa?”

“Valentine.” Sekyung tersenyum dan mengatakan itu hal yang manis tapi Heni berargumen bahwa Chanyeol yang seharusnya memberikan hadiah, bukan Yeon.

Suho mengatakan itu tidak masalah siapa yang memberikan. “Yang penting itu kasih sayang yang kalian berikan.” Lalu kami tertawa dan berkata Suho terlihat lucu mengatakan itu saat dia tidak memiliki pacar.

“Ada apa ini?” Chanyeol datang dan membawa makanan mereka.

“Kami baru saja berbincang dengan Yeon. Dia sangat manis.” Ujar Heni lalu tertawa kecil bersama Yeon.

“Mana milkshake-ku?” Chanyeol meletakan milkshake Suho setelah meminum milkshake tersebut.

“Aishh, dasar rakus!” Chanyeol hanya tertawa dan tidak perduli dengan Suho yang menghujat dirinya.

Hari itu berakhir dengan baik. Semua kembali sebelum malam tiba dan esok hari datang seperti biasa.

Chanyeol mendatangi kelas Yeon dan mengelus rambut Yeon. Mereka terlihat berbincang dan bercanda.

Sekyung menatap kedua sejoli tersebut dan menutup matanya, mengatakan ini hal yang sepantasnya dilakukan pasangan dan tersenyum.

Sekyung pov*

Chanyeol terlihat sibuk dengan Yeon sepanjang hari. Mereka memang berada di kelas yang berbeda namun mereka tetap menempel saat ada kesempatan. Apalagi Yeon yang manja kepada Chanyeol.

Aku melangkahkan kakiku ke arah toilet dan menatap wajahku di kaca. Terlihat sedikit menyedihkan lalu aku tersenyum. Terlihat lebih baik bukan?

Kucuci tanganku dan perutku terasa sakit. Sedikit terasa pusing dan mual. Aku memegang perutku dan menatap ke sekeliling. Tidak ada orang, kuputuskan untuk keluar dan mencari obat di ruang uks.

“Ada apa?” Tanya salah satu siswa yang menjaga ruangan tersebut.

“Apa disini ada obat sakit kepala dan mual?”

“Tentu. Apa kau sudah makan?” Aku menggeleng dan teringat bahwa aku belum makan dari kemarin.

“Apa aku bisa meminta obat maag dan sakit kepala?” Kakak kelas tersebut mengangguk dan memberikan obat tersebut.

“Makan dulu sebelum minum obat sakit kepala itu ya. Untuk obat maag kau bisa makan obat itu sebelum makan nasi.” Aku mengangguk dan tersenyum.

“Terima kasih.”

Hari semakin sore dan aku disibukan dengan kegiatan-kegiatan seperti tugas dan lainnya. Aku bahkan belum sempat memakan obat tadi dan kepalaku semakin sakit. Kuputuskan untuk meminum obat sakit kepala tersebut tanpa makan terlebih dahulu, terlebih lagi nafsu makanku yang hilang sampai sekarang.

Semua tampak baik-baik saja hingga rasanya semua terlihat gelap..

.

.

Chanyeol terlihat tampan saat menatapku. Matanya besar dan indah, mata itu menatapku lama. Kepalaku sangat sakit hingga rasanya seakan aku sedang bermimpi, kugerakan tanganku untuk memegang wajahnya itu.

Tanganku semakin dekat dengan wajahnya namun aku tidak bisa menyentuhnya dan ia hilang begitu saja. Saat itu, rasanya sangat sakit. Seakan mimpi indah itu menyadarkanku atas kenyataan yang pahit.

Bahwa aku tidak baik-baik saja..

“Sekyung?” Suara Chanyeol terasa sangat nyata sebelum aku menutup mata dan air mata menetes perlahan.

Aku membuka mata dan menyadari bahwa aku berada di ruang uks sekolah. Kulihat jam dinding yang menunjukan pukul 6, kubangkitkan diriku dan menatap ke sekeliling.

Chanyeol berada di sana. Ia duduk dan memainkan handphonenya, saat ia sadar bahwa aku bangun ia menatapku dengan pandangan tajam.

“Apa?”

“Kau belum makan dari kemarin?” Tanya Chanyeol membuatku kaget. Aku tidak tau bagaimana dirinya tau hal itu namun aku kaget dengan reaksinya.

Lalu aku tersadar, dia temanku.

“Aku tidak ingin makan.” Aku mengalihkan pandangan dan mencoba bangkit dari tempat tidur tersebut.

“Kau harus makan. Ayo.” Chanyeol menarikku.

Aku ingin memberontak namun tanganku bergetar saat disentuhnya. Aku tidak tau kenapa bisa seperti itu namun tentu saja aku lebih baik untuk tidak mengetahuinya.

Kami sampai di sebuah cafe. Tentu saja dia memaksaku untuk makan dan tentu saja aku mau tidak mau tetap harus makan karenanya.

Kami makan dalam diam. Tidak ada yang mengatakan sepatah katapun sebelum Chanyeol tiba-tiba meletakan tangannya di kepalaku. Kuhentikan kegiatan makanku dan menatapnya bingung.

“Apa?” Tanyaku seraya dirinya melepas tangannya dariku.

“Tidak. Aku hanya memastikan badanmu sudah tidak panas.” Ujarnya sambil melanjutkan makan.

Kami mulai makan lagi dan setelah itu mulai berbincang.

“Kau tidak bersama Yeon?” Tanyaku merasa ini aneh karena seharian Yeon berada di samping Chanyeol.

“Tidak. Aku mengantarnya pulang lalu kembali ke sekolah dan melihatmu di ruang uks.” Aku mengangguk seraya meneguk minumanku.

“Aku tau kau sakit dari sebelum aku harus mengantar Yeon tapi Yeon juga harus pulang. Tidak ada yang bisa menjemputnya tadi.” Aku mengangguk lagi dan menopang dagu.

“Kau sudah tidak apa-apa kan?” Aku tidak bergeming. Aku berfikir apakah aku baik-baik saja atau tidak?

Lalu ia memegang tanganku dan aku tersadar. Kutatap matanya dan tanganku kembali bergetar. Ada yang salah denganku dan aku yakin akan suatu hal.

“Aku tidak baik-baik saja..”

.

.

To be continue..

Jangan lupa like dan comment yaaa πŸ™‚

 

3 pemikiran pada “[Author Tetap] What is Pain? (Chapter 2)

  1. Ya kamu memang harus bilang tidak baik baik saja karena kamu memang tidak baik baik saja. Sangat sulit menyimpan perasaan benar bukan.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s