[Author Tetap]-If We Were Destined (Part 5)

PicsArt_03-04-02.36.15ByunPelvis

Main cast : Park Chanyeol, Lee Hyerin (OC) and Kim Hanna (OC).

Other cast : Oh Sehun,  Kim Jong In , Nayoung of Pristin, member EXO lainnya.

Genre : Romance , Angst, and family.

Leght : Chapter

Rate : General

Disclaimer : Cerita ini murni karyaku. Jika memiliki kesamaan mohon maaf. Beberapa adegan terinspirasi dari drama. Dan maaf untuk segala jenis typo.


 

Previous – (Part 4)

•••••••••••

April,  2011

Mata bulat seorang pria tak pernah lepas dari pemandangan yang saat ini sedang dilihatnya. Suara lembut juga merdu mampu menghipnotis dirinya. Sesekali teman yang duduk disampingnya mencoba untuk mengganggunya. Tapi pria bernama Chanyeol ini tetap fokus pada gadis yang sedang bernyanyi itu.

Tadinya ia sungguh bosan dengan acara peringatan kemerdekaan itu. Ia terlanjur kesal karena tertinggal jauh saat lomba lari. Lagi,  kakinya mengalami cedera karena sempat terjatuh. Akhirnya Chanyeol tak bisa mendapat posisi pertama. Ia mendapat juara dua, kemenangan yang tidak memuaskan baginya.

Kini setelah gadis yang tak dikenalinya tampil ke panggung, semangatnya jadi membuncah. Chanyeol sendiri heran kenapa tak bisa melepaskan pandangan dari sosok cantik dengan surai hitam di delan sana.

“Hei,  Yeol-ah. Kau terpesona dengan gadis itu ya?”. Tanya sahabatnya.

“Sepertinya. Aku sempat bertubrukan dengannya di backstage dan tak sengaja menjatuhkan minumnya. Wahh ternyata dia juga salah satu peserta dalam festival ini”. Kagum Chanyeol. Ia mengarahkan camera ke depan,  tepat pada si gadis penyanyi. Chanyeol menjepretnya beberapa kali lalu tersenyum setelah melihat hasilnya.

“Dia sangat manis. Aku menyukainya”. Ujar sahabatnya, berusaha memancing Chanyeol.

“Yak! Byun Baekhyun! . Aku lebih dulu menyukainya!”. Ucap Chanyeol cukup jelas.
Pria mungil bernama Baekhyun itu senang membuat Chanyeol kesal. Menarik mendapati temannya menyukai seseorang. Pasalnya selama ini Chanyeol tak peduli drngan yang namanya wanita.

Lagu yang dinyanyikan telah selesai dan gadis itu sudah turun dari panggung. Chanyeol dengan sigap langsung beranjak. Pemuda itu jalan dengan kakinya yang sakit. Baekhyun menggelengkan kepalanya melihat temannya berjalan pincang. Ia mengikuti langkah Chanyeol hingga sampai belakang panggung.

“Siapa yang kau cari?”.

“Gadis yang bernyanyi tadi”. Ujar Chanyeol dengan sibuk mengarahkan pandangannya.

“Kim Hyerin, itu namanya”. Bisik Baekhyun dan setelahnya Chanyeol langsung melotot.

“Kau mengenalnya?”

“Bodoh,  kau tak dengar saat MC menyebut nama gadis itu?”.

Chanyeol menggeleng dengan polosnya. Detik berikutnya ia tersenyum. Ia akan mencari tau siapa itu Kim Hyerin.

“Oh…  Jadi namanya Kim Hyerin?”.

Ini pertama kalinya ia menyukai seorang gadis. Rasa penasarannya membuat tidak nyaman. Ia ingin tau lebih jauh meski sulit. Ia tak tau siapa dan dari mana gadis bernama Kim Hyerin itu.

Chanyeol adalah orang yang terakhir pulang dari tempat festival. Ia sedari tadi diam-diam memperhatikan gadis yang tadi bernyanyi sangat indah. Baekhyun sudah kesal dari tadi karena Chanyeol menolak untuk pulang.

“Ayolah Yeol,  kita bisa ketinggalan kereta. Gara-gara kau kita tidak ikut pulang dengan mobil sekolah”.

“Sebentar saja. Aku harus mengganti minuman yang tadi kujatuhkan”. Jawab Chanyeol beralasan.

Baekhyun memutar bola matanya. Ia mendorong Chanyeol yang sehak tadi bersembunyi di balik pohon.

“Ingin memberinya sesuatu tapi kenapa terus diam disini?. Sana hampiri dia. Kau pengecut sekali”.

“Ya! Diamah-….  Eoh dia pergi”.

Chanyeol buru-buru untuk mengejar gadis bernama Kim Hyerin yang saat ini sudah masuk dalam sebuah bus.
Sayang sekali kaki Chanyeol sangat sakit. Ia tak sanggup berlari kencang. Akhirnya ia tak berhasil mengejar gadis itu.

“Bagus Park Chanyeol.  Kau gagal karena terlalu lama berdiam diri”. Ujar Baekhyun membuat semangat Chanyeol luntur seketika.

Chanyeol melihat beberapa orang yang menggunakan seragam serupa dengan gadis tadi masih di tempat itu.

“Baek, sepertinya itu salah satu temannya. Aku ingin bertanya”.

“Heol, kau benar-benar dalam masa pubertas Park Chanyeol”.

Sejak hari itu Chanyeol tau siapa Kim Hyerin. Saat liburan musim panas, pria itu pergi ke Busan. Chanyeol beralasan merindukan saudaranya yang tinggal di sana. Dan sangat kebetulan sekali tempat tinggal Kim Hyerin tak begitu jauh.

Chanyeol memiliki informasi dari teman laki-laki Hyerin saat pulang festival. Tak sulit untuk menemukan gadis itu. Chanyeol hanya perlu berdiam diri di suatu tempat.

Setiap malam pria tinggi itu pergi ke sebuah gereja untuk melihat Hyerin berdoa. Namun sayanganya, Chanyeol tak pernah berani untuk menyapa. Ia hanya mengikuti Hyerin dan kadang menyelipkan surat kecil di keranjang roti yang di bawa gadis itu.

Sampai setelah satu minggu lebih, perilaku Chanyeol membuat Hyerin penasaran. Ia seringkali berdiam diri di gereja untuk menanti siapa si pengirim surat. Gadis itu jatuh cinta dengan setiap kata yang Chanyeol tulis. Selama ini banyak pria yang terang-terangan menyatakan suka padanya, namun Hyerin tak tanggap. Tapi kali ini, orang misterius yang tak pernah menampakan diri malah membuatnya penasaran.

Malam itu,  Hyerin sengaja pulang telat. Ia bahkan mencari sosok misterius yang selalu menberinya surat di setiap sudut gereja. Sayangnya tak ada tanda-tanda seseorang selain dirinya. Malam sudah semakin larut dan ia sudah ditunggu ayahnya di rumah.

Karena penantiannya tak membuahkan hasil,  akhirnya Hyerin memilih pulang. Mungkin besok ada kesempatan untuknya bisa bertemu si pria misterius.

Hyerin berjalan seorang diri. Saat melewati gerbang, gadis itu di hentikan oleh seorang wanita tua. Dan ternyata ajhumma pengurus gereja.

“Nona tunggu! ”

Hyerin membalikan badannya. Sepertinya ada yang memanggilnya.

“Aku?.  Ada apa ajhumma? “.

“Nona, ada yang memintaku untuk memberikan ini untukmu”.

Hyerin menerima toples kaca berisikan  burung kertas berukuran mungil. Disana tertulis sebuah pesan ‘simpanlah seratus burung kertas ini!’.  Tak ada nama atau inisaial pemberinya.

“Ajhumma, kau tau siapa yang memberikan ini?”. Tanya Hyerin penasaran. Namun sayangnya wanita tua itu menggeleng tak mengerti.

“Tidak tau. Pria itu terlihat asing. Dia sangat tampan dan tinggi”.

Hyerin gagal lagi mengetahui siapa pria misterius itu.  Setelah bererimakasih, ia pamit pulang.

Sampai di rumah ia mengeluarkan burung kertas dalam toples dan menghitungnya.
Benar saja,  jumlah burung kertasnya ada seratus. Hyerin sangat menyukainya. Ia akan menyimpannya seperti pesan si pembuat.

Hyerin membaringkan tubuhnya di ranjang dan membayangkan pertemuannya dengan pria misterius itu.

“Mungkin jika kita bertemu,  aku akan menyukaimu”. Ujarnya.

Hari demi hari berganti, liburan musim panas akan berakhir. Tapat di minggu terakhir,  Hyerin kembali mendapat surat dalam keranjang rotinya.
Disana tertulis, pria misterius itu ingin bertemu dengannya.
Dengan perasaan senang Hyerin akan datang. Gadis itu sudah sangat penasaran.

Tempatnya di taman dekat kota. Hyerin datang dengan membawa roti yang selalu di bawanya saat ke gereja. Roti gandum buatan ia dan ayahnya. Dia sudah membuat yang paling spesial untuk seseorang yang akan ditemuinya.

Satu jam berlalu sejak ia menempelkan pantatnya di bangku taman. Hyerin sabar menunggu, meskipun lama.

Dari jauh ia melihat seseorang berjalan kearahnya. Hyerin berdiri saat pria tak cukup tinggi itu berhenti didepannya.

“Kim Hyerin?”
.
.
.
.
.
.
Chanyeol mendadak mendapat mood buruk saat ibunya memaksa untuk kembali ke Seoul. Ia di jemput paksa dan tak diberi waktu untuk menyelesaikan urusannya. Sebenarnya Chanyeol janji hanya tinggal satu minggu. Namun ia terlalu senang berada rumah saudaranya,  hingga mengabaikan ibunya.

“Aku mohon eomma, aku ingin menemui seseorang terlebih dulu”. Pinta Chanyeol sekali lagi.

Ibunya tak setuju, ia tetap memaksa putranya untuk kembali saat ini juga.
“Lihatlah!. Cuaca semakin mendung. Jalanan akan padat jika kita tak segera ke Seoul”.

“Tapi eomma-”

“Park Chanyeol menurutlah!. Aku tak ingin mendengar alasanmu lagi. Ayolah sayang!”.

Chanyeol kembali gagal. Ia harusnya sudah menemui Hyerin saat ini. Pria itu menyesal karena selama ini jadi pengecut.

Paman dan bibinya tak bisa membantunya untuk tinggal beberapa hari lagi. Rasanya Chanyeol ingin lari menemui Hyerin di taman kota saat ini.

Akhirnya ia menuruti ibunya. Entah bagaimana caranya untuk bilang pada Hyerin. Sayangnya ia tak memiliki teman di Busan. Chanyeol terpaksa memberi harapan kosong pada gadis pujaannya itu. Ia mengingkari janjinya untuk datang.

‘Maafkan aku,  Kim Hyerin’

Chanyeol sudah dalam perjalanan saat ini. Ia kesal dan hanya melihat samping tanpa mau bicara pada ibunya. Saat melewati taman kota, ia melihat  Hyerin sedang duduk sendirian.

“Eomma, bisa berhenti sebentar?”

“Apalagi?”.

Ibu Chanyeol menepikan mobilnya, ia menurut agar putranya tak bertambah marah.

Chanyeol langsung keluar dari mobil dan berlari kecil menghampiri Hyerin.
Jantungnya sudah berdebar tak karuan. Ia akan berkomunikasi langsung dengan gadis yang disukainya.

Namun belum sampai,  ada sesuatu yang membuatnya berhenti.
Senyum Chanyeol luntur saat jaraknya hanya tinggal dua meter. Kakinya mendadak kehilangan fungsi untuk melangkah. Hatinya seperti teriris saat melihat seorang pria seumurannya lebih dulu menghampiri Hyerin.

Menyakitkannya lagi,  pria itu mencium pipi Hyerin. Perlahan kakinya mundur,  dengan cepat Chanyeol membalikan badannya saat Hyerin menoleh.

Tadinya ia sudah memberanikan diri untuk menunjukan dirinya,  tapi sekarang jiwa pengecutnya kembali datang. Chanyeol akhirnya berjalan pergi.
Perasaannya hancur dan ia merasa kalah. Pasti pria yang sedang duduk disana orang spesial bagi Hyerin.

“Bodoh, memang kau siapa Park Chanyeol”. Lirihnya. Dengan langkah lemas ia masuk kembali ke dalam mobil. Ibunya bingung melihat perubahan mood putranya.

“Sebenarnya siapa yang kau temui,  nak?”.

“Bukan siapa-siapa.  Ayo pulang, eomma”.

Sejak melihat Hyerin bersama pria lain perasaannya jadi ragu. Chanyeol jadi tak ingin dirinya di ketahui oleh Hyerin. Biarlah ia menjadi penggemar rahasia gadis itu.

End of flashback

Chanyeol duduk di kursi kerjanya dengan tatapan kosong.
Ia hanya sedang bingung dengan
perasaannya. Setelah sekian lama, debaran yang dulu membuatnya merasakan cinta pertama kini kembali. Tidak boleh, Chanyeol tak akan membiarkan perasaan itu kembali ada. Ia harus mencintai satu wanita  yaitu Hanna. Ia sudah berusaha . Chanyeol susah payah belajar mencintai Hanna sselama ini. Jangan sampai rasa itu hilang hanya karna masa lalu.

Chanyeol akui, sebenarnya Hyerin adalah gadis yang pernah disukainya saat sekolah menengah pertama. Hyerin adalah gadis pertama yang membuatnya merasakan cinta. Tuhan ternyata tri doanya dulu. Ia minta dipertemukan dengan Hyerin dan itu terjadi. Namun cara mereka bersatu sangat salah. Hanya karena satu kebodohan, kehidupan masing-masing menjadi hancur.

Hari demi hari berlalu, Chanyeol belum mendapat kabar istri pertamanya akan pulang.

“Hanna, cepatlah kembali”. Lirihnya.

Sebenarnya Chanyeol menipu perasaannya sendiri. Disaat hatinya gundah karena Hyerin,  ia selalu melampiaskan pada istri pertamanya. Pria itu tidak sadar akan perasaannya.

Tiba-tiba kerongkongannya terasa kering.  Chanyeol ingin minum tapi air dalam gelasnya habis. Pria itu beranjak keluar dari ruang kerjanya untuk ke dapur. Saat membuka pintu,  ia dikejutkan oleh Hyerin yang sedang berdiri dengan wajah kacau.

“Ah….  Kau mengejutkanku!” Ujarnya sedikit kesal. Hyejin seperti hantu karena langsung muncul didepannya.

“C-chanyeol-ssi, maaf”.

Ucapan Hyerin terdengar ragu. Wanita itu bingung harus minta bantuan Chanyeol atau tidak. Chanjoo tertidur dalam gendongannya setelah tadi lelah menangis.

“Apa?”.

“Chanjoo terus muntah-muntah. Badannya sangat panas, a-aku bingung harus bagaimana?. Bisakah kau mengantarku ke rumah sakit?. Sebentar saja,  setelah itu aku tak akan menganggumu lagi”. Kata Hyerin dengan nada bergetar. Ia sudah ketakutan saat melihat putranya terus muntah. Tak ada yang bisa dimintai tolong selain suaminya.

Chanyeol menghela nafasnya,  sebenarnya tak tega jika hanya diam. Melihat anaknya menangis saja kadang cukup membuatnya ikut cemas.

“Tunggu aku didepan!”.

Pria itu kembali masuk ke ruang kerjanya. Ia menyerobot jaket dan juga kunci mobil.
Saat keluar lagi, yang Chanyeol dapati malah wajah bingung Hyerin.

“Apalagi?. Cepatlah!”. Gertaknya dengan menarik pergi Hyerin.
.
.
.
.
Hanna pergi ke sebuah super market untuk membeli bahan makanan. Ia hanya seorang diri, karena ibunya masih tidak boleh untuk berjalan jauh.
Wanita itu mendoring trolinya sembari melihat kanan kiri untuk mencari daging. Tanpa ia ketahui di simpang jalan juga ada seseorang yang tidak fokus mendorong troli. Akhirnya troli kedua bu ya bertubrukan.

Hanna hendak minta maaf, tapi setelah keduanya bertatapan malah sama-sama diam.

“Shin Hanna?”

“Kau?”. Kaget Hanna setelah melihat wajah seseorang di hadapannya.
Orang itu yang tadinya diam kini tersenyum lebar.

“Benarkah ini kau?.  Aku tak menyangka bisa bertemu denganmu, mantan kekasih”. Ujar si pria dengan bahasa Korea.

Hanna berusaha untuk memalingkan wajahnya. Rasanya ingin menghilang saat ini juga. Sungguh ia berharap ini adalah mimpi

“Sial, dunia ini begitu luas tapi kenapa kau   ada di sekitarku?”. Ujar Hanna, dan si pria hanya terkekeh.

“Benar.  Bukankah aneh?. Setelah lima tahun kenapa kita harus bertemu lagi?”. Tanya pria itu kembali.

Hanna berusaha mengabaikan. Ia membalikan badannya namun trolinya di cekal.

“Ya!”

“Bicaralah denganku,  sebentar saja”. Pinta orang itu.

Hanna menghempaskan tangan pria tinggi disampingnya. Dan memberinya tatapan penuh kebencian.

“Aku sibuk, Kriss Wu!”. Tolak Hanna,  berusaha dengan nada sopan.

“Aku tidak peduli”

Pria bernama Kriss itu menarik Hanna,  meninggalkan belanjaannya begitu saja.

.
.
.
.
Dokter baru saja keluar dari ruang rawat. Hyerin menghela nafas lega karena putranya baik-baik saja. Katanya,  Chanjoo sakit karena daya tahan tubuh anak itu sedang turun. Perubahan cuaca juga menjadi penyebabnya. Hyerin ingat kemarin sempat hujan-hujanan saat menjemput Chanyeol. Malamnya ia pusing dan bersin-bersin. Rupanya itu menular pada putranya. Sungguh disesalkan. Seharusnya ia bisa menjaga kesehatannya agar putranya juga sehat. Karena buah jatuh tidak jauh dari pohonnya. Jika ia sakit,  Chanjoo akan ikut sakit.

Hampir setengah hari kedua pasangan ini menunggu putranya yang sedang di infus. Dokter bilang, Chanjoo kekurangan cairan. Anak itu harus tinggal satu hari agar pulih.
Chanyeol diam memperhatikan Hyerin yang tertidur di samping ranjang Chanjoo.

Ia kembali bingung. Bahkan sekarang Chanyeol rela mengantar Hyerin sampai ikut berdiam diri di rumah sakit. Padahal bisa saja ia pergi untuk mengerjakan lemburannya di rumah.
Mungkin ini bentuk rasa kesepiannya karena tidak ada Hanna. Ia merasa bertanggung jawab karena hanya Hyerin yang di sampingnya saat ini. Lagipula Chanjoo putranya, ia akan sangat jahat jika mengabaikan.

Dilihatnya wajah pucat Chanjoo, tanpa sadar tangannya terulur untuk membelai rambut tipis putranya. Chanyeol terseyum saat menyadari wajah Chanjoo sangat mirip dengannya. Ia seperti melihat potret dirinya saat masih bayi.
Matanya beralih ke tangan Hyerin yang menggenggam tangan mungil Chanjoo. Baru di sadarinya jika Hyerin memakai cincin pernikahan mereka. Sedangkan ia sendiri memakai cincin pernikahannya dengan Hanna. Cincin pernikahannya dengan Hyerin entah dimana, ia bahkan lupa letaknya.

“Kenapa kau tidak membenciku saja,  Kim Hyerin?”. Lirihnya.

Chanyeol sangat ingin Hyerin pergi dari hidupnya agar perasaannya tak bimbang. Chanyeol tak ingin menjadi pria brengsek yang terus menyakiti dua wanita. Menurutnya akan lebih baik jika Hyerin bersama pria lain yang lebih baik darinya. Chanyeol akan mengurus perceraiannya lebih cepat,  mungkin.

Kini ingatannya kembali ditarik ke masa lalu. Ia jadi rindu Hyerin saat masih remaja. Suara indah gadis itu, senyum,  dan juga roti. Chanyeol rindu rasa manis dari roti buatan Hyerin. Dulu ia kerap memintanya dari penjaga gereja.
Busan adalah kenangan indah dan juga pahitnya saat remaja.

“Kenapa kita harus bertemu dengan cara seperti ini?. Kau membuatku jadi pria brengsek dan orang tua yang buruk, Kim Hyerin”.

Chanyeol sadar telah bicara yang akan membuat sakit hati jika mendengarnya. Hei,  bukankah semua juga karena kecerobohannya?. Chanyeol juga sadar dirinya bodoh.

Ponselnya berdering keras. Pria itu memilih keluar sebelum membangunkan dua orang di hadapannya.
Hanna menelfon,  mungkin ada hal penting. Baguslah, Chanyeol sudah merindukan wanitanya itu.

Chanyeol baru saja berjalan setelah menutup pintu ruang rawat Chanjoo. Namun,  detik itu ada yang menarik kerah bajunya dari belakang.

“Chanyeol-ah!”

“Hei apa yang kau lakukan?”. Marah Chanyeol,  ia bicara cukup keras karena kesal.

“Haha…  Kau benar Park Chanyeol”.

Seketika mata Chanyeol melotot setelah melihat pria berjas putih didepannya.

“Byun Baekhyun?”. Ucapnya setengah berteriak.

Pria yang badannya lebih pendek darinya itu tertawa keras. Wajah Chanyeol sangat lucu saat kaget.

“Buang wajah terkejutmu itu,  Yoda!. Apa aku semakin tampan, heum?”. Tanya Baekhyun,  dengan candaannya.

“Apa yang kau lakukan disini?”.

Baekhyun berdecak, lalu memukul lengan Chanyeol. Pertanyaan temannya itu sungguh tidak logis. Padahal terlihat jelas jika dirinya memakai jas putih dengan id dokter.

“Tentu saja bekerja. Mulai minggu lalu aku sudah bekerja di rumah sakit ini”. jawab Baekhyun.

“Ya!. Kau tak mengabariku jika kembali ke Korea. Kau pasti lupa padaku. “. Ujar Chanyeol. Setahunya Baekhyun belum lulus dari universitas di USA.

“Aku terlalu sibuk untuk memikirkanmu,  teman. Eoh?.  Apa yang kau lakukan di sini?. Siapa yang sakit?. Oh tidak,  apakah Hanna?”. Tanya Baekhyun lagi.  Pria berbadan mungil itu memang sangat cerewet.

“i-itu… ”

Chanyeol bingung harus jujur atau tidak. Salah satu temannya itu tak tau jika ia menikah lagi dengan Hyerin. Setahu Baekhyun,  istrinya hanyalah Hanna.

Baekhyun adalah teman yang pernah membantunya mendekati Hyerin. Baekhyun tau bagaimana kisah cinta pertamaya. Bagaimana jadinya jika temannya itu tau kehiduapan pernikahaannya saat ini?

“Ah iya,  aku harus menemui pasienku. Chanyeol-ah, kita bertemu di caffe langganan kita dulu ya. Aku menunggumu besok siang.  Kita harus mengobrol!. Ok?”. Tutur Baekhyun, setelahnya berlari pergi.

Chanyeol sedikit lega. Ia mungkin akan membawa anak dan istrinya pulang lebih cepat. Ia tak mau Baekhyun tau. Biarlah semua menjadi rahasia sampai keduanya bercerai.

Tbc

 

Hay. ….  Finally post juga. So sorry ya karena lambat. Sebelumnya terimakasih bagi yang sudah baca dan komentar. Maaf bila cerita ini aneh haha. Maaf banyak typo.

 

Iklan

4 pemikiran pada “[Author Tetap]-If We Were Destined (Part 5)

  1. Ouw jadi begitu ceritanya, tapi siapa pria itu yang menemui hyerin saat chanyeol datang. Tapi bagaimana chanyeol bisa ketemu dengan sahabat hyerin Hanna

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s