[Author Tetap]- If We Where Destined. (Part 6)

PicsArt_03-04-02.36.15

ByunPelvis

Main cast : Park Chanyeol, Lee Hyerin (OC) and Kim Hanna (OC).

Other cast : Oh Sehun,  Kim Jong In , Nayoung of Pristin, member EXO lainnya.

Genre : Romance , Angst, and family.

Leght : Chapter

Rate : General

Disclaimer : Cerita ini murni karyaku. Jika memiliki kesamaan mohon maaf. Beberapa adegan terinspirasi dari drama. Dan maaf untuk segala jenis typo.

(Part 1)

(Part 2)

(Part 3)

(Part 4)

(Part 5)

*****——-*****

Pria dan wanita tengah berbincang di sebuah caffe. Sejak tadi salah satunya mencoba memancing obrolan agar lawan bicaranya tak bosan. Hanna yang sebenarnya malas hanya mendengarkan saja. Selama ini ia sudah berupaya melupakan pria bernama Kriss Wu itu. Ia tak menyangka akan bertemu lagi. Kenangan masa lalunya begitu menyakitkan.

Sebenarnya memang kemungkinan besar karena Kriss tinggal di kota yang sama dengan rumah ibunya.

“Shin Hanna, kau masih membenciku?”. Tanya pria berambut coklat dengan bahasa korea yang cukup aneh.

“Eoh”

“Hey ayolah. Kita dulu belum dewasa. Maaf jika aku pernah menyakiti perasaanmu”.

Hanna memutar bola matanya. Pria hidung belang seperti Kriss memang suka membual.

“Belum dewasa?. Kau yang terlalu kekanakan, Kriss Wu.  Jika tak ada pembicaraan penting aku pulang saja”.

“No!.  Aku masih merindukanmu.  Kau tau?. Selama ini aku mencarimu,  Hanna”.

Hanna terkekeh, dulu bahkan saat dirinya kembali ke Korea tak ada yang mencegahnya. Setelah lulus kuliah, Kriss tak pernah menghubunginya lagi.
Pria itu terlalu sibuk dengan pacar baru setelah putus darinya. Ia benci hal itu. Hatinya dipermainkan, Hanna merasa bodoh pernah mencintai Kriss.

“Untuk apa mencariku?. Aku sudah bahagia bersama suamiku”.

Raut wajah Kriss berubah, entah mengapa hatinya seperti patah hati mendengar penuturan Hanna barusan.

“Waah…  Kau sudah menikah?.  Dan sekarang kau mengandung anaknya?. Aku sangat terkejut”.

“Eum, kuharap ini terakhir kalinya aku melihatmu. Berbahagialah dengan wanitamu Kriss Wu”.

Merasa waktu pertemuan mereka sudah cukup,  Hanna beranjak. Namun Kriss tak tinggal diam,  ia nenahan lengan Hanna.

“It’s hard for me. Please,  ijinkan aku menemuimu”.

Hanna menghela nafasnya, dengan kasar ia menepis tangan Kriss. Kakinya melangkah pergi,  ia tak akan menoleh ke belakang. Sampai di luar kakinya lemas. Rasa takut bertemu seseorang yang pernah membuat hatinya hancur terjadi.

“Pria brengsek itu.  Kenapa harus muncul?. Sial!”.
.
.
.
.
.

Hyerin terbangun saat jam sudah menunjukan tengah malam. Ia terpaksa harus membawa putranya pulang kemudian hari. Chanjoo terlihat tak pucat lagi. Mata bulat dan mungil itu sudah membuka matanya,  bahkan tersenyum saat Hyerin menatapnya.

“Sayang, appa Chanjoo lapar?.  Mau menyusu?”. Tawar Hyerin pada putranya.

Chanjoo mengulurkan tangannya,  pertanda ia setuju dengan ajakan ibunya. Hyerin menggendong si kecil, mendudukannya di pangkuan.

“Anak eomma harus selalu sehat. Mian, eomma akan menjagamu lebih baik. Ok?”.

Chanjoo tersenyum,  bermain dengan pipi ibunya. Hyerin sadar,  tak ada siapapun selain dirinya di ruang rawat. Ekspresinya berubah sedih. Sepertinya Chanyeol benar langsung pulang setelah mengantarnya. Tentu saja, mana mungkin pria itu mau menemaninya untuk menjaga putranya.

Suara ketukan pintu membuat perhatian Hyerin teralih. Ia segera menyudahi kegiatannya menyusui Chanjoo.

Gadis itu hendak bangkit namun pintu sudah terbuka. Seseorang berpakaian dokter masuk kamar rawat Chanjoo.

“Eo…  Anyeonghaseyo”.

Hyerin membungkuk hormat saat dokter itu sudah ada di hadapannya. Ia sedikit tak yakin dokter akan memeriksa putranya semalam ini.

“Apa aku salah kamar?. Aihh,  tapi aku yakin Chanyeol keluar dari sini”. Gerutu pria bernama Baekhyun itu.

“Maaf, apa anda ingin memeriksa putraku?”. Tanya Hyerin. Samar-samar ia mendengar orang dihadapannya menyebut nama suaminya.

“Ah…. Tidak. Aku sedang mencari istri temanku. Sepertinya aku salah kamar.  Ma-“.

Ucapan Baekhyun terhenti saat sadar akan satu hal. Wanita dihadapannya terlihat tidak asing. Baekhyun merasa pernah melihat entah dimana. Ingatannya terlalu bagus dan sekietika ia tau.
Mata sipitnya mengerjap dan wajahnya dimajukan. Sontak Hyerin memundurkan wajahnya. Apa-apaan dokter dihadapannya itu, fikirnya.

“Hei… Aku tau kau”. Heboh Baekhyun.

Ia yakin tak salah. Pria itu masih ingat wajah cinta pertama Chanyeol. Ya, ia yakin wanita di depannya adalah gadis yang pernah Chanyeol kejar.

“Kau…  Gadis penyanyi dari busan itu kan?. Gadis yang sering berdoa di gereja”. Sambung Baekhyun,  ia sedikit tak yakin karena sudah lama sekali.

Hyerin tadinya bingung bagaimana bisa dokter dihadapannya tau tempat asal juga kepribadiannya. Namun sekian detik,  ia tak kalah terkejutnya saat sama-sama ingat seseorang. Ia kenal siapa Baekhyun. Wajah pria dihadapannya sekarang sudah jauh berbeda. Dulu saat Hyerin kenal,  Baekhyun tak memakai kaca mata seperti sekarang.

“Kau?”.
.
.
.
.
.
.
Chanyeol ketiduran di mobil setelah ia menerima panggilan dari Hanna. Tadi ia berniat membeli makanan untuknya juga Hyerin, namun karena lama berbicang lewat ponsel ia jadi lupa.

“Astaga”.

Akhirnya Chanyeol menuju mini market dan membeli beberapa makanan. Ia sangat lapar dan pasti Hyerin juga lapar.

Chanyeol berlari kecil setelah sampai rumah sakit. Sepanjang jalan ia memikirkan hal yang mungkin saja terjadi. Kenapa juga ia harus berhenti di pinggir jalan dan ketiduran di mobil. Bagaimana jika Chanjoo kembali demam?. Ia akan menyalahkan dirinya sendiri karena tak ada di samping putranya.

Sejujurnya Chanyeol sangat menyayangi Chanjoo. Buah hati yang tak sengaja hadir dalam hidupnya. Sikap acuhnya selama ini semata-mata untuk persiapan jika ia sudah bercerai dengan Hyerin. Setelah berpisah nanti pasti mereka sangat jarang bertemu. Chanyeol tak mau gila karena rindu. Ia pernah merasakannya sekali. Merindukan seseorang yang amat disayanginya.

Setelah di depan pintu ruang rawat putranya,  Chanyeol diam lebih dulu. Ia sedang menyiapkan perasaannya.

Cklek….

Tangannya belum menyentuh knop, namun pintu dihadapannya sudah terbuka. Mata bulatnya melotot setelah melihat seseorang dihadapannya.

“Park Chanyeol?”.

Chanyeol menjatuhkan kantung plastik yang dibawanya saat mendapati Baekhyun keluar dari ruang rawat putranya. Tak lama kemudian Hyerin muncul dari dalam.Tanpa bicara lagi ia menarik Baekhyun pergi.

Hyerin melihatnya dengan tatapan bingung. Tadi memang Baekhyun memang bercerita banyak hal. Hyerin cukup terkrjut saat tau ternyata Chanyeol adalah teman Baekhyun. Dan sekarang pertanyaan lain muncul. Mengapa Chanyeol terlihat terkejut saat melihat Baekhyun. Mungkinkah karena suaminya itu tak ingin status mereka diketahui?. Hyerin baru sadar jika pernikahan mereka memang ditutupi. Sudahlah,  lebih baik ia mengabaikannya.

Matanya beralih pada kantung plastik yang tergeletak di lantai. Ia tadi sempat melihat saat Chanyeol menjatuhkannya.

Dilihatnya isi kantung itu. Ada beberapa roti dan juga susu. Juga satu bungkus sosis, cemilan kesukaannya. Ia sedikit menyungging senyum,  namun setelahnya menggeleng. Bodoh jika ia berfikir Chanyeol sengaja membelikan untuknya.

“Sebenarnya ada apa?. Kenapa dia menarik Baekhyun-ssi pergi?”.

Ditempat lain,  lebih tepatnya di sebuah koridor sepi. Chanyeol masih menyeret Baekhyun.

“ya! Ya! Ya! Park Chanyeol apa yang kau lakukan?”. Tanya Baekhyun setelah Chanyel melepaskan tangannya.

“Kenapa kau seenaknya masuk ruang rawat itu?”.

Chanyeol terlihat kesal, namun Baekhyun memasang wajah bodoh.

“Ah…. Hyerin-ssi?”.

Chanyeol mengalihkan tatapannya saat Baekhyun menyebut nama istri keduanya.

“Yeol,  ceritakan padaku bagaimana bisa kau menikah dengannya. Dan anak kecil itu…. Dia sangat mirip denganmu”. Ujar Baekhyun, banyak pertanyaan yang ingin ditanyakannya pada Chanyeol.

Tadi Baekhyun bertanya pada Hyerin tentang kabar gadis itu. Dan betapa terkejutnya saat tau jika ternyata gadis itu menikah dengan Chanyeol. Baekhyun kira dirinya salah masuk kamar. Saat ia tak sengaja menyebut nama Chanyeol,  reaksi Hyerin berubah. Hyerin bilang jika pria bernama Park Chanyeol adalah suaminya. Baekhyun lebih terkejut lagi setelah menyadari rupa anak kecil yang di grndong Hyerin mirip Chanyeol.

“Ceritanya panjang”.

“Tidak mungkin. Apa kau melamarnya setelah menikahi Shin Hanna?”.

Chanyeol kembali melotot pada Baekhyun.

“Mana mungkin aku seperti itu. Aku bukan pria brengsek yang akan menduakan wanita. Semua terjadi karena kecelakaan. Aku terpaksa menikahi Kim Hanna”.

Baekhyun menyipitkan matanya setelah mendengar alasan Chanyeol.

“Hebat. Kau bertemu cinta pertamamu dan menikahinya. Entah itu kecelakaan atau bukan,  sepertinya kalian berjodoh”.

Chanyeol menghela nafasnya. Ia sedikit cemas sekarang. Baekhyun adalah perantaranya saat ia melakukan pendekatan dengan Hyerin. Ia tak mau  Hyerin tau siapa dirinya di masa lalu.

“Baek, aku tak tau semua ini akan terjadi”.

“ceritakan semuanya padaku. Chanyeol-ah”. Ujar Baekhyun.  Sebenarnya ada rasa kecewa mengetahui temannya menikahi Hyerin. Bagaimanalun juga Chanyeol sudah lebih dulu memiliki istri.

“Akan ku ceritakan.  Dia belum tau siapa aku di masa lalu. Baekhyun-ah, tolong jangan beritahu dia jika aku adalah pria yang sering mengirimnya surat saat JHS”.

“Aku tidak janji, Chanyeol-ah”.

“Ya!. Kau-”

“Aku tak bisa bayangkan bagaimana hancurnya jadi Kim Hyerin. Dan bagaimana dengan Hanna?. Apa dia tulus menerima kehadiran Hyerin?”.

Chanyeol menggeleng sebagai jawaban. Kepalanya menunduk, tak ingin Baekhyun melihat genangan air di matanya.

“Aku tak berhak ikut campur dalam hubungan kalian. Kuharap kau bisa memilih jalanmu untuk bahagia”. Tutur Baekhyun lalu berbalik pergi. Terlalu mengejutkan setelah tau kehidupan temannya saat ini.

Chanyeol tersenyum pahit setelah Baekhyun tak terlihat. Ucapan Baekhyun tadi langsung menggema diotaknya. Bahagia?, bahkan Chanyeol tak yakin.
Jalan untuk bahagia mungkin dengan menceraikan Hyerin. Namun hal itu juga menyakitkan baginya. Bisakah ia bahagia saat jauh dengan buah hati yang sebenarnya amat ia sayangi?. Mungkin ada rasa kesepian yang dirasakannya nanti. Hidupannya memang serba salah.
.
.
.
.

Mata Hanna masih terbuka, ia tak bisa tidur karena memikirkan pertemuannya dengan Kriss tadi siang. Dunia terlalu sempit. Ia benci harus bertemu dengan orang yang pernah menyakiti perasaannya.

Belum lama tadi ia mengakhiri panggilan dengan Chanyeol. Rasanyaa ia ingin pulang ke Korea malam ini juga. Namun sayangnya,  sang ibu masih butuh dirinya. Ia mungkin akan kembali satu bulan ke depan. Entah bagaimana keadaan di rumah. Ia kadang tak rela saat membayangkan suaminya hanya berdua bersama Hyerin. Namun mengingat sikap Chanyeol yang cuek pada Hyerin membuatnya yakin. Suaminya tak akan melirik wanita yang pernah jadi temannya itu.

Hanna mendesah saat tiba-tiba ingat ucapan Kriss. Pria yang pernah jadi kekasihnya itu minta bertemu lagi.
Di ponselnya terpampang halaman internet yang menunjukan berita tentang Kriss. Disana tertulis bahwa model Kriss Wu hampir saja mengakhiri hidupnya karena frustasi.

“Pria gila itu. Mungkinkah hidupnya hancur?”.

Hanna tak pernah tau kabar Kriss. Ia terlalu terkejut dengan berita itu. Difikirnya pria seperti dia tak peduli soal hati. Bisa-bisanya Kriss dikabarkan mau bunuh diri. Entah seberapa berat penderitaannya.
Hanna menggelengkan kepalanya. Untuk apa peduli dengan hidup Kriss Wu. Yang harus difikirkannya saat ini harusnya Chanyeol. Sudah jelas jika ia sangat merindukan suaminya.

“Ah entahlah. Aku mulai gila”.

Hanna memejamkan matanya, ingin segera mengganti malam dengan pagi. Hari harus cepat berlalu agar dia bisa cepat pulang. Dan juga bertemu Park Chanyeol.
.
.
.
.
Hari sudah berganti, Chanjoo sudah sehat dan ceria. Hyerin bisa menjaga putranya 24 jam hari ini karena dia masih dalam masa libur. Kegiatan di rumah tak begitu menyibukannya. Ia dibantu oleh pengurus Chanjoo soal pekerjaan rumahnya.
Wanita itu ingat dua hari yang lalu, tepatnya saat putranya masih dirawat. Lewat tengah malam tiba-tiba Chanyeol menyuruh keduanya pulang. Dengan alasan Chanjoo sudah membaik,  akhirnya dokter setuju. Pikirnya Chanyeol sudah gila. Kadang Hyerin tak bisa menebak sifat suaminya.

Dan untuk pria bernama Barkhyun itu, Hyerin ingin menemuinya lagi. Ada sesuatu yang harus ditanyakannya. Dulu terakhir kali bertemu, Baekhyun memberikan surat dari pria misteriusnya. Ia belum sempat tanya siapa nama pria misterius itu. Ini kesempatannya untuk tau, meski sudah sangat lama berlalu. Bukan apa, Hyerin hanya ingin membayar rasa penasarannya selama ini.

“maaa!”

Chanjoo berjalan langkah demi langkah. Hyerin tersenyum melihat perkembangan putranya sangat cepat. Bulan depan usia Chanjoo genap dua tahun. Ia belum memiliki rencana untuk merayakannya. Entahlah,  mungkin hanya dirinya yang akan memeriahkan hari special putranya.

“Tak apa sayang, melangkah lah pelan-pelan. Aigoo anak eomma pandai sekali”.

Ponselnya bergetar, sepertinya ada yang menelfon. Hyerin melirik siapa yang memanggilnya pagi-pagi. Ada nama Oh Sehun yang terpampang di layar ponselnya. Hyerin tersenyum, sudah beberapa hari ini ia tak komunikasi dengan paman muridnya itu.

Dari jauh terlihat Chanyeol sedang berjalan sembari memakai dasi.

Pria itu sedikit canggung untuk bertemu Hyerin. Setelah kejadian di rumah sakit membuatnya gugup. Ia menghindar dengan berbelok ke ruang makan.

“Tidak Sehun-ah. Aku tidak sibuk. Ada apa?”.

Raut wajah Chanyeol berubah. Ia berjalan mundur dan berhenti dibalik tembok untuk mengintip Hyerin. Mendengar nama Sehun membuat dadanya bergemuruh. Tiba-tiba saja ia jadi penasaran.

“Baiklah. Aku akan membawa Chanjoo. Memang kau mau mengajakku kemana? “.

Cukup,  hatinya seperti tertempel bara api. Tanpa sadar Chanyeol melangkahkan kakinya mendekat. Pria itu menepuk bahu Hyerin, membuat wanita keduanya meboleh.

“Y-ya?”.

“Kim Hyejin, pasangkan dasiku dengan benar!”.

Hyerin malah seperti orang linglung saat Chanyeol memerintahnya. Sehun masih bicara disebrang sana. Ia mendengar ocehan Sehun,  namun juga memperhatikan Chanyeol.

“Ee…  Sehun-ah aku-”

“Cepatlah!. Aku sudah terlambat!. Jika bukan karena terburu-buru aku tak akan minta tolong padamu”. Ujar Chanyeol,  pria itu berubah cerewet.

Hyerin masih syok dengan permintaan Chanyeol. Ini pertama kali suaminya meminta tolong padanya.

“E-eoh”.

Dengan tangan gemetar, Hyerin memasangkan dasi pada kerah baju Chanyeol. Karena badan suaminya itu tinggi,  ia harus berjinjit. Di lantai ada kursi duduk anak-anak.
Chanyeol menggeser kursi duduk Chanjoo dengan kakinya. Bermaksud mempermudah Hyerin.

Si wanita hanya memelototinya. Tak tau maksud Chanyeol.

“Naiklah!.  Kau akan lebih mudah memakaikannya”.

Hyerin menurut untuk naik kursi. Kini wajahnya dengan wajah Chanyeol sejajar.
Hyerin fokus memakaikan dasi, sementara Chanyeol serius memperhatikan setiap lekuk wajah Hyerin. Memang sudah tak terkontrol lagi,    hati dan fikiran Chanyeol tak bisa bersatu. Kenapa juga ia harus menghampiri Hyerin untuk minta tolong pakai dasi. Padahal ia sendiri cukup pandai memakainya.

“Sudah selesai”. Ujar Hyerin. Ia turun dari kursi dan beralih menggendong Chanjoo. Sepetinya wajahnya sudah merah karena berhadapan langsung dengan wajah suaminya.

“Jangan keluar rumahhari ini!. Jaga saja Chanjoo!”.

Chanyeol langsung berlalu pergi setelah mengatakannya. Pria itu tersenyum kecil di tengah langkahnya. Mengganggu Hyerin cukup menyenangkan. Chanyeol tak suka saat Sehun dekat dengan Hyerin. Ia cukup penasaran mengapa Sehun menelfon Hyerin sepagi ini. Jika bukan minta bertemu apa lagi?.

Chanyeol tak ingin Hyerin bertemu Sehun. Karena bisa saja status pernikahan mereka terbongkar nantinya. Semuanya akan jadi rumit.

Sementara Hyerin, ia masih dibingungkan dengan sikap Chanyeol tadi.

“Dia itu kenapa?”.

Sepertinya bukan hanya perasaan Hyerin saja. Suaminya sedikit perhatian pada Chanjoo belakangan ini.

“Joo-ya.  Mungkinkah appa mulai menyayangimu?”.

Kenapa saat waktu perpisahan hampir tiba Chanyeol malah perhatian?. Kenapa tidak dari dulu?.

Andai saja Hyerin bisa melakukan sesuatu untuk membuat pernikahannya bertahan. Mungkin ia memilih untuk terus hidup menjadi istri kedua Chanyeol. Tak apa hatinya terluka setiap hari. Hyerin ingin putranya merasakan kebahagiaan seperti kebanyakan anak. Meskipun pasti Chanjoo akan kecewa dengan perbuatan ayahnya suatu saat nanti.

.

.

.

Tbc

.

.

.

Hallo, sebelumnya terimakasih yang sudah baca dan kasih komentar.

Seperti biasa,  maaf kalau banyak typo. Author selalu ceroboh mengetik haha.

Semoga cerita aneh ini bisa lanjut sampe end.

See you next part ya. ..

 

Iklan

10 pemikiran pada “[Author Tetap]- If We Where Destined. (Part 6)

  1. Seruuuu….
    Apa chanyeol bakalan punya 2 istri selamanya atau pisah ama hanna, terus hanna balik lagi ama kris???

    Makin penasaran..

  2. Min kapan update lagii. Gue cari2 belum ada yang part 7 masaa :(( penasaran banget inii. Kangen feelnya pas baca IWWD, nyesek2 gimana gitu tapi asik😂😂

  3. Ayo dong kak lanjut….
    Seru bagt,
    Aku harap hyerin jadinya sama sehun biar chanyeol ngerasa bersalah dan kehilangan…
    Hm…kayanya seruuu😍😍😍😍😚

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s