[Vignette] Only His

picsart_01-10-12.36.23

Only His

.

Surrealism, Psychology, Suspense || Vignette || PG-17

Starring :

Soloist Luhan & OC`s Kim Hyerim


“Bisakah kamu menawar harganya agar lebih murah?”

Yang indra dengarku tangkap hari ini ialah selentingan tawaran dari pembeli yang sebetulnya sudah monoton; menawar harga boneka manekin indah kesayangan Si Pemilik Toko yang punya banyak topeng itu.


Based On : 50 Random Writing Prompts by graesthetic

© 2019 Storyline by HyeKim

║█║♫║█║♪ ║█║♫ ║█║ ♪ ║█║

“Bisakah kamu menawar harganya agar lebih murah?”

Yang indra dengarku tangkap hari ini ialah selentingan tawaran dari pembeli yang sebetulnya sudah monoton; menawar harga boneka manekin indah kesayangan Si Pemilik Toko yang punya banyak topeng itu. Bukan bermaksud menjelekan, tapi aku tahu seluk-beluk yang disembunyikan Si Pemilik Toko yang sedang tersenyum ramah pada pembelinya.

“Tidak bisa, Nyonya,” jawab Si Pemilik Toko, sudah bisa kutebak. “manekin ini amat berharga untukku.” Dirinya lanjut melontarkan frasa, yang sesungguhnya ingin kutimpali dengusan keras serta-merta hunusan tajam dari obsidianku jikalau saja bisa melakukannya.

O, ya, kuperkenalkan dulu diriku. Namaku Kim Hyerim. Orang-orang kerap memuji betapa cantik diriku, bahkan binar mata anak-anak belia selalu bercahaya kala memperhatikanku. Kata mereka, semua fragmen dalam diriku amatlah sempurna. Andai kata aku dapat merespons pujian-pujian itu dengan ungkapan terima kasih, tetapi diriku sudah terlanjur dikawani oleh kelabu sepi kendati dapat mendengar, bibirku sudah kelu untuk bersuara; aku bisu, orang-orang menyebutnya demikian.

Hal lain mengenai diriku adalah, aku penghuni tetap toko boneka yang merupakan surga duniawi bagi anak-anak dan beberapa orang dewasa yang secara takzim masih menggemari benda mati tersebut, yang berkepemilikan seorang jaka sinting berdarah China bernama Luhan.

Sesungguhnya, aku sudah muak bernaung di toko milik Luhan, ingin sekali diriku melarikan diri dari sangkar penjara yang bagi orang lain hanyalah sebuah toko yang menjual boneka dan manekin-manekin indah serupa manusia. Namun, aku tidak bisa, kembali keadaan menghalangiku. Tungkaiku lumpuh. Miris, bukan? Sudah bisu, alat berjalanku turut jua tak bisa digunakan. Ah, betapa rindunya aku menyusuri pedestrian dengan nyaman meski harus diterpa polusi kendaraan bermotor atau sekedar menghabiskan waktu di Taman Sungai Han sambil memakan es krim atau menyeruput bubble tea.

Si Pembeli mengamatiku lekat setelah ditolak secara santun tawarannya oleh Luhan. Nyonya pembeli ini memperhatikanku dari ujung kepala sampai ujung kaki. Tenang, aku tidak tersinggung diamati demikian sebab seperti kataku, orang-orang mengatakan semua fragmen yang melekat dalam diriku sempurna, perempuan ini pun berpendapat demikian karena menyensorku secara takzim lalu menggeleng takjub. Apakah aku secantik itu? Sudah lama aku tidak melihat refleksiku di hadapan cermin, omong-omong.

“Dia sangat cantik,” ucap Si Pembeli, setia mengamatiku dengan takjub. Di sebelahnya, Luhan mengukir senyum. “pantas kamu sangat menyukainya.”

Tentu, Nyonya, saking menyukaiku dia sampai melakukan hal gila, ucapku dalam hati.

Ukiran senyum Luhan makin terlengkung, jemarinya bergerilya di parasku; membelainya penuh kasih walau nyatanya aku merasa risih akan belaian takzim yang sesungguhnya mengubur kekaguman secara tak lazim yang amat bergejolak.

“Tentu,” tangan Luhan meraih tanganku, memberikan sebuah elusan dengan seringaian sekilas yang ia berikan padaku, “bukan sekedar menyukainya. Aku mencintainya.”

Ungkapan cinta Luhan membuat Si Nyonya Pembeli terpingkal, perutnya dipegangi, kristal bening sampai tampak di ujung kurva; sungguh kegelian akan ungkapan cinta Luhan padaku. Jika Si Nyonya kegelian, aku malahan jenuh mendengarnya. Ungkapan cinta Luhan seperti omong kosong belaka saja di sini.

Finis terpingkal dan menghapus jejak kristal yang disebabkan oleh tawanya, Si Nyonya mengamat-amatiku lagi.

“Dia tampak seperti manusia.” Aku memang manusia … “Seperti sungguhan hidup.” … aku sungguh hidup … “Dan aku ingin mengoleksinya menjadi manekinku selanjutnya. Jadi, kamu tetap tidak mau menawarkan harganya menjadi lebih murah untukku? Aku juga menyukainya sebagaimana kamu menyukainya lho.” … dulu, sebelum manusia bernama Luhan ini merenggut nyawaku.

Sebelum terkurung dalam toko Luhan yang sudah berupa jeruji penjara yang serupa dengan neraka bagiku dan mendengarkan tanya retorik bahwa maukah Luhan menawarkan harga yang murah untuk orang memilikiku, aku adalah seorang wanita jelita—bahkan sampai berakhir naas seperti ini, keelokanku masih dipuji—yang hidup sebagaimana manusia normal beraktifitas; bekerja, pun berkencan.

Ketika mulutku masih bisa beraksara, fungsi motorik tungkaiku belum lumpuh, Luhan memang sudah memantik cinta untukku dengan cara … tidak lazim. Sayang, aku menyadarinya dengan terlambat. Aku terlanjur menerima cinta Luhan tanpa tahu latar belakang psikis yang ada di dalam pemuda dengan senyum manis yang telah melumpuhkanku untuk terlena.

Luhan seorang posesif yang tak wajar. Dirinya pencemburu.

Miliknya adalah miliknya, tak boleh disentuh, menyentuh, melirik, dan dilirik oleh yang lain. Itulah landasan Luhan.

Luhan … dia seorang psikopat gila. Beberapa kali aku hanya bersua dengan rekan kerja lelakiku berdasarkan urusan kerja atau makan malam tim, dia akan marah bahkan memukuliku. Ruam-ruam yang tercipta di tubuhku merupakan bentuk cemburu Luhan padaku.

Aku frustasi, tak menyangka lelaki penuh kelembutan kala memujaku akan melakukan hal gila juga untuk memujaku. Aku ingin lari dari belenggunya sebab sudah terlalu letih; letih mafhum akan sikapnya, pun perilakunya. Maka dengan penuh keberanian yang tersisih, aku memutuskan hubungan dengan Luhan dan memilih bersama salah satu rekan kerjaku yang sudah lama menyukaiku dalam diam serta-merta mendengar keluh kesahku akan Luhan, dan dirinya bersedia menarikku dari pusaran gila yang Luhan ciptakan.

Akan tetapi, ada satu fakta yang belum kusingkap. Luhan seorang yandere.

Berawal pada suatu waktu tepat seminggu setelah aku menyebarkan undangan untuk menikahi rekan kerjaku yang sudah menjadi kekasihku, Luhan mengajakku bertemu. Tanpa merasakan rasa bizar sama sekali, aku mengiyakan. Luhan menyambutku sebagaimana kawan lama bersua setelah sekian lama, membuatku lupa bahwa lelaki ini ‘gila’.

Kemudian Luhan mengajakku ke taman belakang kediamannya. Tanpa menggenggam curiga, kuikuti dirinya. Masih membekas dalam memoarku, rasa terperanjat yang menyerang diriku kala itu tatkala Luhan membuatku mengikutinya ke gudang yang ada di taman belakang rumahnya.

Terkulailah tubuh calon suamiku yang terbujur kaku di atas lantai gudang, matanya membeliak, dengan perut yang terkoyak dengan darah mengucur.

Lututku berdentuman dengan lantai gudang, terisak dan meringkuk miris ke arah tubuh calon suamiku dan saat itu pula Luhan menjambakku dengan menampilkan seringaian yang membuat rambut kudukku berdiri. Pantulan seorang monster terpantul dari permukaan kornea si marga Lu, menggantikan ketulusan yang selama ini dia bina.

“Kamu harus jadi milikku, Hyerim. Jika tidak bisa, lebih baik kamu mati saja dibanding jadi milik orang lain.” Adalah perkataan terakhir Luhan padaku sebelum membuatku menjerit penuh kesakitan, menangis dalam kabung pasrah, meronta meminta tolong tetapi pada akhirnya yang menolongku hanyalah Malaikat Maut yang memanen nyawaku.

Setelahnya, Luhan melenyapkan mayat kekasihku ke laut lepas tanpa pernah ditemukan siapapun lagi, terkubur bersama fragmen dan makhluk laut.

Sementara diriku yang kendati sudah tak bernyawa tetapi masih dapat memperhatikannya, dijadikannya sebagai miliknya, manekinnya, barangnya.

Luhan pun juga kabur dari tanah Korea, membersihkan jejak dan mendekam di Swiss—salah satu negara impianku—sambil merintis toko yang menjadi usahanya sekarang.

Ingat sekali diriku ketika Luhan berkata sembari menatap manikku yang sudah tak bercahaya dengan penuh cinta: “Kita tinggal di negara impianmu, kamu senang, ‘kan?”

Harusnya iya, aku senang. Namun kamu membuatku tidak bisa ke mana-mana, Luhan, padahal aku menyukai betapa indah lukisan tangan Tuhan pada negeri Swiss dengan salju abadi di Alpen. Akan tetapi, aku sekarang cuma menjadi objek yang bisa kamu kagumi seorang diri. Objek yang membuat rasa bangga menyelubungi dirimu ketika orang-orang memandangku takjub dan ingin memilikiku sebab kamu lah pemilikku sekarang.

Kembali lagi dengan konversasi Nyonya Pembeli dan Luhan, tampak pemuda yang dulu pernah kucintai sepenuh hati ini menggeleng dan tersenyum simpul.

“Tidak bisa, Nyonya,” kontan membuat mimik kecewa terpampang di muka Si Nyonya, “harganya tidak akan kuturunkan,” ucap Luhan lalu melirikku dengan senyum tipis yang sarat dengan seram.

Si Nyonya pun menyerah, pun akhirnya hengkang dengan tangan kosong. Tentu saja, si sinting Luhan ini sungguh sinting, menawarkanku dengan harga fantastis untuk seukuran manekin agar tidak ada orang yang mampu membeliku; memilikiku.

Toko kebetulan sedang senyap tanpa pengunjung. Hanya ada Luhan yang kini mengusap lembut pucuk kepalaku. Belaiannya dulu merupakan candu untukku, tetapi sekarang belaiannya menjadi hal yang menyeramkan kendati cara dirinya membelaiku masih sama; penuh dengan cinta. Cinta yang dicurahkan secara gila.

“Besok-besok kusimpan saja dirimu di kamarku.” Luhan mulai berbicara, tangannya kini bergerayang ke pipiku dan maniknya bersiborok dengan manikku. “Aku muak. Banyak orang yang ingin memilikimu dan menawarmu dengan harga-harga yang tak akan pernah kusetujui sampai kapanpun, karena kamu milikku, Kim Hyerim.”

Bilamana berdiri di etalase tokonya sudah membuatku dirundung bosan bin jenuh dengan hanya melihat para pejalan kaki yang berseliweran bebas di luar sana, terkurung di kamar Luhan akan membuatku tambah dicekik bosan.

Luhan pun memangkas spasi mendekati telingaku dan berbisik dengan suara pelan yang terdengar menakutkan: “You are my precious thing and only mine, Hyerim. Tidak akan ada yang mampu menawarmu lebih murah, bahkan mahal sekalipun.”

—Fin.


ALLAHUAKBAR, APA YANG TELAH KUEKSEKUSI DENGAN PROMPTNYA KAKCE? Huhu, maafkeun otakku ini Kak Gecee bila promptmu ini jadi gini di tanganku. Lalu aku pake HyerLu itu karena aku masih sungkan make genre ginian ke pasanganku yang lain HAHAHAHAHA. Aku ingin mendebutkan mereka dengan fic yang tidak terlalu gila, karena kegilaan tiada tara emang lebih pewe di HyerLu, mungkin soon Mas Ayem juga akan jadi korban? Atau … Wonho? Hahaha. Aku mulai mendapatkan ilham.

Intinya, terima kasih Kakcee untuk promptnya hihihiy ^^ niatnya ada satu lagi yang ingin kueksekusi.

P.S : bila merasa kejang setelah baca ini, harap hubungi dokter.

[ www.hyekim16world.wordpress.com ]

Iklan

5 pemikiran pada “[Vignette] Only His

  1. hai elsa, aku mampir nih ^^
    wow, aku tidak menyangka prompt ku akan berakhir seperti ini hahahaha sungguh genre yang sama sekali nggak bayangkan…
    jadi itu ceritanya Luhan ‘mencabut nyawa’ Hyerim, lalu ketika Hyerim tinggal badannya doang gitu lalu Luhan sengaja mengawetkannya utk dipajang utk dirinya sendiri? begitukah?

    No this isn’t trash this is a masterpiece instead …. Bagus kok ^^
    Terima kasih ya Elsa sudah memakai promptku … semangat untuk karya2 berikutnya 🙂

    • Halo kak makasih udah mampir hihi >.<
      Hahaha dan gak tau kenawhy aku memikirkan ide ini pas baca prompt kakak, ya amsyong kenapasih otakku wkwkwk.

      Iya, betul. Aku lupa nambahin genre surrealism ;-; baru aku edit tadi wkwkwk. Jadi iya, karena sikap posesif, psikopat juga ada, dan Luhan ini yandere (yg saking cinta sama org yg ia cinta, bahkan rela ngelenyapin org2 yg di sekitar org yg ia cinta jika itu ancaman buat dia alias org tsb bisa menjadi org yg dicintai org yg dia cinta, gak rela si org yg dia cinta sm org lain, karena gak ketidakrelaan inilah si dia lebih baik ngebunuh org yg dia cinta biar gak sama siapa2, ya kayak Luhan ini) dan setelahnya diawetin, dijadiin manekin di tokonya dan banyak yg nawar Hyerim karena harganya kemahalan biar sengaja gak ada yg bisa beli, Luhan cuma mau pamer gitu lho manekin yg cantik itu punya dia padahal gak niat dia jual HAHAHAHA.

      Ahh thank you so much kakcee ❤ makasih juga udah buat prompt yg membuat ide liarku terealisasi hehehe ^^

  2. awalnya surealis tapi makin kebawah geser jadi crime kkkk
    bagus, deskripsinya lebih kena dari ffmu yg sebelum2nya. cuman tadi ada ‘pun’ dan ‘juga’ yang dijejer. and that ‘finis tertawa’ agak menggelikan buatku but oh well who am i to tell you this
    keep writing! tumben nulis genre begini? atau emg aku ga pernah baca ffmu yg psycho gini ya hahaha

Tinggalkan Balasan ke arifah Batalkan balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s