[Author Tetap]-If We Were Destined (Part 9)

PicsArt_03-04-02.36.15

ByunPelvis

Main cast : Park Chanyeol, Kim Hyerin (OC) and Kim Hanna (OC).

Other cast : Oh Sehun,  Kim Jong In , Nayoung of Pristin, member EXO lainnya.

Genre : Romance , Angst, and family.

Leght : Chapter

Rate : General

Disclaimer : Cerita ini murni karyaku. Jika memiliki kesamaan mohon maaf. Beberapa adegan terinspirasi dari drama. Dan maaf untuk segala jenis typo.

*

*

*

Aku tak pernah membencinya.

Aku menyayanginya

Aku cemburu saat dia dekat dengan pria lain.

Kenapa perasaan ini harus kembali saat kita hendak berpisah?.

*

*

*

Previous Chapter (Part 8).

®


 

Pagi menyapa begitu cepat. Tubuh seorang pria masih terbaring lemas di ranjang. Rasanya baru satu jam yang lalu mata besar Chanyeol terpejam, namun bunyi sialan membuatnya terbangun. Tangan kekarnya meraba sekitar untuk menemukan benda yang mengeluarkan bunyi itu. Padahal jam di dinding masih menunjukan pukul 05.00 SKT. Oh sungguh, sepertinya ada masalah waktu pada ponselnya. Kenapa benda itu berbunyi padahal belum jam 07.00?.
Membuatnya kesal saja. Jika sudah terbangun mana mungkin ia tidur lagi. Chanyeol bisa telat masuk kerja nanti.

Kesadarannya mulai terkumpul.
Setelah matanya terbuka lebar ia baru sadar. Ponselnya berbunyi bukanlah karena alarm, melainkan panggilan masuk.

“Aish…. Bodohnya aku”. Ucapnya pada diri sendiri.

Chanyeol langsung tersenyum setelah melihat nama Hanna terpampang pada layar ponselnya.
Rasa kesal dalam hati mendadak hilang.

“Halo, Hanna-ya!”.

Chanyeol langsung terduduk untuk meladeni panggilan istri pertamanya. Pria itu terlihat sangat bahagia.

Sedangkan di luar, satu wanita sedang sibuk membuat sarapan. Lagi-lagi pengurus Chanjoo tak bisa datang karena urusan keluarga. Terpaksa harus Hyerin yang menyiapkan sarapan untuk suaminya.
Di pagi buta ia terbangun menyiapkan roti panggang sembari menggendong sang putra. Chanjoo selalu bangun awal sebelum dirinya. Jadi Hyerin tak bisa meninggalkannya di kamar. Ia sedikit repot karena bocah itu tak mau lepas dari gendongan.

Butuh beberapa menit untuk menunggu roti matang. Hyerin menyajikannya di piring. Setelah selesai, ia harus membersihkan badannya. Hari liburnya sudah habis. Ia harus masuk kerja untuk menghimbau muridnya di kelas baru.
Namun ia juga memikirkan putranya. Bagaimana bisa ia meninggalkan Chanjoo di rumah sementara pengasuhnya tidak ada. Hyerin tak bisa meninggalkan si kecil di penitipan anak. Terlalu bersiko menyerahkan Chanjoo pada orang asing. Ia takut kejadian seperti dalam berita terjadi padanya. Banyak penculikan anak akhir-akhir ini.
Dalam sejenak terlintas ide gila di benak wanita itu.
.
.
.
.
.
Seorang pria sudah rapi dengan kemeja biru. Hanya tinggal memasang dasi di kerahmya,  maka penampilannya semakin sempurna. Oh Sehun, pemuda itu sudah menunggu hari ini.
Ia tak sabar untuk bertemu dengan wanita pujaannya. Setelah merasa tampan, ia keluar dari kamarnya dan segera menghampiri keponakannya.

“Taeyong-ah,  biarkan aku mengantarmu”.
Katanya setelah mencomot sedwich.

“Samchon, aku bukan anak-anak lagi. Tak usah mengantarku. Aku berangkat bersama teman-teman”. Jawab Taeyong dengan mulut penuh makanan.

“Hei bocah, apa kau tak takut telat?. Ikut denganku agar kau tepat waktu sampai sekolah”. Kata Sehun sekali lagi,  memaksa keponakannya.

“Samchon, aku tau maksud baikmu itu. Kau ingin bertemu dengan Hyerin saem kan?”.

Sehun tersenyum lebar, membetulkan ucapan Taeyong.

Kakak dan juga ibunya yang juga duduk di ruang makan saling melempar senyum.

“Taeyong-ah,  turuti saja Samchonmu itu. Bantu dia agar semakin dekat dengan gurumu”.

Kini sang ibu yang berbicara. Sehun langsung menatap Taeyong dengan senyum kemenangan.

“Yes, kau memang yang terbaik Eomma”.

Atas kata-kata ibunya, akhirnya Sehun berhasil mengantar Taeyong. Mereka berangkat setelah selesai sarapan.
Pagi ini lalu lintas cukup padat, Sehun harus bersabar agar cepat sampai sekolah Taeyong.

Akhirnya setelah hampir dua puluh menit, mereka ada di tempat tujuan. Taeyong langsung keluar dan berlari menghampiri segerombolan laki-laki.  Sehun membiarkan,  ia ikut turun dan berdiri di depan mobilnya.
Matanya terus melirik kantor guru jauh di depan sana, menunggu Hyerin muncul.
Beberapa menit berlalu, fokus Sehun teralihkan oleh sekumpulan murid perempuan. Ada sesuatu yang membuat para siswi itu heboh.

“Eoh?. Chanjoo?”. Kagetnya setelah melihat anak kecil digendong salah satu gadis berseragam.

“Sehun-ah!”.

Sehun menoleh setelah mendengar seseorang memanggilnya. Wanita yang ia tunggu tersenyum juga melambai padanya.
.
.
.
.
Park Chanyeol lagi-lagi kesal setelah mendengar kabar Hanna tak bisa cepat pulang.
Pria itu kecewa karena istri pertamannya terus mengulur waktu. Ia tau mertuanya lebih penting darinya, seharusnya ia bersabar. Jika terus seperti ini bisa-bisa ia menyusul Hanna ke China. Rasa rindu dalam hatinya sudah membuncah. Kadang ia tak fokus karena terus memikirkan wanitanya.

Chanyeol sudah siap untuk berangkat. Ia mengingat pesan Hanna agar tak telat sarapan. Pria itu menuju dapur untuk menemukan makanan. Saat melewati meja makan,  Chanyeol melihat tudung saji. Ia membukanya dan menemukan roti panggang lengkap dengan selai kacang.
Ia tak perlu bertanya siapa yang menyiapkan itu.
Tanpa ragu ia memakannya, ia juga tak ingin mengecewakan Hyerin.
Ternyata istri keduanya itu memperhatikan sesuatu yang ia sukai. Selai kacang adalah favoritnya.
Ia tak pernah menemukan benda itu karena Hanna benci kacang.

“Dimana dia?”. Tanya Chanyeol entah pada siapa.

Matanya menyapu seluruh ruangan dan tak menemukan siapapun, termasuk putranya. Ia bisa rindu jika tak melihat bocah itu. Mungkin malam nanti,  ia baru bisa bertemu Chanjoo.
Entah kenapa,  sekarang melihat buah hatinya bagaikan vitamin baginya.

Ia membuka ponselnya dan bermaksud  menelfon Hyerin. Namun saat jarinya hendak meyentuh ikon call, Chanyeol berubah fikiran.
Ia cukup penasaran dimana dua orang itu. Sepagi ini mereka sudah menghilang. Sekarang apa yang harus Chanyeol lakukan saat merindukan putranya?.  Menelfon Hyerin saja enggan.

“Hah…. Baiklah. Sepertinya aku harus pulang awal hari ini”.

.
.
.

Sehun memperhatikan para murid yang memperlakukan Chanjoo begitu manis. Ia masih tak percaya karena Hyerin membawa bocah itu ke sekolah.

“Hyerin-ah, kau yakin mau membawa Chanjoo ke dalam kelasmu?”. Tanya Sehun setelah berbalik menatap Hyerin.

“Eoh. Aku tak punya pilihan hehe”.

Mendengar jawaban itu membuat Sehun menghela nafasnya.

“Kau akan kerepotan nanti.  Kenapa tak menitipkan Chanjoo di tempat mertuamu saja?”.

Hyerin langsung menggeleng, ia tak setuju dengan ucapan Sehun.

“Kau tau kan?.  Hubungan kami tak cukup baik. Dia tak begitu peduli pada Chanjoo”. Jelas Hyerin.

Inilah ide gilanya, tak mempercayai siapapun membuatnya nekat membawa sang putra ke tempat kerja.
Tak pernah terfikirkan olehnya untuk menitipkan Chanjoo dirumah orang tua Chanyeol.

“Kalau begitu biar aku saja”.  Ujar Sehun.

“Ya?”

“Aku akan menjaga Chanjoo sampai pekerjaanmu selesai”.

Hyerin mengerjapkan matanya dan setelah itu terkekeh.

“Sehun-ah, jangan bercanda. Kau sibuk, aku tak mau merepotkan”.

Sehun berdecak,  selalu saja Hyerin menolak niat baiknya. Gadis itu selalu menyinggung pekerjaannya.

“Sudah kubilang,  Chanjoo itu seperti putraku sendiri. Aku ingin menjaganya hari ini. Aku tak pernah sibuk, Hyerin-ah. Soal pelerjaan biar karyawanku yang-“.

“baiklah, baiklah Oh Sehun!. Aku baru ingat kau ini seorang boss. Kau punya banyak karyawan”.

“Banar, jadi apa kau setuju Chanjoo ikut denganku hari ini?. Aku janji akan menjaganya dengan baik”.

Hyerin menjawab dengan anggukan. Ia sangat percaya dengan Sehun.

“Iya, aku titip Chanjoo. Setelah selesai mengajar aku akan menjemputnya”.

Sehun meraih tangan Hyerin dan menggenggamnya.

“Terimakasih,  dengan ini aku akan latihan menjadi ayah yang baik”.

.
.
.

Awan mendung menyelimuti negri China. Rintik hujan perlahan membasahi setiap jalanan yang ramai akan kendaraan. Sepasang mata memperhatikan keadaan luar dari balkon kamarnya.
Perasaannya juga mendung, ia sangat sedih menghadapi nasibnya.
Entah apa yang harus ia lakukan untuk mengubah keputusan sang ayah. Begitu berat baginya untuk mengugurkan jabang bayi dalam perutnya.

Lagi, sang ibu kemarin pingsan setelah mendengar semuanya. Beliau menangis dan meminta ia untuk melakukan hal yang terbaik.
Haruskah ia menuruti kedua orang tuanya?. Haruskan ia menggugurkan kandungannya?.
Bahkan Hanns tak peduli dengan keselamatannya sendiri. Selama dokter bisa membuatnya bertahan ia akan menjaga bayinya.

“Hanna”.

Suara wanita paruh baya membuatnya tersadar dari lamunan.
Hanna menoleh dan menemukan ibunya di belakang pintu.

“Eomma?”.

Hanna berjalan memdekati ibunya dan menuntun beliau untuk duduk.

“Eomma kenapa tidak istirahat saja?”.

Sang ibu menggeleng, ia meraih tubuh putrinya untuk dipeluk.

“Eomma tak bisa tidur karena memikirkanmu. Apa kau baik-baik saja?. Apa kau merasakan sakit?. Wajahmu sangat pucat, Hanna-ya”. Kata ibunya sembari menangis.

“Eomma aku tak apa. Aku tidak sakit”.

Bahkan Hanna harus berpura-pura agar ibunya berubah fikiran. Memang sebenarnya sangat sakit, setiap hari perutnya seperti diremas.

“Kau tau kan kita tak bisa melawan keputusan Appa-mu?. Jangan dipertahankan jika beresiko. Eomma tak ingin sesuatu yang buruk menimpamu”.

“Tidak eomma. Aku tak peduli harus ada disini sampai bayi ini lahir. Aku bisa melewatinya”. Elak Hanna.

Wanita itu terus-terusan bertahan dengan keputusannya sendiri. Hanna memang tipikal gadis keras kepala.

“Kau yakin?. Kau tak takut suamimu kecewa karena kau membohonginya soal kesehatanmu?. Dan juga,  bagaimana dengan istri keduanya?. Bagaimana jika wanita itu menggodanya?”. Ujar sang ibu.
Beliau hanya berusaha membuat putrinya takut.

“Chanyeol tak akan kecewa. Dia percaya padaku. Dan Kim Hyerin, dia akan pergi. Mereka akan bercerai tak lama lagi. Tak akan terjadi apapun diantara keduanya. Chanyeol membencinya”.

Hanna menjelaskan dengan penuh keyakinan. Chanyeol hanya mencintainya, tak akan ada yang berubah.

“Terserah padamu nak. Eomma sudah mengingatkanmu berkali-kali. Pikirkan sekali lagi!”. Ingat  sang ibu untuk yang terakhir kalinya.

“Cukup, Eomma!”.

Hanna tak ingin mendengar lagi. Kadang lubuk hatinya berkata lain.

“Kau tau?. Sebenarnya seorang pria menemui ayahmu. Dia yang memberikan surat medical itu. Eomma mengenalnya, dia-“.

“Kriss Wu. Benar bukan”.

Hanna tercengang saat ibunya mengangguk. Tubuhnya langsung lemas. Ia ingat pertemuannya dengan mantan kekasihnya itu benerapa minggu yang lalu. Entah apa maksud Kriss Wu berbuat hal itu.
Hanna jadi ingin menemuinya. Banyak yang ingin ia pertanyakan. Termasuk maksud Kriss Wu melapor pada ayahnya soal kehamilannya.
.
.
.
.
.
Akhirnya kegiatan membimbing siswa selesai. Hyerin langsung menuju ke tempat Sehun dengan sebuah taxi. Ia yakin gedung yang ada dihadapannya sama dengan alamat yang Sehun kirimkan.
Kaki panjang itu melangkah memasuki lobi perusahaan. Hyerin bertanya pada resepsionis dimana ruangan Sehun.
Wanita itu langsung menuju ruang direktur setelah mendapat informasi.

Saat berada di depan ruangan Sehun,  seorang sekertaris langsung mempersilahkannya masuk.
Hyerin sudah ada didalam dan tersenyum melihat Sehun. Pria itu fokus menatap layar monitor sampai tak sadar dengan kedatangannya. Terlihat Chanjoo tertidur pulas di sofa.

“Sehun-ah!”.

Yang dipanggil langsung berdiri dan melambai padanya.

“Oh,  hai. Kau sudah sampai?”.

Sungguh pertanyaan konyol. Jelas-jelas Hyerin sudah berdiri di depannya.

“Serius sekali. Dasar pembual, katanya kau tidak sibuk, tapi kau membawa Chanjoo kemari”. Kata Hyerin.

Sehun mengibaskan tangannya. Ia tak membenarkan ucapan Hyerin.

“Tidak,  aku tidak sibuk. Aku hanya melihat e-mail saja. Sungguh. Aku kemari untuk menghindari omelan ayahku. Dia bisa mengamuk jika aku tak ada di ruangan”. Jelas Sehun agar Hyerin percaya

Hyerin tertawa kecil, ia heran dengan sifat Sehun yang selalu menyepelekan pekerjaan. Padahal pria itu sangat takut dimarahi.

“Aku mengerti, terimakasih sudah menjaga putraku”.

“Eoh. Chanjoo sangat senang, banyak yang mengajaknya permain disini. Semua karyawanku gemas melihatnya”.

Sungguh Sehun adalah pria paling baik yang pernah Hyerin temui. Entah harus dengan apa ia membalas kebaikannya.

“Sekali lagi terimakasih, Sehun-ah. Sepertinya aku harus langsung pulang”.

“Kenapa buru-buru?. Bukankah kau belum makan siang?”.

Hyerin meringis dan menggelengkan kepalanya. Perutnya memang sedang keroncongan.

Setelah setuju untuk makan siang bersama, mereka menuju sebuah restauran. Hyerin tak mengerti kenapa Sehun jauh-jauh mebawanya ke restauran dekat Seoul Hospital.

Mereka duduk menikmati makan siang. Hyerin sibuk menyuapi Chanjoo.

“Chanjoo mulai pintar mengoceh. Dia sudah bisa mengucapkan banyak kata”. Kata Sehun.

Jujur, selama ini pria itulah yang selalu memantau perkembangan Chanjoo. Suaminya sendiri entah apa. Bahkan saat gigi Chanjoo tumbuh ia tak tau.

“Dia hampir genap dua tahun. Anak seusianya memang sudah pandai bicara”.

“Kalau begitu,….  Chanjoo-ya!. Panggil aku Sehun appa”.

Senyum Hyerin langsung menghilang. Ia memandang pria yang duduk didepannya dengan sendu.

“Appa!”. Pekik Chanjoo pada akhirnya.

Tanpa Hyerin ketahui,  sebenarnya Sehun selalu melaath Chanjoo untuk memanggilnya ayah.

“Anak pintar”.

Kali ini Hyerin memaksa senyumnya. Tak masalah baginya jika putranya memanggil orang lain dengan sebutan appa. Karena ayah kandungnya sendiri malah seperti orang lain. Sehun dan Chanyeol sungguh berbanding balik.

“Sehun-ah!. Maaf baru datang,  apa kau menunggu lama?”.

Seseorang menghampiri keduanya. Hyerin mendongak dan terkejut saat melihat pria yang ia kenali.

“Baekhyun hyung?. Duduklah,  akhirnya kau datang juga. Kukira kau sibuk dengan pasienmu”. Ujar Sehun.

Ia mempersilahkan duduk, namun Baekhyun malah menatap Hyerin dan Sehun secara bergantian.

“Hyung?. Ah,  kau tak lupa kan ucapanku kemarin?. Gadis ini Kim Hyerin”.

Hal itu tentu membuat Byun Baekhyun terkejut. Ia mengenal siapa Hyerin.

“Diakah yang kau maksud?. Aku juga mengenalnya”. Kata Baekhyun setelah menempelkan pantatnya pada kursi.

Hyerin terlihat tegang, namun ia mengontrol ekspresinya. Ia tersenyum pada Baekhyun.

“Hallo,  Baekhyun-ssi”. Sapanya.

“Heol, ternyata kalian saling kenal?”. Tanya Sehun dengan raut terkejut.

“Ya,  aku mengenal Hyerin. Dia istri temanku Sehun-ah”.

Habis sudah, Hyerin menatap Baekhyun penuh harap. Ia tak ingin Sehun tau jika suaminya adalah Park Chanyeol.
Apa yang harus Hyerin lakukan?.
Bagaimana jika Sehun tau?.
Bagaimanapun ia bersandiwara saat pertemuan waktu itu. Ia dan Chanyeol pura-pura tak saling kenal.
Ia sudah menipu Sehun, ia membohongi orang yang paling baik padanya.
.
.
.
.
.
Setelah makan siang selesai,  Hyerin langsung pulang. Ia menolak Sehun yang berniat mengantarnya pulang.
Hyerin berjalan lemas dengan segala fikiran. Pertemuannya dengan Byun Baekhyun membuatnya takut pada satu hal.

Ia tak ingin Sehun tau siapa suaminya, itu saja. Entah apa jadinya jika Baekhyun menceritakan tentang Chanyeol pada Sehun.

Wanita itu hendak menghentikan sebuah taxi,  namun tangannya ditarik.

“Baekhyun-ssi?”.

Entah bagaimana pria itu malah mengikutinya. Hyerin tak menemukan Sehun bersama Baekhyun. Ia sedikit merasa lega.

“Ayo bicara,  Hyerin-ssi. Ada sesuatu yang ingin kuberitahu”.

“Tapi-”

“Ini tentang pria yang menyukaimu sepupuh tahun yang lalu. Bukankah kau ingin tau siapa dia?”.

Hyerin terdiam, ia memandang Baekhyun cukup lama.

“Eoh”.

“Ikut aku!. Kita cari tempat untuk bicara”.
.
.
.
.
.
Di tempat lain Chanyeol sedang menonton acara tv di ruang tengah. Ia menyelesaikan pekerjaannya dengan cepat agar bisa pulang. Jam sudah menunjukan pukul 16.00 SKT,  namun Hyerin dan juga Chanjoo tak kunjung pulang. Ini terlalu sore bagi seorang pengajar. Sebenarnya mereka berdua dimana?. Pengurus Chanjoo tidak datang,  dan yang ia tau Hyerin membawa putranya ke penitipan anak. Dan dia berfikir,  mungkin Hyerin mampir ke suatu tempat.

“Mungkinkah?. Dia bersama Oh Sehun?”.

Chanyeol mendadak kesal. Ia mematikan tv dan melempar remot dengan asal.
Jika tau seperti ini, lebih baik ia tetap di perusahaan sampai larut. Ia kelaparan, Chanyeol sengaja mengosongkan perutnya agar makan dirumah.
Ia ingin makan masakan Hyerin lagi.
Tapi nyatanya wanita itu sedang bersama pria lain.
Bolehkah Chanyeol mengatakan istrinya selingkuh?.
Ia merasa tak punya hak untuk marah. Selama ini sikapnya pada Hyerin bukan seperti seorang suami.
Bahkan mereka akan segera bercerai.

Chanyeol menoleh saat mendengar suara pintu. Pria itu terlihat sumringah dan kembali berniat menyalakan tv.

“ah sial,  dimana remotnya?”.

Chanyeol tak ingin terlihat sedang menunggu. Pria itu mencari remot yang tadi ia lempar.

“Ini dia”. Girangnya setelah menemukannya.

Chanyeol menyalakan tv dan pura-pura serius menonton acara.

Hyerin masuk dan sempat menghentikan langkahnya saat melihat suaminya. Ia terkejut karena Chanyeol sudah dirumah jam segini.

Wanita itu terdiam cukup lama. Sampai Chanyeol menoleh dan Hyerin masih mematung di tempat. Wanita itu memandang suaminya dengan tatapan sendu . Anehnya, udara di sekitar terasa menghilang. Dada Hyerin begitu sesak.

“Apa yang kau lakukan dengan berdiam diri disitu?”. Tanya Chanyeol.

Hyerin tak menjawab sepatah kata pun.
Chanjoo yang ada digendongnya merengek untuk turun. Bocah itu terus menunjuk tv, ingin bergabung dengan sang ayah.
Chanyeol sudah berdiri untuk mendekati putranya, namun Hyerin malah berlalu.
Pria tinggi itu sadar ada yang lain.
Hyerin berbeda hari ini, wanita keduanya terlihat sedih. Bahkan Chanyeol melihat mata istrinya sembab.
Mungkinkah Hyerin habis menangis?.
Ada apa?. Chanyeol sungguh penasaran.
Mungkinkah karena Oh Sehun?.

Sedangkan didalam kamar, Hyerin langsung menurunkan Chanjoo. Ia sibuk sendiri mencari sebuah foto. Ia ingin melihat foto masa kecilnya yang ia temukan di album foto Chanyeol. Setelah mengobrak-abrik isi laci, akhirnya Hyerin menemukannya. Foto saat ia bernyanyi di festival. Sepertinya ucapan Byun Baekhuyun benar. Wanita itu ingin memastikannya sendiri.

Hyerin langsung berlari menuju pintu.
Saat membukanya,  Hyerin menemukan Chanyeol berdiri di depan kamar.

“Ya!. Ada apa?”.

Chanyeol terkejut karena pintu kamar Hyerin tiba-tiba terbuka.
Ia lebih terkejut saat tangan Hyerin  menyodorkan sebuah foto.

“Aku menemukan foto ini saat ke rumahmu. Bagaimana bisa kau memilikinya, Chanyeol-ssi?. Bisa jelaskan?. Siapa kau sebenarnya?”.

Tbc

Hai readers….. Maaf ya lama update. Author lumayan sibuk.
Di sela kesibukan kerja menyempatkan mengetik kalimat demi kalimat. Maaf kalau ceritanya belak-belok gak jelas. Ini tuh gak di ketik langsung dalam sehari. Kadang ide berubah-ubah. Jadi kadang gak sesuai planning.

Author minta maaf kalau banyak typo maupun tulisan yang salah. Salah satunya adalah marga Hyerin.  Awalnya  pakai Lee,  tapi karena lama gak nulis jadi lupa Kim. So totalitas bakal diubah marganya Hyerin Kim.  Hihihi,  maaf.

Saya termasuk penulis yang gak nurutin aturan. Kadang english harusnya pake cetak miring ini ma blabas aja. Maklumin ya guys, soalnya saya ngetiknya pakai ponsel hihi…  Dah gada waktu pakai laptop.

Oke so….  Ff ini setiap chapter bakal lama kayaknya diupdatenya. Berharap kalian bertahan.

Dan mungkin,  chanpter setelah ini bakal saya protect. Ini biar tau siapa silent reader ff ini.

Oke author pamit,  sampai jumpa chapter selanjutnya.

Iklan

4 pemikiran pada “[Author Tetap]-If We Were Destined (Part 9)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s