[Author Tetap]-Complicated Love (Chapter 2)

PicsArt_07-06-09.39.50

Cast : Byun Baekhyun, Oh Sehun, Kim Jisun and other. 

Genre : Sad, Romance, Angst. 

Leght : Chapter

( My Wattpad Account : @byunpelvis)

*

My heart that doesn’t change. I can’t get out out here.

Sinar mentari membuat ruangan gelap itu menjadi sedikit terang. Dua orang masih terlelap dengan nyaman. Si pria terbaring di ranjang dan si gadis tertidur dalam posisi duduk.
Terlihat sekali tidak nyaman dengan berbantal sisi ranjang.

Perlahan, Baekhyun membuka matanya. Kepalanya langsung terasa berat, dan seperti ditusuk ribuan jarum.
Ia ingat semalam minum alkohol dan hujan-hujanan. Tubuhnya sensitif belakangan ini sehingga langsung mendapat demam.

Pria itu terkejut saat melihat wajah Jisun tepat didepan mata. Rasanya lega melihat adiknya baik-baik saja. Semalam ia mencarinya, sang adik tak bisa pulang karena hujan deras. Tak bisa hatinya tenang saat Jisun pergi. Dirinya hanya ingin mengawasi sang adik meski dari jauh.

Sudah bertahun-tahun berlalu, Baekhyun masih menjadi seorang kakak yang over protektif. Ia punya alasan, karena Jisun adalah orang paling berharga. Ia tak mau adiknya terluka. Juga, ia tak ingin pria lain memperlakukan adiknya dengam senonoh.

 

Make up yang menutupi kulit pucat Jisun belum dihapus, menandakan gadis itu tak melakukan apapun selain menjaganya.

Baekhyun tak bergerak, hanya memandangi wajah Jisun. Moment itu adalah favoritnya. Dimana ia bisa puas manatap gadis itu dalam jarak dekat.

Namun tak lama, Jisun membuka matanya. Suara batuk membuatnya bangun.

“Oppa!”

Jisun langsung berdiri dan menyentuh kening Baekhyun.

“Kau masih demam. Oppa, aku harus menelfon eomma”

Baekhyun menahan lengan Jisun. Ia tak mau adiknya pergi meski hanya mengambil ponsel.

“Aku baik-baik saja. Ini hanya demam biasa, jangan berlebihan”

Jisun berdecih, ia duduk di sisi ranjang dan mengamati wajah pucat kakaknya.

“Kenapa semalam hujan-hujanan?. Kau mabuk dan pingsan di jalan. Aku mencarimu, untung saja ada seorang ajhussi menelfonku. Jika tak bisa pulang harusnya minta bantuan orang lain atau naik taxi”.  Kesal Jisun.

Ya, gadis itu kesal karena Baekhyun selalu tak terkontrol saat mabuk. Baekhyun malah terkekeh dan mengacak rambut Jisun.

“Ah….  Sepertinya aku terlalu banyak minum. Terimakasih sudah mengomeliku”. Katanya dengan senyum lebar.

“Kau orang paling aneh, oppa. Kenapa malah senang saat kuomeli? ”

“Karena kau menghawatirkan aku”

Jisun tertegun, Baekhyun sepertinya mmulaisadar jika perhatiannya selama ini berkurang. Sejak menjalin hubungan dengan pria bernama Oh Sehun, kesibukannya hanya bersama kekasihnya itu.

Memang perlahan Baekhyun mulai tak menganggu masalah percintaannya. Tapi kadang kakaknya itu membuatnya mengabaikan sang kekasih. Seperti semalam, kencannya harus batal karena mendapat kabar Baekhyun pingsan.

“Kau berdandan sangat cantik kemarin, apa pacarmu senang?. Bagainana kencan kalian?”. Tanya Baekhyun.

Ia berusaha bersikap normal meski sebenarnya tak suka adikknya pergi jalan.

“Kami hanya bertemu beberapa menit, aku langsung pergi setelah mendapat telfon dari ajhussi itu. Kau tau?. Sehun lah yang mengantar kita pulang”

Baekhyun menghela nafasnya, ia kadang tak bisa marah pada kekasih Jisun. Sebenarnya Oh Sehun memang pemuda yang baik.

“Kalau begitu sampaikan terimakasihku padanya”

“eoh”

Jisun tersenyum lebar karena Baekhyun mau berterima kasih. Biasanya kakaknya itu tak mau peduli pada kekasihnya.
.
.
.
.
Baekhyun merasa lebih baik namun Jisun tak mengijinkannya beranjak dari ranjang.
Ia terpaksa tak hadir dalam jam kuliah. Pria itu sendirian dirumah.
Bagaimana dengan kedua orang tuanya?.
Ayah dan ibunya menetap di China kareba bisnis mereka lancar disana.
Baekhyun hanya tinggal bersama Jisun sejak lulus Senior High School. Sejak dulu kedua orang tuanya memang sibuk bekerja. Karena itulah ia merasa kesepian. Saat pertama kali bertemu dengan Jisun, ada hal yang membuatnya sangat nyaman. Jisun bisa membuatnya bahagia tanpa ayah dan ibunya.
Ia bahkan tak peduli jika orang tuanya jarang pulang, yang penting Jisun selalu disampingnya.

Sebenarnya tadi malam Baekhyun tidak benar-benar mabuk. Ia hendak pergi ke mini market namun tiba-tiba tak sadarkan diri.
Ini untuk yang kesekian kalinya ia pingsan. Tanpa sepengetahuan Jisun, pria itu sering kesakitan.
Sejujurnya Baekhyun memiliki riwayat penyakit lemah jantung sejak kecil. Kedua orang tuanya tau dan mereka pikir dirinya sudah sepenuhnya sembuh. Baekhyun tidak pernah cerita karena tak mau merepotkan orang lain.

Ia bergantung pada obat-obatan yang selama ini disembunyikan olehnya.
Kebetulan sekali, semalam ia lupa bawa obat dan saat keluar jantungnya kambuh.

“Aku tau hyung, aku akan lebih teratur minum obat”

Baekhyun sedang bicara lewat telefon dengan seorang dokter. Satu-satunya pria yang tau penyakitnya bertambah parah.

“Terimakasih, aku akan mengunjungimu nanti”

Panggilan berakhir, Baekhyun menghela nafas berat. Kali ini perkataan dokter membuat Baekhyun takut.
Ia harus melakukan operasi jika ingin sembuh. Masalahnya disini, ia harus mencari seseorang yang mau mendonorkan jantung.

Bayangan Jisun membuatnya semakin sedih. Ia berjanji akan terus disamping Jisun. Bahkan Jisun minta tetap dijaga meski gadis itu sudah menikah nantinya.

“Apa yamg harus aku lakukan, Jisun-ah?”

Drttt…..

Ponselnya bergetar, dan nama Jisun tertera dilayar ponsel. Baru saja dipikirkan,  kini adiknya mengirim sebuah pesan.

‘Jangan lupa makan siang. Aku meletakan obat demam disamping lemari es. Minum ya!’

Dan diakhir kalimat ada stiker brownie line sedang berbaring sakit.

Baekhyun terkekeh, Jisun seperti seorang ibu yang sedang berpesan pada anaknya.

“Jika seperti ini aku semakin mencintaimu, Kim Jisun”
.
.
.
.
Ditempat lain, Jisun terus melihat ponselnya. Padahal saat ini ia sedang belajat di perpustakaan.

“Uh…. Kenapa tak membalas?. Padahal sudah dibaca”. Gerutunya dengan lirih.

Namun pria dihadapannya tetap bisa dengar. Ia menutup bukunnya dan menatap Jisun.

“Kakakmu?”. Tanya pemuda itu yang tak lain adalah Oh Sehun.

Kekasihnya sejak tadi terlihat resah. Jisun mengelug sangat tidak fokus sampai-sampai lupa materi dosen.

“Iya. Saat kutinggal demamnya belum turun. Dia sendirian di rumah”

“Kalau begitu apa kau mau pulang sekarang?. Tugas kita biar aku yang selesaikan. Ini sudah hampir selesai kan? . Kau harus pulang dan menjaga Baekhyun hyung”. Kata Sehun, sembari membereskan buku yang ada dihadapan Jisun.

“Sehun-ah, maafkan aku”

Sesal Jisun, ia merasa bersalah karena tak bisa menemani Sehun mengerjakan tugas. Bahkan pria itu sampai mau menyelesaikannya sendiri.

“Tidak apa. Ayo, kuantar pulang”

Jisun menurut dan mereka keluar dari perpustakaan. Keduanya naik bus, Sehun tak membawa kendaraan.

“Sehun-ah, kau serius mau menjual mobilmu?”. Tanya Jisun setelah cukup lama saling diam di dalam mobil.

Beberapa hari ini kekasihnya sering terlambat masuk kelas karena naik bus.

“Eum. Aku harus membayar hutang ibuku. Aku mendapat imbalan besar dari penjualan mobil itu”

Jisun menggenggam tangan kekasihnya. Saat ini Sehun sedang mendapat ujian dari Tuhan. Bisnis keluarga bangkrut dan ibunya  terlilit hutang.

“Seharusnya kau cerita padaku, aku kan bisa membantu”

Sehun menggeleng, ia takkan pernah mau merepotkan orang lain. Terlebih kekasihnya.

“Semua ini akan cepat berakhir. Jangan cemaskan aku”. Ujar Sehun.

“Baik, tuan”

Cup

“Hey jangan menciumku disini”. Bisik Sehun setelah Jisun mengecup pipinya.

“Biar saja”

“Cih…. Gadis ini”
.
.
.
.
.
Jisun sudah sampai rumah. Gadis itu langsung menuju kamar Baekhyun.
Tak ada kakaknya disana, dikamar mandi juga tidak ada.

“Oppa?”

Dipanggilnya berkali-kali namun tak ada jawaban. Jisun mengambil ponselnya dan langsung menelfon Baekhyun.
Tak ada lima detik, kakak angkatnya itu langsung menerima panggilan.

“Oppa, kau dimana?”

Jawaban dari sebrang sana membuat matanya terbelalak.

“Apa?. Astaga kau kan masih demam. Apa aku harus menyusul?”

Tak ada jawaban lagi, tiba-tiba pintu depan terbuka dan memunculkan sosok yang ia cari.

“Aku membeli ramen hehe”. Ujar Baekhyun setelah berdiri di depan Jisun.

“Kau tertawa?. Ish.. Aku khawatir karena kau tak membalas pesanku. Oppa malah pergi keluar hanya untuk beli ramen?”

“Astaga saat aku sakit kau selalu cerewet seperti eomma. Jisun-ah aku sudah sembuh”

Baekhyun meraih tangan Jisun dan menempelkan dikeningnya.
Jisun yang terhuyung malah menabrak dada Baekhyun, membuat hidung keduanya bersentuhan.

Nafas keduanya saling beradu, anehnya Jisun tak langsung menjauh. Tubuhnya seolah lumpuh saat menatap mata Baekhyun sedekat itu.

Bagitu juga Baekhyun, yang terlalu terkejut. Ia merasakan jantungnya berdebar sangat kencang saar Jisun menatapnya sangat dekat.

Tanpa sadar wajahnya semakin maju, satu cm lagi bibir keduanya saling bersentuhan.
Sayangnya Jisun tersadar dan mengalihkan wajahnya.

“O-oppa”

Baekhyun langsug menatap Jisun dengan pandangan kecewa. Dirinya berharap bisa mencium Jisun.

“Buatkan aku ramen, aku ingin memakannya sejak kemarin”.
Kata Baekhyun, pria itu tak canggung sama sekali.

Jisun tak menatap Baekhyun, ia terlalu canggung karena kejadian tadi.

“Tidak, kau baru sakit. Jangan makan ramen. Malam ini akan kubuatkan sup kimchi kesukaanmu”. Kata Jisun lalu melangkah pergi.

Baekhyun tersenyum saat ingat wajah Jisun memerah. Jelas sekali adikknya tersipu. Bagaimana pun mereka bukan saudara kandung.
Baekhyun yakin Jisun gugup dalam jarak sedekat tadi.

“Ya Tuhan, dia sangat manis”
.
.
.
Acara makan malam sudah berakhir. Jisun maupun Baekhyun masuk ke kamarnya masing-masing.
Kegiatan mereka juga berbeda, Jisun sedang menelfon kekasihnya sementara Baekhyun termenung di balkon.
Sepertinya Jisun bicara di dekat jendela karena suara adiknya itu sampai terdengar.

Raut wajah Baekhyun berubah masam karenaJisun tertawa lepas. Entah apa yang sedang kedua pasangan itu bicarakan. Baekhyun rasanya ingin menghentikan keduanya. Rasa cemburu itu kadang menyiksa batin. Tapi yang bisa lakukan hanya diam. Ia sudah berjanji pada Jisun untuk tak mencampuri urusan percintaan.
Baekhyun juga tak begitu membenci kekasih Jisun. Ternyata Oh Sehun pria baik. Setidakknya adiknya tidak disakiti.

Setelah suara Jisun tak terdengar, Baekhyun menelfon.

“Cepat ke kamarku!”. Ujarnya lalu memutus panggilan.

Tak ada satu menit, Jisun masuk menghampiri Baekhyun.

“Apa?”. Kesal Jisun.

Tadi Jisun sudah mau berbaring. Matanya merah karena mengantuk.
Baekhyun sadar namun tak peduli. Ia sedang butuh Jisun untuk mendinginkan hatinya yang terbakar api cemburu.

“Kepalaku sangat pening. Kemarilah!. Pijat aku”. Perintah Baekhyun yang sudah duduk manis di ranjangnya.

Tangannya menepuk sisi ranjang, mempersilahkan Jisun untuk duduk.

Jisun memutar kedua bols matanya. Ia sebenarnya kesal saat Baekhyun seenak jidat menyuruhnya. Namun dirinya adalah robot remot kontrol Baekhyun. Ia tak bisa menolak meski enggan.

Jisun duduk menghadap Baekhyun dan memijit kepala kakak non biologis nya itu.

“Jisun-ah”

“Heum?”

“Aku beruntung bertemu denganmu. Jika tidak, aku sangat kesepian. Eomma dan appa, mereka selalu sibuk dengan pekerjaan. Kau tau?. Sejak umur lima tahun, aku hanya mengenal Ahn ajhumma. Dia yang mengurusku sampai besar”. Tutur Baekhyun.

Pria itu terus menatap Jisun yang tak juga bersuara. Bukannya apa, ini untuk yang kesekian kalinya Baekhyun cerita. Jisun sampai bosan mendengarnya.
Meski begitu Baekhyun akan tetap melanjutkan.

“Saat eomma dan appa berdonasi ke panti asuhan, aku terpaksa ikut. Aku ingin tau rasanya pergi berdua bersama mereka. Saat itu aku malah senang karena banyak anak kecil. Dan hari itu adalah kali pertama kita bertemu. Masih ingat?. Kau dulu sangat polos karena terus mengintiliku. Katamu aku oppa paling tampan. Iya kan?. Ingat tidak?”.
Sambung Baekhyun.

Mendengar itu, Jisun langsung menggeleng. Ia dulu memang sempat menjuluki Baekhyun pria paling tampan.

“Entahlah. Aku kan masih kecil. Memang kau pria tampan pertama bagiku. Tapi saat aku ke Seoul, ternyata leboh banyak yang lebih tampan darimu”

Jisun menjukurkan lidahnya, membuat Baekhyun tercengang. Sungguh sangat munafik adiknya itu.

“Ah terserah, tapi aku tetap orang tertampan yang pertama kau temui”

“Sekarang Oppa sangat jelek”

“Yak!”

Jisun berdiri karena teriakab Baekhyun. Gadis itu tertawa karena kakaknya langsung kesal.

“Iya kau jelek, buktinya tak punya pacar.

“Byun Jisun, kemari kau!”

Jisun kembali menjulurkan lidahnya dan ia siap berlali melihat Baekhyun turun ranjang.
Gadis itu melesat cepat keluar dari kamar,  Baekhyun tak sanggup mengejar. Ia tak biss berlari karena pasti akan sesak nafas nantinya.
Ia tak mau jantungnya kambuh, apalagi di depan Jisun.

“Sudah sana tidur. Kau harus bangun pagi”

Baekhyun melambai pada Jisun yang kini merengut di dekat tangga.
Tidak asik sekali, kakaknya tak memukulnya atau balas mengejek.

“Sampai besok”

Baekhyun menutup pintu kamarnya, membuat Jisun semakin heran.

“Aneh, apa moodnya sedang buruk?”. Tanya Jisun pada diri sendiri.

Gadis itu berjalan menuju kamarnya. Kenangan saat ia pertama bertemu Baekhyun melintas.

“Benar, dulu oppa pria paling tampan”

Jika orang bertanya siapa cinta pertamanya, maka Jisun tak akan menjawab.
Ia tak mau semua tau jika cinta pertamanya adalah kakaknya sendiri.

Tbc.

 

Hai semua…

Saya balik dengan cerita cast Baekhyun. Semoga kalian suka.

Maaf dengan segala keterbatasan dalam cerita ini. Saya belum pandai buat bahasa seperti author senior. Tolong dimaklumi, teman-teman.

Boleh komen dong.

Like juga

Lebih senang lagi kalo kalian mau share ff saya ini.

Karena pastinya aku akan lebih semangat post.

Ok?

See u next…..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s