Complicated Love (Chapter 3)

PicsArt_07-06-09.39.50

Byun Baekhyun/Oh Sehun/Byun Jisun/Jang Minji

Romance/Sad/Angst

Chapter

“사랑합니다 , 변 지순. 내 앞에서 제발”

“I Love You, Byun Jisun. Beside me, please”

(Boleh kunjungi karyaku yang lain di wattpad : @byunelvis)

®Happy reading®

 

********

Apa yang paling membuat Jisun bahagia?.
Tentu saja bersama orang yang ia sayangi. Seperti saat ini, setelah jam kuliah selesai ia makan bersama kekasihnya. Tak tertinggal Baekhyun yang juga ikut bergabung.

Atsmosfir di tempat itu lumayan canggung. Sehun tak bebas mengobrol karena Baekhyun seolah mengawasinya.
Momentnya bersama Jisun selalu terganggu.

“Oppa, kenapa kau tak makan sayurnya?”

Tegur Jisun karena melihat sisa sayur food box milik Baekhyun.

“Kau habiskan jika mau”

“Ini alasanmu mudah sakit”

Sehun melihat betapa perhatiannya Jisun pada Baekhyun, begitupula sebaliknya. Ia kadang merasa jadi orang ketiga saat berkumpul seperti ini. Kadang Jisun lebih banyak perhatian pada kakaknya darpada dirinya.
Sehun tak ingin bilang dirinya cemburu dengan dua saudara itu. Sangat konyol.

“Oh Sehun!”

“Iya, Hyung?”

Sehun langsung duduk tegak saat Baekhyun memanggilnya. Seperti biasa, ekspresi kakak Jisun itu sangat kecut.

“Terimakasih sudah mengantarku pulang malam itu”. Kata Baekhyun.

“Iya”

Jisun tersenyum senang karena akhirnya Baekhyun mau berterima kasih langsung. Selama ini Sehun selalu salah dimata Baekhyun. Syukurlah jika kali ini kekasihnya berjasa bagi kakaknya.

“Hyung”

“Apa?”

“Bolehkah aku mengajak Jisun kencan akhir minggu ini?”

Jisun yang sedang minum hampir saja tersedak. Ia menatap Sehun dan Baekhyun secara bergantian.

Yang ditanya diam beberapa saat, Baekhyun terlihat mempertimbangkan. Diliriknya Jisun yang sedang menatapnya penuh harap. Sehun pun sama, Baekhyun merasa seperti orang tua yang dimintai restu.

“Lakukan saja”

Senyum Sehun langsung merekah. Ia lega karena Baekhyun tak melemparinya pertanyaan.
Sepertinya lampu hijau mulai menyala.

“Terimakasih, Hyung”

Kini Sehun terlihat senang dan Baekhyun sangat muak melihatnya.

“Oh Sehun, sepertinya kau sangat menyukai adikku. Apa tidak bisa libur sehari tak bertemu dengannya?. Cihh”

Sehun hanya terkekeh. Benar sekali, pria kulit susu itu paling tak tahan merindukan Jisun.

Sedangkan Jisun, ia menghembuskan nafas lega. Ia menyenggol kaki Sehun dan mengerjapkan lucu.
Baekhyun memperhatikan dua pasangan dihadapannya. Mereka terlihat senang, terutama adiknya. Sangat jelas, kebahagiaan itu terpancar dari mata seorang Jisun.

“Oh, please. Apa kalian sedang lovey dovey dihadapanku?. Tidak nyaman sekali”

Baekhyun langsung berdiri dan membawa nampan makanannya. Pemuda itu menyudahi acara makannya.

“Oppa, mau kemana?”

“Berkumpul bersama yang lain. Aku akan ke studio Chanyeol. Mampirlah jika ingin pulang bersama”. Kata Baekhyun.

Ia takkan berharap Jisun pulang bersamanya hari ini. Sepertinya adiknya tak mungkin mampir karena bersama Sehun.

Jisun mengangguk sedangan senyum manisnya. Ia melambai pada Baekhyun yang sudah berlalu.

“Wah…. Jadi kali ini kau yang ijin pada kakakku?”. Tanya Jisun pada kekasihnya.

“Aku melakukannya agar kau tak terus memohon padanya. Jisun-ah, besok minggu ayo kita senang-senang. Jangan sampai gagal lagi”

“Iya”
.
.
.
.
.
Baekhyun menekan tuts piano tanpa henti. Lagu yang ia mainkan memiliki tenpo yang cepat.
Beginilah ia melampiaskan perasaannya. Teman-temannya hafal, jika Baekhyun serius main piano tandanya sedang dalam mood buruk.

“Siapa yang membuatmu kesal Byun Baekhyun?. Aduh…. Berhentilah main!. Aku tak konsentrasi, bodoh”

Kata pria bertelinga lebar, ia melempar sebungkus snack pada Baekhyun.
Ini studionya, tapi Baekhyun seperti pemilik. Niatnya untuk membuat lagu jadi buyar.

“Biarkan saja. Dia kan memang selalu seperti itu”. Kata satunya lagi, pria yang dikenal dengan senyum menawan.

“Jongdae-ya, dia bisa merusak keyboardku”

“orang sekaya Baekhyun bisa menggantinya, Park Chanyeol”

Pemuda bernama Chanyeol itu berdecak.
Ia tau alasan Baekhyun badmood. Tidak lain dan tidak bukan adalah Jisun.

“Sepertinya yang membuatnya kesal adalah adiknya. Hah…. Kasihan sekali, cinta sepihak memang menyedihkan”. Kata Chanyeol.

Pria itu langsung menutup mulutnya karena merasa salah bicara. Hampir saja ia mengatakan sesuatu yang bisa membuat Baekhyun marah.
Jongdae yang mendengar menaikan sebelah alis. Ucapan Chanyeol terdengar ambigu.

“Apa kau bilang tadi?”

“Bukan apa-apa. Ah sepertinya delevery pizzanya sampai, biar kulihat”

Chanyeol langsung beranjak dan berlari keluar studio.
Jong Dae mengendikan bahunya karena tak ingin peduli dengan ucapan Chanyeo tadi.
Ia mendekati Baekhyun dan menepuk pundak temannya.

“Baekhyun-ah, apa kau sedang bosan?”

Baekhyun menghentikan permainannya dan tersenyum tipis pada Jongdae.

“eum ya… Jongdae-ya! . Apa yang bisa kulakukan agar tidak bosan?”

Jongdae duduk di samping Baekhyun. Ia terlihat serius ingin menyampaikan sesuatu.

“Baek, kau tau Jang Minji?”

Baekhyun mengangguk, ia mengenal gadis yang Jongdae tanyakan. Gadis dari kelas seni yang terkenal karena kecerdasan juga kecantikannya. Bisa dibilang, Jang Minji itu selebriti jurusan seni.

“Dia kemarin meminta nomormu. Minji memaksaku, kau tau kan dia sangat cantik. Aku sampai gugup saat bicara dengannya”

“Kenapa minta nomorku?”

“Dia menyukaimu, Byun Baekhyun. Dia mendekatiku karna tau aku temanmu. Ah aku iri padamu, teman”

Baekhyun hanya ber ‘o’ria, terlihat tidak tertarik. Jongdae berdecak karena respon temannya itu tak seperti yang diharapkan.

“Apa boleh kuberikan nomormu padanya?. Kau bisa mencoba mengenalnya. Ayolah, selama ini banyak yang ingin jadi kekasihmu. Kau selalu saja mengabaikan mereka. Kali ini cobalah kenal dengan si cantik Minji, ya?”. Pinta Jongdae, motofnya segaligus untuk menjodohkan.
SejujurnyaIm ia dan Chanyeol tak tahan melihat Baekhyun tak punya kekasih.

“Terserah, asal dia tak menggangguku”. Kata Baekhyun.

Pria itu mengingat ucapan Jisun yang menyuruhnya untuk cari pacar. Haruskah ia melakukannya?. Padahal hatinya sudah sepenuhnya milik Jisun. Ia tak bisa menyukai gadis lain.

“Kalian bisa kencan buta untuk awal perkenalan. Ini sedang trand”

“Kencan buta?”

Baekhyun diam sejenak, ia sedang berfikir harus melakukannya atau tidak.

“Apa yang kalian bicarakan?. Sepertinya serius”. Tanya Chanyeol yang masuk dengan box pizza ditangannya.

“Ah… Ini. Aku merekomendasikan kencan buta untuk Baekhyun. Kau tau Jang Minji kan? . Dia ingin kenal dengan Baekhyun”.
Jelas Jongdae dengan semangat.

“Ide bagus. Benar Baek, kau bisa mencoba kencan buta. Ayolah, kami sedih melihatmu tak punya kekasih. Siapa tau kau akan tertarik dengan gadis itu. Kau bisa jalan ke Lotte word, restaurant romantis atau tempat nongkrong lainnya. Aku yakin akan terjadi moment spesial. Tidak ada salah mencoba”. Tutur Chanyeol, ucapannya sudah seperti tutor cinta.

Jongdae tepuk tangan karena setuju dengan ucapan Chanyeol.

“Kenapa malah kalian yang semangat?. Akan kucoba, maybe”
.
.
.
.
.
.
.
Akhirnya hari minggu tiba, pagi sekali Jisun sudah sibuk menyiapkan sarapan. Wajahnya terlihat cerah, bagaimana tidak?. Hari ini ia akan jalan-jalan ke hongdae bersama Sehun.

“Tak biasanya kau bangun sepagi ini”.

Baekhyun baru saja selesai mandi. Ia menghampiri adiknya di ruang makan.

“Tadi malam aku tidur awal. Dan pagi ini aku membuka mata sebelum alarm berdering. Oppa, aku hebat kan?”

Baekhyun memutar kedua bola matanya. Adiknya itu memang aneh. Kadang berbangga diri dari hal yang baginya biasa.
Dilihatnya Jisun terus tersenyum.
Ia tak perlu bertanya kenapa Jisun terlihat lebih ceria.

“Ekhmmmm…. Kau pergi jam berapa?”.

“Kemana?”. Tanya Jisun dengan polosnya.

“Tentu saja pergi dengan kekasihmu itu”.

Baekhyun menjawab dengan nada kesal. Adiknya sangat tidak peka.

Jisun melihat pada ponselnya yang sejak tadi tak menunjukan notifikasi, satu pun.

“Entahlah, Sehun belum memberi kabar”

“Apa?. Dasar tidak jelas. Akan kuhajar jika dia membuatmu kecewa”

“Oppa!”

Baekhyun menyomot roti panggang dan berlalu ke ruang tengah. Jisun yang kesal menghampiri Baekhyun dan merebut roti panggang dari tangan pria itu.

“Hey?”.

“Buat makananmu sendiri!” . Ketus Jisun.

Ia berbalik namun Baekhyun menahan bahunya.

“Apa-apaan ini?. Bukannya kau buat sarapan untukku?”. Tanya Baekhyun.

“Tidak”

Beberapa detik kemudian Baekhyun sadar ucapannya tadi menyinggung Jisun. Adiknya terlalu sensitif.

“Ah…. kau kesal padaku?. Ayolah, aku hanya bercanda tadi. Aku tak akan menghajar Oh sehun”

Baekhyun mengambil lagi rotinya dari tangan Jisun. Ia tersenyum tanpa dosa dan berlalu untuk menonton televisi.

“Menyebalkan”. Lirih Jisun.

Ia kadang takut ucapan kakaknya serius. Karena pernah sekali, Baekhyun memukul Sehun lantaran salah faham.
Ia tak mau kekasihnya terluka lagi.

Jisun kembali ke ruang makan dan mengambil sepiring roti juga susu.
Gadis itu menghampiri Baekhyun lagi. Ia kadang merasa bersalah setelah marah-marah pada kakaknya

“Makan ini. Aku membuatkannya untukmu”.

“Eoh, terimakasih”

Jisun duduk disamping Baekhyun dan memperhatikannya dengan jeli. Dilihatnya wajah kakaknya yang lucu saat sedang makan. Bibir mungil itu, Jisun gemas sampai ingin mencubitnya.

“Kenapa?”

“Tidak. Aku hanya senang memperhatikan oppa makan”

“cih”

Jisun meringis, tangannya terulur untuk mengatur poni Baekhyun yang menutupi mata pria itu. Sejak tadi Baekhyun terus mengibaskannya.

“Apa Oppa tidak risih dengan poni sepanjang ini?. Ya ampun”

Perlakukan Jisun tentu membuat Baekhyun terpaku. Lihatlah, betapa perhatiannya sang adik padanya. Jantung Baekhyun seperti akan meledak saat ini juga. Ia tak tau cara mengontrolnya. Bisa-bisa penyakitnya kambuh karena Jisun.

“Nah….. Sudah!. Sekarang matamu tidak tertutup. Hemm… Lebih tampan”. Kata Jisun.

Sial, Baekhyun sekarang salah tingkah. Dipuji oleh Jisun membuatnya ingin berteriak senang. Pipinya terasa panas, dan tiba-tiba Baekhyun merasa gugup.

Ia reflek menampik lengan Jisun.

“Ah… I-ini bukan gayaku”. Kata Baekhyun, ia kembali mengatur poninya seperti semula.

Jisun mengerucut, padahal Baekhyun lebih tampan saat keningnya terekspos.

“Kau berpenampilan seperti itu agar seperti boyband kan?. Haha… Bagiku seperti anak tk”

“Ya!. Byun Jisun!”

.
.
.
.
.

Sehun membungkuk pada pemilik mini market. Ia pamit pulang setelah jam kerja paruh waktunya berakhir. Hari ini adalah gaji pertamanya. Untunglah rekan kerja Sehun mau tukar shift, sehingga ia bisa pergi kencan di sore hari.
Sungguh kebahagiaannya berlipat ganda. Ia bisa mentraktir Jisun dan menghabiskan waktu bersama kekasihnya itu.

Kakinya terus melangkah ke tempat yang sudah Jisun janjikan. Dari jauh, Sehun melihat kekasihnya.
Senyumnya luntur saat melihat Baekhyun ada disana.

“Ah…. Kapan aku bisa menyapa Jisun dengan ciuman?. Selalu saja ada Baekhyun Hyung”.

Sehun kembali berjalan, mendekati Jisun yang sedang bersandar pada mobil.

“Jisun-ah?”.

“Eoh?. Kau datang?”. Senang Jisun, ia langsung menggenggam tangan Sehun.

“Hallo, hyung!”. Sapa Sehun dengan sedikit membungkuk.

“Oh Sehun, pria macam apa yang meminta kekasihnya untuk menunggu?. Kau ini, bagaimana jika terjadi sesuatu pada adikku?”. Kata Baekhyun dengan nada dingin.

“Sudah kubilang kan, Sehun kerja paruh waktu. Dia tak sempat ke rumah. Oppa, berhenti mengomelinya!”. Bisik Jisun pada sang kakak.

Baekhyun menggeleng tak percaya. Jisun selalu saja melindungi Oh sehun.

“Kau selalu membelanya”.

Baekhyun masuk ke mobilnya. Sebelum melajukan kendaraan roda empat itu, ia menatap Sehun dengan sinis.

“Jisun-ah, ku hampir mati karena tatapan mautnya itu”.

“Ahaha… Kau sudah tau sifat Baekhyun Oppa kan?. Dia memang menyebalkan”.

Sehun menggeleng, perhatian Baekhyun pada Jisun itu berlebihan. Ia selalu diawasi. Bersama Jisun seperti membawa bom yang siap meledak kapan saja.

“Lebih dari menyebalkan”.

Hari ini, Sehun memutuskan untuk kencan di lotte world. Jisun sangat setuju karena gadisnya itu sangat suka tempat hiburan. Mereka makan bersama, bermain wahana, dan mengambil foto. Tak tertinggal keduanya ikut berdansa bersama penyanyi jalanan.

“Jisun-ah, kau mau coba ice skating?”. Tawar Sehun setelah keduanya puas istirahat.

Jisun mengangguk dengan semangat. Bermain ice skating adalah kesukaannya.

“Terdengar menyenangkan, ayo!”.

Mereka menghampiri wahana ice skating. Banyak orang mengantri untuk masuk.

“Aduh, bagaimana ini?”. Keluh Sehun, ia menatap kecewa pada wahana itu.

“Sayang sekali”.

“Kita bisa telat pulang jika menunggu antrian sepanjang ini”. Kata Sehun, masih dengan ekspresi kecewa.

“Kita bisa bermain lain kali. Tak apa”.

“Baiklah aku akan mengajakmu kemari lagi untuk main ice skating. Kita pergi ke tempat lain saja”.

Sehun menggenggam erat tangan Jisun saat keluar dari kerumunan orang. Ia tak mau kekasihnya terpisah darinya. Begitu ramai dan juga berisik.

“Jisun-ah, ayo minum coklat panas di caffe favoritku. Dekat dari sini”.

“Eum”

Di tempat lain, Baekhyun menyanggupi kedua temannya untuk bertemu. Di sebuah caffe daerah Gangnam, Chanyeol dan Jongdae memaksanya kesana.
Baekhyun sudah sampai dan mencari dua orang itu.

“Baekhyun-ssi!”.

Ada yang memanggil. Seorang wanita dengan pakaian feminin menghampirinya. Baekhyun tau siapa dia.

“Jang Minji?”.

“eoh…. Kau mengenalku?”.
.
.
.
.
.
Baekhyun rasanya ingin menendang bokong kedua temannya kali ini. Entah segaja atau tidak, Jongdae dan Chanyeol sepertinya mengajak Minji.

“Minji orangnya sangat menyenangkan, bukan begitu?. Baekhyun-ah?”.tanya Jongdae.

“Iya”. Jawabnya singkat.

Baekhyun hanya melirik lalu kembali sibuk bermain ponsel.

“Ya, ayolah. Ceritakan sesuatu, Byun Baekhyun. Tidak biasanya kau diam seperti ini”. Kata Chanyeol.

Tangan panjangnya terus menyenggol lengan Baekhyun.

“Ishh apa lagi?”

Chanyeol menghembuskan nafasnya karena kesal. Padahal sebelumnya Baekhyun sepakat untuk coba mengenal Minji.

Karena kesal, Chanyeol memberi kode pada Jongdae untuk pergi dari tempat itu.

“Wah… Aku lupa harus mengantar nenekku ke klinik. Aku harus pulang dulu”.
Ujar Jongdae beralasan.

“Astaga, aku juga lupa harus menjemput kekasihku. Bagaimana ini?. Sepertinya aku juga harus pulang?”. Kata Chanyeol, pria itu menarik Jongdae untuk beranjak.

“Hey, kenapa tiba-tiba?. Kim Jongdae bukankah kau selalu mengantar nenekmu hari rabu?. Dan kau, bukannya kekasihmu sedang di Busan?”. Tanya Baekhyun yang tau sedang dibohongi.

Chanyeol terlihat kebingungan tapi tetap akan melanjutkan sandiwara.

“Kalai begitu pamit. Ayo Jongdae-ya, nenek dan kekasihku sudah menunggu”.

Kedua temannya melangkah pergi. Baekhyun mendesah karena terjebak bersama Jang Minji.

“Apa kau juga mau pergi?. Sayang sekali, aku membatalkan acara dirumah karena ingin bertemu denganmu”. Kata Minji dengan raut sedih.

“Kenapa ingin bertemu?”. Tanya Baekhyun.

Ia kurang suka saat Jang Minji memasang ekspresi minta dikasihani.

“Kau sudah dengar dari Jongdae kan?”.

“Eoh, jadi kau yang terus menghubungiku kemarin?. Maaf, aku tak tau itu kau”.
Jelas Baekhyun.

“Tidak apa-apa. Oh ya, kita belum berkenalan secara resmi”

Minji mengulurkan tangannya, namun Baekhyun hanya menatapi.

“Tidak perlu, kita sudah tau nama masing-masing”

Minji mengigit bibir bawahnya. Ternyata Baekhyun tak sehangat yang ia kira. Padahal dari kabar yang ia dengar, Byun Baekhyun adalah pria ramah dan humoris.

“Baekhyun-ssi, kudengar kau ikut program photografi?”. Tanya Minji, mencoba membuka obrolan.

“Tidak lagi. Aku sudah berhenti”

Minji mengangguk, ia bingung harus bagaimana mengajak Baekhyun mengobrol.

“Apa kau mau mengajariku fotografi?”

Baekhyun kini sedikit tertarik dengan pertanyaan Minji.
Ia duduk tegak dan menatap intens gadis dihadapannya.

“Kenapa kau tertarik akan hal itu?”

Minji tersenyum, akhirnya Baekhyun masuk dalam obrolan.

“Eum… Aku mencari ide untuk melukis. Dengan forografi bukankah akan dapat pengalaman soal tempat bagus?”

“Ya, bisa saja”

Keduanya mulai larut dalam obrolan. Meski yang banyak bertanya adalah Minji, tak segan Baekhyun menjawabnya. Gadis itu tidak terlalu membosankan karena kadang membuat candaan.
Baekhyun juga sedikit cerita, dan topiknya malah Jisun. Ia bercerita memiliki seorang adik yang sangat ia sayangi.

“Aku sempat salah. Kukira, Byun Jisun itu pacarmu. Kalian terlihat sering bersama dan maaf, wajah kalian tidak begitu mirip. Jadi kukira dia bukan adikmu”. Kata Minji.

Sejujurnya Minji tidak nyaman saat ini. Ia kurang suka Baekhyun membahas wanita lain, meskipun itu Byun Jisun.

“Ya, aku tak bisa jauh darinya. Karena Jisun sangat ceroboh. Aku tak ingin dia terluka”

Minji yakin Baekhyun adalah pria yang pantas untuk disukai. Dia begitu perhatian dan gentle. Ia jadi ingin mengenal Baekhyun lebih dekat.

“Kau kakak yang baik. Aku juga punya saudara tapi hubungan kami tidak sedekat kalian”. Kata Minji yang cukup iri dengan Baekhyun.

“Ya karena sebenarnya kami bukan-…”

Baekhyun menggantungkan ucapannya. Ia terlalu jauh karena hampir saja mengatakan jati diri Jisun.

“Bukan?”

Minji penasaran karena Baekhyun berhenti bicara. Kata-kata pria itu menggantung.

“em…. Kami bukan saudara yang sering bertengkar. Ya… Begitulah”

Baekhyun menghela nafasnya. Ia tak harus mengungkap privasi adiknya.

“Baekhyun-ssi!”

“Ya?”

Minji menunjuk keluar jendela kaca, tepat disampingnya.

“Bukankah itu Byun Jisun?”

Baekhyun mengikuti arah pandang Minji. Diluar ada dua pasangan saling tertawa.
Terlihat Sehun memakaikan syal kepada Jisun.

“Benar kan?. Wah dia sudah punya pacar?. Romantis sekali”

Seperti di beri api, hati Baekhyun mulai mendidih. Disana, dibawah lampu jalan dua pasangan yang sebenarnya tak ia restui saling tatap.
Dalam jarak dekat, Jisun maupun Sehun tertawa.

“Oh?. Baekhyun-ssi, mereka sepertinya mau berciuman”

Mata Baekhyun terbelalak, nafasnya jadi sangat berat. Pria itu langsung berdiribdan berlari keluar, mengabaikan Minji yang meneriaki namanya.
.
.
.
.
Jisun dan Sehun masih saling berhadapan.
Sang kekasih tak tega melihat gadisnya kedinginan.
Ia mengeluarkan syal dalam tas, dan memakaikannya pada Jisun.

Hati Jisun tersentuh, prianya sangat pengertian dan romantis. Sehun memperlakukan dirinya seperti adegan dalam drama yang ia tonton. Ada hal yang lebih romantis lagi, Jisun tersenyum malu saat memikirkannya. Kakinya maju sampai tubuh keduanya bertubrukan.

“Ayo lakukan adegan seperti dalam drama!. Sehun-ah, cium aku di tengah keramaian ini”

“Y-ya kau ini bicara apa sih?. Aku tidak mau”. Tolak Sehun.

Bukannya menjauh, Jisun malah menarik kerah bajunya. Otomatis wajah Sehun sejajar dengan Jisun.

“Ayolah, kecupan singkat juga tidak apa”

Sehun terkekeh, sepertinya kekasihnya sedang tidak bercanda. Jika sudah dekat begini, siapa yang tak akan tergoda dengan bibir plum Jisun. Terlihat sangat lembut, sampai-sampai Sehun kesulitan meneguk ludahnya.

“Baiklah jika itu maumu, Byun Jisun”

Jisun tersenyum lalu memejamkan matanya, menunggu bibir Sehun menempel pada bibirnya.
Jantungnya berdebar sangat kencang.

Namun detik itu juga, seseorang mendorong Sehun.

“Ya!”

Sehun maupun Jisun terkejut melihat Baekhyun berdiri diantara kedunya.

“Oppa?”

“H-hyung?”

Baekhyun menatap sinis kearah Sehun. Nasib baik ia bisa menahan diri untuk tidak memukul kekasih adiknya itu.

“Ayo pulang, Jisun-ah!. SEKARANG!”

.
.
.
.TBC

Maaf ya, banyak typo. Aku gak sempat koreksi.
Boleh komen 😁 biar lebih semangat lanjut nulis.
See you next…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s