Complicated Love (Chapter 4)

PicsArt_07-10-07.54.51.jpg

Byun Baekhyun/Oh Sehun/Byun Jisun/Jang Minji

Romance/Sad/Angst

Chapter

“사랑합니다 , 변 지순. 내 앞에서 제발”

“I Love You, Byun Jisun. Beside me, please”

( wattpad: @byunpelvis)

*

Happy reading

*

 

Malam semakin larut, semua orang pulang setelah selesai beraktivitas. Begitu juga dengan Bakhyun dan Jisun. Keduanya dalam perjalanan menuju rumah. Suasana dalam mobil sangat tegang. Jisun terus menatap jalanan, membisu setelah berdebat dengan Baekhyun. Gadis itu ingin menangis sangking kesalnya.

“Byun Jisun!”

Yang dipanggil tak menjawab. Baekhyun memukul setiran untuk meluapkan amarahnya. Ia harus mengontrol diri agar tidak membentak adiknya.

“Kau tuli atau bisu?. Kenapa tidak menjawabku? “. Tanya Baekhyun.

“Diam, Oppa!. Aku tak ingin kita bertengkar lagi hanya karena sifat egoismu itu”

Mendengar itu membuat Baekhyun langsung menepikan mobilnya. Jisun yang terkejut menatap Baekhyun.

“Diam?. Bagaimana aku bisa diam jika kau diperlakukan seenaknya oleh Oh Sehun?”. Tanya Baekhyun dengan nada tinggi.

Jisun mengepalkan kedua tangannya.
Membuat kuku jarinya memutih. Kali ini kakaknya sangat kelewatan.

“Apa maksudmu?”

“Oh Sehun, dia sangat mesum karena berniat menciummu di tempat terbuka seperti tadi. Kalian jadi tontonan, memangnya tidak malu?”

Jisun mengusap wajahnya. Ia tak mengerti kenapa Baekhyun sangat suka mencampuri urusan percintaannya.

“Dia tidak salah, Oppa. Aku yang memintantanya untuk menciumku. Kau harusnya mengataiku, bukan Sehun”

Baekhyun tercengang, ia tak percaya Jisun akan melakukan hal sevulgar itu. Tidak mungkin.

“Berhenti membelanya!”

“Biar saja. Lagipula kau sangat keterlaluan, Oppa. Seharusnya tak usah mendorong Sehun seperti tadi. Bagaimana jika dia jatuh?”

Baekhyun tak menjawab dan kembali menjalankan mobilnya. Ia merasa dadanya berdenyut, jangan sampai penyakitnya kambuh karena terlalu emosi.

Keduanya diam dalam beberapa saat. Baekhyun sibuk menyetir walau pikirannya kacau.
Sedangkan Jisun menahan tangisnya.
Ia merasa bersalah karena meninggalkan Sehun di jalan. Padahal kekasihnya sudah meluangkan waktu untuknya. Dan yang jelas, mereka belum selesai kencan.
Saat sedang senang-senang, Baekhyun malah datang mengacau. Kakaknya itu seenaknya memaksa pulang. Menyeretnya dengan kasar dan memarahinya.
Jisun masih berusaha untuk bersabar. Ia selalu mengalah, selalu menuruti kata-kata Baekhyun.

Suhu panas didalam mobil justru terasa sangat dingin. Jisun kembali mngunci bibirnya. Sampai dirumah, gadis itu langsung keluar mobil tanpa sepatah kata.

Baekhyun menghembuskan nafasnya kasar. Ia sadar telah egois. Pantas jika Jisun marah padanya. Namun ia tak peduli, besok adikknya itu pasti sudah kembali seperti biasa.

“Ah… Ya ampun”

Jang Minji, sungguh Baekhyun sampai melupakan gadis yang baru dikenalnya itu. Ia pergi begitusaja tanpa mengatakan apapun.
Tapi biar saja, toh ia tak niat untuk bertemu dengannya.

.
.
.

Disebuah gang yang lumayan sepi, Sehun berjalan seorang diri. Ia langsung pulang setelah kejadian tadi.
Tatapannya kosong, sampai-sampai tak sadar sudah sampai depan rumahnya.

Pria itu masuk, dan menemukan ibunya tertidur di sofa. Kertas perihal lowongan pekerjaan berserakan di meja. Wanita yang melahirkannya itu sedang berusaha mencari nafkah.
Sehun sedih memikirkan keluarganya harus kerja keras sekarang.

“Eomma, bangun dan pindahlah ke kamar”. Katanya sembari membantu ibunya.

Pemuda itu masuk kamarnya setelah memastikan ibunya berbaring di ranjang.

Sehun melempar tubuhnya ke kasur, sembari memikirkan sikap Baekhyun tadi. Kenapa kakak Jisun itu terlihat marah?. Ia kini semakin penasaran.
Dulu, Baekhyun pernah memukulnya karena dirinya pernah tak sengaja melukai Jisun.
Hari ini pria itu marah saat ia hendak mencium Jisun.
Memang apa salahnya?.
Padahal setahu Sehun hal semacam itu biasa dilakukan oleh pasangan.

“Mungkinkah Baekhyun Hyung….. Ah…. Tidak mungkin. Mereka kan saudara”.
Katanya.

Aneh jika Sehun mengira Baekhyun cemburu, mengingat betapa lengketnya dua saudara itu.

Sehun merasa ponselnya bergetar panjang, menandakan sebuah panggilan masuk.
Senyumnya langsung terukir setelah melihat nama Jisun pada layar ponsel.

.
.
.
.

“Iya eomma. Jisun dan aku baik-baik saja. Jangan khawatir”

Baekhyun sesang bicara dengan ibunya lewat video call. Tiba-tiba orang tuanya menghubungi karena rindu.

‘Dimana adikmu?. Eomma ingin bicara, cepat berikan ponselmu padanya!’

“Ah…. Sepertinya dia sedang belajar. Besok ada kuis dari dosennya”.
Ujar Baekhyun yang jelas sedang berbohong.

Pria itu ingin mebiarkan adikknya sendirian.

‘Benarkah?. Yasudah, eomma tutup ya. Bye’

Baekhyun melambaikan tangan pada ibunya. Setelah panggilan video berakhir, ia berbaring di ranjang.
Tak ada yang ia lakukan selain tidur. Baekhyun tak bisa bercanda dengan Jisun saat ini. Tidak enak sekali setiap Jisun mendiaminya

“Oh ayolah!”

Baekhyun menutup wajahnya dengan bantal, berharap bisa tidur.
Jangan sampai insomnianya kambuh. Ia bisa mengantuk saat di kelas.

Biasanya saat sulit terlelap seperti itu, ia meminta Jisun ke kamarnya. Atau sebaliknya.

“Ah sial!”

Jisun biasanya membuat susu hangat dan membelai kepalanya sampai tertidur. Memang seperti anak-anak, tapi itu cara membuatnya bisa terlelap.

Setelah hampir satu jam, Baekhyun menyerah. Ia turun dari ranjangnya dan berlari keluar. Pria itu menuju kamar Jisun. Beruntung pintu tak dikunci, Baekhyun masuk tanpa mengetuknya.

“Ji-… ”

Matanya memandang ke depan, pada sosok yang susah berbaring manis di ranjang.
Ternyata Jisun sudah terlelap. Baekhyun mendekat dan menyelimuti tubuh adiknnya.

Baekhyun menggeleng heran. Jisun tidur dengan ponsel menempel ditelinga. Di ambilnya benda pipih itu.
Ada banyak riwayat panggilan, dari atas sampai bawah hanya ada nama Sehun.
Betapa seringnya kedua pasangan itu berkomunikasi. Baekhyun sangat ingin memblokir nomor Sehun. Tapi tentu saja akan sia-sia.
Dijauhkannya benda pipih itu. Baekhyun meletakannya di meja belajar agar Jisun tak terganggu.

Baekhyun kembali mendekati ranjang. Pria itu bersimpuh agar bisa memandang wajah Jisun. Sangat tenang, Baekhyun terkekeh karena adiknya lebih menggemaskan saat terlelap.

“Eung… ”

Jisun mengeliat, mulai terlihat gelisah. Ini biasa terjadi, Baekhyun sudah hafal. Kerap kali mimpi buruk membuat Jisun ketakutan.
Gadis dihadapannya pernah mengalami trauma psikis karena sebuah kecelakaan. Dan kadang ingatan mengerikan itu membuat Jisun menangis.
Jisun akan mengalami mimpi buruk jika kondisi hatinya kurang baik juga saat kelelahan.
Tak jarang juga gadis itu mengigau, memanggil kedua orangtuanya.

Baekhyun kini benar-benar merasa bersalah membuat adiknya kesal. Seharusnya ia tak marah-marah.

“eung… Eomma!”

Tangan Jisun mencengkram selimut, nafasnya naik turun seperti kelelahan. Melihat itu Baekhyun menggenggan tangan adiknya. Menyalurkan kekuatan agar lebih tenang.

“Jangan takut, aku bersamamu”

Perlahan nafas Jisun kembali normal. Syukurlah tidak sampai terbangun.

Baekhyun menyeka keringat di pelipis Jisun dengan telapak tangannya.

“Minpi indah. Aku menyayangimu”
.
.
.
.
Malam sudah berganti pagi. Dan ruang yang tadinya gelap menjadi lebih terang. Jisun membuka matanya setelah alarm berbunyi.

“Aishh…. Semalam aku ketiduran”

Jisun mencari ponselnya yang ternyata ada di meja belajar.

“Kenapa bisa sampai sini?”

Jisun tak peduli, mungkin ia lupa. Padahal seingatnya ia menelfon Sehun sampai ketiduran.

Gadis itu segera bersiap karena hari ini ada kelas pagi. Ia juga harus membuat sarapan.
Tak butuh lama untuknya mandi juga berpakaian. Setelah selesai Jisun menuju dapur untuk membuat sandwich.

Meski sedang kesal dengan Baekhyun, ia tak boleh melupakan jatah sarapan kakaknya itu.
Jisun meletakan dua potong sandwich dan menutupinya dengan tudung saji.

Ia malas membangunkan Baekhyun untuk sarapan.
Dan hari ini Jisun akan berangkat sendiri. Ia berangkat lebih pagi agar tidak telat.

Saat berjalan ke pintu keluar, Jisun dibuat terkejut oleh Baekhyun. Pria itu tidur disofa.
Hampir saja ia berteriak. Pasalnya posisi tidur Baekhyun duduk dengan selimut menutupi seluruh tubuh.

“Ada-ada saja”

Jisun tetap cuek dan berjalan keluar. Ia tak peduli jika Baekhyun telat karena tak dibangunkan.

Garis bawahi!

Jisun sedang malas bicara dengan Byun Baekhyun.

Berangkat sendiri berarti harus naik bus. Ia harus berjalan ke depan komplek perumahan untuk sampai halte.
Jisun sudah membuat janji untuk bertemu dengan Sehun.
Ternyata tak perlu lama menunggu.
Kendaraan yang akan membawanya ke kampus datang.

Jisun masuk ke dalam bus, dan Sehun sudah duduk manis. Pria itu melambai pada kekasihnya.
Tak ada tempat duduk lagi, jadi Sehun berdiri dan mempersilahkan Jisun duduk.

“Terimakasih”

Keduanya saling melempar senyum. Jisun menggandeng lengan Sehun agar prianya itu tak terjatuh saat bus jalan.

“Kau terlihat manis dengan jepit rambut itu”. Bisik Sehun, membuat Jisun menunduk malu.

Ini bukan yang pertamakalinya Sehun memujunya. Jisun selalu saja salah tingkah.

“Kau terlihat keren dengan jam tangan ini”

Jisun balas memuji, lalu keduanya tertawa bersama. Sehun senang melihat Jisun memakai barang pemberiannya. Jam tangan yang ia pakai juga merupakan pemberian Jisun.
Mereka sama-sama memakai barang spesial.

Keduanya asik bercanda sampai tidak sadar sampai di halte dekat kampus.

“Hampir saja kelewatan. Astaga kita sudah hampir telat. Ayo!”

Sehun menarik Jisun untuk cepat masuk kelas.

.
.
.
.
.
Jang Minji, gadis itu duduk manis di kursinya. Jam kuliah sudah mulai namun ia sibuk mengorek isi sebuah dompet.

Dompet itu bukan miliknya, melainkan milik pria yang semalam ia temui.

Saat berlari keluar dari caffe, Baekhyun menjatuhkan dompet. Ia ingin langsung mengembakikan namun pria yang ia sukai itu sudah menghilang.

Didalamnya hanya ada beberapa uang cash. Yang lainnya adalah kartu kredit. Ternyata Baekhyun sangat kaya, Minji tercengang melihat Black Card didalam dompet hitam itu.

Ada juga foto yang terpasang disana. Ada gambar dua orang yang tak lain adalah Baekhyun. Disampingnya merupakan seorang gadis.

“Byun Jisun?”

Minji yakin tidak salah. Gambar disana mirip dengan gadis yang ia lihat kemarin.
Ada foto lagi, karena penasaran Minji melorotnya agar bisa melihat lebih jelas.

Kali ini hanyalah gambar Jisun.

“my love?”

Minji mengernyitkan dahi melihat tulisan di foto itu. Juga, wajah Jisun dilingkari oleh gambar hati.

“Ini Kim Jisun bukan?”

Minji tak yakin, tapi wajah dalam kedua foto itu sama.
Aneh sekali Baekhyun menyimpan foto itu. Minji tak ingin salah mengira.

“Seperti menyimpan foto pacar saja”.
Katanya.

Minji kembali menyimpan dompet Baekhyun ke dalam tasnya. Setalah kelasnya selesai, ia akan menemui Baekhyun.

Untunglah ia yang menemukan dompet itu. Minji bisa menggunakan kesempatan ini untuk melakukan pendekatan.
.
.
.
.
.

Kelas Sehun dan Jisun sudah berakhir. Mereka tengah berada di aula basket saat ini. Sudah lama Sehun tak bergabung bersama teman-temannya untuk olahraga. Pria itu ikut bermain basket, sementara Jisun menyemangati dari kursi penonton.

Jisun memutar ingatan saat pertamakali kenal Sehun. Saat semester satu, ia menjadi seorang cheer leader dan Sehun adalah kapten basket. Mereka sering satu lapangan saat ada kompetisi.
Mereka saling suka sejak saat itu.

“Dia selalu terlihat keren dan sexy saat bermain”. Ujar Jisun, bangga memiliki pria setampan Oh sehun.

Sayangnya, kekasihnya telah berhenti dari kegiatan basket. Sehun pernah mengalami cedera, yang mengakibatkan dirinya tak diperbolehkan lagi ikut pertandingan.

Jisun pun sama, ia juga berhenti menjadi seorang cheer leader. Selain karena dilarang oleh Baekhyun, ia juga tak semangat lagi.

Sehun melambai dari bawah, tersenyum senang karena bisa memasukan bola berkali-kali.
Beberapa teman Sehun sudah menyerah. Mereka mengakhiri pernainan dan pergi.

Jisun bergerak menghampiri Sehun. Gadis itu mengambil handuk tangan dan menyeka keringat kekasihnya.

“Oh, sungguh. Aku merindukan moment ini”. Ujar Sehun.

“Benar. Aku masih ingat”

Keduanya saling mengingatkan kenangan romantis. Sekarang hubungan mereka sudah hampir dua tahun.

“Dulu kita pacaran diam-diam. Sangat tidak nyaman”

Sehun mengingat satu tahun terakhir, dimana ia harus bersembunyi jika ingin bertemu Jisun.

“Benar. Aku sangat takut oppa membuat kita berpisah”. Jawab Jisun. Sungguh waktu itu ia sering berbohong pada kakaknya.

“Kau hebat, bisa membuatnya merestui kita”. Bangga Sehun, diacaknya poni panjang Jisun.

“Ya, meski sangat sulit membuatnya mengerti. Baekhyun Oppa, dia seolah tak suka aku memiliki kekasih”

Sehun menggenggam tangan Jisun. Mendekatkan wajahnya lalu mencium lembut pipi gadis itu.

“Jisun-ah, aku janji akan membuatnya bangga padaku”

Jisun tersenyum dan kini gilirannya mencium pipi Sehun.

“Baiklah. Eoh… Sial. Apa yang kita lakukan?”. Lirih Jisun setelah sadar beberapa orang yang ada di aula memperhatikan keduanya.
Wajahnya merah karena malu.

“Kenapa?. Mereka kan tau kita pacaran”

“Cih, memangnya kita sepopuler itu”

“Tentu saja”

Sehun dan Jisun tertawa. Orang-orang menatapnya iri, bagitu romantisnya dua pasangan itu.

Sedangkan di tempat lain, Baekhyun sedang menikmati americano. Ia sedang mendinginkan pikirannya. Seperti biasa, bersama Jongdae dan Chanyeol. Mereka mengobrol sementara Baekhyun jadi pendengar.

“Baekhyun-ssi!”

Baekhyun mendongak saat namanya di panggil. Dihadapannya telah berdiri seorang Jang Minji.

“eoh… Hai”

Chanyeol yang tadinya duduk disamping Baekhyun langsung berpindah tempat.
Minji tersenyum karena Chanyeol faham apa maunya. Gadis itu langsung menempelkan pantatnya pada bangku.

“Hai Minji!. Wah, seperti biasa kau sangat cantik”. Puji Chanyeol.

“Terimakasih, Chanyeol-ssi”

“Chanyeol-ah, sepertinya mereka perlu mengobrol berdua. Ayo pergi!”. Kata Jongdae yang langsung menarik Chanyeol.

Lagi-lagi dua orang itu sengaja meninggalkan Baekhyun bersama Jisun.

“Baekhyun-ssi, kau langsung pergi semalam. Apa ada masalah? “. Tanya Minji, ia sedikit penasaran dengan Baekhyun yang tiba-tiba menyeret Jisun pergi.

“Apa aku harus menjelaskannya?. Ini masalah kami”. Jawab Baekhyun dengan nada dingin.

“Ya, baiklah. Aku kemari ingin mengembalikan dompetmu. Terjatuh saat dicaffe”

Minji mengambil dompet hitam dalam tasnya dan memberikannya pada Baekhyun.

“Astaga, kukira hilang”

Baekhyun terlihat lega, tadi pagi ia kualahan mencari benda itu.

“Baekhyun-ssi… ”

“Terimakasih”

Setelah mengatakan itu Baekhuin beranjak. Minji yang tak ingin pria itu pergi sontak menahannya.

“Hanya itu?. Aku tak menerima ucapan terimakasihmu. Sepertinya tidak tulus”. Ujar Minji.

Baekhyun menghela nafasnya, ia malas berurusan dengan Minji.

“Lalu?”

“Aku punya dua tiket drama musical. Tapi tak ada yang mau kuajak untuk menonton. Bisakah kau menemaniku?”.
Tanya Minji, menatap Baekhyun penuh harap.

Yang ditanya diam sejenak. Baekhyun sebenarnya juga suka pertunjukan semacam itu. Ia ingat ucapab Chanyeol untuk mencoba kencan buta.

“Kapan?. Aku sibuk, tak bisa hari ini”

Minji langsung berdiri. Ia tersenyum lebar dan menunjukan tiketnya.

“Bagaimana kalau besok malam. Ah… Kau bisa memutuskannya kapanpun karena tiket ini bisa dipakai sampai akhir bulan ini”. Jelas Minji.

“Baiklah, besok malam”

Baekhyun tersenyum tipis dan berlalu pergi sementara Minji menghentakkan kakinya kegirangan.

Pria itu menggeleng, entah sesuka apa Minji padanya. Baekhyun takkan memberi banyak harapan.

“Byun Jisun!. Kenapa kau menghilang seperti tertelan bumi. Ck…. ”

Baekhyun lanjut mencari Jisun. Ia ngin mengajaknya pulang. Sejak pagi tak dilihatnya sosok adiknya itu. Baekhyun tak menyangka Jisun berangkat ke kampus tanpa pamit. Terbukti adiknya sangat kesal padanya.
Dirinya pun sudah mencoba menelfon, namun Jisun tak mengangkat.

Sehun melintasi kelas Jisum yang sudah berganti jadwal. Sudah satu jam yang lalu kelas Jisun berakhir, Baekhyun sudah hafal jadwal kuliah adiknya.

Kini ia semakin kesulitan mencari.

“Permisi!. Kau Melihat Byun Jisun?”.
Tanya Baekhyun pada seorang gadis yang sering ia lihat bersama adiknya.

“eoh, Sunbae?. Iya aku melihat Jisun, dia ada di aula basket bersama Oh Sehun. Kami lun barusaja dari sana”

Akhirnya, Baekhyun berterimakasih pada teman Jisun. Ia segera pergi menemui adiknya.
Kakinya melangkah santai, karena koridor lumayan dekat.
Kini Baekhyun sampai dan masuk kedalam.

Disana sudah sepi, hanya ada dua orang yang ia kenal. Baekhyun mengalihkan tatapannya saat melihat Jisun mencium Sehun.

“Sial!”

Baekhyun tak ingin bersikap seperti kemarin. Ia akan mencoba tenang, niatnya untuk mengajak Jisun baikan.

Pria itu diam memperhatikan adiknya. Senyum itu, Baekhyun benci karena Jisun menunjukannya pria lain.
Sampai kira-kira tiga menit. Barulah Baekhyun mendekat. Ia mengambil bola basket dan mengarahkannya pada ring.

Jisun dan Sehun sontak menoleh. Seperti biasa, mereka terkejut melihat Baekhyun.

“Hyung?. S-selamat siang!”. Salam Sehun pada Baekhyun.

“Ekhmm…… Apa yang sedang kalian lakukan ditempat ini?. Lovey dovey?. Astaga kalian gemar sekali melakukannya”

Jisun memutar kedua bola matanya. Ia sangat ingin menarik Sehun untuk pergi.

“Ahaha… Aku barusaja selesai bermain basket. Dan Jisun disini untuk menyemangati”. Jelas Sehun. Pria itu berudaha terlihat senang.

“Jisun-ah, ayo pulang. Aku ingin bicara denganmu”. Ajak Baekhyun, menarik tangan adiknya.

“Tidak mau. Hari ini aku mau menemani Sehun di mini market”. Tolak Jisun.

Ditepisnya tangan Baekhyun. Ia heran karena kakaknya tidak peka dengan kemarahannya.

“Jisun, tak apa. Lebih baik kau pulang”. Bisik Sehun, ia tak ingin Jisun mendapat masalah karena melawan Baekhyun.

“Tidak”. Tegas Jisun.

Gadis itu tak peduli lagi, ia menarik Sehun pergi. Melihat itu Baekhyun tak tinggal diam, ia Mengejar keduanya.

Langkah Jisun sangat cepat, Baekhyun sangat kualahan.

“Jisun-ah!”

Jisun mengabaikan panggilan Baekhyun. Ia semakin cepat berjalan. Sehun pun hanya menurut, ia tak tau harus berbuat apa.

“Byun Jisun!”. Panggil Baekhyun, yang kini malah berlari kencang.

Tiba-tiba saja jantungnya berdebar sangat kencang. Baekhyun berhenti dan bersandar pada tembok.
Rasa sesak itu kembali menyiksanya, sampai kesulitan bernafas.

Baekhyun meringis kesakitan sembari mencengkram dada kirinya. Baekhyun merogoh obat dalam kantung celana namun tak menemukannya.

“Ji-jisun!. Akh…… ”

Semakin sakit, rasanya seperti ditusuk benda tajam tepat dijantungnya.

“Jisun-ah”

Suaranya kini melemah. Rasanya Baekhyun ingin menangis. Wajahnya sangat merah karena menahan sakit. Sampai lama-lama pandangannya mengabur. Baekhyun ambruk dan kini kehilangan kesadaran.

Ada yang berteriak melihatnya, tanpa sengaja Sehun menoleh dan terbelalak melihat Baekhyun sudah terbaring di lantai.

“Baekhyun Hyung!”
.
.
.
.
.
.

Tbc

Semoga suka dengan cerita abal2 ini.
Terimakasih sudah baca. Sorry banyak typo.

See you next

Iklan

2 pemikiran pada “Complicated Love (Chapter 4)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s