Complicated Love-(Chapter 5)

PicsArt_07-10-07.54.51

Byun Baekhyun/Oh Sehun/Byun Jisun/Jang Minji

Romance/Sad/Angst

Chapter

“사랑합니다 , 변 지순. 내 앞에서 제발”

“I Love You, Byun Jisun. Beside me, please”

Preview :  (Chapter 4)

 

*

Cuaca hari ini sangat cerah. Anak-anak terlihat senang bermain meskipun dibawah terik matahari. Pria berumur sepuluh tahun memperhatikan dari jauh. Dia duduk di halaman sebuah panti asuhan dengan wajah masam.
Pandangannya beralih pada anak lainnya yang sedang mengerumuni kardus berisi mainan.

Hari ini kedua orang tuanya mengajak berdonasi ke tempat itu. Si kecil Baekhyun, ia terpaksa ikut karena bosan terus diam di rumah. Lagipula ia tak pernah bepergian bersama orang tuanya. Sudah menjadi tradisi keluarganya untuk saling berbagi.
Hapir setiap tahun ayah dan inunya membantu anak-anak malang di panti asuhan.

“Baekhyun-ah!. Kemarilah nak!”

Suara ibunya terdengar memanggil, tapi pria kecil itu tak menanggapi. Baekhyun malah berlari, menghampiri gadis kecil yang sedang asik bermain dengan boneka.

“Hey ini milikku. Jangan ambil!”.
Kata Baekhyun kecil, ia langsung merebut boneka beruang itu.

Si gadis mungil langsung lari dan bersembunyi di balik pintu. Ia takut saat Baekhyun membentaknya.

Baekhyun yang kesal menghampiri ibunya, mengatakan jika bonekanya dicuri.

“Sayang, kau kan punya banyak mainan. Berikan ini untuk gadis itu”. Perintah sang ibu, menunjuk gadis kecil yang sedang mengintip di balik pintu.

“Tapi boneka ini hadiah ulang tahun dari eomma”. Tutur Baekhyun, memeluk erat boneka kesanyangannya.

“Eomma akan belikan yang baru. Baekhyun kan anak baik. Berikan ini padanya”

Baekhyun menghela nafas, ia tak boleh melawan perintah sang ibu.
Pria itu menghampiri gadis kecil yang masih bersembunyi dibalik pintu dan memberikan bonekannya.

“Ini”

Gadis berkpang dua itu menerimanya dengan malu-malu. Ia langsung pergi tanpa mengucapkan sepatah kata.
Baekhyun mengikutinya sampai ke sebuah taman.
Gadis tadi bermain seorang diri. Berbeda dengan anak-anak lainnya.

“Hey, boneka itu bisa bernyanyi lo”.
Kata Baekhyun.

Ia menghampiri si gadis dan menunjukan cara bagaimana boneka beruang kesukaannya bisa mengeluarkan suara.

Ditekannya perut si boneka, alhasil sebuah lagu anak-anak terputar.

“Waah, hebat”

Gadis kecil itu melompat kegirangan. Terlihat sangat senang.
Entah kenapa Baekhyun ikut senang melihatnya.
Ternyata gadis dihadapannya sangat menggemaskan. Dan tentu lebih cantik daripada teman-teman disekolahnya.

“Siapa namamu?”. Tanya Baekhyun, ia jadi ingin berkenalan.

“Ji…..sun”

Baekhyun kembali pada ibunya, menanyakan siapa itu gadis bernama Jisun. Dan ia mendapat cerita menyedihkan.
Jisun adalah korban kecelakaan yang kehilangan seluruh keluarga. Gadis itu tak ada yang mengurus sampai dititipkan ke panti asuhan.
Baekhyun jadi kasihan, ia ingin berteman dengan Jisun.
Ia meminta pada sang ibu untuk sering membawanya berkunjung.
Dan benar saja, semenjak saat itu Baekhyun lebih sering ke panti asuhan. Hampir satu minggu sekali ia main bersama Jisun. Mereka semakin akrab, sampai kadang tidak mau berpisah.

“Baekhyun Oppa, ini bunga!”

Jisun memberikan bunga yang tadi ia kumpulkan saat di taman. Baekhyun dengan senang hati menerimanya.

“Aku ingin punya pacar kalau sudah besar. Aku ingin pacar seperti Oppa. Baekhyun Oppa tampan”.
Kata Jisun dengan tingkah imutnya.

“Tak ada pria seperti aku. Kau tak akan menemukannya”

“Kalau begitu Oppa akan jadi pacarku”. Tegas Jisun.

“Benarkah?. Apa kita akan menikah?”

“Menikah?. Tidak, aku mau jadi pacar Oppa saja”. Jawab Jisun, bocah itu masih belum tau arti ‘menikah’.

Baekhyun tertawa melihat betapa polosnya Jisun.

“Oppa, Kau tidak boleh meninggalkan aku!”

“iya”

“Janji?”

“Aku janji tak akan meninggalkanmu, Jisun-ah. Kau juga harus janji”

“Eum… Janji!”

.
.
.
.

Baekhyun membuka kedua matanya. Bau obat langsung menyengat hidung. Dan langit-langit berwarna putih, dinding juga serba putih. Seperti….?

“Tidak!”

Pria itu langsung terduduk. Matanya menatap sekeliling.

“Ah syukurlah”. Lega Baekhyun setelah tau ternyata tempat itu ruang kesehatan, bukan rumah sakit.

Dirinya dikejutkan dengan Jisun yang tiba-tiba ada disamping tubuhnya.

“Jisun-ah?”

Jisun menyeka air mata yang terus mengalir dipipinya. Tangisnya semakin pecah setelah melihat wajah pucat Baekhyun. Ia merasa bersalah karena egois. Tak seharusnya Jisun mengabaikan kakaknya.
Dan seperti inilah akibatnya.
Jisun tak tau kenapa Baekhyun sangat lemah belakangan ini.

“hei… Kenapa menangis?”. Tanya Baekhyun.

Adiknya terlihat sangat sedih.
Ia berharap Jisun tak tau penyebab dirinya tak sadarkan diri.

“Aku takut, Oppa tiba-tiba pingsan”

“Aku tak appa. Hanya kelelahan”

“Bohong. Kau sering pingsan belakangan ini. Sebenarnya kau kenapa?. Ayo ke rumah sakit!”.

Baekhyun terkekeh, adiknya terlihat sangat khawatir padanya.

“Percayalah!. Aku baik-baik saja, Byun Jisun. Untuk apa ke rumah sakit?”

Jisun terdiam, ia sebenarnya sangat takut. Penjaga ruang kesehatan memeriksa tadi, katanya nafas Baekhyun sangat lemah. Ini bukan satu atau dua kali terjadi.

“Ayo pulang!”. Ajak Baekhyun, namun Jisun tetap diam.

“Baiklah… Aku mengalah. Kau boleh bersama Sehun. Sana temani dia bekerja. Aku akan pulang sendiri”

Baekhyun menyibak selimut yang menutupi tubuhnya. Ia takkan memaksa Jisun untuk pulang bersamanya.
Pria itu turun dari ranjang, padahal tubuhnya masih lemas.

Jisun akhirnya memilih keputusannya. Ia takkan meninggalkan kakaknya seperti tadi. Masih terbayang bagaimana kondisi Baekhyun saat tak sadarkan diri. Sungguh membuatnya takut.

“Aku mau pulang saja”. Kata Jisun, menggenggam erat tangan sang kakak.

Mendengar itu, hati Baekhyun berteriak senang. Ia sudah menduga adiknya tak akan tega membiarkannya sendirian setelah pingsan.

“Benarkah?. Bukannya kau sedang marah padaku?”. Goda Baekhyun, ia menahan senyumnya saat Jisun terlihat kikuk.

“T-tidak. Aku tidak marah”

“Bohong. Kau bahkan lebih memilih pulang bersama Sehun daripada aku”

“Oppa, sudahlah. Jangan bahasitu”. Aku ingin kita pulang sekarang, kau harus istirahat dirumah”.

“Baiklah, astaga kau sangat cerewet”
.
.
.
.

Dokter barusaja memeriksa kondisi Baekhyun. Jisun sangat keras kepala, menyuruhnya untuk check up.
Baekhyun menolak untuk datang kerumah sakit, pria itu lebih memilih memanggil dokter pribadi ke rumah.

“Baekhyun-ah, kau harus melakukan x-ray. Aku harus melihat bagaimana kondisi jantungmu”. Kata pria yang sudah melayani kesehatannya sejak kecil.
Mereka cukup dekat karena dokter itu merupakan sepupu ibu Baekhyun.

“Hyung, apa menurutmu penyakitku akan semakin parah?. Bukankah kau bilang aku sudah sembuh?”. Tanya Baekhyun dengan tatapan nanar.
Ia kecewa karena ucapan dokter tak terbukti benar.

“Ya, kau memang sempat sembuh. Tapi tidak sepenuhnya. Baek, banyak kasus lemah jantung seperti ini. Penderita harus melakukan transparansi jantung jika ingin 100% membaik”

Baekhyun mengusap wajahnya. Masalahnya semakin rumit. Ia tak ingin orang lain tau dirinya sakit parah. Terutama kedua orang tuanya dan juga Jisun. Baekhyun tak mau mereka bersedih.

“Apa harus kulakukan?”. Tanya Baekhyun dengan nada frustasi.

“Kau harus mempertimbangkannya dengan keluargamu”

Jika itu jawabannya maka Baekhyun akan bingung. Ia yakin bisa sembuh jika rajin berobat. Tak perlu operasi.

“Baiklah. Hyung, jangan ceritakan ini pada siapapun. Terutama adikku. Mungkin lamban laun eomma dan appa akan tau. Tapi Jisun, aku tak ingin dia mendengar aku sakit”. Pinta Baekhyun, menangkupkan kedua tangannya di depan wajah si dokter.

“Baiklah, Byun Baekhyun. Astaga, sebegitu sayangnya kau pada gadis itu”

“Terimakasih, Haechul Hyung!”

Dokter pribadi Baekhyun pamit pulang. Dan setelah pria bernama Haechul itu keluar, Jisun menghampiri Baekhyun.

“Cih… Kenapa aku tak boleh masuk?. Aku kan ingin tau penjelasan dokter. Kau sakit apa, oppa?. Tanya Jisun.

Ia sejak tadi berdiri di depan kamar kakaknya, menunggu sampai dokter selesai memeriksa.

“Dia bilang aku kelelahan. Tensi darahku naik karena seeing emosi. Makannya, jangan membuatku kesal, Byun Jisun!”.
Tutur Baekhyun.

Yang mendengar menyipitkan matanya karena tak percaya.

“Kau bohong kan, Oppa?”

“Aku serius”. Tegas Baekhyun.

“Itu kan penyakit orang tua. Astaga kau darah tinggi?”

Baekhyun terkekeh, Jisun masih saja polos. Gadis itu selalu percaya dengan perkataannya.

” Temani aku malam ini. Kau harus menjagaku”. Perintah Baekhyun.

Mulai lagi, Baekhyun selalu manja saat sedang sakit. Tidak hanya dengannya, saat ibunya di rumah pun pria itu akan bertingkah seperti bocah kecil.

“Baiklah. Cepat tidur”

Baekhyun langsung memejamkan matanya. Digenggamnya tangan Jisun agar tidak pergi.
Senang rasanya melihat Jisun khawatir. Entah Baekhyun harus bersyukur atau tidak dengan kondisinya.
.
.
.
.
.
Sehun terus melihat ponselnya. Sejak siang tadi Jisun belum mengabarinya. Mengirim pesan singkat juga tidak.
Pria itu tak sempat menemani di ruang kesehatan tadi. Jam kerjanya lebih maju, ia tak punya waktu bersama Jisun.

Sehun ingin tau kondisi Baekhyun. Ia khawatir terjadi hal buruk pada kakak kekasihnya. Buktinya ponsel Jisun tak aktif. Entah gadisnya sedang melakukan apa.

“Oh, selamat datang”

Seseorang masuk mini market. Sehun menyimpan ponselnya karena tak sopan mengabaikan pembeli.
Setelah beberapa menit memilih belanjaan, si pembeli menuju kasir.

Sehun scan harga barang sementara seseorang dihadapannya memperhatikan wajahnya.

“Sepertinya kita satu kampus?”

Sehun menoleh, dan tersenyum.

“Benarkah. Aku mahasiswa Seoul Univercity”. Kata Sehun.

“Ah benar kan? . Kita satu kampus dan hei….. Aku melihatmu malam itu. Benar tidak ya?. Eummm juga Byun Jisun, minggu malam kau bersamanya di depan Dal.kom Coffe. Betul? ”

Sehun mengerjap karena ucapan gadis dihadapanya benar.

“Iya”

Gadis dihadapan Sehun mengulurkan tangan. Ia tertarik untuk mengenal Sehun. Siapa tau dirinya bisa dapat informasi tentang Jisun maupun Baekhyun.

“Aku Jang Minji!. Bisakah kita berteman?”

Sehun akhirnya membalas uluran tangan Minji setelah menatapnya cukup lama.
Ia hanya menghormati teman satu universitas. Akan tidak sopan jika dirinya mengabaikan gadis itu.

“Namaku Oh Sehun”

Minji mengangguk mengerti. Padahal kegiatan membayarnya sudah selesai. Gadis itu tidak juga pergi, masih betah berdiri dihadapan Sehun.

“Kau dekat dengan Byun Jisun kan?. Apa kau juga dekat kakaknya?”

“Kami tidak terlalu dekat. Tapi aku tau seperti apa Baekhyun hyung”

Mata Minji langsung berbinar. Gadis itu tersenyum lebar.

“Senang bertemu denganmu, Sehun-ssi. Kita harus mengobrol saat bertemu lagi”
.
.
.
.

Malam sudah berganti pagi. Langit gelap kini mulai terang, dan sinar mentari mulai menyelimuti bumi.
Baekhyun membuka matanya. Netranya langsung disuguhi pemandangan indah, yaitu wajah Jisun.
Adiknya menuruti perintahnya untuk tinggal.
Jemari lentiknya menelusuri mata,hidung,serta bibir adiknya.

“Cantik”. Lirih Baekhyun.

Pria itu menelan ludahnya saat merasakan betapa lembutnya bibir mungil Jisun.

Benda kenyal itu, Baekhyun sangat ingin mengecupnya. Persetan dengan statusnya saat ini.

Wajahnya maju, tanpa ragu menempelkan bibirnya. Baekhyun. mencium Jisun. Dinding dan ruangan remang itu menjadi saksi.
Hanya sekali kecupan, sangat singkat.

Nasib baik, Jisun tak terusik sama sekali. Gadis itu tetap terlelap dengan damai.

“Bagaimana ini?. Aku semakin mencintaimu, Jisun-ah”. Lirihnya lagi.

Waktu Baekhyun gunakan untuk terus memandangi wajah Jisun.
Semalam adikknya tidur dalam posisi terduduk. Karena tidak tega, Baekhyun merebahkan adiknya di ranjang.
Ia meluknya serta menciumi aroma tubuh gadis itu.
Gila, ya Baekhyun memang sudah gila.

Setelah sekiranya dua puluh menit. Jisun mulai bergerak. Mata besarnya mulai terbuka.

“Oppa?”. Katanya sedikit tidak jelas.

Kesadaran Jisun belum sepenuhnya terkumpul.

“Eoh. Selamat pagi, Jisun-ah”

“Eum, selamat pa-”

Mata Jisun sudah terbuka lebar, dan ia terpaku melihat Baekhyun ada dihadapannya. Waktu seperti terhenti saat itu. Setelah sadar Jisun langsung terduduk dan turun dari ranjang. Ia tak tau kenapa bisa tidur disamping Baekhyun.

“Kau seperti melihat hantu, Jisun-ah”.
Kata Baekhyun, terkekeh mendapati ekspresi kaget di wajah adiknya.

“Bagaimana bisa aku-”

“Aku ingin buat sarapan. Jisun-ah, terimakasih sudah menjagaku. Akan kubuatkan makanan untukmu. Mandi dan bersiaplah untuk kuliah hari ini”.
Kata Baekhyun, pria itu beranjak dan berjalan keluar dari kamar.

Jisun masih mencerna keadaan. Ia sangat terkejut saat melihat wajah Baekhyun dalam jarak tiga cm.

“A-apa ini? ”

Gadis itu menyentuh dadanya. Jantungnya berdetak kencang saat mengingat lekuk wajah kakaknya.

Jisun menggeleng, mungkin dirinya terlalu kaget.
Ia mengabaikannya dan memilih jmkeluar dari ruangan itu.

Seperti yang Baekhyun perintahkan, gadis itu segera mandi. Hari ini adalah jadwal terakhir sebelum libur satu hari. Jisun harus semangat, lagipula ke kampus adalah alasannya bisa bertemu sang kekasih. Oh ya, mengingat itu Jisun sedikit merasa bersalah. Semalam ia tak sempat mengabari Sehun.
Dirinya terlalu sibuk menghawatirkan Baekhyun.

Setelah selesai mandi dan bersiap, Jisun menuju ruang makan. Tercium bau masakan. Jisun tak yakin kakaknya yang sedang memasak.

“Jisun-ah?. Kemari!. Aku membuat omlet untukmu”

Sebenarnya Baekhyun tak begitu pandai memasak. Pria itu hanya bisa membuat makanan dengan bahan-bahan racik instan. Seperti omlet itu.

“Ya, terimakasih Oppa!”

Jisun duduk di kursi makan dan menunggu kakaknya selesai menyajikan makanan untuknya.
Baekhyun meletakan sepiring omlet.

“Hanya satu?”. Tanya Jisun.

“Eoh. Cepat makan!. Kau harus menghabiskannya”

Jisun mengangguk dan langsung melahapnya. Gadis itu tersenyum karena Baekhyun sukses memasak.
Padahal terakhir kali kakaknya menghancurkan dapur.

“Bagaimana?. Aku pintar memasak bukan?”

“Cih…. Siapa saja pintar membuat ini. Jangan terlalu bangga, Oppa!”

Baekhyun tertawa, mengacak poni Jisun. Ia senang adiknya menikmati masakannya.

Kebetulan Baekhyun tak ada jadwal hari ini. Ia akan menggunakannya untuk bersantai di rumah.

“Jisun-ah!. Langsung pulang setelah kelasmu selesai!”

“Eum”. Jawab Jisun dengan mulut terisi makanan. Untuk saat ini ia akan mengalah. Jisun tak mau Baekhyun sakit lagi.

Gadis itu langsumg berangkat setelah menghabiskan sarapannya. Jisun naik bus paling awal dan hanya sendirian sampai ke tempat tujuan.
Sehun mengabarinya akan telat masuk kelas.
Kerja paruh waktu membuat kekasihnya kelelahan. Sehun mulai sering telat bangun.

Seperti permintaan Baekhyun, gadis itu akan langsung pulang.
Selama jam kuliah berjalan, Jisun sibuk bermain ponsel. Sehun yang baru datang dan duduk disampingnya menegur.

“Berhenti bermain ponsel. Atau kau akan diusir oleh Dosen song”. Bisik Sehun, memberitahu.

“Baiklah, tapi aku sedang mengingatkan Baekhyun Oppa untuk minum obat. Dia tak mau melakukannya sampai aku pulang. Sangat mdnyebalkan bukan?”

Sehun menghela nafasnya. Kekasihmya jadi tak fokus begitu karena Baekhyun.

“Dia masih sakit?”

Jisun tak menoleh sama sekali, masih sibuk berdebat lewat pesan dengan kakaknya.

“Begitulah”. Barulah setelah sekian detik, bibirnya memberi jawaban.

Kadang Sehun bertanya, siapa yang statusnya sebagai ‘pacar’?. Dirinya selalu menjadi nomor dua.

“Jisun-ah, setelah kelas kita selesai temani aku main basket ya?. Jong In mengajakku tadi”

“Maaf Sehun-ah, tidak bisa. Aku sudah janji pada Oppa untuk langsung pulang”

Mendengar itu membuat Sehun menghela nafas. Jika Jisun sudah menolak, ia tak bisa memaksa. Pria itu mencoba mengerti.

“Baiklah”

Jisun kali ini menatap Sehun. Sebenarnya ia juga ingin bersama kekasihnya hari ini.

Tak terasa, kelas sudah berakhir. Semua mahasiswa berhamburan keluar, termasuk Jisun dan juga Sehun. Mereka berpisah di halte bus. Sehun tak mengantar kekasihnya pulang karena harus menemui teman-temannya.

Jisun membutuhkan waktu sekitar duapuluh menit untuk sampai rumah. Gadis itu sudah membawa samgyetang untuk kakaknya. Sewaktu kecil, ibunya sering membuat makanan itu saat ada yang sakit. Katanya, samyetang bisa mengembalikan nafsu makan. Banyak rempah korea yang membuat rasanya jadi sangat nikmat.

“Oppa!”

Setelah menyajikan makanan, Jisun masuk kamar Baekhyun.
Terlihat dari jendela kaknya sedang duduk santai di balkon.

Menyadari langkah kaki, Baekhyun sontak menoleh. Pria itu tersenyum lebar melihat Jisun. Adiknua pulang lebih awal hari ini, benar-benar menepati janji.

Jisun melihat ada album foto dipangkuan kakaknya. Benda itu menyimpan banyak kenangan sejak ia bertemu Baekhyun.

“Eoh?. Itu?”

“Ini album foto kita. Kemarilah!”. Perintah Baekhyun, menarik tangan Jisun untuk duduk disampingnya.

“Oppa, kau tidak bosan terus melihatnya?”

Baekhyun menggeleng, pria itu sangat semangat menceritakan kembali kenangan saat keduanya masih kecil. Jisun sesekali tertawa mengingat kepolosannya.

“Aku kemarin bermimpi, rasanya seperti kembali ke masa lalu”. Kata Baekhyun. Ia ingin bercerita pada Jisun.

“Benarkah?. Mimpi seperti apa? “. Tanya Jisun penasaran. Mata Baekhyun saat ini berbinar, terlihat atunsias.

“Aku mimpi pertemuan pertama kita. Saat kau mengambil boneka beruang kesayanganku”

“Apa?. Hei, dulu aku memungutnya dari kardus. Setahuku semua mainan itu untuk donasi. Mana aku tau jika itu masih milik oppa”

Jisun sedikit tidak terima, Baekhyun seolah mengatainya pencuri.
Jika mengenang masa itu, ia langsung tersipu. Pasalnya dulu Jisun sangat menyukai ketampanan Baekhyun.

“Saat itu aku masih kekanakan. Tapi Jisun-ah, aku malah beruntung setelah itu. Aku bisa mengenalmu dan bisa bersamamu sampai saat ini. Kau melengkapi hidupku. Saat merasa kesepian, aku tidak sedih karena ada dirimu. Tuhan sangat baik”

Jisun tersenyum haru, dipeluknya kakaknya itu. Rasanya ingin menangis karena ia diperlakukan sangat baik oleh seseorang. Jisun senang menjadi orang berharga bagi kakaknya.

“Aku juga oppa. Aku sangat beruntung bisa bertemu keluarga Byun. Aku menyayangi kalian”

Baekhyun memejamkan matanya. Menikmati hangatnya pelukan itu. Otaknya berputar, mengingat perkataan Jisun saat masih kecil. Gadis itu pernah bilang akan mencari pria setampan dirinya. Malah Jisun pernah bilang akan mengencaninya jika tak bertemu pria taman.
Baekhyun sedikit menyesal meminta kedua orang tuanya untuk mengadopsi Jisun. Perasaan cintanya malah jadi terlarang. Ia hanya bisa memiliki Jisun sebagai seorang adik.

“Cih, bahkan Sehun tak lebih tampan dariku”

Jisun mengernyit karena Baekhyun bicara sangat lirih, tak terdengar jelas ditelinganya. Jisun langsung melepas pelukannya.

“Kau bilang apa?”

“ah, bukan apa-apa”

Baekhyun terkekeh, pasti Jisun akan memukulnya jika mendengar. Gadis itu selalu kesal saat ia mengejek Sehun.

“Oppa, ayo makan siang. Aku beli Samgyetang ”

“Kau selalu tau apa yang aku inginkan”

Jisun menunjukan cengiran manisnya. Ia menarik Baekhyun untuk berdiri.

“Ayo!”

“Jisun-ah, suapi aku!. Aku masih lemas”

“Apa?. Ya ampun, manja sskali. Dasar bayi”.

.
.
.
.
Langit mulai gelap, matahari sudah menyembunyikan diri.
Baekhyun melihat jam yang kini sudah lewat angka enam. Tadi Jang Minji menelfonnya, mengingatkan tentang drama musical. Baekhyun hampir lupa sudah janji pada gadis itu.
Tidak salah menyanggupi ajakan Minji. Lagipula ia berhutang budi padanya.

Pria itu keluar kamar dengan setelan rapi. Tak lupa ia memakai mantel karena cuaca diluar pasti dingin.

“Oppa, kau mau kemana?. Bukankah masih sakit? ”

Jisun yang sedang menonton televisi diruang tengah langsung menghampiri.

“Sudah lebih baik, Jisun-ah. Hari ini aku ada janji dengan seseorang”

Wajah Baekhyun memang sudah tidak pucat. Pria itu terlihat segar sekarang. Dan penampilan Baekhyun sekarang super tanpan, membuat Jisun penasaran.

“Oh…. Bersama Jongdae dan Chanyeol sunbae?”

Baekhyun menggeleng, dan itu membuat Jisun bertanya. Pasalnya sang kakak tak pernah keluar dengan yang lain jika bukan dengan Chanyeol, Jongdae, atau dirinya.

“Gadis jurusan seni mengajakku menonton drama musical”

“Eoh?”

Jisun terkejut pada awalnya, namun tak lama ia tersenyum. Baekhyun menaikan sebelah alisnya melihat ekspresi Jisun.

“Kenapa kau tersenyum seperti itu?”

“Syukurlah, akhirnya Oppa mengenal seorang gadis. Apa ini sebuah kencan?. Wah…. Senangnya”

“Tidak Jisun-ah, ini-”

“Fighting!”

Jisun memberi semangat, gadis itu berlalu untuk kembali ruang tengah. Tidak seperti yang dibayangkan, Baekhyun kira Jisun akan menahannya untuk pergi.

“Kenapa kau sesenang itu, Jisun-ah?”

Kakinya melangkah dengan perasaan kecewa. Baiklah, Baekhyun akan senang -senang malam ini tanpa memikirkan Jisun.

Pemuda itu menunggang mobilnya menuju tempat teater. Kang Minji sudah mengirim pesan, mengatakan sudah menunggu disana. Baekhyun menginjak gas hingga spidometernya menunjukan angka paling besar. Masa bodoh jika nanti ia mendapat kecelakaan.

Sedangkan di depan gedung teater, Minji masih sabar menunggu. Ia telah berada disana duapuluh menit yang lalu.
Chanyeol dan Jongdae mengirimnya pesan, memberikan semangat untuk usahanya kali ini. Ia tak menyangka kedua tan Baekhyun itu membantunya melakukan pendekatan.
Menyedihkan juga mendengar Byun Baekhyun tak pernah pacaran.

“Jang Minji-ssi?”

Minji menoleh saat mendengar namanya dipanggil. Senyumnya langsung merekah melihat seseorang yang ia tunggu sudah datang.

“Byun Baekhyun-ssi?. Wah cepat sekali sampai sini. Aku baru menunggumu sepuluh menit” ujar Minji, menunjukan raut kagum. Tanpa ragu, gadis itu menggandeng lengan Baekhyun.

“Em.. Ya, rumahku tak jaih dari sini”

Baekhyun hanya diam, meski menganggap sikap Minji lancang saat ini.
Ia langsung teringat Jisun saat gadis itu menggandenganya.
Bagi Baekhyun, tubuhnya adalah milik sang adik. Tapi kali ini, entah mengapa ia membiarkan Minji melakukan skinsip.

“Ayo masuk!. Sebentar lagi show time”

.
.
.
.
.

Acara menonton drama musical susah berlangsung satu jam. Baekhyun serius memperhatikan pertunjukan itu. Adegan komedi sesekali membuatnya tertawa. Minji tak begitu fokus menonton, ia malah memperhatikan wajah Baekhyun. Pria yang duduk di sampingnya dua kali lipat lebih tampan saat ini. Bibir tipis, hidung lancip dan juga mata Baekhyun membuatnya bagai terhipnotis.
Minji sudah tertarik pada Baekhyun sejak lama. Ia baru berani mendekati Baekhyun setelah kenal dengan Kim Jongdae.

Merasa sedang diperhatikan, Baekhyun sontak menoleh.

“Ada apa?”

Minji menggeleng, ia tersipu karena tertangkap basah memperhatikan Baekhyun.

“Apa pertunjukannya masih lama?”. Tanya Baekhyun, meski baru satu jam tapi rasanya sudah lebih dari dua jam.

“Sepertinya ini baru pertengahan cerita. Dalam tiket durasi drama dua setengah jam”

“Sangat lama. Aku meninggalkan Jisun sendirian”

Lemah, pria itu tetap saja memikirkan Jisun. Padahal tadi ia sudah yakin pada dirinya sendiri untuk tidak memperdulikan adiknya.
Baekhyun melihat jam di pergelangan tangan. Belum terlalu larut, tapi ia tak bisa terlalu lama di tempat itu.
Saat berangkat tadi angin bertiup sangat kencang, sepertinya akan turun hujan.

“Bukankah dia sudah dewasa?. Tak akan terjadi apapun pada adikmu, percayalah”

Baekhyun menghela nafasnya. Benar, seharusnya ia tak memperdulikan adiknya disaat bersama Minji. Cukup bersenang-senang saja.

Waktu bergulir, Baekhyun dan Minji keluar dari ruang pertunjukan. Mereka saling melempar pendapat soal drama.
Minji banyak menyampaikan kritik, jurusan seni membuat gadis itu tau banyak hal.

“Baekhyun-ssi, apa lain kali kau mau menonton lagi bersamaku?”

“Tentu”

Minji sangat senang, ternyata Baekhyun tak sedingin yang ia kira. Pria itu lebih banyak meresponnya sekarang, tak seperti saat pertama kenal.
Keduanya keluar sampai lobi, Baekhyun berhenti melangkah setelah tau diluar sedang hujan lebat. Suara petir begitu jelas.

“Astaga, hujan”

Minji berjalan sampai depan, melihat kondisi luar. Kilatnya sangat menakutkan. Sepertinya akan sangat lama jika menunggu sampai reda.

Apa yang Baekhyun takutkan terjadi. Belakangan ini memang sering hujan lebat dengan kilat dan petir. Jisun sangat takut dengan suara menggelegar itu. Gadis itu biasanya minta ditemani di saat seperti ini.

Barusaja berniat menelfon Jisun, adiknya itu sudah menelfonnya lebih dulu.
Awalnya tak ada suara disebrang sana,
Sampai Jisun bicara sembari terisak.

“Apa?. Byun Jisun kenapa kau pergi keluar?. Tunggu disana!. Aku menyusulmu”

Baekhyun menjadi cemas, ia menghampiri Minji untuk pamit.

“Maaf Minji-ssi, aku harus pulang sekarang”

“Ya?. Baekhyun-ssi tapi kita belum makan-”

“Lain kali saja. Maaf, sebaiknya kau pesan taxi”

Minji menahan Baekhyun sebelum pemuda itu melangkah pergi.

“Ada apa?”. Tanya Minji dengan nada kesalnya. Ia yakin, Baekhyun seperti ini karena Byun Jisun.

“Maaf aku harus menjemput adikku sekarang. Dia sendirian di halte”

Baekhyun menepis tangan Minji. Ia berlari menuju area parkir, mininggalkan Minji yang masih tercengang di depan sana.

“Lagi?. Aishh….”

Keadaan itu tak berbeda dengan yang sebelumnya. Baekhyun pergi meninggalkannya sendiri hanya karena Jisun.

TBC

 

PicsArt_07-06-09.39.50

Iklan

Satu pemikiran pada “Complicated Love-(Chapter 5)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s