Complicated Love-(Chapter 7)

PicsArt_07-10-07.54.51

Byun Baekhyun/Oh Sehun/Byun Jisun/Jang Minji

Romance/Sad/Angst

Chapter

Happy reading….

(ni chapter paling panjang, aku malas bagi 2)

 

*

 

Pergantian semester sudah tiba. Mahasiswa mendapat jatah libur masing-masing. Ini yang seorang Jisun tunggu. Ia tak harus bangun pagi, tidak memikirkan materi dosen, dan bisa bersantai seharian di rumah.
Jisun terus memantau ponselnya, berharap notifikasi pesan muncul. Satu saja, ia akan merasa sangat senang. Sudah satu minggu ini kekasihnya tak memberi kabar. Terakhir bertemu, Sehun bilang akan menggunakan waktu libur untuk bekerja. Jadi tak mungkin Jisun mengajak prianya pergi kencan.

Rasanya tubuh Jisun sudah menjamur karena terus mendekam didalam rumah. Yang ia lakukan hanya streaming film, bermain game dengan Baekhyun, dan kadang menjahili kakaknya.

“Kasihan sekali adikku ini. Diabaikan oleh kekasihnya”

Baekhyun duduk disamping Jisun, menyodorkan semangkuk buah strawberry kepadanya.
Jisun ikut melahap buah kesukaan kakaknya itu, menikmati sensasi manis serta menyegarkan.

“Sehun sudah seperti tulang punggung keluarga. Dia bekerja sangat keras”

“Ya, tapi setidaknya dia tak mengabaikanmu seperti ini. Aneh sekali, apa itu yang namanya cinta?”

“Kau tak tau soal cinta. Oppa tak pernah merasakannya”. Kata Jisun dengan nada mengejek. Ia berkata seperti itu karena kakaknya saja tak pernah pacaran.

“Kata siapa?. Aku lebih tau soal cinta. Dua belas tahun aku mencintai-”

Baekhyun langsung mengatupkan bibirnya, pria itu hampir saja mengatakan soal perasaanya pada Jisun.

“Ya?. Apa ini?. Kenapa diam?”

Jisun terlihat penasaran karena sang kakak tak lanjut bicara.

“Pokoknya jangan meremehkan aku, Byun Jisun”

Baekhyun beranjak namun Jisun menarik tangan pria itu hingga kembali duduk.

“Oppa, selesaikan ucapanmu!. Kau mencintai seseorang?. Siapa?”

Yang ditanya menghela nafas. Ia sangat ceroboh, mulutnya tak bisa dikontrol. Sekarang Jisun malah memaksanya untuk bicara.

“Aku tak mau membuatmu terkejut”. Kata Baekhyun. Pria itu tak berani menatap mata Jisun. Pertahanannya bisa goyah.

“Oppa tak pernah dekat dengan siapapun. Siapa gadis itu?. Jangan-jangan kau menyukainya diam-diam ?. Selama dua belas tahun? Astaga!”

“Ya, kau benar. Aku mencintainya diam-diam. Mungkin aku akan kehilangan dia jika menyatakan perasaanku”

Jisun mengerjap, semakin bingung dengan ucapan Baekhyun. Ia tak tau siapa gadis yang kakaknya maksud. Sungguh ia tak pernah mendapati Baekhyun melirik seorang wanita selama ini. Tak mungkin gadis bernama Jang Minji karena setahu Jisun mereka belum lama bertemu.

Ponsel Jisun tiba-tiba bergetar. Perhatiannya terlaihkan. Ia tersenyum saat melihat nama Sehun pada layar ponselnya. Akhirnya, setelah sekian lama kekasihnya menelfon.

“Hebat, satu menit yang lalu kau cemberut dan sekarang tersenyum sangat lebar”

Baekhyun langsung berlalu setelah mengatakannya. Jisun mengendikan bahunya dan berlari untuk masuk kamar.

.
.
.
.

Sehun memejamkan matanya, ia berusaha mengusir rasa sesak disadanha
Pria itu merasa bersalah karena berbohong pada Jisun. Semenjak Bae Irene kembali, ia tak bisa bebas bepergian. Wanita itu terus memintanya datang untuk bercinta. Ia tak mampu untuk melawan, karena Irene adalah remot kontrol baginya.
Keadaan ekonominya membaik. Ibunya tidak sibuk lagi mencari pekerjaan.
Ini bayarannya setelah menuruti kemauan wanita itu. Meskipun ia harus jadi pria brengsek. Jisun terlalu baik untuk bersamanya. Sehun akan mempertimbangkan hubungan mereka. Tak mungkin ia terus bersembunyi. Sepintar apapun ia menyembunyikan bangkai, pasti akhirnya akan tercium baunya.

Tiba-tiba seseorang memeluknya dari belakang. Sehun tersentak, ia berusaha tersenyum setelah melihat Jisun.

“Cepat sekali?. Kau naik bus?”.

Pria itu membalikan badannya. Ia langsung terpesona dengan penampilan kekasihnya. Entahlah, Jisun semakin manis saja. Mungkin ia terlalu merindukan gadis itu, sehingga perasaannya meletup-letup.

“Oppa mengantarku. Dia mengemudi seperti orang kesetanan”

Sehun mengangguk mengerti. Tak ingin membuang waktu, ia langsung mengajak kekasihnya menuju ke mobil.

“Ini mobil siapa?”. Tanya Jisun setelah melihat audi silver yang terlihat masih sangat baru.

“Tentu saja mobilku”

Yang mendengar langsung terbelalak. Jisun mengerjap karena tidak percaya. Mobil dihadapannya sangat bagus dan pasti sangat mahal. Benarkah milik Sehun?. Apa kekasihnya menjual mobil lama untuk beli yang baru?. Tidak, itu bukanlah sifat Sehun. Setahu dirinya Sehun menjual mobil untuk biaya hidup.

“Kau membelinya sendiri?. Kapan?”

“Apa aku sedang di wawancarai?. Sudahlah, lebih baik kau masuk”

Jisun terpaksa menyimpan rasa penasarannya. Ia masih tidak percaya Sehun bisa beli mobil baru. Padahal keluarga Sehun sedang mengalami masalah ekonomi.

“Sepertinya kau bekerja sangat keras”. Ujar Jisun setelah sudah bersama Sehun di dalam mobil.

“Ya, aku bekerja sangat keras. Maaf baru bisa mengajakmu keluar”

“Tak apa. Yang penting hari ini kita bersenang-senang”

Sehun menjalankan mobilnya, mereka berdua mengobrol selama perjalanan. Jisun yang paling cerewet. Gadis itu bercerita soal Baekhyun yang setiap hari membuatnya kesal. Hampir semua topik pembicaraan keduanya adalah Byub Baekhyun. Sehun hanya terkekeh saat mendengarnya. Ia tau Jisun tak memiliki cerita lain karena kapanpun dan dimanapun yang bersama kekasihnya hanyalah Baekhyun.

Sampai tempat tujuan, Sehun menyuruh Jisun untuk turun. Mereka berada didepan restauran mewah saat ini. Terlihat dari lampu mewah juga desain bangunan yang sangat apik.

“Sehun-ah, kau serius?”

Jisun menatap tak percaya karena Sehun mengajaknya ke tempat itu.

“Ayo masuk!”

Sehun menggandeng tangan Jisun, membawa gadisnya kedalam.
Setelah mendapatkan tempat duduk, keduanya memilih menu.
Jisun melongo karena mendapati hampir semua harga makanan tergolong mahal.

“Sudah memilih?”. Tanya Sehun karena sejak tadi kekasihnya hanya membolak-balik buku menu.

Jisun menunjukan cengiran. Padahal Sehun sudah memesan sesuatu, namun ia masih belum menentukannya.
Ayolah, mana yang paling murah. Jisun tak ingin merepotkan Sehun.
Akhirnya di lembar terakhir, satu makanan bisa membuatnya menghela nafas lega.

“Spageti saja”. Kata Jisun pada pelayan yang sudah bosan menunggu.

“Apa?. Kenapa tidak pesan steak?. Kita makan di temoat semewah ini tapi kau pesan itu”

“Tidak apa. Aku-”

“Samakan saja pesanannya denganku”

Jisun mengatupkan bibirnya saat Sehun mengubah pesanannya. Pelayan sudah berlalu, padahal Jisun ingin protes.

“Ya!. Harganya bukan main. Kenapa kau mengajakku makan di tempat semewah ini?”. Tanya Jisun dengan suara lirih.

“Memang kenapa?. Aku janji akan mentraktirmu makan enak”

“Tapi kan kau harus menabung”

Sehun menggenggam tangan Jisun. Menatap gadisnya dengan mata berbinar.

“Sudah selesai”. Katanya lalu tersenyum.

Jisun mengangkat sebelah alisnya karena tidak faham.

“Apanya?”

“Hutang keluarga kami sudah lunas, seseorang membayarnya. Jisun-ah, aku tak harus kerja paruh waktu lagi. Seseorang akan merekrut ayahku kembali ke perusahaan. Dia akan membebaskan ayahku dari penjara”

Jisun sampai membuka mulutnya. Ia kembali dibuat tak percaya. Inikah alasan Sehun punya mobil baru?.
Tapi syukurlah, seharusnya ia ikut bahagia. Ia tak harus melihat Sehun kerja paruh waktu.

“Syukurlah, aku ikut senang. Akhirnya Tuhan mengirimkan seseorang untuk membantu kalian”

Sehun menunjukan senyum palsu. Ia hampir menangis, namun bukan karena bahagia. Sehun sedih mengingat fakta yang sebenarnya. Bisakah Sehun mengatakan Bae Irene seorang penolong?. Tidak!. Wanita itu hanyalah psikopat yang membayarnya setelah ia merelakan tubuhnya.

“Jisun-ah, setelah makan ayo pergi kencan”
.
.
.
.
.

Baekhyun tak langsung pulang setelah mengantar Jisun. Pemuda itu menemui Minji di Hongdae street. Dengan alasan sedang ulang tahun, gadis yang mulai dekat dengannya itu memaksanya datang. Sebenarnya Baekhyun juga tak keberatan. Pria itu sedang bosan di rumah. Jika sendirian, ia akan mengingat Jisun yang sedang pergi bersama Sehun. Otaknya selalu memikirkan hal yang tidak-tidak. Dan ujungnya Baekhyun akan kesal sendiri.
Lebih baik ia menyanggupi permintaan Jang Minji.

Baekhyun tak lupa membeli kado. Pemuda itu membeli sepasang anting cantik di toko yang biasa Jisun datangi.
Baekhyun sering menemani adiknya membeli anting. Ia tau mana yang disukai kebanyakan wanita.

Setelah sampai Hongdae, Baekhyun mencari keberadaan Minji.

“Baekhyun-ah!”

Baekhyun melihat Minji sedang melambai padanya. Ia berjalan mendekati gadis itu.

“Lama menunggu?”

“Eum. Aku sampai bosan”

Baekhyun minta maaf karena lama datang. Pemuda itu langsung memberi bingkisan kado yang tadi dibelinya.

“Hadiah ulang tahun”. Katanya dengan senyum tipis.

Minji terlihat sangat senang. Ia langsung membuka kado dari Baekhyun.

“Wah… Cantik sekali”. Kagum Minji setelah melihat anting silver dengan desain unik.

“Aku sudah menduga kau akan menyukainya”

Baekhyun lega, ternyata kesukaan Minji tak jauh berbeda dengan adiknya. Pria itu membeli anting yang sama dengan milik Jisun.

“Terimakasih, Baekhyun-ah”

Mereka sudah cukup akrab. Hampir setiap hari keduanya bertukar pesan. Minji sudah mulai memanggil Baekhyun dengan banmal. Keduanya juga sering keluar bersama, meski Minji yang selalu mengajak. Selalu ada alasan untuk pergi berdua dengan Baekhyun.

“Jang Minji, apa yang kita lakukan di Hongdae?. Tempat ini sangat padat pengunjung. Aku kurang suka”. Kata Baekhyun dengan jujur.
Peria itu malas harus bersesak-desakan di keramaian. Nafasnya bisa saja sesak jika berada dalam kerumunan.

“Ayo jalan!. Aku akan mentraktirmu malam ini.

Minji menyimpan hadiahnya dalam tas, gadis itu menggandeng lengan Baekhyun. Dua orang itu mulai berjalan, sesekali berhenti saat melihat toko aksesoris pinggir jalan.
Minji sangat lincah, gadis itu kesana-kemari membuat Baekhyun pusing.
Sampai akhirnya keduanya berhenti dikedai makan.

“Ayo makan samgyeopsal!. Kita juga harus pesan sup kerang. Kedai ini langganan keluargaku. Masakannya sangat enak. Kau akan menyukainya”

Baekhyun menatap tidak yakin pada kedai yang didalamnya hampir penuh pengunjung.

“Kita cari tempat lain saja”. Protes Baekhyun yang tak mau makan ditempat itu.

“Kenapa?. Tempat ini yang terbaik. Ayo!”

Baekhyun tak sempat menolak lagi karena Minji menariknya masuk.
Gadis itu memaksanya duduk lalu pergi untuk memesan.

.
.
.
.

Sehun menatap kesal pada kekasihnya yang ngotot ingin jalan-jalan ke Hongdae. Padahal tadinya Sehun berniat mengajak Jisun ke tempat romantis. Tapi tak apa, ia menurut saja daripada Jisun kecewa.

“Apa yang ingin kau lakukan di Hongdae?. Ini sudah memasuki jam sembilan, pasti sangat ramai”. Tanya Sehun.

“Justru itu. Hongdae tempat menyenangkan. Kita lakukan kencan seperti pasangan remaja. Menikmati makanan pinggir jalan, menari bersama penyanyi jalanan, membeli pernak-pernik dan ahh….. masih banyak lagi”

Jisun terlihat sangat bersemangat. Sehun tertawa dan mengacak poni gadisnya.

“Baiklah, nona Byun. Kita akan melakukan semua yang kau mau”

Sehun semakin mempercepat laju mobilnya. Jarak Hongdae sudah lumayan dekat. Setelah sampai, ia mencari tempat parkir.
Jisun turun lebih dulu, kekasihnya langsung berlari menuju truk makanan.
Sehun menyusul setelah mengunci mobilnya.

“Sehun-ah, kau mau odeng?”

Yang ditanya menggeleng, Jisun mengerucutkan bibirnya karena makan seorang diri. Sangking enaknya, gadis itu habis banyak. Sehun menggeleng melihat kekasihnya lahap mengkonsumsi jajanan berbahan dasar ikan itu. Meski tubuh Jisun kecil, tapi porsi makannya cukup besar. Siapapun akan terkejut saat melihat Jisun banyak makan.

Keduanya lanjut jalan menelusuri Hongdae street yang terdapat banyak sekali toko pernak-pernik. Sehun mengajak Jisun untuk membeli gelang cople. Mereka juga akan mengukir nama pada gelang itu.

“Oh Sehun & Byun Jisun?. Keren bukan?”. Tanya Jisun dengan mata berbinar.

Sehun melakukan hal yang sama. Namun tiba-tiba terselubung perasaan sedih dalam batinnya. Pria itu merasa tidak berhak mengukir nama itu. Ia adalah seorang penghianat yang mungkin tak bisa terus bersama Jisun.

“Selesai!”

Terlalu sibuk melamun, Sehun sampai tak sadar penjual sudah selesai mengukir nama.

“E-eoh, terimakasih”

Sehun menarik Jisun pergi setelah membayar. Pria itu menggenggam tangan gadisnya lumayan erat, tak ingin sang kekasih terpisah darinya. Banyak sekali pejalan kaki, jika lengah mungkin Jisun bisa terpisah darinya.

Mereka melewati deretan kedai makan, dan saat itu juga Minji bersama Baekhyun keluar dari salah satunya.

“Sehun-ah, bukankah itu Baekhyun Oppa?”. Tanya Jisun sembari menunjuk kearah dua pasangan.

“Sepertinya benar”

Jisun dan Sehun menghampiri karena penasan. Penglihatannya tidak salah, memang benar dua pasangan itu adalah kakaknya serta Jang Minji.

“Oppa!”

Baekhyun yang sedang berjalan langsung berhenti setelah merasa dipanggil. Ia hafal pemilik suara yang barusaja menyerukan namanya. Benar saja, kedua matanya hampir keluar setelah melihat Jisun.

“Oh Sehun?”. Pekik Minji, terlihat senang melihat pria yang baru dikenalnya itu.
Pandangannya beralih pada Minji, entah kenapa perasaannya langsung tidak lega.

“Apa yang kalian lakukan di tempat ini?”. Tanya Baekhyun, masih menatap Jisun dengan raut kaget.

“Tentu saja kencan. Wah… Oppa, kau bohong. Katanya mau langsung pulang setelah mengantarku. Ternyata-”

“Ya, aku juga punya urusan. Ah, kenapa harus bertemu kalian disini sih?”

Baekhyun menarik Minji namun langkahnya ditahan.

“Hey, bagaimana kalau kalian bergabung dengan kami?”

.
.
.
.

Empat orang sibuk dengan pasangannya masing-masing. Mereka terlihat senang, kecuali Baekhyun. Pria itu menunjukan raut masam sejak tadi. Sehun menyadarinya, ia ingin menolak ajakan Minji tadi tapi Jisun malah langsung setuju.

“Sehun-ah!”

Jisun menghampiri kekasihnya, memberikan ice cream rasa coklat.
Baekhyun yang melihat itu sangatlah iri. Rasa kesalnya semakin bertambah, ia ingin menarik adiknya pulang saat ini juga.

“Baekhyun-ah, kau mau ice cream?”

Minji yang menyadari hal itu mencoba menawari. Baekhyun menanggapinya dengan gelengan.

“Kau hanya diam sejak tadi. Apa karena bosan?”

Jisun menoleh pada Baekhyun. Ia menahan senyumnya melihat Baekhyun bersama seorang gadis sekarang. Ini sejarah baru, kakaknya akan segera punya pacar. Atau malah mereka sudah bersama, Jisun belum tau karena Baekhyun tak pernah cerita perihal asmara.

“Hey, ayo ke photo box!”

Jisun menarik Sehun pergi, Baekhyun langsung mengikuti keduanya. Ia tak mau melewatkan hal kecil yang mungkin bisa terjadi. Ya, pria itu sekaligus ingin mengawasi Oh sehun.

Akhirnya mereka berempat melakukan foto box. Baekhyun yang tadinya berdiri di belakang Jisun langsung menengahi. Minji mengerucutkan bibirnya karena berdiri seorang diri.
Sehun mengalah, ia mundur dan akhirnya bersampingan dengan Minji.

Setalah selesai berfoto, mereka mengedit serta mencetaknya. Masing-masing dapat satu lembar.

“Oppa!. Kenapa kau edit wajahku sejelek ini?. Kesal Jisun pada kakaknya.

Baekhyun tertawa puas karena dalam gambar, Jisun terlihat lebih mirip seekor macan.

“Aish… Ayo foto lagi!”

“Ya! Ya!. Jangan membuang uang hanya untuk berfoto. Sudahlah, hasilnya sudah sangat bagus kok”. Kata Baekhyun, sedetik kemudian ia menjukurkan lidahnya pada sang adik. Pria itu lari saat Jisun hendak memukulnya. Alhasil terjadi aksi kejar-kejaran, mereka mengabaikan dua orang yang sejak tadi hanya membisu.

“Aku merasa mereka berdua yang sedang kencan”. Ujar Minji. Sejak tadi perhatian Baekhyun teralih pada Jisun.

“Benar kan apa kataku?. Baekhyun Hyung akan lebih mementingkan Jisun daripada kau”

Minji langsung menatap Sehun dengan kesal. Setiap bertemu selalu saja membandingkan dirinya sengan Jisun.

“Lebih tepatnya kekasihmu itu pengacau”

Sekarang Sehun yang menatap Minji dengan kesal. Ia tak terima saat Jisun dikatai pengacau.

“Jang Minji-ssi, jangan sembarangan bicara!. Jangan mengatai kekasihku seperti itu!”

Minji mengendikan bahunya dan berjalan menghampiri Baekhyun dan Jisun yang sedang saling pukul didepan sana. Sehun mengunpati Minji dalam hatinya. Gadis itu selalu bicara seenaknya. Padahal Minji tak mengenal seperti apa Jisun. Bagi Sehun, kekasihnya terlalu baik untuk dikatai pengacau.

Malam sudah semakin larut. Mereka semua sudah lelah karena sejak tadi terus berjalan. Sebelum pulang, Baekhyun mampir ke toilet. Ia merasa nafasnya sedikit sesak. Pria itu lupa belum mengkonsumsi obat. Baekhyun harus segera melakukannya sebelum rasa sakit di dada kirinya semakin menjadi.
Toilet adalah tempat yang aman. Baekhyun tak ingin yang lain melihat.

Setelah menelan beberapa butir obat, ia memasukannya kembali ke dalan saku. Namun sepertinya tempat obat berbentuk silinder itu tak masuk ke lubang kantongnya. Benda itu jatuh menggelinding, dan berhenti di depan kaki seseorang.

Baekhyun berniat mengambilnya namun lebih dulu dibuat terkejut. Yang berdiri dihadapannya saat ini adalah Oh Sehun. Kekasih adikknya itu memungutnya.

“Hyung, ini milikmu?”

Rasanya Baekhyun ingin berbohong. Tapi sepertinya Sehun sudah berdiri disana sejak tadi.

“Eoh”

Sehun sempat melihat tulisan disana. Sebagai mahasiswa jurusan kesokteran, ia tentu tau obat jenis apa itu.

“Kau sakit jantung?”. Tanya Sehun, terlihat cemas. Ia sangat tau kalau obat itu hanya dikonsumsi oleh penderita masalah jantung yang sangat serius.

Baekhyun memejamkan matanya. Sial, entah ia harus jujur atau tidak. Ia tak mau adiknya sampai tau.

“Oh Sehun!. Jika kau menyayangi Jisun, jangan beritahu dia soal penyakitku”

“Apa?. Kenapa, Hyung. Ini bukan masalah kecil. Kau-”

“Aku mohon jangan beritahu siapapun soal ini. Hanya kau yang tau. Jangan sampai Jisun mendengar aku sakit. Aku tak mau dia sedih”

Baekhyun langsung berlalu. Ia harap Sehun mengerti dengan ucapannya.
Tak ada yang boleh tau jika ia sebenarnya sangat menderita. Susah payah Baekhyun memasang topeng bahagia saat didepan Jisun. Padahal sesungguhnya, ia selalu kesakitan sampai rasanya mau mati.

Sehun berjalan dibelakang Baekhyun. Ia menatap kasihan punggung kakak Jisun itu. Ia jadi mengerti kenapa Baekhyun sering tiba-tiba pingsan.
Sungguh malang kekasihnya karena tidak tau hal ini.
Berarti Sehun dan Baekhyun sama-sama menyimpan sebuah rahasia. Ia yakin Jisun akan sangat kecewa jika tau satu persatu.

“Sudah?. Ayo pulang”.

Setelah keduanya kembali, Minji langsung mengajak Baekhyun pulang.
Mereka sama-sama menuju ke mobil. Perhatian Baekhyun terlihkan pada Jisun yang sejak tadi terlihat tidak nyaman.
Adiknya terus menggaruk bagian leher serta tangan.

“Jisun-ah, kau kenapa?”

Sehun juga sejak tadi memperhatikan Jisun. Namun ia menggapinya biasa saja.
Barulah ia terkejut setelah melihat bintik merah memenuhi bagian leher Jisun.

“Ya!. Alergimu kambuh!. Apa yang terakhir kau makan?”

Jisun ragu untuk menjawab. Matanya melihat bungkus biskuit yang Minji pegang.

Baekhyun mengikuti arah pandang adiknya. Ia terkejut melihat makanan yang sepertinya mengandung kacang.

“Kau makan ini?”

Baekhyun merebut bungkus biskuit dari tangan Minji. Dan benar saja dalam makanan itu tertulis komposisi kacang.

“Kau bodoh atau apa Byun Jisun?. Ini mengandung kacang”. Kata Baekhyun, ia menatap si pemilik makanan dengan tajam.

“Jisun baik-baik saja tadi. Kenapa bisa-“. Kata Minji.

“Dia alergi kacang. Seharusnya kau tak memberinya!”. Tanpa sadar Baekhyun membentak Minji.

“Ya!. Jangan berlebihan, Oppa. Ini hanya gatal biasa”. Protes Jisun, ia mengentakan tangan Baekhyun yang berusaha menariknya pergi.
Namun sang kakak tak tinggal diam, ia tetap menarik adikknya untuk pergi.

“Tidak, ini alergi. Ayo ke dokter!”

Jisun menatap Sehun, namun kekasihnya itu malah diam. Sedangkan Minji, ia masih terdiam karena bantakan Baekhyun tadi. Ia sungguh tak tau Jisun alergi kacang. Niatnya tadi hanya berbagi biskuit dengan Jisun. Dan padahal Jisun pun memakannya tanpa ragu.

“Sehun-ah, akan kutelfon nanti!”

Baekhyun dan Jisun sudah menjauh.
Tertinggal dua orang disana. Sehun menatap Minji yang sejak tadi diam seoerti patung.

“Kau lihat kan?. Kuharap kau sudah terbiasa dengan keadaan ini, Jang Minji!”

Sehun berjalan meninggalkan Minji. Lagi-lagi gadis itu seperti mengalami de javu, dimana Baekhyun pergi karena Jisun.
Berbeda dengan Sehun, pria itu sudah tak heran lagi. Ia sampai bosan melihat Baekhyun marah-marah.

Minji berjalan menyusul, menyamai langkahnya.

“Maukah kau menemaniku minum?. Oh Sehun?”
.
.
.
Baekhyun dan Jisun sudah sampai rumah setelah mengunjungi dokter. Jisun diberi obat pereda gatal. Alergi itu bisa berlanjut jadi demam tinggi jika tak cepat ditangani.

“Maaf sudah membuatmu cemas”. Ujar Jisun setelah ada dikamarnya. Baekhyun menyuruhnya langsung tidur.

“Kenapa ceroboh sekali?. Lain kali lihat dulu makanan jenis apa yang ingin kau makan”. Omel Baekhyun, adiknya hanya terkekeh.

“Baiklah. Oppa, kau jangan marahi Minji eonni. Dia tak bersalah, aku yang bodoh”

Baekhyun menghela nafasnya dan mengangguk. Ia juga takkan menyalahka Minji.

“Oppa, apa kalian sudah menjalin hubungan?”

“Tidak”

“Kenapa?. Kalian terlihat cocok. Minji eonni sangat baik”

Baekhyun tak ingin mendengar. Ia tak suka tiap kali dicocokan dengan gadis lain. Karena bagi Baekhyun yang cocok bersamanya hanyalah Jisun.

“Sudahlah. Akubinhin ke kamar. Kau!. Jangan tidur terlalu malam. Besok saja menelfon kekasihmu!”

Jisun berdecak, kakaknya tau saja jika ia hendak menelfon Sehun.

“Iya-iya, susah sana pergi!”

Baekhyun berjalan keluar dari kamar Jisun. Otakknya berputar megingat saat di toilet umum. Ia harap Sehun tak bercerita apapun pada Jisun.

*

Malam sudah berganti pagi, seorang pria berbaring dikasur tanpa busana. Tubuhnya tertutup selimut tebal. Sepasang tangan memeluk erat pinggangnya. Sehun mengumpat sial karena melakukannya lagi. Semalam ia ikut mabuk saat menenemani Minji minum alkohol. Sepertinya Sehun terlalu banyak minum. Ia mabuk sampai pulang ke tempat yang salah.

“Baby, kau sudah bangun?”

Sehun tak menjawab. Ia segera menyingkirkan lengan Irene pada pinggangnya.

“Kenapa aku bisa disini?. Kau menyuruhku datang?”. Tanya Sehun, mencoba memastikan. Ia sungguh lupa dengan apa yang terjadi setelah kesadarannya hilang. Ini semua gara-gara Jang Minji.

“Sehun sayang, apa kau lupa?. Aku menjemputmu semalam. Pelayan bar menelfonku. Kau mabuk sampai tertidur disana”

Sehun membelakakakan kesua matanya. Apa itu berarti Minji melihat Irene membawanya?. Bisa gawat, jangan sampai Minji tau siapa itu gadis disampingnya itu.

“Apa aku bersama seseorang?”

Sehun berharap sekali Minji sudah pergi saat Irene datang.

“Ya, kau bersama seorang gadis. Siapa dia?. Kekasihmu?. Aku akan menyingkirkannya, kau hanya milikku”. Kata Irene sembari mengusap lembut bibir Sehun.

“Jangan menyentuhnya. Dia hanya teman”

“Meskipun hanya teman jika itu seorang gadis aku tak akan tinggal diam. Aku bisa melakukan apa saja jika sedang marah, Oh Sehun”

Sehun menghembuskan nafasnya. Irene benar-benar seorang psyco. Jangan sampai wanita itu mendapayinya bersama Jisun. Ia tak mau terjadi apapun pada kekasihnya.

“Permainanmu semalam dua kali lipat lebih hebat dari biasanya. Kau menghabisiku, baby”

Sial, sepertinya Irene menggunakan kesempatan saat ia mabuk. Tentu Sehun tak sadar sudah meniduri Irene. Yang terakhir ia ingat hanyalah bersama Minji.

“Kau harus hadir di sidang perceraianku hari ini, Oh Sehun. Aku ingin pamer pada mantan suamiku”

Sehun terkejut mendengar itu. Apa artinya nanti hubungan gelap mereka di ketahui banyak orang?. Tidak, Sehun tak membiarkan hal itu.

“Aku tak bisa”

“Kenapa?. Kau kan calon suamiku”

Sehun menatap Irene dengan raut terkejut. Ia harap Irene hanya bergurau.

“A-apa maksudmu?”

Irene duduk dan meraih tangan Sehun, menciuminya dengan brutal.

“Aku akan menikahimu, Oh Sehun. Aku ingin kau hidup bersamaku sampai mati”

Sehun bergidig ngeri, ia tak bisa membayangkan hidup bersama wanita iblis. Dan juga, ia tak mencintai Irene. Bukan impiannya untuk menikah dengan psikopat.

“Kita tak punya perjanjian untuk menikah. Aku hanya bekerja untuk memuaskanmu, noona. Tidak lebih”

“Baby, jadi kau menolak?. Kenapa?. Karena kau mencintai kekasihmu. Ha ha ha persetan”

“Jangan bawa-bawa kekasihku”

“Ya, dia akan baik-baik saja jika kau menurutiku”

Sehun tak menyangka akan di jebak seperti ini. Awalnya, Irene hanya memintanya menjadi pria pemuas nafsu. Hanya itu saja, Sehun tak tau akan ditipu seperti ini.

“Kau memang iblis”

“Ya, aku memang iblis. Kau terlalu polos karena percaya padaku, baby”

Rasanya Sehun ingin membunuh Irene saat ini juga. Tapi ia tak berdaya, ia masih butuh Irene untuk mengubah hidup keluarganya.

Mungkin ini saatnya, dimana ia harus meninggalkan Jisun. Toh perlahan kekasihnya akan tau. Ia tak ingin terus membohongi gadis kesayangannya itu. Dan yang pasti, Sehun tak mau Jisun terluka.

“Beri aku waktu untuk berfikir”

.
.
.

Sore ini kediaman Baekhyun cukup ramai. Teman-temannya yang tak lain Chanyeol dan Jongdae main ke rumah. Kekasih Chanyeol juga ikut, sehingga ada teman bergosip untuk Jisun.
Tak lupa juga ada Minji. Sengaja Baekhyun meminta gadis itu untuk datang, sekaligus ingin minta maaf dengan sikapnya kemarin malam.

Mereka ingin melakukan hal menyenangkan sebelum waktu liburan habis. Karena itu, Baekhyun dan teman-temannya mengadakan pesta barbeque. Para gadis menyiapkan bahan makanan sementara yang lain bagian memanggang.

Jisun susah akrab dengan kekasih Chanyeol. Mereka bercanda, mengabaikan Minji yang merasa seperti orang asing. Sebenarnya ia sangat malas berkumpul seperti itu. Yang ia inginkan hanyalah berdua bersama Baekhyun.

“Minji-ssi, bisakah kau cuci bawangnya?”

“Eum…. Aku melakukan yang lain saja. Aku tak suka bau bawang, maaf”

Kekasih Chanyeol melongo mendengar alasan Minji. Berlebihan sekali, padahal ia hanya menyuruhnya untuk sekedar mencuci.

“Wendy eonni, aku saja yang mencuci bawangnya”

Akhirnya Jisun yang mengalah, ia menyerahkan tugasnya memisahkan selada pada Minji.
Gadis bernama Wendy itu melirik tidak suka pada Minji. Ia yakin gadis seperti itu bukanlah tipe Baekhyun.

“Kau menyukai Baekhyun kan?”

“Ya, begitulah”

“Kalau begitu bersikaplah normal. Dia akan ilfil jika kau seperti itu. Aku hanya menyuruhmu mencuci bawang, bukan menciumnya”

Minji mencoba untuk sabar. Jika bukan karena Baekhyun, ia sudah meninggalkan tempat itu.

Acara memamggang sedang berlangsung. Semua menikmati baberque. Tak hanya makan, mereka juga melakukan permainan seperti game 007. Dimana yang kalah akan dipukuli.
Mereka heboh saat Chanyeol yang tadinya menguasai permainan akhirnya kalah. Jongdae yang juga kalah sama-sama mendapat pukulan.
Sesangkan Minji yang tak faham dengan permainan itu memilih untuk menyerah.

“Game over!”. Teriak Chanyeol.

“Apa-apaan?. Kau mengakhirinya setelah kalah?. Dasar payah!”. Kata Jongdae tidak terima. Ia tak dapat bagian memukul Chanyeol.

Semua tertawa, Chanyeol memang jelewat menyebalkan.
Tatapan Baekhyun beralih, melihat Minji yang terus menyendiri sejak tadi. Ia menghampirinya, jangan sampai Minji merasa terabaikan. Ini permintaannya, Baekhyun yang meminta Minji datang.

“Kau bosan?”

“eum, sedikit”

“Ah…. Pasti karena biasanya kau nongkrong dengan teman-temanmu di tempat-tempat keren ya?”

Minji meringis, ternyata Baekhyun tau kebiasaannya.

“Baekhyun-ah, aku ingin mengajakmu ke salah satu tempat favoritku. Maukah kau pergi?”

“Ya, tentu”

Minji bergelanyut di lengan Baekhyun. Ia senang karena ajakannya langsung diterima. Sepertinya pendekatannya berhasil. Selangkah lagi, ia akan mengungkapkan perasaannya pada Baekhyun.

Kekasih Chanyeol risih melihat Minji lengket dengan Baekhyun.
Sejak awal ia tak suka dengan Minji. Ia pernah mendengar gosip jika katanya Jang Minji itu hanya memacari pria tampan dan kaya. Gadis itu sering mencampakan pria dengan alasan jelek. Sungguh tak berperasaan.

Wendy memiliki ide jahil, ia menyuruh Chanyeol untuk mengambilkannya minuman. Saat prianya lewat samping Minji, ia menyangkling kakinya. Alhasil minuman yang merupakan jus jeruk itu tumpah. Dan rekor, cairan kuning membasahi pundak serta baju Minji.

“Oh, Minji-ssi maaf. Kakiku tersandung”

Wendy menahan tawanya dan langsung menarik Chanyeol pergi ke tempat lain.

“Ish… ”

Baekhyun memberikan beberapa tisu, membantu membersihkan bagian yang tertumpah Jus.

“Kau harus ganti. Pinjamlah baju Jisun”

Baekhyun memanggil adiknya dan menyuruhnya untuk mengantar Minji ganti baju.
Jisun menurut, ia membawa Minji ke kamarnya untuk ganti baju. Ukuran tubuh mereka tak jauh berbeda. Jisun meminjamkan salah satu bajunya pada Minji.

Setelah itu Jisun keluar kamarnya. Minji berganti pakaian. Namun setelah selesai ia tak langsung keluar. Ia melihat-lihat kamar Jisun. Banyak sekali foto kebersamaan Baekhyun bersama Jisun.
Kamar bernuansa biru laut itu sangat rapi. Menunjukan betapa rajinnya seorang Byun Jisun.
Pandangannya kini beralih ke meja belajar. Minji melihat banyak buku tentang kedokteran disana.
Sepertinya Jisun sangat pandai sampai bisa masuk jurusan itu. Benar-benar gadis yang sempurna.

“Eoh?”

Minji dengan ragu mengambil buku kecil bersampul gambar bunga. Sepertinya itu buku catatan Jisun. Akan sangat lancang jika ia membukanya. Tapi rasa penasaran lebih mendominasi. Sampai akhirnya Minji membuka catatan itu.

Tulisan Jisun sangat bagus, dan susunannya juga rapi. Ada gambar-gambar imut , Jisun juga pandai menggambar.
Saat membuka lembar ketiga, Minji mengerutkan keningnya.
Terdapat tulisan tempat/tanggal lahir dan juga nama. Tapi yang membuatnya bingung adalah marga pada catatan itu.
Sedangkan di lembar selanjutnya ada kalimat bertuliskan.

‘Sekarang aku menjadi Byun Jisun. Senang bisa punya keluarga baru. Tuhan sangat baik’

“Kim Jisun?. Byun Jisun?”
.

.
.
.

Tbc
🙏

Iklan

Satu pemikiran pada “Complicated Love-(Chapter 7)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s