Eye to Lung

Judul FF : Eye to Lung

Nama Author : Zsahwa Maula

Genre : Romantic, Sad, Brothership.

Length : Oneshoot

Main Cast :

– Byun Baek Hyun

– Park Chan Yeol (as Byun Chan Yeol)

Support Cast : – Park Ah Ra

– Park Sun Young

Twitter : @olauchiha

 

Kedua lelaki itu berjalan berdampingan memasuki pintu rumah sakit yang dibukakan seorang satpam dengan perawakan yang tidak enak di pandang. Lelaki yang lebih tinggi dari yang satunya itu merangkul saudara kembarnya yang meronta-ronta mencoba melepaskan diri. Namun, semakin keras saudara kembarnya itu meronta-ronta, semakin erat rangkulan yang ia ciptakan. Lelaki itu tertawa begitu melihat air muka jengkel yang diciptakan saudara kembarnya itu. Saudara kembarnya itu selalu berkata kalau hobi merangkulnya itu terlihat seperti orang gay, namun lelaki itu selalu membantah dan berkata bahwa itu adalah tanda rasa sayang yang mendalam dari seorang kakak—karena ia lahir 3 menit lebih dulu di banding saudara kembarnya. Lelaki itu melepaskan rangkulannya dan membiarkan saudara kembarnya itu memasuki ruangan spesialis organ dalam. Kembarannya itu tidak pernah ingin ditemani siapapun saat check up, tidak dengan saudara kembarnya sekalipun. Dengan sabar, lelaki itu menunggu sampai saudara kembarnya itu selesai berurusan dengan dokter.

Lelaki itu bangkit setelah melihat saudara kembarnya keluar dari ruangan. Dengan wajah yang selalu sama setiap kali mereka dateng ke sini, pertanyaan yang sama pula yang akan dilontarkan oleh lelaki itu.

“Bagaimana kata dokter? Apa ada kemajuan?” tanyanya penasaran.

“Ya, ada kemajuan. Menjadi tahap kronis,” ujar saudara kembarnya dengan santai dan tetap berjalan menuju counter pengambilan obat.

“Baekkie-ya, apa itu serius?” lelaki itu terlihat tidak percaya.

“Apa aku terlihat seperti sedang bercanda? Dokter menambahkan 2 jenis obat yang harus aku minum tiap harinya. Total obatku menjadi empat dalam sehari. Channyie, bisakah kau meminum setengahnya untukku?” inilah kebiasaan Baek Hyun apabila berbicara tentang penyakitnya. Menyuruh saudara kembarnya, Chan Yeol, untuk meminum setengah dari jumlah obatnya. Mendengar ini, Chan Yeol hanya bisa tertawa dan mengacak pelan rambut saudara kembarnya itu.

“Baekkie, aku tidak ingin meminum setengah dari obatmu. Aku ingin menerima setengah penyakitmu, atau bahkan seluruhnya, agar aku juga dapat merasakan apa yang kau rasakan. Bukankah kita sama, Baekkie-ya?” kata-kata ini pula yang sering Chan Yeol ucapkan untuk mengurangi beban Baek Hyun akan penyakitnya. Tapi, Baek Hyun selalu mengalihkan pembicaraan apabila Chan Yeol sudah menyatakan kesanggupannya untuk menerima penyakit yang sama seperti dirinya.

“Channyie, kita nomer urut ke 12. Sekarang sudah nomer 8, silahkan tunggu di sini sampai nomer urutku disebut. Aku ingin pergi ke taman. Cari aku apabila kau sudah selesai,” ujar Baek Hyun yang berlangsung pergi setelah memberikan kupon nomer urut pengambilan pada Chan Yeol.

“Ah, anak ini. Selalu saja seperti itu. Hati-hati, Baekkie!” teriak Chan Yeol sambil mengembangkan senyum dan di balas dengan lambaian tangan Baek Hyun yang sudah agak menjauh dari pandangannya.

Baek Hyun duduk santai di bangku taman sambil memikirkan perkataan dokter tadi. Perlahan ia memegangi dadanya—sejauh ini belum terjadi apa-apa setelah dia di diagnosa mencapai tahap kronis. Ia menyandarkan kepalanya dan menengadah ke atas sambil memejamkan mata. Mencoba untuk menenangkan pikirannya dari ucapan-ucapan yang sebenernya tidak ingin ia dengar.

“Kurang ajar! Apa mau kamu, hah?!” teriakan itu membuat Baek Hyun kembali membuka matanya dan tidak bisa menenangkan pikirannya. Ia mengumpat terhadap orang yang telah berteriak sekencang ini di sebuah taman rumah sakit.

“A… aku tidak mau apapun,” suara lirih itu membalas orang berteriak tadi. Suara lirih itu membuat Baek Hyun membenarkan posisi duduknya dan tercengang begitu melihat kejadian yang tidak biasa di hadapannya itu. Seorang pasien yang dijatuhkan dari kursi rodanya oleh seorang perempuan yang jauh lebih dewasa daripada dirinya. Baek Hyun dan seluruh isi taman menyaksikan tontonan tidak biasa yang dilakukan oleh kedua wanita itu. Setelah selesai, si pasien di tinggal seorang diri dan para penonton pergi begitu saja tanpa menolong orang itu. Tanpa banyak berpikir, Baek Hyun langsung menghampiri perempuan itu yang ternyata sedang menangis.

“Bangun. Tidak enak dilihat orang,” perempuan itu tidak bereaksi sama sekali. Tetap pada tempatnya dan tetap menangis tersedu-sedu. “Hey, bangun!” Baek Hyun menendang pelan kaki perempuan itu agar perempuan itu menyadari keberadaannya.

“Siapa?” ujar perempuan itu di sela-sela tangisnya.

“Bisakah kau berdiri sendiri?” tanya Baek Hyun dingin.

“Siapa kamu? Dimana kursi rodaku?” ujar perempuan itu terlihat panik.

“Hey, kursi rodamu sudah jelas di depan matamu! Tidak bisakah kau lebih sopan untuk menatapku pada saat kau berbicara?!” Baek Hyun membentak perempuan itu dan berhasil membuat perempuan itu bungkam.

“Baekkie, apa yang sedang kau lakukan?” Chan Yeol datang tepat waktu. Baek Hyun hanya membuang muka dan beralih pada perempuan yang meraba-raba mencari sesuatu. Chan Yeol membantu perempuan itu berdiri dan duduk di kursi rodanya. Chan Yeol bingung akan semua ini.

“Maafkan saudara kembarku. Dia memang seperti itu,” ujar Chan Yeol sambil tersenyum. Perempuan itu hanya mengangguk dan menunduk, ada sedikit rasa takut di raut wajahnya.

“Ka… kalian siapa?” tanyanya ragu-ragu.

“Aku Byun Chan Yeol, saudara kembarku Byun Baek Hyun. Kau sendiri, siapa namamu?”

“Park Ah Ra. Sa… salam kenal,” ujarnya masih dengan raut wajah yang takut.

“Ya sudah, kami tidak bisa berlama-lama di sini. Semoga kita dapat bertemu lagi, Ah Ra-ssi. Sampai jumpa,” ujar Chan Yeol sambil melambaikan tangan dan langsung berlari menuju Baek Hyun yang tanpa disadarinya telah lebih dulu berjalan.

“Annyeong, Chan Yeol,” ujar Ah Ra pelan.

“Baekkie, apa yang telah kau lakukan pada perempuan itu?” tanya Chan Yeol penasaran.

“Aku hanya menyuruhnya untuk berdiri dan duduk kembali di kursi rodanya. Dia terlihat seperti tidak waras apabila tersungkur di tanah dan menangis sendirian,” ujar Baek Hyun dingin.

“Kau serius melakukannya? Hahaha. Baekkie-ya, dia buta,” ujar Chan Yeol dan kali ini dirinya berhasil membuat Baek Hyun bungkam.

*

Beberapa hari setelah check up, Baek Hyun mengalami kontraksi yang hebat pada paru-parunya dan membuat dirinya harus dilarikan ke rumah sakit untuk ditindaklanjuti. Inhaler yang biasa digunakannya tidak menghasilkan apapun. Dengan segera Chan Yeol menelepon ambulans dan akhirnya Baek Hyun tertolong dengan tabung oksigen yang dipasangkan para perawat di dalam ambulans. Sekarang dirinya sedang terbaring tak sadarkan diri di sebuah kamar rawat inap. Chan Yeol terpaku begitu melihat sosok yang sebenernya ingin ia temui lagi, sosok yang hanya dapat dilihatnya beberapa menit pada saat itu. Sosok itu terlihat kebingungan begitu mendengar kebisingan yang tercipta dikarenakan kedatangan Baek Hyun yang menjadi pasien rawat inap di kamar yang sama dengannya. Chan Yeol mengerti bahwa sosok itu butuh penjelasan dari seseorang yang dapat melihat.

“Ah Ra, ingat siapa aku?” Chan Yeol berkata pelan.

“Chan Yeol-ah? Mengapa kau ada di sini?” Ah Ra bertanya memastikan. Chan Yeol tertawa kecil begitu melihat Ah Ra yang salah arah berbicara dengannya.

“Ya, benar. Sepertinya sekarang Baek Hyun menjadi pasien di kamar ini. Oh iya, aku harus pergi sekarang. Kepala Sekolah menungguku hadir dalam rapat OSIS. Ah Ra-ya, aku percayakan Baek Hyun padamu. Jaga dia baik-baik, mengerti?” Chan Yeol bergegas mengambil tas sekolahnya dan segera meninggalkan ruangan.

“Chan Yeol, kau sendiri tahu bahwa aku tidak bisa melihat. Bagaimana caranya aku menjaga Baek Hyun?” Chan Yeol menghentikan langkahnya sejenak.

“Ah Ra-ya, aku percayakan seluruhnya padamu. Bye!” Chan Yeol pergi meninggalkan ruangan dan meninggalkan Ah Ra yang masih bingung harus berbuat apa.

“Ananda Park, kami masih di sini untuk menunggu Ananda Byun sadar. Dan kami akan memberitahumu dan meninggalkan ruangan ini apabila ia sudah sadar,” ujar salah satu perawat dengan tenang. Seulas senyum tercipta di bibir tipis Ah Ra. Entah mengapa ia menjadi semangat.

“Oke, Sus. Beritahu aku, ya!”

*

“Baek Hyun?” Baek Hyun perlahan-lahan membuka matanya begitu mendengar panggilan entah darimana. Suasana yang sudah tidak asing baginya. Selang oksigen yang masih disambungkan ke hidung, sebelah tangan yang tersambung dengan selang infus, ruangan yang baunya bercampur antara alat rumah sakit dengan obat, Baek Hyun sudah hampir terbiasa dengan ini semuanya—semenjak memiliki penyakit.

“Baek Hyun?” ujar suara itu kembali. Dilihatnya Chan Yeol yang sudah tidur disebelahnya. Lalu, ia membuang pandangannya ke sebelah kanan. Barulah ia sadar bahwa perempuan buta itulah yang memanggil-manggil dirinya. Perempuan itu sedang terbaring sambil menatap langit-langit kamar. Apa yang ingin ia bicarakan denganku? Ujar Baek Hyun dalam hati.

“Ada apa?” ujar Baek Hyun lirih. Ia memandang langit-langit kamar juga, sama seperti perempuan itu.

“Aku Ah Ra. Apa kamu sudah baikan?” tanya Ah Ra agak ragu.

“Aku tidak akan pernah merasa baik. Bagaimana dengan kondisimu sendiri?” tanya Baek Hyun datar.

“Mengapa kau berpikir seperti itu? Di balik sakit pasti ada sembuh yang sudah disimpan Tuhan untuk para penderitanya. Aku? Ya, seperti yang kau lihat. Aku kehilangan pengelihatanku dan mengalami beberapa retak tulang di tangan dan kaki,” ujar Ah Ra sambil tersenyum simpul. Baek Hyun terpaku dan langsung menatap Ah Ra lekat. Dia baru menyadari lagi bahwa tangan kirinya sama sekali tidak terlihat bergerak.

“Karena memang itu kenyataannya. Apa aku harus percaya itu? Ah Ra-ya, apa yang terjadi denganmu?”

“Kau harus percaya. Apapun yang terjadi kau harus percaya, Baek Hyun-ah. Aku? Aku mengalami sebuah kecelakaan seminggu yang lalu. Kecelakaan itu merenggut seluruh anggota keluargaku. Dan yang kau lihat di taman kemarin adalah bibiku, yang menawarkanku untuk operasi mata. Karena aku menolaknya, dia menjadi seperti itu,” ujarnya dengan suara yang perlahan semakin pelan.

“Mengapa kau menolaknya? Bukankah ini kesempatan untukmu agar kau bisa melihat lagi?”

“Percuma, Baek Hyun-ah. Buat apa aku melihat apabila orang-orang tersayang yang ingin kulihat sudah tidak ada lagi di dunia ini,” ujar Ah Ra dengan suara yang bergetar, terlihat sedang menahan tangis.

“Sudah jam 12 malam, kau tidak mengantuk?” Baek Hyun mencoba mengalihkan pembicaraan. Dilihatnya sosok disampingnya itu yang sudah menutup matanya, bersiap untuk tidur. Betapa anggunnya malaikat yang berada di sebelah Baek Hyun itu. Pandangan Baek Hyun benar-benar tidak beralih dari sosok yang mencuri pandangannya itu.

“Chan Yeol memercayaiku untuk menjagamu sampai kau tersadar. Dan aku pun melakukannya,” ujar Ah Ra dengan wajah sumringah yang baru pertama kalinya dilihat oleh Baek Hyun. Baek Hyun kembali terpaku. Sosok yang anggun itu berusaha melawan kantuknya hanya untuk menunggu dirinya siuman. Baek Hyun terpaku untuk beberapa saat.

“Chan Yeol? Ah, anak itu. Apa yang dia katakan padamu?” Baek Hyun mengalihkan pandangannya. Ingin sekali rasanya ia berbicara pada Chan Yeol untuk tidak menyuruh orang yang sama sekali belum dikenalnya itu untuk menjaga dirinya. “Ah Ra-ya?” tanya Baek Hyun kembali begitu tidak mendapatkan jawaban. Sosok anggun itu terlihat sudah menikmati dunia mimpinya begitu Baek Hyun berpaling ke arahnya. Anak itu, mengapa ia rela melakukan perkataan Chan Yeol yang hanya main-main itu? batin Baek Hyun.

*

Pagi harinya, Baek Hyun menceritakan semuanya pada Chan Yeol. Dari obrolan mereka, sampai tentang perintah Chan Yeol yang ternyata dilaksanakan. Membuat Chan Yeol tidak habis pikir bahwa perempuan itu benar-benar melakukannya. Tidak lupa juga Baek Hyun yang memarahi saudara kembarnya itu karena omongannya yang membebankan orang lain. Chan Yeol hanya tersenyum lebar ala kuda dan mengacak-acak rambut Baek Hyun yang langsung membenarkan rambutnya yang berponi ke arah kiri itu. Chan Yeol bergegas ke sekolah dan meninggalkan Baek Hyun yang terlihat masih ingin bersama dengannya. Baek Hyun mengambil sepotong roti yang baru saja di antar oleh perawat. Memakannya dengan pelan. Sendirian.

Karena bosan tidak ada kegiatan yang harus ia lakukan selain berbaring dan menonton TV, Baek Hyun mengalihkan pandangannya ke arah ranjang Ah Ra. Ia kaget begitu melihat Ah Ra yang sedang meraba-raba meja yang sudah penuh isinya dengan makanan-makanan sarapannya. Dengan segera Baek Hyun mendorong trolly infusnya dan berjalan menuju Ah Ra yang telah menyadari kedatangan seseorang.

“Sun Young-ah, tolong ambilkan minum. Aku tidak menemukan gelas dan tekonya,” ujar Ah Ra meminta tolong. Baek Hyun tersenyum jahil. Ia menuangkan air ke dalam gelas dan memberikannya pada Ah Ra tanpa berbicara sepatah katapun. Ah Ra meneguknya sampai habis dan membuat Baek Hyun terseyum sendiri. Dengan gesit Baek Hyun meraih gelas yang diulurkan Ah Ra dengan arah yang salah. Baek Hyun masih terdiam, begitu pula dengan Ah Ra yang belum menyadari kejanggalan.

Ah Ra kembali menyuruh Sun-Baek Hyun-Young untuk mengambilkannya sepotong roti. Baek Hyun menurut tanpa berbicara. Baek Hyun sangat menikmati tontonan menyenangkan dihadapannya ini. Tidak terhenti-hentinya ia tersenyum akan ulah gadis manis yang sama sekali tidak mengetahui apa-apa ini.

Baek Hyun melihat ada seseorang yang sudah berdiri di ambang pintu dengan raut wajah tercengang menyaksikan apa yang sedang dilihatnya. Baek Hyun sedikit menjauhi Ah Ra dan menyuruh perempuan yang sepertinya adalah Sun Young itu untuk mendekat. Perlahan dirinya pergi meninggalkan Ah Ra dan perempuan yang sama sekali tidak ia kenal.

“Ah Ra, kau sudah sarapan?” ujar Sun Young dengan nada agak ragu.

“Sun Young? Mengapa kau baru berbicara? Apa kau lupa kalau tadi kau memberikanku roti dan segelas air?” ujar Ah Ra bingung.

“Ah Ra-ya, aku baru saja datang dan aku tidak tahu siapa yang melakukan itu semua padamu,” Ah Ra terdiam. Mencoba menerka-nerka siapa yang telah melakukan semua kebaikan ini terhadapnya.

*

Dua minggu berlalu tanpa terasa. Setiap pagi, Sun Young hanya menunggu di ambang pintu kamar tanpa masuk ke dalam kamar. Inilah permintaan Baek Hyun padanya. Baek Hyun bilang ia akan melakukannya untuk Ah Ra. Sun Young dan Chan Yeol pun perlahan menjadi akrab, dikarenakan Chan Yeol baru tersadar bahwa Sun Young adalah teman sekelasnya. Jadi, tujuan Sun Young ke rumah sakit juga sekaligus pergi sekolah menemani Chan Yeol yang selalu berangkat sekolah sendiri semenjak Baek Hyun memiliki penyakit.

Mengambilkan minum, mengambilkan roti, menyuapi makanan suap demi suap, mengelap sisa makanan yang masih tersisa di sisi mulut, itu semua adalah tugas Baek Hyun mulai sekarang. Ia yang memintanya. Awalnya Chan Yeol menolaknya untuk melakukan itu, itu hanya akan membuat Baek Hyun mudah lelah. Tapi, Baek Hyun berkata bahwa itu adalah tugas yang menyenangkan. Menyenangkan karena dapat menatap mata hitam legam yang selalu bertatapan kosong, menyenangkan karena dapat selalu tersenyum tanpa ada yang dapat melihat, menyenangkan karena dapat melihat dengan puas keraguan wajah akan rasa makanan yang hanya bisa dirasakan. Chan Yeol benar-benar bingung dengan alesan Baek Hyun, baru pertama kalinya Baek Hyun membicarakan seorang perempuan secara detail. Ini benar-benar tidak biasa. Chan Yeol menyimpulkan bahwa Baek Hyun terobsesi dengan Ah Ra. Ah Ra, perempuan yang pertama kalinya dapat mengambil perhatian, bahkan hati seorang Baek Hyun. Chan Yeol tersenyum kecil, sepertinya ia tahu akhir dari kisah ini seperti apa.

Baek Hyun selalu menunggu kedatangan Chan Yeol dengan memasang wajah sumringahnya—siap menumpahkan isi cerita selama sehari. Ia melakukannya setiap hari, lebih tepatnya dua minggu terakhir ini. Chan Yeol selalu mendengarkannya dengan seksama, bahkan sesekali memberi saran untuk saudara kembarnya. Dalam ceritanya, Baek Hyun selalu mengakhiri dengan kata-kata, ‘aku penasaran dengan perasaan aneh ini. Apakah besok aku masih merasakannya atau tidak’. Chan Yeol hanya tersenyum saat Baek Hyun mengutarakan isi hati yang sebenarnya. Entah mengapa ia agak takut kalau saudara kembarnya itu benar-benar merasakannya.

“Channyie, apa itu cinta?” tanya Baek Hyun yang sudah terbaring sambil menutup matanya, bersiap untuk tidur.

“Sesuatu yang indah, tapi kadang menyakitkan,” jawab Chan Yeol yang sudah tidak bingung mengapa Baek Hyun bertanya mengenai hal ini.

“Kalau kita sedang merasakan cinta, apa kita harus siap menerima sakitnya?” tanya Baek Hyun. Chan Yeol diam beberapa saat.

“Percaya saja bahwa kau tidak akan mengalami sakitnya. Dengan cara percayakan seluruh kepercayaanmu pada orang yang kau cinta,” ujar Chan Yeol sambil tersenyum.

“Ah, aku benci sesuatu yang membingungkan. Ini berarti aku benci cinta, Channyie.”

“Kau hanya belum mengerti, Baekkie. Suatu hari kau pasti akan berterima kasih pada cinta, dan kau tidak akan membencinya,” setelah beberapa saat tidak mendapat balasan, Chan Yeol tahu bahwa saudara kembarnya itu sudah terlelap. Ia menarik lebih tinggi selimut Baek Hyun agar tubuh Baek Hyun tetap terasa hangat. Dengan cepat Chan Yeol juga langsung terlelap sambil meletakan tangan kirinya di tangan kiri Baek Hyun yang terkulai lemas.

*

Hari demi hari, minggu demi minggu, dan sampailah pada tahap bulan demi bulan yang mereka jalani bersama di rumah sakit—lebih tepatnya di kamar inap yang sama. Tidak terasa sudah sebulan lebih Baek Hyun dan Ah Ra bersama. Biasanya, di sore hari seperti ini Baek Hyun akan mendorong kursi roda Ah Ra ke taman belakang rumah sakit. Suasananya sangat menyejukkan dan menenangkan hati para pasien. Wajar saja jika banyak pasien yang berkeliaran di taman pada sore hari. Selain anginnya yang sejuk, dari sini pula mereka dapat melihat matahari senja yang warnanya sangat menawan. Karena sehabis sore akan datang magrib dan magrib adalah peralihan antara sore dan malam, tidak sedikit para perawat yang memperingati para pasien bahwa angin sore adalah angin penyakit. Semakin para perawat memperingati, semakin pasien tidak mendengarkan dan tetap berada di taman itu sampai kepala perawat tertinggi yang harus turun tangan.

Baek Hyun dan Ah Ra sedang duduk santai menikmati suasana taman sambil saling memejamkan mata. Mantel yang sangat tebal membungkus tubuh Baek Hyun yang lemah akan angin. Sedangkan Ah Ra hanya memakai baju pasien, dia bilang itu akan terasa panas apabila memakai mantel setebal Baek Hyun. Sedangkan Baek Hyun merasa sangat dingin apabila ia tidak memakai mantel itu. Ah Ra tertawa pelan. Mengalihkan pandangan Baek Hyun yang tadinya sedang menutup mata dan ikut tersenyum tipis akan tawanya yang terdengar bahagia di telinga Baek Hyun. Begitu Ah Ra berhenti tertawa, Baek Hyun kembali menutup matanya.

“Baek Hyun-ah, aku ingin bisa melihat lagi,” ujar Ah Ra tiba-tiba.

“Mengapa tiba-tiba pikiranmu berubah?” tanya Baek Hyun penasaran.

“Karena, aku sadar bahwa yang harus kulihat bukan hanya keluargaku saja. Tapi, orang-orang di sekitarku yang juga kusayangi,” ujar Ah Ra lancar. Baek Hyun membuka matanya tiba-tiba.

“Siapa saja mereka?” Baek Hyun memberanikan diri untuk bertanya.

“Sun Young, bibi, perawat yang sangat ramah itu, dokter, Chan Yeol, dan kamu,” jawab Ah Ra tanpa halangan. Bukanlah sebuah jawaban yang diharapkan Baek Hyun.

“Mengapa kau baru ingin melihat sekarang? Mengapa tidak pada saat itu? Kau sudah memiliki Sun Young dan bibimu sebelum ada aku dan Chan Yeol,” ujar Baek Hyun yang kali ini menatap lekat Ah Ra.

“Dulu, aku tidak ingin melihat, bahkan untuk selama-lamanya. Tapi sekarang, ada seseorang yang ingin sekali kulihat rupanya. Dia baik, sangat cuek dan dingin. Entah mengapa, dengan caranya yang seperti itu aku memiliki rasa kagum tersendiri padanya. Dia orang yang peduli, peduli dengan caranya sendiri yang dingin. Tapi, kadang ia sulit ditebak. Tidak heran bila mengetahui dia yang pura-pura tidur di saat aku melontarkan pertanyaan yang tidak mau ia jawab. Tapi, ini aneh. Justru itu yang membuatku senang berada di sisinya. Aku tidak dapat menyimpulkan perasaan apa ini, aku hanya ingin bercerita…” Ah Ra berhenti berbicara begitu menyadari bahunya yang terasa seperti sedang disandarkan seseorang. Tiba-tiba tangannya menangkap tangan yang berkeringat dingin. Ah Ra baru menyadari ada sesuatu yang tidak beres.

Hhhhh… hhhh… hhhhh… napas Baek Hyun terdengar sangat berat. Ah Ra dapat merasakan tarikan napas yang sangat lemah itu ketika ia mencoba meletakan jarinya di bawah hidung Baek Hyun. Ah Ra panik, tidak tahu harus melakukan apa. Matanya berkaca-kaca menyadari bahwa napas Baek Hyun terdengar semakin lemah. Ah Ra melekatkan jemarinya ke lengan Baek Hyun yang terkulai lemah di sampingnya.

“Baek Hyun, dimana inhalernya? Aku akan mencoba mencarinya,” Ah Ra terdengar sangat panik. Baek Hyun terpejam menahan sakit sambil memegangi dadanya dengan tangan yang satunya.

“Di… di jaket Channyie. Ada… ada di k… kamar. Aaahhh!” teriak Baek Hyun yang terasa seperti dijatuhkan beribu-ribu ton besi tepat di paru-parunya sekarang.

“Baek Hyun, bertahanlah. Tolong…! Tolong…!” Ah Ra mencoba mencari pertolongan sebisa mungkin. Wajahnya sudah berlumuran air mata saking khawatirnya pada Baek Hyun. Baek Hyun sudah tidak bisa berkata-kata. Ah Ra merasakan getaran yang amat sangat pada genggamannya dengan Baek Hyun. Ah Ra mencoba untuk kembali berteriak dan tidak menuahkan hasil. Taman pun sudah terlihat sepi dikarenakan sore ini cuacanya tergolong dingin. Ah Ra tidak lagi mendengar sesak napas Baek Hyun. Ia mencoba meraba wajah Baek Hyun, alih-alih Baek Hyun akan mengatakan sesuatu. Namun tidak ada perubahan. Baek Hyun sudah tidak sadarkan diri dan terkulai lemas di bahu Ah Ra dengan tubuh yang gemetaran. Ah Ra menarik tubuhnya dan mengulurkan tangannya untuk memeluk tubuh Baek Hyun yang benar-benar gemetar.

“Baek Hyun, bertahanlah,” ujar Ah Ra sambil menangis dalam diam sambil mempererat pelukannya pada Baek Hyun. Tiba-tiba dari kejauhan Sun Young dan Chan Yeol berlari kencang menghampiri kedua orang yang sedang berpelukan itu. Chan Yeol sudah mempersiapkan inhaler ditangannya karena ia tahu ada sesuatu yang tidak beres.

“Ah Ra, apa yang terjadi pada Baek Hyun?!” nada Chan Yeol terdengar sangat panik. Ah Ra tidak sanggup untuk berkata-kata. Ia hanya bisa mengeluarkan air mata untuk sekarang. Dilihatnya Baek Hyun yang sudah tidak sadarkan diri, Chan Yeol langsung mengambil tubuh Baek Hyun dan menopangnya di punggung.

“Kau tidak perlu merasa bersalah. Ini bukan salahmu, Ah Ra. Ini salahku yang telah lalai menjaga Baek Hyun. Aku harus membawanya sekarang. Sun Young, jagalah Ah Ra dan bawalah ia ke kamarnya,” tanpa banyak bertindak Chan Yeol langsung berlari menuju kamar Baek Hyun dan segera memanggil dokter untuk memeriksa keadaan saudara kembarnya itu.

Sun Young menghapus air mata Ah Ra tanpa banyak bicara. Sun Young tahu kondisi sepupunya yang masih shocked akan kejadian yang belum pernah dialaminya itu. Jadi, ia memutuskan untuk tidak bertanya-tanya hari ini. Esok hari Ah Ra akan merasa lebih baik untuk di minta keterangan atas kejadian hari ini.

“Sun Young, aku menyatakannya,” ujar Ah Ra dengan tatapan kosong sambil kembali mengeluarkan air mata.

“Menyatakan? Ah, Ah Ra-ya, kau menyatakan perasaanmu langsung pada Baek Hyun?” Sun Young tidak percaya akan pernyataan sepupunya itu.

“Ya, benar. Kalau saja penyakitnya tidak kambuh, ia pasti akan mengetahuinya, Sun Young,” ujar Ah Ra yang menangis di pelukan Sun Young. Untuk sementara waktu, Sun Young membiarkan Ah Ra menangis sepuasnya sebelum mereka masuk ke kamar inap dan bertemu dengan kedua saudara kembar itu.

*

Sudah hari ketiga Ah Ra menemani Baek Hyun yang tidak beranjak sama sekali dari kasurnya. Sekarang bukan lagi Baek Hyun yang setiap pagi menghampiri Ah Ra untuk melayaninya, melainkan Ah Ra yang sekarang lebih tepatnya membalas budi atas kebaikan-kebaikan Baek Hyun. Setiap pagi, Ah Ra meminta bantuan Chan Yeol atau Sun Young untuk mendorong kursi rodanya ke arah ranjang Baek Hyun. Baek Hyun selalu bangun lebih siang dari siapapun, termasuk Ah Ra, ini yang membuatnya ingin selalu berada di samping ranjang Baek Hyun tiap hari. Untuk memandangi wajah letih tapi imut Baek Hyun yang sedang terlelap walau hanya sebentar.

Chan Yeol kembali berpesan pada Ah Ra untuk menjaga Baek Hyun selama ia tidak ada, tetapi kali ini serius. Dan Chan Yeol tidak menyuruh Ah Ra untuk melakukan sesuatu, cukup diam saja di situ dan temani Baek Hyun sepanjang hari. Ah Ra sudah pasti menyetujuinya, walaupun ini hanya candaan ia akan tetap melakukannya demi Baek Hyun. Baek Hyun yang ia cintai.

Tidak jarang di saat Baek Hyun terbangun, ia kembali mengalami sesak napas yang hebat. Yang Ah Ra bisa lakukan hanyalah menekan tombol emergency agar para perawat segera datang memenuhi panggilan. Setelah itu, Baek Hyun akan sangat kelelahan dan saking lelahnya terkadang ia sampai tidak sadarkan diri. Ah Ra menggenggam tangan Baek Hyun sambil terisak pelan apabila itu terjadi langsung dihadapannya. Dan pastinya, tanpa Baek Hyun sadari.

Ah Ra masih menunggu Baek Hyun yang belum juga terbangun. Ah Ra mencoba meraba sekelilingnya, mencari tangan Baek Hyun untuk dia genggam seperti biasa.

“Ada apa, Ah Ra-ya?” Ah Ra yang tidak tahu kalau Baek Hyun sudah terbangun, langsung segera melepas genggamannya dan mencoba menenangkan jantungnya yang sekarang berdetak sangat cepat.

“Ti… tidak. Sudah bangun?” ujar Ah Ra terdengar gugup.

“Sudah. Sudah dari 20 menit yang lalu sebelum kau memegang tanganku,” ujar Baek Hyun datar.

“Kenapa kau tidak bilang kalau kau sudah sadar? Kalau kau bilang, aku tidak harus bersusah payah mencari tanganmu, Baek Hyun-ah,” ujar Ah Ra dengan nada kesal di buat-buat.

“Aku hanya ingin kau memegang tanganku seperti tadi. Jadi, aku tidak akan bersuara sebelum kamu melakukannya. Lakukanlah setiap pagi, sampai aku bisa terbangun dan kembali menyuapimu lagi seperti biasa,” ujar Baek Hyun tanpa beban. Nada bicaranya yang dingin tapi polos membuat Ah Ra senang sekaligus terharu. Ah Ra kembali meraba-raba sekitar dan kembali menggenggam tangan Baek Hyun ketika ia mendapatkannya, lalu ia mengangguk sambil tersenyum disertai dengan mata yang sudah menahan air mata.

“Lepaskan, Ah Ra. Kau sudah melakukannya tadi. Dan aku sedang tidak ingin digenggam denganmu. Ah Ra, apa yang kau bicarakan pada saat kita di taman?” pertanyaan Baek Hyun membuat Ah Ra membeku seketika.

“Aku hanya bilang kalau aku… aku bahagia bertemu teman baru sepertimu dan Chan Yeol,” ujar Ah Ra berbohong.

“Aku tidak tahu apakah kau berbohong atau tidak, tapi bukan itu yang sepertinya kau bicarakan.”

“Aku tidak bohong Baek Hyun. Sungguh,” ujar Ah Ra meyakinkan Baek Hyun dengan nada bicaranya yang terdengar sungguh-sungguh. Baek Hyun terdiam, tidak tahu harus berbicara apalagi.

“Mengapa kau menemaniku setiap pagi? Chan Yeol yang menyuruhmu atau ini memang kemauanmu sendiri? Kalau Chan Yeol yang menyuruhnya, dia hanya main-main. Jangan percaya padanya,” tanya Baek Hyun langsung tepat sasaran.

“Baek Hyun, kali ini Chan Yeol serius. Dan ini juga merupakan keinginanku untuk membalas kebaikanmu selama ini,” ujar Ah Ra yang nadanya semakin pelan.

“Mengapa kau membalas kebaikanku?”

“Karena kau sangat baik padaku,”

“Apa hanya karena itu?” Ah Ra terpaku mendengar pertanyaan Baek Hyun. Ah Ra terdiam beberapa saat, membuat Baek Hyun mengalihkan pandangannya dan menatap lekat mata hitam yang tidak bisa melihat dirinya itu, “apa hanya karena itu kau melakukan ini setiap hari padaku, Ah Ra-ya?”

“Tidak. Tidak hanya karena itu,” Ah Ra menunduk dan volume suaranya yang perlahan mengecil. Ia hanya berharap agar Baek Hyun tidak mengajukan pertanyaan yang menjurus tentang perasaannya.

“Ah Ra,” panggil Baek Hyun pelan.

“Ya?”

“Terima kasih.”

“Hah? Terima kasih untuk apa? Kau tidak perlu berterima kasih, Baek Hyun. Aku yang justru berterima kasih karena sudah banyak kebaikan-kebaikan yang telah kau lakukan padaku,” ujar Ah Ra meyakinkan.

“Aku hanya ingin mengucapkan itu. Entahlah terima kasih untuk apa. Dengar saja apa yang kubicarakan,” ujar Baek Hyun yang kembali dengan nada dinginnya.

Mereka kembali berbincang-bincang sampai hari menjelang sore. Tidak terasa Chan Yeol dan Sun Young sudah kembali ke kamar mereka di saat mereka sedang asik tertawa membicarakan program variety show Running Man yang mereka sukai. Chan Yeol dan Sun Young mulai mengerjakan tugas mereka masing-masing. Chan Yeol mengambilkan makanan dan menyuapi Baek Hyun sekaligus memberinya obat, sedangkan Sun Young membantu Ah Ra menaiki ranjangnya dan memanggil perawat untuk menanyakan perihal keretakan tulang Ah Ra. Kedua pasien itu berpisah demi kesehatan mereka masing-masing. Berpisah.

Chan Yeol sudah selesai memberikan obat terakhir yang harus diminum Baek Hyun sehabis makan malam. Sekarang jadwal mereka adalah memakan berbagai camilan pesanan Baek Hyun yang dibelikan Chan Yeol sepulang sekolah tadi. Camilan kesukaan Baek Hyun tentu menjadi camilan kesukaan Chan Yeol juga. Walaupun selera setiap orang berbeda, namun si kembar ini memiliki selera camilan yang sama. Yaitu, biskuit susu. Karena keterbatasan Baek Hyun yang sekarang sudah tidak bisa makan berbagai camilan, hanya biskuit susu saja bisa ia makan sebagai camilan kesukaannya. Seperti biasa, Chan Yeol langsung bercerita tentang kesehariannya di sekolah. Tentang dirinya yang semakin lama semakin dekat dengan Sun Young, dan perasaan yang tidak wajar sebagai seorang teman perlahan-lahan tumbuh. Wajah Chan Yeol memerah begitu mendengar pendapat Baek Hyun kalau dirinya menyukai Sun Young. Dan Chan Yeol pun memang membenarkan pendapat Baek Hyun. Dia menyukai gadis berambut pendek itu. Sekarang, Chan Yeol menunggu cerita keseharian Baek Hyun hari ini.

“Channyie, entah mengapa aku sangat senang hari ini,” ujar Baek Hyun smbil tersernyum sendiri. Chan Yeol yang melihat wajah saudara kembarnya itu sangat sumringah sangat mengetahui apa yang terjadi padanya sepanjang hari ini.

“Kenapa? Kenapa?” tanya Chan Yeol penasaran.

“Dia memegang tanganku. Dan saat aku sadarkan dia, dia langsung melepasnya dengan cepat. Tidakkah itu lucu, Channyie? Aku suka wajah malu-malunya yang dapat kupandangi terus-menerus tanpa ada yang melarang. Caranya berbicara padaku yang berlawanan arah juga membuatku selalu tersenyum sepanjang ia berbicara. Perasaan aneh ini makin hari makin tumbuh, bahkan bertambah. Apakah ini yang namanya cinta, Channyie?” Jelas Baek Hyun panjang lebar sampai membuat Chan Yeol tercengang mendengar seorang Baek Hyun memuji perempuan sampai se-detail itu. Pertama kalinya Chan Yeol mendengar penjelasan Baek Hyun yang panjang lebar tentang seorang perempuan yang bukanlah siapa-siapanya.

“Ya, Baekkie-ya! Sadarkah kau kalau ternyata kau tidak membenci cinta? Hahaha,” Chan Yeol tertawa lepas diiringi dengan keheranan Baek Hyun yang tidak mengerti mengapa saudara kembarnya ini tiba-tiba tertawa.

“Maksudnya? Memang aku pernah bilang kalau aku benci cinta, lalu apa hubungannya?” Baek Hyun bingung sekaligus penasaran.

“Baekkie, coba aku tanya. Untuk mendeskripkan hal-hal yang dilakukan Ah Ra, dari hal terkecil sampai hal terbesar, apakah itu sulit bagimu?” Baek Hyun terdiam sejenak. Berpikir.

“Menurutku tidak. Dengan mendengar omonganku tadi, apakah sulit untukku untuk mendeskripsikan itu semua?” tanyanya meyakinkan.

“Ya, kau sama sekali tidak kesulitan. Dan apakah itu membingungkan?”

“Sama sekali tidak. Kata-kata itu keluar sangat lancar dari mulutku sesuai dengan apa yang ada dipikiranku.”

“Nah, itulah cinta, Baekkie. Cinta itu membingungkan bagi orang yang belum pernah merasakannya, seperti yang kau bilang dulu. Tapi, justru cinta itu sama sekali tidak membingungkan bagi orang yang sedang merasakannya, seperti kau sekarang. Cinta justru mempermudah segala hal. Jadi, janganlah lagi berkata bahwa kau membenci cinta, Baekkie,” jelas Chan Yeol panjang lebar. Baek Hyun membenarkan kata-kata Chan Yeol dalam hati. Ternyata benar, dirinya tidak seharusnya membenci cinta. Karena cintalah ia merasakan perasaan yang begitu menyenangkan yang sebelumnya belum pernah ia rasakan.

“Oke, aku ralat perkataanku. Aku tidak membenci cinta karena cinta tidak membingungkan. Oh iya, Channyie, tapi ada sesuatu yang membuatku bingung,” ujar Baek Hyun yang raut wajahnya kembali berubah seperti sedang berpikir.

“Apa itu?”

“Pada saat di taman tiga hari yang lalu, Ah Ra mengatakan sesuatu yang tidak biasa. Tapi, sayang sekali, di saat seperti itu penyakitku justru malah mengacaukan semuanya.”

“Memang apa yang ia katakana? Apakah kau masih sadar pada saat itu?”

“Tentu saja aku masih sadar, tapi dengan keadaan sulit bernapas. Sehingga aku tidak tahu apa yang harus aku lakukan selain menunggu datangnya inhaler. Saat aku menanyakannya tadi siang, dia berbohong. Dia tidak mengatakan yang sebenarnya. Aku bingung, mengapa ia berbohong? Mengapa ia berbohong padaku, Channyie?” pertanyaan Baek Hyun membuat Chan Yeol tersenyum tipis. Chan Yeol harus menjelaskannya pelan-pelan terhadap orang yang belum pernah jatuh cinta ini.

“Ah Ra pasti belum siap. Belum siap dengan apa yang terjadi apabila ia mengatakan yang sebenarnya. Coba aku tanya lagi, apa yang akan kau lakukan apabila Ah Ra sudah mengatakan yang sebenarnya?” Chan Yeol melihat keadaan disekelilingnya. Aman. Ah Ra dan Sun Young belum kembali setelah mendapat panggilan dari dokter spesialis tulang. Tidak akan ada yang bisa mendengar pembicaraan pribadi ini selain dirinya dan Baek Hyun.

“Aku tidak tahu apa yang akan aku lakukan. Tapi, aku hanya ingin ia jujur, Channyie.”

“Ia akan jujur padamu, Baekkie, tapi tidak sekarang. Ia hanya sedang menunggu waktu yang tepat untuk mengatakan yang sejujurnya. Dan bagaimana denganmu? Kapan kau akan mengatakan yang sejujurnya tentang perasaanmu?” tanya Chan Yeol sambil tersenyum jahil.

“Ah, kapan waktu yang tepat itu datang? Aku tidak suka ketidakpastian. Hmm aku tidak akan mengucapkannya, Channyie,” jawab Baek Hyun tanpa beban.

“Sampai keadaan mendukung waktu tersebut untuk menjadi waktu yang tepat. Lho, kenapa?” Chan Yeol terheran-heran.

“Lagi-lagi membingungkan. Aku ingin kita seperti ini saja. Aku tidak ingin berhubungan lebih jauh dengannya.”

“Baekkie, apa alasannya?” tanya Chan Yeol yang semakin bingung.

“Aku tidak ingin meninggalkannya sebagai seorang kekasih. Aku ingin ia mendapatkan yang lebih baik, ah, lebih tepatnya yang lebih sehat dibanding diriku. Aku tidak ingin membuatnya sedih karena kepergianku nanti, Channyie,” Baek Hyun berkata sambil menatap lurus ke depan, pandangannya kosong. Chan Yeol terdiam. Memikirkan kata-kata yang pas untuk membalas perkataan Baek Hyun yang menjurus pada sesuatu yang paling tidak ingin didengarnya.

“Baekkie, jaga omonganmu. Ya sudah kalau memang itu maumu. Tapi, bagaimana jika Ah Ra terlebih dulu yang menyatakan perasaannya padamu? Apa yang akan kau lakukan?” Chan Yeol kembali membuat Baek Hyun bingung dengan pertanyaan yang menurut Baek Hyun membingungkan ini.

“Kau bilang menunggu waktu yang tepat. Ya, tunggu saja waktu yang tepat itu datang,” jawab Baek Hyun lancar.

“Oke, bagaimana kalau waktu yang tepatnya itu besok?” tanya Chan Yeol dengan senyum jahilnya yang membuat Baekkie kaget dan segera berpikir keras.

“Channyie, aku hanya berharap agar waktu yang tepat itu tidak akan datang. Aku merubah pikiranku lagi.”

“Hahaha, cepat sekali untukmu merubah pikiran. Berdoa sajalah untuk waktu yang tepat itu. Kau tidak mengantuk, Baekkie?” tanya Chan Yeol sambil menghabiskan gigitan terakhir biskuitnya malam ini.

“Aku mengantuk, aku akan tidur sekarang. Aku masih penasaran, Channyie, apakah besok aku masih merasakan perasaan yang katamu adalah cinta ini,” ujar Baek Hyun yang sudah memejamkan matanya dan menyelimuti badannya sampai ke ujung lehernya.

“Kau ini, tidak percaya pada diri sendiri. Masalahnya bukan pada kau merasakannya atau tidak, tapi akan bertambah atau tidaknya perasaan itu. Kalau kau merasa bertambah, ceritakan semuanya padaku. Oke?” ujar Chan Yeol yang masih sempat menjelaskan pada Baek Hyun yang sudah terlelap itu.

Chan Yeol tersenyum melihat anggukan sekaligus senyum tipis Baek Hyun yang membalas kata-katanya tadi. Chan Yeol pun tertidur dengan senyuman—senang akan saudaranya yang akhirnya merasakan apa itu cinta.

*

Dengan panik Chan Yeol membenahi seluruh barang-barangnya dan barang-barang Baek Hyun yang ada di kamar inap ini. Tiga dokter dengan tiga perawat yang mengerubungi ranjang Baek Hyun sedang berusaha keras untuk menenangkan Baek Hyun yang kembali sesak napas yang kali ini disertai dengan kejang-kejang. Para dokter memutuskan untuk memindahkan Baek Hyun ke rumah sakit yang lebih terkemuka untuk segera menjalankan operasi transplantasi paru-paru. Akan fatal akibatnya apabila Baek Hyun tidak cepat di tolong dengan jalan operasi. Chan Yeol sudah selesai membenahi seluruh barangnya, matanya berkaca-kaca dan mulutnya tidak berhenti berkomat-kamit melanturkan doa untuk saudara kembarnya yang tiba-tiba kambuh pada saat bangun tidur itu.

Chan Yeol melihat ke sekeliling dan mendapati Sun Young yang terheran-heran mengapa kamar inap ini dipenuhi dengan dokter dan perawat. Sun Young ternyata hanya ingin mengambil sesuatu milik Ah Ra yang tertinggal. Chan Yeol menghampiri Sun Young dan memberitahu segalanya, dan ia juga mendoakan Ah Ra agar pemeriksaannya berjalan dengan lancar dan dapat segera pulih dari sakitnya. Karena mengerti apa yang dirasakan Chan Yeol, Sun Young menggenggam tangan Chan Yeol—menenangkannya. Tanpa ragu Chan Yeol langsung memeluk Sun Young dengan erat, “selamat tinggal,” ucap Chan Yeol lembut dan segera melepas pelukannya. Para perawat sudah mendorong ranjang Baek Hyun untuk bergegas segera meninggalkan rumah sakit. Chan Yeol segera membantu mereka. Sun Young yang masih terpaku langsung tersadar dan segera meninggalkan ruangan. Dia sedang memikirkan kata-kata yang tepat untuk memberitahu Ah Ra tentang kepergian Baek Hyun dan Chan Yeol. Dia juga masih merasakan pelukan hangat dan bisikan lembut Chan Yeol yang membuatnya terkejut sampai sekarang. Ah, Sun Young akan memikirkannya nanti setelah Ah Ra selesai menjalani pemeriksaannya.

Tiga puluh menit berlalu. Ah Ra sedang asik bercerita tentang hasil pemeriksaannya pada Sun Young yang mendorong kursi rodanya. Dokter bilang, tingkat kepulihan Ah Ra sudah mencapai 80%. Itu artinya, sekitar dua sampai tiga hari lagi Ah Ra dapat menjalani kehidupannya seperti semula lagi tanpa bantuan rumah sakit. Sun Young ikut senang dengan kabar baik yang menimpa sepupunya itu. Akan tetapi, pikirannya juga terganggu akan kebenaran yang belum siap ia beritahu kepada Ah Ra. Pada akhirnya, Sun Young membiarkannya sampai Ah Ra yang menyadarinya.

Dalam perjalanan mereka kembali ke kamar inap, mereka mendengar teriakan para dokter yang terdengar panik disertai dengan dua korban yang sedang di dorong menuju UGD. Sun Young menduga bahwa mereka adalah korban kecelakaan dikarenakan banyak darah berlumuran di sekitar ranjang korban. Tunggu, Sun Young seperti menyadari sesuatu. Korban yang terbaring lemah itu seperti menatapnya dengan tatapan teduh yang sering sekali ia lihat. Ia terdiam sebentar, mencoba mengingat-ingat kembali siapa yang memiliki tatapan seperti itu. Mata Sun Young terbelalak lebar begitu menyadari bahwa orang tersebut adalah orang yang dicintainya.

“Chan Yeol! Dia Chan Yeol, Ah Ra!” Sun Young sedikit berteriak saking kagetnya. Tanpa berpikir panjang ia langsung mendorong kursi roda Ah Ra ke ruang UGD secepat mungkin.

“A… apa yang terjadi, Sun Young?” suara Ah Ra terdengar panik.

“Maafkan aku, Ah Ra. Aku tidak memberitahumu sebelumnya. Chan Yeol dan Baek Hyun pagi ini meninggalkan rumah sakit ini untuk menjalankan operasi di rumah sakit lain. Dan sekarang mereka kembali lagi ke sini karena kecelakaan dalam perjalanan. Ah Ra, aku akan menemui Chan Yeol dan aku akan mempertemukanmu dengan Baek Hyun. Semoga mereka tidak kenapa-kenapa,” ujar Sun Young dengan suara yang bergetar. Ah Ra terdiam kaku mendengar penjelasan ini. Yang ada dipikirannya sekarang adalah sosok Baek Hyun yang terakhir dilihatnya sedang berusaha untuk menahan sakit akibat sesak di dadanya itu. Ah Ra menangis dalam diam.

Ah Ra sudah berada di samping Baek Hyun sekarang. Kondisi Baek Hyun yang sedang tidak sadarkan diri ini membuat Ah Ra semakin khawatir. Dirinya terus menggenggam tangan Baek Hyun yang terasa dingin. Ia tenggelam dalam tangisnya sambil menggenggam erat tangan Baek Hyun dan menunggunya untuk segera sadar. Sedangnya Sun Young sudah berada di sebelah Chan Yeol yang masih tersadar. Kondisi Chan Yeol sangat memprihatinkan. Kakinya sudah bercampur antara daging dan darah dikarenakan terjepit. Kepalanya juga tidak henti-hentinya mengeluarkan darah segar akibat benturan benda tajam. Tapi, Chan Yeol masih bisa tersenyum pada Sun Young yang sudah menangis tersedu-sedu itu. Chan Yeol berusaha untuk mengatakan sesuatu, Sun Young mendekatkan dirinya pada Chan Yeol agar dapat mendengar dengan jelas apa yang dikatakan Chan Yeol.

“Apa? Kau yakin?!” Sun Young setengah tidak percaya dengan apa yang didengarnya langsung.

“Ya, sangat yakin. Dan sekarang, tolong ambilkan kertas dan pulpen. Bantu aku menuliskannya,” pinta Chan Yeol dan Sun Young langsung bergegas mencari apa yang diminta Chan Yeol.

“Chan Yeol, kau…”

“Sekarang tolong panggilkan dokter, aku akan membicarakannya,” ujar Chan Yeol dengan suara yang semakin melemah.

“Chan Yeol, dengar aku!” teriak Sun Young sambil menangis. Chan Yeol tersentak sebentar dan kemabli tersenyum.

“Sun Young-ah, tolong bantu aku,” ujar Chan Yeol lembut diakhiri dengan senyum sekaligus mata teduhnya itu. Sun Young mempererat genggaman tangannya pada Chan Yeol dan menangis menunduk. Dengan sekuat tenaga Chan Yeol mencoba mengelus rambut Sun Young yang sudah tercampur darahnya dikarenakan memeluk tangannya yang berlumuran darah. Tidak lama kemudian, seorang dokter menghampiri mereka berdua. Chan Yeol memberitahu idenya ini dan mendapat persetujuan dari sang dokter.

“Oke, persiapkan dirimu dalam waktu 30 menit,” ujar dokter yang langsung bergegas meninggalkannya.

*

Baek Hyun berdiri menatap papan nisan yang terukir jelas nama saudara kembarnya itu. Tepat seminggu sudah kepergian Chan Yeol tanpa sepengetahuannya. Baru hari ini Baek Hyun diizinkan keluar rumah sakit untuk menemui saudara kembarnya di pemakaman. Baek Hyun mengambil posisi jongkok untuk meletakkan karangan bunga indah di permukaan makam Chan Yeol. Dengan surat yang baru diberikan Sun Young tadi pagi, Baek Hyun sama sekali tidak ingin membacanya. Bahkan suratnya sudah ia remas agar tidak bisa dibaca. Tapi, Ah Ra, yang berada di sampingnya sekarang, membujuknya untuk membaca surat yang diberikan Chan Yeol untuknya. Baek Hyun marah, sangat marah karena saudara kembarnya itu kembali melakukan hal-hal yang tidak terduga tanpa sepengetahuannya. Rasanya ingin sekali memarahi Chan Yeol, memarahinya melalui papan nisan yang menjadi saksi bisu antara Baek Hyun dan Chan Yeol. Baek Hyun perlahan-lahan membuka surat yang sudah kusut itu mulai membacanya.

Hai, Baekkie. Apa kabar? Apabila kau membaca surat ini, pasti aku sedang tidak berada denganmu. Iya, kan? Haha. Aku ada urusan sebentar menghadap Tuhan.

“Aku bukan anak kecil lagi yang bisa kauperdaya, Channyie,” ujar Baek Hyun pelan.

Ah, akhirnya kau bisa menghirup udara yang segar lagi mulai sekarang. Tidak akan ada sesak lagi yang akan menghampirimu. Kau tidak akan lagi membutuhkanku untuk memberikanmu inhaler, karena kau sudah tidak lagi membutuhkannya. Aku senang akan hal itu, Baekkie. Aku senang karena dapat melihat saudara kembarku ini sembuh dan dapat menghirup udara tanpa takut akan adanya serangan. Eh, tunggu, aku tidak akan melihatmu sembuh, Baekkie…

Surat yang dipegang Baek Hyun mulai bergetar. Baek Hyun menahan tangisnya yang sudah ada di pelupuk matanya.

Aku yakin kau pasti sangat marah karena aku tidak memberitahumu terlebih dahulu. Tapi, karena ini sangat mendadak dan demi keselamatanmu, aku melakukannya lagi tanpa sepengetahuanmu. Maafkan aku, Baekkie. Maafkan aku karena tidak memberitahumu apapun. Entahlah, kecelakaan itu tidak bisa diprediksi dan terjadi bersamaan dengan tanggal operasimu yang juga mendadak. Karena hari itu adalah hari operasimu, maka bila ada halangan sekalipun, kau harus tetap melakukannya. Nih, paru-paruku masih bisa berfungsi dengan baik. Aku sudah tidak membutuhkan paru-paruku lagi, karena kamu lebih membutuhkannya. Paru-paruku juga bilang bahwa ia bosan berada dalam tubuh yang besar. Paru-paruku ingin… ah, aku ini kenapa? Tiba-tiba menitikkan air mata di saat darah sedang mengalir juga dari kepalaku. Ah, ini menyiksa, Baekkie.

Baek Hyun tidak bisa menahan tangisnya lagi. Ia menutup mulutnya dan menangis dalam diam. Air mata sudah membanjiri permukaan pipi Baek Hyun sampai pada surat yang terkena tetesan air matanya.

Ya! Kau jangan ikut menangis, Baekkie. Kau tidak pernah ikut menangis apabila aku menangis, tapi giliran kau menangis, aku selalu ikut menangis. Hey, berhentilah menangis, Baekkie! Kau akan merusak paru-paruku apabila kau terus menangis. Baekkie yang kukenal adalah Baekkie yang tidak peduli pada Channyie-nya yang menangis. Benar, kan? Apa kali ini aku salah?

Baek Hyun meneruskan membaca sambil membiarkan air matanya yang terus mengalir.

Oh iya, Ah Ra sudah melihatmu? Lihatlah matanya yang hitam legam, bukankah itu mataku? Kau keterlaluan apabila kau tidak menyadarinya. Itu memang benar mataku, Baekkie. Pehatikanlah baik-baik. Ya, janganlah kau lihat dengan mata yang berkaca-kaca seperti itu!

Baek Hyun kembali menutup mulutnya untuk menahan tangisnya agar tidak terdengar keras.

Jagalah mata itu untukku, Baekkie. Jangan sampai mata itu kembali tidak bisa melihat. Kalaupun iya, bagaimana lagi caraku untuk mengawasimu disaat aku sedang menghadap Tuhan? Kalau kau merindukanku, tataplah mata Ah Ra lekat-lekat. Tapi, kau jangan memandang Ah Ra sebagai diriku. Pandanglah Ah Ra sebagai orang yang kau cintai, bukan diriku yang tidak kau cintai hahaha.

“Babo ya, Channyie,” ujar Baek Hyun sambil tertawa pelan diselingi dengan sesenggukannya.

Itu saja yang ingin kuucapkan padamu. 5 menit lagi kita akan menjalani operasi. Hah, aku sangat gugup, Baekkie. Pertama kalinya aku berurusan langsung dengan rumah sakit. Dan aku penasaran bagaimana rasanya di operasi. Sehabis ini, kau harus berterima kasih pada Sun Young karena telah menuliskan surat ini untukmu. Ini kenang-kenangan dariku. Walaupun akan mengering, itu akan tetap membekas sampai kapanpun, kan? Kalau kau merasa jijik, robek saja bagian ini dan buang jauh-jauh agar kau merasa nyaman. Aku harap surat ini tidak berbau amis karena kenang-kenanganku ini haha. Ya sudah, Baekkie, waktuku untuk bersiap-siap sekarang. Sampai bertemu lagi, Baekkie-ya…

 

Yang tertampan,

Channyie

Baek Hyun mengarahkan jarinya pada percikan darah di surat itu. Ia mencoba untuk menciumnya, sedikit terasa amis. Baek Hyun kembali menitikkan air mata begitu menatap gadis manis disebelahnya yang juga sedang menatapnya dengan mata teduh khas saudara kembarnya itu. Air mata perlahan mengalir mulus di permukaan pipi Ah Ra hanya dengan melihat Baek Hyun yang menitikkan air mata terlebih dahulu. Ah Ra memeluk Baek Hyun yang sudah tertunduk tak tahan menahan tangisnya.

“Ba… bagaimana mata barumu? Tatapanmu benar-benar mirip Channyie,” ujar Baek Hyun sambil mencoba tersenyum dengan suara bergetarnya.

“Sangat baik. Apabila aku sedang menatapmu, aku merasa seperti ada yang menemaniku saat menatapku. Itu Chan Yeol. Chan Yeol tetap menatapmu lewat diriku. Jadi, kau tidak perlu khawatir lagi tentang Chan Yeol. Bagaimana dengan paru-paru barumu, Baek Hyun?” ujar Ah Ra sambil menghapus air mata Baek Hyun yang terus mengalir.

“Aku bernapas tanpa hambatan sama sekali. Paru-paru ini terasa sangat baik. Dan aku yakin Chan Yeol membuat paru-paru ini terasa sangat baik untukku,” ujar Baek Hyun sambil tersenyum.

“Tenang, Baek Hyun. Chan Yeol tetap hidup di diri kita sendiri. Hanya raganya yang sudah hilang, tapi keceriannya, kebaikannya, masih hidup di diri kita masing-masing. Dengan cara kita melihat dan bernapas, itulah yang menyadarkan kita bahwa Chan Yeol ada di sini bersama kita,” ujar Ah Ra sambil tersenyum manis.

“Channyie, apa yang dibilang Ah Ra ini benar? Ah, kau sudah tidak bisa menjawab. Tapi, aku merasa bahwa Channyie akan menjawab benar. Ah Ra-ya, bagaimana kau bisa tahu?”

“Karena, Chan Yeol memberitahuku,” ujar Ah Ra tersenyum jahil.

“Kapan? Ya! Mengapa aku tidak di beritahu?” Baek Hyun mengerutkan alisnya bingung, nada bicara Baek Hyun terdengar kesal dan membuat Ah Ra tertawa kecil.

“Ayo, kita kembali ke rumah sakit. Aku akan memberitahumu disana,” Ah Ra sudah berlari kecil dan mengisyaratkan Baek Hyun untuk mengejarnya.

“Ah Ra-ya, maukah kau bertanggung jawab kalau tiba-tiba paru-paru baruku ini terlepas karena berlari-larian sehabis operasi?” Ah Ra berbalik badan dan ekspresi wajahnya berubah. Ia baru sadar kalau keduanya masih belum sepenuhnya pulih dari operasi. Ah Ra kembali berlari kecil menuju Baek Hyun yang hanya berjalan pelan. Saat Ah Ra sudah mendekati Baek Hyun dikarenakan khawatir, Baek Hyun justru berlari pelan meninggalkan Ah Ra dan memberi isyarat pada Ah Ra agar mengejarnya, “aku tidak butuh cerita Channyie yang memberitahumu, aku hanya butuh dirimu untuk mengulang kata-katamu di taman waktu itu. Aku yakin kau tidak akan melupakannya. Iya, kan? Ayo, kejar aku dan ucapkan kata-kata itu!” Baek Hyun perlahan semakin menjauh meninggalkan Ah Ra yang tersenyum-senyum sendiri. Ah Ra mencoba untuk berlari menyusul Baek Hyun yang ternyata hanya berlari pelan dikarenakan kondisi paru-parunya yang belum sepenuhnya pulih. Sesampainya pada Baek Hyun, Ah Ra langsung kembali mengucapkan kata-kata itu dan dibalas dengan pelukan hangat Baek Hyun yang mengisyaratkan bahwa Baek Hyun memiliki perasaan yang sama. Channyie, apakah sekarang waktuku untuk berterima kasih pada cinta? Ah, aku baru mengerti sekarang. Aku sudah melewati waktu yang tepat itu dan sekarang waktunya untuk berterima kasih pada cinta. Terima kasih, cinta. Dan juga kau, Chanyeol. Terima kasih. Ucap Baek Hyun dalam hati sambil tersenyum mengingat wajah tersenyum saudara kembarnya itu. Mereka berjalan sambil berpegangan tangan menuju Sun Young yang sudah menunggunya di mobil.

***

 

21 pemikiran pada “Eye to Lung

  1. Hua.. (-̩̩̩-̩̩̩-̩̩̩__-̩̩̩-̩̩̩-̩̩̩) sukser buat nangis thor!…
    Gk tega bgt tuh yollie pergi.. (-̩̩̩-̩̩̩-̩̩̩__-̩̩̩-̩̩̩-̩̩̩)

  2. Sumpah, seriusan, demi apah aku pilek sekarang!!! 😥
    Pilek nya karna nahan air mata gara2 part Baekhyun baca surat terakhir dari Chanyeol,, seriusan sangat itu dapet feel nya thor, huks huks 😥
    Aku penasaran deh sama Chanyeol side/POV nya, abis kayanya bahasan BaekYeol nya kurang, tp seneng juga sih sama moment2 mereka 😀
    Aaaaaaaaaaaa… ChanBaek brothership bikin greget!!!! >_<

  3. Yaolooh thor sedih banget ini ceritanya 😥 apalagi pas baca suranya chanyeol itu langsung dereeesss huaaa T.T ini happy ending kan ya? Hehe abis gara2 nangis jadi aku kira sad ending.. Author hebat bahasanya ga rumit bikin aku santai bacanyaa.. Makasi thor keep writing yah hwaiting^^

      • siaaap 🙂 boleh lain kali chen? idolaku yg satu ini jarang sekali aku temuin ffnya yang aku-suka-banget-bacanya selain kai luhan baekhyun.. kalo punya waktu boleh dibikin ya kaa kalo belom ada ditunda nanti juga gpp gak maksa :)) hehehe.. sad or happy it’s up to you..

  4. Huaa, author harus tanggung jawab karena ak dh habiskan 1 kotak tisu T.T *lebay
    feelnya ngena pakai bgt thor, awalnya ak kira baekkie yg mati eh ternyata channie
    ak tunggu karya2 author selanjutnya
    hwaiting thor ^^

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s